review

Kelamnya Imperialisme China Di Mata Seorang Imigran


SPESIFIKASI BUKU
Judul buku: Falling Leaves, Kisah Nyata Seorang Gadis Cina Yang Dicampakkan Oleh Keluarganya
Penulis: Adeline Yen Mah
Penerbit: Pustaka Populer Obor, Jakarta
Tahun: 2004
Tebal: xiv + 378
Harga: Rp. 45.000,
-

M

embaca sebuah cerita yang berlatar kisah nyata (true story), pikiran kita seakan diajak menyelisik serentetan peristiwa di tempat dan di saat peristiwa itu berlangsung. Derap dinamis intensi antaraktor yang berperan dalam kisah nyata bagi kalangan yang menyukai kisah nyata, tentu lebih hidup ketimbang cerita rekaan belaka.

Novel
Falling Leaves mencoba memadukan berbagai unsur intensi itu yang ditulis oleh pelakunya sendiri, seorang dokter imigran China ke Amerika. Sentuhan cerita dan pergulatan batin dalam novel ini amat genuine dan orisinal, apalagi juga dibumbui pekatnya persaksian sejarah dan dinamika kehidupan sosial politik Bangsa China era imperalisme.

***

buku falling leaves
Dalam novel ini Adeline Yen Mah memulai penuturan kepahitan hidupnya yang terdiskriminasi dalam keluarganya. Sebagai anak perempuan, sejak kecil ia telah merasakan adanya perlakuan diskriminatif dari keluarganya. Salah satu penyebabnya, ketika melahirkan dirinya, mu chin (ibu)-nya meninggal. Ayah (fu chin) dan kakak-kakaknya menuduh dialah penyebab kematian itu. Ditambah ketika ayahnya kemudian menikah lagi, ayahnya sangat dipengaruhi ibu tirinya yang tidak menganggapnya penuh sebagai anggota keluarga. Ia sering merasa terkurung. Satu-satunya pelampiasan adalah dengan membaca buku cerita dan komik yang disewanya dari uang pemberian ku ku (bibi) Baba yang paling mengerti penderitaan akibat tersisih dari keluarganya.

Di antara sikap dari ibu tirinya yang tak habis dipikirnya, mengapa pipinya ditampar hingga darah mengucur dari lubang hidungnya. Gara-garanya sepele, ia dikunjungi teman-temannya di suatu siang untuk diajak makan kue bersama yang dibawa teman-temannya sebagai ucapan selamat karena terpilih sebagai ketua kelas. Alasan niang (sebutan ibu selain mu chin) tirinya, ia telah berani mempertontonkan aib keluarga kepada teman-temannya (91).

Marjinalisasi diri dalam keluarganya itu terus berlangsung sampai ia memasuki jenjang SMA. Ketika ia duduk di SMA yang kebetulan dikelola biara, untuk menepis baying-bayang kekerasan dari keluarganya, hari-harinya ia habiskan dengan membaca di perpustakaan. Lebih gila lagi, pada masa itu, sekolah di biara diartikan tergolong anak dari keluarga kurang mampu. Ini tentu berseberangan dengan status ayahnya yang seorang pengusaha terpandang di Tian Jin.

Fajar pun tiba manakala ia mengikuti lomba mengarang naskah sandiwara berbahasa Inggris, yang setelah tujuh bulan kemudian baru diumumkan dialah pemenangnya. Ayahnya, dengan tanpa rasa bangga berlebihan, memberinya semangat dan mendukungnya untuk melanjutkan studi di bidang kedokteran, menyusul dua kakaknya yang lebih dulu berangkat ke Inggris. Tentu saja ia menanggapi dingin, sebab ia lebih menyukai dunia sastra.

Singkat cerita, ketika pulang ke Hong Kong, tempat domisili keluarganya setelah komunis menguasai China, sikap ayah dan ibu tirinya tak jua berubah. Ia dipaksa menerima bekerja di sebuah klinik yang dimiliki relasi ayahnya, padahal ketika masih di Inggris ia sudah ditawari seorang profesor untuk menjadi asistennya. Benar juga memang, ia tinggalkan dunia sastra kegemarannya dan memilih mengikuti keinginan ayahnya, agar dirinya menjadi dokter. Keputusannya pulang ke Hong Kong ini sebenarnya untuk menunjukkan bahwa ia menyayangi ayahnya. Namun, lama-kelamaan kesabarannya mengering, dan ketika mendapatkan tawaran berimigrasi ke Amerika, dengan terlebih dahulu memberitahukan orang tuanya, ia pun kemudian pindah ke Amerika dan membina keluarga di sana.

***


Demikianlah sekelumit kisah getir kehidupan pengarang dalam novel ini. Tentu cerita “telenovela” seperti ini sudah banyak jenisnya. Namun yang membuat istimewa novel ini adalah setting ceritanya. Secara bagus, Adeline Yen Mah melukiskan situasi perpolitikan China sejak akhir abad ke-19 di bawah kekuasaan Dinasti Qing sampai era Deng Xiaoping di akhir abad ke-20.

Setelah kalah dalam Perang Candu I yang berakhir 1842, Shanghai menjadi konsesi asing (Inggris dan Prancis). Hukum dan adat-kebiasaan mengikuti model asing. Orang China dan peradabannya menjadi kelas dua. Kalahnya China dalam Perang Candu II tahun 1858 semakin memperpuruk keadaan dan makin membuka banyak wilayah China bagi konsesi Inggris dan Prancis, termasuk Tian Jin yang merupakan pelabuhan kedua terbesar setelah Shanghai. Tetapi pendudukan asing selain membawa sengsara, ternyata membawa peningkatan ekonomi bagi segelintir orang Cina yang tinggal di sekitar konsesi, termasuk kakek buyut Adeline.

Tian Jin lalu menjadi tempat perpindahan kakek Adeline setelah Kaisar terakhir Dinasti Qing diusir tahun 1918. Kemudian setelah berakhirnya Perang Dunia I dan setelah Perjanjian Versailles, Jepang diberi keleluasaan untuk menyita milik penjajah Jerman di Shandong sebagai imbalan atas kenetralannya. Tian Jin yang berdekatan dengan Shandong, terkena rembesan pasukan Jepang yang terkenal kejam. Kekejaman tentara Jepang mengeras dan pada tahun 1928, saat mereka membunuh Jendral perang Manchu, Chang Tso-lin selagi menaiki kereta pribadinya. Dampaknya pun meluas dan pecahlah perang Cina-Jepang di Manchuria selama delapan tahun kemudian.

Pada saat yang sama, komunisme mulai membentuk Angkatan Darat dan pemerintahan sendiri di pedalaman Yan’an. Chiang Kai-shek, KSAD, Ketua Partai Kuomintang (Nasional) dan penerus Sun Yat Sen, kewalahan karena harus menghadapi dua musuh yang sama-sama berbahaya. Pada masa inilah, untuk kesekian kalinya gelombang imigrasi rakyat China ke Amerika dan wilayah lain tak tertahankan lagi.

Adeline juga dengan piawainya menuliskan betapa agressifnya tentara Jepang yang terus merangsek sampai ke Beijing di tahun 1937. Semula, daerah-daerah konsesi yang tidak terjamah Jepang, akhirnya jatuh juga ke tangan Jepang dengan jargon Asia Timur Raya-nya; melakukan teror dan memaksa orang untuk membungkuk (23-24).

Namun, setelah kejatuhan Jepang dari Sekutu tahun 1945, sejarah harus membenturkan Partai Kuomintang dan Partai Komunis pimpinan Mao dengan AD-nya. Tuan tanah dan pedagang dijadikan bulan-bulan oleh pihak Komunis. Satu demi satu kota-kota dikuasi tentara Mao, dan terakhir Beijing mereka kuasai Januari 1949 yang memaksa Chiang Kai-shek mengundurkan diri 21 Januari 1949. Pada 1 Oktober 1949, Ketua Mao mengumumkan berdirinya Republik Rakyat Cina.

Walhasil, sebagai sebuah novel yang memotret dua sisi; sejarah individu dan sejarah sebuah bangsa sekaligus, banyak peristiwa sejarah diungkap. Namun berbagai peristiwa sejarah itu tidak tersorot secara mendetail, khususnya sejarah pembebasan Bangsa China sendiri lepas dari imperialisme asing (Eropa). Karena itulah, lewat novelnya ini, Adeline mengajak pembaca menelusuri catatan-catatan yang masih kelam di balik serangkaian sejarah itu. Memang masih banyak catatan sejarah yang harus digali berdasarkan novel ini.

Walau demikian, dalam novel ini sekilas tampak kesan bagaimanapun proses pergulatan individu di bawah perangkap yang namanya “kuasa” tetap layak diapresiasi.@

ŠTHE INTERSEKSI FOUNDATION 2007. ALL RIGHTS RESERVED. DEVELOPED BY "n + k" graphics