“Saminisme” Petani, dan Hasrat Untuk
Perubahan
(Catatan
dari Desa Bombong, Sukolilo Pati Jawa Tengah).
Esai dan
foto oleh M. Nurkhoiron
P
agi
itu saya menyaksikan suatu aksi demonstrasi petani. Tepatnya
tanggal 19 Januari 2006 di alun-alun kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Ribuan petani dari berbagai kecamatan memenuhi lapangan alun-alun
tengah kota. Tua, muda, perempuan ibu-ibu terlibat aksi massal
dengan muka yang sangat antusias. Tidak ada provokasi “pihak
ketiga” disana. Aksi ini digelar sebagai usaha sadar diri petani
Pati menyikapi berbagai kondisi yang ada.
Di tengah
alun-alun itu juga dipasang panggung besar untuk memberi tempat
bagi peserta yang ingin melakukan orasi. Suasananya begitu ramai,
gaungnya terdengar dimana-mana. Sound system yang disediakan
panitia ternyata tidak sekadar ditujukan untuk ajang orasi, tapi
juga hiburan. Jauh sebelum aacara dimuali panitia dari SPP (Serikat
Petani Pati) telah mengontak Cak Nun (Emha Ainun Najib) untuk
disertakan tampil menghibur gratis petani peserta aksi. Rupanya Cak
Nun menyambut gembira.
Diantara petani
peserta aksi itu tentu saja petani Sukolilo terlihat paling besar
jumlahnya, dan nampak paling bersemangat. Secara bergelombang
mereka memadati alun-alun Pati, merembet dari arah selatan, tidak
kurang dari empat puluh truk penuh manusia. Mereka berduyun-duyun
ke alun-alun kota sambil meneriakkan yel-yel “hidup petani!”.
Ngardi, lurah desa Baturejo kecamatan Sukolilo sehari sebelum acara
dimulai bahkan sudah berkeliling ke seluruh desanya. Sambil membawa
mobil pribadinya, ia berkeliling melakukan woro-woro
agar
seluruh warganya terlibat aktif dengan aksi ini.
“Sedulur-sedulur
ayo podho bebareng mangkat sesuk ning alun-alun. Nyuarakno petani
sing sakini pdoho urop sengsoro. Pupuk longko, beras murah, petani
tambah susah" (Saudara-saudara,
mari kita pergi ke alu-alun besok. Menyuarakan nasib petani yang
sekarang lagi sengsara. Pupuk langka di pasaran, beras murah,
petani bertambah sengsara) . Fenomena ini mungkin terkesan tidak
lazim. Di dalam kondisi desa yang semula dianggap “adem ayem”,
tiba-tiba menggelegar suara penderitaan, dan ajakan untuk melakukan
aksi bersama. Saya tertegun, bukankah yang selama ini selalu
menjadi kelompok pasif adalah petani? Sudah habiskah masa kesabaran
petani di Pati? Pertanyaan-pertanyaan ini menggugah saya untuk
terus mencari pengetahuan sejauh mungkin mengenai dinamika petani
yang kini bergolak.
Perkenalan saya
dengan kecamatan Sukolilo sendiri sudah berlangsung agak lama.
Sekitar tahun 2002, saya mengunjungi kota ini berkenaan dengan
keingintahuan bersua ke sedulur sikep (“Masyarakat Samin”).
Tepatnya berkunjung ke rumah Gunretno, salah seorang pemuda sikep
yang saya kenal waktu menghadiri acara workshop Desantara di
Guyangan Pati. Nyaris selama hampir dua bulan sekali kunjungan saya
ke Sukolilo terjadi agak intensif akhir-akhir ini. Percakapan dan
perbincangan dengan beberapa orang disana menuai banyak pelajaran.
Salah satunya adalah kisah perubahan-perubahan sosial dan politik
yang banyak saya dengar dari mereka.
Sukolilo sendiri
adalah salah satu kecamatan di Pati. Letaknya berada di arah
selatan. Ia berbatasan dengan Purwodadi. Dibandingkan dengan
kecamatan lain, Sukolilo dikenal lebih “abangan” – setidaknya jika
kategori Geertz masih bisa dipakai untuk kepentingan ini. Di Pati
tidak sulit menemukan kategori wong kidul (orang selatan), dengan
wong lor (orang utara) untuk menunjuk perbedaan “sosiokultural”.
Wong kidul biasanya diidentifikasi sebagai “kelompok abangan”.
Sementara wong lor adalah kelompok Islam-santri. Dalam suasana
hidup di desa Jawa seperti di Pati hubungan seperti ini bukan
menjadi suatu ancaman serius. Ketegangan, saling “mencibir”,
meledek adalah hal biasa. Desa-desa di Jawa dalam beberapa hal
memiliki mekanisme untuk menjaga “keharmonisan” itu. Pergulatan
diantara mereka hidup subur, menjadi bagian dari sejarah rakyat
yang masih mereka minati sampai saat ini.
Misalnya di Pati
kisah-kisah masa lalu yang kembali dihidupkan dalam kesenian rakyat
masih populer sampai saat ini. Syeh Jangkung, legenda rakyat Pati
yang hidup dalam masa kerajaan Islam Demak adalah sedikit dari
beberapa cerita mengenai kontenstasi dan ketegangan mengenai suatu
keyakinan dan keagamaan di wilayah Pati. Syeh Jangkung yang
makanmya “dikeramatkan” di sekitar Pati ini konon adalah “anak
haram” Sunan Bonang (salah satu tokoh wali sembilan) yang di
kemudian hari berseteru dan menjadi tokoh antagonis di mata Sunan
Bonang sendiri. Dalam salah satu kisahnya digambarkan mengenai
suatu dialog yang panas dan berujung ke dalam perkelahian antara
kuasa lokal yang ditokohkan Syeh Jangkung dengan “kuasa kerajaan
Islam” yang direpresentasikan oleh Sunan Bonang. Mereka
masing-masing menyatakan pendiriannya yang berbeda. Hidup dalam
“perbedaan”(difference), yang dipraktikkan Syeh Jangkung ternyata
merupakan ancaman sendiri bagi kuasa yang dibentangkan Islam Demak
pada masa itu. Jadilah Syeh Jangkung tokoh subversib yang dianggap
membahayakan stabilitas kerajaan. Ternyata cerita semacam Syek
Jangkung ini tidak sendirian. Cerita-cerita lain dalam beberapa
lakon ketoprak di Pati juga banyak menyiratkan suatu gambaran
mengenai dialog dan kontestasi antara dua keyakinan, keagamaan yang
saling berebut pengaruh.
Orang di
Sukolilo yang berdekatan dengan Makam Syeh Jangkung adalah
representasi dari seluruh imajinasi mengenai Syeh Jangkung; lokal,
Jawa-abangan. Sementara di komunitas santri yang berada di Pati
bagian Utara (Margoyoso) mengidentifikasi ketokohan mereka kepada
Wali Songo. Tentu saja penggolongan ini agak semena-mena.
Dibandingkan dengan kenyataan yang dihadapi di lapangan, identitas
Jawa-abanagn-santri nampak jauh lebih kompleks, cair dan tidak
mudah untuk diseragamkan. Dalam suatu keluarga, percampuran
abangan-Santri ini bahkan sudah biasa dijumpai dalam kehidupan di
kota-kota kecil di Jawa. Pak Sutrisno (bukan nama sebenarnya),
adalah salah satu keluarga yang nampak tidak pernah menganggap
batas-batas liminal sebagai soal yang begitu merisaukan.
Sutrisno adalah
penduduk asli desa Bakaran, desa di kecamatan Juwana Pati, yang
konon merupakan desa paling genial di dalam melakukan gerakan
kolektif-simbolik melakukan “perlawanan” terhadap kultur santri
(Majalah Desantara, edisi 13; 2005). Anak pertama Sutrisno, sekolah
di Universitas Muhammadiyah Malang. Baginya tidak ada persoalan
serius menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah santri. Tapi, dia
tetap saja anak bakaran. Pulang kuliah, ngombe”, katanya polos.
Ngombe dalam tradisi desa seperti di Bakaran tentu saja adalah
bahasa simbolik untuk merepresentasikan laku komunal, bersenda
gurau, main kartu diselingi kehangatan minum beralkohol.
Di seputar
perbincangan seperti ini jauh lebih baik kita menengok sejenak
beberapa refleksi kritis yang banyak dibicarakan dalam rubrik
cultural studies. Misalnya liminalitas merupakan praktik biasa yang
dijalankan berbagai kelompok budaya di masyarakat, khususnya di
Jawa. Liminal secara konseptual dapat dimaknai sebagai garis ambang
batas antara dua wilayah kultural yang berbeda. Garis ambang batas
ini sejujurnya adalah garis abu-abu, yang menunjuk kepada suatu
kehidupan, atau praktik sosial tertentu yang tidak mudah
diidentifikasi sebagai bagian dari satu identitas budaya tertentu.
Dalam batas seorang Sutrisno yang abangan, posisi anaknya yang
menerima segala kehidupan akademik di kampus Universitas
Muhammadiyah jelas merupakan sikap untuk “meloncat” ke dalam ambang
batas liminal itu. Di dalam masyarakat Jawa kondisi seperti ini
nampaknya bukan sesuatu yang istimewa (Beaty, 1998).
Namun dalam
beberapa peristiwa tertentu, fluiditas yang banyak ditampilkan oleh
identititas dalam kultur Jawa bisa bergerak menyempit, dan lalu
berubah menjadi suatu batas politis yang radikal. Tahun 1965 adalah
fase dari kulminasi konflik yang melibatkan “konflik horisontal”
itu. Curug, Wotan, Baleadi dan desa-desa sebelahnya pernah
merasakan pahitnya konflik politik tersebut. Peristiwa 1965 telah
menjadi momentum penting bagi kehidupan desa-desa tersebut. Pada
masa-masa lalu, sebelum masa Orde Baru di pati bagian utara, konon
partai NU bertengger sebagai partai terbesar, sementara di Pati
bagian selatan adalah Partai Komunis Indonesia. Karena konflik
politik ini, hubungan dan relasi antar budaya di Pati menjadi
sesuatu yang mengancam.
Paska 1965
terjadi peralihan keagamaan secara besar-besaran. Mereka yang
semula dituduh sebagai partisan PKI terpaksa memilih Islam sebagai
agama mereka. Islamisasi atau dakwah oleh para kiai dan
ustadz-ustadz desa berlangsung ramai. Kebanyakan penebar islamisasi
ini dari wilayah Pati utara, atau setidaktidaknya alumni dari
salah-satu pondok pesatren dari Pati utara. Dalam melakukan
dakwahnya, mereka ini merasa mendapatkan amanah menyampaikan “misi
suci” untuk menebar pesan-pesan Tuhan. Orang-orang PKI kini perlu
disadarkan, giring menuju jalan “keagamaan”. Sebaliknya,
kelompok-kelompok yang “di PKI-kan” lebih memilih jalan damai.
Mereka ramai-ramai masuk Islam sebagian karena kesadarannya, tapi
tidak sedikit yang merasa tertekan kalau masih harus bertahan
dengan sikapnya di masa lalu.
Paska 1965
itulah titik balik dalam kehidupan di Sukolilo. Persaingan
mendapatkan pengikut dalam masa-masa pergolakan politik terhenti.
Kehidupan berjalan dalam siklus stabilisasi yang dipaksakan.
Kondisi seperti ini efektif dapat meredam berbagai gejolak yang
ada. “Stabilisasi semu” ini nampaknya berlangsung begitu lama. Di
dalam siklus kehidupan seperti inilah berbagai perubahan sosial
terjadi di Sukolilo.
Di Sukolilo,
pertanian masih bertahan sebagai basis perekonomian terpenting.
Kelompok-kelompok usia produktif di Sukolilo memang sudah banyak
pula yang mengadu nasib ke kota-kota besar dan negeri lain sebagai
TKI, namun kondisi ini tetap belum merubah banyak kehidupan di
Sukolilo yang masih mengandalkan basis perekonomiannya di sektor
pertanian. Toh memilih sebagai petani tidak selalu menyenangkan.
Nasib petani di Sukolilo dan dimanapun di Indonesia masih nampak
mencemaskan. Mereka tergantung kepada pupuk dan teknologi sederhana
yang sudah mereka gunakan selama puluhan tahun. Revolusi Hijau yang
pernah digerakkan pemerintah hanya menyisakan ketergantungan
perasaan “rendah diri” di kalangan petani. Nyaris tak ada
kebanggaan yang tersisa mengadu nasib sebagai petani. Anak-anak
yang mengenyam pendidikan lebih tinggi lebih banyak yang memilih
pekerjaan lain daripada harus berbalut lumpur di terik mentari
karena mengelola lahan pertanian mereka.
©THE INTERSEKSI FOUNDATION 2007. ALL RIGHTS RESERVED. DEVELOPED BY "n + k"
graphics