scroll


Technorati Profile
To the left-below of this page there are some collapsible menu titles. A click on an item title will spring open the content area and disclose information beneath it. Click once again to close the content area. The title with "Minus" (-) down pressed indicating its content is in full disclosure.

You can post your comment at the end of every journal.

Catatanku dari Tolotang

Catatanku dari Tolotang
Posted by: Ridwan al-Makassary


“Katakan pada orang-orang di sana bahwa di sini ada agama yang hebat”
“Seorang Warga Tolotang”


Meskipun saya terlahir di Butta Makassar, sejujurnya saya awam mengenai komunitas Tolotang. Umumnya mereka bermukim di Kel. Amparita, Kec. Tellu Limpoe, Kab Sidenreng Rappang (Sidrap). Saya, bahkan, secara khusus tidak pernah mengunjungi kota itu, kecuali seingatku pernah melewati jalanan protokol kota itu, rentang akhir tahun 80-an sampai medio 90-an, ketika saya beruntung mengikuti beberapa kali kegiatan sekolah di beberapa wilayah di Makassar, seperti Wajo—kota leluhur komunitas Tolotang. Dus, perkenalanku, atau lebih tepatnya pengetahuanku, mengenai Sidrap, tempat Tolotang, hanya kuperoleh di bangku pendidikan menengah, karena beberapa kawanku berasal dari sana. Saya tahu secuil saja Sidrap merupakan “lumbung” penghasil beras, dan juga melahirkan gadis-gadis keturunan Arab, yang berhidung mancung. Oopss, dulu saya pernah mengagumi seorang gadis berhidung mancung, teman sekolahku, dari kota ini. That’s all, Itu saja!. Belakangan saya tahu beberapa ulama besar Islam seperti Quraish Shihab, ahli tafsir yang terkenal itu, Najwa ….(presenter manis Metro TV) darah ibunya bersumber di kota ini. Belakangan lagi, saya baru mengetahui ada komunitas Tolotang yang memiliki kemampuan untuk bertahan hidup melintasi derasnya arus gelombang perubahan jaman di tanah air.

Program “Riset dan Advokasi Hak Minoritas” Interseksi tahun 2006/2007, memberiku dua “berkah” sekaligus. Pertama, kesempatan mengunjungi wilayah komunitas Tolotang, sebagai penyelia (supervisor). Kedua, mudik ke kampuang tercinta. Pada Senin, 2 Oktober 2006, saya bertolak ke Makassar menumpang maskapai penerbangan Adam Air yang tidak henti-hentinya membuatku “sport jantung”, karena buruknya take off dan landing pilotnya. Buruknya lagi, saya harus menunggu sekitar satu jam, karena pesawatnya delayed. Karenanya, untuk mengkompensasi perjalanan “kurang menyenangkan” tadi siang, maka, bersama keponakanku yang lagi kuliah di Makassar, kuhabiskan malam dengan menikmati wisata kuliner, khas kota angin Mammiri, yang jarang kucicipi di Jakarta, seperti es Pisang Ijo, Pisang Ngepe’ yang berlumur kuah durian dan gula merah, dan juga ikan bakar, konro dan sop saudara di Pantai Losari, yang tak kunjung henti berdenyut hingga pagi. Kota ini selalu membuatku damai.

Siang sebelum berangkat tadi, saya telah mengabarkan kedatanganku kepada Heru Prasetya. Malamnya, saya juga menyempatkan waktu mengunjungi Indry (peneliti hukum Interseksi) di hotel Sahid Makassar. Indri berada di kota ini untuk satu kegiatan kantornya (Elsam Jakarta). Sebelum saya ke Makassar, Indry dan saya telah mendiskusikan kemungkinan bagi dia mengunjungi komunitas Tolotang, dengan pertimbangan urgensi komparasi wilayah komunitas lokal sebagai basis kajian hukum. Kami, akhirnya, sepakat bahwa Indry akan ke komunitas Tolotang pada hari Jum’at selepas acara kantornya usai.

Rabu pagi, saya dengan sepupuku, Jeje, seorang pekerja tambak yang lagi ”reses”, bergegas menunggu mobil di jalan raya Kec. Segeri, kab. Pangkep—salah satu tempat komunitas Bissu—untuk menuju ke Amparita. Sebuah mobil Panther ke arah kota Rappang mengangkut kami berdua dengan biaya 20 ribu perkepala. Tidak banyak yang berubah di sepanjang jalan. Rumah-rumah panggung penduduk lokal, dan juga hamparan petak-petak sawah yang kerontang habis panen. Dus, akibat kemarau berkepanjangan hampir-hampir tidak menyajikan pemandangan menarik di sepanjang perjalanan. Akhirnya, setelah kurang lebih dua jam Panther meraung-raung di jalanan, tibalah kami di wilayah Rappang. Oleh sopir kami selanjutnya dioper ke sebuah mobil penumpang sederhana menuju Amparita dengan kondisi jalan yang sudah cukup baik, dibanding beberapa jalanan di pinggiran Jakarta, seperti jalanan di pasar Ciputat, tempatku menetap sekarang.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 Km dengan berpeluh ria, maklum mobil kali ini tanpa AC, hanya angin jendela, kami berhenti di depan pasar Amparita yang kokoh seakan menyambut kedatangan kami. Saat itu cuaca benar-benar panas memanggang tubuh. Peluh seakan berlomba untuk keluar dari sekujur tubuh. Angin yang berhembus pun benar-benar kering dan tidak membantu. Dus, kerongkonganku begitu getir dan pahit. Puasa saya dalam bahaya!. Saya membatin, perjalanan di bulan ramadhan ini, yang ditingkahi kemarau panjang, bukanlah perjalanan yang nyaman. Tetapi, waktu yang sudah melewati pukul 13.00. WITENG menguatkan saya melanjutkan puasa, karena kondisiku masih cukup bugar. Ajaran Islam pun sejatinya memberikan kemudahan untuk berbuka puasa, jika benar-benar dalam kondisi yang payah.

Saya mencoba mengontak Heru yang telah berjanji menjemputku di depan pasar. Namun buruknya sinyal mengacaukan komunikasi kami. Saya memutuskan bertanya kepada seorang pemuda, seorang penjual kelontong, di depan pasar ”di mana gerangan rumah Wa’ Unga Setty?”, tempat Heru hampir sebulan ini menetap. Beruntung bagi kami, seorang pemuda menawarkan jasa untuk mengantar kami dengan mobil pick upnya. Sebagai orang yang cukup lama di Jakarta, saya mencurigai dia seorang ojeg yang sengaja menawarkan jasa dengan imbalan. Kami mulai bergerak memasuki jalanan yang tidak beraspal, sekitar 150 M dari pasar. Akhirnya mobil berhenti di sebuah rumah yang lebih besar dibanding beberapa rumah di sekililingnya. Saya sempat mau membayar tumpangan mobil, tapi dia menampik tawaran saya. Rupanya dia adalah kemenakan dari Uwa’ yang sekarang menetap di daerah Gowa, Makassar. ”1 jutapun kamu mau bayar saya tidak mau terima”, ujarnya sambil ketawa dan berlalu. Saya hanya malu-malu, mendengar celotehnya.

Rumah yang kokoh itu tidak berbeda dengan umumnya rumah khas Makassar. Rumah Panggung. Karena Heru tidak berada di rumah, istri Uwa’, yang menyambut kami secara ramah. Di dalam ruang tamu banyak souvenir yang mengindikasikan pemiliknya sering melancong ke berbagai tempat di tanah air. TV di ruang tamu malah menyiarkan HBO, program film luar negeri yang bisa dijangkau dengan Indovision atau antene parabola. Maju benar orang Tolotang ini!, batinku. Setelah berbasa-basi dengan istri Uwa’, akhirnya Heru datang dengan kondisi yang payah. Rupanya dia baru pulang, dengan berjalan kaki sebelum seseorang menawarinya tumpangan, dari kebun, atau lebih tepatnya peternakan unggas milik Uwa’, yang letaknya cukup jauh dari rumah.

Heru dengan fasihnya menceritakan beberapa hal mengenai komunitas ini. Komunitas ini sangat introvert. Bahkan, untuk menjelaskan hal-ihwal Tolotang hanya melalui Wa’ Unga. Belakangan saya tahu bahwa posisi Uwa’ telah dialihkan kepada seorang Wa’ lain yang kini juga menjabat sebagai anggota DPRD. Heru juga menceritakan kesulitan untuk mengakses beberapa data tambahan mengenai wilayah tersebut, karena birokrasi yang rumit di kecamatan. Inilah yang pernah dikeluhkan oleh Max Weber, birokrasi telah menciptakan ”iron cage” dan pola-pola hubungan yang impersonal. Ironisnya, di era reformasi, pola-pola perijinan penelitian yang teguh berlaku pada masa orde baru, masih diterapkan oleh aparat di level kecamatan. Bagiku ini suatu bentuk pemasungan kreativitas yang sistematik, jika semua penelitian harus memperoleh ijin aparat pemerintahan. Tambahan pula, saya juga membicarakan mengenai isi temuan dan administrasi yang jadi concernku di Tolotang. Tak lupa saya juga membaca field note Heru yang telah tertera rapi di laptobnya.

Wa’ Unga sedang berada di luar rumah. Ia sedang ke kota Pangkajene membelikan obat untuk istrinya, ketika kami datang. Menjelang sore, saya diperkenalkan Heru dengan Wa’ Unga di ruang tengah, sebagai teman dari Interseksi, di Jakarta.

Menurutku, Wa’ Unga orang yang sangat ramah dan memiliki wawasan yang luas, tidak hanya mengenai Tolotang, namun juga masalah-masalah nasional dan internasional. Berikut ini adalah beberapa hal yang mendasar tentang Tolotang yang kudapat informasinya dari Wa’ Unga.

Pertama, Penelitian terdahulu mengenai Tolotang gagal memberikan suatu gambaran yang holistik mengenai Tolotang. Beberapa peneliti sebelumnya sering mencampuradukkan antara Tolotang Hindu (komunitas wa’ Unga) dengan komunitas Tolotang Islam. Kegagalan peneliti sebelumnya karena tidak memperoleh sumber pertama, tetapi mengulangi kesalahan yang sama dengan merujuk kepada buku-buku sebelumnya, yang juga telah keliru. Hanya saja, Wa’ sendiri sebagai juru bicara Tolotang tidak pernah menggugat hal tersebut. Dia mengatakan selama tidak menganggu kami, tidak masalah.

Kedua, orang selalu menyangka bahwa Tolotang terkait dengan La Galigo, kronik orang Bugis dan Makassar, yang banyak dikagumi Barat. Padahal tidak ada kaitannya sama sekali. Hanya saja, menurut Uwa’, mereka memetik hikmah-hikmah kehidupan dari La Galigo.

Ketiga, telah terjadi minoritisasi dalam hal penunjukan untuk menduduki jabatan-jabatan publik. Ia menceritakan tentang digagalkannya penunjukan kepala sekolah dari komunitas ini. Baginya ini merupakan diskriminasi terselubung.

Keempat, mereka tidak mengenal sistem waris. Biasanya orang tua Tolotang ketika masih hidup mempercayakan anaknya mengelola sawah misalnya, maka dialah yang berhak mengelolanya. Kenyataan ini sering menimbulkan masalah waris antara keluarga. Biasanya diselesaikan oleh Uwa’.

Kelima, untuk menjaga kemurnian Tolotang, mereka tidak memperkenankan putri-putri mereka menikah dengan orang luar.

Keenam, beberapa kali pendeta datang menjanjikan bantuan dana yang besar untuk pengembangan komunitas ini, tapi dengan syarat dalam formulir tersebut disebutkan bahwa mereka beragama Kristen.

Pada sore harinya itu, kami berjalan-jalan melihat daerah Tolotang lebih dekat. Tidak ada yang berbeda dengan komunitas Islam yang menetap di sekitar tempat itu. Tidak ada border antara mereka. Rumah, pakaian, makanan tidak ada yang berbeda. Mereka berbaur di pasar Amparita. Bahkan orang Tolotang juga mengenakan peci dan sarung yang umumnya dipakai oleh orang Muslim. Yang berbeda hanyalah pada keyakinan. Menjelang bedug kami segera mencari makanan berbuka puasa di pasar Amparita. Setelah itu balik ke rumah Wa’. Kami kembali mendiskusikan isu-isu kritis, seperti kasus Poso, Bom Bali dll. Dalam kesempatan ini, Uwa’ menuturkan tentang harapannya agar riset ini dapat memberikan suatu gambaran yang holistik mengenai Tolotang yang selama ini bias. ”Heru paling beruntung dapat informasi yang melimpah dari saya”. Wa’ juga menceritakan bahwa dia sudah tidak mau diwawancarai lagi mengenai Tolotang. Untunglah dia menghargai jaringan kerja dengan Desantara dan Interseksi, yang dianggapanya dapat dipercaya dan merupakan lanjutan dari program sebelumnya. Setelah makan malam kami diajak nonton pesta panen, ”padendang”.

Sesampai di rumah kembali, Wa’ dan kami (saya, Heru dan Jeje) ngobrol mengenai berbagai hal hingga larut malam. Kami pamit tidur, ketika mata sudah tak konpromi lagi. Menjelang sahur kami dibangunkan untuk sahur. Menurutku Tolotang sangat toleran dan penuh kedamaian. Tentunya keyakinan mereka yang mengajarkan mereka seperti itu. Saya tiba-tiba teringat ucapan seorang warga Tolotang yang membisiki saya di pesta panen semalam, ” “Katakan pada orang-orang di sana bahwa di sini ada agama yang hebat”.


|

Medan, Parmalim

Catatanku Sebagai Evaluator Penelitian di Sumatera Utara

Posted by M. Nurkhoiron. Program Director, the Interseksi Foundation


Sabtu, 7 Oktober 2006

Rencanaku ke Medan mengevaluasi proses penelitian Uzair memang aku rencanakan sesuai dengan Jadwal acara pernikahan putri Bapak Maruli Sirait –salah satu tokoh Parmalim di Sumatera utara yang katanya akan dilakukan hari hari senin, 9 Oktober 2006. Saya sengaja menyesuaikan jadwal ini biar kelak di lapangan kita bisa lebih akrab dengan Parmalim, terutama Uzair yang hanya menghabiskan waktu selama satu bulan. Tentu jadwal penelitian yang terlalu pendek, pasti akan sulit mendapatkan momen yang tepat untuk mengenalkan ke banyak orang mengenai rencana penelitian ini, dan apalagi menghubungi mereka dengan cara yang cepat dan sebisa mungkin bisa akrab dengan komunitas yang kita teliti.

***



Aku datang di Medan siang, sekitar Jam 11.00. Uzair menjemput saya di bandar Udara Polonia. Meskipun saat ini masih bulan ramadlan, aku tidak puasa, meskipun sudah merencanakannya. Karena di pesawat tiba-tiba badanku lemas, dan kepalaku nyaris pusing. Uzair juga tidak puasa, katanya dia tidak sempat sahur dan seringkali kalau tidak sahur dia merasa lapar di terik matahari Medan. Suasana di Medan nampak tidak jauh beda dengan bulan sebelumnya. Meskipun bulan ramadhan, orang-orang di Medan tidak canggung merokok, minum dan makan-makan di warung dalam suasana terbuka. Tidak ada rasa canggung, dan semuanya berjalan biasa-biasa saja . Yang puasa dihormati, meskipun penghormatan itu berlangsung dalam suasana yang tidak berlebihan. Biasanya warung-warung muslim tetap dibuka, tapi sedikit ditutupi, agar kelihatan tidak mencolok.

Aku dan Uzair mampir beberapa jam di salah satu warung di bandara Polonia. Diselingi minum dan makanan kecil saya mendiskusikan berbagai kesulitan temuan-temuan Uzair di lapangan. Saya menegaskan pentingnya fokus penelitian di Medan, dengan mengambil kasus spesifik; konflik peribadatan antara Parmalim dengan kelompok gereja Kristen di Medan (HKBP). Selain data dan hasil penelitian ini sangat berarti bagi usaha-usaha advokasi di kemudian hari, penelitian spesifik mengenai masalah aktual yang dihadapi komunitas minoritas seperti Parmalim menurutku masih sangat sedikit. Bahkan Uzair juga melihat sendiri selama penelusuran hasil-hasil penelitiannya mengenai parmalim. Nyaris seluruh penelitian mengenai Parmalim sebagian besar masih menggunakan perspektif antropologi lama. Mereka lebih banyak menguraikan aspek-aspek kebudayaan spesifik Parmalim dan berbagai fenomena kebudayaan yang selalu diminati sebagai usaha untuk melihat “the other”. Padalah “the other” ini dalam tradisi modernisasionist (para penganjur teori modernisasi) selalu dilihat dalam perpsektif yang negatif, peyoratif; irasional, primitif, tidak beragama, dll. Kita tahu sebagian penelitian mengenai Parmalim dihasilkan pada masa Orde Baru; suatu rezim yang begitu giat menerapkan teori-teori modernisasi terutama dalam melihat aspek-aspek kebudayaan di Indonesia yang sangat beragam itu.

Dalam kasus Parmalim saya kembali mengingatkan kepada Uzair untuk lebih kritis melihat kasus konflik peribadatan ini. Konflik ini berada di wilayah perkotaan dimana hubungan antara satu kelompok dengan kelompok lain pasti dipenuhi oleh pergesekan yang tinggi, persaingan bahkan perkelahian diantara mereka. Konflik-konflik komunal di perkotaan mudah terjadi terutama dalam konteks perebutan lahan (ruang). Konflik keruangan inilah yang menarik untuk dilihat lebih jeli dalam konteks konflik peribadatan Parmalim. Karena seperti yang sudah dituturkan baik oleh Maruli Sirait maupun Monang Naipospos (keduanya adalah elite/ petinggi komunitas Parmalim yang berkiblat di Hutatinggi), masalah pembangunan peribadatan Parmalim di tempat-tempat lain tidak mendapatkan pertentangan keras dari kelompok lain. Misalnya Maruli Sirait menceritakan pembangunan di Lumbanjulu, dekat danau Toba, nyaris tidak ada perlawanan dan bantuan dan dorongan didapatkan dari beberapa komunitas agama lain. Kenapa di Medan kita dilawan bahkan didemo oleh orang lain? Tanya Bang Rait kesal. Kekesalan Bang Rait ini sudah sering diutarakan kepadaku. Aku memang sudah berkali-kali bertemu dia, dan mencoba untuk terus menyemangati apa yang selama ini menjadi persoalan di Parmalim.

Dari beberapa data yang kita dapatkan dari Bang Rait ini pula aku melihat kasus konflik peribadatan ini sebagai soal spesifik. Spesifik karena areanya berada di wilayah perkotaan. Jika penelitian kita sebelumnya mengenai komunitas lokal berada di remote area, suatu daerah pedalaman yang jauh dari pusat perkotaan, kini masalah komunitas Parmalim, yang pusatnya ada di Hutatinggi ini malah kesandung sial di kota Medan. Lebih-lebih yang menarik, proses terakhir dari eksekusi untuk melarang pembangunan ini datang melalui keputusan dari dinas tata kota Medan. Dalam hati saya ini kasus yang sungguh aneh, namun benar-benar terjadi. Bagaimana mungkin kasus yang semula sudah jelas berbasis masalah keagamaan tiba-tiba harus dieksekusi oleh lembaga yang sama sekali tidak berwenang dengan isu keagamaan ini. Maka berdasarkan atas data-data ini aku sendiri mengasumsikan ada dua hal yang berada di balik seluruh proses pelarangan tempat peribadatan Parmalim ini.

Pertama bisa jadi yang terjadi di birokrasi sedemikian rupa yang memungkinkan konspirasi atar kelompok-kelompok di birokrasi dan para elite agama (kristen) untuk mencegah kehadiran tempat-tempat ibadah parmalim di medan. Kedua, mungkin teori konspirasi ini perlu kita kesampingkan. Tapi yang terjadi adalah ketidaktahuan dan ketidakpahaman orang-orang di dinasi tata kota sendiri. Ketidaktahuan ini maksud saya adalah ketololan yang dipelihara oleh pejabat dinas tata kota untuk mengekesekusi tempat peribadatan. Apakah eksekusi ini dengan mudah bisa diberikan hanya karena alasan teknis adminsitratif? Bukankah menurut pengakuan orang Parmalim sendiri, seluruh prasarat administratif sudah dipenuhinya?

Jadi yang menarik adalah kenapa konstruksi ideologi keagamaan bisa mempengaruhi dan mengarahkan pejabat teknis seperti dinas tata kota???? Sebagai soal penelitian ini sangat menarik, terutama penelusuran ini akan membuka tabir gelap yang selama ini menyelubungi berbagai pejabat di birokrasi. Sejauhmana sesungguhnya, sikap ideologi keagamaan ini bisa tetap terpelihara dalam keputusan-keputusan publik di pemerintahan. Dalam konteks ini saya teringat dengan sinyalemen Bang Maruli Sirait mengenai cerita kebesaran Soekarno. Menurut dia, Soekarno sudah baik dan begitu cemerlang bisa menciptakan falsafah bangsa; “Bhinneka Tunggal Ika? Kenapa pada masa sesudahnya falsafah ini justru tidak berkembang dimatikan oleh kepentingan-kepentingan tertentu?? Nampaknya Bang Maruli Sirait juga lupa, bahwa selama Soekarno menjabat menjadi presiden sekitar tahun 1955an, dia toh tidak mampu mengakomodasi desakan dari kelompok Kejawen masa itu yang meminta supaya Kejawen dijadikan salah satu agama selain; Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Agama nampaknya terlalu penting untuk dikesampingkan sebagai salah unsur penting bagi proses perubahan di Indonesia.

Dalam konteks hubungan antara konstruksi ideologi keagamaan, sistem tata kota dan penataan ruang di perkotaan, serta hubungan-hubungan yang terjadi antar komunitas etnis, dan agama di kota Medan inilah nampaknya merupakan kasus yang sangat penting untuk ditelusuri kembali. Disini saya kira kasusnya memang tidak spesifik mengenai komunitas lokal Parmalim. Tapi, saya kira sudah menjurus kearah penataan politik kewargaan di Indonesia. Politik mengenai kebudayaan yang mengatur dan mengelola bagaimana hubungan antar kebudayaan (agama, etnis) harus ditempatkan dalam konteks sistem kewarganegaraan di Indonesia. Inilah pentingnya Uzair memilih medan dengan kasus konflik peribadatan di Air Bersih Medan.

Selain penting untuk memilih wilayah penelitian di kota Medan, saya rasa memang terlalu spekulatif untuk mendorong Uzair melakukan penelitian di tempat yang sama sekali jauh dari perkotaan, dan bahkan kita sendiri tidak mempunyai kontak perorangan di daerah ini. Dalam diskusiku dengan Uzair beberapa waktu yang lalu memang sempat ada rencana untuk mengambil fokus penelitian di daerah Barus, suatu wilayah pantai di Sumatera bagian Barat yang belum pernah disentuh dan diteliti oleh orang lain. Barus memang sudah banyak dikenal, bahkan aku pernah membaca sedikit mengenai profil kota ini di suatu koran nasional di Jakarta. Beberapa buku juga sudah menyebut kebudayaan dan sejarah kota ini. Karena referensi-referensi yang sudah aku terima mengenai kota ini, di benakku sudah membayangkan barus pastilah kota multikultural; disana ada beragam etnis yang hidup berdampingan meskipun letaknya jauh dari ibukota propinsi. Di kota inilah hidup beberapa keluarga yang menganut agama parmalim.

Namun rencana ini kita urungkan. Aku sudah membawa beberapa surat dari HKBP yang berisi protes keras pembangunan tempat ibadah parmalim. Dalam surat itu juga dilampirkan beberapa surat pernyataan warga dan surat dari TR/RW setempat. Distempel resmi atas nama lembaga publik. Surat ini kubawa atas anjuran Uzair yang sampai hari ini belum sempat bertemu dengan Maruli Sirait, dan apalagi berbicara panjang lebar dengan Bang Rait __ panggilan Maruli Sirait. Surat-surat ini sendiri dikirim oleh Bang Rait yang dibantu oleh teman-teman Madrasah Institute ke desantara beberapa bulan yang lalu. Surat ini sengaja disebarkan oleh Bang Rait supaya mereka (komunitas Parmalim di Medan) mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.

Dari bacaan dan diskusiku dengan Uzair di bandara ini semakin meyakinkan uzair untuk fokus dengan kasus konflik ini. Lebih-lebih selama beberapa hari Uzair juga masih bermukim di Medan, dan belum sempat mencari dan menelusuri data mengenai Parmalim di tempat lain.

Aku terus menjaga suasana diskusi dengan Uzair agar Uzair semakin mendaptkan berbagai masukan dan referensi yang saya rasa sangat berguna untuk mempertajam penelusuran data, dan analisisnya di kemudian hari. Diskusi terus berlangsung dari satu topik ke topik berikutnya, tidak ada batas formal dan memang aku sangat tidak menyukai formalitas. Hari ini aku dan Uzair menrencanakan bertemu dengan dua orang; Zulkifli Lubis, dan Maruli Sirait. Zulkifli Lubis adalah kepala jurusan Antropolgi Universitas Sumatera utara, dan Maruli Sirait adalah kepala perkauman Parmalim kota Medan. Maruli Sirait adalah adik ipar Monang Naipospos, alias Raja Marnakok, pemimpin besar komunitas Parmalim yang berkiblat di hutatinggi.

Beberapa jam kemudian aku dan Uzer bergegas ke luar bandara menuju penginapan. AKu mampir sebentar ke penginapan Uzair. Dia menginap di tempat menginap Selwakumar. Di suatu kantor pengacara yang merangkap sebagai kantor LSM yang mengurusi masalah pertanahan. Saya senang Uzair sudah bisa bergaul dengan teman-teman Selwakumar. Beberapa diantaranya adalah mantan aktifis Muslim Institute (MI), yang dulu pernah bekerjasama dengan Desantara menyelenggarakan diskusi kebudayaan di Pulau Samosir Sumatera Utara.

Rencananya saya menginap di Penginapan Sudirman, wisma yang pernah ditempati Uzair sebelumnya. Ternyata gagal karena sudah penuh. Akhirnya aku menginap di penginapan .Cheril Hotel, penginapan yang tidak jauh dari wisma Sudirman, namun harganya lebih mahal, Rp. 130.000 per kamar. Suasananya sangat bising, ada bangunan di sebelah yang sedang direnovasi. Kamarnya pun sangat kecil, dan tidak terlalu rapi. Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk mencari penginapan lagi di tempat lain. Karena, aku harus mempersiapkan beberapa agenda penting untuk membantu penelitian Uzair.

Di hotel ini aku berdiskusi panjang dengan Uzair mengenai perjalanan penelitiannya. Selama dua minggu lebih Uzair sendiri masih kelihatan gamang untuk menentukan fokus penelitian antara penelitian Parmalim sebagai suatu komunitas dengan berbagai dinamikanya, dengan fokus ke masalah aktual yang saat ini dihadapi oleh parmalim di Air Bersih, Medan. Meskipun saya tahu bahwa Uzair sudah mulai memikirkan kemungkinan fokus dengan penelitian masalah Parmalim di kota Medan, tapi saya melihat Uzair terlalu lambat mengambil tindakan taktis dan efisien untuk mendapatkan sejumlah data yang panting, dan menghubungi tokoh-tokoh kunci di Medan Sumatera Utara. Saya bisa memahami ini, karena proses untuk mendapatkan data memang tidak mudah untuk dipecepat sesuai dengan harapan kita. Apalagi pengalaman Uzair di lapangan terlampau minim, dan lebih-lebih Uzair hanya mengandalkan jaringan Desantara di Sumatera utara.

Sampai hari Sabtu, 7 Oktober ini Uzair ternyata belum bisa menghubungi Maruli Sirait, tokoh kunci yang dapat memberikan data penting mengenai kasus parmalim di Air Bersih Medan Sumatera Utara. Berkali-kali dikontak via telepon (HP) bang Sirait kelihatan mengulur-ngulur waktu. Pernah suatu kali Uzair bertekad ke rumah Bang Rait, ternyata dia tidak ada di rumah, dan belum pulang dari kerjanya. Sebenarnya saya menangkap gelagat tidak enak di kepala Bang Sirait ini. Saya dan Uzair bertanya-tanya mengenai tokoh Parmalim di Medan ini. “Jangan jangan memang Uzair masih belum bisa diterima di kalangan mereka”, begitu pikiran saya malam ini. Tapi saya mengurungkan niat untuk berprasangka buruk ke orang lain. Saya dan Uzair pergi Zulkifli Lubis, kepala jurusan antropologi Univ. Sumatera Utara.

Di rumah Bang Zul – panggilan saya ke Zulkifli Lubis – saya diterima dengan baik dan hangat. Saya berbicara dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan mengenai sejarah dan dinamika kebudayaan di masyarakat Batak. Bang Zul adalah marga Batak dari Tapanuli Selatan. Dia adalah muslim yang taat, sama seperti keluarga batak lain di Tapanuli Selatan. Bang Zul adalah sosok yang rendah hati, bicaranya datar dan menyenangkan. Namun begitu kita mulai mendiskusikan hubungan antara Tapanuli Selatan dan Utara, saya melihat posisi Bang Zul yang lain. Seperti orang-orang Tapanuli Selatan pada umumnya, dia menolak dan enggan dihubungkan dengan Si Raja Batak, sosok yang dianggap sebagai dinasti pertama yang membangun kemargaan Batak. Meskipun demikian, di Batak, baik di Tapanuli Utara maupun Selatan sebagian besar masyarakatnya sangat taat memegang teguh kemargaannya. Setiap anak yang kelak lahir dewasa pasti akan diberitakan oleh orang tuanya mengenai silsilah dan hubungan darah mereka berdasarkan marga. Bang Zul misalnya, diberitahu oleh ayahnya – berdasarkan catatan keluarga – posisi generasi dia sudah sampai kepada generasi keberapa dari marga Lubis. Kepada anak Bang Zul, dia juga pasti akan memberi pengetahuan seperti ini. Kenyataan ini berlaku bagi seluruh orang-orang Batak. Tidak peduli apakah di berada di perantauan atau bukan. Pernah suatu kali Bang Zul didatangi oleh salah seorang warga negara negara malaysia keturunan Batak. Dia menceritakan bahwa dia berasal dari marga nasution, dan berniat menelusuri kembali asal-usul keluarganya di Sumatera. Dia (bang Zul) diminta membantu menelusuri marganya yang masih tersisa di di Sumatera Utara. Jadi, betapa penting makna genealogi (asal-usul berdasarkan silsilah darah) ini bagi orang-orang Batak.

Mungkin penelitian yang belum dilakukan adalah dari mana dan mengapa makna genealogi ini begitu penting di dalam tradisi dan kebudayaan orang Batak. Setahuku kebudayaan lain seperti Melayu di Riau tidak terlalu “peduli” dengan sistem hubungan darah ini. Semisal Hassan Yunus, salah seorang keturunan dari Raja Ali Haji (kerajaan Riau Lingga) bahkan suka marah jika namanya dihubunghubungkan dengan silsilah nenek moyangnya.

Maka hampir semua penelitian mengenai Batak memang tidak bisa lepas dari referensi mengenai tradisi batak dengan sistem marganya ini (dikenal sebagai Parhudondom). Orang-orang Batak juga masih memegang tradisi perkawinan berdasarkan hubungan darah ini. Mereka membangun sistem kekerabatan, memperkuat sistem ini melalui perkawinan antar marga. Masuknya modernisasi melalui zending (kristenisasi) dan islamisasi nampaknya tidak melunturkan sikap mereka di dalam memelihara dan mempertahankan sistem marga ini. Modernisasi melalui agama ini memang menimbulkan berbagai dampak luar biasa dan perubahan yang drastis dalam kehidupan orang-orang Batak. Namun sistem dan tradisi yang berubah tidak melunturkan jaringan kekerabatan berdasarkan sistem marga ini.

Bang Zul bahkan menyarankan supaya penelitian Uzer mengenai konflik tempat peibadatan Parmalim di air bersih ini dihubungkan dengan relasi antar marga di kota Medan. Dalam beberapa kasus konflik di kalangan orang-orang Batak, masalah marga seringkali dijadikan pemicu dan benteng perlawanan antar satu kelompok dengan kelompok lain. Hubungan kekerabatan ini juga bisa bersifat positif yakni memediasi kelompok-kelompok yang bertikai jika dikalangan kelompok yang bertikai itu masih dekat hubungan marganya. Aku rasa ini usulan menarik, asal Uzair tidak terlalu perlu tergerus ke dalam tradisi “kulturalis”. Karena seperti yang sudah aku diskusikan dengan Uzair sebelumnya, masalah perkotaan, atau tepatnya sosiologi perkotaan jangan-jangan sangat sesuai untuk melihat kasus konflik ini. Saya kira memang terlalu cepat menyimpulkan, lebih-lebih dengan hanya melihat fakta-fakta yang terlalu sedikit. kita perlu menunggu pencarian data Uzair secara lebih baik. Masih banyak data yang harus dicari dan ditelusuri lebih jauh untuk melihat potret yang lebih utuh mengenai kasus konflik ini.

Aku dan Uzair berpamitan dengan Bang Zul setelah kita dijamu dengan hidangan berbuka puasa – meskipun kita tidak puasa hari ini. Selama perjalanan menuju rumah Maruli sirait pikiran kita dipenuhi oleh berbagai hal mengenai Bang rait ini. Kenapa Uzair begitu susah untuk mendapatkan data, bahkan bertemu saja belum juga kesampaian. Apakah orang-orang parmalim sudah tidak percaya lagi dengan orang-orang luar yang berniat ingin membantu mereka? Apakah sudah sedemikian parah citra LSM di mata orang-orang komunitas lokal, sehingga menimbulkan antipati yang begitu mendalam? Aku terus mendiskusikan dengan Uzair dan mencari berbagai kemungkinan-kemungkinan jika memang nanti juga susah bertemu dengan bang Rait.

Begitu sampai di depan rumah, seluruh pikiran kita sebelumnya mengenai Bang Rait ini buyar seketika. Kita disambut hangat oleh tuan rumah. Di rumahnya yang asri saya disambut kerabat-kerabatnya dari Parmalim. Kebetulan malam ini ada acara perpisahan putrinya dengan teman dan kerabat dekatnya. Putrinya yang dipersunting oleh putra batak dari Lumbanjulu telah bekerja di Jakarta. Jadi mereka ingin merayakan perpisahan ini sebelum ia dan suaminya bertolak ke Jakarta, mengikuti sang suami yang sudah bermukim di sana beberapa tahun yang lalu.

Percakapan kita dengan bang Rait ditemani dengan beberapa kerabatnya. Bang Rait dengan ramah mengenalkan saya dan Uzair dengan kerabat dan kawan lain sekomunitas Parmalim. Bang Rait bilang saya dan Uzair dari Desantara, dan dengan lancar dia menguraikan kegiatan-kegiatan Desantara yang pernah dia ikuti. Beberapa orang yang dia kenalkan kepada kami kebetulan juga sudah pernah saling jumpa sebelumnya. Sayangnya saya tidak bisa mengenalinya satupersatu. Terus terang dalam suasana seperti ini agak merasa kesulitan untuk mengenalkan lebih jauh mengenai interseksi. Uzair juga tidak bisa berbuat banyak. Kami saling mamahami, bahwa terlalu beresiko mengenalkan suatu lembaga baru LSM, ketika suasana orang-orang Parmalim sendiri sudah begitu pahit dan antipati dengan pengalaman masa lalu ketika bekerjasama dengan LSM. Saya bisa menyadari dan memakluminya, terutama memang harus diakui tradisi dan kerja-kerja LSM di Medan sebagian besar buruk.

Saya langsung mendiskusikan dan meminta pendapatnya sehubungan dengan rencana penelitian Uzair yang akan mengambil kasus Air Bersih ini. Sambil berbicara dengan nada yang agak tinggi saya menekankan betapa penting penelitian seperti yang dilakukan Uzair. Saya memang sengaja mengambil inisiatif untuk langsung mendiskusikan kepada pangkal persoalan yang saat ini dihadapi oleh orang-orang Parmalim. Aku sengaja melakukannya biar mendapatkan kesan langsung dari mereka, sehubungan rencana penelitian Uzair ini. Nampaknya mereka menyambut dengan baik. Namun beberapa keluhan juga mereka utarakan sehubungan dengan kerja-kerja LSM yang Cuma mengumbar janji. Aku dan Uzair sudah menyadari pernyataan ini pasti bakal muncul dalam percakapan kita. Aku sendiri tidak pernah menolak keluhan-keluhan ini, lontaran mereka yang tajam dan bahkan menyakitkan kita terima dengan lapang dada. Tapi di sela-sela diskusi itu saya juga menyampaikan beberapa pekerjaan teman-teman LSM, khususnya yang berkiprah di bidang isu kebebasan beragama yang sudah berinisiatif untuk bertemu dengan para DPR yang mendiskusikan. Sambil saya juga melihat keterbatasan kerja-kerja LSM, saya tetap menyatakan dengan argumentasi yang mungkin bisa meyakinkan mereka bahwa kerja-kerja LSM ini tetap perlu – apapun kekurangannya. Saya mengatakan bahwa sejak tahun 1970an kasus-kasus mengenai kebebasan beragama yang dibawa ke lembaga peradilan tidak satupun yang dimenangkan perkaranya. “Jadi, Parmalim tidak seharusnya berkecil hati, kaena banyak temannya”, kata ku kepada mereka. “Kita menghadapi tembok yang begitu tebal dan bebal, jadi kita harus terus bekerja sama”, kataku kemudian sambil menceritakan berbagai persoalan mengenai komunitas lokal di Indonesia yang tidak cukup diselesaikan hanya melalui proses hukum.

Suasana teman-teman Parmalim di dalam pertemuan ini memang masih dipenuhi perasaan marah dan kecewa. Saya bisa memaklumi ini. Tapi sebagai orang luar dengan tujuan yang spesifik aku harus fokus dengan rencana semula. Aku terus mengajak diskusi sampai larut malam, demi mencairkan situasi dan membuat hubungan kita (khususnya dengan Uzair) dengan teman-teman Parmalim lebih tidak berjarak. Akhirnya Uzair mendapatkan seluruh data yang diharapkan. Uzair mendapatkan surat-surat terbaru dari pejabat-pejabat daerah, yang isinya bernada memaki dan tidak setuju dengan rencana pembangunan peribadatan Parmalim. Surat ini dikumpulkan dengan rapi oleh Maruli Sirait. Kita dengan bebas membaca surat-surat ini dan memfotokopinya. Uzair nampak bergembira karena apa yang segera ingin dia dapatkan sudah ada di depan mata.

Dalam perjalanan pulang ke penginapanku aku bahkan mengatakan kepada Uzair, penelitian yang hanya melihat data dari surat-surat keputusan ini juga sangat menarik. Dalam riset etnografi, paradigma posstrukturalis juga melihat bagaimana surat-surat, tulisan, dan hasil rekaman perbincangan mengenai tema yang kita angkat dapat kita jadikan sebagai suatu lapangan penelitian (fields) itu sendiri. Tentu saja percakapan ini saya lakukan sambil bercanda, sekadar mengingatkan betapa surat-surat seperti ini begitu penting untuk dikesampingkan. Di dalamnya kita bisa melihat konstruksi negara yang terpatri dalam teks-teks surat itu. Misalnya, salah seorang pejabat lurah menyatakan dalam surat resminya yang turut mendukung pelarangan pembangunan tempat ibadah Parmalim, karena menganggap ajaran dan sistem keagamaan mereka sebagai sesuatu yang asing? Sungguh aneh bukan?


|


Siasat di Tengah Purifikasi (2)

Mengatur Siasat Ditengah Purifikasi (Bagian Dua)

Oleh: Paring Waluyo Utomo




Hari Kamis Kliwon, malam Jumat Legi telah tiba. Saat itu adalah momen penting bagi pelaksanaan pemujaan yang dilakukan oleh orang Tengger. Menjelang sore, tua muda sibuk mempersiapkan sesaji atau tetamping untuk dibawa ke danyang dan makam para leluhur. Saat itu adalah hari terakhirku aku berada di tengah-tengah kehidupan orang Tengger. Di malam perpisahanku itu aku mendesain acara focus discussion group (FGD) yang dimandatkan oleh Kanjeng Ndoro Juragan (funding). Acara FGD aku kemas dengan bentuk selametan malam Jumat Legi.

Sejak pagi, ibu-ibu dirumah Pak Mujono sibuk mempersiapkan hidangan untuk malam harinya. Sebelum acara selametan dimulai, Pak Mujono mempersiapkan hidangan khusus di meja ruang tengahnya. Hidangan yang dikemas dalam bentuk mini itu merepresentasikan semua jenis makanan yang akan digunakan untuk suguhan dalam selametan nanti malam. Melalui hidangan mini didepan mejanya itu, Pak Mujono (Koordinator Dukun se-Kawasan Tengger) membakar dupa dan kemenyan. Asap kemenyan segera memenuhi ruang tengah, bahkan hingga keruang tamu. Dengan puja-puji dan panjatan do’a melalui mantra, aku duduk persis dibelakang Pak Mujono.

Sebelum membakar kemenyan, Pak Mujono menyatakan bahwa ia akan berdoa demi keselamatan diriku, serta harapan-harapanku dapat segera terkabulkan. Dalam upacara kecil seperti ini, biasanya dukun Tengger tidak melafalkan mantra dengan ucapan yang dapat didengar orang lain secara jelas. Kebanyakan dalam upacara-upacara besar saja dukun akan mengucapkan mantra yang dapat di dengar orang lain. Aku mengikuti saja gerak ritual yang dijalankan oleh Pak Mujono. Ritual itu cukup singkat, setelah membaca mantra, maka usai sudah acaranya.

Sementara diluar rumah tampak orang-orang Tengger hilir mudik ke danyang. Momen ini aku pergunakan untuk melihat tingkat partisipasi warga dalam pergi ke danyang dan makam di dua desa Tengger, tempat aku melakukan penelitian, yakni Desa Wonokerto dan Desa Ngadas. Danyang di Desa Wonokerto cukup sepi, tidak seperti danyang di Desa Ngadas, yang penuh dengan antrian warga yang akan menarih sesaji serta berdoa dalam batin . Saat itu aku lebih banyak nongkrong di sekitar danyang di Desa Wonokerto. Aku sangat penasaran untuk mengetahui sejauh mana apresiasi warga Wonokerto terhadap danyang, setelah pemerintah desa mengeluarkan kebijakan yang cenderung puritan.

Agak lama aku menunggui orang Wonokerto yang akan pergi ke danyang. Hampir sejam aku duduk-duduk didepan danyang, sejurus kemudian, Kiai Ja’far menghampiriku. Kebetulan rumah Kiai Ja’far berada disamping danyang persis. “Danyangnya libur mas, tidak membuka layanan kepada warga”, gurau satir ala Kiai Ja’far kepadaku. Kami kemudian terlibat dalam pembicaraan santai di depan danyang. Setengah jam lebih waktu telah berlalu, Kiai Ja’far lalu berpamitan hendak membelikan makanan untuk anak-anaknya. Selang beberapa detik Kiai Ja’far meninggalkan danyang, terlihat seorang warga Wonokerto mendatangi danyang tersebut.

Ia terlihat berdoa cukup hikmat, bunga kenanga segar, irisan daun pandan, serta beberapa petik bunga mawar segera ditaburkan di batu tua yang ada di danyang . Selepas ia memanjatkan doa di danyang, aku sempat menghampiri sebentar orang tersebut. “Apakah Bapak setiap Jumat Legi rutin memberikan sesaji dan berdoa di danyang?”. Dengan mantap orang tersebut “Ya”. Sebenarnya orang ini telah lama menunggu kepergian Kiai Ja’far dari depan danyang sore itu. Ia menunggu saja dari kejauhan. Ia menyatakan tak enak hati kalau pergi ke danyang, sementara di depan danyang ada seorang Kiai yang hampir setiap waktu pengajian menganjurkan untuk menjauhi danyang. Setidaknya ia mengedepankan prinsip roso rumongso .

Begitu orang pertama ini meninggalkan danyang, tak lama muncul serombongan orang yang berjumlah empat orang mengunjungi danyang di Wonokerto. Mereka melakukan praktek ritual yang sama dengan orang pertama tadi. Selepas dari danyang, biasanya orang-orang Tengger akan mengunjungi makam leluhur untuk memberikan tetamping dan menabur bunga.

Pada saat yang bersamaan di rumah-rumah orang Tengger terdapat sesaji, biasanya terdiri dari makanan sehari-hari, tak lupa pula suguhan minuman, seperti kopi, maupun teh. Seguhan itu akan ditaruh dimeja khusus yang disediakan untuk “menjamu” leluhur mereka yang telah meninggal. Orang Tengger sangat meyakini, setiap Jumat Legi leluhur yang meninggal akan pulang kerumah kerabat mereka yang masih hidup didunia. Menurut beberapa orang tua di Tengger, suguhan itu lebih sebagai tanda saja, artinya kerabat mereka yang masih hidup tetap mengingat leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Dengan mengingat leluhur yang telah meninggal dunia, berarti generasi mereka yang masih hidup tetap memberikan penghormatan yang tinggi.

Konsep penghormatan terhadap leluhur, termasuk yang telah meninggal dunia ini memang konsep pokok dalam spiritualitas mereka. Orang Tengger memiliki tiga titik sentral dalam menjalankan ritual, yang dikenal dengan trimurti , yakni; menyembah sing gawe urip, yakni Hong Pukulun. Kedua; menghormati sing ngeke’i penguripan (bumi), dan ketiga; menghormati sing ngurip-nguripi (kedua orang tua atau leluhur).

Menghilangkan salah satu dari ketiga pusat spiritualitas diatas, menurut para dukun Tengger sama halnya dengan menghancurkan sistem adat yang telah dijalankan sejak lama oleh orang Tengger. Oleh karenanya, orang-orang Wonokerto yang masih menjalankan prinsip ini, sekalipun mereka tak kuasa untuk menolak Islamisasi, mereka tetap membuka kesempatan untuk pelaksanaan ritual Tengger di desanya, khususnya ritual yang bersifat individual.

Pada malam harinya, sebagian warga, terutama para orang tua melakukan tirakatan. Biasanya mereka akan semalaman untuk menjauhkan diri dari keramaian desa, termasuk juga menjauhkan diri dari lingkungan keluarga. Para orang tua tersebut akan menghabiskan waktunya untuk bersemadi di sanggar-sanggar, baik pamujan maupun padanyangan. Adapula yang bersemedi diatas gunung atau di rerimbunan pohon cemara di tengah hutan. Bagi orang Tengger, ini adalah momentum spesial untuk mendekatkan diri pada Hong Pukulun.


FGD Melalui Selametan
Pada tanggal 5 Oktober 2005, disaat orang-orang Tengger mulai meninggalkan danyang, dan menunggu malam tiba, Pak Mujono mengundang beberapa orang yang selama ini aku mintai informasi soal penelitian ini. Mereka adalah Pak Soenomo, Kepala Desa Ngadas, Pak Wirnoto mantan Kepala Desa Ngadas, Pak Sarmidi guru Agama Hindu, para asisten dukun, yakni Pak Legen dan Pak Sepuh, dan beberapa pemuka masyarakat lainnya seperti Ketua BPD Desa Ngadas. Semuanya kurang lebih 8 orang.

Dalam undangan lisan itu, Pak Mujono menyatakan bahwa saya hendak berpamitan kepada warga Desa Ngadas, sekaligus selametan. Pak Mujono juga menyatakan kepada mereka bahwa diriku hendak meminta saran-saran dan doa. Menjelang pukul 19.00 para undangan terbatas segera berdatangan. Sambil menghisap rokok Gudang Garam Surya yang aku sediakan, kami mulai terlibat pembicaraan santai, hanya seputar musim hujan yang tak segera tiba.

Sesaat kemudian, Pak Mujono membuka forum selametan tersebut. Ia menyatakan bahwa malam ini aku memiliki nadar (janji) untuk melakukan selametan, dan meminta perwakilan warga Ngadas untuk memberikan kesan dan pesannya selama aku penelitian di Tengger. Pada sesi ini, suasananya agak sedikit formal dan kaku. Silih berganti dari orang-orang tersebut memberikan kesan, dan pesannya kepadaku. Aku agak besar kepala, sebab hampir semuanya menyatakan hal-hal yang baik saja. Aku amat menyadari situasi seperti ini, sesuatu yang jujur serta kritis ada dalam hati mereka yang paling dalam terpendam, yang tak mungkin terlafalkan dalam forum seperti ini.

Setelah semua orang memberikan “basa-basinya”, acara segera dilanjutkan dengan makan malam. Makan malam dilaksanakan dipinggir perapian, di ruang tengah rumah Pak Mujono. Malam itu, menunya cukup spesial, aku khawatir saja uang sebesar lima ratus ribu yang aku berikan kepada Pak Mujono tidak mencukupi, melihat menu dan jajanan yang begitu banyak. Namun kekhawatiranku ini tak perlu muncul lagi, sebab sebelum acara ini dimulai, aku sempat menanyakan kepada Pak Mujono soal kemungkinan kurangnya biaya selametan. Namun Pak Mujono menyatakan tak perlu merisaukan hal itu. “ Wes ojok kuatir, ben wong pawon sing ngatur”, ucap Pak Mujono. Legalah hatiku mendengar hal itu.

Usai makan malam, para undangan tersebut kembali jagongan diruang tamu. Pada sesi ini, suasana lebih terlihat santai, lebih informal, dan lebih akrab. Sambil diselingi isapan rokok dan secangkir kopi panas, forum menggelinding membicarakan banyak hal. Aku mulai menikmati forum ini, namun sayangnya tak bisa berjalan lama. Terlihat di jam dinding, waktu menunjukkan pukul 21.00 Waktu Tengger (WT). Pak Sarmidi mengawali untuk pamitan terlebih dulu. Ternyata, pamitan itu juga diikuti oleh seluruh undangan.

Akhirnya, FGD berjalan kurang optimal menurutku. Aku memang tidak bisa memainkan forum dalam situasi forum penuh tradisi ewuh pakewuh antara grassroot dan elit Tengger. Secara realistis saja, ada beberapa masalah di Tengger yang muncul dan menjadi pembicaraan dalam forum itu aku sudah bersyukur. Misalnya saja soal problema asal-usul mereka sendiri. Atas problem ini, mereka menolak dari rumusan para peneliti Tengger yang menyatakan bahwa nenek moyang orang Tengger adalah para pelarian Majapahit. Mereka menyatakan bahwa para pelarian itu memang ada, akan tetapi leluhur Tengger telah terlebih dulu tinggal di pegunungan tersebut, jauh sebelum para pelarian itu tiba.

Problem lain yang sempat dibicarakan menyangkut soal pembantaian orang Tengger pada tragedi G 30 S 65. Mereka juga menyatakan bahwa orang Tengger menolak kalau di cap sebagai kelompok kafir dan identik dengan komunis, sehingga layak untuk dibunuh saat itu, sebagaimana kasus yang terjadi di Tengger Pasuruan. Porsi pembicaraan pada malam itu lebih banyak menyoal sejarah orang Tengger sendiri.

Berangkat dari kesadaran sejarah diluar Tengger yang kurang “memihak” terhadap orang Tengger, maka beberapa orang dalam forum tersebut sedikit menyinggung soal pentingnya perkuatan adat Tengger, dan pentingnya merevitalisasi adat mereka sendiri, khususnya untuk generasi muda mereka. Satu-satunya warisan kekayaan yang tak ternilai dari mereka adalah adat. Oleh karenanya, komitmen yang mereka bangun adalah menggunakan adat sebagai alat seleksi atas proses perubahan yang mungkin saja tidak menguntungkan orang Tengger.

Penulis adalah peneliti dalam program hak minoritas, Yayasan Interseksi, Jakarta, kini tinggal di Malang. Penulis menerima kritik, dan saran. e-mail: mr_paring@yahoo.com.


|

Sedikit tentang komunitas Tolotang

Catatan singkat tentang sejarah komunitas Tolotang

Posted by: Heru Prasetia
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas Yayasan Interseksi

Saat saya telah tinggal selama beberapa hari bersama komunitas tolotang, saya merasakan betapa komunitas ini mengalami sejenis trauma atas pengalaman sosial mereka di masa lalu. Dari berbagai percakapan dan bacaan saya atas sejumlah literatur, saya menemukan bahwa sejarah komunitas ini adalah sejarah tekanan dan intimidasi. Komunitas ini seolah dibentuk oleh intimidasi itu sendiri. Tidak mengherankan jika kemudian komunitas ini seolah tampak membatasi diri dan tertutup dalam hal-ihwal sistem kepercayaan mereka. Ada satu ilustrasi yang barangkali bisa melukiskan betapa ada sikap waspada tersebut mendarah daging di komunitas ini. Begini:

Waktu itu saya diajak induk semang saya ke sebuah acara mapacci (salah satu acara dari rangkaian acara perkawinan orang Tolotang) di tempat itu saya ngobrol dengan sejumlah orang, termasuk dengan induk semang saya. Satu hal yang mengagetkan saya adalah ketika terlontar pertanyaan pada saya tentang apakah interseksi dan Desantara (saya juga dikenal sebagai eksponen komunitas Desantara karena ia punya majalah Desantara edisi 14/2005 yang nama saya tertera di dalamnya) punya niat tulus untuk membantu komunitas-komunitas lokal atau justru punya proyek terselubung islamisasi, sebab, ujarnya lagi, orang-orangnya adalah orang islam. Saya tertegun. Saya tahu orang ini sebenarnya telah beberapa kali bergaul dengan Desantara dan mengikuti sejumlah acaranya. Tidak perlu saya jelaskan apa jawaban saya ketika itu. Tapi yang jelas, pertanyaan tersebut paling tidak menunjukan beberapa hal. Pertama, perasaan traumatis akibat tekanan di masa lalu belum sepenuhnya hilang, dan ini membentuk sikap untuk mewaspadai apapun tindakan orang di luar komunitas mereka, terutama dari kelompok islam. Kedua, ia kurang memahami pluralitas dalam islam sendiri. Ketiga, menyangkut urusan kepercayaan tolotang, komunitas ini sangat membatasi diri dalam berurusan dengan to laing (demikian sebutan mereka untuk orang yang bukan Tolotang).

Trauma dan sikap waspada ini memang relatif bisa dimengerti. Betapa tidak, sejak komunitas ini belum punya pranata sosial dan keagamaannya, ia telah ditindas dan ditekan untuk mengikuti Islam. Komunitas Tolotang, pada awalnya adalah orang-orang yang mempunyai kepercayaan bugis kuno yang tinggal di Wajo. Di awal abad 17 Wajo mengalami islamisasi besar-besaran setelah dikalahkan raja Gowa, sultan Allauddin, yang dikenal melakukan upaya Islamisasi melalui jalur kekuasaan politik formal, penuh tekanan-paksaan, dan nyaris tanpa ampun. Akhirnya raja Wajo La Sangkuru Arung Matoa secara resmi masuk agama Islam. Raja kemudian mengeluarkan maklumat agar seluruh warga kerajaan Wajo mengikuti agama Islam dan patuh pada perintah raja. Sebagan besar penduduk mematuhi maklumat raja tersebut, namun sebagian orag yang tinggal di wilayah wani tidak mau mengikuti perintah itu. Orang-orang yang tidak mau mengikuti Islam ini lantas lari ke Sidenreng. Dari penuturan narasumber saya, ia tidak menyebut leluhurnya “lari” tapi berperang hingga Sidenreng. Entah lari entah berperag, yang jelas serombongan orang dari Wajo lantas tingal di Sidenreng. Di Sidenreng ini mereka membuat perjanjian dengan Addatuang Sidenreng, La Pattiroi, yang merupakan raja Sidenreng VII. Perjanjian yang disebut dengan ada’ mappura onrona Sidenreng. Isi utamanya adalah bahwa adat harus dihormati, keputusan harus ditaati, janji harus ditepati, keputusan yang telah ada harus dilanjutkan, dan agama harus ditegakkans ditegakkan. Ada versi yang mengatakan bahwa perjanjian itu juga meliputi kesepakatan bahwa komunitas tolotang wajib melakukan ritual pemakaman dan pernikahan secara islam. Ketika saya tanyakan pada tokoh tolotang, versi ini dibantah. Menurutnya, yang terjadi adalah ada pergantian raja dan pergeseran kebijakan. Raja berikutnyalah yang memaksakan dua klausul di atas. Akhirnya, masyarakat tolotang tingal di Sidenreng di wilayah Amparita. n menganggap sebagai Tolotang. Mereka disebut tolotang karena mereka semua tinggal di sebelah selatan pasar dan raja memanggil mereka dengan “oliie renga tolotange pasarenge” (panggil mereka yang di selatan pasar itu).

Ketika raja mulai menerapkan kebijakan untuk memaksakan dua ritual yang harus diikuti masyarakat tolotang, selama bertahun-tahun masyarakat tolotang mengikutinya. Namun pada masa pendudukan Jepang, ada peristiwa yang sangat membekas di hati kaum tolotang hingga kini. Yakni peristiwa Imam Walatedong yang tidak mau memakamkan mayat orang Tolotang. Ini menyebabkan masyarakat menjadi gundah, sebab seolah mereka ditolak kehadirannya. Belakangan lahir keputusan raja yang menyatakan melarang pemakaman mayat tolotang oleh orang islam. Sejak itu orang tolotang tidak mau lagi mengikuti tradisi pemakaman islam dan menjalankan tradisinya sendiri.

Di awal kemerdekaan, kelompok tolotang menjadi sasaran tembak pemberontak DI/TII. Orang tolotang menyebut mereka dengan gerombolan DI/TII. Masyarakat tolotang yang tinggal di desa Otting dibantai, sebagian berhasil melarikan diri ke Amparita. Di Amparita inilah kaum tolotang bergabung dengan TNI melalui Pasukan Sukarela demi memberantas DI/TII. Hampir seluruh anggota pasukan Sukarela adalah orang Tolotang. Pada titik inilah Tolotang kemudian diidentikan telah memusuhi islam hingga kelompok islam di kemudian hari balik memukul Tolotang juga melalui perangkat TNI.

Pasca peristiwa 1965, sebagaimana komunitas lokal di sekujur negeri ini, kaum tolotang dituduh sebagai basis kekuatan PKI. Memang waktu itu ada sekitar 37 orang tolotang yang tergabung dalam Lekra. 5 orang diantaranya aktif sebagai aktivis. Tekanan dan intimidasi pada waktu itu sangat keras dirasakan masyarakat tolotang di Amparita. hampir semua tokoh mereka ditangkap dan dibawa ke penjara Rappang, sementara yang lain lari dari Amparita menuju Pinrang. Pada masa ini kelompok tolotang berusaha mendapat pengakuan dari pemerintah. Seorang Tolotang bernama Makatunggeng diutus untuk pergi ke Jakarta untuk mengupayakan hal ini. Pada akhirnya usaha selama berbulan-bulan ini berujung pada dikeluarkanya Sk. Dirjen Bimas Beragama Hindu Bali/Budha No. 2/1966 tanggal 06 Oktober 1966 yang menetapkan bahwa tolotang merupakan salah satu dari sekte dari agama Hindu. Keputusan ini tidak serta-merta membuat hidup komunitas ini menjadi tenang, tekanan dan intimidasi terus berlanjut karena masyarakat islam menolak keputusan tersebut. bahkan, menurut pengakuan masyarakat lokal, Dirjen bimas Hindu yag hendak mengunjungi komunitas ini dicegat dan dilarang. Desakan masyarakat islam untuk menolak surat keputusan tersebut bahkan kemudian disetujui DPRD-GR Kabupaten Sidrap, hingga mencapai puncaknya pada lahirnya operasi malilu sipakaenga (bahasa daerah yang berarti operasi untuk mengingatkan) dari Kodam Hasanuddin. Operasi militer inilah puncak ketertindasan dan peminggiran komunitas Tolotang. Operasi ini secara tegas menyatakan bertujuan mengembalikan kaum tolotang pada ajaran islam. Aktivitas tolotang lantas selalu diawasi, mereka tak bisa bebas menjalankan ritual kepercayaannya dan selalu dipaksa untuk masuk islam.

Lalu bagaiaman komunitas ini bisa bertahan? Itu akan saya ceritakan di lain kesempatan…

Heru Prasetia

Amparita, 25 September 2006

|

Catatan dari Amparita:


Catatan dari Amparita: setting etnografi komunitas Tolotang Towani

Posted by: Heru Prasetia
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas Yayasan Interseksi


Di awal persiapan penelitian, saya membayangkan komunitas tolotang towani berada di wilayah terpencil yang jauh dari sentuhan modernitas ditambah dengan sikap hidup yang cenderung menolak kehidupan modern. Namun kesan semacam itu berubah setelah saya mendapat informasi yang cukup memadai tentang keberadaan komunitas ini. Sejumlah buku dan percakapan dengan beberapa orang di makasar menginformasikan bahwa pusat komunitas ini ada di sebuah desa yang menjadi kota kecamatan di wilayah kabupaten Sidenreng Rappang sulawesi selatan. Sebuah ibu kota kecamatan tentu merupakan wilayah yang paling dekat dengan modernitas, paling tidak di kawasan kecamatan tersebut. Kesan ini semakin tertegaskan ketika saya menginjakkan kaki di Amparita.

Amparita terletak sekitar 8 kilometer dari Pangkajene, Ibu Kota kabupaten Sidenreng Rappang. Dari Makasar jaraknya sekitar 231 kilometer. Jarak sejauh ini bisa ditempuh dalam waktu 4,5 jam dengan menggunakan kendaraan umum. Angkutan umum dari Makasar ke Pangkajene atau ke Amparita menggunakan kendaraan sejenis panther atau kijang dengan penumpang sebanyak 7 orang. Angkutan yang langsung menuju Amparita lebih jarang dijumpai ketimbang yang menuju Pangkajene. Saya sendiri naik jurusan Pangkajene dengan ongkos 30 ribu rupiah, kemudian naik angkot (masyarakat sulsel menyebutnya pete-pete) menuju Amparita dengan ongkos 3 ribu rupiah.

Amparita secara administratif berbentuk kelurahan dan dipimpin oleh lurah yang diangkat oleh Bupati. Di sebelah timur, kelurahan Amparita berbatasan dengan dengan Desa Teteaji, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Allakuang dan Toddang Pollu, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Masseppe dan sebelah utara berbatasan dengan Arateng. Dari catatan BPS Kabupaten Sidenreng Rappang tahun 2005, luas wilayah Amparita adalah 6, 69 km2 . Pada musim kemarau seperti sekarang ini kawasan Amparita dan sekitarnya tampak berdebu, kering, kusam, dan sangat terik. Tapi, konon, kata seorang penduduk di sini, jika musim penghujan tiba, air akan menggenang di mana-mana membuat jalanan menjadi becek tak terurus.

Amparita termasuk wilayah yang sangat mudah dijangkau. Jalan menuju tempat ini berkondisi mulus sebab jalur yang melintasi Amparita termasuk jalan poros Pangkajene-Soppeng. Jalanan yang menghubungkan dengan desa-desa tetangga juga relatif bagus. Meski demikian, jalanan di lorong-lorong pemukiman masih berupa jalan tanah yang berlubang dan tidak rata. Di Amparita juga terdapat pasar yang cukup besar. Secara administratif pasar ini terletak di wilayah Kelurahan Toddang Pulu, namun jaraknya tak lebih dari sepelemparan batu dari wilayah Amparita. Bahkan nama pasar itu sendiri tetap bernama Pasar Amparita.

Dari data Kecamatan Telluu LimpoE dalam Angka, Kelurahan Amparita terdiri atas dua lingkungan yaitu Amparita I dan Amparita II dengan jumlah RW (Rukun Warga) sebanyak 6 (enam) dan RT (Rukun Tentangga) sebanyak 18 (delapan belas).
Fasilitas pendididikan di sini saya kira cukup memadai. Setidaknya ada 2 TK, 1 Sekolah Dasar, dan 1 SMP. Ada pula MI, Mts, dan MA. Saya amati letak sekolah-sekolah tersebut tidak terlalu jauh dari pemukiman. Di Amparita ini memang tidak ada SMA. Namuun letak sekolah tingkat atas di kecamatan Tellu LimpoE ini juga tak terlalu jauh dari Amparita.

Dari data BPS, jumlah penduduk Amparita hinga tahun 2004 adalah 4044 jiwa. Jumlah laki-laki di wilayah ini lebih sedikit ketimbang jumlah penduduk perempuan. Laki-laki hanya berjumlah 1854 sementara perempuan 2190. Pertambahan penduduk di wilayah ini cenderung stabil sebagaimana rata-tata pertambahan penduduk di kabupaten sidenreng rapang yang cuma 1,05 persen. Dari jumlah penduduk tersebut di atas, pemeluk Hindu berjumlah 2.105, Islam berjumlah 1932, protestan 7 jiwa dan tidak ada penganut Budha dan Katolik di Amparita ini. Dari data BPS tersebut, bisa dipastikan bahwa pemeluk agama Hidnu yang tercatat di sana seluruhnya adalah pemeluk Tolotang karensa sejatinya—dari informasi masyarakat sini—tak ada penganut Hindu di kawasan ini. Dengan demikian, di kelurahan Amparita jumlah pemeluk Towani Tolotang lebih banyak ketimbang pemeluk Islam.

Para penganut Tolotang ini tidak hanya tinggal di Amparita, namun juga tersebar di seluruh wilayah Sidenreng Rappang. Di kecamatan Tellu LimpoE sendiri jumlahnya lebih dari 6000 orang. Di seluruh kabupaten—dari data sensus 2000- ada 20.000an orang. Data sensus ini memang tak menunjuk secara pasti jumlah penganut tolotang karena rancunya klasifikasi dengan pemeluk Hindu-Bali yang mungkin ada di Sidenreng Rappang. Dalam catatan sensus tahun 2000 tersebut tercatat jumlah pemeluk hindu adalah 1479 sedangkan yang tergolong pada kolom “lainnya” adalah 19888 orang. Kategori “lainnya” ini dimaksudkan untuk penganut kepercayaan. Dari data ini memang susah untuk mengetahui secara definitif jumlah penganut Tolotang di kabupaten ini. Sebab yang tercatat dalam kategori Hindu bisa jadi tidak semua adalah Tolotang namun juga ada Hindu Bali, demikian juga untuk catatan kategori penganut kepercayaan. Ketika saya tanyakan hal ini pada seorang petugas BPS di kantor BPS Kabupaten, ia menjelaskan bahwa biasanya tolotang dimasukan ke dalam penghayat kepercayaan namun ada pula sebagian yang dimasukkan ke kolom Hindu. Dari sini bisa dikira-kira jumlah penganut tolotang di wilayah Sidenreng Rappang ini adalah berjumlah sekitar 20.000an. Estimasi uwa la unga, seorang pemuka tolotang di Amparita, jumlah kaum tolotang mencapai sekitar 50.000, sementara tokoh tolotang yang lain menyebut 70.000 orang. Menemukan jumlah definitif penganut tolotang memang susah karena tak ada catatan pastinya, namun bisa dikatakan bahwa jumlahnya mencapai puluhan ribu orang di wilayah Sidenreng Rappang saja.

Para pemeluk tolotang ini memang tidak hanya tingal di wilayah Amparita atau di kabupaten Sidenreng Rappang saja, namun telah banyak yang merantau ke berbagai wilayah di tanah air. Ada sejumlah orang di Makasar, di Bali, di Jawa, dan di Kalimantan. Meski telah merantau kemana-mana namun mereka tetap terikat pada locus yang sama: Amparita. Sebab di Amparita inilah terdapat pranata tolotang seperti para uwatta dan juga tempat ritual sipulung yang ada di perrinyameng di sebelah barat Amparita. Seorang tolotang tidak bisa tidak harus pulang ke Amparita untuk menghadiri ritual-ritual khusus tolotang di tempat ini. Menjadi seorang tolotang, maka ia harus terhubung dengan para uwatta dan lokasi-lokasi ritual di Amparita. “Home” bagi penganut tolotang adalah Amparita. Persebaran pemeluk tolotang ini juga tidak bisa dikatakan sebagai diaspora, sebab di wilayah yang baru, meski beranak pinak, mereka tidak bisa membuat pranata keagamaannya sendiri seperti mengangkat pimpinan spiritual atau membuat tempat peribadatan baru. Oleh karena itu, kendati berjumlah banyak, mereka tetap tak bisa dipisahkan dengan pimpinan spiritual dan pranata kepercayaan yang ada di Amparita. Saya kira inilah yang membedakan dengan agama-agama besar seperti Islam dan Kristen yang tak harus punya lokus tertentu yang dimaknai sebagai pusat. Islam memang punya Ka’bah, namun seseorang bisa menjadi islam tanpa sekalipun menjejakkan kaki di tanah Arab. Sementara untuk menjadi tolotang,dia harus terikat dan terhubung dengan para uwatta di Amparita dan dengan situs-situs ritual mereka di sekitaran Amparita.

Uwatta yang saya sebut di atas adalah para pimpinan tolotang yang menjadi semacam “perantara” untuk menghubungkan individu tolotang dengan Tuhan atau Dewata Seuwae. Informasi saya menganai uwatta ini masih sangat sedikit. Di lain kesempatan akan saya ceritakan lebih banyak mengenai kelembagaan agama tolotang ini.

Secara etnis, kebanyakan masyarakat Amparita adalah bugis. Ada beberapa pendatang dari etnis Toraja, Makasar, dan Jawa. Para pemeluk Tolotang sendiri adalah dari etnis bugis. Bahasa yang mereka gunakan juga bahasa bugis. Tidak ada bahasa khusus untuk pemeluk tolotang. Demikian pula tidak ada pakian khusus yang membedakan mereka dengan komunitas lain. Jadi secara fisik tidak bisa dibedakan mana penganut tolotang dan mana yang bukan. Kadang pembedaan yang kasat mata bisa dilakukan ketika mereka sedang melakukan ritual tertentu. Itupun terbatas karena tak semua warga tolotang melakukan ritual di rumah uwatta secara bersama-sama. Ritual bersama hanya terjadi setahun sekali di bulan Januari. Demikian juga, para penganut islam bisa dilihat ketika mereka sedang ke masjid. Namun dalam keseharian, di pasar misalnya, nyaris mustahil untuk memilah mana penganut tolotang dan mana yang bukan.

Kebanyakan pendududk Amparita adalah petani. Tanah di kawasan Amparita dan secara umum di Sidenreng Rappang memang cocok untuk lahan pertanian. Bahkan konon kabuaten Sidenreng Rappang adalah lumbung padi tersbesar di kawasan Indonesia Timur. Luas lahan pertanian di Amparita adalah 478,10 Ha jauh lebih luas dari luas pekarangan yang hanya 37, 10 Ha. Selain bertani, sebagian masyarakat juga bekerja sebagai peternak. Selain itu ada pula yang menjadi guru dan pegawai. Masyarakat tolotang memang tidak punya profesi khusus yang harus ditekuni sebagaimana masyarakat sedulur sikep yang mesti menjadi petani. Tidak ada ajaran tolotang yang melarang atau mengharuskan orang untuk menekuni profesi tertentu. Tentu saja ada larangan untuk mencuri dan perbuatan kriminal lainnya. Oleh karena itu para penganut tolotang mempunyai profesi yang sangat beragam. Mulai dari petani hingga menjadi tentara atau pengusaha. Tingkat pendidikan komunitas Tolotang juga relatif tinggi, saya jarang menjumpai anak putus sekolah si tingkat SMP. Kebannyakan di kalangan muda sudah lulus SLTA bahkan banyak pula yang meneruskan ke jenjang perguruan tinggi.

Dari sini bisa dikatakan bahwa komunitas ini sangat terbuka dengan modernitas. Informasi dari pemeluk tolotang memang menyatakan bahwa tak ada larangan khusus terhadap pencerapan bentuk-bentuk kemajuan seperti pembangunan dan modernisasi. Tolotang hanya sebatas pada sikap kepercayaan dan ritual. Sepanjang kepercayaan dan ritual tetap terjaga, maka sseorang tidak akan kehilangan maknanya sebagai seorang tolotang. Seorang peserta seleksi AFI yang sempat lolos hingga jakarta, namanya Tenri Ukke, adalah seorang penganut tolotang. Ayahnya, Uwa Tasi’, termasuk tokoh terkemuka di Amparita ini. Tenri Ukke sendiri adalah penyanyi daerah yang cukup ternama di Sulawesi Selatan ini. Pemuda Tolotang lainnya, Alloi Tahir, adalah penjaga gawang PSM Makasar saat menjuarai liga sepakbola PSSI perserikatan periode 1991/1992. Dengan bangga ia sering bercerita masa-masa jayanya pada saya. Saya juga mendapat informasi bahwa ada seorang penganut tolotang kini menjabat sebagai komandan kodim di wilayah Bali.

Dari segi ekonomi, sejauh pengamatan sekilas saya, bisa dikatakan bahwa kalangan pemeluk tolotang—terutama elit-elitnya—adalah orang yang cukup berada. Mereka punya modal ekonomi dan modal sosial yang lebih dari memadai. Saya sendiri tinggal di rumah seorang pemeluk tolotang yang merupakan pengusaha ternak sukses di wilayah ini. Ia setidaknya punay 7000 ayam petelor yang bisa punya omset sekitar 60 juta tiap bulan. Ia juga pernah menjadi anggota DPRD kabupaten selama dua periode. Pergaulannya sangat luas dan punya hubungan erat dengan elit-elit di wilayah kabupaten ini. Tempo hari saya juga menyinggahi pemeluk Tolotang yang mempunyai tiga buah usaha penggilingan padi besar di Pangkajene. Bahkan pada periode 2004-2009 ada dua pemeluk Tolotang yang menjadi anggota DPRD di kabupaten Sidenrang Rappang ini. Tiga kafe di wilayah pangkajene juga dikelola oleh penganut tolotang (namun kafe dalam pengertian di Amparita sini adalah sekedar warung minum di malam hari dengan hiburan karaoke dan gadis-gadis pelayan. Sebuah kafe yang sempat saya datangi terletak di pinggir kampung dengan bangunan sederhana beratapkan seng dan berdinidng kayu). Sejumlah elit tolotang termasuk menjadi orang yang disegani di Sidenreng Rappang ini. Jalinannya yang erat dengan aparat dan pejabat pemerintah membuatnya punya akses ke berbagai sumberdaya.

Kondisi ini, ditambah dengan hubungan kekerabatan yang sangat kuat, membuat para penganut tolotang menjadi sebuah komunitas yang cukup kokoh. Sejak kesepakatan untuk sepenuhnya mendukung Golkar pada aakhir 70-an, intervensi pemerintah teradap komunitas ini sudah sangat jauh menurun dibanding akhir 60-an atau awal 70-an. Terlebih jumlah penganut tolotang yang sangat banyak, membuat posisi tawar mereka menjadi sangat tinggi.

Meski demikian, yang masih mengganjal bagi komunitas ini adalah ketika sejak tahun 1966 hingga sekarang mereka harus dikategorikan sebagai Hindu. Padahal, menurut mereka, tak secuilpun keyakinan dan sistem kepercayaan mereka yang merupakan bagian dari Hinduisme. Hingga sekarang, jika untuk urusan administratif, seperti KTP, Pernikahan, atau untuk masuk sekolah, para penganut tolotang ini mengidentifikasikan diri atau diidentifikasi sebagai pemeluk Hindu.

Mengenai dinamika sejarah terbentuknya komunitas ini dan perjumpaannya dengan islam, akan saya ceritakan pada kesempatan lain…



Heru Prasetia

Amparita, 21 September 2006

|

Selamat Tinggal Gerbang Marhamah

Selamat Tinggal Gerbang Marhamah
Laporan dari Supervisi Penelitian Intersekti tentang Minoritisasi Ahmadiyah
ke Cianjur, Jawa Barat

Posted by: Zaenal Abidin EP.
Peneliti Yayasan Interseksi


Sabtu menjelang siang 7 Oktober 2006 di sebuah mobil penumpang umum Isuzu Elf tua yang bertolak dari Cianjur menuju Ciparay, seorang tua pensiunan bertutur dengan semangatnya.

“Istri kedua saya waktu saya nikah baru lulus SMA tahun 1996, jadi sekarang baru berumur 28 tahun. Anak saya semuanya enam termasuk dengan istri pertama. Ayah saya dulu pernah bilang ke saya, lebih baik kamu punya banyak istri daripada main perempuan”.

Kira-kira begitu yang bisa saya tangkap di tengah selap-selip bahasa Sunda Cianjur si Bapak itu, yang konon dialek Cianjur paling halus seantero telatah Sunda. Saya banyak mendengar saja ia bercerita sambil meraba-raba makna kalimat demi kalimat yang terlontar dari Bapak pensiunan tersebut. Sahut menyahut antar penumpang Elf itu tak terelakkan, menambah riuhnya suasana di dalam kendaraan tua itu.

Onggokan barang belanjaan di bagian belakang, mungkin pesanan sebuah bengkel karena banyak ban luar sepeda motor masih bersegel plastik dan kardus-kardus, bertumpuk tinggi memenuhi bagian belakang mobil tua dan kusam itu. Sedangkan di tengah ditempatkan dua gas oksigen yang satu direntang di bawah jok dan lainnya ditinggikan dengan diikatkan ke pintu, serta ditambah 4 gas elpiji yang di tempatkan di balik pintu.

Celoteh Bapak itu tepatnya sebetulnya diawali gumaman betapa berbahayanya mobil ini yang siapa tahu gas-gas itu bisa meledak. Saya kontan tersenyum, bukan mendengar kata-katanya yang polos itu dan memang saya benarkan, tetapi saya tersenyum karena tingkahnya yang naif dan sangat cemas memandang situasi itu. Ia agak sewot ketika saya tersenyum. Saya pun paham dan mulai mencoba serius. Benar saja si Bapak kemudian komat-kamit berdoa dan membaca shalawat. Setelah doa selesai kedua tangannya segera diusap-usapkan di batang gas oksigen yang menjadi pijakan kakinya. “Dah, semoga selamat!”, katanya pelan.

Setelah ia bertutur bahwa ia mempunyai istri muda, dan karena ia terus yang bercerita, maka ia mulai sadar bertanya dari mana dan apa tujuan saya pergi ke Ciparay. Saya jawab saja saya dari Bogor untuk tidak menjawab saya dari Jakarta. Kemudian ia bertanya asal daerah saya karena mungkin tahu orang yang diajaknya bicara tidak paham Bahasa Sunda, saya pun menjawab dari Jawa Timur. Tapi giliran apa tujuan saya, ia lebih dulu langsung menebak, “Mau ketemu cewek idaman di situ, ya?!”. Ia terus menyerocos, “Enak lho punya istri orang sini. Gadisnya kebanyakan penurut dan bisa menyenangkan suami”.

Sekali lagi dengan keterbatasan kamus Bahasa Sunda, sekalipun ketika mengambil mata kuliah Bahasa Sunda selama satu semester di Fakultas Sastra UGM sanggup mencapai nilai A, tetapi saya tetap terbata-bata menangkap kata-kata Bapak itu di tengah deru mesin Elf yang memekakkan telinga. Karena itu pembicaraan segera saya alihkan sambil saya menggerutu dalam hati, “Dasar bandot tua!”. Meskipun saya menggerutu, tetapi justru dari Bapak itulah saya ditunjukkan di mana saya harus turun dan sampai ke tempat yang ditunjukkan Amin Muzakkir, rekan peneliti Interseksi yang menetap sementara untuk penelitian minoritisasi Ahmadiyah di Dusun Ciparay.

***
Maulana Rahmat Ali menginjakkan kaki pertama kali ke Tapaktuan pada tahun 1925. Menurut catatan sejarah perkembangan jamaat Ahmadiyah Indonesia, tahun 1931 Rahmat Ali mulai menginjak tanah Jawa, tepatnya di Jakarta. Dari kawasan Bungur, Jakarta Pusat ia perlahan mengembangkan Ahmadiyah dan setahun kemudian tahun 1932, berkembanglah anggota jamaat daerah Bogor.

Perkembangan anggota jamaat kemudian terus ke selatan. Dalam terbitan “50 Tahun Jamaat Ahmadiyah Indonesia, Majalah Sinar Islam, Nomor Yubileum (Januari 1976)”, perkembangan anggota jamaat Cianjur dimulai secara serius sejak seseorang bernama Sanusi ingin mempelajari Ahmadiyah. Sebelumnya ia pernah membaca buku “Verslag Debat” antara Rahmat Ali dan A. Hassan dari Persatuan Islam (Persis) tahun 1933. Setelah mantap, Sanusi pun segera melakukan baiat menjadi anggota jamaat Ahmadiyah.

Sanusi sendiri pada tahun 1949 diminta Rahmat Ali untuk membentuk cabang di Ciparay. Ancaman terhadap Sanusi tidak main-main, bahkan diancam akan dibunuh. Akan tetapi Sanusi pun tidak gentar dan tetap meneruskan niatnya membentuk cabang jamaat Ciparay. Akhirnya pada tahun 1951 diadakanlah pemilihan pengurus cabang Ciparay dan dipilihlah Sanusi sebagai ketua cabang.

Kini, setelah setengah abad lebih berlalu, jejak-jejak Sanusi sudah mekar menjadi setidaknya tiga cabang lainnya. Perlu diketahui, pengertian cabang dalam jamaat Ahmadiyah tidak berdasarkan pemilahan geografis, melainkan berdasarkan kepadatan populasi (density). Selain Cabang Ciparay yang secara administratif masuk Desa Selagedang, Kecamatan Cibeber, dimana dari situ Sanusi menggerakkan cabang jamaat mula-mula, cabang lainnya adalah Cabang Neglasari serta Cicakra yang masuk wilayah Desa Sukadana, Kecamatan Cempaka dan Cabang Panyairan yang secara administratif juga masuk Kecamatan Cempaka. Setiap cabang itu kini berdiri satu masjid jamaat. Cabang Ciparay mempunyai anggota 121 jiwa, Neglasari 140-an jiwa, Penyairan 120 jiwa dan Cicakra lebih kurang 100-an jiwa. Keempat Cabang ini di tambah satu Cabang di Baros, Cempaka Mulya, Kecamatan Cempaka yang letaknya 18 km. timur laut Ciparay dibimbing oleh seorang Muballigh yang kini diemban oleh Edi Abdul Hadi. Muballigh ini pernah bertugas selama 11 tahun di Lampung dan sejak 2005 memulai tugas barunya di Cabang Ciparay dan cabang-cabang sekitarnya.

Cabang-cabang inilah, kecuali cabang Baros, yang pada tahun 2005 lalu masjid serta berbagai harta pribadi pribadi jamaat diserang dan dijarah massa. Penyerbuan itu dilakukan serentak 19 September 2005, atau satu setengah bulan pasca penyerbuan Kantor Pusat Ahmadiyah dan Kampus Mubarak Parung, Bogor, Jawa Barat.

Asep Mulyadi, Ketua Cabang Ciparay menuturkan peristiwa tersebut. Dua hari sebelumnya, di suatu malam Minggu yang cerah, diadakan parade ceramah dalam tabligh akbar di desa sebelah yang intinya mendiskreditkan Ahmadiyah. Setelah acara itu, suasana diselimuti ketegangan karena muncul desas-desus massa akan menyerang masjid Ahmadiyah. Dirinya dan Muballigh Edi Abdul Hadi kemudian sibuk menenangkan anggota jamaat dan menyiapkan skenario jika benar terjadi penyerangan. Benarlah pada malam Selasa sekitar pukul 20.00 WIB ratusan orang datang merusak dan menghancurkan Masjid Ahmadiyah Ciparay serta inventaris lainnya, termasuk pesawat televisi dan seperangkat komputer. Mata-mata berlinang jamaat Ahmadi, terutama yang laki-laki, hanya sanggup melihat peristiwa itu dari dalam rumah mereka masing-masing. Sementara para perempuan, orang tua dan anak-anak diungsikan sementara di sebuah lembah tidak jauh dari masjid tersebut. Setelah api menjilat-jilat dan semua hancur berantakan, jam 22.00-an datanglah anggota polisi dari Sektor Cempaka yang berusaha menenangkan situasi. Namun semua yang terbakar sudah menjadi abu dan barang-barang inventaris tidak utuh lagi.

Di Cabang lain, Neglasari, Panyaringan dan Cicakra situasinya setali tiga uang. Bahkan bukan hanya masjid yang dirusak, warung-warung kelontong milik anggota jamaat juga dijarah. Bahkan di sebuah toko, 500 kg telor ayam yang baru tiba, malam itu dikeluarkan massa dan dibanting berserakan di jalanan. Selama beberapa hari setelahnya, di sekitar tempat itu seperti tutur Asep Mulyadi menirukan kelakar orang-orang di sekitarnya, baunya mirip di Bantar Gebang.

Dalam menyikapi perusakan dan penjarahan itu, tampaknya Polres Cianjur gesit dan cepat bertindak. Sebanyak 47 orang yang dituduh terlibat pengrusakan ditangkap dan ditahan. Dari jumlah itu, 12 orang diantaranya terbukti dalam persidangan melakukan penjarahan dan kemudian dipenjara selama 6 bulan lamanya. Dibanding daerah lain, kepolisian Cianjur mengambil langkah cukup maju. Polres Cianjur dengan gagah berani mengusut kasus penyerangan komunitas keagamaan yang berbeda yang dilakukan komunitas berbeda dengan pasal-pasal kriminal, yaitu di antaranya perusakan dan penjarahan.

****

Dua hari mengitari kebun teh Panyairan dan sekitarnya, benar-benar sanggup melepaskan penatnya Ibu Kota. Asep Mulyadi yang kini lebih akrab dipanggil Ahmad, bersama Edi Abdul Hadi mengajak saya dan Amin Muzakkir mengunjungi jamaat Cabang Panyairan, Neglasari dan Cicakra dengan menggunakan dua sepeda motor. Tanpa saya duga, ternyata untuk menuju tempat jamaat Panyairan, kami harus menempuh perjalanan mengitari kebuh teh yang sangat hijau. Udara benar-benar bersih dan bau hijau daun pepohonan teh sangat terasa. Ditambah lagi hawa sejuk khas perbukitan dengan suhu menurut Asep Mulyadi berkisar 20 derajat celcius sungguh mengingatkan saya ketika saya berada di daerah perbukitan tembakau Sumbing-Sindoro di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Kondisi ini semakin menguatkan karakteristik wilayah di ketinggian sekitar 750 m. dari permukaan air laut itu yang membuat kedinginan bagi orang seperti saya yang sehari-harinya kegerahan menghirup udara Jakarta.

Meskipun masyarakat di daerah tersebut tinggal di tengah perkebunan teh, menurut Asep tidak banyak di antara mereka yang bekerja di perusahaan perkebunan tersebut. Gaji yang relatif kecil turut mempengaruhi mereka memilih bekerja di kota seperti Bandung dan Jakarta. Saat kami lewat itu, kebetulan sedang tidak ada pemetikan daun teh.

Cukup lama kami menyusuri jalanan di perkebunan teh milik PTP Nusantara VIII yang luasnya mencapai 1.000 hektar tersebut. Sembari ngabuburit, demikian kelakar Asep Mulyadi, kami diajak berkunjung ke rumah Ketua Jamaat Panyairan yang lokasinya persis di tengah-tengah perkebunan teh. Amin Muzakkir sebagai peneliti utama, tampaknya memanfaatkan betul kemahiran Bahasa Sunda-nya untuk mengorek informasi dari Ketua Cabang Jamaat Panyairan tersebut. Lagi-lagi, yang muncul adalah suara-suara memelas akibat kekejaman massa yang melakukan perusakan dan penjarahan. Informasi yang tidak kalah penting, tidak jauh dari rumah ketua cabang itu, ternyata ada seorang anak remaja SMA yang turut ditahan selama 6 bulan dengan dakwaan melakukan penjarahan ketika berlangsungnya perusakan dan penjarahan terhadap jamaat Ahmadiyah.

Esoknya kami berangkat ke Sukanegara untuk melihat kondisi anggota jamaat yang masjidnya benar-benar dirobohkan. Ketika kami datang ke rumah Oyo, wajah traumatik masih tersimpan dalam raut muka tua Oyo. Persis di samping rumahnya, kami melihat bekas-bekas masjid yang tinggal tumpukan kayu yang menindih reruntuhan pondasi bata merah yang dilumuri semen dan mulai ditumbuhi semak-semak. Sungguh tragis, mengiringi peristiwa itu beberapa anggota lain diintimidasi dan dipaksa untuk keluar dari Ahmadiyah. Kini tinggallah Oyo dan istrinya yang mempertahankan bukti kedatangan Imam Zaman di daerah Leuwimangu, Kecamatan Sukanagara tersebut.

Jalanan menuju kampung itu sebenarnya cukup berkelok-kelok dan sangat sepi. Kanan kiri jalan ditumbuhi pohon-pohon teh dan kadang jurang yang sejauh mata memandang hijaunya daun teh terlihat sangat indah. Tapi saya agak kaget, ketika Asep Mulyadi tiba-tiba menujuk satu titik di Desa Cinangka. Di situlah menurutnya Heri Golun merakit Bom Kuningan. Bom seberat 2,5 kwintal itu menurut Asep diangkut oleh 6 kuli angkut daerah situ untuk dimasukkan ke dalam mobil boks. Menurut tukang kuli angkut, mereka disuruh mengangkat “mesin” itu ke dalam mobil tersebut. Kekagetan itu bercampur kengerian begitu melihat jurang di sisi jalan dan sepinya kawasan tersebut.

Sampailah kami dalam sebuah obrolan merefleksikan berbagai peristiwa yang menimpa jamaat di daerah tersebut. Bahwa betapa sulit dimengerti di daerah dingin, sepi dan tampak begitu tenang itu sanggup membuat darah orang naik dan secara gampang melakukan amok massa. Atau sebetulnya di daerah seperti itu justru sangat potensial untuk menyusun skenario sebuah kejahatan luar biasa seperti halnya perakitan bom.

Entah mengapa di tengah kondisi demografis dan geografis sebagian kawasan Cianjur demikian itu membulatkan tekad bupati terdahulu menelorkan jargon Cianjur Gerbang Marhamah. Sebuah kebijakan Syariatisasi dalam peraturan daerah itu pada jaman ia menjabat gaungnya sanggup mencapai pelosok-pelosok desa. Menurut Asep, di pintu-pintu gerbang desa dengan mudah dijumpai spanduk bertuliskan “Anda Memasuki Kawasan Gerbang Marhamah”. Selain itu di setiap desa dan sekolah juga diangkat seorang Pembimbing Akhlakul Karimah (PAK) yang digaji Rp. 600.000,- per tahun. Keruan saja posisi-posisi itu diisi oleh para fungsionaris MUI Cianjur yang jangkauannya hingga ke pelosok-pelosok desa. Namun pada akhirnya muncul asalan mengapa bupati penggagas Gerbang Marhamah itu kalah dalam pemilihan Bupati Cianjur pada Februari 2006, di antaranya adalah macetnya pembangunan inftrastruktur di Cianjur karena anggaran pemda tersedot ke dalam proyek Gerbang Marhamah itu.

Tampaknya kekerasan terhadap Ahmadiyah di daerah itu secara langsung maupun tidak juga merupakan ekses dari “Gerbang Marhamah” itu. Ekses lain yang tidak kalah menariknya barangkali adalah sikap banalisasi poligami seperti yang dilakukan Bapak pensiunan yang menunjukkan setengah dari perjalanan saya ke Ciparay itu.@


|

Lima Hari di Cianjur

Lima Hari di Cianjur: Sebuah Catatan Awal

Posted by: Amir Mudzakkir
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme, Yayasan Interseksi.

Hari Pertama, Sabtu, 9 September 2006
Saya berangkat dari rumah di Pancoran Jakarta Selatan sekitar jam 8 pagi, jalan kaki sebentar, kemudian naik mikrolet 34, turun di Kalibata, kemudian naik Kopaja 57, turun di Terminal Kp. Rambutan. Setelah menunggu-nunggu dan bertanya ini itu tentang bis yang ke jurusan Cianjur, akhirnya saya putuskan untuk naik bis “Doa Ibu” jurusan Tasik. Kata seorang tukang warung, bis itu nanti akan lewat cianjur. Ongkosnya murah, demikian tukasnya. Saya segera bergegas, tanya lagi kondektur bis yang juga mengiyakan bahwa bis ini nanti akan lewat Cianjur. Kemudian saya naik dan duduk di bangku jajaran kedua. Bis itu ber-AC, sehingga pada awalnya saya merasa nyaman, tapi segera saja perasaan itu berubah setelah puluhan tukang asong menjajakan berbagai macam barang dan makanan ke atas bis. Saya jengkel tapi harus bagaimana lagi, sebab itulah fakta paling riil tentang Indonesia. Setelah menunggu beberapa saat, bis itu akhirnya berangkat. Penumpang hanya beberapa orang saja, tidak sesak. Plong rasanya.

Mendekati pintu keluar terminal, ternyata sudah menunggu puluhan penumpang yang akan ke Cianjur. Salah satunya seorang pemuda berkopyah merah dengan gaya sangat dewasa yang duduk disamping saya. Dia membawa travel bag teramat besar berwarna hitam merk “Polo”. Saya awalnya jengkel, karena bagaimanapun travel bag itu pastilah akan menyesaki ruang. Dan yang lebih menjengjkelkan, suara pemuda itu menggeleger, serak-serak basah, dan dalam. Ditambah suara-suara berisik para pedagang, suara pemuda itu benar-benar membuat saya jengkel. Tetapi itu awalnya, sebab selang beberapa saat setelah bis keluar dari daerah Rambutan dan sudah mulai mendekati gerbang tol Jagorawi di Cibubur, saya sudah mulai mampu menetralisir kejengkelan. Saya akhirnya memberanikan diri bertanya pada pemuda berkopyah merah itu tentang tujuan perjalanannya. Dia jawab bahwa dia akan pergi ke Cianjur. Saya tanya ongkosnya berapa, dia jawab mungkin sekitar 15 ribu. Murah sekali, demikian pikir saya. Beberapa lama kemudian kita saling berkenalan. Lalu keadaan pun cair.

Pemuda berkopyah merah itu ternyata seorang santri kelana yang sekarang sudah jadi kyai muda sukses di Pekanbaru, Riau. Dia lahir di Cianjur. Umurnya baru 21 tahun tapi hebatnya dia sudah beristri. Gila, saya pikir, berani benar pemuda ini. Tapi setelah ngobrol kesana-kemari, saya akhirnya mulai paham siapa sebenarnya pemuda berkopyah merah yang belakangan saya ketahui bernama Muhammad Bandan itu. Dia cerita bahwa selepas SD dia segera saja di kirim orang tuanya yang seorang kyai sufi di daerah Cianjur Selatan ke Demak, kemudian Sragen, dan akhirnya mondok di Lirboyo. Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren setingkat aliyah di Lirboyo, dia belajar untuk tingkat ma’had ali di Tebuireng, Jombong. Di pesantren terkemuka itu dia hanya setahun, kemudia mondok lagi di Pasuruan. Akhirnya sekira dua tahun yang lampau dia dipanggil gurunya di Lirboyo untuk pergi ke Pekanbaru dan mendirikan pesantren di sana. Dia cerita itulah satu-satunya pesantren cabang Lirboyo di luar Jawa, diresmikan bahkan oleh Walikota Pekanbaru dan Gubernur Riau. Dia tambahkan, insya Allah, setelah lebaran besok, Kyai Idris Marzuki, pimpinan Lirboyo, akan datang langsung ke pesantrennya dan akan meresmikannya.

Sambil ngobrol, bis tak terasa sudah sampai di Ciawi Bogor. Menjelang Ciawi dari kejauhan sudah terlihat bis-bis yang antri. Wah pasti macet. Dan ternyata benar, Puncak sudah macet total, sehingga kendaraan dari arah Jakarta dialihkan semuanya ke jalur Sukabumi. Wah gila, demikian pikirku, jam berapa akan sampai di Cianjur kalau begini, padahal saya sudah bikin janji dengan Kang Asep Muslih untuk ketemu di Masjid Agung Cianjur sekira Asyar Tetapi yang lebih mengejutkan, dan sudah pasti bikin jengkel, bis yang saya tumpangi kemudian memutar arah dan kembali lagi ke Cibubur. Kita akan lewat Jonggol, kata si kondektur. Akhirnya saya kembali ke Cibubur. Menjelang gerbang tol di Cibubur, kemacetan sudah terlihat dari kejauhan. Bis yang saya tumpangi memutari Cibubur Junction, lalu masuk di jalan alternatif Cibubur yang ke arah Jonggol. Bis benar-benar merayap. Lalulintas baru sedikit lengang setelah keluar Cibubur, hampir belokan yang akan ke arah Cikeas. Tetapi jalan yang sempit, berliku-liku, kemudian menanjak dan menurun curam, bikin perjalanan jedi deg-degan. Belum lagi supir sialan yang rada ugal-ugalan. Wah pokoknya tidak menyenangkan!

Bis baru sampai di Cianjur sekira jam 2.30 siang. Saya naik lagi angkot, turun di Masjid Agung. Tetapi ternyata ada salah kaprah, sebab maksud kang Asep Muslih adalah Masjid Al-Ghofur milik Ahmadiyah yang di daerah By Pass. Akhirnya saya naik lagi angkot, turun persis di by pass. Dari sini saya berjalan sekitar 100 meter ke Masjid Al-Ghofur. Saya masuk gerbangnya, di teras sudah nunggu seorang pemuda dewasa. Pasti itulah Kang Asep Muslih, begitu pikirku. Dan ternyata benar. Kami bersalaman, ngobrol sebentar, lalu terpotong adzan asyar. Saya segera mengambil air wudhu, lalu sholat berjama’ah.

Setelah selesai shalat, saya diperkenalkan dengan seorang muda berjenggot yang menjadi imam shalat berjamaah. Belakangan saya ketahui bahwa orang muda tersebut adalah muballigh Ahmadiyah yang ditugaskan ke Cabang Cianjur. Namanya Abdul Karim, berasal dari Tasikmalaya. Dia adalah alumni pendidikan kader muballigh/ahli agama di Kampus Mubarrak, Parung, Bogor. Perawakannya kecil, cenderung kerempeng, berkacamata, dan selalu berusaha untuk senyum. Setelah diperkenalkan maskud kedatangan saya ke Ahmadiyah oleh Asep Muslih, saya diajak ke rumah Abdul Karim yang persis berada di depan masjid. Kami ngobrol agak serius, mulai dari soal konsepsi keagamaan Ahmadiyah sampai konstelasi politik lokal yang menjadi latarbelakang peristiwa penyerangan terhadap Ahmadiyah pada Sepetember tahun lalu. Dia secara implisit menyebut momentum pilkada sebagai faktor penting untuk memahami masalah tersebut. Sebab, kalau hanya soal paham keagamaan, kenapa kejadiannya baru meletus sekarang, demikian dia bertanya retoris.

Ketika ngobrol dengan Abdul Karim, Asep Muslih lebih banyak mendengarkan, hampir affirmatif. Saya sesekali memancing pertanyaan yang sifatnya lebih politis, mungkin konspirasional, di balik peristiwa-peristiwa yang menimpa Ahmadiyah di Cianjur. Mereka berdua tampak menyepakatinya, meski kadang dengan mimik yang agak segan. Saya bertanya tentang figur Wasidi, bupati yang berkuasa ketika peristiwa September tahun silam tetapi dalam Pilkada Februari kemarin. Mereka cuma tersenyum, ya begitulah, mereka menukas. Mereka cerita bahwa setelah Pilkada selesai, tampaknya kasus Ahmadiyah seperti hilang begitu saja. Sekarang hampir tidak ada lagi berita di media massa lokal atau dalam omongan-omongan publik, demikian kata mereka, yang menyangkut Ahmadiyah. Ketika saya tanya tentang nasib SKB (Surat Keputusan Bersama) yang melarang kegiatan Ahmadiyah di Cianjur, mereka jawab bahwa SKB itu belum dicabut, tetapi mereka pun hampir tidak peduli. Karena, begitu kata Abdul Karim, SKB itu bukan produk hukum, yang menandatangani cuma Bupati, Kakandepag, dan Kajari. Ketiga-tiganya sekarang sudah tidak lagi berkuasa, bahkan Kakandepag sedang dalam proses hukum karena terbukti melakukan korupsi.

Selanjutnya, kedua tokoh muda Ahmadiyah Cianjur ini bercerita tentang anggota Jemaat Ahmadiyah yang sebenarnya hidup membaur bersama dengan masyarakat lain. Asep Muslih cerita bahwa banyak dari masyarakat yang kemarin ikut menyerang masjid-masjid, rumah-rumah, dan properti-properti lain milik warga Ahmadiyah sekarang merasa menyesal kenapa mereka dulu sampai bisa melakukan hal tersebut. Mereka ketika itu merasa terprovokasi oleh para muballigh-muballig beberara gerakan Islam garis keras yang memang pada waktu itu sedang bermunculan. Salah satu yang paling menonjol ketika itu adalah Garis (Gerakan Islam Reformis) yang sekarang kabarnya entah bagaimana, seperti hilang ditelan bumi seiring selesainya proses Pilkada.

Setelah pembicaran di antara kami semakin hangat, saya bertanya tentang permintaan saya untuk tinggal di rumah warga Ahmadiyah. Mereka, kedua tokoh muda itu, belum berani mengambil keputusan, menunggu Ketua Ahmadiyah yang sedang pergi ke Bandung. Nanti tunggu pak ketua saja sehabis maghrib, kata Asep Muslih. Saya mengiyakan sambil melanjutkan pembicaraan.

Lalu adzan Maghrib pun berkumandang. Saya pamit untuk bersih-bersih dan istirahat sejenak. Setelah itu segera saja saya pergi ke masjid. Beberapa jamaah tampak memperhatikan saya, barangkali saya dipandang asing, karena memang jamaah yang shalat di masjid al-Ghafur itu hampir semuanya orang Ahmadiyah. Warga sekitar kelihatannya jarang shalat berjama’ah di masjid ini. Setelah salam, komat-kamit sebentar, saya segera keluar, mencari rumah makan karena perut sudah begitu lapar. Saya makan di warung tenda pinggir jalan tidak jauh dari masjid. Menunya ayam presto yang empuk. Setelah itu kembali ke rumah, ternyata Pak Ahmad Garnida telah menunggu.

Pak Ahmad kelihatannnya cukup berpengaruh di kalangan warga Ahmadiyah Cianjur, terlepas dari posisi formalnya sebagai ketua. Dia menyapa saya dengan ramah, basa-basi seperlunya, lalu bertanya tentang maksud penelitian saya. Saya menjelaskan apa adanya, bahwa maksud penelitian saya benar-benar baik, paling tidak berdasar rasa subjektif saya. Saya berbicara tentang konsepsi multikulturalisme yang menjadi landasan teoritis penelitian saya. Juga tentang maksud lebih jauh dari itu, semisal advokasi kebijakan kaum minoritas di Indonesia, termasuk Ahmadiyah. Pak Ahmad tampak setuju dengan apa yang saya bicarakan dan memang dia setuju. Dia mengizinkana saya secara senang hati untuk menginap di rumah Kang Abdul Karim yang sebenarnya rumah inventaris Ahmadiyah. Setelah itu dia minta maaf karena tidak bisa ngobrol lebih panjang lebar karena masih lelah. Dia baru saja datang dari Bandung untuk sebuah acara Ahmadiyah di sana. Saya mengiyakan karena saya juga begitu lelah.

Akhirnya saya tidur...


Hari Kedua, Minggu, 10 September 2006
Saya bangun jam 5 pagi, langsung mandi, shalat shubuh. Setelah nulis sebentar, saya dipanggil Abdul Karim untuk sarapan pagi. Ternyata Pak Ahmad Garnida telah menunggu di bawah, mengajak sarapan pagi bersama. Kami makan di ruangan tamu yang merangkap ruang kumpul keluarga. Saya dan Pak Ahmad duduk di kursi sudut berwarna merah pucat, sambil makan nasi sop dan tahu goreng. Sementara itu, di depan kursi sudut digelar karpet lebar. Di sana ada istri Abdul Karim yang sedang mengasuh anaknya yang masih bayi, juga istri Pak Ahmad yang ternyata berasal dari Tasikmalaya. Diawali dengan pembicaraan ringan, kami akhirnya terlibat dalam pembicaraan serius.

Pak Ahmad mulai ngobrol tentang konsepsi kenabian dalam Ahmadiyah. Bagi Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang berusaha menghidupkan kembali syari’at Muhammad. Saat yang sama, Ahmadiyah percaya bahwa Mirza adalah al-Masih yang dijanjikan dalam al-Qu’an itu. Ini jelas berbeda dengan keyakinan ummat Islam yang lain, yang justeru terbesar. Pada titik ini pertengkaran-pertengkaran antara kelompok paham dalam Islam hampir tak mungkin lagi terhindarkan. Yang mengejutkan, Pak Ahmad bilang bahwa bagaimanapun kebenaran adalah satu, dan itu adalah Ahmadiyah. Di luar itu salah, tapi, demikian Pak Ahmad segera menambahkan, Ahmadiyah akan mengajak kepada kebenaran dengan cara-cara damai tanpa paksaan. Itu adalah prinsip kami, tukas Pak Ahmad. Saya kembali bertanya, itu benar-benar prinsip atau sekedar strategi karena Ahmadiyah sekarang masih minoritas, misalnya. Pak Ahmad segera menjawab, itu prinsip, sebab bahkan jika Ahmadiyah sudah besar dan dominan, Ahmadiyah akan tetap bergerak pada tataran kultural dengan cara-cara damai. Islam rahmat lil-‘alamin, demikian kata Pak Ahmad.

Sewaktu saya ngobrol dengan Pak Ahmad, datanglah seorang tua yang belakangan saya ketahui adalah salah seorang sesepuh Ahmadiyah. Hari sebelumnya saya ketemu dia di masjid sewaktu berjama’ah Maghrib dan Isya. Dia awalnya tampak bertanya-tanya, barangkali curiga, sebab kok ada jama’ah baru yang shalat di sana. Kang Asep menjelaskan bahwa saya adalah peneliti yang bermaksud baik. Nah, minggu pagi saya kembali ketemu dia, kebetulan saya sedang ngobrol dengan Pak Ahmad yang juga menjelaskan siapa saya dan apa maksud kedatangan saya ke komunitas Ahmadiyah. Dia, saya tidak sempat mengetahui namanya, tampak manggut-manggut, dan begitu ramah. Setelah sebentar basa-basi, dia kembali pamit karena maksud kedatangan dia ke rumah itu sekedar tanya tentang ibu-ibu jemaah Ahmadiyah, sekira sepuluh orang, yang memang menginap di rumah Abdul Karim. Ibu-ibu itu adalah jemaat Ahmadiyah dari wilayah Selatan yang pada September tahun kemarin menerima dampak terburuk dari represi dan teror terhadap Ahmadiyah. Kemarin mereka dari Bandung, menghadiri pengajian muslimat Ahmadiyah, Pak Ahmad dan istri ikut serta dalam rombongan ibu-ibu itu untuk mengiringi.

Kemudian, saya dan Pak Ahmad kembali berbicang sambil disuguhi pisang sale yang digoreng kering. Dia bercerita tentang konstelasi politik lokal, terutama seputar proses Pilkada kemarin. Dia yakin bahwa peristiwa kekerasan terhadap Ahmadiyah kemarin adalah bagian dari proses politik itu. Dia menyebut pewacanaan politik identitas yang dilakukan Warsidi, bupati Cianjur yang telah dikalahkan oleh H. Tjetjep pada Pilkada kemarin. Wasidi adalah figur yang menggunakan isu-isu politik identitas agar dia menjadi populis, kata Pak Ahmad. Proyek terbesar dia adalah Gerbang Marhamah yang memang benar-benar sekedar gerbang dalam pengertian sebenarnya. Memang begitulah, di semua pelosok Cianjur dibuat papan-papan nama bertuliskan berbagai macam kata-kata atau idiom yang mereferensi pada identitas Islam, yang secara formal dirumuskan dalam konsep Gerbang Marhamah itu. Akan tetapi, kasus VCD porno SMA 2 Cianjur dan isu kristenisasi di Lembah Karmel yang diizinkan oleh oleh Wasidi telah benar-benar menjadi bumerang bagi dia. Lawan-lawan politiknya, termasuk dari kubu Pak Tjetjep yang sekarang jadi bupati, telah berhasil secara efektif menggunakan issu-issu tersebut untuk menjatuhkan reputasi Wasidi. Dan akhirnya Wasidi kalah.

Yang menarik, Pak Ahmad cerita tentang diskriminasi terhadap orang-orang Ahmadiyah di birokrasi Cianjur. Dia menjadi salah satu korbannya. Dia cerita bahwa sudah tiga kali atasannya di dinas pendidikan meminta dia agar keluar dari Ahmadiyah kalau ingin selamat atau dapat kedudukan. Terakhir, dia ditawari menjadi kepala SMA 1 Cianjur yang dipandang paling favorit di kota itu, tetapi dengan syarat harus keluar dari Ahmadiyah. Pak Ahmad jelas menolak, tetap menjadi kepala SMA Cibeber sebagaimana sebelumnya. Tetapi, sewaktu kekerasan terhadap Ahmadiyah terjadi pada September tahun kemarin, Pak Ahmad diberhentikan dari jabatannya dan diberi jabatan yang tanpa kekuasaan: menjadi pengawas. Tetapi Pak Ahmad menerima saja hal itu, apalagi di tengah kondisi ketika dia sebagai Ketua Ahmadiyah Cianjur harus lebih banyak kompromi. Sampai sekarang dia masih menjadi pengawas di lingkungan Dinas Pendidikan Cianjur, tidak pernah mencoba untuk semacam merehabilitasi nama agar kembali mendapatkan jabatannnya. Selain Pak Ahmad, sepengetahuan dia, ada dua orang guru perempuan yang Ahmadiyah di lingkungan dinas pendidikan Cianjur menerima nasib serupa. Mereka tidak diberi jam mengajar, bahkan ada yang dialihkan tugasnya dari guru menjadi staf TU. Mereka, kata Pak Ahmad, menangis dan meminta pertolongan pada Pak Ahmad, tapi Pak Ahmad terus terang tidak bisa membantu apa-apa, karena memang begitulah keadaannya. Dia berpesan kepada kedua ibu guru itu agar tetap bersabar dan berdo’a, karena do’a orang tertindas itu akan dikabulkan Tuhan.

Kami berbincang sampai sekira jam 7.30 pagi, karena Pak Ahmad dan istrinya mau pergi hadiri acara keluarga. Kebetulan saya juga mau pergi ke Kebun Raya Cibodas, sudah bikin janji dengan teman LIPI di sana. Setelah pamit, saya segera pergi, naik dua kali angkot, ke Cipanas dulu, sebelum akhirnya sampai di Cibodas sekira jam 8.30. Ternyata teman yang saya maksud masih di rumahnya, sehingga saya terpaksa menunggu di sebuah warung kopi di depan area parkir Cibodas. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya saya ketemu dengan teman yang dimaksud. Teman itu tentu saja perempuan, kalau laki-laki mana mau saya menunggu begitu lama. Saya jalan-jalan dan ngobrol tentang ini itu di sana sampai jam 11.30. Setelah itu saya kembali pulang ke Cianjur.

Sore hari saya berkunjung ke teman-teman PMII Cianjur di daerah Sayang, sebuah nama yang agak aneh. Sebelumnmya saya sudah bikin janji dengan Adul, nama lengkapnya Abdul Rahman, ketuanya, seorang Sumatera yang terdampar di Cianjur. Ada sekira sepuluhan aktifis PMII yang kebetulan sedang ada di sekretariat pada waktu itu. Setelah basa-basi, saya kemudian terlibat pembicaraan agak serius, terutama seputar konstelasi politik pasca pilkada kemarin. Saya bertanya tentang posisi dan peran Ahmadiyah dalam konstelasi tersebut. Adul dan beberapa kawan bercerita bahwa Ahmadiyah sebenarnya hanya dijadikan komoditas politik. Ada kekuatan-kekuatan politik tertentu yang mengambil dampak manfaat dari peristiwa itu. Akan tetapi, ini baru sekedar asumsi, susah dibuktikan secara faktual. Paling tidak, dari beberapa fakta pasca kekerasan terdapat beberapa kesimpulan kasualitas yang sifatnya subjektif yang bisa menjelaskan asumsi tersebut. Misalnya dengan melihat peran LSM Garis dalam kasus Ahmadiyah dan rangkaian peristiwa seputar Pilkada. Beberapa tokohnya, demikian kata Adul, seperti Ust. Nurul yang bekas aktifis HMI itu, ternyata pada akhirnya merapat ke kubu Wasidi, padahal sebelumnya mereka tampak beroposisi dengannya.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, terdengarlah kumandang adzan Maghrib. Kami sebera beringsut mempersiapkan diri untuk shalat berjam’ah di sekretariat PMII. Setelah selesai, saya segera pamit untuk pulang....

Hari Ketiga, Rabu, 13 September 2006
Saya berangkat dari Jakarta jam 8.30 pagi. Setelah naik Mikrolet 34 dan Kopaja 57, akhirnya saya sampai di Kp. Rambutan. Seperti kemarin, saya naik Doa Ibu, tapi sekarang yang non-AC, dan, sungguh, saya tidak ingin sekali lagi naik bis jenis ini. Saya sampai di Cianjur jam 12.30 siang, langsung makan di sebuah warung di depan Mayofield Plaza, dulu namanya Harimart, tapi katanya bangkrut dan dijual. Setelah itu, saya segera bergegas ke rumah Kang Abdul Karim di belakang Masjid al-Ghafur. Saking lelahnya, setelah bersih-bersih sebentar, saya langsung tertidur…

Sore harinya, saya berangkat ke sekretariat PMII di daerah Sayang untuk menemui Adul, ketua PMII Cianjur. Sebelumnya saya sudah SMS dia tentang rencana wawancara dengan tokoh-tokoh NU. Dari sekretariat PMII di gang yang sempit dan kumuh itu, saya jalan kaki menyusuri pekampungan penduduk. Dan saya benar-benar melihat Cianjur yang sebenarnya: rumah-rumah padat dan kumuh, serta bau khas kaum miskin kota yang pasti akan mengganggu selera makan orang-orang kelas menengah. Saya melewati Pasar Bojong Indah yang baru saja terbakar, isunya dibakar, tetapi sekarang sudah dibangun lagi. Di Pasar ini, yang dimaksud kios ternyata hanyalah deretan kayu-kaya rapuh yang akan mudah dibuldozer kapan saja. Bau menyengat dari sampah-sampah di pasar tersebut hampir-hampir membuat saya lupa bahwa saya sedang melakukan penelitian akademis yang serius dan akan menemui seorang tokoh penting di kota ini. Saya seakan melewati Cianjur, tetapi memang itulah Cianjur. Saya bertanya-tanya dalam hati, lalu, dimanakah Gerbang Marhamah itu?

Pertanyaan itu sebenarnya telah muncul sedari hari pertama saya datang ke Cianjur. Saya terus terang berharap untuk menemukan gagasan tentang Islam dalam bentuk yang paling simbolis. Saya, misalnya, berharap ketemu perempuan-perempuan muda Cianjur yang cantik dan berjilbab, karena begitulah kira-kira seharusnya perempuan Islam berpakaian sebagaimana ditulis di plang-plang yang dapat ditemukan dengan mudah hampir di semua pelosok jalan di Cianjur. Tapi harapan itu gagal bahkan sedari hari pertama saya datang ke Cianjur. Sebagaimana sore itu, saya seperti sedang jalan-jalan di mall-mall di Jakarta saja. Perempuan-permpuaan, apalagi ABG, berpakaian gaul, seksi, minimalis, casual, dll. Pokoknya, pikiran saya sebagai lelaki bujangan benar-benar terganggu, lebih tepatnya, terangsang. Dan saya benar-benar lupa bahwa sore ini saya sedang berada di sebuah kota santri yang mempunyai perda-perda Islami.

Akhirnya saya sampai di rumah Ustadz Koko. Rumahnya berada di gang sempit yang sore itu sedang sesak oleh ibu-ibu yang baru pulang dari pengajian. Di jendela kaca rumah-rumah sekitar tempat tinggal Ustadz Koko, terlihat stiker-stiker bekas pemilu dan pilkada berlogo PKB atau gambar pasangan bupati Wasidi yang kalah. Daerah itu adalah basis NU dan PKB. Ust. Koko adalah anggota DPRD dari daerah pemilihan itu. Selain menjabat Rois Syuriah di PCNU Cianjur, dia adalah pengurus PKB dan sekarang duduk sebagai anggota DPRD. Usianya 70 tahun, tampak sudah ringkih, dan memang telah sakit-sakitan. Saya yang ditemani Adul harus menunggu beberapa lama sebelum akhirnya Ust. Koko menemui kami di ruang tamu rumahnya yang penuh dengan kitab-kitab kuning. Terlihat juga foto KH Abdullah bin Nuh, seorang kyai terkemuka di masa lalu yang sangat berpengaruh di Cinajur dan Bogor. Namanya bahkan diabadikan menjadi nama salah satu jalan utama di Kota Cianjur. Tampak juga seperangkat mesin tik elektronik.

Sore itu Ust. Koko mengenakan baju piayama berwarna biru langit, bersarung hijau, dan berkopyah putih. Setelah berbasa-basi tentang maksud kedatangan saya, Ust. Koko kelihatan enggan untuk merespon. Setelah dia bilang bahwa dia baru pulang dari RS, saya baru paham kalau dia sedang sakit. Dia baru pulang dari sebuah RS di Bandung. Kakinya harus dioperasi. Kaki yang satu mengalami kerapuhan tulang, sementara yang satunya lagi mengalami semacam pembengkakan akibat bekas tabrakan yang dialaminya sekira 20 tahun lampau. Dia bilang biaya operasinya mungkin sekira 120 juta. Sangat mahal, katanya, dan saya tidak punya uang, demikian dia menukas. Karena kondisi seperti itu dia tidak bersedia untuk diwawancara lebih lanjut. Saya harus istrirahat, demikian ujarnya. Akan tetapi, ada satu pernyatan dia yang menarik. Ketika saya tanya pendapatnya tentang keberadaan Ahmadiyah di Cianjur, di bilang begini, “Ya, mereka harus dibabat habis…”

Begitulah, saya akhirnya pamit, dan langsung menuju rumah KH. Abdul Halim, ketua MUI Cianjur. Saya dan Adul kembali berjalan menyusuri sudut-sudut kota Cianjur. Tampak banyak anak-anak muda sedang nongkrong atau berlalu lalang dengan sepeda motor. Akhirnya saya sampai juga di rumah KH. Abdul Halim, atau kerap dipanggil Ust. Elim atau Ajengan Elim. Saya uluk salam dan muncullah seorang lelaki tua berkaos putih, berkopyah putih, bersarung hijau, berkacamata. Saya kira dialah Ust. Elim itu. Dan kamipun ngobrol tentang segala macam, dari mulai Gerbang Marhamah sampai Ahmadiyah. Saya berhasil merekam semua pembicaraannya. Di tengah pembicaraan, saya baru tahu bahwa lelaki tua di depan saya itu bukan Ust. Elim. Saya tidak sempat tahu siapa namanya, semoga besok saya sudah tahu siapa dia sebenarnya. Yang pasti dia masih saudaranya Ust. Elim, sebab dia menyebut Ust. Elim dengan panggilan “pun lanceuk”. Tetapi terlepas dari siapa dia sebenarnya, yang pasti juga dia adalah salah seorang pengurus NU dan MUI Cianjur. Pandangannya tentang relasi Islam-negara kiranya lebih tepat disebut relasi kyai-bupati. Dia salut atas gagasan Wasidi tentang Gerbang Marhamah, dan dia mendukungnya. Begitu juga dengan ummat Islam di Cianjur, dia berharap mereka mendukung gagasan itu. Menurutnya, gagasan itu jangan dianggap sebagai usaha mendirikan negara Islam, sebab itu tidak mungkin. Indonesia adalah negara Pancasila, demikian ujarnya. Tetapi, dia menambahkan, Islam harus memeberi pengaruh dominan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, termasuk dalam hal anggaran pembangunan. Dia bersyukur bahwa bupati Wasidi menganggarkan alokasi yang cukup besar untuk melaksanakan gagasan Gerbang Marhamah-nya, termasuk, demikian kata lelaki tua itu, memberikan bantuan-bantuan pada pengembangan pesantren dan sarana-sarana keagamaan.

Selanjutnya, ketika saya tanya tentang Ahmadiyah, dia pada awalnya cuma senyum-senyum. Menurutnya, Ahmadiyah itu sudah jelas sesat dan menyesatkan. Dia mengemukakan satu dua dalil berdasarkan tafsir al-Qur’an yang diyakininya. Dia juga menyebut keputusan Rabithah Alam Islami yang telah memutuskan fatwa bahwa Ahmadiyah bukan bagian dari Islam, karena Ahmadiyyah percaya akan adanya nabi setelah Muhammad. Ini adalah prinsipil dalam Islam, katanya, tidak bisa diperdebatkan lagi. Akan tetapi, buru-buru dia melanjutkan, Ahmadiyah di Indonesia sebenarnya punya hak hidup asalkan mereka tidak mengembangkan ajarannya kepada orang Islam lainnya. Tetapi kenyataannya Ahmadiyah melakukan hal itu, kata dia, seperti yang terjadi di Cianjur. Dia menerima laporan dari daerah Cianjur Selatan tentang banyaknya orang-orang di sana yang masuk Ahmadiyah setelah dibujuk-bujuk, bahkan oleh diiming-imingi materi. Ini meresahkan masyarakat, katanya, dan oleh karena itu harus diambil tindakan tegas oleh pemerintah, sebab itu urusannya pemerintah. Ketika saya tanya pendapatnya tentang kasus kekerasan kemarin, dia bilang memang tidak setuju dengan kekerasan, tapi memang itu adalah kesalahan Ahmadiyah sendiri. Itu adalah reaksi, dia bilang, dari sikap Ahmadiyah selama ini yang ekspansionis dan ekslusif.

Pembicaraan pun mengalir, termasuk menyangkut kehidupan pribadi pria berkaos dan berkopyah putih tersebut. Belakangan saya tahu bahwa pria tersebut bernama KH Muhyiddin, adik dari KH Abdul Halim. Menjelang Maghrib, saya akhirnya pamit untuk pulang....


Hari keempat, Kamis, 14 September 2006
Pagi itu Cianjur berwajah cerah, seakan-akan memanggil siapa saja untuk sekedar jalan-jalan di sana. Tetapi jalan raya di depan saya menginap sudah ramai dan berisik sedari jam 4 pagi, sebelum adzan Shubuh berkumandang. Saya bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan diri untuk beribadah kepada ilahi. Dan memang saya sedari kemarin pingin ikut Shalat Shubuh berjama’ah dengan orang-orang Ahmadiyah. Setelah mandi dan ini itu, saya berangkat ke masjid yang tepatnya berada persis di samping rumah. Segera saja saya ikut berjama’ah, menjadi masbuk. Setelah selesai, saya ikut semacam pengajian singkat. Yang menyampaikan ceramah adalah Kang Abdul Karim, sang muballigh. Materi ceramahnya seputar nabi Isa dan Siti Maryam, sebuah wacana yang cupuk sentral dalam Ahmadiyah. Jamaah yang hadir sekira 5-6 orang, termasuk saya. Mereka tampak mendengarkan secara khidmat, sambil manggut-manggut. Saya mengikuti pengajian itu sampai selesai. Setelah itu kembali pulang ke rumah.

Pagi-pagi sekira jam 7-an saya ngobrol dengan Kang Idrus, seorang muballigh Ahmadiyah kelahiran Karawang yang sekarang ditugaskan ke Kalimantan Timur. Dia sedang dalam perjalanan ke Garut untuk mengikuti semacam pelatihan di bidang hukum dan perundang-undangan bagi para muballigh Ahmadiyah. Dia berbicara sambil mengistrika baju kokonya, juga diselingi guyon-guyon khas Sunda. Awalnya saya bertanya soal ajaran Ahmadiyah. Setelah itu berbincang tentang perkembangan Ahmadiyah di Indonesia. Juga tentang peristiwa kekerasan teradap Ahmadiyah yang terjadi belakangan ini. Sewaktu ngobrol, datang Kang Aang, Edi, juga sesekali Abdul Karim. Kami ngobrol kesana-kemari. Tetapi ada satu hal yang menarik. Ternyata hampir semua muballigh Ahmadiyah di Luar Jawa adalah orang Sunda, dan anggota Jemaat-nya pun kebanyakan orang Sunda. Ini, demikian kata mereka, bahkan dimulai sejak di Parung yang menjadi tempat pendidikan bagi kader-kader muballigh Ahmadiyah. Mahasiswa di Kampus Mubarrok Parung Bogor kebanyakan, bahkan hampir semua, adalah orang-orang Sunda. Ketika saya coba berguyon, bahwa jangan-jangan Ahmadiyah itu identik dengan Sunda, seperti NU identik dengan Jawa, mereka hanya tertawa-tawa. Para muballigh yang orang Sunda itu ternyata mengambil istri dari Sunda juga.

Ngomong-ngomong tentang pernikahan, orang Ahmadiyah ternyata sangat ekslusif dalam hal ini. Menurut Kang Edi, muballigh Ahmadiyah Cianjur Tengah, orang Ahmadiyah tidak boleh nikah dengan orang luar Ahmadiyah. Orang yang melanggar ini akan kena sanksi organisasi. Ini adalah kewajiban, demikian kata Kang Edi. Oleh karena itu, pengurus Jemaat kadang seperti biro jodoh, bahkan memang selalu begitu. Seperti yang dialami Kang Edi, baru-baru ini dia diminta oleh temannya di Lampung untuk mencarikan istri orang Ahmadiyah Cianjur. Dan pengurus, kalau sudah mendapatkan informasi cukup tentang masing-masing pihak, merasa berkewajiban memandu kisah kasih ini sampai jenjang pernikahan. Akan tetapi, karena inilah Ahmadiyah sering dipandang ekslusif, bahkan mungkin faktor ini berperan juga dalam memicu konflik tahun kemarin yang berujung pada kekerasan. Menurut Kang Edi, prinsip perjodohan dan pernikahan seperti yang berlaku di Ahmadiyah adalah untuk menjaga tujuan-tujuan terbentuknya rumah tangga sebagaimana yang dipahami oleh Ahmadiyah. Ini, kata Edi, terjadi juga pada komunitas-komunitas lain, tetapi mungkin dengan cara-cara dan bentuk-bentuk yang berbeda.

Selain itu, keberhasilan Ahmadiyah membangun fasilitas-fasilitas keagamaan seringkali dipahami secara salah kaprah oleh orang luar Ahmadiyah, demikian kata Kang Edi. Mereka tidak paham bahwa kami punya sistem candah, semacam iuran tetapi lebih tepatnya pengorbanan ekonomi anggota, yang mampu memobilisasi dan sekaligus mendistribusi aset untuk kepentingan organisasi. Masjid Ciparay yang tahun kemarin dibakar habis sekarang telah dibangun kembali dengan kualitas yang lebih baik. Juga rumah muballigh. Masyarakat kadang menganggap bahwa kami dapat dana dari pusat, bahkan dari luar negeri, dari Inggris, demikian kata Kang Edi, padahal semua itu dibangun oleh kami sendiri, dengan dana kami sendiri. Anggota Ahmadiyah berkewajiban menyerahkan 1/16 dari seluruh pendapatannya per tahun. Sistem ini telah dijalankan secara profesional. Hampir semua kegiatan Ahmadiyah didanai oleh organisasi lewat yang memang memiliki sumberdaya memadai lewat sistem ini.

Menjelang jam 10-an pagi, saya pamit untuk pergi ke Kantor Depag Cianjur. Di sana, saya pingin cari data statistik keagamaan Kabupaten Cianjur. Akan tetapi, bahkan sebelum ke sana saya sebenarnya sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi di kantor birokrasi agama itu. Setelah tanya sana-sini, saya masuk ke ruang bagian umum Depag. Ada dua orang pegawai, ibu-ibu, sedang duduk-duduk sambil nonton TV. Mereka tampak menyelidiki kedatangan saya. Setelah mendengar maksud kedatangan saya, mereka mencoba menampilan diri menjadi pegawai yang terampil menunjukan prosedur ini itu agar saya dapat mengakses data yang diperlukan. Meskipun agak kesal, saya mencoba mengikuti prosedur itu. Akan tetapi, setelah saya melengkapi segala macam prosedur itu, seperti menujukan surat tugas penelitian, mereka bilang bahwa data yang saya perlukan tidak dapat diperoleh hari itu, karena orang yang menyimp