
| Specifications | Contributors /Contents |
|---|---|
![]() Hak Minoritas. Dilema Multikulturalisme di Indonesia (2nd Impression) (Jakarta: The Interseksi Foundation, 2007) Editor : Hikmat BudimanISBN: 979-99992-0-0Price: Rp. 75,000,00 |
The book is written based on field researches in five local
communities in Indonesia. It was first published in August 2005,
and has received positive reviews from the readers. This is
unquestionably a must have book for university lecturer, student,
NGO activist as well as decision makers whose concern is with the
issues of human rights and local communities.
|
| Specifications | Contributors /Contents |
|---|---|
![]() Hak Minoritas. Multikulturalisme dan Dilema Negara Bangsa (Jakarta: The Interseksi Foundation, 2005) Editor : Mashudi Noorsalim, M. Nurkhoiron, Ridwan Al-MakassaryISBN: 978-979-99992-1-4Price: Rp. 70,000,00 |
|
| Specifications | Contributors/Contents |
|---|---|
![]() KONFLIK DAN PEMILU Civic Engagement dalam Pemilu 2004. Kasus Empat Daerah Pasca Konflik di Indonesia. (Jakarta: The Interseksi Foundation, 2005). Editor : Philips Jusario VermonteISBN: 979-99308-0-4Price: Rp. 30,000,00 |
|
| Specifications | Contributors/Contents |
|---|---|
![]() Komunalisme & Demokrasi. Negosiasi Rakyat dan Negara (Jakarta: The Japan Foundation, Jakarta and Forum Interseksi, 2003) Editors: Hikmat Budiman and Landry H. Subianto ISBN: 979-97474-0-6 Price: Rp. 30,000,00 |
|
Buku yang disunting Hikmat Budiman ini perlu diapresiasi tinggi karena lima hal. Pertama, khususnya pada Bab Editorial, Hikmat Budiman mengungkapkan secara jernih kondisi dilematis multikulturalisme di Indonesia. Saya sepakat dengan penulis bahwa tidak satu pun dari tiga model dan kebijakan multikulturalisme di atas yang pas untuk kondisi Indonesia. Muncul kegamangan saat berhadapan dengan pertanyaan ”model apa yang sesuai untuk Indonesia?” Kegamangan yang sama ketika Kamanto Sunarto, Russell Hiang-Khng Heng, dan saya menyunting buku ”Multicultural Education in Indonesia and Southeast Asia: Stepping into the Unfamiliar”, (2004), Jurnal Antropologi UI, sebagai hasil suatu lokakarya tentang pendidikan multikultural di Asia Tenggara yang dihadiri pakar-pakar dari Asia Tenggara dan Australia pada tahun itu. Dengan kata lain, perlu pemikiran lebih lanjut secara mendalam suatu model multikulturalisme seperti apa yang seyogianya dikembangkan di Tanah Air.
....meski dengan rendah hati editor mengemukakan bahwa sebagian dari penulis adalah masih peneliti yunior, saya justru menemukan tulisan- tulisan hasil penelitian ini seharusnya ditampilkan para penulis-peneliti senior. Isu, tema, dan analisis setiap tulisan menggambarkan penguasaan materi dan pendekatan yang baik sehingga secara keseluruhan buku ini penting dan bermutu untuk memberikan pemahaman kepada kita mengenai minoritas dan multikulturalisme itu baik dari segi konsep maupun model kebijakan politik kebudayaan.
Menghadapi konstruksi kalangan agamawan seperti ini, komunitas Wetutelu tidaklah tinggal diam. Dengan caranya ia melakukan perlawanan. Hal ini dapat dilihat bagaimana komunitas ini memainkan politik tingkat tinggi, yaitu politik bahasa, untuk melawan konstruksi dan intervensi orang luar terhadap dirinya. Oleh orang luar komunitas Wetutelu sering disebut dengan Wektutelu, dengan harapan bahwa penamaan ini akan semakin mensyahkan komunitas ini sebagai komunitas yang belum sempurna. Karena wektu (waktu) dan telu (tiga) bagi orang yang mendengarnya dengan cepat akan membentuk pemahaman tentang praktik sembahyang tiga waktu tadi. Menghadapinya komunitas ini tidak mau disebut sebagai Wektutelu, tetapi mereka ngotot dan mempertahankan bahwa namanya bukan Wektutelu, tetapi Wetutelu. Dalam studinya, Heru Prasetia menemukan bahwa ternyata Wetutelu di kalangan masyarakat Wet Semokan memiliki arti yang tidak tunggal. Banyak tafsir terhadap Wetutelu yang beredar di kalangan masyarakat Wet Semokan, salah satunya bahwa Wetutelu tidak mengacu kepada tiga waktu, tetapi lebih mengacu kepada tiga proses mewujudnya isi dunia. Tafsir ini diturunkan dari asal kata Wetutelu, yaitu metutelu (metu: keluar, telu: tiga), secara lebih spesifik diartikan sebagai proses menganak (lahir), menteluk (bertelur) dan mentiuk (tumbuh).
....dibutuhkan empati dalam melakukan penelitian seperti ini. Jangan sampai terjebak dalam advonturir intelektual dan kehendak menaklukkan. Sebab sudah banyak pengalaman traumatik masyarakat yang didatangi ’orang asing’. Petikan dari narasi liris A Small Place, karya Jamaica Kincaid yang berisi tentang perasaan penduduk Antigua yang sangat membenci orang asing berikut ini mungkin dapat menjadi pembanding betapa kebencian semacam itu telah mengendap membatu: ”Even if I really came from people who were living like monkeys in trees, it was better to be that than what happened to me, what I became after met you, (Kincaid, 1988; 37).” Bagi ‘orang asing’ yang datang ke Antigua, mereka mencari perihal ekonomi sekaligus eksotisme dunia ‘sebelum pra’, tetapi bagi orang Antigua: itu adalah hidup! Jika terjadi begitu, maka, seperti yang ditulis Hikmat Budiman: “ia hanya replika dari Orientalisme á la Barat yang dicoba ditentangnya.”
"Hak Minoritas di Indonesia" pada situs blog Gubugbudaya, 8 Juni
2007.
Excerpts:
"Kegelisahan yang dimunculkan oleh Hikmat Budiman di atas memang bukan tanpa alasan. Konteks kehidupan masyarakat di Indonesia berkaitan dengan kultur, tradisi, agama, bahasa, dan sebagainya merupakan rangkaian yang memiliki kompleksitasnya masing-masing. Meskipun pasal 1 ICCPR (International Covenant On Civil and Political Rights) menjelaskan adanya jaminan bagi tiap-tiap penduduk dan individu untuk menentukan nasib sendiri dalam usaha mereka mendapatkan status politik, pengembangan ekonomi dan budaya, tetapi pada sisi lain implikasi dari kategorisasi/definisi minoritas seperti yang dikemukakan oleh Dokumen PBB di atas justru bisa dimanfaatkan oleh Negara di masing-masing nasionalitasnya untuk mengeksploitasi kekayaan sumber daya minoritas menjadi komoditas ekonomi dan politik yang tidak menguntungkan bagi kelompok minoritas itu sendiri".
