write a review

You can help us improving the quality of our publications by writing a review of them. You may also write a review of any book that might be of interest to you. Please go to "Writing A Review" page to write and send us your review or just to make some comments. If you have already written one, please let us know.



read the reviews

Kelamnya Imperialisme China di Mata Seorang Imigran (by Zaenal Abidin Eko Putro, the Interseksi Foundation)
Excerpts:

......ketika pulang ke Hong Kong, tempat domisili keluarganya setelah komunis menguasai China, sikap ayah dan ibu tirinya tak jua berubah. Ia dipaksa menerima bekerja di sebuah klinik yang dimiliki relasi ayahnya, padahal ketika masih di Inggris ia sudah ditawari seorang profesor untuk menjadi asistennya. Benar juga memang, ia tinggalkan dunia sastra kegemarannya dan memilih mengikuti keinginan ayahnya, agar dirinya menjadi dokter. Keputusannya pulang ke Hong Kong ini sebenarnya untuk menunjukkan bahwa ia menyayangi ayahnya. Namun, lama-kelamaan kesabarannya mengering, dan ketika mendapatkan tawaran berimigrasi ke Amerika, dengan terlebih dahulu memberitahukan orang tuanya, ia pun kemudian pindah ke Amerika dan membina keluarga di sana.



Kegamangan Multikulturalisme di Indonesia (by Achmad Fedyani Saifuddin in Kompas, January 21st, 2006).
Here are some excerpts:

Buku yang disunting Hikmat Budiman ini perlu diapresiasi tinggi karena lima hal. Pertama, khususnya pada Bab Editorial, Hikmat Budiman mengungkapkan secara jernih kondisi dilematis multikulturalisme di Indonesia. Saya sepakat dengan penulis bahwa tidak satu pun dari tiga model dan kebijakan multikulturalisme di atas yang pas untuk kondisi Indonesia. Muncul kegamangan saat berhadapan dengan pertanyaan ”model apa yang sesuai untuk Indonesia?” Kegamangan yang sama ketika Kamanto Sunarto, Russell Hiang-Khng Heng, dan saya menyunting buku ”Multicultural Education in Indonesia and Southeast Asia: Stepping into the Unfamiliar”, (2004), Jurnal Antropologi UI, sebagai hasil suatu lokakarya tentang pendidikan multikultural di Asia Tenggara yang dihadiri pakar-pakar dari Asia Tenggara dan Australia pada tahun itu. Dengan kata lain, perlu pemikiran lebih lanjut secara mendalam suatu model multikulturalisme seperti apa yang seyogianya dikembangkan di Tanah Air.



....meski dengan rendah hati editor mengemukakan bahwa sebagian dari penulis adalah masih peneliti yunior, saya justru menemukan tulisan- tulisan hasil penelitian ini seharusnya ditampilkan para penulis-peneliti senior. Isu, tema, dan analisis setiap tulisan menggambarkan penguasaan materi dan pendekatan yang baik sehingga secara keseluruhan buku ini penting dan bermutu untuk memberikan pemahaman kepada kita mengenai minoritas dan multikulturalisme itu baik dari segi konsep maupun model kebijakan politik kebudayaan.


Multikulturalisme, Dirayakan atau Dipertanyakan? (by Bosman Batubara, the Yogyakarta-based Lafadl Institute)
Excerpts:

Menghadapi konstruksi kalangan agamawan seperti ini, komunitas Wetutelu tidaklah tinggal diam. Dengan caranya ia melakukan perlawanan. Hal ini dapat dilihat bagaimana komunitas ini memainkan politik tingkat tinggi, yaitu politik bahasa, untuk melawan konstruksi dan intervensi orang luar terhadap dirinya. Oleh orang luar komunitas Wetutelu sering disebut dengan Wektutelu, dengan harapan bahwa penamaan ini akan semakin mensyahkan komunitas ini sebagai komunitas yang belum sempurna. Karena wektu (waktu) dan telu (tiga) bagi orang yang mendengarnya dengan cepat akan membentuk pemahaman tentang praktik sembahyang tiga waktu tadi. Menghadapinya komunitas ini tidak mau disebut sebagai Wektutelu, tetapi mereka ngotot dan mempertahankan bahwa namanya bukan Wektutelu, tetapi Wetutelu. Dalam studinya, Heru Prasetia menemukan bahwa ternyata Wetutelu di kalangan masyarakat Wet Semokan memiliki arti yang tidak tunggal. Banyak tafsir terhadap Wetutelu yang beredar di kalangan masyarakat Wet Semokan, salah satunya bahwa Wetutelu tidak mengacu kepada tiga waktu, tetapi lebih mengacu kepada tiga proses mewujudnya isi dunia. Tafsir ini diturunkan dari asal kata Wetutelu, yaitu metutelu (metu: keluar, telu: tiga), secara lebih spesifik diartikan sebagai proses menganak (lahir), menteluk (bertelur) dan mentiuk (tumbuh).


....dibutuhkan empati dalam melakukan penelitian seperti ini. Jangan sampai terjebak dalam advonturir intelektual dan kehendak menaklukkan. Sebab sudah banyak pengalaman traumatik masyarakat yang didatangi ’orang asing’. Petikan dari narasi liris A Small Place, karya Jamaica Kincaid yang berisi tentang perasaan penduduk Antigua yang sangat membenci orang asing berikut ini mungkin dapat menjadi pembanding betapa kebencian semacam itu telah mengendap membatu: ”Even if I really came from people who were living like monkeys in trees, it was better to be that than what happened to me, what I became after met you, (Kincaid, 1988; 37).” Bagi ‘orang asing’ yang datang ke Antigua, mereka mencari perihal ekonomi sekaligus eksotisme dunia ‘sebelum pra’, tetapi bagi orang Antigua: itu adalah hidup! Jika terjadi begitu, maka, seperti yang ditulis Hikmat Budiman: “ia hanya replika dari Orientalisme á la Barat yang dicoba ditentangnya.”