<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" 
    xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
    xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
    xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
    xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
    xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">
	<channel>
<title>INTERSEKSI.ORG: COMMUNITY BLOG AND NEWS</title><link>http://interseksi.org/index.php</link><description>Hot News&#x21;</description><dc:language>en</dc:language><dc:creator></dc:creator><dc:rights>Copyright 2007 The Interseksi Foundation</dc:rights><dc:date>2010-04-02T21:13:16+07:00</dc:date><admin:generatorAgent rdf:resource="http://www.realmacsoftware.com/" />
<admin:errorReportsTo rdf:resource="mailto:" /><sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
<sy:updateBase>2000-01-01T12:00+00:00</sy:updateBase>
<lastBuildDate>Sat, 20 Sep 2008 04:00:30 +0700</lastBuildDate><item><title>Meretas Batas&#x2c; Merengkuh Perdamaian: Program Pembuatan Video Lintas Kultur&#xa;</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2010-04-02T21:13:16+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/crossing_boundaries.php#unique-entry-id-221</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/crossing_boundaries.php#unique-entry-id-221</guid><content:encoded><![CDATA[Seperti diketahui bersama, sudah sejak tahun 2004 kami berusaha mendalami isu-isu krusial dalam masyarakat Indonesia yang multikultur, dan sejak tahun 2008 kami mulai menggunakan medium film/video untuk menampilkan problematik kelompok-kelompok etnik/agama minoritas yang tersebar di seluruh Indonesia.


Dari hasil beberapa kajian yang pernah kami lakukan tadi, yang semuanya sudah pula kami publikasikan dalam bentuk buku serial Hak Minoritas yang terbit dalam tiga volume itu, salah satu hal penting yang kami temukan adalah kenyataan bahwa sebagian dari kita, mungkin termasuk kami sendiri, cenderung hidup dalam kurungan batas-batas yang meskipun mampu memberi rasa aman dalam hidup tapi seringkali tidak sehat dalam konteks relasi antar kelompok.    Kita seperti hidup di dalam sebuah kepompong, yang melindungi kita dari gangguan pihak lain tapi sekaligus menanamkan purbasangka yang sering membuat kita cenderung kurang hormat terhadap orang atau kelompok orang di luar kepompong kita itu. 

...Kita bisa menukar-tangkap kata "persahabatan" dalam bait lagu tadi dengan ikatan-ikatan atau batas-batas atau, sebut saja, kepompong kultural, sehingga kita bisa memaknai batas-batas tadi tidak hanya dengan ungkapan-ungkapan yang cenderung derogatif maknanya seperti "kuno", "ketinggalan zaman" atau ungkapan-ungkapan lain. 

...Semangat program ini adalah mendorong generasi muda Indonesia untuk saling mengenal lingkungan sosial dan kebudayaan yang berbeda dari tempat hidupnya, menjadi kupu-kupu yang bisa terbang meninggalkan batas-batas kultural dan geografisnya untuk saling belajar dengan sesamanya dari kelompok yang berbeda. 

...Apa yang sering disebut stereotipe (purbasangka) tentang sebuah kelompok, pada dasarnya adalah cara kita menempatkan kelompok di luar kelompok kita pada tempat yang tidak seharusnya di dalam wilayah kesadaran hidup sehari-hari, sehingga gambaran tentang kelompok tersebut niscaya dicirikan oleh hal-hal yang inferior dibandingkan dengan apa yang diyakini sebagai ciri kelompok kita sendiri. 

...Kalau stereotipe adalah cermin dari ketidaklengkapan informasi dan pengetahuan kita tentang kelompok di luar kelompok sendiri, maka salah satu cara terbaik untuk mengurangi akibat buruknya dalam hubungan antar kelompok adalah dengan melengkapi pengetahuan/informasi tentang masing-masing kelompok.   Program Crossing Boundaries: Cross-Culture Video Making for Peace dimaksudkan agar warga-warga masyarakat yang hidup dalam lingkungan kelompok sosial yang berbeda itu bisa saling berbagi satu sama lain, sehingga kehidupan sehari-hari kita tidak lagi hanya didasarkan pada purbasangka melainkan lebih pada pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam tentang sesamanya.
]]></content:encoded></item><item><title>Dari Diskusi Bulan Februari 2010</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2010-02-23T21:14:19+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/dekolonisasi.php#unique-entry-id-220</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/dekolonisasi.php#unique-entry-id-220</guid><content:encoded><![CDATA[Berbagai aspek dalam periode yang secara temporal mengacu pada rentang waktu tahun 1950-an tersebut terus menerus menjadi bahan perdebatan, seperti disampaikan oleh Farabi Fakih dalam diskusi dwi-bulanan Yayasan Interseksi pada hari Kamis, 11 Februari 2010.   Mempresentasikan isu mengenai dekolonisasi rezim administrasi pada tahun 1950-an, mahasiswa S-3 di Departemen Sejarah, Universitas Leiden, Belanda, tersebut memaparkan perdebatan di kalangan sarjana terkemuka, seperti Herbert Feith, Harry J. ...  Bagi Feith, misalnya, periode 1950-an adalah sebuah periode yang krusial dalam sejarah Indonesia; sementara pada satu sisi periode ini ditandai dengan lahirnya lembaga-lembaga politik modern seperti partai-partai politik dan terselenggaranya Pemilu 1955 yang demokratis, pada sisi lain periode ini menyaksikan berbagai pertarungan politik yang melemahkan proses institusionalisasi negara yang baru dibentuk.


...Dalam hal ini, Farabi menunjukkan beberapa perbandingan antara praktik negara kolonial tahun akhir dan negara Indonesia awal, sebuah usaha yang kemudian mengundang kritik dari peserta diskusi yang hadir sore itu sebagai perbandingan yang tidak seimbang.   Menurut Farabi, aspek administrasi dari pemerintah Indonesia pada tahun 1950-an mengalami kemerosotan kualitas dibanding dengan pemerintahan Hindia Belanda, sehingga mengakibatkan beberapa problem, seperti pembayaran gaji pegawai negeri yang tidak teratur dan sering telat. 

...Banyak tenaga ahli Belanda yang masih tersisa di institusi-institusi pemerintahan pada masa itu terabaikan, padahal sejatinya mereka dapat dimanfaatkan untuk membantu para pegawai Indonesia yang belum terampil mengelola sebuah pemerintahan baru. 

...Oleh karena itu, pendapat Farabi Fakih yang mengatakan bahwa negara Hindia Belanda lebih berwatak multikultural&mdash;sebuah konsepsi kontemporer yang juga sering dianggap bermoral &ldquo;baik&rdquo;&mdash;daripada negara Indonesia menyulut perdebatan di kalangan peserta diskusi Yayasan Interseksi pada sore itu. 

...Dari dua periode tersebut kita bisa melihat ada sebuah pola yang berulang: ketika rezim lama runtuh, rezim pelanjutnya tampak kesulitan merumuskan apa yang hendak dilakukan; sementara warisan lama dianggap buruk, yaitu negera Hindia Belanda dan negera Orde Baru Suharto, rezim baru gagal membangun institusi negara yang lebih baik sebagimana dijanjikan oleh mitos-mitos nasionalisme pada tahun 1950-an dan reformasi pada akhir tahun 1990-an. ]]></content:encoded></item><item><title>Mea Maxima Culpa tentang Buku Hak Minoritas 3</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2010-02-18T01:25:33+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/mea_culpa.php#unique-entry-id-219</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/mea_culpa.php#unique-entry-id-219</guid><content:encoded><![CDATA[Ethnos, Demos, dan Batas-batas Multikulturalisme di halaman Download atau langsung di sini. 

...Ethnos, Demos, dan Batas-batas Multikulturalisme baru saja kami terbitkan pada bulan Desember 2009 yang lalu.   Saat ini, buku tersebut mungkin sudah berada di tangan sebagian pembacanya, baik yang menerimanya sebagai compliment dari Yayasan Interseksi maupun yang membelinya di toko buku. 

...Kami telah mendapat banyak masukan tentang buku tersebut, mulai dari pujian sampai kritik yang sangat tajam terhadap substansi.   Kami bisa bersikap mudah menghadapi pujian, tapi kami harus lebih serius menghadapi kritik karena pasti sangat berguna untuk perbaikan kerja kami di masa yang akan datang. 

...Di luar itu, kami juga menerima beberapa masukan tentang beberapa kekurangan buku tersebut, mulai dari kesalahan-kesalahan kecil seperti kesalahan penulisan judul pada halaman spesifikasi buku,  inkonsistensi penulisan sebuah kata atau istilah, kesalahan ketik, pengulangan kalimat, kesalahan menuliskan nama seseorang yang karyanya dirujuk, sampai catatan kaki yang terhapus atau bahkan ada daftar rujukan pustaka yang selama proses editing dan tata letak halaman terhapus dari daftar Bibliografi. ...  Penyebabnya semata-mata faktor teknis selama dalam proses penulisan, penyuntingan, dan proses pra-cetak yang seharusnya tidak perlu terjadi kalau kami bekerja lebih teliti dan disiplin.   Tapi sebagai editor buku tersebut, saya secara personal tentu saja bertanggungjawab sepenuhnya atas semua kesalahan tersebut. ]]></content:encoded></item><item><title>Sahabat Jenaka Itu Sudah Pergi</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2009-12-31T00:10:05+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/sahabat_jenaka.php#unique-entry-id-218</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/sahabat_jenaka.php#unique-entry-id-218</guid><content:encoded><![CDATA[Gus Dur telah meninggalkan kita selamanya, rabu 30 desember 2009. ...  Konon, detik ketika Bhisma menghembuskan nafasnya yang penghabisan, dewa-dewa mematung khidmat, dan para bidadari serempak turun dari swarga loka menaburkan kesturi.   Gus Dur bukan Bhisma yang memilih menampik tahta dan kesenangan, dan bisa memilih sendiri waktu kematiannya.   Gus Dur adalah hidup yang gembira untuk melawan duka  yang ditimpakan oleh hidup yang bengis.   Ia telah menghabiskan seluruh umurnya untuk mengajari kita menyongsong hidup selalu dengan harapan dan keriangan. ...  Ia memberi contoh tentang keberanian menggusur yang jumud, membongkar yang mapan.   Meskipun periang dan mampu membuat banyak orang meledak dalam kegembiraan, ia tidak ngotot minta disukai semua orang. 

...Kami berduka sepenuh-penuhnya tentu saja, tapi kami akan terus menghadapi hidup dengan gembira, dan berani seperti yang telah kau ajarkan. 
]]></content:encoded></item><item><title>Sepuluh Tahun Pasca Konflik Komunal di Poso</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2009-10-09T08:11:56+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/10_tahun_pasca_konflik_poso.php#unique-entry-id-217</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/10_tahun_pasca_konflik_poso.php#unique-entry-id-217</guid><content:encoded><![CDATA[Bulan Agustus tahun 2009 lalu merupakan tahun ke sepuluh setelah pertama kali peristiwa kekerasan meledak di Poso, yang kemudian disusul dengan insiden-insiden kekerasan yang menyebar di beberapa wilayah di sekitarnya. ...  Paling tidak, hal tersebut dapat dilihat dari tidak adanya konflik kekerasan secara terbuka yang melibatkan massa dalam tiga tahun terakhir.


...Tampaknya pemerintah dan masyarakat sipil harus  lebih serius memberikan pendampingan terhadap anak-anak korban konflik.</div><br /></b>


...Namun demikian, situasi nir kekerasan tersebut perlu dilihat secara lebih kritis: Apakah situasi damai telah dicapai di Poso? 

...Misalnya, pemerintah pusat untuk memfasilitasi inisiatif Perjanjian Malino dan pelaksanaannya, di mana seluruh peserta elit lokal, dan inisiatif masyarakat sipil untuk membangun rekonsiliasi di tingkat akar rumput dan membangun kehidupan di antara para korban.


...Setelah peperangan antara dua komunitas yang terjadi hampir enam tahun lebih, tidak ada kelompok pemenang dalam konflik tersebut. 

...Beberapa kelompok-kelompok yang masih melakukan teror dan kekerasan karena menuntut penegakan keadilan bagi para pelaku kekerasaan dari pihak lawannya.   Namun, setelah sekelompok orang di belakang teror dan kekerasan, terutama pada kasus mutilasi tiga siswi sekolah menengah ditangkap oleh polisi di satu sisi, dan pada pihak lawannya, hukuman mati terhadap Tibo dan kawan-kawannya dilakukan pada tahun 2007, kondisi keamanan telah meningkatkan secara bertahap. ]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Workshop Pelatihan Penelitian HAM 2009</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><category>TRAINING</category><dc:date>2009-09-23T20:27:21+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/laporan_workshop_pelatihan_2009.php#unique-entry-id-216</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/laporan_workshop_pelatihan_2009.php#unique-entry-id-216</guid><content:encoded><![CDATA[Program ini bukan terutama menekankan pada metode pelatihan klasikal di dalam ruang-ruang kelas, melainkan lebih merupakan apa yang dalam ungkapan lama disebut learning by doing, belajar penelitian dengan cara melakukan penelitian. 

...Workshop diadakan di Wisma Aryanti, kawasan Cisarua, Puncak, kabupaten Bogor, diikuti oleh 9 (sembilan) peneliti muda dari Jabodetabek, Yogyakarta dan Sulwesi Tenggara, 2 (dua) narasumber dari Yogyakarta, yaitu Dr Pujo Semedi dari Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada dan Batara Ibnu Reza, S.H.

...Di samping itu, gagasan pelatihan ini juga dipicu oleh kenyataan bahwa di lingkungan organisasi masyarakat sipil, misalnya, banyak sekali orang yang berminat melakukan riset, tapi kualitasnya hasilnya masih banyak yang belum memenuhi standar penelitian yang baik. 

...Untuk kepentingan berbagi pengalaman dan pengetahuan itulah, dalam Workshop ini Interseksi juga menghadirkan beberapa peneliti yang pernah terlibat dalam beberapa penelitian bersama, baik dalam penelitian tentang isu-isu Hak Minoritas dan Multikulturalisme maupun peserta pelatihan penelitian angkatan sebelumnya (tahun 2008).


...Pujo Semedi, dan diskusi tentang materi Hak Asasi Manusia oleh Bhatara Ibn Reza dari Imparsial; Kedua, pembahasan draft rancangan penelitian yang disusun oleh masing-masing peserta terpilih.

...Batara Ibnu Reza dari Imparsial, Jakarta,  mengulas aspek-aspek yang mendukung  eksplorasi mengenai HAM dan sekaligus memberikan masukan pada masing-masing peserta yang sebagian telah mempresentasikan makalahnya setelah sesi pembicara pertama.   Masukan Batara sangat penting, dan peserta mengikuti diskusi dengan antusias sebab tidak terbayangkan oleh mereka bahwa cakupan isu mengenai HAM saling terkait satu dengan lainnya,  dengan peran negara menjadi sentral ketika ada persoalan ketimpangan pengaturan dan distribusi hak-hak ini. 


...Setelah Sessi presentasi pertama, seluruh peserta pelatihan diberi waktu untuk memperbaiki draft rancangan penelitiannya berdasarkan masukan dan kritik yang telah mereka terima, dan kemudian diwajibkan melakukan presentasi kembali pada keesokan harinya.
]]></content:encoded></item><item><title>Peserta Terpilih Pelatihan Penelitian 2009</title><dc:creator></dc:creator><category>TRAINING</category><dc:date>2009-09-03T00:52:24+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/peserta_2009.php#unique-entry-id-215</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/peserta_2009.php#unique-entry-id-215</guid><content:encoded><![CDATA[30 Agustus 2009 yang lalu, kami telah menerima sejumlah lamaran  dari beberapa peneliti untuk menjadi peserta dalam program Pelatihan Penelitian  yang diselenggarakan oleh Yayasan Interseksi bekerjasama dengan HIVOS.   Berdasarkan pada kualitas draft rancangan penelitian dan feasibilitasnya, kami memutuskan nama-nama yang tercantum di bawah ini sebagai peserta terpilih yang berhak mengikuti program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural tahun 2009 ini.   Di luar peserta yang berasal dari wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat, kami juga memutuskan untuk menerima beberapa peserta dari wilayah lain.   Ada dua pertimbangan untuk keputusan ini: Pertama, kualitas draft rancangan penelitiannya cukup baik, dan; kedua, yang bersangkutan bersedia menanggung sendiri seluruh biaya program ini. 


Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pelamar, dan mohon maaf karena kami belum bisa menampung seluruh peminat dalam program tahun ini.


Selanjutnya, mereka yang terpilih ini wajib mengikuti seluruh rangkaian kegiatan program pelatihan penelitian dari awal sampai akhir (mulai dari workshop persiapan, praktek penelitian lapangan, penulisan laporan, workshop penulisan laporan, perbaikan laporan dan tahap editing laporan).   Di bawah ini adalah nama-nama peneliti yang terpilih berikut usulan topik penelitian masing-masing:


...<td>Tanggung Jawab Pemerintah Daerah Bombana terhadap Akses Pertambangan bagi Warga Masyarakat dan Perlindungan Hukum bagi Warga Petambang Tradisional di Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara</td>
]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi Bulan Puasa: Health for All</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2009-08-27T23:32:35+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/health_for_all.php#unique-entry-id-214</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/health_for_all.php#unique-entry-id-214</guid><content:encoded><![CDATA[Diskusi akan menghadirkan pembicara Diding Sakri, mantan direktur eksekutif Perkumpulan Inisiatif, Bandung, yang sudah bertahun-tahun, bersama lembaganya, menekuni isu hak kesehatan ini. 

...Kesehatan adalah hal yang fundamental dalam mengatasi kemiskinan, hak asasi manusia sekaligus kewajiban Negara yang ditegaskan dalam konsitusi dan undang-undang. ...  Permasalahannya, di Indonesia, hingga saat ini, pelayanan kesehatan tidak mudah diakses khususnya karena adanya kendala ekonomi atau biaya yang tidak terjangkau.   Praktik terbaik dari upaya mengatasi masalah ini adalah dengan menerapkan suatu kebijakan jaminan pelayanan kesehatan dengan penerapan skema asuransi social yang berlaku bagi semua warga Negara tanpa terkecuali. 


Selanjutnya konsep ini kita sebut sebagai sistem jaminan sosial kesehatan, suatu konsep yang telah diamanatkan dalam UUD 1945 dan UU No. 40 tahun 2004 namun hingga kini tidak diimplementasikan oleh pemerintah Indonesia.   Dengan terpilihnya kembali rezim pemerintahan yang telah berkuasa selama 5 tahun terakhir, maka cukup beralasan untuk mengatakan bahwa system jaminan social kesehatan di Indonesia tidak akan terimplementasikan dengan mudah dalam 5 tahun ke depan. ...  Pada titik inilah, penting kiranya kita menggantungkan harapan kepada kelompok masyarakat sipil, kampus, dan elemen perubahan lainnya untuk dapat menjadi kekuatan advokasi kebijakan. ...  Pertama adalah pemaparan secara singkat mengenai sistem jaminan kesehatan sebagai upaya untuk menjaminan akses universal terhadap pelayanan kesehatan. ]]></content:encoded></item><item><title>Komedi&#x2c; Kritik&#x21;</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2009-08-17T21:14:56+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/komedi_kritik.php#unique-entry-id-213</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/komedi_kritik.php#unique-entry-id-213</guid><content:encoded><![CDATA[Mengapa Susilo Bambang Yudhoyono sering mengadakan konferensi pers di halaman belakang Istana Negara hanya untuk menanggapi kritik lawan-lawan politiknya yang sebenarnya tidak begitu penting?   Mengapa gaya egaliter Jusuf Kala selama kampanye Pemilu pemilihan presiden 2009 yang lalu justru banyak dilihat sebagai penampilan seorang calon pemimpin yang kurang berwibawa? ...  Tapi saya curiga, jangan-jangan itu semua bersangkutpaut dengan komedi dan relasinya dengan tradisi kritik politik dalam (sebagian) masyarakat Indonesia.


Tanpa harus melihat banjir program-program variety show dan komedi situasi pada stasiun-stasiun televisi swasta di Indonesia sejak beberapa tahun belakangan ini, komedi pasti sudah lama menjadi bagian sangat penting dalam peradaban umat manusia. ...  Melalui komedi kita seperti mendapatkan saluran untuk dorongan-dorongan dari dalam jiwa yang niscaya tersumbat oleh norma, oleh dogma, dan hipokrisi.   Dalam komedi ketidakpatutan sosial justru menjadi norma, yang tidak masuk akal bisa diterima, budak bisa menjadi tuan atau sebaliknya, yang vulgar menjadi bagian dari tatakrama, dan penyimpangan (indecorum) sosial dan estetik merupakan keharusan inheren, sehingga sadar atau tidak kita selalu berada dalam posisi berguncang tanpa ikatan-ikatan standar kultural yang lazim.   Karena itu, mereka yang merasa berasal dari kelas &ldquo;terhormat&rdquo; cenderung melihat komedi sebagai representasi dari kehidupan orang-orang kelas menengah ke bawah.   Komedi dianggap bisa menghadirkan segala jenis ketidakpatutan sikap dan prilaku kelas sosial semacam itu. ]]></content:encoded></item><item><title>Migrasi ke Antah Berantah dan Tragedi Melting Pot&#xa;</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2009-08-13T21:38:53+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/antah_berantah.php#unique-entry-id-212</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/antah_berantah.php#unique-entry-id-212</guid><content:encoded><![CDATA[Darmaji, adalah profil yang masih tersisa dari sejarah transmigrasi di Indonesia. ...  Ia adalah bekas petugas dinas kesehatan yang berada di Kecamatan Sembakung.   Hidup di desa ini sudah ia alami sejak tahun 1960an. 


...Ujarnya, mengenang masa-masa sulit menuju Sembakung tempat terakhir dimana ia menggantungkan nasibnya.   Nasib merantau ia harus lakoni untuk meraih hidup yang lebih baik.   Ia sendiri adalah orang Jawa, keluarganya sebagian besar masih tinggal di Jawa Tengah.   Mungkin, di masa itu Darmaji adalah satu-satunya yang memiliki semangat mengarungi lautan untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.   Ia hanya berbekal informasi serba sedikit bahwa di Kalimantan Timur dibutuhkan beberapa orang untuk mengisi posisi-posisi di dinas-dinas pemerintahan. ]]></content:encoded></item><item><title>Perubahan Jadwal Pelatihan Penelitian</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><category>TRAINING</category><dc:date>2009-07-29T15:39:06+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/perubahan_jadwal_pelatihan.php#unique-entry-id-211</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/perubahan_jadwal_pelatihan.php#unique-entry-id-211</guid><content:encoded><![CDATA[Karena interval waktu untuk praktek penelitian kemungkinan besar akan bertepatan dengan pelaksanaan puasa di bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri tahun 2009, maka kami memutuskan untuk mengundurkan jadwal seluruh tahapan kegiatan Program Pelatihan Penelitian Aktivis Muda HAM Angkatan II/2009.   Akibat positifnya, tentu saja, tengat waktu untuk penerimaan calon peserta menjadi jauh lebih panjang, dari semula tgl.   30 Juli 2009 menjadi tgl.   30 Agustus 2009.   Informasi lengkap tentang perubahan jadwal kegiatan ini bisa dilihat pada halaman Time Frame Program.
]]></content:encoded></item><item><title>Pelatihan Penelitian HAM Angkatan II/2009</title><dc:creator></dc:creator><category>TRAINING</category><category>NEWS</category><dc:date>2009-07-13T00:23:27+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/pelatihan_2009.php#unique-entry-id-210</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/pelatihan_2009.php#unique-entry-id-210</guid><content:encoded><![CDATA[Pelatihan ini berbeda sekali dengan pelatihan yang diadakan oleh lembaga-lembaga lainnya: tidak terlalu serius, kalau pegal-pegal kelamaan duduk silahkan angkat kaki di atas kursi, merokok berbatang-batang, boleh pake celana pendek, boleh pake sandal biasa, <i>fun</i> dan para tutornya sangat membantu kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta selama proses penelitian.  

...Aku lupa bahwa setiap kata dan setiap peristiwa dalam sebuah kasus jika ditulis dan dianalisa bisa menjadi alat bantu dalam melakukan advokasi karena dari hasil analisa itu memudahkan kita menentukan strategi berikutnya.<br /><br />

Pengalaman melakukan penelitian bersama Interseksi, tidak saja membuat aku secara pribadi menjadi mengerti bagaimana cara membuat penelitian tetapi juga memberi semangat baru bagi kawan-kawanku untuk melakukan penelitian terhadap kasus-kasus yang kami tangani untuk kemudian didokumentasikan. 

...Yang saya tahu, hal itu memang benar, namun ketika saya mengikuti pelatihan penelitian Interseksi, saya mendapat satu hal penting bahwa untuk menjawab semua hal, kita harus belajar satu hal secara maksimal dan tuntas. 

...Pelatihan ini sangat efektif bagi saya, karena kemudian saya juga mendapatkan pengetahuan yang lebih luas tentang persoalan-persoalan HAM, hal ini dikarenakan peserta yang memiliki interest yang berbeda-beda.   Perbedaan tersebut kemudian membuat isu HAM yang menjadi fokus pelatihan ini menjadi sangat luas dipaparkan, sehingga setidaknya bagi saya, pelatihan ini telah memberikan gambaran menyeluruh tentang HAM itu sendiri.<br /><br />


Selebihnya, program ini cukup 'menyenangkan' sebagai sebuah program akademik, yang diselenggarakan dengan cara yang relax dan prosesnya secara tidak disadari telah mendorong seluruh pesertanya untuk selalu peka dan tangkas mencari bahan-bahan maupun wacana-wacana baru khususnya tentang HAM dan isu yang diminatinya. 

...Bagi para pelaku advokasi/peneliti muda yang bekerja pada isu-isu HAM, pelatihan ini akan banyak membantu Anda mempertajam pemahaman konseptual dan kemampuan analisa sosial yang didasarkan pada teknik pengumpulan data yang dapat dipertanggungjawabkan, dan disajikan dalam bentuk tulisan yang mudah dipahami oleh pembaca. ]]></content:encoded></item><item><title>Banjir&#x2c; Lanskap Wilayah dan Wisata Pascakolonial</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2009-04-30T20:08:58+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/wisata_pascakolonial.php#unique-entry-id-209</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/wisata_pascakolonial.php#unique-entry-id-209</guid><content:encoded><![CDATA[Sembakung adalah daerah pemukiman di sekitar sungai yang menghubungkan daerah Nunukan dan Tarakan di Propinsi Kalimantan Timur.   Meskipun ia masuk sebagai daerah Kecamatan di Kabupaten Nunukan, Sembakung lebih mudah dicapai melalui Tarakan dengan menggunakan motor Boat menyusuri sungai sepanjang kurang lebih 300 Km.  ...  Transportasi paling vital tentu  saja adalah perahu boat, dan sedikit lebih sederhana adalah perahu kayu (canoe) yang disetel dengan mesin diesel berkekuatan 40-60 Pk. 


...Sebaliknya, seperti petualangan si Kulit Putih dalam serial Indiana Jones &ndash;meskipun kukira posisi saya sebagai outsider tidak seekstrim itu.   Di sela perjalanan menuju desa ini, aku menyaksikan pohon madu (kayu benggeris) berbaris tegap di sepanjang kiri-kanan sungai. ...  Lebih menarik bagiku, adalah suasana sosial yang kurasakan selama menjalani live in di lapangan, sebagai supervisor penelitian Yayasan Interseksi. ...  Tidak jarang, ibu-ibu rumah tangga, sembari mencuci perabot rumah tangga, pakaian anak-anak, menggunjingkan masalah-masalah desa.  

...v=20" onmouseover="return addthis_open(this, '', '[URL]', '[TITLE]')" onmouseout="addthis_close()" onclick="return addthis_sendto()"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" width="125" height="16" alt="Bookmark and Share" style="border:0"/></a><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/200/addthis_widget.js"></script><!]]></content:encoded></item><item><title>Keterpencilan Komunitas Adat Terpencil</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2009-04-26T22:13:12+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/keterpencilan.php#unique-entry-id-208</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/keterpencilan.php#unique-entry-id-208</guid><content:encoded><![CDATA[Sulit bagi saya membayangkan bagaimana hidup di wilayah relokasi &ldquo;Komunitas Adat Terpencil&rdquo; sub etnik Tidung, di Gn. ...  Listrik yang menerangi, muncul dari solar sel yang masih perlu stabilizer pengatur tegangan untuk menyalakan lampu dan alat elektronik lain.   Semua itu menjadi situasi yang harus dihadapi tiga puluh kepala keluarga warga  RT 06 dan RT 07, warga Desa Atap yang rumahnya seringkali terendam banjir. 

...Jangan sampai rumah baru itu tidak bapak-bapak dan Ibu-ibu tempati," Pesan Pak Sura'i, Sekretaris Camat Sembakung dalam pidato penyerahan bantuan Relokasi KAT, masih terngiang di telinga saya. ...  Entahlah, saya tidak menemukan haru biru perasaan bahwa hidup mereka telah diselamatkan oleh negara dari banjir yang menenggelamkan mereka.   Pompa Air, alat karaoke, genset, bibit tanaman durian, kelapa sawit, bohlam lampu, kabel listrik, seperti pembagian hadiah lebaran yang terasa rutin dan jauh dari harapaan dan kebutuhan.   Menurut penjelasan kades Syarin Abdullah, bantuan ini diajukan pihak desa dan kecamatan Sembakung, kepada pihak Propinsi Kalimantan Timur, dengan pertimbangan, setiap banjir datang, warga RT 06 dan RT 07 Desa Atap mengalami kondisi yang paling parah. ...  Itu sebabnya pihak desa dan kecamatan mengajukan permohonan relokasi pemukiman untuk warga RT 06  dan RT 07.
]]></content:encoded></item><item><title>Merayap di Danau Kuping Bersama Pak Dullah</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2009-04-20T20:23:52+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/merayap_di_danau.php#unique-entry-id-207</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/merayap_di_danau.php#unique-entry-id-207</guid><content:encoded><![CDATA[Koordinator Tim Pembuat Video Dokumenter Hak Minoritas di kawasan Sembakung, Kalimantan Timur


...Mesin tempel bertenaga 5 tenaga kuda itu mendorong ketinting yang kami tumpangi, melawan arus sungai Sembakung yang sedang surut.   Di ujung ketinting, Pak Ismail duduk diam sembari mengisap rokoknya, mengawasi aliran sungai, sembari memberi isyarat pada Pak Abdullah yang memegang tuas kemudi di buritan, sembari sesekali tangannya memberikan isyarat setiap kali potongan reranting atau batang pohon yang hanyut menghalang laju.   Dengan sebal, saya memandang tebing di kiri kanan yang tiba-tiba menjulang dari permukaan sungai dalam beberapa hari terakhir.   Selama empat hari keberadaan kami (saya sendiri, Anggi Frisca dan Nova Rahmat) di desa Atap, kota kecamatan Sembakung di Kabupaten Nunukan itu, saya dihantui pikiran jahat untuk melihat sungai Sembakung itu meluap, menenggelamkan tebing-tebing dan gerumbul-gerumbul gelagah yang berkerumun di tepian, juga akar-akar pepohonan, juga pesawahan, juga kampung-kampung...

Mengitari beberapa tanjung --demikian warga setempat menyebut kelokan-kelokan 180 derajat yang membentuk meander sungai-- ketinting kami melaju dengan malas melawan arus, sembari sesekali bergoyang hebat setiap kali diterpa gelombang dari ketinting-ketinting lain yang sedang menghilir.   Saya berusaha menandai sejumlah pohon entah dengan buah berwarna merah, pohon-pohon madu (entah namanya menggeris entah pamatodon), dan gerumbul-gerumbul yang saya anggap khas sembari menghitung tanjung, sebelum kemudian menyerah dan membiarkan saya tersesat dalam kepungan pepohonan yang tidak bisa saya namai di kanan kiri sungai.

...[Baca selanjutnya.....]]></content:encoded></item><item><title>PDL (Pakaian Dinas Lapangan)</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2009-04-18T22:55:17+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/pakaian_dinas.php#unique-entry-id-206</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/pakaian_dinas.php#unique-entry-id-206</guid><content:encoded><![CDATA[Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di komunitas Buda, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat


Di antara hal yang kuingat dalam Workshop Riset Desain I adalah omongan-omongan dari seorang yang menjadi pemateri utama acara yang diselenggarakan di Puncak, Bogor, Jawa Barat.   Ia yang jauh datang dari Yogyakarta dengan bersemangat memberikan materi dan membagi pengalaman-pengalamannya.   Ilmunya tak setipis buku pengantar, pengalamannya tak sependek cerita sinetron. ...  Ia yang namanya sudah kukenal sejak kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang, pada malam itu dikenalkan dan memperkenalkan dirinya dengan sebutan Pujo Semedi (tanpa gelar akademis, Dr.).    Mas Pujo (pangilan yang lebih dia sukai), pada kesempatan pengantar diskusinya sangat membuka wacana dan informatif, pun dalam diskusi yang berjalan sangat mengalir itu.   Bagi peserta workshop yang lain mungkin omongan-omongannya sebatas omongan, tapi bagiku sebagian omongannya adalah instruksi.   Di antara instruksi yang aku dengar saat itu adalah masalah pakain di lapangan. "&hellip;pakailah celana yang banyak kantongnya, seperti celananya tentara berwarna hijau itu, " kata Mas Pujo di salah satu materi dan berbagi pengalamannya malam itu. 
]]></content:encoded></item><item><title>Mencari Lauk&#x2c; Menemukan Sate Pusut</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2009-04-18T22:54:12+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/mencari_lauk.php#unique-entry-id-205</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/mencari_lauk.php#unique-entry-id-205</guid><content:encoded><![CDATA[Sebagian besar orang mengenal Pulau Lombok, namun dari yang kenal pulau di timur Pulau Bali ini belum tentu pernah menyinggahinya. ...  Setelah mengenal dalam sebulan, aku merasakan seperti tinggal di tempat impian saat aku masih berusia kanak-kanak. ...  Berada di dalam waktu yang terasa abadi menimbulkan keriangan dalam beraktivitas, seperti anak kecil yang sedang bermain.   Berada di dalam pulau yang tidak terikat pada waktu, namun pada ruang, seperti tinggal di rumah dengan keamanan dan kenyamanan yang membetahkan.    

...Aku masih memunyai lima jam yang sama di  Lombok: empat malam menginap di Dusun Todo, dan satu malam lagi di Kota Mataram.   Perasaan berat berpisah dengan lingkungan dan masyarakat yang menemaniku dalam memahami budaya yang ada di Lombok Utara sudah kuhinggapi di minggu terakhir ini.   Apalagi sayup-sayup kudengar lantunan orang membaca lontar, sebagai bagian prosesi hajat (begawe) yang terdengar sangat khas.   Aku tidak tahu apa persis yang dibaca, oleh sebagian besar narasumber mengatakan, biasanya yang dibaca tapal adam (serat galih)  atau menak,<a name="call1" href="#ref1">[1]</a> dan soundscape ini memberi kesan yang nanti tidak mudah kulupakan. 
]]></content:encoded></item><item><title>Bomo&#x2c; Saksi Perubahan</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2009-04-18T22:40:20+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/bomo_saksi_perubahan.php#unique-entry-id-204</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/bomo_saksi_perubahan.php#unique-entry-id-204</guid><content:encoded><![CDATA[Seorang Bomo dalam struktur masyarakat Sakai sejak masa lalu merupakan seorang yang istimewa memperantarai dunia manusia dan dunia para hantu.   Seorang Bomo berpengaruh dalam menentukan jalan pikiran masyarakat melalui lembaga yang mengurusi keyakinan animisme atau tradisi yang bersangkutan dengan alam atau mahluk halus termasuk pengobatan (dikir).   Setelah masuknya Islam Bomo hanya tinggal memegang peran pengobatan, sedangkan upacara keagamaan dipegang oleh kholifah.   Masuknya agama Islam tidak hanya mengurangi wewenang Bomo, bahkan ketika gerakan islam Wahabiah yaitu aliran ahlusunah Wal jamaah masuk dari Sumatra bagian Barat, praktik pengobatan dikir dilarang. 


Akan tetapi aliran apapun dalam agama Islam yang masuk pada masyarakat Sakai sejak masa kesultanan Siak Sri Indrapura, yang sangat terkenal adalah Naqsabandyah yang diajarkan oleh Abdul Wahab Rokan, tradisi pengobatan dikir tetap dilakukan oleh masyarakat Sakai.   Seperti yang ditulis oleh Parsudi Suparlan (1995), karena aliran keagamaan ini belum lama berada pada kehidupan orang Sakai, konflik-konflik antar aliran keagamaan cepat mereda.   Sebagian orang Sakai tidak terlibat dalam konflik-konflik tersebut karena mereka tidak merasa menjadi bagian dari dua aliran yang sedang berkembang. ...  Bagaimana Bomo masa kini memandang masyarakat Sakai melewati perubahan-perubahan waktu dan transformasi sosial budaya di dalam diri mereka.
]]></content:encoded></item><item><title>Melihat &#x22;Buda Keling&#x22; dari Wetutelu</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2009-04-12T19:08:17+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/buda_keling.php#unique-entry-id-202</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/buda_keling.php#unique-entry-id-202</guid><content:encoded><![CDATA[Hikmat Budiman


Peneliti Senior Yayasan Interseksi


Sebelum berangkat ke dusun Benthek, desa Bhoko, kecamatan Gangga, Lombok Utara (dulu Lombok Barat), saya mampir di salah satu isntansi pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat untuk bertemu dengan seorang teman lama yang kebetulan sedang bertugas di instansi tersebut.   Tiba di Bandara sekitar jam 2 siang waktu Lombok, saya dijemput oleh Takeshi Ando, teman yang hendak saya sambangi itu, saya langsung diajak ke kantornya, Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Barat.   Setelah berkenalan dengan beberapa orang staf JICA yang lain, kami berdiskusi tentang beberapa program intervensi ekonomi yang sedang dikerjakan JICA di provinsi tersebut.   Setiap orang yang bertanya pada saya tentang maksud kedatangan saya ke Lombok, dan saya jawab bahwa saya akan mengunjungi teman yang sedang meneliti komunitas Buda di kecamatan Gangga, asosiasi mereka pasti langsung tertuju pada para pemeluk agama Budha sebagai salah satu agama resmi yang diakui negara di Indonesia. 


[Baca selanjutnya......]
]]></content:encoded></item><item><title>Hujan Semalam di Malaysia&#x2c; Banjir Sebulan di Sembakung</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2009-04-03T08:02:37+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/banjir_sembakung.php#unique-entry-id-201</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/banjir_sembakung.php#unique-entry-id-201</guid><content:encoded><![CDATA[Sebuah tempat yang sama sekali asing dan saya putuskan sebagai tujuan dari penelitian ini, saat sampai di Nunukan, Kalimantan Timur. ...  Namun, saat workshop persiapan sebelum berangkat ke lapangan, tempat penelitan sepakat di pindah ke Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur atas pertimbangan beberapa informasi, bahwa Siberut terancam tsunami. 

...Dave malah membekali saya dengan data catatan etnografi Desa Sujau di Kecamatan Sebuku, barangkali saya hilang ide, saya bisa pergi ke Sujau.

...&nbsp; Itu pun saya masih belum bisa memutuskan, daerah mana di Kabupaten Nunukan yang akan jadi wilayah penelitian saya.   Mas Hikmat Budiman, Direktur Interseksi, berpesan pada saya, "pakai jurus Tai Chi saja, kepekaan kamu menangkap persoalan yang menjadi penting, karena kamu berangkat dengan tidak tau apa-apa soal Nunukan."   Itu sebabnya dari Jakarta, saya singgah ke Balikpapan, menemui beberapa teman yang saya harap bisa memberi gambaran tentang Nunukan.   Dua Hari di Balikpapan tidak banyak gambaran yang yang saya peroleh soal Nunukan, bahkan redaktur Tribun Kaltim yang saya wawancaraipun tidak banyak memberikan gambaran mengenai Nunukan. ...  Akhirnya saya putuskan, saya harus&nbsp; sampai dulu di Nunukan setelah itu, baru saya memutuskan, wilayah mana yang akan saya teliti.]]></content:encoded></item><item><title>Cerita tentang Unpar&#x2c; Problem Otoritas&#x2c; dan Industri Penelitian di  Kampung Naga</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2009-04-03T07:40:58+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/cerita_tentang_unpar.php#unique-entry-id-200</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/cerita_tentang_unpar.php#unique-entry-id-200</guid><content:encoded><![CDATA[Kata Kepala Desa, demikian dia bercerita sewaktu saya kulo nuwun ke kantornya yang terletak beberapa langkah kaki saja dari parkir Kampung Naga, peneliti yang mengaku berasal dari Unpar akan ditolak di Kampung Naga.   Sayang, Pak Kuwu, demikian Kepala Desa bisa dipanggil, tidak menjelaskan panjang lebar kenapa Unpar ditolak di Kampung Naga.   Mungkin ada masalah dengan agama, karena mereka non-Islam, begitu dia menduga, dan barangkali mereka tidak &ldquo;nyunda&rdquo;, demikian dia melanjutkan dugaannya.   Pak Kuwu mengaku mengetahui informasi mengenai penolakan terhadap Unpar di Kampung Naga itu dari cerita orang. 

...Sejauh yang saya tahu, Unpar, kependekan dari Universitas Parahyangan, adalah sebuah kampung terkemuka di Bandung yang reputasinya sangat baik. ...  Begitu juga dengan Kampung Naga sendiri, sulit membayangkan sesepuh di sana menolak peneliti atau mahasiswa atau siapapun yang mengaku dari Unpar ditolak gara-gara mereka bukan orang Islam dan bukan orang Sunda. ...  Banyak orang Islam dan orang Sunda yang jadi dosen dan mahasiswa di sana.   Jadi, singkatnya, cerita tentang Unpar yang saya dapat dari Pak Kuwu terasa sangat janggal dan alasan dibaliknya, meski baru dugaaan, sangat tidak masuk akal. 
]]></content:encoded></item><item><title>Pelayanan Publik Berdasarkan Tata Pemerintahan Lokal Yang Demokratis&#xd;</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2009-03-11T07:33:01+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/pelayanan_publik.php#unique-entry-id-199</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/pelayanan_publik.php#unique-entry-id-199</guid><content:encoded><![CDATA[Di daerah-daerah dan berbagai instansi mutu pelayanan public terlihat diperbaiki  dengan tujuan masyarakat memberi dukungan pada kelompok/elit tertentu seperti adanya perbaikan jalan, menggratiskan Puskesmas dan lain-lain.


Bagaimana menciptakan pelayanan publik yang merupakan kemutlakan Negara memenuhinya dan terhindar dari kepentingan politik elit kelompok tertentu merupakan bahasan diskusi dwibulanan yang diselenggarakan oleh Yayasan Interseksi dalam yang diadakan hari Jumat tanggal 27 Februari 2009 dengan pembicara Nor Hiqma dari Yappika. 

...Setelah desentralisasi berjalan muncul banyak kritik terutama tentang desentralisasi korupsi atau munculnya raja-raja kecil baru di tingkat-tingkat daerah, kemudian persoalan yang berkaitan dengan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) untuk kepentingan Pendapatan Asli Daerah yaitu eksploitasi SDA untuk memperbesar PAD dalam skala yang massif, stagnasi hubungan antara pemerintah provinsi dan kabupaten  yang menyebabkan peran pemerintah provinsi kurang diberi tempat dalam menentukan kebijakan. 

...Asumsi awal bahwa desentralisasi akan meningkatkan pelayanan public lebih baik karena memperpendek jarak antara pembuat kebijakan dengan persoalan yang diurusnya, memberikan peluang yang lebih besar pada keterlibatan masyarakat, adanya akuntabilitas pemerintah yang lebih jelas terhadap konstituennya, kenyataannya dalam temuan lapangan yang dikerjakan dalam penelitian Hiqma justru menjadi bias. 

...Hiqma menyebut beberapa kasus pelayanan public seperti penggratisan kesehatan di Puskesmas misalnya, ternyata bagi masyarakat yang tinggal jauh dari Puskesmas tersebut justru harus membayar ongkos yang lebih mahal untuk biaya transportasi. 

...Sebenarnya kelemahan pemberlakuan pelayanan public dalam desentralisasi ini memberikan peluang bagi Organisasi Sasyarakat Sipil (OMS) untuk terlibat di dalam perumusan kebijakan pelayanan public antara lain yang sudah dilakukan  adalah kerja sama pembuatan kebijakan seperti dalam program pemerintah Musrembang, penyusunan rencana strategis, RPJM, perumusan APBD dan lain-lain. ...  Karena intervensi OMS di pemerintah masih kurang akibatnya, Pembangunan seperti tidak ada hasilnya, tidak berkesinambungan, program-program yang berjalan tidak mensinergikan satu sama lain. 

...Bagaimana mencegah perpecahan tersebut, berpikir positif terhadap OMS lain adalah jawabannya walaupun OMS tersebut mendapat dana dari World Bank tidak usah dianggap sebagai pihak yang bersebrangan, karena kuncinya selama dana itu disalurkan untuk kemaslahatan masyarakat kita harus tetap menghargai usaha tersebut.
]]></content:encoded></item><item><title>Mencari Asisten Peneliti&#x2c; Menemukan Sugeng</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2009-03-04T11:49:13+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/mencari_asisten_peneliti.php#unique-entry-id-198</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/mencari_asisten_peneliti.php#unique-entry-id-198</guid><content:encoded><![CDATA[Aku di bangku paling belakang di bus warna merah yang menuju bandara Cengkareng, Tangerang, Banten, pada siang 5 Januari 2009. ...  Berbagai alasan mereka miliki untuk memilih barisan depan di bus antarkota ini, dan yang sering terlontar adalah masalah keamanan. ...  Dalam perjalanan yang agak istimewa ini aku sengaja memilih bangku belakang karena tak ingin terusik oleh penumpang lain, baik diminta bergeser tempat duduk maupun diajak ngobrol.   Di belakang bus yang selalu ngebut itu aku mengaharapkan dapat menyusun kegiatan selanjutnya, saat tiba di Pulau Lombok: mencari asisten peneliti dalam tiga hari pertama.

...Hampir sejam perjalanan aku asyik dalam alam bayangan tentang orang yang akan membantuku dalam penelitian selama sebulan di Lombok Utara. 

...Aku tidak membayangkan tentang penelitian dan asisten peneliti sampai kakiku menginjak tanah Pulau Lombok, pada jam 23.40 waktu Indonesia bagian tengah.   Dalam perjalanan ini aku merasa rugi waktu, pertama karena pengunduran jadwal penerbangan selama hampir dua jam, dan kedua karena konversi waktu sejam lebih awal.   Aku berpikir baik-baik saja dalam kekecewaan ini sampai check-in hotel di Jalan Airlangga, termasuk apa saja yang akan dicatat malaikat atas amal-perbuatan yang hilang sejam itu. ]]></content:encoded></item><item><title>Ke Suluk Bongkal</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2009-02-03T23:29:45+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/ke_suluk_bongkal.php#unique-entry-id-197</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/ke_suluk_bongkal.php#unique-entry-id-197</guid><content:encoded><![CDATA[Baru pagi, 23 Januari tadi, tanpa direncanakan akhirnya saya nekad menempuh perjalanan ke Suluk Bongkal, setelah selesai mengambil data statistik kecamatan Pinggir.

Suluk Bongkal, sebuah desa yang Desember 2008 lalu pecah keributan antara PT Arara Abadi dan masyarakat dengan persoalan lahan perbatasan.   Keributan tersebut menurut masyarakat telah menyebabkan pembakaran lahan yang sudah siap panen yang dilakukan oleh PT Arara Abadi.   Tidak hanya lahan, rumah-rumah penduduk juga dibakar karena perusahaan tersebut menganggap lahan di Suluk Bongkal merupakan wilayah perusahaan.

...Lahan tersebut menurut pengakuan tokoh masyarakat Sakai yang disebut bathin, sebenarnya merupakan tanah ulayat masyarakat peninggalan kerajaan Siak yang diakui juga oleh pemerintahan Belanda.   Tidak semua lahan milik PT Arara Abadi, yaitu lahan yang sudah bersemak belukar yang pernah digarap warga. 

...Penjualan lahan pada pendatang itu yang menjadikan Arara Abadi bertindak mengusir mereka, karena perusahaan menganggap lahan tersebut miliknya dan menganggap warga yang mengola lahan hanya meminjam. ...  Masyarakat pendatang dan Sakai diorganisir oleh Sarekat Tani Riau (STR) yang didukung oleh beberapa LSM seperti Sorak, Segera, Walhi, Jikalahari, Komnas HAM dan mahasiswa memprotes tindakan tersebut, dan menuntut pihak perusahaan dan pihak lain yang terlibat dibawa ke pengadilan atas nama HAM. ]]></content:encoded></item><item><title>Cerita Si Willy dan Kampung  Naga yang &#x2018;Mooi Indie&#x2019;</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2009-02-04T23:29:20+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/cerita_si_willy.php#unique-entry-id-196</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/cerita_si_willy.php#unique-entry-id-196</guid><content:encoded><![CDATA[Siapapun yang melakukan penelitian di Kampung Naga pada bulan-bulan terakhir ini akan mendengar sebuah cerita tentang si Willy.   Datang pada tanggal 29 Oktober 2008, si Willy mencatatkan diri kepada petugas yang ditunjuk oleh sesepuh Kampung Naga dengan maksud hendak melakukan penelitian selama seminggu.   Pak Endut, petugas yang sehari-hari memandu para tamu yang berkunjung ke Kampung Naga, tidak berpikir macam-macam terhadap si Willy ini.   Selain karena sudah biasa dikunjungi orang-orang yang hendak melakukan penelitian atau sekedar untuk melancong, sikap dan penampilan si Willy yang pantas membuat Pak Endut menerimanya secara baik.   Lebih lanjut, Pak Endut meminta si Willy untuk melapor kepada sesepuh Kampung Naga terlebih dahulu dan kemudian kepada ketua RT. 


Singkat cerita, si Willy konon datang kepada Pak Henhen, salah seorang sesepuh Kampung Naga, untuk meminta izin penelitian. ...  Pak Risman kemudian meminta si Willy melengkapi syarat-syarat untuk melakukan penelitian di Kampung Naga, seperti menyerahkan surat izin dari kabupaten dan aparat pemerintah yang terkait. ...  Dia hanya membawa surat tugas penelitian dari sebuah lembaga yang&mdash;di dalam kop surat&mdash;berlokasi di sebuah gedung di lingkungan UNJ (Universitas Negeri Jakarta). ]]></content:encoded></item><item><title>DIKIR&#x2c; Tradisi Pengobatan Orang Sakai di Tengah Gelombang Perubahan&#xa;</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2009-02-03T22:27:30+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/dikir_tradisi_pengobatan_sakai.php#unique-entry-id-195</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/dikir_tradisi_pengobatan_sakai.php#unique-entry-id-195</guid><content:encoded><![CDATA[Rute Pekanbaru-Duri hanya memakan waktu tiga jam kurang dan sepanjang jalan kendaran kami melintasi  kompleks  Chevron yang tertata rapi diseling rumah-rumah staf perusahaan minyak itu.   Menurut Pak Nardia, sopir travel, perusahaan Chevron yang awalnya adalah perusahaan asing baru-baru saja menemukan lagi 22 titik pengeboran.   Sudah tentu aktivitas pengeboran ini, menurutnya selain akan mendatangkan rejeki untuk para pemilik perusahaan (asing) akan membuka lapangan kerja bagi para pendatang, yang, menurutnya lagi, &lsquo;dikuasai&rsquo; oleh alumnus dari perguruan tinggi negeri ternama di Jawa Barat.   Pak Nardia sendiri mengakui, setelah kendaraan kami hampair mendekati Duri dan tinggallah kami berdua di mobil, dia pernah bekerja sebagai salah satu staf kontrak untuk Cevron (dahulu Caltex) di salah satu divisi teknis. 

...Memang perekonomian di Pekanbaru sebagai ibukota provinsi saat ini dapat dikatakan ditopang oleh urban sectors yang dimiliki oleh beragam etnis.   Keberadaan Chevron membuat Provinsi Riau dapat disebut sebagai Jika kita berjalan-jalan di kota Pekanbaru, gemerlap lampu dari pusat-pusat perbelanjaan yang notabene berskala menengah-atas dipegang oleh kalangan etnis Cina. ...  Komposisi etnis yang beraneka ini juga telah ditelusuri oleh antropolog Parsudi Suparlan dalam bukunya &lsquo;Orang Sakai di Riau: Masyarakat Terasing dalam Masyarakat Indonesia&rsquo; (YOI, 1995). 

...&rsquo;Petualangan&rsquo; ku ke Riau kali ini adalah untuk &lsquo;mengikuti&rsquo; perjalanan riset Dina, program officer Interseksi yang melakukan penelitian tentang transformasi identitas orang Sakai di Riau. ]]></content:encoded></item><item><title>Dari Workshop Pra-Penelitian Hak Minoritas Tahap 3</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><category>WORKSHOP</category><dc:date>2009-01-07T09:05:16+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/dari_workshop_prapenelitian_hak_minoritas_3.php#unique-entry-id-194</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/dari_workshop_prapenelitian_hak_minoritas_3.php#unique-entry-id-194</guid><content:encoded><![CDATA[Untuk penelitian kali ini, ada empat wilayah yang dipilih yakni masyarakat Mentawai di Pulau Siberut, Suku Sakai di Riau, Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat, dan masyarakat penganut Buda di Lombok, Nusa Tenggara Timur. 

...Pada sessi pembukaan workshop, direktur Yayasan Interseksi, Hikmat Budiman, memberikan gambaran tentang program penelitian tentang Hak Minoritas yang telah dilakukan oleh Interseksi sejak tahun 2004/2005 yang lalu, dan konteks program tersebut dalam kerangka kerja Yayasan Interseksi yang lebih luas.   

...Dokumentasi visual tentang komunitas Wana yang pernah diproduksi Interseksi tahun 2008 yang lalu adalah langkah awal untuk mengangkat isu-isu multikulturalisme dan hak minoritas melalui medium komunikasi yang lebih mudah dipahami oleh lebih banyak kalangan. 

...<h4 class="pullquote">semua peneliti dan tim pembuat film sepakat untuk melanjutkan pembahasan desain penelitian pada sebuah workshop terbatas di kantor Yayasan Interseksi pada tgl. 

...Tapi justru karena itulah workshop ini menjadi sangat penting artinya, karena melalui diskusi terbuka dengan seluruh peserta workshop para peneliti banyak terbantu memahami subjek penelitiannya masing-masing, dan dari sana kemudian berusaha merumuskan pertanyaan penelitian yang lebih tajam.


...Dan saat Dave harus memahami konteks lokal masyarakat Apokayan, ia tidak hanya meneliti Apokayan saja, melainkan uga melakukan studi tentang wilayah tetangganya yang sudah menjadi wilayah Negara lain, konteks hubungan masyarakat Apokayan sebagai masyarakat di wilayah hulu dan masyarakat yang menduduki wilayah hilir yang kebanyakan kaum pendatang tidak saja selama periode saat itu. 


...Pelaksanaan workshop berlangsung sehari lebih cepat dari yang dijadwalkan semula, karena setelah mendapatkan kritik tajam selama sessi-sessi presentasi draft desain penelitian, para peneliti mengaku membutuhkan tambahan waktu dan bahan acuan yang tidak bisa diakses di lokasi pelaksanaan workshop.   Dengan alasan itu pula, semua peneliti dan tim pembuat film sepakat untuk melanjutkan pembahasan desain penelitian pada sebuah workshop terbatas di kantor Yayasan Interseksi pada tgl. ]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Pra-Penelitian Hak Minoritas 3</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><category>WORKSHOP</category><dc:date>2008-12-11T10:17:13+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/workshop_pra_riset_hak_minoritas_3.php#unique-entry-id-192</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/workshop_pra_riset_hak_minoritas_3.php#unique-entry-id-192</guid><content:encoded><![CDATA[Pada tanggal 15-18 Desember 2008, Yayasan Interseksi akan mengadakan workshop persiapan penelitian tentang Hak Minoritas 3, dan pembuatan film dokumenter tentang komunitas Mentawai. ...  Melalui workshop ini, selain pembekalan metodologi dan kerangka konseptual tentang isu-isu Hak Minoritas, seluruh peneliti dan peserta workshop lain  akan bersama-sama akan mendiskusikan rancangan penelitian yang dibuat oleh 4 (empat) peneliti antropologi/sosiologi, dan 1 (satu) tim pembuat film dokumenter.   Selain itu, workshop juga dimaksudkan untuk menciptakan integrasi kimiawi antara tim peneliti dan pembuat film yang untuk selanjutnya akan bekerja sebagai satu tim di bawah koordinasi the Interseksi Foundation.


Setelah workshop tim ini akan diberangkatkan ke empat komunitas lokal di Indonesia: Komunitas Mentawai di pulau Siberut, Sumatera Barat; Kampung Naga, Tasikmalaya; Agama Buda di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat; dan Orang Sakai di Riau.  ...  Setelah itu seluruh peserta workshop yang terdiri dari narasumber, fasilitator dan peserta lain akan membantu peneliti dan tim film mengembangkan riset dan film desain yang bisa dipakai dalam praktik penelitian maupun pembuatan film di lapangan. 

...Selain sebagai ikhtiar intelektual untuk memperbaiki penelitian-penelitian kami sebelumnya, penelitian kali ini sekaligus akan berusaha mengekplorasi sejumlah kemungkinan untuk melihat beberapa dimensi kehidupan masyarakat lokal dalam kaitannya dengan upaya pencarian solusi di tingkat negara-negara lokal. 

...Di luar tim kerja (peneliti antropologi/sosiologi dan pembuat film dokumenter), peserta yang akan hadir dalam workshop ini, antara lain, adalah  tim Fasilitator yang terdiri dari Hikmat Budiman, Irine H. ...  Di samping itu juga akan hadir Sape&rsquo;I Rusin (Perkumpulan Pergerakan, Bandung), Diding Sakri (Perkumpulan Inisiatif Bandung), perwakilan dari Asian Muslim Action Network (AMAN), perwakilan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara(AMAN), Ana Westy dan Rini Kusnadi (alumna program pelatihan penelitian aktivis/peneliti muda HAM dan Diversitas Kultural), dan perwakilan dari Yayasan Tifa, Jakarta.</div>
]]></content:encoded></item><item><title>Keistimewaan dan Problem Politik Pengakuan</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2008-12-05T08:01:42+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/keistimewaan_dan_problem_politik_pengakuan.php#unique-entry-id-191</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/keistimewaan_dan_problem_politik_pengakuan.php#unique-entry-id-191</guid><content:encoded><![CDATA[Bagi sebagian orang dari luar Aceh, ungkapan "formalisasi syariat (atau lebih sering ditulis syariah) Islam" untuk merujuk pada pemberlakuan syariat Islam sebagai landasan pengaturan tertib sosial dalam bentuk regulasi pemerintah daerah di provinsi Aceh (belakangan berganti nama menjadi Nanggroe Aceh Darussalam, NAD), mungkin merupakan nasib sosiologis masyarakat Aceh yang tidak terlalu perlu dipersoalkan.   Sebutan "Serambi Mekah" yang pada dasarnya sedikit, kalau bukan tidak ada sama sekali, hubunganya dengan kondisi kehidupan dan ketaatan masyarakat Aceh pada ajaran Islam, misalnya, oleh orang non-Aceh seringkali dilihat sebagai indikasi tentang senyawa antara Aceh dan Islam.   Julukan yang semula hanya merujuk pada gagasan tentang jarak spasial  dalam rute jamaah haji Indonesia menuju tanah suci di Mekah Saudi Arabia, kemudian berubah menjadi ekpresi atau bahkan testimoni sosial tentang kehidupan religius masyarakat Aceh dalam naungan nila-nilai dan ajaran Islam: Aceh adalah Islam (meskipun mungkin tidak berlaku sebaliknya).   Dipahami dalam konteks seperti itu, klaim kota Manokwari di Papua Barat sebagai "Serambi Yerusalem" atau "kota Injil", semacam usaha untuk meraih status distingtif dalam versi Nasrani, yang merujuk pada Aceh sebagai preseden historisnya, misalnya, memperlihatkan berlangsungnya (kekeliruan) konotasi konseptual yang terlanjur terbentuk di tengah masyarakat non-Aceh tentang senyawa tadi.


...Ungkapan lokal (hadih Madja) "Adat ng&ouml;n syariat lagee dzat ng&ouml;n sifeut" (adat dan syariat seperti zat dan sifatnya) dengan cukup terang memperlihatkan bagaimana orang Aceh memandang syariat Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari: bahwa syariat (ajaran Islam) dan adat (yang bisa berarti kebudayaan dalam arti luas tapi juga bisa berarti pola-pola kebiasaan hidup sehari-hari) merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan.


...Paling tidak sejak tahun 1959 Aceh diberi klaim tentang sebuah status istimewa, dalam arti memiliki status yang distingtif dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia terutama karena asumsi tentang atau identifikasi Aceh dengan Islam.   Dengan demikian relasi negara Indonesia modern dan Aceh sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya memang menggunakan, untuk meminjam konsep Wittgenstein, permainan bahasa (language game) yang berbeda dibandingkan dengan wilayah-wilayah administratif lainnya dalam republik Indonesia.[...  Aceh mendukung kemerdekaan Indonesia tahun 1945, bahkan mengirimkan pasukan untuk melawan belanda di Sumatra Utara, karena mengira bahwa hal tersebut akan membawa pada kemerdekaan atau otonomi lokal dalam wadah struktur negara federal (Kingsbury, 2007).
]]></content:encoded></item><item><title>Dari Diskusi tentang Isu-isu Perbatasan</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-11-17T22:36:06+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/memahami_perbatasan.php#unique-entry-id-189</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/memahami_perbatasan.php#unique-entry-id-189</guid><content:encoded><![CDATA[Jangankan anak-anak, negara yang mempunyai wacana teritorial, selama ini menganggap bahwa perbatasan hanya sekat yang keadaannya terisolir, ditancapi patok-patok, dijaga oleh tentara-tentara karena wilayah tersebut biasanya menjadi sarang kejahatan-kejahatan seperti penyelundupan dan perampokan.


Melalui studi tetang perbatasan, seperti yang didiskusikan dalam Disklusi Bulanan Interseksi tanggal 27 Oktober 2008, Dave Lumenta mencoba memperkenalkan pendekatan baru, untuk konteks kajian sosial di Indonesia tentu saja, dalam memahami dinamika wilayah perbatasan sebagai kontinuum sosial dari pada sekedar sekat. 

...Pengakuan yang terlihat dari negara terhadap eksistensi kelompok masyarakat yang bermukim di daerah ini adalah representasi rumah panjang dalam lembaran uang kertas bernilai nominal lima ratus rupiah (yang sekarang kemungkinan besar justru sudah tidak berlaku lagi), dan pada salah satu anjungan di Taman Mini Indonesia Indah. 

...Tetapi kenyataan yang ditemukan Lumenta justru sebaliknya: orang-orang nomaden Dayak Kenyah ini mampu memanfaatkan dua identitas kewarganegaraan ketika mobilitas tercipta begitu mudah di perbatasan, dan bahkan negara tak dapat membendungnya karena hubungan persaudaraan antar suku yang lebih cair. 

...Pada masa Orde Lama, saat terjadi konfrontasi dengan Malaysia pemerintah Sukarno juga pernah berusaha memindahkan penduduk Apokayan ke pinggiran dengan tujuan agar tidak mudah dipengaruhi neokolim, tetapi kenyataannya keputusan itupun gagal. 

...Lumenta memaparkannya sebagai berikut: orang-orang Dayak Iban di Kalimantan Barat mempunyai dua kewarganegaraan karena mengurusnya sangat mudah, tinggal menyebut anggota rumah panjang mana, maka orang tersebut sudah bisa membuat kartu penduduk. ...  Alasan mereka sangat pragmatis: untuk bekerja di perusahaan kayu mereka bisa mejadi warga negara Malaysia, tetapi karena tanah mereka di Indonesia, mereka juga tetap ingin kembali ke Indonesia. 

...Lumenta melihat bahwa hubungan industrial dalam pekerjaan di wilayah perbatasan ini lebih cenderung berbasis pada etnis:  Orang China menempati top manager, lalu dibawahnya Dayak Iban sebagai mechanic, Dayak Kenyah sebagai logmen, dan yang menempati posisi paling bawah adalah orang-orang Toraja. ]]></content:encoded></item><item><title>Kita&#x2c; Sejarah dan Kebhinekaan: Merumuskan Kembali Keindonesiaan</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2008-11-15T11:50:42+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/orasi_kebudayaan_ayu_ratih.php#unique-entry-id-188</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/orasi_kebudayaan_ayu_ratih.php#unique-entry-id-188</guid><content:encoded><![CDATA[Di tengah kepedihan para ibu yang buah rahimnya dipenjarakan, hilang tak tentu rimbanya, atau diterjang peluru tajam karena berpikir merdeka, kita saling genggam tangan, coba satukan suara dan pikiran, lalu melangkah maju.   Ketika Jakarta, Solo, dan Palembang disambar api kiriman tangan-tangan yang tampak tak bertuan, ribuan kaum miskin hangus dalam perangkap, dan ratusan perempuan Tionghoa diperkosa, sejenak kita terpana. 

...Sepuluh tahun berlalu sejak 'reformasi total' terpekik, sejak ribuan ibu relakan uang pembeli susu anak-anaknya untuk nasi bungkus, sejak derap kaum muda menggetarkan jalan-jalan utama kota dengan 'bergerak dan bersatu, membangun Indonesia baru.' ...  Kita kuasai ruang-ruang terbuka dan penuhi mereka dengan impian dan harapan kita tentang Indonesia baru. ...  Kita bergeming walau yang dipertuan para serdadu kirimkan gerombolan berjubah putih, dan sambil kebaskan kelewang, mereka teriakkan kebesaran Tuhan. 

...Kita sedang ditelikung oleh kekuatan-kekuatan yang memanfaatkan sepenuhnya ruang-ruang yang sudah kita buka dengan susah payah, kekuatan-kekuatan yang selalu berniat memenjarakan pikiran dan tubuh kita. ...  Apakah terang tanah itu sudah demikian menyilaukan sehingga tak segera kita tetakkan patok-patok acuan kebersamaan kita? ...  Bahwa sebagai gugus-gugus gagasan &ndash; apakah itu demokrasi, kemanusiaan, keadilan, atau kesetaraan -- mereka mampu secara alamiah memikat dan mengikat kesetiaan orang per orang, kelompok, pun golongan yang berbeda-beda dalam mewujudkan Indonesia baru yang kita cita-citakan.
]]></content:encoded></item><item><title>Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra Dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2008-11-15T11:36:38+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/pengukuhan_guru_besar.php#unique-entry-id-187</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/pengukuhan_guru_besar.php#unique-entry-id-187</guid><content:encoded><![CDATA[Revolusi yang terjadi dalam sebuah paradigma antropologi budaya atau ilmu sosial-budaya tidak hanya menghasilkan sebuah paradigma baru yang melengkapi paradigma lama, tetapi juga melahirkan satu atau beberapa sub paradigma baru dalam paradigma lama. ...  Padahal, revolusi keilmuan dalam ilmu sosial-budaya bukanlah pergantian paradigma karena paradigma yang lama tidak ditinggalkan setelah paradigma baru lahir yang mengungkap aspek-aspek tertentu dari kenyataan yang sebelumnya terabaikan.


Hal tersebut disampaikan oleh Prof Dr Heddy Shri Ahimsa Putra MA, Mphil, dalam pidato pengukuhan jabatan Guru Besar Ilmu Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Senin (10/11) di ruang balai senat UGM.


Dalam pidatonya yang berjudul "Paradigma dan Revolusi Ilmu dalam Antropologi Budaya", Heddy Ahimsa menegaskan, munculnya paradigma baru sebenarnya tidak mematikan paradigma lama, bahkan memungkinkan para ilmuwan sosial budaya memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai gejala yang mereka pelajari.


...Dalam ilmu sosial budaya, menurut pria kelahiran Yogyakarta, 28 Mei 1954 ini, garis perbedaan paradigma satu dengan yang n tidak tegas karena selalu ada kesamaan-kesamaan pada satu atau beberapa unsurnya. 

...Implikasi dari beberapa pandangan yang bersifat majemuk ini menurut suami Nany Phir Yani, menjadikan perspektif paradigma yang diikuti para ilmuwan tidak akan lagi berpikir terkotak-kotak berdasarkan disiplin atau obyek studi.


"Ini memungkinkan pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih efektif dan efisien, dan dialog keilmuan di kalangan ilmuwan sosial-budaya akan lebih mudah terjalin," tambah bapak tiga anak ini.


Dengan demikian, para ilmuwan dari disiplin yang berbeda dapat melakukan penelitian bersama lewat paradigma tertentu sehingga akan terjadi proses pengembangan dan pembangunan paradigma baru yang lebih cepat. ]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi: Memahami Perbatasan sebagai Kontinuum Sosial</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2008-10-26T22:30:51+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/perbatasan_sebagai_kontinuum_sosial.php#unique-entry-id-186</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/perbatasan_sebagai_kontinuum_sosial.php#unique-entry-id-186</guid><content:encoded><![CDATA[Salah satu kekuatan Negara yang jarang dibahas adalah kemampuan Negara  dengan perangkat narasinya untuk menciptakan partisi2 imajiner, baik  yang bersifat spasial ('wilayah NKRI') atau pun yang bersifat temporal  (misalnya periodisasi sejarah).  Perbatasan dalam wacana negara selalu  diasosiasikan sebagai sebuah sekat yang dilihat dengan ajeg, kaku dan  otoritatif - sebuah sekat yang membedakan identitas, ruang dan  sejarah.   Sayangnya, sekat ini juga mempengaruhi arah perkembangan  studi-studi di Indonesia tentang perbatasan.

Kasus dari penelitian Dave Lumenta di Kalimantan Timur yang mencoba memahami  sejarah hubungan masyarakat suku Dayak Kenyah dengan proses  (nation-)state making sejak zaman kolonial hingga sekarang,  menunjukkan bahwa sebuah pendekatan dan metodologi baru diperlukan  bagi analisa-analisa sosial dalam memahami dinamika wilayah  perbatasan.   Sebuah pendekatan baru menuntut kita untuk melihat wilayah  perbatasan sebagai sebuah kontinuum ketimbang sebagai 'sekat'.


Diskusi bulanan Yayasan Interseksi putaran ke-23 akan membahas tema problemtik tentang isu-isu perbatasan (border issues).   Pembicara yang akan memantik diskusi kali ini tidak lain adalah Dave Lumenta sendiri. 

...Silakan konfirmasikan kehadiran Anda melalui 021-7820 444 (Risna) atau email ke interseksi[at]gmail[dot]com
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Workshop Penulisan Laporan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural</title><dc:creator></dc:creator><category>TRAINING</category><dc:date>2008-10-23T18:37:45+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/dari_workshop_laporan_penelitian_HAM.php#unique-entry-id-184</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/dari_workshop_laporan_penelitian_HAM.php#unique-entry-id-184</guid><content:encoded><![CDATA[Workshop ini dimulai dari presentasi Ana Westy tentang universalisme HAM dalam kebijakan publik di daerah pada pemenuhan hak kesehatan masyarakat kota Banjar. 

...Dalam kalimat lain, Romi berusaha menyajikan sebuah potret tentang perjuangan KWRS Amplas, yang berawal dari usaha mempertahankan hidup dan lantas berubah menjadi kesadaran membangun solidaritas lewat pembentukan jaringan dalam berhadapan dengan pemerintah daerah yang lalai dan cenderung diskriminatif terhadap warga rumah susun Amplas. 

...Dari sana ia mencoba melihat sosok MUI sebagai sebuah lembaga yang pengaruhnya bukan hanya mengatasi Ormas-Ormas Islam besar seperti NU dan Muhammadiyah, tapi bahkan bisa langsung mempengaruhi (kebijakan) negara tentang kehidupan beragama warganya, padahal, secara kelembagaan MUI bukanlah lembaga negara.   Melalui penelusurannya atas Fatwa MUI tentang Ahmadiyah, Subhi mencoba bergerak memahami sosok MUI saat ini sebagai bagian dari dinamik politik pasca otoritarianisme Orde Baru, ketika hampir semua lembaga yang ada melakukan rekonfigurasi sosial politik untuk memanfaatkan (atau menyesuaikan diri) dengan momentum perubahan kuasa.


...Para peserta pelatihan diajak untuk tidak berhenti hanya pada fakta apa yang ditemui di lapangan dan menuliskannya ke dalam laporan, seperti pekerjaan jurnalistik umumnya, melainkan bergerak lebih jauh dengan melakukan pemeriksaan kritis terhadap apa yang tampak dipermukaan.   Dalam kasus isu kesehatan di Banjar, misalnya, peneliti dianggap baru bisa menyajikan profile atau kisah sukses sebuah program kebijakan sebuah pemerintahan daerah tapi belum mampu menempatkan hal tersebut dalam perspektif yang lebih luas.   Bahwa, misalnya, kebijakan puskemas gratis memang baik, tapi hak warga atas kesehatan tidak sepatutnya dijadikan medium politik, dan bahwa pemenuhan hak atas kesehatan pada dasarnya menjadi kewajiban negara (pusat) sehingga kebijakan tersebut bisa berlaku bagi seluruh warga negara, dan tidak dihambat oleh soal-soal geo-administratif  sebuah pemerintah daerah.


...Masalah umum yang dihadapi masing-masing penulis adalah kecenderungan untuk berpanjang-panjang dengan latar belakang sehingga temuan lapangannya malah cenderung hanya dibahas sepintas lalu; tidak nyambungnya fakta yang disajikan secara tertulis dengan argumentasi yang ingin dibangunnya; ketidakmampuan mengkaitkan problem yang ditemuinya di lapangan dengan konteks persoalan yang lebih besar; penggunaan bahasa yang cenderung berwayuh-makna (ambigu) dan emosional; dan kesulitan dalam mensistematisasikan gagasan yang ditulisnya sehingga laporannya lebih mirip kumpulan fragmentif dari setumpuk data yang tidak saling dukung satu dengan lainnya.
]]></content:encoded></item><item><title>Pemuda dan Perdamaian</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-10-20T20:06:29+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/pemuda_dan_perdamaian.php#unique-entry-id-183</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/pemuda_dan_perdamaian.php#unique-entry-id-183</guid><content:encoded><![CDATA[Ketika nyawa begitu mudah dipaksa lepas dari tubuh yang masih menginginkan kehidupan dan bahkan kebanyakan tubuh-tubuh yang tergolek kaku tersebut, atau terkapar luka-luka di jalanan, rumah sakit, adalah orang-orang yang masih berusia muda membuat kita menahan nafas kecewa, alangkah sayangnya kematian yang muda dengan cara yang sama sekali tak memberi kebaikan pada kehidupan diri sendiri dan orang lain.  


...Dalam diskusi yang bertajuk Pemuda dan Perdamaian: Penguatan Kesadaran Tentang Kesetaraan, Toleransi dan Perdamaian yang diselenggarakan oleh Jaringan Masyarakat Cinta Damai bekerja sama dengan UNDP dan Kementrian Koordinator Bidang Kesra, Rabu, 10 September 2008, Tomagola membahas tentang Pengelolaan konflik dan Pemudaan Perdamaian.&rdquo;   Kata &ldquo;Pemudaan&rdquo; digunakan tidak saja menunjuk pada pemuda sebagai subjek yang berperan dalam perdamaian maupun pertarungan, akan tetapi perdamaian menurut Tomagola harus terus direvitalisasi, dimudakan, agar konflik tidak berakhir dengan penyerangan. 


...Jika Tomagola melihat konflik, kekerasan dan perdamaian dilihat dari sudut pandang sosiologis, Asep Karsidi, pembicara dari kementrian koordinator Bidang Kesra, membahas suatu situasi bahwa konflik yang mengakibatkan kekerasan pasti berakhir pada pemiskinan baru dalam suatu masyarakat. 

...Setelah tahun 1997 sampai dengan 2007 gejala yang ada mulai berubah dari vertikal menjadi horizontal, yaitu kekerasan yang terjadi antara sesama warga masyarakat, antar etnis, antar agama dan lain-lain.  


...Menggarisbawahi apa yang dikatakan Karsidi tentang konflik yang terjadi secara horizontal sejak tahun 1997 hingga 2007, menurut sudut pandang UNDP yang disampaikan oleh Melina Nathan, ahli dalam unit Prevention and Recovery Conflict, di Indonesia konflik etnis, agama sebenarnya hanya merupakan lapisan permukaan dari konflik yang lebih dalam lagi. 

...Ia melihat bahwa konflik tersebut bermula dari kesalahapahaman dan jika kemudian berubah menjadi kekerasan yang memakan banyak korban, menurutnya, karena dalam masa ketegangan tersebut muncul pihak-pihak lain yang menunggangi kesalahpahaman. 

...Sejak itu ia dan timnya menggagas suatu pemberitaan di media yang lebih humanis tentang akibat-akibat yang ditinggalkan setelah adanya kekerasan, misalnya meliput kehidupan sehari-hari janda yang kehilangan suaminya dalam peristiwa tersebut. ]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Penulisan Laporan</title><dc:creator></dc:creator><category>TRAINING</category><dc:date>2008-10-12T22:05:20+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/workshop_penulisan_laporan.php#unique-entry-id-182</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/workshop_penulisan_laporan.php#unique-entry-id-182</guid><content:encoded><![CDATA[Program Pelatihan Penelitian mengenai isu-isu Hak Asasi Manusia dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi dan Hivos, yang diiikuti oleh enam orang peneliti dari dari wilayah Jakarta, Bandung, dan Medan sudah harus berakhir bulan Oktober 2008 ini.   Sejauh ini seluruh tahapan kegiatan telah berlangsung baik, dan semua peserta pelatihan sudah menulisakan pengalamannya masing-masing selama melakukan praktek penelitian dalam Jurnal Personal yang terbit di situs ini sejak akhir Agustus 2008 lalu.   Banyak cerita menarik yang bisa dibaca dari catatan pengalaman para peneliti tersebut, yang justru sangat jelas memperlihatkan bagaimana dinamik proses sebuah penelitian sosial berlangsung.   Dari catatan-catatan itu pula kita bisa melihat bagaimana para peneliti berusaha keras mengatasi keterbatasan dan tantangan, ketika kenyataan yang dihadapi di lapangan tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang semula dibayangkan ketika mempersiapkan penelitian. 


...Seperti aktivitas-aktivitas sejenis yang pernah dilakukan Interseksi selama ini, workshop penulisan sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengajari pesertanya menulis laporan, tapi justru untuk saling berbagi. ...  Aspek-aspek yang akan dibahas merentang panjang dari mulai substansi temuan lapangan, teknis penulisan, pilihan diksi sampai standar penulisan yang biasa dipakai dalam beberapa tradisi akademik. 

...<li>Kedua, secara bersama-sama berupaya meningkatkan ketajaman kemampuan analisa sosial atas substansi penelitian dan relasinya dengan isu-isu HAM di satu pihak dan problem diversitas kultural di pihak lain. 


<li>Ketiga, memeriksa relevansi sosial dari isu-isu yang dibahas dalam tulisan laporan dalam kaitannya dengan kebutuhan untuk memperkuat agenda-agenda advokasi HAM terutama dalam konteks diversitas kultural masyarakat Indonesia.</ul>
]]></content:encoded></item><item><title>PEWARTA (Persaudaraan Warga Tani)</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-10-08T21:16:11+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/pewarta.php#unique-entry-id-179</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/pewarta.php#unique-entry-id-179</guid><content:encoded><![CDATA[Lokasi studiku adalah gerakan tani di Kabupaten Batang, yaitu organisasi yang bergerak di wilayah pesisir pantai utara, namun aku kali ini melakukan perjalanan ke Yogyakarta, kota Gudeg yang sebetulnya harus ditempuh selama kurang lebih 4-5 jam dari kota kabupaten Batang. 

...Sebelumnya, aku mencoba menjelaskan kepada mereka maksud dan kedatanganku yang sebenarnya, bahwa aku pingin sekali mendapatkan cerita utuh tentang PEWARTA, dengan maksud &ndash; paling tidak &ndash; agar dapat menyelesaikan tugas penelitianku, selain itu, aku juga ingin merespon kritik mereka tentang draft laporanku yang sama sekali tidak menyinggung pihak-pihak yang sesungguhnya sangat banyak yang berperan aktif dalam gerak dan langkah FPPB. 

...Karenanya, SMKR pun melakukan pengekerucutan interest gerakan mereka, dan agar menjadikan strategi penguatan terhadap petani menjadi lebih focus, maka mereka membentuk organ lain yang khusus untuk penguatan organisasi tani atau paling tidak yang konsentrasinya khusus untuk kelompok rakyat tani, yaitu PEWARTA &ndash; Persaudaraan Warga Tani. 

...Kehadiran PEWARTA beserta visi dan misinya disambut baik oleh FPPB, dan hal ini menjadi situasi gayung bersambut, dimana FPPB yang memang sangat membutuhkan kehadiran kelompok seperti PEWARTA dan PEWARTA sendiri sedang dalam proses mengaktualisasikan dirinya sebagai kelompok yang dapat memberikan dukungan bagi kemajuan gerakan tani di Batang. 

...PEWARTA pun merumuskannya dengan didasarkan pada hal-hal yang paling dibutuhkan oleh FPPB, dan pada saat awal dijalankannya mandat ini, PEWARTA memandang pendidikan untuk mengetahui secara pasti posisi kasus yang dihadapi adalah prioritas utamanya, dilanjutkan dengan pendidikan keorganisasian, pendidikan kepemimpinan serta pendidikan yang dilakukan belakangan ini adalah pendidikan kader khusus yang diproyeksikan untuk duduk didalam posisi formal di pemerintahan. 

...Secara tidak disadari, mereka melakukan refleksi atas apa yang mereka lakukan selama ini, dan pada akhirnya mereka bersepakat untuk mendudukkan kembali semua persoalan didalam visi bersama mereka yaitu untuk kemajuan organisasi FPPB di Kabupaten Batang dan kemajuan seluruh petani di Indonesia. 

...Hal lain adalah aku mendapatkan cerita tentang FPPB dari pihak yang selama ini kurang didengar namanya dalam kancah perjuangan petani FPPB, dan menurutku, apa yang aku dapatkan akan sangat membantu didalam proses pengungkapan didalam konteks penulisan perjuangan petani bahwa perjuangan petani di Indonesia, dari 3 kasus yang sedang dan sudah dipelajari sangat terkait erat dengan pihak-pihak lain. 

...Begitulah, akhirnya perjalanan yang melelahkan ini, ditengah-tengah semangat membaraku untuk menjalankan ibadah puasa, bagiku, mendapatkan hasil yang lumayan buannnyyaaakkk&hellip; karena aku sudah dapat menerobos dan membongkar sisi lain perjuangan FPPB yang sebenarnya dan sejujurnya dari pihak yang sangat konsisten mendedikasikan dirinya untuk perjuangan FPPB &ndash; aktivis PEWARTA.]]></content:encoded></item><item><title>Pemilu dan Diskursus Politik Anti-Massa</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2008-10-08T09:58:42+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Pemilu_Politik_anti-Massa.php#unique-entry-id-178</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Pemilu_Politik_anti-Massa.php#unique-entry-id-178</guid><content:encoded><![CDATA[<div align=right>&ldquo;In the past, durable democratic institutions emerged out of repeated, long-term struggle in which workers, peasants, and other ordinary people were much involved, even where the crucial maneuvers involved an elite&rsquo;s conspiring in small concessions to avoid large ones. 

...Di sejumlah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung, jumlah mereka yang memilih untuk tidak memilih &ndash;biasanya diseragamkan sebagai golput&mdash;ternyata sangat signifikan.   Kenyataan ini tentunya mengkhawatirkan partai-partai politik kontestan pemilu, sampai-sampai Megawati dan Jusuf Kalla harus melontarkan kritik yang gegabah terhadap mereka yang memilih untuk tidak memilih.   Sementara itu, kita juga melihat bagaimana partai-partai politik kini sangat giat merekrut artis atau figur publik dalam daftar calon legislatifnya.   Tidak kalah penting, konon saat ini semakin banyak aktivis LSM yang masuk ke partai politik, umumnya untuk masuk dalam daftar calon legislatif.


...Memiliki pemimpin di eksekutif atau legislatif yang terkenal di dunia akting atau tarik suara, tetapi tidak memiliki jejak dan kompetensi di bidang politik misalnya, tentulah bukan sesuatu yang patut dibanggakan.   Oleh karena itu perkembangan-perkembangan seperti ini sebenarnya menggugah kita untuk mempertanyakan kembali secara reflektif praktek politik yang selama ini berlangsung, termasuk dalam kaitannya dengan politik elektoral.   Cara terbaik untuk merefleksikannya adalah dengan membongkar kembali struktur kekuasaan yang terbentuk pada masa sebelumnya, dan kemudian memeriksa sejauh mana ia diwariskan pada masa sekarang.
]]></content:encoded></item><item><title>Belajar Dari Senjatanya Orang-Orang Yang Kalah</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-25T17:37:54+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Senjatanya_Orang_yang_kalah.php#unique-entry-id-175</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Senjatanya_Orang_yang_kalah.php#unique-entry-id-175</guid><content:encoded><![CDATA[Perubahan ini yang saya alami setelah diskusi saya dengan Dina dari Interseksi ketika ia datang ke Medan beberapa waktu lalu. 

...Setelah saya sadari, akar masalah sebenarnya adalah ketika informasi yang telah saya dapatkan tentang gerakan KWRS Amplas dalam mempertahankan hak-hak perumahannya selama ini hanya saya rekam di kepala dan membiarkannya mengendap begitu saja.

Dina memang berulangkali mengingatkan saya agar membuat transkrip, menurutnya kalau transkrip langsung dibuat kita akan segera tahu data apa lagi yang akan dibutuhkan dan selain itu juga akan sangat membantu dalam membuat analisis. 

...Dari pemahaman saya setelah membaca buku James, apa yang ia tuliskan tentang gerakan petani di Sedaka, memiliki pola yang hampir sama dengan apa yang dilakukan warga rusun Amplas.   Karakteristik orang Batak yang sering digambarkan sebagai orang yang keras, tidak mau kalah dan ahli berdebat (meski kadang tanpa disertai alasan) menjadi salah satu alat dalam melawan hegemoni yang dilancarkan PD. 

...Kata-kata itu saya cuplik dari pernyataan kepala lingkungan (kepling) lingkungan III, kelurahan Amplas yang menyatakan sikapnya ketika saya berkoordinasi senin lalu kepadanya lewat HP soal Badan Pusat Statistik (BPS) untuk survey tingkat kemiskinan. ...  Ketika saya katakan bahwa warga rusun sudah mengurus KTP, tetapi blankonya yang tidak ada, ia menjawab bahwa sekarang ini memang blanko tidak ada, tetapi dari dahulu jika diminta membuat KTP mereka tidak pernah mau, dan ketika ada masalah baru ramai-ramai mereka sibuk mengurus. 

...Scott dan Hegemoni-nya Antonio Gramsci (beberapa hari kemudian buku itu sudah saya terima) saya banyak belajar untuk kasus KWRS Amplas terutama belajar dari senjatanya orang-orang yang kalah.
]]></content:encoded></item><item><title>Jati Mulya di Bulan Puasa</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-25T04:01:23+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Jati_Mulya_di_Bulan_Puasa.php#unique-entry-id-174</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Jati_Mulya_di_Bulan_Puasa.php#unique-entry-id-174</guid><content:encoded><![CDATA[Saya, sengaja datang tidak terlalu pagi, supaya saya tak mengganggu aktivitas lurah dan perangkat desa di Jati Mulya, di samping, saya juga tidak ingin terlalu lama menunggu buka karena kalau berangkat pagi, siang hari akan berdampak pada kondisi fisik, terutama melawan haus. 


...Satu orang tampak sedang merapikan berkas di agak belakang meja-meja yang lebih banyak kosong dan dua orang lainnya sedang mengisi blangko-blangko untuk entah, karena saya memang tidak melihat lebih dekat aktivitas dua staf itu.


...Tetapi, selama berbincang, saya juga meminta untuk mencatat struktur desa dan meminta nomor kontak Pak Jamun, yang menjadi Plt desa saat ini, menggantikan sementara pak HM Sulaeman, S.Sos yang sudah uzur, yang sayangnya tidak dikasih, dan diharap untuk bertemu langsung esok harinya saja. 


...Dan, saya melihat, sejak di depan al rumah sakit bersalin al-Multazam, orang-orang yang berkerumun di depan pertigaan yang tampak tak terlalu beda dengan hari di luar puasa, beberapa dari mereka terlihat merokok. 


...Waktu itu, hampir iqomah, seorang muadzin sudah maju ke depan, ketika dua orang itu masih bisik-bisik saya maju ke depan, setelah shalat selesai, dugaan saya tak meleset-meleset amat, ia yang bernama Harinto itu, 76 th itu, tiba-tiba mendekat, mengajak bercerita banyak hal, termasuk tanya tujuan ke situ.   Ada beberapa hal yang membuat saya memilih untuk tak mengumbar tujuan saya juga tiba-tiba tak berminat untuk mampir ke rumah bapak bercucu tiga belas dan sudah memiliki buyut tujuh itu.


...Ke raumha pak Syamsul, saya lebih banyak menggiring bicara soal lain karena saya merasa ada yang tak nyaman saya jug beranggapan tujuan saya belum selesai, maka, saya pun pamit, saya memang pengen ke tempat pak Syamsul terlalu saya melewatkan sosis bandeng kalau mampir ke Jati Mulya.

Eit, tetapi, tunggu, saya tadi sempat mengamati bagaimana orang-orang di dua pos tukang ojek dengan wajah-wajah yang memucat seperti menahan haus dan lapar, ada yang duduk-duduk dan ada yang tidur dan kayaknya, mungkin tidak banyak yang bisa dituliskan kepergian ke Bekasi ini tetapi belum usai saya dapat bersua dengan Mas Anton.
]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi Dwibulanan: HAM dan Demokrasi Lokal</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2008-09-21T18:18:01+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/ham_dan_demokrasi_lokal.php#unique-entry-id-173</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/ham_dan_demokrasi_lokal.php#unique-entry-id-173</guid><content:encoded><![CDATA[Diskusi bulanan Yayasan Interseksi putaran ke-22 akan membahas tema problemtik HAM dan Demokrasi Lokal di Indonesia.   Pembicara yang akan memantik diskusi kali ini adalah Samuel Gultom, MA, program officer HAM Yayasan Tifa, Jakarta. 

...<li>Hari/tgl: Senin, 22 September 2008


<li>Waktu: Jam 15.00 - selesai disambung buka puasa


<li>Tempat: Kantor Yayasan Interseksi


...&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Email: office [at] interseksi [dot] org; interseksi [at] gmail [dot] com</ul>


Seperti biasa, karena keterbatasan tempat, diskusi ini hanya untuk jumlah peserta yang terbatas.   Silakan konfirmasikan kehadiran Anda melalui 021-7820 444 (Risna) atau email ke interseksi[at]gmail[dot]com
]]></content:encoded></item><item><title>Perjalananku ke Solo</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-18T18:16:41+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Perjalananku_ke_Solo.php#unique-entry-id-172</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Perjalananku_ke_Solo.php#unique-entry-id-172</guid><content:encoded><![CDATA[Solo adalah kota yang  aku kunjungi setelah kota Malang, tapi bedanya kali ini aku tidak lagi menggunakan kereta api untuk sampai ke Solo. 

...Aku juga tidak banyak berbicara kepada pak supir sepanjang dari kota  Malang menuju Solo  bukan karna angkuh tapi  karna aku lebih menikmati kesendirianku ketika itu.


...&ldquo;Sudah lama menungguku rin&rdquo; Tanya mbak pon. &ldquo;tidak mbak, baru sekitar lima belas menit.&rdquo; jawabku sambil membalas senyumnya. setelah itu mbak Pon langsung membawaku kerumahnya, tapi sebelum sampai kerumahnya Mbak Pon tiba-tiba berhenti untuk makan bakso di warung langganannya di pinggir jalan. &ldquo;kita berhenti sebentar rin, aku mau kamu cobain bakso yang paling enak di kota solo dan ini udah langgnanku dari dulu&rdquo; kata mbak pon. 

...Mbak Sipon banyak bercerita tentang keadaannya sekarang. &ldquo;sekarang dirumah lagi banyak jahitan seragam sekolah, aku udah berhari-hari lembur ngerjain pesenan itu. makanya aku cape banget sebetulnya sekarang, tapi karna kamu mau mau dateng jadinya aku bisa istirahat juga sekalian.&rdquo; kata mbak pon. 

...Mbak Sipon sebagai kepala keluarga, ibu nya mbak Sipon yang sudah berumur delapan puluh tahun tapi masih sanggup mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Wani putri pertama mbak Pon, Fajar putra bungsu Mbak Pon dan mbak Astin seorang pengacara yang selama ini sudah menjadi sahabat bagi mbak Pond an selalu mendampingi mbak Pon ketika mbak Pon menghadapi masalah apapun.

Keesokan paginya aku mulai menanyakan beberapa pertanyaan untuk penelitian yang sedang aku kerjakan, awalnya memang berjalan dengan lancar karna mbak Pon mau menjawab beberap pertanyaan yang aku ajukan tapi kemudian aku melihat beliau sangat tidak nyaman ketika menceritakan kembali apa yang dialaminya. 


Mbak Pon lebih sering termenung sambil mengepulkan asap rokok X Mild nya ketika mencoba menjawab pertanyaanku, sampai akhirnya beliau berkata &ldquo;Sebetulnya masih tidak mudah bagi saya untuk menceritakan peristiwa ini kembali meskipun peristiwa itu sudah berlangsung sepuluh tahun yang lalu, karna hal tersebut bagaikan membuka lagi luka lama saya.&rdquo;   Aku dapat mengerti dan menghargai sekali perasaan beliau, maka akhirnya aku berkata kepadanya &ldquo;Tidak apa jika mbak Pon tidak ingin melanjutkan ini kembali, saya tidak akan memaksakan mbak Pon untuk meneruskan ini.&rdquo; ]]></content:encoded></item><item><title>Narasi Kota Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS)</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-17T18:21:54+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Narasi_Kota_Kecil_Bahagia_dan_Sejahtera.php#unique-entry-id-171</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Narasi_Kota_Kecil_Bahagia_dan_Sejahtera.php#unique-entry-id-171</guid><content:encoded><![CDATA[Namun, rupanya Kota Banjar dahulu adalah temasuk salah satu kecamatan di Kabupaten Ciamis pada kurun waktu Tahun 1937-1940, lalu berubah menjadi kewedanaan pada Tahun 1941-1992. 

...Udara sejuk di kamar hotel mengundang saya untuk tidur siang, namun mengingat ada tugas yang harus saya lakukan saya bergegas keluar dari hotel dan menyewa sepeda motor untuk melakukan observasi. 

...Bila penyakit mereka tak kunjung sembuh atau bertambah parah, mereka berobat ke puskesmas yang ada di wilayah kecamatan yang juga gratis bagi seluruh penduduk atau rumah sakit daerah dengan kelas 3 yang gratis bagi penduduk miskin.


...Kebijakan yang pro rakyat yang digulirkan oleh Herman Sutrisno seperti Pendidikan dan Kesehatan Gratis serta yang paling fantastis adalah ADD (Alokasi Dana Desa) sebesar 1 Milyar untuk 24 desa/kelurahan setiap tahunnya adalah terobosan yang dilakukan beliau selama menjadi walikota. 

...Nah, ketika pemerintah daerah sudah pro rakyat, kebanyakan orang berpendapat peran masyarakat sipil dalam setiap aspek pembangunan sudah tak diperlukan lagi. 

...Saya menemui ada banyak forum warga atau forum masyarakat seperti Forum Masyarakat Peduli Kesehatan (FMPK) untuk isu kesehatan, Forum Peduli Banjar Sehat (FPBS) untuk isu kebersihan dan tata ruang kota, LSM Gempur, Forum Sarjana Pendamping untuk pengalokasian ADD, serta Forum Desa Siaga dan Kader Desa Siaga untuk isu pemberdayaan perempuan dan anak. 


...Sekelumit pengalaman penelitian saya di Kota Banjar ini benar-benar menggugah saya untuk bersemangat dalam melakukan advokasi sehingga suatu hari kondisi Kabupaten Bandung bisa seperti Kota Banjar. 

...Ketika warga terlibat dalam perencanaan... ketika banyak forum warga dan kelompok masyarakat yang mengawasi pembangunan, ketika rakyat mendapat jaminan kesehatan dan pendidikan, dan ketika pengentasan kemiskinan dimulai dari desa.   ]]></content:encoded></item><item><title>Bingung Aku&#x21;</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-15T19:36:59+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Bingung_Aku.php#unique-entry-id-169</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Bingung_Aku.php#unique-entry-id-169</guid><content:encoded><![CDATA[Ketika Dina bertanya padaku tentang hasil wawancaraku, aku bisa memberikan informasi yang banyak (menurut Dina) sehingga aku tidak perlu lagi sebenarnya mencari data kelapangan karena hampir semua data yang dibutuhkan sudah ada di tanganku. 

Gerakan Kelompok Warga Rumah Susun (KWRS) Amplas dalam mempertahankan hak-hak perumahan, yang menjadi subjek penelitianku, memang  tidak asing bagiku.   Baik hubungan dengan warga di rusun secara kelembagaan (YPRP &ndash; KWRS), secara pribadi (beberapa kali mereka curhat tentang masalah rumah tangganya) ataupun perkembangan kasusnya aku sudah mulai hapal. 

...Padahal saat workshop Agustus lalu kami sudah diwanti-wanti agar jangan menulis dengan &ldquo;marah&rdquo; dan saat itu aku yakin bahwa aku bisa melakukannya, tapi dugaanku salah, nyatanya aku masih belum bisa melakukannya seobjektif mungkin.

...Kelompok pertama adalah warga yang berjuang mempertahankan rumah susun yang tergabung dalam KWRS Amplas dan kelompok kedua yaitu kelompok warga yang pro pada kebijakan yang dibuat oleh PD. 

...Pembangunan sehingga sadar akan hak-haknya dan ikut sama-sama berjuang sehingga konflik yang selama ini terbangun bisa terkikis habis. 

...Disini aku mulai bingung apakah informasi tentang strategi tersebut perlu aku sher ke kawan-kawan KWRS, yang tentu saja jika itu kusampaikan dapat membantu mempermudah gerakan mereka dalam menyusun strategi tandingan ini jika melihat kebutuhanku sebagai pendamping, tapi kalau itu kulakukan menurutku (sebagai peneliti) tidak etis. 

...Semua itu tidak lain karena hanya kurekam dalam kepalaku, kubiarkan menumpuk dan kalaupun sudah kutuliskan lalu kusembunyikan dan kunikmati sendiri. ]]></content:encoded></item><item><title>Observasi dan Wawancara</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-16T18:21:37+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Observasi_dan_Wawancara.php#unique-entry-id-164</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Observasi_dan_Wawancara.php#unique-entry-id-164</guid><content:encoded><![CDATA[Rumusan pertanyaan riset yang sudah di susun sudah lebih fokus setelah saya memperoleh beberapa data awal hasil riset pustaka dan juga hasil dari monitoring kasus di Ciputat beberapa hari sebelumnya. ...  Karena itu berbagai informasi yang ia berikan sudah memenuhi target yang ingin saya gali, meskipun beberapa pertanyaan harus diperkuat dengan data tertulis. 

...Secara kebetulan, wawancara ini saya lakukan ketika yang bersangkutan baru saja kembali dari keliling beberapa daerah di Sulawesi dalam rangka sosialisasi SKB tiga menteri tentang Ahmadiyah.   Karena itu sebelum pertanyaan saya ajukan, saya minta dia bercerita mengenai hasil perjalanannya ke Selawesi tersebut, apa yang di lakukan dan bagaimana hasil kegiatan keliling tersebut.   Satu hal yang menarik, tidak semua masyarakat di grass root melihat SKB sebagai acuan hukum yang mengikat, sebagian malah menganggapnya sebagai himbauan Pemerintah Pusat yang tidak wajib diikuti Pemerintah Daerah. 

...Beberapa pertanyaan yang saya ajukan antara lain: Apa yang JAI alami pasca keluarnya fatwa MUI tahun 2005? 

...Contoh kongkrit, selama satu minggu terakhir (sejak tanggal 25 Agustus-4 September) belum ada aktifitas penelitian lain yang dilakukan karena harus berbagi dengan beberapa kegiatan lain.   Meskipun pada dasarnya, beberapa aktifitas diluar penelitian secara tidak langsung terkait dengan substansi penelitian, namun kendala ini saya coba atasi dengan pengayaan literatur dan data kepustakaan. ]]></content:encoded></item><item><title>Dokumen yang Menyelamatkanku dari Bahasa Jawa</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-12T18:03:51+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Dokumen_yang_Menyelamatkanku_dari_Bahasa_Jawa.php#unique-entry-id-163</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Dokumen_yang_Menyelamatkanku_dari_Bahasa_Jawa.php#unique-entry-id-163</guid><content:encoded><![CDATA[FPPB termasuk organisasi yang baik didalam memperlakukan berkas-berkas surat menyurat, mereka melakukan filing yang baik, sehingga bagi siapapun yang akan mengaksesnya dengan mudah kemudian mengerti apa yang sedang terjadi di FPPB.   Saya termasuk salah satu yang betul-betul mendapatkan manfaat dari upaya baik mereka, karena saya kemudian mengandalkan dokumen-dokumen tersebut sebagai awalan diskusi dengan seluruh personil FPPB.


...Di tengah-tengah sedang berpikir keras untuk mengingat kata demi kata dalam Bahasa Jawa, ketika saya memasuki ruangan computer &ndash; begitu mereka menyebut salah satu ruangan di rumah tua yang dijadikan sekretariat FPPB &ndash; saya sangat gembira karena saya melihat barisan map yang bertuliskan nama kasus yang ada di FPPB atau nama OTL anggota FPPB. 

...Selain itu, saya juga berhasil merekonstruksi berbagai perubahan dari waktu ke waktu, sehingga saya dapat memahami dengan baik bagaimana FPPB dikatakan telah &lsquo;berhasil&rsquo; membangun strategi perjuangan sehingga dapat mendudukan kadernya menjadi kepala desa, hal ini pula yang kemudian FPPB sangat identik dengan semboyan &ldquo;Dari Gerakan Sosial Menuju Gerakan Politik&rdquo;.


Kembali ke soal bagaimana proses dokumentasi yang baik, setidaknya telah membantu saya di awal proses penelitian lapangan ini &ndash; khususnya dalam persoalan bahasa - tetapi dalam konteks penelitian yang lebih luas, dokumen yang sifatnya official seperti dokumen yang ada di FPPB dapat dijadikan data yang valid. ...  Salah satunya adalah tidak tergambar sama sekali didalam dokumen yang saya pelajari, bahwa banyak pihak-pihak diluar organisasi tani yang membantu atau menjadi motor gerakan FPPB.   Hal ini hanya bias didapatkan dengan cara melihat langsung kerja keseharian mereka, atau melakukan wawancara mendalam untuk mengetahui siapa-siapa saja pihak yang terlibat di masa lalu dan tidak terlibat lagi di masa sekarang, dan mengapa.   Tentunya banyak hal yang tidak terinci didalam dokumen, dan harus ditanyakan langsung, misalnya tentang strategi yang sedang berjalan, kenapa strategi bias berubah-ubah setiap saat, dan saat kapan strategi bias berubah dan untuk tujuan apa, dan terakhir yang selalu ingin saya tanyakan, apakah perubahan strategi yang dilakukan setiap saat akan mempengaruhi target besar perjuangan?
]]></content:encoded></item><item><title>Ini Medan&#x2c; Bung&#x21;</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-09T02:41:55+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Ini_Medan_Bung.php#unique-entry-id-155</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Ini_Medan_Bung.php#unique-entry-id-155</guid><content:encoded><![CDATA[Aku pikir dari pada aku tidur di hotel sendirian, sepi, tidak tahu tempat, lebih baik aku menginap di Romi dengan harapan aku bisa tahu bagaimana bahasa Batak sehari-hari. 

...Rumah petak di rusun itu hanya berukuran 2-x4 yang terbagi dalam ruang depan tempat kami&mdash;para tamu&mdash;duduk, dua kamar tidur yang tampakny tak berjendela dan tak berfentilasi, secuil dapur dan mungkin dibelakang ada secuil lagi wc. 

...Mereka menceritakan tentang aksi yang terakhir yang dilakukan KWRS Amplas, kisah menginap di DPR, bagaimana diejek oleh warga rusun lain yang tidak sepaham dengan mereka dll. ...  Bu Napit juga bercerita tentang kasus pemadaman listrik dan bagaimana mereka memikirkan nasib anak-anak yang terganggu belajarnya, sehingga memutuskan untuk mulai melakukan aksi. 

...Ketika aku dan pemuda itu asyik mengobrol, Romi sedang  bicara dengan Namboru, tetangga bu Napit, sehingga tak ada pilihan lain bagi Bu Napit selain mendengar aku dan pemuda itu bicara. ...  Aku kembali bertanya pada Bu Napit seputar pengalamannnya sebagai pemimpin aksi, dan beliau menjawab dengan antusias, berkali-kali memuji pemuda yang duduk di hadapannya, kalau tidak karena mahasiswa ini, teman-teman YRPP, kami tak bisa jalan, kata beliau.

...Tetapi kami tidak memutuskan makan di terminal Amplas, sehingga kami menahan diri lagi makan siang sampai di kantor YRPP jam 16.00. 

...Ketika pesawat akhirnya take off, aku hanya berharap selamat sampai di Jakarta, sampai di kos dan besok bertemu teman-teman lagi. ]]></content:encoded></item><item><title>Catatan dari Interim Meeting Peneliti HAM dan Diversitas Kultural</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-09-07T04:08:27+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Catatan_dari_Interim_Meeting.php#unique-entry-id-150</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Catatan_dari_Interim_Meeting.php#unique-entry-id-150</guid><content:encoded><![CDATA[Untuk mendiskusikan temuan awal dan hambatan-hambatan yang ditemui pada proses praktek penelitian lapangan, Interseksi mengundang semua peserta pelatihan yang melakukan praktek di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah untuk mengikuti sebuah interim meeting di kantor Interseksi di Lenteng Agung, tanggal 24 Agustus 2008.  


Dari pembicaraan di forum pertemuan ini, tampaklah bahwa para peneliti menemukan banyak hal baru di lapangan, baik yang berkaitan dengan topik yang diangkat menjadi tema penelitian, sampai pada hubungan antara para peneliti dengan subyek yang diteliti serta beberapa hal yang muncul di luar dugaan atau,&rsquo;tidak terencana sebagaimana dalam riset desain&rsquo;. 

...Hilma melakukan riset mengenai dinamika lokal gerakan tani khususnya di Kabupaten Batang, Jawa Tengah,  sebagai salah satu gambaran mikro bagaimana sebenarnya agenda-agenda pembangunan negara neoliberalisme sedang berjalan di Indonesia. 

...Dengan melakukan refleksi terhadap pembacan literatur dan obsevrasi lapangan, riset Hilma ini diharapkan dapat memberi gambaran mengenai gerakan petani Batang sebagai suatu gerakan dengan karakter khas di Indonesia (asia) oleh sebab itu, masih harus dicari referensi mengenai gerakan serupa dalam konteks Asia.


...Selain itu, Subhi juga menemukan hal yang penting, melalui kajian literarur laporan terhadap proses penanganan penyerangan terhadap Ahmadiyah Indonesia, bahwa selain SKB didasari oleh fatwa MUI yang dijadikan dasar penyerangan,  tidak ada referensi lain yang menunjukkan pendapat suatu organisasi lain. 

...Dari percakapan dengan beberapa narasumber kunci Westy menemukan bahwa service minimallah yang akan didapatkan oleh masyarakat melalui pelayanan kesehatan gratis, sementara kebutuhan riil yang ada di masyarakat tidak hanya apa yang tersedia dalam pelayanan kesehatan itu. 

...Poin menarik lain yang ditemukand ri kajian literatur dan dokuemn yang dilakukan esty untuk isu riset ini adalah adanya berita di Kompas bahwa &lsquo;demokrasi mati di banjar&rsquo;, dilihat dari ketiadaan &lsquo;rival&rsquo; walikota Banjar sekarang (Herman) dalam pencalonan bupati sekarang. ...  Temuan westy di lapangan mengenai bagaimana Walikota Banjar mendorong transparansi anggaran pembangunan daerah, dan dialah otak dari kebijakan akses pelayanan kesehatan untuk masyarakat; diharapkan sekaligus dapat memberikan pandangan alternatif bahwa demokrasi prosedural tidak selamanya berjalan beriringan dengan tujuan kesejahteraan yang lebih diperlukan oleh masyarakat.
]]></content:encoded></item><item><title>Universalisme Pelayanan Kesehatan di Kota Banjar</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-08T17:48:33+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Universalisme_Pelayanan_Kesehatan_di_Kota_Banjar.php#unique-entry-id-148</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Universalisme_Pelayanan_Kesehatan_di_Kota_Banjar.php#unique-entry-id-148</guid><content:encoded><![CDATA[Hak ini telah dijamin dan menjadi kesepakatan global yang dituangkan dalam berbagai dokumen atau perjanjian internasional, mulai dari Deklarasi Umum Hak-Hak Asasi Manusia (DUHAM) Tahun 1948 sampai yang terakhir, misalnya, Penjelasan Umum (General Comments) No.14/2000 dari Kovenan Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang khusus mengatur kewajiban negara dalam penegakan hak-hak atas perawatan dan pelayanan kesehatan warganya. 

...Selama puluhan tahun di Indonesia, retorika &rdquo;kewajiban bersama semua pihak &rdquo; itu sering dijadikan alasan oleh para pejabat pemerintah yang korup untuk mengelak dari mandat politik dan kewajiban hukum internasional mereka.


Hanya saja, jika kita berbicara tentang HAM, maka persepsi orang saat ini adalah hak-hak mendasar dari manusia seperti hak untuk hidup, memenuhi kebutuhan dasar (makanan, pakaian, dan perumahan) mengutarakan pendapat, dan sampai kepada hak untuk bebas dari rasa takut. 

...Kemudian timbul pertanyaan tentang penghilangan nyawa, kecacatan, dan penyitaan harta benda seseorang bukan karena faktor &rdquo;kekerasan&rdquo; intervensi fisik seperti diatas, tetapi kehilangan akibat keterpaksaan orang karena sistem atau kebijakan dalam bidang kesehatan yang tidak memihak mereka. 

...Ketika 48 tahun lalu, 10 Desember tahun 1948, PBB mengadopsikan "Universal Declaration of Human Rights" sebagai dokumen PBB disana ada keyakinan yang besar bahwa hak asasi manusia itu adalah sesuatu yang universal sifatnya, tidak tergantung pada dan tidak terikat oleh ras, jenis kelamin, agama, dan lain-lain. 

...Prinsip moral hak asasi yang berubah itu menuntut bahwa seorang tidak bisa memperlakukan setiap orang sama, bukan dengan alasan bahwa setiap orang itu tidak sama dalam kemanusiaannya, tetapi hubungan sosial membuatnya berbeda dan harus diperlakukan beda. 

...Tak mau dipusingkan dengan polemik siapa yang kaya dan siapa yang miskin atau siapa yang rentan dan siapa yang hampir miskin, Pemerintah Kota Banjar menerapkan kebijakan puskesmas bebas biaya ini bagi seluruh penduduk.


Selain itu pemahaman bahwa kesehatan merupakan hak warga negara tampak melalui aturan yang menyatakan bahwa setiap penduduk yang memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga) Kota Banjar dapat memperoleh pelayanan puskesmas bebas biaya. ]]></content:encoded></item><item><title>Minoritas dan Diversitas: Cerita dari Kaliurang</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-09-03T23:04:39+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Minoritas_dan_Diversitas.php#unique-entry-id-147</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Minoritas_dan_Diversitas.php#unique-entry-id-147</guid><content:encoded><![CDATA[Diveritas menarik wacana tentang kebangsaan modern pada sebuah dilema tanpa putus: tarik-tolak antara dorongan meleburkan diri ke dalam bangsa dan kenyataan bahwa peleburan semacam itu dalam prakteknya lebih sering merupakan praktek perampasan oleh negara seperti yang terjadi dalam kasus hak-hak masyarakat adat.    


...Salah seorang peserta lain, sejak Sessi perkenalan bahkan sudah merasa sebagai orang asing dalam pertemuan tersebut karena ia merasa tidak mengenal sebagian besar peserta lain.  </h4>


...Tahun 1945, Sukarno dan puluhan tokoh lainnya sepakat membenum Pancasila menjadi sebuah platform layer di atas apa segenap perbedaan akan diselenggarakan dengan patokan yang teguh: bhinneka tunggal ika, mengatasi perbedaan adalah tekad untuk berpadu dalam satu kebangsaan yang sama, Indonesia. 


...Dimulai dengan presentasi singkat masing-masing peserta tentang pemahaman atas isu yang diperjuangkannya dan pengalaman spesifik selama perjuangkan tersebut dilakukan masing-masing pihak, forum secara sistematik diarahkan untuk mencari peluang-peluang bagi berlangsungnya sinergi antar aktor-aktor yang hadir.   Salah satu hal penting yang kemudian disadari oleh para peserta pertemuan adalah kenyataan bahwa meskipun bekerja pada lahan isu yang relatif konvergen, aktor-aktor ini cenderung saling merasa asing satu dengan lainnya.   Yando Zakaria, misalnya, memberi contoh tentang bagaimana Interseksi melakukan beberapa penelitian tentang komunitas-komunitas lokal di Indonesia tapi tidak pernah satu kali pun merujuk pada publikasi-publikasi AMAN. ...  Salah seorang peserta lain, sejak Sessi perkenalan bahkan sudah merasa sebagai orang asing dalam pertemuan tersebut karena ia merasa tidak mengenal sebagian besar peserta lain. 


...Maka di luar beberapa kesepakatan tentang agenda bersama dan kerangka logis pengelolaan kebhinekaan yang berhasil dirumuskan dalam pertemuan dua hari tersebut, manfaat terbesar forum ini, paling tidak menurut saya, adalah mendorong sebagian peserta, kalau bukan seluruhnya, untuk saling faham tentang kapasitas dan keterbatasan masing-masing. ]]></content:encoded></item><item><title>Dari Pertanyaan ke Observasi Awal</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-03T22:42:40+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Dari_Pertanyaan_ke_Observasi_Awal.php#unique-entry-id-146</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Dari_Pertanyaan_ke_Observasi_Awal.php#unique-entry-id-146</guid><content:encoded><![CDATA[Ketiga kelompok pertanyaan tersebut menggambarkan setiap perspektif dari informasi yang ingin digali dalam riset ini yakni kelompok pertanyaan untuk pemerintah/negara, kelompok pertanyaan untuk pengamat dan praktisi HAM serta yang terakhir kelompok pertanyaan untuk korban.


Pengelompokan seperti ini sengaja saya gunakan dengan harapan akan memenuhi tujuan dari riset ini yakni mengetahui bagaimana persepsi pemerintah/negara terhadap MUI sebagai organisasi keagamaan yang memiliki peranan sangat besar dalam lahirnya keputusan pemerintah (SKB) terhadap Ahmadiyah. 

...Karena itu, sejak tanggal 13-19 Agustus 2009 saya mulai melakukan penelusuran berbagai sumber kepustakaan serta literatur-literatur terkiat fatwa MUI, berbagai kebijakan pemerintah terkait Ahmadiyah dan berbagai kasus kekerasan terhadap Ahmadiyah khususnya antara tahun 2005-2008. 


...Dalam penelusuran ini saya memperoleh data yang cukup banyak terutama riset-riset dan analisa dari berbagai kalangan mengenai fatwa MUI tentang Ahmadiyah. ...  Meskipun buku ini lebih tepat dikatakan sebagai kumpulan analisa, namun sebagai data awal saya menangkap nuansa perdebatan yang sangat kental dan polemik di masyarakat yang sangat luas menyambut keluarnya 11 fatwa MUI tahun 2005, termasuk salah satu yang paling krusial, fatwa tentang kesesatan Ahmadiyah.


...Riset yang dilakukan di Bogor dan Kuningan ini sangat membantu saya dalam membangun fondasi riset ini, terutama dalam melihat sentralitas peran MUI dalam berbagai kasus diskriminasi dan kekerasan terhadap Ahmadiyah. 

...Meskipun disini tidak ada satu perpustakaan yang dikelola secara rapi dan sistematis, namun disini terdapat berbagai data dan dokumentasi yang saya butuhkan terutama data-data kekerasan yang dialami warga JAI dan bukti-bukti penggunaan fatwa MUI sebagai legitimasi pelaku kekerasan.

...Proses membuat janji dengan para narasumber ini menjadi satu persoalan tersediri karena banyak agenda yang akhirnya harus tertunda karena beberapa narasumber tidak bisa diwawancara pada hari yang sudah direncanakan. ]]></content:encoded></item><item><title>Catatan tentang Perjalanan Wawancara ke Malang</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-08-31T08:33:05+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Catatan_tentang_Perjalanan_Wawancara_ke_Malang.php#unique-entry-id-145</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Catatan_tentang_Perjalanan_Wawancara_ke_Malang.php#unique-entry-id-145</guid><content:encoded><![CDATA[Sesekali aku bertanya tentang alamat yang akan aku tuju, yaitu jalan Lahor tempat bapak dan ibu Utomo tinggal, dan beliau menjawab &ldquo;wah, itu bisa pake becak kok mbak kalau mau ke sana, paling mahal cuma lima ribu aja. 

...Tengah malam ketika aku mulai mengantuk, aku di kagetkan dengan suara para pedagang yang masuk ke dalam kereta api untuk menjajakan dagangannya, padahal kereta api yang kunaiki seharusnya tidak boleh ada pedagang yang masuk untuk berjualan ke dalam. 

...Aku hanya diberikan alamat rumah oleh pak Utomo, tapi beliau tidak mengatakan akan menjemputku sesampainya aku di stasiun Malang. ...  Bapak tersebut langsung membawakan tas yang aku pegang ke becaknya di depan stasiun, tapi sebelum sampai di becaknya ternyata pak Utomo sudah menungguku di depan stasiun. 

...Lagipula tidak apalah karena kita juga kan tidak ada pekerjaan apa-apa dan mereka sudah saya anggap sebagai cucu sendiri, sebentar lagi mereka juga datang mbak.&rdquo; jawab ibu Utomo.


...Bapak dan ibu beserta ketiga anak tersebut langsung tertawa mendengar komentar ku, &ldquo;ini sebetulnya memang cucu kami kok mbak, kamu ditipu sama bapak dan ibu,&rdquo;  jawab ibu Utomo. 

...Selama proses wawancara, bapak dan ibu terlihat sedikit lebih tegang dibandingkan dengan ketika mengobrol secara informal di dapur atau sambil menonton televisi atau ketika aku ikut minum kopi bersama bapak di dapur sambil merokok. 


...Keesokan harinya, sebelum aku berangkat ke Solo untuk bertemu dengan keluarga Wiji Thukul, salah satu aktivis yang dihilangkan juga secara paksa di tahun 1997 menjelang 1998, Ibu Utomo memperlihatkan surat-surat dari Bimo yang dikirimkan sebelum Bimo Hilang. ]]></content:encoded></item><item><title>Belajar Spradley di Jatimulya</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-08-31T08:28:24+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Belajar_Spradley_di_Jatimulya.php#unique-entry-id-144</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Belajar_Spradley_di_Jatimulya.php#unique-entry-id-144</guid><content:encoded><![CDATA[Saya, masuk ke Jati Mulya pertama kali untuk melakukan wawancara guna memverifikasi dari apa yang saya temukan dari dunia maya atas penutupan gereja di Jati Mulya, kecamatan Tambun Selatan kabupaten Bekasi sebagai bagian dari pemantauan atas kasus-kasus diskriminasi dan intoleransi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Jawa Barat.


...Karena, dalam amatan saya, apa yang terjadi di Jati Mulya, tampaknya mewakili tipikal beberapa penutupan gereja di tempat lain, terutama di Bekasi yang setidaknya, memiliki kesamaan dalam hal, adanya beberapa gereja dalam satu kawasan yang kemudian ditutup oleh warga. 


...Hutajulu, Pendeta Gekindo Getsemane, salah satu dari tiga gereja yang ditutup di Jati Mulya, untuk penelitian ini, saat datang ke Jati Mulya, saya sengaja turun di Jalan Melati Raya, jalan ke arah Gereja Gekindo Getsemane dan Gereja HKBP Getsemane berada. 


...Untunglah saya bisa berbincang dengan Ibu Yeti, adik pendeta yang aktiv di lembaga al Kitab, dan selalu mengawal Pendeta Hutajulu saat melakukan kebaktian di jalan selama delapan minggu akibat gereja ditutup dan disegel tahun 2005 lalu. 


...Tetapi, dari apa yang ia tangkap, di masjid at Taubah, yang berada di belakang rumah tinggalnya, hampir ia tak mendengar suara keras.


...Mulanya, saya ingin jum&rsquo;atan di masjid al-Muttaqin, di tempat yang sebelumnya, saya melihat selebaran-selebaran FPI dan majalah suara Muhammadiyah di dalam masjid itu. 

...Tetapi, tak salah juga sebetulnya saya jum&rsquo;atan di masjid al Taubah, karena saya bisa menangkap gerak kultural masjid yang memiliki tradisi seperti lazimnya orang-orang NU. 

...Meski, dalam wawancara itu, ia juga acap bertanya soal isu, dari apa yang ia dengar dari orang-orang, bahwa di kampung itu tidak ada orang Kristen. ]]></content:encoded></item><item><title>Siaran Pers Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran</title><dc:creator></dc:creator><category>CLIPPINGS</category><dc:date>2008-08-22T19:51:24+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Siaran_Pers_Yayasan_Pembela_Rakyat_Pinggiran.php#unique-entry-id-143</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Siaran_Pers_Yayasan_Pembela_Rakyat_Pinggiran.php#unique-entry-id-143</guid><content:encoded><![CDATA[43 KK rakyat miskin kota yang terdiri dari balita, anak-anak, dan orang dewasa, serta manula, laki-laki dan perempuan, harus menjalani hidup dalam kegelapan ditengah Kota Medan. 

...Pembangunan dan PLN Cabang Medan telah mencabut hak rakyat miskin kota yang tergabung dalam KWRS Amplas atas hak atas standard hidup yang layak (rights to an adequate standard of living) dan hak untuk hidup bermartabat (rights to life dignity).   Hal ini terjadi dikarenakan dampak ikutan yang diikutinya sangat dasyhat, tidak adanya akses terhadap listrik menghilangkan juga akses terhadap fasilitas air bersih, akses terhadap informasi, anak-anak tidak dapat belajar dimalam hari, perempuan kesulitan melakukan pekerjaannya, dimalam hari hidup dalam kegelapan, serta masalah ekonomi baru, sebab warga harus membeli minyak lampu yang sangat mahal buat mereka untuk penerangan dimalam hari. 

...Akhirnya warga mendapatkan kekerasan berlapis-lapis, telah dimiskinkan oleh sistem pembangunan yang tidak adil, juga harus menanggungkan beban tambahan karena  Negara tidak melakukan upaya yang cukup dalam memenuhi hak-hak warga atas standard hidup layak, melakukan pembiaran terhadap kondisi diatas yang harusnya bisa dicegah, disamping itu, juga melakukan upaya teror dan intimidasi berupa langkah kriminalisasi kepada 2 orang pimpinan KWRS Amplas melalui penerbitan surat P2TL oleh PLN Cabang Medan senilai hampir 12 juta. 

...Upaya-upaya KWRS Amplas untuk mendorong pemerintah memenuhi hak atas fasilitas listrik sebagai bagian dari hak atas standard hidup yang layak dan hak untuk hidup bermartabat masih menjadi mimpi kosong rakyat miskin kota. 

...Pembangunan dan PLN Cabang Medan yang tidak melaksanakan tanggung jawabnya dalam penyelesaian akses atas fasilitas listrik di Rumah Susun Amplas. 


...Mendesak Gubernur Sumatera Utara untuk melakukan langkah-langkah yang cukup dalam melindungi dan memenuhi hak-hak rakyat miskin kota KWRS Amplas atas penerangan listrik sebagai bagian dalam hak-hak atas standard hidup yang layak dan hak untuk hidup bermartabat. 


...Pembangunan Kota Medan untuk menghentikan segala bentuk kekerasan, baik terror maupun intimidasi kepada KWRS Amplas dalam memperjuangkan hak-haknya sebagai warga Kota Medan.  
]]></content:encoded></item><item><title>Cerita Pendek Agustus</title><dc:creator></dc:creator><category>SHORT STORY</category><dc:date>2008-08-23T13:02:49+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Hari_Merdeka_Bagi_Kasih.php#unique-entry-id-142</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Hari_Merdeka_Bagi_Kasih.php#unique-entry-id-142</guid><content:encoded><![CDATA[Sejak memasuki bulan Agustus, sepanjang jalan di gang menuju rumah bilik kami, warna merah putih berkibar-kibar, bergelantung, bahkan rumah-rumah gubuk di sekitarku dicat merah putih. 

...Aku tergeragap, bagaimana anak kecil ini bisa tahu apa yang ada dalam pikiranku.

...&ldquo;Kamu lihat baik-baik wajah laki-laki itu, kelak kalau lahir adik baru, kamu tau siapa bapaknya.&rdquo;

...Laila bilang rumah-rumah di kompleks ini tak seberapa besar, bentuknya kebanyakan sama, tetapi mereka banyak juga yang mempunyai mobil. 

...Tujuh tahun lalu dalam bulan-bulan awal membesarkan Kasih, saat perasaanku didera begitu takut adikku yang kurus itu akan mati, aku berkali-kali mengamati laki-laki itu. ...  Sampai sekarng aku masih hidup di jalanan, dan tidak memaknai apa yang kulakukan dulu itu sebagai sesuatu yang bodoh. ...  Aku rasa ibuku tak sekejam itu, sampai usia itu aku masih sadar, aku dan adik-adikku masih selalu bersama.   Meskipun aku sering berpikir, benarkah salah satu adikku, yang lahir beberapa tahun di atas Jonah, anak laki-laki bernama Rio, diangkat anak oleh keluarga kaya yang sangat menginginkan anak? ]]></content:encoded></item><item><title>Dari Diskusi KeIndonesiaan dan Modernitas</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-08-17T10:35:32+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Dari_Diskusi_KeIndonesiaan_dan_Modernitas.php#unique-entry-id-140</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Dari_Diskusi_KeIndonesiaan_dan_Modernitas.php#unique-entry-id-140</guid><content:encoded><![CDATA[Walaupun secara organisasional tidak formal berhubungan, demikian sentralnya peran para seniman dan budayawan Lekra dalam politik PKI, sebagian kalangan bahkan meyakini bahwa PKI tidak akan sampai besar tanpa Lekra.  

...Sukarno dan sederet panjang para pendiri republik ini mungkin melihat Indonesia lebih sebagai sebuah panggilan untuk melawan bukan hanya kuasa kolonialisme dan imperialisme tapi juga selubung mitos yang membuat banyak orang merasa nyaman dengan masa silam, tenteram dalam buaian satuan-satuan komunal. 

...Dalam penelitian yang dilakukan oleh ISSI terhadap para seniman dan budayawan sebelum dekade 60an, baik yang tergabung dalam Lekra,  PNI atau Masyumi sebagai  bagian dari eksplorasi pada periode   dekade 20an sampai 60an,  nampak ada perubahan tentang keIndonesiaan dan modernitas setelah kemerdekaan itu tercapai. 

...Walaupun secara organisasional tidak formal berhubungan, demikian sentralnya peran para seniman dan budayawan Lekra dalam politik PKI, sebagian kalangan bahkan meyakini bahwa PKI tidak akan sampai besar tanpa Lekra.  

...Ratih kemudian melontarkan pertanyaan kepada peserta diskusi, ketika berhadapan dengan kelompok-kelompok masyarakat yang dianggap belum modern,  sebagai intelektual yang sepakat dengan keharusan melakukan proses modernisasi, apa yang harus dilakukan. 

...Di sisi lain, peserta diskusi juga menyoroti tabiat politik beberapa pemerintahan daerah yang belakangan sangat gencar mempromosikan lokalitas daerahnya masing-masing, pada dasarnya adalah upaya membelokkan perhatian dari ketidaksanggupan mereka memerangi korupsi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat kepada pemujaan simbol-simbol kultural tradisional.


...Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah penekanan pada perayaan keragaman (celebriting diversity) seperti yang sering dipakai oleh beberapa kelompok advokasi harus berhenti pada dirinya sendiri, dan tidak mengindahkan konteks di dalam apa perayaan itu dilakukan. 

...Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, yang juga hadir dalam diskusi kali ini sepakat bahwa ada agenda neoliberalisme yang saat ini bekerja seperti strategi kekuatan kolonial di masa lampau, ketika perusahaan swasta (seperti VOC) mempunyai kekuatan yang hampir tidak terbatas sementara peran negara terus-menerus dipersempit. ]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Workshop Pelatihan Penelitian HAM</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-08-13T19:14:00+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Workshop_Pelatihan_Penelitian_HAM.php#unique-entry-id-139</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Workshop_Pelatihan_Penelitian_HAM.php#unique-entry-id-139</guid><content:encoded><![CDATA[Workshop pelatihan penelitian HAM dan Diversifikasi Kultural yang diadakan oleh Yayasan INTERSEKSI, bekerjasama dengan HIVOS, 7-9 Agustus 2008 di Wisma Aryanti, kawasan Cisarua, Puncak, kabupaten Bogor, diikuti oleh 6 (enam) peneliti muda dari Jabodetabek dan Medan, 3 (tiga) narasumber dari Jakarta dan 3 peserta dari Interseksi dan Yayasan TIFA.   Ide untuk melakukan penelitian oleh para aktivis HAM ini berawal dari keinginan para peneliti Interseksi untuk memberikan dukungan bagi para aktivis HAM dengan dasar-dasar penelitian sosial yang kuat sehingga bisa membangun argumentasi yang kukuh untuk menopang kerja-kerja advokasinya.  

...Problem lain yang juga umum ditemui di kalangan aktivis advokasi adalah faktor kedekatan atau bahkan ikatan/problem emosional dengan subjek penelitiannya, yang menyulitkan mereka membuat sebuah jarak-kritis untuk menghasilkan sebuah kajian yang bisa dipercaya. 

...Beberapa isu yang diangkat sebagai topik penelitian di antaranya mencakup persoalan jaminan kesehatan masyarakat sebagai hak masyarakat di Banjar, Jawa Barat, hak perumahan yang layak di Amplas Medan, hak kebebasan beragama dan keyakinan di Bekasi dan Jakarta, serta hak terhadap akses pertanahan di kabupaten Batang, Jawa Tengah. 


...Secara substantif keenam peneliti sangat memahami lekuk-liku dari isu atau topik-topik yang diangkat ke dalam kertas kerja penelitian sebagai dasar bagi suatu advokasi. ...  Selain itu, melalui f&oacute;rum diskusi yang intens di antara para peneliti dan para nara sumber,  kemampuan para peneliti untuk mengorganisasikan wawasan mereka serta merumuskan masalah utama yang hendak diteliti menjadi semakin tajam dan terfokus.  

...Para peserta workshop semakin memahami betapa selama ini mereka sangat kaya akan data lapangan, apalagi dengan adanya tambahan alat analisa berupa wawasan baru, atau 'bagasi' yang diperoleh dari pendalaman materi tengan HAM dan sejarah sosial. ...  Pada prakteknya, 'eksperimentasi' ini--mengaitkan isu yang hendak diadvokasi ke dalam 'ruang' yang lebih luas-- akan membantu peneliti untuk memahami isu/masalah/topik penelitian dalam suatu konteks spesifik, serta melihat relasi isu dengan latar budaya, sosial, politik dan ekonomi subjek yang dikaji.  ]]></content:encoded></item><item><title>Resolusi Konperensi Warisan Otoritarianisme II </title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2008-08-11T18:02:54+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Resolusi_Konperensi_Warisan_Otoritarianisme.php#unique-entry-id-138</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Resolusi_Konperensi_Warisan_Otoritarianisme.php#unique-entry-id-138</guid><content:encoded><![CDATA[Para pemegang kuasa justru mengutamakan pengerukan sumber daya alam, memberi kemudahan pada sektor manufaktur ringan dan pasar uang yang hanya mengembalikan sedikit hasil kepada orang banyak dalam bentuk upah dan pajak. 

...Di Indonesia jumlah orang yang bertahan hidup dengan pendapatan kurang dari Rp 20.000 per hari sudah melebihi separuh, dan masuk ke dalam jajaran penduduk miskin dunia. 

...Undang-undang baru di bidang penanaman modal asing, kehutanan, pertambangan dan juga ketenagakerjaan membuat tata dan kelola ekonomi menjadi sandera dari perusahaan raksasa multinasional, lembaga keuangan internasional dan segelintir komprador yang turut menikmati ketimpangan ini. 

...Ketika Bank Dunia memberi jutaan dolar kepada DPR untuk menyusun undang-undang sumber daya air, kita tahu bahwa undang-undang itu tidak akan mewakili kepentingan rakyat banyak. 

...Demokrasi yang terpusat pada pemilihan umum atau electoral democracy hanya memberi kesempatan pada kekuatan neoliberal dan predatoris untuk bergantian menguasai lembaga-lembaga negara di pusat maupun daerah. 

...Negara juga harus mengambil keputusan politik untuk mengakhiri ketergantungan pada pembiayaan luar negeri, mengupayakan pengurangan utang luar negeri, dan memegang kendali penuh dalam kebijakan fiskal dan moneter. 

...Kenyataan bahwa Universitas Indonesia menjadi tuan rumah bagi konperensi ini yang diselenggarakan bersama kalangan ornop, gerakan sosial dan intelektual, menjadi bukti bahwa aliansi seperti itu bukan hanya mungkin, tapi sudah terjadi.

Kombinasi dari berbagai bentuk perjuangan di berbagai tingkat dan kalangan harus dipikirkan secara sungguh-sungguh, dan konperensi ini baru membuka jalan dengan mempertemukan berbagai kalangan dalam satu forum yang menghasilkan kesepakatan bersama. ]]></content:encoded></item><item><title>Islam Politik dan Formasi Otoritas Haba&#x2019;ib Dari Kwitang Hingga FPI</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-08-10T17:58:43+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Islam_Politik_dan_Formasi_Otoritas_Habib.php#unique-entry-id-137</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Islam_Politik_dan_Formasi_Otoritas_Habib.php#unique-entry-id-137</guid><content:encoded><![CDATA[Alatas, membuka presentasinya dengan sebuah kutipan dari Gunawan Muhamad yang menulis tentang seorang Jawa yang menggurui dua orang klan dari Arab yaitu Baasyir dan Shihab, bahwa bangsa ini merupakan bangsa yaKeberadaan Habaib telah menarik perhatian banyak pihak dari masa kolonial hingga sekarang. 

...Masih behubungan dengan situasi di Hadramuth dan keterkaitannya dengan para klan ini di Nusantara, penanya kedua menggunakan istilah rivalitas yang diimport dari Hadramuth ke Indonesia, tantang persoalan siapa yang dominan diantara klan-klan tersebut, dan bagaimana dengan klan Al-aidit yang nampaknya tidak mempunyai akses seperti klan Alatas misalnya dalam hal pendidikan.   Penanya kedua juga mempertanyakan tantang FPI yang bahasannya hanya sekilas, apakah yang menyebabkan Habib Riziq nampaknya berbeda dengan para Hbaib yang lain, dalam cara pandang terhadap agama dan politik, apakah ini berkaitan dengan perbedaan ratib dalam liturgi yang dibawakan oleh habib Riziq?

...Simbisosis mutualisme ini dilihat dari sudut pandang para Habaib yang dinyatakan Alatas untuk terus melakukan rekonfigurasi yang adaptif sebagai suatu usaha mempertahankan status quo-nya, sehingga apakah kerangka etnisitas yang berusaha dihilangkan dan diganti kerangka al-alawyah sebagai kuturunan nabi, keduanya tidak mengalami apa yang disebut Alatas sendiri para Habaib yang inklusif, anti kekerasan dan  berbeda dengan FPI.  

FPI yang dalam analisis hanya disebut sekilas mengeluarkan Habib Riziq dari tradisi habaib Al-alawiyah yang lain dengan alasan dibesarkan di Arab Saudi dan tidak menggunakan tradisi seperti Habaib yang lain tetapi menggunakan otoritas Habib.   Meskipun Harun, salah satu penanya, mengatakan bahwa anggap saja Habib Riziq merupakan salah satu habib yang nyleneh, seperti juga Habib Munsyir yang tidak menggunkan metode jaringan kyai-kyai kampung, tetapi persoalan lain adalah penanda genealogis yang membedakan dengan non-alawiyah ini sulit untuk benar-benar lebur dengan masyarakat lokal. ...  Pernyataan Alatas yang akhirnya mengatakan sulit untuk menjadi 2 entitas sekaligus, tidak seperti orang Jawa atau Sumatara yang pada saat yang sama bisa menjadi orang Indonesia: sedangkan orang arab atau China akan sulit,  karena  menurut Alatas mereka akan selalu ditempatkan pada narasi histori nasional sebagai keturunan imigran, lalu dijadikan kelompok etnis.   Alatas menyebutkan contoh, kalau Amrozi yang meledakkan bom Bali, ia hanya akan dipandang sebagai Amrozi tetapi jika Habib Riziq atau keturunan migran lain akan dipandang lebih dalam lagi latar belakang etnisitasnya, seperti yang dilakukan oleh Gunawan Muhamad dalam menggurui dua klan di atas.  ]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural</title><dc:creator></dc:creator><category>TRAINING</category><dc:date>2008-08-04T19:38:34+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Workshop_pelatihan_penelitian_HAM.php#unique-entry-id-136</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Workshop_pelatihan_penelitian_HAM.php#unique-entry-id-136</guid><content:encoded><![CDATA[12 Agustus sampai 7 September 2008, para peserta terpilih Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Interseksi-Hivos akan melaksanakan praktek penelitian lapangan di wilayah penelitiannya masing-masing.   Sebelum mereka diterjunkan ke lapangan, seluruh peserta akan mengikuti workshop persiapan penelitian sejak tanggal 7-9 Agustus 2008 di Wisma Aryanti, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.   Melalui workshop ini, selain pembekalan metodis dan kerangka konseptual tentang isu-isu HAM dan diversitas kultural, seluruh peserta akan diajak untuk secara kooperatif memperbaiki draft rancangan penelitian yang telah dibuatnya. 


Kepada masing-masing peserta akan diberi waktu khusus untuk mempresentasikan rancangan penelitiannya masing-masing, dan kemudian mendiskusikan dan membahasnya secara kritis dengan bantuan para fasilitator, pemberi materi, dan para peserta workshop lainnya.   Dengan cara ini diharapkan agar draft yang mereka buat bisa dikembangkan menjadi sebuah desain penelitian yang bisa langsung dipakai dalam praktek penelitian lapangan. 

...Informasi lebih lengkap tentang Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural silakan browsing di halaman ini.<br /><br />


...Cara termudah untuk sampai di kantor Interseksi adalah dengan naik kereta api jurusan Jakarta-Bogor, kemudian turun di statsiun Tanjung Barat. 

...Beberapa papan penunjuk jalan akan cukup membantu Anda menemukan lokasi Wisma ini yang lebih kurang berjarak 1,5 km dari jalan raya Cisarua.
]]></content:encoded></item><item><title>Peserta Terpilih Pelatihan Penelitian HAM</title><dc:creator></dc:creator><category>TRAINING</category><dc:date>2008-08-03T02:05:40+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/peserta_terpilih_pelatihan_ham_interseksi_hivos.php#unique-entry-id-135</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/peserta_terpilih_pelatihan_ham_interseksi_hivos.php#unique-entry-id-135</guid><content:encoded><![CDATA[30 Juli 2008 yang lalu, kami telah menerima sejumlah lamaran lengkap dengan draft rancangan penelitian dari beberapa peneliti di lembaganya masing-masing untuk menjadi peserta dalam program Pelatihan Penelitian tentang HAM dan Diversitas Kultural yang diselenggarakan oleh Yayasan Interseksi bekerjasama dengan HIVOS.   Sayangnya, untuk tahun 2008 ini program ini hanya bisa diikuti oleh 6 (enam) orang peserta.   Karena itu, berdasarkan pada kualitas draft rancangan penelitian dan feasibilitasnya, kami memutuskan nama-nama yang tercantum di bawah ini sebagai peserta terpilih yang berhak mengikuti program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural.   Selanjutnya, mereka yang terpilih ini wajib mengikuti seluruh rangkaian kegiatan program pelatihan penelitian dari awal sampai akhir (mulai dari workshop persiapan, praktek penelitian lapangan, penulisan laporan, workshop penulisan laporan, perbaikan laporan dan tahap editing laporan).   Berikut adalah nama-nama peneliti yang terpilih berikut usulan topik penelitian masing-masing:


...<td>Kajian Atas Pemenuhan Hak Reparasi bagi korban HAM Berat di Indonesia, studi kasus di Jakarta</td>


...<td>Perjuangan Hak-Hak Perumahan Rakyat Miskin Kota, studi kasus pada organisasi rakyat KWRS Amplas, Medan-SUMUT</td>


...<td>Prakarsa Pemerintah Daerah Dalam pemenuhan Hak Warga , Studi tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Daerah di Kabupaten Sinjai</td>
]]></content:encoded></item><item><title>Nyong Ambon Pung Gaya</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2008-07-19T19:19:14+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/gaya_nyong_ambon.php#unique-entry-id-134</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/gaya_nyong_ambon.php#unique-entry-id-134</guid><content:encoded><![CDATA[Anak muda akan segera tahu, jika si A sebagai pelaku sesuatu, maka pendengar kabar atau saksi mata akan mengetahui, si A anak muda dari wilayah mana, siapa saudara yang dikenalnya, dan dimana ia sering duduk-duduk2.


...Kemampuan menjalankan gaya secara bergengsi pada sebagian anak muda Ambon, dianggap bagian dari transfer gaya kaum kolonial yang diadaptasi kembali dan terus diartikulasikan hingga ketika pasca konlik tahun 2002.   Pencuatan gaya dikalangan anak muda, disinyalir karena dua hal, yakni anak muda yang memasuki masa usia transisi dan perlu menyampaikan ekspresi tubuh dengan mencolok, serta bentuk tingginya kesensitifan terhadap rasa keterasingan diri ketika berada di tengah modernitas sebuah kota (Ewen, 47-54: 1988).


...Munculnya Jong Java (Pemuda Jawa), Indonesia Muda (Pemuda Indonesia), Jong Islamietenbond (Liga Pemuda Islam), Jong Minahasa (Pemuda Minahasa), dan lainnya mengindikasikan pemuda identik dengan orientasi yang peduli dengan konstruksi Negara Bangsa.   Setiap individu pemuda diharuskan mempunyai loyalitas kepatuhan terhadap negara sekaligus pelaku utama perubahan dan mempunyai berbagai potensi yang masih tertanam (Ryter, 47, 58: 1998).   Salah satu karakter pemuda Indonesia seperti yang digambarkan Anderson tidak merujuk pada jenjang usia tertentu, dan memang pemuda di Indonesia dalam rentangan rejim tidak terbatas pada waktu tertentu (timeless) (Anderson 3: 1999)


...Kata remaja juga mengacu kepada anak muda kelas menengah dengan pilihan-pilihan konsumsi yang telah selesai mengurusi permasalahan tubuh secara primer, seperti masalah gizi, kesehatan hingga pendidikan.   Konsep remaja ataupun anak muda mempunyai satu kesamaan, yakni sangat peduli dengan selera (taste) dan tingkat konsumtifitas yang tinggi (Ryter, 58: 1998; Siegel, 203-4: 1986; Shiraishi, 1997: 149). ]]></content:encoded></item><item><title>Pelatihan Penelitian Aktivis HAM</title><dc:creator></dc:creator><category>TRAINING</category><dc:date>2008-07-13T23:51:35+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/pelatihan_penelitian_aktivis_ham.php#unique-entry-id-133</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/pelatihan_penelitian_aktivis_ham.php#unique-entry-id-133</guid><content:encoded><![CDATA[Yayasan Interseksi, bekerjasama dengan Hivos, akan menyelenggarakan program Pelatihan Penelitian Aktivis HAM tahun 2008.   Program ini ditujukan bagi para peneliti/aktivis muda yang menekuni isu-isu hak asasi manusia dan persoalan-persoalan diversitas kultural dalam relasinya dengan bangunan sosial tentang kebangsaan Indonesia.   Untuk tahap pertama, pelatihan akan diadakan bagi peserta yang berdomisili di wilayah Jabotadebek dan kota Medan, Sumatra Utara. 


...Selama workshop semua peserta pelatihan akan diberi pembekalan metodis, sejarah sosial, dan filosofis tentang isu-isu HAM dan diversitas kultural.   Di samping itu, selama workshop peserta juga akan dibantu menyempurnakan rancangan penelitiannya masing-masing.


...Setelah mengikuti workshop persiapan penelitian, seluruh peserta diwajibkan melakukan praktek penelitian lapangan di wilayahnya masing-masing.


...Setelah melakukan penelitian lapangan, seluruh peserta wajib mengikuti sebuah workshop penulisan laporan penelitian.   Workshop ini bertujuan untuk menyempurnakan draft laporan penelitian yang sudah ditulis oleh masing-masing peserta agar memenuhi standar penulisan ilmiah sekaligus mudah dipahami oleh pembaca pada umumnya.
]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi Bulanan: KeIndonesiaan dan Modernitas</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2008-07-20T08:54:03+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/keindonesiaan_dan_modernitas.php#unique-entry-id-132</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/keindonesiaan_dan_modernitas.php#unique-entry-id-132</guid><content:encoded><![CDATA[Di balik orang ramai membicarakan kebangkitan kembali Indonesia belakangan ini, kita seperti melihat frustasi hari ini yang bercampur begitu saja dengan sekepalan harapan untuk hari nanti.   Dalam pusaran labirin keputusasaan itu, kita seperti sedang melihat satu larik saja cahaya yang memberi kita keyakinan bahwa di ujung sana masih ada terang, yang sumbernya justru dari masa lalu yang belum terlampau jauh betul. 

...Tapi, dari masa ke masa selalu muncul pandangan-pandangan yang mencoba menarik jauh mundur Indonesia ke jaman pra-Indonesia demi kepentingan politik persatuan.   Berhadapan dengan pandangan mistis ini adalah dua kecenderungan yang pernah beradu pendapat dalam "polemik kebudayaan" antara mereka yang mencoba merumuskan keindonesiaan dengan melacak unsur-unsur kebudayaan yang menghidupi dan dihidupi masyarakat kebanyakan dengan yang melihat 'barat' sebagai acuan kemajuan sehingga diperlukan percepatan untuk mengejar ketinggalan berabad-abad. 


Perdebatan yang sampai hari ini belum selesai sering disederhanakan sebagai pertentangan antara 'barat-timur' atau 'tradisi-modernitas', sementara sisi-sisi yang lebih kompleks dari perdebatan ini, misalnya perlawanan terhadap feodalisme, kebimbangan dalam menyikapi kolonialisme, atau keengganan untuk mempersoalkan struktur kelas, jarang disentuh. ...  Seperti apa itu gagasan tentang 'kerakyatan' ramai diperbincangkan, terutama di kalangan seniman dan intelektual kiri, sejak 1950an, tapi sebelum ia berkembang lebih luas sudah terlibas oleh tragedi 1965 bersama dengan penumpasan para pekerja kebudayaan yang menyumbangkan pikiran dan karya bagi terumuskannya konsep 'kerakyatan'. 


...25 Juli 2008 kami mengundang Gung Ayu Ratih, peneliti pada Institut Sejarah Sosial Indonesia, untuk jadi pembicara dalam Diskusi Bulanan Yayasan Interseksi putaran ke-21.   Seperti biasa, diskusi akan dilaksanakan di kantor Yayasan Interseksi, dan dimulai pada jam 15.00 waktu Jakarta Selatan sampai selesai. ]]></content:encoded></item><item><title>Kronologi Peristiwa Monas 1 Juni 2008</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2008-06-02T23:27:50+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Tragedi_Monas_1_Juni_2008.php#unique-entry-id-129</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Tragedi_Monas_1_Juni_2008.php#unique-entry-id-129</guid><content:encoded><![CDATA[Tidak banyak yang masih ingat bahwa pada tanggal yang sama lebih dari setengah abad yang lalu, beberapa pendiri negeri ini telah menetapkan sebuah landasan penting bagi pengelolaan diversitas bangsa-bangsa yang membentuk satuan yang sampai hari ini disebut Indonesia. ...  Tapi 1 Juni 2008 akan menjadi hari yang tidak mudah hilang dari ingatan bagi mereka yang masih peduli pada apa yang hari-hari belakangan ini tampak lengas: prinsip bahwa Indonesia diperuntukkan bagi semua warganya, bukan satu kelompok tertentu.   Peristiwa Monas 1 Juni 2008 memberi kita satu lagi bukti bahwa sebagian kelompok kecil orang Indonesia tidak pernah benar-benar serius menghargai cita-cita luhur para pendiri negeri ini. 

...Ratusan orang berseragam Front Pembela Islam (FPI) menyerang puluhan massa dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang tengah mempersiapkan aksi damai di pelataran Monumen Nasional (Monas), Minggu (01/06/2008). 

...Syafii Anwar, kepala berdarah, Hamid Taher gegar otak ringan dan tangan kiri patah, Joanes sobek di kepala dengan tujuh jahitan, Bernard sobek di kepala dengan delapan jahitan, Omink gegar otak, Sunandar memar di badan dan mata kemasukan pasir.<br /><br />


...Berikut kronologi peristiwa Aksi 63 tahun Pancasila dengan tema &ldquo;Satu Indonesia untuk Semua&rdquo; Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) Pelataran Monas, 1 Juni 2008.<br /><br />


...Massa AKKBB yang lain berdatangan ke dalam Pelataran Monas, berkumpul di satu titik untuk konsolidasi.<br /><br />


...Massa AKKBB yang berada di belakang Stasiun Gambir berjalan menuju ke dalam Monas untuk merapatkan barisan dengan massa yang lain, untuk memberi kesempatan kepada massa PDIP membubarkan diri dari tempat parkir di belakang Stasiun. ]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Diskusi Bulanan tentang Gerakan Sosial Pasca Suharto</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-05-31T13:10:13+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_Bulanan_tentang_Gerakan_Sosial_Pasca_Suharto.php#unique-entry-id-128</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_Bulanan_tentang_Gerakan_Sosial_Pasca_Suharto.php#unique-entry-id-128</guid><content:encoded><![CDATA[Banyak perubahan berlangsung pada beberapa sektor kehidupan masyarakat pasca Suharto, tapi selebihnya adalah pembenaran terhadap konstata lama "plus &ccedil;a change, plus c'est la m&ecirc;me chose", semakin banyak berubah semakin tetap sama saja.

...Meskipun memiliki tujuan yang persis sama, yakni menolak kebijakan negara dalam konteks harga bahan bakar minya, tapi beberapa kelompok yang datang ke depan istana negara hari itu terlihat sebagai kelompok-kelompok yang tidak pernah membagi bersama sebuah platform gerakan sosial yang sama.   Kisah tersebut kemudian dilengkapi dengan cerita singkat tentang keterlibatan personal Sapei dalam beberapa formasi organisasi rakyat di beberapa wilayah di Indonesia, yang memberinya bekal landasan pengalaman sangat kuat untuk membangun argumen tentang keharusan melakukan refleksi atas kondisi gerakan sosial kontemporer di Indonesia tadi.

...Dapat dilihat misalnya bagaimana kondisi kirisis politik-ekonomi yang semakin parah, krisis energi, harga-harga bahan pokok yang semakin tinggi, minyak langka dimana-mana, praktik korupsi semakin menjadi-jadi tidak hanya oleh elit pusat tetapi juga elit daerah, defisit anggarana negara yang semakin bengkak, dan konflik elit politikpun semakin menjadi-jadi.   Menurut Sape&rsquo;i keadaan yang begitu sulit pada seluruh aspek kehidupan pasca tumbangnya rezim Soeharto diatas, adalah suatu hal yang tidak dapat hindari keberadaanya bahwa rakyat Indonesia membutuhkan suatu perubahan untuk keluar dari semua problem di atas. 

...Yang lebih penting adalah, pertama bagaimana mengembalikan gerakan sosial ke dalam rel kehidupan politik yang sesungguhnya dan bagaimana meningkatkan kapasitas berpolitik dari rakyat atau kelompok rakyat yang selama ini dipinggirkan.


...Hal penting lain yang diperlukan oleh suatu organisasi rakyat adalah memiliki platform organisasi yang jelas (memiliki agenda perubahan sosial), memiliki basis massa yang kuat, memiliki protokol yang jelas dalam membangun relasi dan jaringan kerja politik. ...  Harus memiliki sistem kaderisasi dan kepemimpinan yang sistematik, karena tanpa hal ini suatu organisasi rakyat hanya akan menguap begitu saja, dan yang terakhir adalah organisasi rakyat harus mengembangkan dirinya betul-betul sebagai organisasi rakyat.     
]]></content:encoded></item><item><title>Lowongan Kerja di Yayasan Interseksi</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2008-05-31T17:26:24+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Lowongan_Kerja_di_Yayasan_Interseksi.php#unique-entry-id-127</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Lowongan_Kerja_di_Yayasan_Interseksi.php#unique-entry-id-127</guid><content:encoded><![CDATA[Yayasan Interseksi membutuhkan dua orang peneliti muda lulusan S1 atau S2 ilmu-ilmu sosial.   Satu orang untuk kebutuhan (temporer) penelitian lapangan, dan satu orang sebagai staf regular.   Pelamar untuk kedua posisi tersebut harus memiliki minat dan pengalaman penelitian dan pengelolaan program kegiatan, memiliki kemampuan menulis laporan penelitian, dan bersedia ditugaskan ke luar kota dalam waktu minimal satu bulan penuh.   Angka Indeks Prestasi Akademik, dan kemampuan menulis artikel di surat kabar  tidak akan banyak menjadi bahan pertimbangan.   Diutamakan mereka yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris lisan dan tulisan untuk staf regular.  

...15 Juni 2008 ke <a href="mailto:&#111;&#102;&#102;&#105;&#99;&#101;&#64;&#105;&#110;&#116;&#101;&#114;&#115;&#101;&#107;&#115;&#105;&#46;&#111;&#114;&#103;" rel="external">office [at] interseksi [dot] org</a> atau ke <a href="mailto:&#105;&#110;&#116;&#101;&#114;&#115;&#101;&#107;&#115;&#105;&#64;&#103;&#109;&#97;&#105;&#108;&#46;&#99;&#111;&#109;" rel="external">interseksi [at] gmail [dot] com</a>.   Cantumkan kode TEMP untuk staf temporer dan REG untuk staf regular pada subjek email Anda.


...Cantumkan kode TEMP atau REG sesuai jenis pekerjaan yang Anda pilih pada pojok kiri-atas amplop lamaran.
]]></content:encoded></item><item><title>Tradisi Akademik Malang Kadak</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2007-03-13T22:16:45+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Tradisi_Akademik_Malang_Kadak.php#unique-entry-id-126</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Tradisi_Akademik_Malang_Kadak.php#unique-entry-id-126</guid><content:encoded><![CDATA[Kegiatan ini didahului dengan pembekalan/ briefing oleh orang-orang di Jawa Timur yang dianggap sebagai pakar kebudayaan, dan peneliti kajian sejarah dan nilai tradisional, seperti Dr. 

...Kalau tidak hati-hati dan senantiasa otokritik, bentuk-bentuk acara seperti jelajah budaya ini akan menimbulkan persamaan dalam memandang antara kebudayaan Tengger dengan artefak sejarah, yang berarti harus dimuseumisasi, karena alasan-alsan eksotis, unik, dan menyejarah. ...  Jika ide atau gagasan untuk melakukan pelestarian adat itu dilakukan oleh Tengger sendiri patut kiranya kita dukung, namun sebaliknya jika ide itu dating dari luar, terutama orang-orang diperkotaan, maka perlu kiranya untuk melakukan rincian atas motif mereka.


...Dengan membangun relasi sebagai sahabat, maka para peserta Jelajah Budaya tidak cenderung berpandangan wong Tengger sebagai obyek kajian, sehingga yang muncul hanya pikiran eksotika.


...Hal ini akan berakibat serius jika imajinasi para guru dan wartawan yang mengikuti Jelajah Budaya tersebut membentuk realitas atas tengger di audien mereka masing-masing (guru kepada muridnya dan wartawan kepada pembacanya). 

...Pembentukan kategori agama tradisional atas agama yang berkembang di Tengger telah melemparkan masyarakat tengger dalam barisan dunia antah berantah, yang tentu saja dianggap aneh bagi para peneliti kota, patut untuk diteliti dan dilihat sebagai sesuatu yang unik.


Memang harus kita akui bahwa hampir semua peneliti yang berjibaku di Tengger mungkin saja tidak seratus persen mampu menggambarkan tekstur kebudayaan tengger, namun dari kegigihan peneliti dapat kita katakan karyanya sangat serius. 

...Tradisi akademik kita yang begitu buruk ini harus segera di akhiri, kita harus berani terbuka dan jujur untuk mengatakana secara gambalang bahwa ada yang berbeda antara studi budaya dengan wisata. ]]></content:encoded></item><item><title>Catatanku Sebagai Evaluator Penelitian di Sumatera Utara </title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-11-21T19:45:50+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Catatanku_Sebagai_Evaluator_Penelitian_di_Sumatera_Utara%20.php#unique-entry-id-125</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Catatanku_Sebagai_Evaluator_Penelitian_di_Sumatera_Utara%20.php#unique-entry-id-125</guid><content:encoded><![CDATA[Rencanaku ke Medan mengevaluasi proses penelitian Uzair memang aku rencanakan sesuai dengan Jadwal acara pernikahan putri Bapak Maruli Sirait &ndash;salah satu tokoh Parmalim di Sumatera utara yang katanya akan dilakukan hari  hari senin, 9 Oktober 2006.   Saya sengaja menyesuaikan jadwal ini biar kelak di lapangan kita bisa lebih akrab dengan Parmalim, terutama Uzair yang hanya menghabiskan waktu selama satu bulan.   Tentu jadwal penelitian yang terlalu pendek,  pasti akan sulit mendapatkan momen yang tepat untuk mengenalkan ke banyak orang mengenai rencana penelitian ini, dan apalagi menghubungi mereka dengan cara yang cepat dan sebisa mungkin bisa akrab dengan komunitas yang kita teliti.  

...Meskipun saat ini masih bulan ramadlan, aku tidak puasa, meskipun sudah merencanakannya. ...  Uzair juga tidak puasa, katanya dia tidak sempat sahur dan seringkali kalau tidak sahur dia merasa lapar di terik matahari Medan.   Suasana di Medan nampak tidak jauh beda dengan bulan sebelumnya.   Meskipun bulan ramadhan, orang-orang di Medan tidak canggung merokok, minum dan makan-makan di warung dalam suasana terbuka. ...  Yang puasa dihormati, meskipun penghormatan itu berlangsung dalam suasana yang tidak berlebihan. ]]></content:encoded></item><item><title>Sekilas tentang Komunitas Tolotang</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-10-22T23:34:08+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Sekilas_tentang_Komunitas_Tolotang.php#unique-entry-id-124</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Sekilas_tentang_Komunitas_Tolotang.php#unique-entry-id-124</guid><content:encoded><![CDATA[Saat saya telah tinggal selama beberapa hari bersama komunitas Tolotang, saya merasakan betapa komunitas ini mengalami sejenis trauma atas pengalaman sosial mereka di masa lalu.   Dari berbagai percakapan dan bacaan saya atas sejumlah literatur, saya menemukan bahwa sejarah komunitas ini adalah sejarah tekanan dan intimidasi. ...  Tidak mengherankan jika kemudian komunitas ini seolah tampak membatasi diri dan tertutup dalam hal-ihwal sistem kepercayaan mereka. 

...Waktu itu saya diajak induk semang saya ke sebuah acara mapacci (salah satu acara dari rangkaian acara perkawinan orang Tolotang) di tempat itu saya ngobrol dengan sejumlah orang, termasuk dengan induk semang saya.   Satu hal yang mengagetkan saya adalah ketika terlontar pertanyaan pada saya tentang apakah Interseksi dan Desantara (saya juga dikenal sebagai eksponen komunitas Desantara karena ia punya majalah Desantara edisi 14/2005 yang nama saya tertera di dalamnya) punya niat tulus untuk membantu komunitas-komunitas lokal atau justru punya proyek terselubung islamisasi, sebab, ujarnya lagi, orang-orangnya adalah orang islam. ...  Saya tahu orang ini sebenarnya telah beberapa kali bergaul dengan Desantara dan mengikuti sejumlah acaranya. ...  Pertama, perasaan traumatis akibat tekanan di masa lalu belum sepenuhnya hilang, dan ini membentuk sikap untuk mewaspadai apapun tindakan orang di luar komunitas mereka, terutama dari kelompok islam. ...  Ketiga, menyangkut urusan kepercayaan tolotang, komunitas ini sangat membatasi diri dalam berurusan dengan to laing (demikian sebutan mereka untuk orang yang bukan Tolotang). ]]></content:encoded></item><item><title>Catatan dari Amparita</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-10-22T23:32:29+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Catatan_dari_Amparita.php#unique-entry-id-123</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Catatan_dari_Amparita.php#unique-entry-id-123</guid><content:encoded><![CDATA[Di awal persiapan penelitian, saya membayangkan komunitas tolotang towani berada di wilayah terpencil yang jauh dari sentuhan modernitas ditambah dengan sikap hidup yang cenderung menolak kehidupan modern.   Namun kesan semacam itu berubah setelah saya mendapat informasi yang cukup memadai tentang keberadaan komunitas ini.   Sejumlah buku dan percakapan dengan beberapa orang di makasar menginformasikan bahwa pusat komunitas ini ada di sebuah desa yang menjadi kota kecamatan di wilayah kabupaten Sidenreng Rappang sulawesi selatan.   Sebuah ibu kota kecamatan tentu merupakan wilayah yang paling dekat dengan modernitas, paling tidak di kawasan kecamatan tersebut. 

...Amparita terletak sekitar 8 kilometer dari Pangkajene, Ibu Kota kabupaten Sidenreng Rappang. ...  Jarak sejauh ini bisa ditempuh dalam waktu 4,5 jam dengan menggunakan kendaraan umum.   Angkutan umum dari Makasar ke Pangkajene atau ke Amparita menggunakan kendaraan sejenis panther atau kijang dengan penumpang sebanyak 7 orang. ...  Saya sendiri naik jurusan Pangkajene dengan ongkos 30 ribu rupiah, kemudian naik angkot (masyarakat sulsel menyebutnya pete-pete) menuju Amparita dengan ongkos 3 ribu rupiah. ]]></content:encoded></item><item><title>Turut Berduka Cita</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2007-03-11T14:55:06+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Turut_Berduka_Cita.php#unique-entry-id-122</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Turut_Berduka_Cita.php#unique-entry-id-122</guid><content:encoded><![CDATA[<div align=center></div>


Seluruh warga komunitas Interseksi menyampaikan turut berduka dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya guru, bapak, dan tauladan kami Prof. ...  Koesnadi Hardjasoemantri pada kecelakaan pesawat Garuda  tgl.   7 Maret 2007.   Kami percaya beliau akan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.   Semoga keluarga dan kerabat yang ditinggalkan diberi ketabahan, keikhlasan dan kekuatan.   Kami murid-muridnya akan tetap mengingat dan meneruskan semangat, kejujuran, dan kerendahan hati dan kesederhanaan yang telah dicontohkan almarhum di masa hidupnya. 


Selamat jalan Pak Kus!
]]></content:encoded></item><item><title>Lima Hari Pertama di Cianjur</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-10-04T21:05:20+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Lima_Hari_Pertama_di_Cianjur.php#unique-entry-id-121</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Lima_Hari_Pertama_di_Cianjur.php#unique-entry-id-121</guid><content:encoded><![CDATA[Saya berangkat dari rumah di Pancoran Jakarta Selatan sekitar jam 8 pagi, jalan kaki sebentar, kemudian naik mikrolet 34, turun di Kalibata, kemudian naik Kopaja 57, turun di Terminal Kp. ...  Setelah menunggu-nunggu dan bertanya ini itu tentang bis yang ke jurusan Cianjur, akhirnya saya putuskan untuk naik bis &ldquo;Doa Ibu&rdquo; jurusan Tasik.   Kata seorang tukang warung, bis itu nanti akan lewat cianjur. ...  Saya segera bergegas, tanya lagi kondektur bis yang juga mengiyakan bahwa bis ini nanti akan lewat Cianjur.   Kemudian saya naik dan duduk di bangku jajaran kedua.   Bis itu ber-AC, sehingga pada awalnya saya merasa nyaman, tapi segera saja perasaan itu berubah setelah puluhan tukang asong menjajakan berbagai macam barang dan makanan ke atas bis.   Saya jengkel tapi harus bagaimana lagi, sebab itulah fakta paling riil tentang Indonesia.   Setelah menunggu beberapa saat, bis itu akhirnya berangkat. ]]></content:encoded></item><item><title>A Note from A Terra Incognita</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-09-20T07:49:55+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/parmalim.php#unique-entry-id-120</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/parmalim.php#unique-entry-id-120</guid><content:encoded><![CDATA[<a href="http://technorati.com/claim/4ue78ksuj9" rel="me">Technorati Profile</a>


...Member of Interseksi's Researc Team on Minority Rights and Multiculturalism


...I almost failed to fly to Medan this morning.   For Mandala airline, I was &ldquo;blamed&rdquo; for not confirming my flight a day before departure.   For me, the rule is too bureaucratic.   As long as I know, this is the only airline that obliges their passenger to give report about their plan of departure (though in fact they already issued the ticket, like me, which I guess can be interpreted as a kind of confirmation about departure plan).   After waiting for the last minute, they finally allowed me to come aboard.   And the adventure into a foreign land had just begun. ]]></content:encoded></item><item><title>Secuil Catatan dari Gunung Bromo</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-09-13T16:13:53+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Secuil_Catatan_dari_Gunung_Bromo.php#unique-entry-id-119</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Secuil_Catatan_dari_Gunung_Bromo.php#unique-entry-id-119</guid><content:encoded><![CDATA[<a href="http://technorati.com/claim/4ue78ksuj9" rel="me">Technorati Profile</a>


...Hari kedua sejak kedatanganku di Tengger, aku diajak oleh para pemuka dukun Tengger untuk melakukan ritual pujan kasada. ...  Walau dapat dijangkau dengan hardtop, namun punggungku terasa patah, sebab hampir dua jam perjalanan jalanan seperti ikut offroad.   Bagitu tiba ditempat ritual, oleh warga desa aku disambut sejajar dengan para dukun, sebab aku datang bersama rombongan dukun.   Aku mengikuti ritual ini, termasuk juga gerak-gerak ritualnya.   Padahal ritual ini dilaksanakan hari Jumat siang, dan tak jauh dari tempat aku menjalankan ritual ini terdapat masjid yang sedang menjalankan Jumat'an.   Aku ternyata cukup enjoy menjalankan ritual ini.   Ini adalah permulaan yang cukup baik untuk semakin menjalin hubungan kekerabatan dengan wong Tengger, bukan sekedar hubungan peneliti dan yang diteliti.  ]]></content:encoded></item><item><title>Tampilan Baru Situs Interseksi</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-09-04T20:55:10+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Tampilan_Baru_Situs_Interseksi.php#unique-entry-id-118</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Tampilan_Baru_Situs_Interseksi.php#unique-entry-id-118</guid><content:encoded><![CDATA[Mengandalkan pengelolaan situs internet kepada pihak ketiga, apalagi kepada para profesional pengembang web site, selain membutuhkan biaya cukup besar,  kadang memang menyulitkan kita melakukan perubahan-perubahan sesuai keinginan kita. 

...Di samping didorong oleh keinginan menyajikan informasi dalam tampilan yang nyaman di mata, suksesi cepat bermacam-macam tampilan situs ini mungkin sekaligus juga merupakan testamen bahwa secara teknis hal tersebut memang tidak terlalu sulit. 

...Ada beberapa pembaca yang menanyakan hal tersebut, mencari penjelasan mengapa situs ini tidak bisa sepenuhnya kompatibel dengan browser IE-nya Microsoft.   Penjelasan teknisnya bisa berlarut-larut, tapi secara singkat kami ingin menyampaikan bahwa problem tersebut sama sekali bukan sesuatu yang disengaja dari awal.   Kami harus jujur mengatakan bahwa kami memang sudah tidak pernah lagi menggunakan IE, tapi kami berusaha untuk sebisa mungkin memenuhi standar validasi dari beberapa konsorsium internasional tentang XHTML dan CSS. 

...Kami sadar ada banyak jawaban teknologis yang bisa mengatasi problem semacam ini, tapi kami juga sepenuhnya menyadari bahwa IE (versi 6 paling tidak) memang cenderung tidak menghormati standar-standar web tadi. ...  Sampai IE versi 7 (yang sekarang masih dalam versi Beta) kelak resmi diterbitkan Microsoft dan makin banyak dipakai orang, situs ini tampaknya akan tetap tidak terlalu bersahabat dengan para pengguna IE 6 atau sebelumnya.   Alibi kami sebenarnya sederhana saja: daripada menuntut kami yang hanya memiliki sumberdaya terbatas menghabiskan energi dan waktu untuk mengatasi problem (yang kemungkinan besar disebabkan oleh kelemahan) teknologi IE, bukankah lebih baik kita menuntut Microsoft yang mahakuasa dan mahakaya itu membuat software yang lebih baik daripada yang selama ini diproduksinya?
]]></content:encoded></item><item><title>Catatan dari Workshop Jaringan Yayasan Desantara</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-06-11T03:25:31+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Catatan_dari_Workshop_Jaringan.php#unique-entry-id-117</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Catatan_dari_Workshop_Jaringan.php#unique-entry-id-117</guid><content:encoded><![CDATA[Pembentukan jaringan antar sesama lembaga swadaya masyarakat, atau organisasi nonpemerintah, atau apa pun sebutan yang seturut maknanya, itu tentu saja bukan hal istimewa. 

...Pertama, membentuk sebuah jaringan yang tidak meletakkan komunitas masyarakat yang dibelanya sebagai pusat orientasi melainkan justru menjadi bagian integral dari jaringan itu sendiri.   Yang berada di pusat perhatian bukan komunitas lokalnya sebagai sebuah entitas fisik, melainkan problem ketimpangan relasi atau proses pembedaan (distiction) yang bisa menimpa siapa saja.   Dengan demikian, antara Yayasan Tantular di Malang dengan komunitas-komunitas seniman Ludruk, atau antara Yayasan Sahabat Morowali  di kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah dengan komunitas masyarakat Wana di kawasan Cagar Alam Morowali, misalnya, ditempatkan pada status yang sama dalam jaringan.   Konsekwensinya, bukan hanya LSM anggota jaringan yang memiliki obligasi moral untuk membela komunitas lokal, tapi komunitas lokal pun bisa terlibat membantu komunitas-komunitas lain secara bersama-sama.   Secara konseptual, komunitas lokal juga bisa berperan besar dalam membantu kerja-kerja LSM yang menjadi anggota jaringan. 

...Kedua, semua peserta workshop sepakat memperluas medan kritisismenya dengan penekanan bahwa komunitas-komunitas lokal memang harus dibela tapi bukan berarti bahwa mereka tidak pernah salah.   Posisi ini diharapkan bisa mendihindarkan jaringan ini dari jebakan romantisasi kultural yang substansinya nyaris identik dengan proyek-proyek kekuasaan negara untuk melestarikan mereka.
]]></content:encoded></item><item><title>Mengatur Siasat di Tengah Purifikasi</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-09-28T12:43:03+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Mengatur_Siasat_di_Tengah_Purifikasi.php#unique-entry-id-116</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Mengatur_Siasat_di_Tengah_Purifikasi.php#unique-entry-id-116</guid><content:encoded><![CDATA[<a href="http://technorati.com/claim/4ue78ksuj9" rel="me">Technorati Profile</a>


...Saya telah membaca kiriman e-mail dari kawan-kawan. ...  Saat ini saya fokus di dua desa di Tengger yang masuk dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, yakni Desa Wonokerto dan Desa Ngadas. ...  Keduanya saya jadikan situs penelitian, karena keduanya memiliki karakteristik yang menarik.   Di Desa Ngadas inilah koordinator Dukun Tengger tinggal, sementara di Desa Wonokerto terdapat &ldquo;orang Tengger&rdquo; yang telah menganut Islam.   Saat ini Islam memang telah menjamah sebagian desa Tengger, namun Wonokerto adalah &ldquo;desa Islam&rdquo; yang letaknya paling tinggi dan berbatasan langsung dengan desa-desa Tengger di dataran atas.


Karena orang-orang di Wonokerto ini memeluk Islam, maka Desa Ngadirejo yang berada di bawah Wonokerto dinyatakan sebagai Desa Putus oleh orang-orang Tengger di atas Wonokerto.   Menurut orang-orang Tengger di desa-desa atas, gara-gara Wonokerto memeluk Islam inilah desa Ngadirejo dan desa Ngadas tidak dapat melaksanakan Upacara Karo.<a name="call1" href="#ref1">[1]</a>  Baca selanjutnya>>
]]></content:encoded></item><item><title>Literasi&#x2c; Properti&#x2c; Jatidiri</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2006-05-22T13:15:35+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Literasi_Properti_Jatidiri.php#unique-entry-id-115</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Literasi_Properti_Jatidiri.php#unique-entry-id-115</guid><content:encoded><![CDATA[Tapi soal pengkelasan tenaga kerja dalam konteks ini tidak harus semata mengacu pada model formasi sosial sebuah masyarakat, melainkan terutama pada aspek-aspek yang menentukan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia menjadi mungkin, bukan slogan kosong setiap rezim pemerintah yang baru berkuasa. ...  Apa yang bisa diharapkan dari sebuah sistem pendidikan yang sebagian cukup besar bangunan fisik sekolah dasarnya lebih menyerupai "kandang ayam", seperti pernah diungkapkan dalam puisi seorang profesor ahli pendidikan kita?


Sofie Dewayani, penulis cerita untuk anak-anak dan remaja yang kini tengah menempuh program master di sebuah universitas di Amerika, melukiskan kondisi di atas dalam kalimat-kalimat berikut:


...Sekolahnya yang menyendiri di pinggiran sawah di pelosok kota kecil Krian terasa gerah, bukan karena jalan batu di depannya berdebu, namun karena anak-anak duduk berdesakan, tiga-empat orang, berbagi satu bangku, satu buku, dan juga keringat yang bau. 

...Menulis dan membaca pasti bukan sekedar sebuah jenis keterampilan baru, karena ia juga telah menjadi sebuah nilai, norma yang dengan mengingkarinya berarti kita telah melakukan kesalahan fatal. ...  Harapan untuk bisa melecut punggung budak jajahan agar setapak lebih maju, segunung beban yang tidak jelas benar relevansinya bagi hidup sejumlah orang selain bahwa ia telah menjadi sebuah proyek negara. 

...Literasi tak hanya menjadi hak milik mereka yang dulu tak bisa diakses oleh bangsa yang terjajah, namun juga sesuatu yang kini dibagi-bagikan dengan kemasan &lsquo;kesetaraan, kemajuan, dan modernitas.&rsquo; 

...Bukan hanya karena kalimat-kalimatnya demikian fasih membunyikan isi pikirannya, tapi juga karena tulisannya kembali menegaskan satu soal fundamental dalam politik kita: pendidikan yang tidak pernah jelas relevansinya bagi hidup orang yang menempuhnya. ]]></content:encoded></item><item><title>Mengenang Pram dalam Blogosphere</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-05-02T04:15:19+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Mengenang_Pram_dalam_Blogosphere.php#unique-entry-id-114</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Mengenang_Pram_dalam_Blogosphere.php#unique-entry-id-114</guid><content:encoded><![CDATA[Pram ternyata bukan hanya sebuah nama yang menjulang tinggi jauh di cakrawala, melainkan juga sosok pribadi yang sangat mudah diakrabi.   Ia bukan seniman yang bersinggasana di awan dan dari sana menorehkan karya-karyanya, melainkan orang kebanyakan yang sehari-harinya, sekurang-kurangnya pada sisa umur di hari tuanya, begitu peduli bahkan pada soal membakar sampah. 

...Cerita lengkap tentang kenangannya pada sosok Pram memperlihatkan bahwa ternyata ia, seperti warga Interseksi yang lain, juga pernah menaruh perhatian cukup besar pada perdebatan gagasan-gagasan kebudayaan di Indonesia.   Ia membaca silang gagasan antara kelompok yang menamakan dirinya Manikebuis (Manifesto Kebudayaan) dengan kelompok LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) bahkan sebelum ia membaca karya-karya Pram. 


...Seperti Philips, kebetulan ia juga sempat mengenal Pram sebagai sosok pribadi di rumahnya di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur. 

...Dalam salah satu kunjungan ke rumahnya, saya sempat membuka-buka sebuah buku tamu yang ada di ruang tamu rumahnya. ...  Ini adalah sebuah pelajaran sangat penting bagi saya: bahwa hubungan personal tidak patut diputus bahkan dengan orang yang secara politik dan ideologis bermusuhan.<br>


Kami yakin masih banyak orang yang, dalam caranya sendiri, menanamkan Pram dalam keping kenangannya agar kepergiannya tidak menguap begitu saja dari sisi personal masing-masing orang. ]]></content:encoded></item><item><title>Pramoedya Ananta Toer</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-05-01T22:50:52+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Pramoedya_Ananta_Toer.php#unique-entry-id-113</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Pramoedya_Ananta_Toer.php#unique-entry-id-113</guid><content:encoded><![CDATA[Di majalah Prisma yang terbit rutin di tahun 1970-an dan 1980-an kita bisa baca tulisan-tulisan dari Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Mochtar Pabottingi, Dawam Rahardjo, Nurcholis Madjid dan banyak tokoh lain saat mereka berusia sekitar akhir 20-an atau pertengahan 30-an.


Tulisan panjang mengenai polemik Manikebu itu saya temukan di dalam rubrik Selingan majalah Tempo edisi lama, yang saya beli di Cikapundung.   Bagi seorang mahasiswa seperti saya, yang lahir dan dibesarkan di masa Orde Baru, membaca polemik Manikebu sangat memberi inspirasi dan membuka mata betapa keringnya rezim Orde Baru yang mengharamkan pertarungan ide-ide. 

...Mungkin semangat perlawanan itu yang menjadi alasan Kejaksaan Agung di masa Orde Baru melarang peredaran empat buku novel tetralogi: Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah, yang dikenal sebagai Tetralogi Buru.


Melalui tetralogi, Pram berkisah mengenai semangat perlawanan kaum muda melawan kolonialisme di bumi Nusantara, lewat tokoh Minke, seorang pemuda Jawa berpandangan maju di zamannya, dan juga melalui tokoh Mas Marco dan Tjokro. 

...Sementara Mas Marco dan Tjokro, dalam novel Pram itu, tampak merujuk pada Marco dan Tjokroaminoto dan organisasi Sarekat Islam, yang merupakan dua tokoh dan organisasi penting dalam sejarah pembentukan nasionalisme Indonesia yang menghancurkan kolonialisme Belanda.


...Jauh sebelum wawancara Pram itu, suatu hari di Palasari seorang penjual buku berbisik pada saya yang masih duduk di semester-semester awal kuliah: &ldquo;Dik, mau nggak nih ada buku yang barusan dilarang Kejaksaan&rdquo;. 

...Agar kita tidak menjadi angkatan muda yang mati rasa justru di era ketika penguasa hampir tidak mungkin lagi memasung dan memenjara pikiran anak bangsanya sendiri.
]]></content:encoded></item><item><title>Multiculturalism and Development Policies in Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2006-04-28T16:08:42+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Multiculturalism_and_Development_Policies_in_Indonesia.php#unique-entry-id-112</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Multiculturalism_and_Development_Policies_in_Indonesia.php#unique-entry-id-112</guid><content:encoded><![CDATA[Pada tgl.   22 April 2006, Lafadl Institute, sebuah LSM di Yogyakarta, bekerjasama dengan Yayasan Desantara Institute for Cultural Studies, dan Yayasan Interseksi mengadakan sebuah diskusi kecil dengan topik multikulturalisme dan kebijakan pembangunan di Indonesia.   Diselenggarakan di kantor Lafadl, diskusi tersebut dihadiri oleh sejumlah intelektual muda Yogyakarta yang memiliki perhatian pada kebudayaan dan isu-isu politik.   Heru Prasetia menurunkan laporannya untuk kita>>


On April 22nd, 2006, Lafadl Institute, a Yogyakarta-based NGO, in cooperation with Desantara Institute for Cultural Studies, and the Interseksi Foundation organized a small discussion on the topic of multiculturalism and the development Policies in Indonesia.   Covened in Lafadl's office building, the discussion was attended by a number of young Yogyanese intellectuals who have concern with culture and political issues.    Report on the discussion is written for us here by Heru Prasetia>>
]]></content:encoded></item><item><title>Protes Petani Pati</title><dc:creator></dc:creator><category>CAMPAIGN</category><dc:date>2006-03-13T15:55:48+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Protes_Petani_Pati.php#unique-entry-id-111</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Protes_Petani_Pati.php#unique-entry-id-111</guid><content:encoded><![CDATA[Di tengah alun-alun itu juga dipasang panggung besar untuk memberi tempat bagi peserta yang ingin melakukan orasi. ...  Jauh sebelum aacara dimuali panitia dari SPP (Serikat Petani Pati) telah mengontak Cak Nun (Emha Ainun Najib) untuk disertakan tampil menghibur gratis petani peserta aksi. 

...Diantara petani peserta aksi itu, petani Sukolilo terlihat paling besar jumlahnya, dan mereka tampak paling bersemangat.   Secara bergelombang mereka memadati alun-alun Pati, merembet dari arah selatan,  tidak kurang dari empat puluh truk.  ...  Ngardi,  lurah dari desa Baturejo, kecamatan Sukolilo, sehari sebelum acara dimulai bahkan sudah berkeliling ke seluruh desanya.   Sambil membawa mobil pribadinya, ia  berkeliling melakukan woro-woro agar seluruh warganya terlibat aktif dengan aksi ini.  


...Di dalam kondisi desa yang semula dianggap &ldquo;adem ayem&rdquo;, tiba-tiba menggelegar suara penderitaan, dan ajakan untuk melakukan aksi bersama. ...  Pertanyaan-pertanyaan ini menggugah saya untuk terus mencari pengetahuan sejauh mungkin mengenai dinamika petani yang kini bergolak. ]]></content:encoded></item><item><title>Surat dari Seorang Pembaca</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-03-17T11:10:32+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Surat_dari_Seorang_Pembaca.php#unique-entry-id-110</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Surat_dari_Seorang_Pembaca.php#unique-entry-id-110</guid><content:encoded><![CDATA[Bagi saya, buku Hak Minoritas adalah yang terbaik yang pernah saya baca mengenai masyarakat alam di negara ini.   Membesarkan hati mengetahui bahwa para penulisnya, meskipun masih muda, sudah terbuka pikirannya tentang masalah mereka dan lebih berani mengedepankan ancaman terhadap mereka, yaitu agama-agama modern yang tentu saja bertentangan dengan keyakinan yang mereka alami.   Bukannya saya tidak menyadari bahwa mereka semua sedang dalam proses dimusnahkan, namun sangat disayangkan kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki yang hanya ada di unida mereka akan turut lenyap.   Dari yang katanya penegak hukum, pembuat hukum, para pembela rakyat, penguasa, pengusaha bahkan ke presiden kita rata-rata buta ekologi, apalagi ekologi dalamnya.   Belum apa-apa seseorang sudah lemas membayangkan bahwa untuk membela masyarakat alam (holistik dan adat) dia harus berhadapan dengan hampir seluruh lapisan masyarakat kota dan kampung yang sudah modern.<br><br>


...Bila Pak Hikmat ada diskusi lagi dengan teman-teman, tentu saya juga ingin hadir, tapi saya tidak memakai email. 

...Mewakili para penulisnya, saya juga ingin menyampaikan penghargaan tinggi atas apresiasi Ibu terhadap apa yang sudah kami kerjakan. ...  Masalah Hak-hak komunitas minoritas di Indonesia, terutama saudara-saudara kita yang biasa disebut komunitas lokal, itu memang merupakan salah satu fokus perhatian kami di Yayasan Interseksi. ]]></content:encoded></item><item><title>Kekerasan Kembali Menghantam Kita di Ujung Tahun</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-12-16T16:48:26+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Kekerasan_Kembali_Menghantam_Kita_di_Ujung_Tahun.php#unique-entry-id-109</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Kekerasan_Kembali_Menghantam_Kita_di_Ujung_Tahun.php#unique-entry-id-109</guid><content:encoded><![CDATA[Seorang wartawan di sebuah surat kabar yang sangat dihormati di Indonesia, karena dianggap merupakan salah satu cagar kekuatan moral dan intelektual bangsa, itu disergap oleh beberapa orang anggota SATPAM, disekap, dan diinterogasi hanya karena ia menyebarluaskan protesnya terhadap elit-elit pimpinan Kompas. 


Pemecatan tentu saja merupakan bagian dari konflik dalam hubungan industrial yang biasa terjadi di perusahaan mana pun.   Kita bisa mempercayakan solusi untuk masalah tersebut pada perundingan-perundingan yang   lazim ditempuh untuk menyelesaikan kasus seperti itu. 


...Kalau apa yang dituturkan Wisudo dalam kronologi peristiwa penangkapan dan pemecatannya itu benar adanya, Kompas telah melakukan sebuah tindak kekerasan yang benar-benar menyakitkan secara harfiah, dan sangat mencemaskan secara politik karena itu berarti selalu ada upaya pengerahan kekuatan koersif untuk membungkam. ...  Kita masih harus menunggu apakah yang terjadi adalah benar sebuah praktek kekerasan atau sebuah justa semata--satu bentuk kekerasan yang lain sebenarnya. 

...Sampai beberapa bulan yang lalu, hampir setiap pekan kita mendengar kabar tentang tindakan dan ancaman kekerasan oleh beberapa kelompok massa kepada kelompok lainnya. 

...Bisa dibayangkan berapa jarak epistemologis yang dilompati logika mereka untuk sampai pada kesimpulan bahwa orang yang mendiskusikan Marxisme identik dengan pewarta komunisme.   Lebih sewindu Orde Baru runtuh, tapi tabiat busuknya terus beranak pinak di hati dan pikiran sebagian warga kita, seperti gelembung-gelembung nafsu angkara Rahwana terus menelikung kesadaran masyarakat dan para pemimpin dalam alam Ramayana. ]]></content:encoded></item><item><title>Interseksi Pindah Kantor Baru</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-12-24T17:18:41+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Interseksi_Pindah_Kantor_Baru.php#unique-entry-id-108</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Interseksi_Pindah_Kantor_Baru.php#unique-entry-id-108</guid><content:encoded><![CDATA[Tapi karena kami masih harus membenahi banyak hal, seperti biasa orang pindah alamat, dalam beberapa hari ke depan pasti masih banyak hal yang belum berlangsung normal seperti biasa. 

...Tapi seperti kita tahu, di Jakarta bukan hal mudah untuk menemukan lokasi yang cukup bagus dengan harga sewa yang terjangkau oleh lembaga kecil seperti Interseksi. ...  Kami bisa menemukan sebuah rumah di jalan raya Depok-Pasar Minggu, masih di daerah Jakarta Selatan, dengan halaman yang cukup luas dan teduh, dan ditumbuhi pohon-pohon besar dan  rindang. 

...Di rumah yang cukup besar itu kami tidak sendirian, karena ada kantor lain yang menempati ruang lebih kecil di sebelah ruang yang dipakai untuk kantor Interseksi. 

...Karena tempatnya cukup nyaman, ada kemungkinan Agenda Diskusi Bulanan kami, yang selama ini diadakan di Bukafe, itu nanti akan dilakukan secara bergantian dengan ruang di kantor baru ini. ...  Sebab tidak berapa jauh dari lokasi kantor kami yang baru, ada beberapa perguruan tinggi terkenal di Jakarta: UI, Universitas Panca Sila, IISIP, Universitas Guna Dharma, dll. 

...Tapi itu lebih karena jatuh tempo sewa di kantor lama memang persis di akhir bulan desember tahun ini.   Kalau pun kebetulan seperti ini ada gunanya, kami hanya berharap agar di tahun yang baru nanti teman-teman warga komunitas Interseksi (sekarang sudah meluas karena ditambah komunitas peserta diskusi bulanan di Bukafe) bisa mendapat semangat baru untuk lebih keras bekerja. 
]]></content:encoded></item><item><title>Selamat untuk Pak Achmad Fedyani Syaifuddin</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2007-01-25T21:48:56+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Selamat_untuk_Pak_%20Achmad_Fedyani_Syaifuddin.php#unique-entry-id-107</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Selamat_untuk_Pak_%20Achmad_Fedyani_Syaifuddin.php#unique-entry-id-107</guid><content:encoded><![CDATA[Harian Kompas memberitakan bahwa pada hari Rabu (21 Januari 2007), Dr.   Fedyani Syaifuddin telah dikukuhkan sebagai Guru Besa FISIP UI.   Orasinya berjudul Kemiskinan di Indonesia: Realitas di Balik Angka. 


...Achmad Fedyani Saifudin bukan nama asing bagi Yayasan Interseksi, terutama setelah beliau menulis review tentang buku Hak Minoritas.   Dilema Mulitikulturalisme di Indonesia yang kami terbitkan akhir tahun 2005 yang lalu, dan setelah beliau menjadi salah seorang pembicara dalam diskusi bulanan kami pada tgl. 

...Seluruh warga Interseksi menyampaikan selamat atas pengukuhan tersebut, dan berharap agar Dr.   Syaifuddin senantiasa sukses dan semakin produktif berkarya dan mendidik bangsa.   Meskipun pasti akan makin bertambah kesibukan hariannya, tapi mudah-mudahan juga beliau masih berkenan kalau suatu saat diundang lagi ke forum diskusi bulanan Interseksi.
]]></content:encoded></item><item><title>Banjir Jakarta dan A Tower of Bable</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2007-02-08T14:53:49+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Banjir_Jakarta_dan_A_Tower_of_Bable.php#unique-entry-id-106</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Banjir_Jakarta_dan_A_Tower_of_Bable.php#unique-entry-id-106</guid><content:encoded><![CDATA[Paling tidak masih jauh lebih banyak orang baik hadir setiap hari di tengah-tengah kehidupan kita yang nyata, daripada apa yang kita dapat dari gambaran tentang buruknya reputasi pejabat-pejabat publik kita. 

...Persisnya, itu adalah ucapan Aburizal Bakrie, orang yang jabatannya mengalami demosi dari Menko Perekonomian (ketika menepis keberatan orang terhadap kenaikan LPG) menjadi Menko Kesra saat ini.  


Dari pernyataan itu kita bisa melihat betapa tidak nyambungnya antara apa yang sedang dialami oleh rakyat dengan pemahaman seorang Menko Kesra, yang tugasnya justru untuk mengurusi kesejahteraan rakyat.   Bagi rakyat yang sedang menderita akibat banjir tahun ini, keluhan mereka seperti terus-menerus membentur tembok keras, karena begitu susahnya seorang pejabat seperti Ical memahami apa yang disuarakan mereka.   Indonesia jadi seperti apa yang dalam Genesis dilukiskan sebagai a tower of bable,  antara rakyat dan pemerintahnya seperti bicara dalam bahasanya sendiri-sendiri sehingga tidak pernah bisa saling memahami.   Kalau negara kita bayangkan sebagai sebuah penyelenggaran politik untuk mencapai kesejahteraan, seperti menara yang dibangun untuk mencapai syurga dalam kisah biblikal, pernyataan Ical tadi merefleksikan kenyataan bahwa penyelenggaraan politik itu justru bisa melahirkan frustasi karena antara bahasa yang dipakai oleh rakyat dan pemerintah tidak berada pada semesta pemaknaan yang sama.    Duo monolog seperti itu hanya mungkin terjadi akibat dua kemungkinan: atau rakyat yang keliru memilih pemimpin atau si pemimpin yang kian hari kian bebal seperti tembok.   Waktu rakyat Amerika kecewa pada Clinton akibat skandal seksualnya dengan Monica Lewinsky mereka berkesimpulan bahwa "Clinton memang presiden kita, tapi ia jelas bukanlah pemimpin kita". ]]></content:encoded></item><item><title>Batas Akhir Penyerahan Makalah Forum Interseksi 2008</title><dc:creator></dc:creator><category>FORUM INTERSEKSI</category><dc:date>2008-05-23T21:06:59+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Batas_Akhir_Penyerahan_Makalah_Forum_Interseksi_2008.php#unique-entry-id-103</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Batas_Akhir_Penyerahan_Makalah_Forum_Interseksi_2008.php#unique-entry-id-103</guid><content:encoded><![CDATA[Setelah mengalami penundaan dari rencana semula tgl.   15-17 Maret 2008, Forum Interseksi 2008 positif akan dilaksanakan pada tgl. ...  Sebagai konsekwensi dari penundaan tersebut, tgl. batas akhir penyerahan makalah juga mengalami pengunduran dari semula tgl. ...  Semua calon peserta yang telah menyerahkan abstrak makalahnya diharapkan dapat mengirimkan makalah lengkapnya sebelum atau selambat-lambatnya pada tgl. 

...Panitia juga masih membuka kesempatan kepada Anda yang tertarik mengikuti Forum Interseksi 2008 tapi belum menyerahkan abstrak makalah untuk langsung menyerahkan makalah lengkap pada tanggal tersebut di atas.   Keputusan tentang calon peserta yang makalahnya lolos seleksi untuk jadi peserta Forum Interseksi akan diumumkan pada tgl. ...  Karena itu, semakin cepat Anda mengirimkan makalah, semakin besar kemungkinan panitia bisa memeriksa makalah Anda secara lebih teliti. 


Untuk informasi lebih lengkap tentang Forum Interseksi 2008, silakan browsing di halaman Forum Interseksi 2008.
]]></content:encoded></item><item><title>Siaran Pers Front Pembebasan Nasional Menentang Kenaikan Harga BBM</title><dc:creator></dc:creator><category>PRESS RELEASE</category><dc:date>2008-05-20T23:59:55+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Siaran_Pers_Front_Pembebasan_Nasional_Menentang_Kenaikan_Harga_BBM.php#unique-entry-id-102</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Siaran_Pers_Front_Pembebasan_Nasional_Menentang_Kenaikan_Harga_BBM.php#unique-entry-id-102</guid><content:encoded><![CDATA[<div align=center></div>


Dalam beberapa hari ke depan, rakyat Indonesia kembali harus menanggung beban penderitaan yang sangat berat.   Sejak berkuasa tahun 2004 yang lalu, pemerintahan SBY-JK untuk ketiga kalinya kembali akan menaikan harga BBM dengan alasan yang itu-itu juga.   Beberapa lembaga masyarakat sipil di Indonesia yang teragabung dalam Front Pembebasan Nasional (FBN), seperti seluruh rakyat miskin Indonesia, menolak tegas kebijakan tersebut.   Berikut adalah siaran persnya yang diterima Interseksi.org.   Naskah lengkapnya bisa dilihat di sini (PDF) dan di sini (HTML).
]]></content:encoded></item><item><title>Refleksi Atas Agenda dan Strategi Politik Gerakan Sosial di Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2008-05-22T11:39:18+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Refleksi_Atas_Agenda_dan_Strategi_Politik_Gerakan_Sosial_di_Indonesia.php#unique-entry-id-101</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Refleksi_Atas_Agenda_dan_Strategi_Politik_Gerakan_Sosial_di_Indonesia.php#unique-entry-id-101</guid><content:encoded><![CDATA[<li>Tema: Refleksi Atas Agenda dan Strategi Politik Gerakan Sosial


<li>Pembicara: Sapei Rusin (Ketua Badan Pelaksana Perkumpulan Pergerakan, Bandung)


...&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Email: office [at] interseksi [dot] org; interseksi [at] gmail [dot] com</ul>


...Gerakan sosial (social movement) adalah salah satu terminologi yang paling banyak dibicarakan dalam khasanah teori-teori sosial modern.   Tapi tidak banyak yang sadar bahwa konteks dan karakter gerakan sosial di Indonesia telah, sedang dan terus akan berubah.   Selain perubahan konteks dan karakter gerakan, penting untuk dikaji bagaimana massa  rakyat menghadapi pagelaran kuasa, dan bagaimana (sebagian) eksponen utama dan pendukung gerakan-gerakan rakyat tersebut menafsirkannya, menghadapi kesempatan politik yang tersedia dan merumuskan tantangan-tantangan utama yang dihadapinya, serta pada saatnya memilih dan melancarkan aksi kolektif yang mereka andalkan.   Paper ini berangkat dari pengalaman penulisnya yang hampir satu dekade lebih terlibat dalam beberapa model gerakan sosial di Indonesia. 


Seperti apa bentuk pilihan agenda dan strategi politik yang diambil oleh gerakan-gerakan sosial yang ada di Indonesia setelah kekuasaan Suharto berkahir, itu akan menjadi tema yang dibahas oleh Sapei Rusin, Ketua Badan Pelaksana Perkumpulan Pergerakan, sebuah organisasi non pemerintah yang berbasis di Bandung, Jawa Barat dalam diskusi bulanan Yayasan Interseksi kali ini.
]]></content:encoded></item><item><title>Kebangsaan&#x2c; Nasionalisme&#x2c; dan Multikulturalisme</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2008-05-03T23:43:02+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Kebangsaan_Nasionalisme_dan_Multikulturalisme.php#unique-entry-id-100</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Kebangsaan_Nasionalisme_dan_Multikulturalisme.php#unique-entry-id-100</guid><content:encoded><![CDATA[Dr.   Achmad Fedyani Syaifuddin


Pergeseran peristilahan dari "suku bangsa" menjadi "kelompok etnik" (ethnic groups) merelatifkan dikotomi "kita"/"mereka", karena istilah "kelompok etnik", berbeda dari "sukubangsa", berada atau hadir di dalam "kita" ("self") sekaligus "orang lain/mereka" ("others").   Mekanisme batas (boundary mechanism) yang menyebabkan kelompok etnik tetap kurang-lebih distinktif atau diskret memiliki karakteristik formal yang sama di kota-kota metropolitan seperti Jakarta maupun di daerah pedalaman pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, dan perkembangan identitas etnik dapat dipelajari dengan peralatan konseptual yang sama di Indonesia maupun di negeri-negeri lain, meski pun konteks-konteks empirisnya berbeda-beda atau mungkin unik.   Pada masa kini, kalangan antropologi sosial mengakui bahwa mungkin sebagian besar peneliti kini mempelajari sistem-sistem kompleks yang "unbounded" daripada komunitas-komunitas yang "terisolasi".   Baca selanjutnya>>
]]></content:encoded></item><item><title>Membaca Film To Mompalivu Bure sebagai Esai Multikultural</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2008-05-03T23:41:37+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Membaca_Film_To_Mompalivu_Bure_sebagai_Esai_Multikultural.php#unique-entry-id-98</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Membaca_Film_To_Mompalivu_Bure_sebagai_Esai_Multikultural.php#unique-entry-id-98</guid><content:encoded><![CDATA[Suma Reilla Rusdiarti


Pembacaan atas sebuah karya film dapat dimulai dan mencakup beberapa hal, seperti masalah tema, pendekatan, sudut pandang, aspek sinematografis, tujuan dan fungsi pembuatan film, dan lain sebagainya.   Saya tidak akan membahas semuanya, karena ruang dan waktu yang terbatas.   Pembacaan atas film To Mompalivu Bure ini akan saya batasi pada dua hal, yaitu masalah representasi dan masalah narasi yang akan menyentuh masalah tema, aspek sinematografis, dan tujuan pembuatan film ini.   Baca selanjutnya>>
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Peluncuran dan Diskusi Film To Mompalivu Bure</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-04-22T20:06:25+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Peluncuran_dan_Diskusi_Film_To_Mompalivu_Bure.php#unique-entry-id-96</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Peluncuran_dan_Diskusi_Film_To_Mompalivu_Bure.php#unique-entry-id-96</guid><content:encoded><![CDATA[Setelah beberapa bulan dalam proses post-production, sebagian kecil data audio-visual yang didapat dari pekerjaan lapangan selama satu bulan itu, antara lain, dijadikan sebagai bahan untuk menyusun sebuah film dokumenter berjudul To Mompalivu Bure atau Kisah Orang-orang Pencari Garam. ...  Maka kisah pencarian garam tadi adalah juga cerita tentang kisah-kisah eksitensial orang Wana berjumpa dengan dan berlari dari problem-problem dan peluang yang tersedia dalam modernitas, dengan kampung, dan agama, dan pemerintah, dan bemacam-macam kisah yang saling kelindan satu dengan lainnya. 


...Pembahas pertama, Suma Riella Rusdiarti, seorang kritikus film yang juga dosen di FIB UI, mengingatkan tentang pentingnya film sebagai salah satu media untuk merepresentasikan realitas yang tak terbatas ke dalam bahasa gambar yang, tentu saja, memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu. 

...Akan tetapi, jika yang terjadi adalah sebaliknya, sebuah film akan sulit berbicara karena penonton hanya menyaksikan bahasa gambar yang bergerak dengan cepat&mdash;dan seringkali banyak&mdash;tetapi kehilangan fokus dan gagal mempengaruhi kesadaran penonton.


...Gambar-gambar mengenai setting geografis Orang Wana ditampilkan dengan menawan, disertai dukungan narasi audio yang berusaha mengantar imajinasi penonton kepada kondisi rill yang mungkin dirasakan seorang yang baru pertama kali berkunjung ke sana.   Akan tetapi, narasi audio atau teks yang tidak tepat akan membuat sebuah film gagal mendekatkan imajinasi penonton terhadap hal-hal yang tidak mungkin terrepresentasikan dalam gambar. ...  Berbeda dengan jenis film lainnya, fungsi narasi audio atau teks dalam jenis film dokumenter menjadi begitu penting karena lewat inilah pesan yang hendak disampaikan sebuah film akan berhasil ditangkap atau tidak oleh penonton.


...Reilla memberi contoh sebuah film dokumenter lain tentang komunitas ToWana, Indo Pino, yang dibuat oleh pasangan Martina dan Gerard dari Prancis, yang secara terfokus mampu menampilkan isu tentang metode pengobatan tradisional orang Wana dan pertanyaan yang muncul ketika tokoh waliya yang biasa mengobati orang itu terserang sakit. 
]]></content:encoded></item><item><title>To Mompalivu Bure: A Synopsis</title><dc:creator></dc:creator><category>PRESS RELEASE</category><dc:date>2008-04-09T23:41:22+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/To_Mompalivu_Bure_A_Synopsis.php#unique-entry-id-94</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/To_Mompalivu_Bure_A_Synopsis.php#unique-entry-id-94</guid><content:encoded><![CDATA[<h4 class="pullquote">To Mompalivu Bure is a part of our efforts to highlight some problematic agenda of the state's development trajectories in dealing with local communities in various parts of the country. ...  Hopefully the movie will be of some use for the policy maker and people who are concerned with issues of minority rights, particularly those whose main concern is with local communities and local politics.</h4>

...As Wana people inhabit a vast area in the Nature reservation zone, the film captures only three locations where Wana community resides, namely in Marisa, Kayupoli and Taronggo, with Kayupoli as the remotest among the three.   ...  Meanwhile, a story of Toronggo represents intense encounters between the Wana and the modern world, where various institutions, i.e. education facilities, health centers, and religious traits have existed thus play important roles in the daily life of the Wana.


...To Mompalivu Bure is a part of our efforts to highlight some problematic agenda of the state's development trajectories in dealing with local communities in various  parts of the country. ...  Hopefully the movie will be of some use for the policy maker and people who are concerned with issues of minority rights, particularly those whose main concern is with local communities and local politics.


...To Mompalivu Bure adalah sebuah video dokumenter yang didasarkan pada penelitian audio visual di komunitas Wana di lingkungan Cagar Alam Morowali, Sulawesi Tengah. 

...Cara mereka menanggapi perubahan ternyata tidak seragam, masing-masing kelompok orang Wana yang tinggal di lokasi berbeda ternyata memiliki strategi yang berbeda ketika harus menghadapi perubahan, baik yang berasal dari luar maupun yang terjadi sebagai konsekuensi dari dinamika internal di dalam komunitas mereka. 
]]></content:encoded></item><item><title>Public Discussion and Film Screening</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2008-04-06T20:34:54+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Public_Discussion_and_Film_Screening.php#unique-entry-id-93</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Public_Discussion_and_Film_Screening.php#unique-entry-id-93</guid><content:encoded><![CDATA[The Interseksi Foundation in cooperation with the TIFA Foundation cordially invites you to A Public Discussion and Film Screening on


Date/Time: Thursday, 10 April 2008 at 13.00 - 16.30 PM


...8 B, Jakarta Selatan 12730. 

...Film Title: To Mompalivu Bure (Kisah Orang-orang Pencari Garam)


...	▪	Suma Riella Rusdiarti (Lecturer, University of Indonesia)


	▪	Daniel Rudi Haryanto (Adio-visual Researcher at the Interseksi Foundation)


	▪	Jabar Lahadji (Executive Diretor, Sahabat Morowali, Palu, Central Sulawesi)


RSVP: Nia at 021-7820444
]]></content:encoded></item><item><title>Call for Peace in Central Aceh Falls to Deaf Ears</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2008-03-29T13:18:31+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Call_for_Peace_in_Central_Aceh_Falls_to_Deaf_Ears.php#unique-entry-id-92</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Call_for_Peace_in_Central_Aceh_Falls_to_Deaf_Ears.php#unique-entry-id-92</guid><content:encoded><![CDATA[One might wonder why after the long and winding road to reach the peace pact between the Government of Indonesia and the Free Aceh Movement, which signed in Helsinki, Finland on August 25, 2005-- after the loss of hundred thousands Acehnese by the impact of earthquake and tsunami--violence still occur between groups in Aceh. ...  The peace pact which previously conducted under the supervision of the Aceh Monitoring Mission thus an international body, has been transferred to Indonesian government and the local authorities therefore (ideally) all security matters are fall into the jurisdiction of police force as it is the only  authority which mandated to protect the security of all civilians. 

...The latest incident occurred following one which happened on February 29th, at 10.00AM in Kota Takengon, where employment dispute took place between  IPT (Terminal Workers Group) and Komite Peralihan Aceh (KPA) that resulted attack of 3 (some sources mentioned 4) KPA members. 

...Militia groups were established in order to maintain the areas within Indonesia&rsquo;s territory thus transformed the armed conflict into one of intergroup conflict in the Gayo society, which is quite a multiethnic one, although it has been part of Aceh Sultanate in 16 century hence also part of Aceh Province.


...Nonetheless the Indonesian authority denied the existence of such groups prior to the signing of Helsinki MoU but strangely militias are mentioned under the ones who have the rights to receive reintegration funds. 

...Recent conversation via sms, email and phone to friends and sources in Banda Aceh and  Takengon, from student activist, NGO worker, to member of  BRA and KPA members; expressed their hopes  that police is able to go thorough investigation in order to take the responsible parties into account. 

...One thing is clear that under the frame of sustainable peace building, local civilian authority, which included police force, must be aware that it is their responsibility to facilitate peaceful environment, by their ability to bridge communication among any groups from the grass root to the &lsquo;elite&rsquo; level of society.   Only with continuous  dialogue on the importance to support the peace agreement among all level of Acehnese society, and not only via ceremonial events to celebrate peace pact or the disbursement of reintegration &lsquo;projects&rsquo; that peace can be transformed into a more positive way which brings the ideal welfare to Aceh society in all districts.<br />
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan dari Miriam Budiarjo Lecture</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-03-17T13:06:09+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_dari_Miriam_Budiarjo_Lecture.php#unique-entry-id-91</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_dari_Miriam_Budiarjo_Lecture.php#unique-entry-id-91</guid><content:encoded><![CDATA[Miriam Budiarjo, Nugroho Wisnu Murti dalam sambutannya mengatakan bahwa acara Miriam Budiarjo Lectures ini merupakan apresiasi nyata bagi perkembangan ilmu perpolitikan  di Indonesia yang dikembangkan atas pengabdian Prof. 

...Lebih lanjut Agung menyatakan bahwa dalam Hubungan Internasional suatu isu memiliki empat dinamika yaitu: pertama, militer strategis dan diplomasi; Kedua, politik ekonomi dan organisasi internasional; Ketiga, keamanan, keamanan merupakan  harga mati bagi sebuah bangsa. 

...Menurutnya, ilmu Administrasi Negara sebagai bagian dari ranah ilmu politik memegang peranan penting dalam suatu negara atau suatu pemerintahan untuk mewujudkan tujuan negara yang termaktub dalam UUD 1945, dimana baik atau buruknya pemerintahan ditentukan oleh sistem pelayanan administrasi negara/ publik. 

...Pergeseran administrasi publik terbagi kedalam tiga bagian yaitu; pertama, administrasi publik model klasik, dimana model ini dilihat sebagai seperangkat intitusi negara, proses, prosedur, sistem dan struktur organisasi yang melayani urusan organisasi birokrasi yang bekerja melalui seperangkat aturan yang berdasarkan pegawai negeri yang politis dan terintitusionalisasi, banyaknya peraturan internal, penugasan permanen yang seragam. 

...Kedua, kritik terhadap model klasik karena model tersebut dianggap tidak peka terhadap kebutuhan masyarakat, tidak peka terhadap hubungan masyarakat dan negara, sebuah birokrasi yang tidak peka dan kurang responsif karena penggunaan sumber daya publik hanya terfokus pada proses dan prosedur.   Dengan melihat model sistem administrasi publik seperti demikian, perlu adanya gelombang pembaharuan terhadap sistem administrasi negara klasik yaitu dengan Progressive era public administration, yaitu meningkatkan profesionalisme pelayanan publik melalui jaminan seleksi dan promosi dalam birokrasi. 

...Eko Prasojo juga mengungkapkan bahwa dalam sistem administrasi publik terdapat isu-isu administrasi publik kontemporer yaitu: reformasi administrasi, desentralisasi, kualitas pelayanan publik, good governonce, globalisasi, kebijakan publik dan hukum administrasi negara. 

...Hambatan yang ditemui dalam mengembangkan ilmu politik di Indonesia antara lain adalah  kebiasaan para dosen yang menggunakan buku lama secara turun-temurun dan paradigma dosen yang tidak terbuka dengan perkembangan ilmu politik terkini. ]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi Preview Film Dokumenter tentang Komunitas Wana</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2008-03-07T21:19:27+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Diskusi_Preview_Film_Dokumenter_tentang_Komunitas_Wana.php#unique-entry-id-90</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Diskusi_Preview_Film_Dokumenter_tentang_Komunitas_Wana.php#unique-entry-id-90</guid><content:encoded><![CDATA[<a href="javascript:self.print()"> Print this Page</A>


<SCRIPT LANGUAGE="javascript">blog_tags('post', 'Diskusi Preview Film Dokumenter tentang Komunitas Wana.html', 'Diskusi Preview Film Dokumenter tentang Komunitas Wana')</SCRIPT>


Hasil penelitian audio visual di kawasan Cagar Alam Morowali, dengan subjek kehidupan orang-orang Wana, sampai saat ini masih dalam proses pengolahan data dan editing.   Kalau segalanya berjalan sesuai rencana, bulan April 2008 nanti Yayasan Interseksi akan menyelenggarakan peluncuran versi pre-production release sebuah film dokumenter yang dihasilkan dari proses pengolahan dan editing tadi.    Untuk mendapatkan lebih banyak masukan tentang film yang akan diluncurkan itulah, tgl.   10 Maret 2008 kami mengundang beberapa orang peserta menghadiri sebuah diskusi yang akan membahas preview film yang masih sedang dalam proses pembuatannya.


...Tempat	: Kantor Yayasan Interseksi, Jl Lenteng Agung Barat No 39 RT 003 RW 001, Jakarta Selatan 12610 (Depan Stasiun Tanjung Barat)


Untuk konfirmasi lebih lanjut, silahkan menghubungi saudari Nia di 021-7820 444 (Sekretariat Yayasan Interseksi) atau  http://interseksi.org.
]]></content:encoded></item><item><title>Monthly Discussion Praktek Hukuman Mati di Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2008-03-13T10:51:10+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Praktek_Hukuman_Mati_di_Indonesia.php#unique-entry-id-89</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Praktek_Hukuman_Mati_di_Indonesia.php#unique-entry-id-89</guid><content:encoded><![CDATA[Hal ini tentu melahirkan pertanyaan,  mengapa soal hukuman mati justru populer di masa desakan perubahan sistem peradilan, sistem hukum nasional dan berbagai instrumennya meningkat dan menjadi agenda politik nasional post Soeharto?.   Memang pada periode ini beberapa ketentuan hukum baru justru mencantumkan hukuman mati sebagai ancaman hukuman maksimal, seperti pada UU 26 tahun 2000 tentang Peradilan HAM, ataupun ketentua Undang-Undang No. 15 tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. 

Akan tetapi sangat kontras bila melihat semangat dalam konsitusi kita yang berusaha untuk menjamin dan menjunjung tinggi hak untuk hidup sebagai hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (non derogable rights) . 

...&ldquo; Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.&rdquo;

..., dan apakah hal itu lahir dari kesadaran membangun sistem hukum yang berwibawa, atau justru hal itu dikembangkan untuk mengatasi ketidak wibawaan hukum yang semakin terbuka?.    Permasalahan ini tidak dapat dijawab lewat analisis spekulatif yang sering berkembang untuk membenarkan penerapan hukuman mati, seperti hal itu dibenarkan oleh ajaran agama, atau untuk membalas tindakan si pelaku kejahatan,hukuman mati merupakantindakan yang manusiawi untuk mengakhiri derita pelaku kejahatan, dst. 

Sayangnya, semua spikulasi pembenaran penerapan hukuman mati itu memang akhirnya telah menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang banyak menjatuhkan hukumna mati.    Berdasarkan catatan berbagai lembaga HAM internasional, Indonesia termasuk salah satu negara yang masih menerapkan ancaman hukum mati pada sistem hukum pidananya (retentionist). ]]></content:encoded></item><item><title>Monthly Discussion On Women&#x27;s Leadership in Muhammadiyah</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2008-02-08T06:21:20+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Monthly_Discussion_On_Women_Leadership_in_Muhammadiyah.php#unique-entry-id-88</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Monthly_Discussion_On_Women_Leadership_in_Muhammadiyah.php#unique-entry-id-88</guid><content:encoded><![CDATA[On Friday the 15th of February 2008 at 15.30  we are inviting Kurnia Hastuti Dewi of the Center for Political Studies, Indonesian Institute of Sciences (LIPI), to discuss the topic of  Competing Image and Negotiating Power for Women's Leadership  in Muhammadiyah to our monthly discussion.  

...This paper examines competing images of women leadership and dynamics of gender relations between Muhammadiyah and &lsquo;Aisyiyah elites, and between old and young generations in these organizations. ...  This paper also shows that there is struggle between the established notion of gender-role identities of being wanita sholehah for Muhammadiyah female as appropriate image for women leader vis a vis masculine traits of leadership which culturally assigned for Muhammadiyah male.   The reservation of Muhammadiyah and &lsquo;Aisyiyah prominent elites across generation toward female candidate with masculine traits of leadership and possible influence of the Javanese culture context in determining reasonable strategies for negotiation gender relations is also be addressed. 


...Makalah ini memeriksa citra-citraan yang saling bersaing satu dengan lainnya tentang kepemimpinan perempuan dan dinamik relasi gender antara elit-elit Muhammadiyah dan Aisyiyah, dan antara generasi tua dan generasi muda dari organisasi tersebut. ...  Makalah ini juga memperlihatkan adanya pergulatan antara gagasan mapan tentang identitas sebagai "wanita sholehah"  untuk perempuan Muhammadiyah sebagai citra yang pantas untuk pemimpin perempuan vis a vis  ciri-ciri kepemimpinan maskulin yang secara kultural diberikan kepada laki-laki Muhammadiyah.   Reservasi lintas generasi elit-elit Muhammadiyah dan Aisyiyah terhadap kandidat perempuan dengan ciri kepemimpinan maskulin dan kemungkinan pengaruh dari budaya Jawa dalam menentukan strategi-strategi untuk negosiasi relasi gender juga dibahas dalam makalah ini.

<a name="ref1" href="#call1">[#]</a> Kurniawati Hastuti Dewi is a researcher at the Centre for Political Studies The Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Jakarta, Indonesia.
]]></content:encoded></item><item><title>Dari Workshop Hasil Riset Audio-visual tentang Komunitas Wana</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-02-06T18:27:53+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Dari_Workshop_Hasil_Riset_Audio-visual_tentang_Komunitas_Wana.php#unique-entry-id-87</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Dari_Workshop_Hasil_Riset_Audio-visual_tentang_Komunitas_Wana.php#unique-entry-id-87</guid><content:encoded><![CDATA[Dalam workshop ini, Tim Peneliti Interseksi yang terdiri dari Daniel Rudi Haryanto, Erwan Effendi, dan Ari Rusyadi menampilkan hasil penelitian mereka dari lapangan, yaitu footages yang selanjutnya akan diolah sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah film tentang ToWana. 

...Ini berkait dengan fakta bahwa bagi kalangan agamawan, yang dalam hal ini terutama tercermin dari sikap seorang pendeta GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) yang telah memiliki sebuah gereja di Taronggo, ritual Mamago adalah kekafiran yang harus ditinggalkan Orang Wana. 

...Workshop yang juga diikuti oleh sejumlah pekerja dan pemerhati film tersebut diawali dengan orientasi acara oleh Amin Mudzakkir sebagai panitia penyelenggara yang kembali mengingatkan secara singkat berbagai gagasan awal penelitian audio-visual tentang komunitas ToWana sebagaimana telah didiskusikan sebelumnya dalam workshop pra produksi. 

...Ini berkait dengan fakta bahwa bagi kalangan agamawan, yang dalam hal ini terutama tercermin dari sikap seorang pendeta GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) yang telah memiliki sebuah gereja di Taronggo, ritual Mamago adalah kekafiran yang harus ditinggalkan Orang Wana. 

...Menurut Hafiz, seorang pekerja film dokumenter dan pegiat Forum Lenteng yang ikut hadir dalam workshop, footage dari lapangan yang begitu melimpah itu harus diseleksi dan diedit sedemikian rupa agar menghasilkan sebuah film yang mampu menyampaikan pesan substantifnya tanpa kehilangan fungsinya sebagai media yang mempunyai nilai-nilai estetika tertentu. ...  Oleh karena itu, konstruksi film yang sekarang akan masuk proses pasca produksi itu adalah bagaimana menampilkan secara audio-visual respons Orang Wana di beberapa lokasi yang telah disebutkan di atas terhadap perubahan. 

...Akhirnya, workshop pasca produksi tersebut berakhir dengan menghasilkan sejumlah tugas lanjutan bagi Tim Peneliti untuk menyelesaikan sebuah film tentang Orang Wana sebagaimana diharapkan dalam perdebatan teoritis dan empiris yang berlangsung selama dua hari itu.   Bagaimanapun, gagasan-gagasan besar dan temuan-temuan empiris penting yang dipresentasikan dalam workshop pasca produksi itu harus direpresentasikan ke dalam sebuah film yang secara audio-visual memadai, baik secara substantif maupun secara estetis, sehingga pesan yang hendak disampaikan akan sampai kepada penonton atau siapapun yang berkepentingan dengan kehadiran film tentang komunitas ToWana ini. 
]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Hasil Riset Audio Visual di Komunitas ToWana</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2008-01-31T21:03:24+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Workshop_Hasil_Riset_Audio_Visual_di_Komunitas_ToWana.php#unique-entry-id-86</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Workshop_Hasil_Riset_Audio_Visual_di_Komunitas_ToWana.php#unique-entry-id-86</guid><content:encoded><![CDATA[<SCRIPT LANGUAGE="javascript">blog_tags('post', 'Workshop Hasil Riset Audio Visual di Komunitas ToWana.html', 'Workshop Hasil Riset Audio Visual di Komunitas ToWana')</SCRIPT>


...Dua minggu yang lalu, tim peneliti udio-visual Yayasan Interseksi kembali dari sebuah field work di kawasan Cagar Alam Morowali, kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. ...  Kalau selama ini kami menggunakan cara-cara konvensional dalam melakukan pengumpulan data, dalam riset audio-visual kami menggunakan perangkat kamera video untuk menghasilkan data audio-visual tentang ragam pola strategi yang dipakai komunitas-komunitas lokal di Indonesia dalam berhadapan dengan lingkungan pengaruh di luarnya. 


Pada bulan desember 2007 kami memberangkatkan tiga orang anggota tim peneliti kami ke kawasan Cagar Alam Morowali, Sulawesi Tengah.   Setelah selama satu bulan penuh berada di lapangan, mereka membawa pulang bukan oleh-oleh cenderamata berupa barang-barang eksotik seperti kebiasaan para pelancong, melainkan tumpukan besar data audio-visual yang sangat berharga. ...  Tantangan terbesar yang sekarang kami hadapi adalah bagaimana agar jejak-jejak audio-visual, orang biasa menyebutnya footage, yang total berukuran lebih dari 1 Terabyte (1000 GB), yang berhasil dikumpulkan dengan susah payah itu, bisa menghasilkan sebentuk pengetahuan yang bisa merangsang pikiran agar menjadi lebih cerdas. 


...Melalui workshop tersebut kami berusaha memeriksa kelengkapan data, mendengar sebanyak mungkin saran dan kritik, sekaligus menetapkan bayangan konseptual tentang apa yang ingin kami hasilkan dari pekerjaan lapangan yang sudah dilakukan.   Diharapkan hasil riset audio-visual kami bisa ditampilkan di depan publik pada awal minggu kedua bulan maret 2008.
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Diskusi Buku Hak Minoritas di Yogya</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2007-01-03T13:23:24+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_Buku_Hak_Minoritas_di_Yogya.php#unique-entry-id-84</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_Buku_Hak_Minoritas_di_Yogya.php#unique-entry-id-84</guid><content:encoded><![CDATA[Logika coexistence menganggap identitas itu berbatas antara satu dengan yang lain sedangkan logika exchange menganggap tidak ada batasan yang tegas antara identitas satu dengan yang lain, semua identitas memiliki potensi untuk melebur. 


<h4 class="pullquote">Berbeda halnya dengan masyarakat AS, pada masyarakat poskolonial, permasalahan lebih terletak pada adanya pemilahan identitas yang didasarkan pada logika penguasaan. 

...Berbeda halnya dengan masyarakat AS, pada masyarakat poskolonial, permasalahan lebih terletak pada adanya pemilahan identitas yang didasarkan pada logika penguasaan. 

...Pertama adalah membuat identitas yang baru, yang berbeda dengan identitas-identitas pembangun negara bangsa dan yang kedua adalah mengangkat salah satu identitas menjadi identitas yang dominan di negara itu. 

...Pertanyaan kedua adalah mengenai identitas itu sendiri yang cair dan dinamis sehingga ketika ditarik pada kebijakan negara, maka negara harus melihat dari konteks ruang dan waktu yang seperti apa sebelum merumuskan kebijakan multikultural.


Penjelasan dari pertanyaan pertama adalah karena kecenderungan antropologis yang dibawa oleh wacana multikulturalisme di Indonesia sehingga isu-isu yang diangkat adalah mengenai permaslahan etnisitas dan kultur. 

...Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, ketika ditarik pada konteks Indonesia, apa yang harus dilakukan negara ketika melihat begitu banyak kepentingan dari berbagai macam kelompok yang meminta affirmative action, kelompok yang mana yang harus didefinisikan dan didahulukan kepentingannya. 

...Namun aspek terpenting mengenai wacana multikulturalisme di Indonesia adalah bagaimana sekarang memikirkan payung hukum bagi kelompok-kelompok minoritas yang berbeda, yang selama ini terabaikan dalam kebijakan negara. ]]></content:encoded></item><item><title>It has been Quite A Year&#x21;</title><dc:creator></dc:creator><category>A LETTER FROM TANJUNG BARAT</category><dc:date>2007-12-22T13:52:25+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/It_has_been_Quite_A_Year.php#unique-entry-id-83</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/It_has_been_Quite_A_Year.php#unique-entry-id-83</guid><content:encoded><![CDATA[As we are approaching the dawn of the New Year of 2008 here in our office, we've been looking back on 2007. 


It's been quite a year for the Interseksi Foundation and our site, interseksi.org. 2007 was a remarkable time for us with its momentum and challenges. 

...But when we put them in perspective, they laid down a foundation for what we are going to pursue in the future.</h4>


...But when we put them in perspective, they laid down a foundation for what we are going to pursue in the future. 

...And as there are, presumably, huge footage taken during the research, we will have to have a new storage system to store them so that it will be available for future project(s) and for anyone interested in utilizing them. ...  And if everything goes as planned, next year we'll be conducting another research in other five local minority communities throughout the country, and some other interesting new projects. 

...To do that, we'll be releasing new version of Interseksi.org (and for the lack of a better name let's just call it Interseksi.org Version 3.0), and with that some changes are happening, even more than we had anticipated. 

...We will continue to throw some dots in hope of connecting them to draw meaningful lines in the future, and your support is what make it possible. ]]></content:encoded></item><item><title>Masyarakat Adat Wana dan Kearifan Lingkungan</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2008-01-01T16:10:08+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Masyarakat_Adat_Wana_dan_Kearifan_Lingkungan.php#unique-entry-id-81</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Masyarakat_Adat_Wana_dan_Kearifan_Lingkungan.php#unique-entry-id-81</guid><content:encoded><![CDATA[Setidaknya terdapat dua &lsquo;keuntungan&rsquo; sekaligus &lsquo;kerugian&rsquo; bagi masyarakat Wana dengan munculnya istilah demikian yaitu; pertama, terdapat suatu upaya agar mereka kemudian menjadi tidak terisolir dan kemudian berdaya; kedua, terjadi perhatian yang luar biasa terhadap mereka.

...Pertanian sistem perladangan dimulai dengan penebangan hutan sekunder-memakai kapak atau parang, sama sekali bukan gergaji apalagi chain saw- sesuai dengan ukuran jenis ladang yang mereka butuhkan,--totos, bonde, ataukah tou-- dengan terlebih dahulu melaksanakan kapongo. 

...Ladang jenis totos biasanya ditanami jagung, ubi kayu dan padi (pae) tiga bulan, bonde ditanami padi enam bulan, jagung, ubi kayu dan sayur, sedang tou ditanami jagung, padi enam bulan, tebu, kacang panjang, dan sayur bayam. ...  Menurut pengakuan orang-orang Wana, bibit jenis padi tersebut tidak didatangkan dari luar wilayah adat Wana, melainkan bibit asli lokal yang dapat diperoleh pada daerah-daerah terisolir lain seperti Langitoya, Kajumarangke, dan Kallangbatua. 

...Kedua paenyakit itu dipercaya menular melalui manusia yaitu jika ada tanaman padi yang terserang kemudian seseorang melewatinya lantas orang tersebut kemudian melewati ladang padi lainnya, maka ladang yang kedua tadi pasti akan terserang penyakit yang sama pula. 

...Menurut orang Wana, tingkat kesulitan dan resiko yang ditanggung dalam mencari rotan lebih besar dibanding mencari damar, tetapi kebanyakan orang Wana mengabaikan hal itu oleh karena adanya pesanan ataupun jerat utang yang ditanamkan oleh middle man atau pedagang  pengumpul-yang mereka sebut bos-dari kota. 

...Meskipun demikian, secara spesifik pengambilan rotan pada daerah Kajupoli lebih banyak dilakukan dibandingkan dengan damar dari kedua daerah lainnya itu karena: 1) pengiriman lebih mudah melalui Sungai Morowali; 2) pada KM 2 (Morowali Tua) berdiam beberapa orang pedagang pengumpul, serta; 3) Jarak tempuhnya dengan daerah pesisir lebih dekat.

...Bagi orang Wana, terutama pada daerah transisi antara pegunungan dan pesisir, tape recorder yang membutuhkan baterai paling banyak adalah yang paling bagus, atau dengan kata lain kecanggihan suatu tape recorder ditentukan oleh banyaknya baterai yang dibutuhkan. ]]></content:encoded></item><item><title>Dari Workshop Pra-Riset Audio Visual tentang Komunitas To Wana</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2007-11-30T21:07:39+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Dari_Workshop_Riset_Audio_Visual_tentang_Komunitas_To_Wana.php#unique-entry-id-80</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Dari_Workshop_Riset_Audio_Visual_tentang_Komunitas_To_Wana.php#unique-entry-id-80</guid><content:encoded><![CDATA[<br />  Seperti diberitakan sebelumnya, bulan November 2007 sampai Februari 2008 Yayasan Interseksi akan melakukan sebuah riset audio visual tentang problem hak-hak minoritas di kalangan komunitas Wana di kawasan Cagar Alam Morowali, kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. 

...Untuk mempersiapkan para peneliti yang akan diterjunkan ke lapangan selama satu bulan mulai bulan Desember 2007 nanti, seperti biasa kami mengadakan sebuah workshop pra penelitian yang tujuannya adalah agar para peneliti memiliki pehaman yang baik tentang isu utama yang akan diangkat melalui medium audio-visual tersebut. 

...Komunitas ini dipilih dari sembilan wilayah yang pernah diteliti para peneliti Interseksi, karena selain belum banyak diteliti oleh pihak lain, komunitas Wana juga mewakili dua kenyataan sekaligus: dari segi jumlah ia jelas sangat minoritas dibanding sisa total populasi penduduk Indonesia, dan secara "ideologis" ia juga sudah lama mengalami apa yang kami sebut proses "minoritasasi".


Selain dari tim interseksi materi juga banyak disampaikan oleh Yuli Sudaryanto, anggota tim peneliti Interseksi yang pernah meneliti komunitas Wana tahun 2005, dan Jabar Lahadji, pimpinan Yayasan Sahabat Morowali, Sulawesi Tengah, yang telah mendedikasikan sebagian besar waktunya bersama komunitas Wana selama puluhan tahun. ...  Kondisi alam di kawasan Cagar Alam Morowali juga merupakan tantangan yang sangat menarik: untuk pindah dari satu pemukiman penduduk ke lokasi pemukiman lain harus ditempuh dengan jalan kaki berjam-jam bahkan bisa satu hari penuh. 


...Transaksi-transaksi ekonomi menggunakan uang mungkin memang lebih sering terjadi, karena orang Wana juga sudah terbiasa pergi ke pasar di kota kecamatan Kolonedale, tapi uang tetap belum terlalu banyak mengubah kondisi sosial ekonomi di dalam pemukiman-pemukiman mereka di dalam kawasan Cagar Alam. 


...Ketika Yuli Sudaryanto datang ke Wana tahun 2005 yang lalu, misalnya, dia cukup terperangah mendengar sebagian dari anak-anak muda di sana ternyata cukup hafal lagu Cucok Rowo, sebuah lagu pop Jawa yang waktu itu cukup populer di kota-kota besar di Indonesia. 

...Apa yang dikatakan Indo Pino ketika ia sembuh mungkin memberi kita sedikit gambaran tentang filosofi hidup orang Wana, bahwa yang membuatnya sembuh bukan "obat biru" tapi kekuatan tuhan yang masuk ke dalamnya. ]]></content:encoded></item><item><title>Sedikit Cerita dari Annual Conference on Islamic Studies 2007</title><dc:creator></dc:creator><category>JOURNAL</category><dc:date>2007-11-30T00:56:38+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Sedikit_Catatan_dari_Annual_Conference_on_Islamic_Studies_2007.php#unique-entry-id-79</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Sedikit_Catatan_dari_Annual_Conference_on_Islamic_Studies_2007.php#unique-entry-id-79</guid><content:encoded><![CDATA[Saya beruntung terpilih sebagai salah satu di antara 60 pemakalah paralel yang akan mempresentasikan paper pada acara &ldquo;Annual Conferences on Islamic Studies 2007&rdquo;, di ruang Ratu Agung Ballroom, Sahid Raya Hotel, Pekan Baru.   Saya mengatakan saya dipayungi dewi keberuntungan karena, menurut laporan ketua panitia konferensi, terdapat sekitar 430 paper yang masuk ke meja panitia untuk didedah dan diseleksi.   Dan, akhirnya tidak semua orang yang berminat dan telah mengirimkan papernya mendapatkan kemewahan untuk menghadiri haplah intelektual yang bertema &ldquo;Kontribusi Ilmu-Ilmu KeIslaman dalam Menyelesaikan Masalah-Masalah Kemanusiaan pada Millenium Ketiga&rdquo;. 

...Pertemuan para peminat kajian Islamic Studies di Riau ini adalah penyelenggaraan yang ketujuh sejak konferensi ini digelar pertama kali pada tahun 2000-an yang lalu.   Sejak pertemuan ke-6 di Bandung, acara ini telah melibatkan peserta yang tidak lagi terbatas pada skolar di lingkungan internal STAIN dan STAI setanah air, tetapi telah membuka ruang yang lebih bebas bagi partisipasi peminat studi Islam di luar lingkup UIN dan STAI/STAIN, misalnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). 

...Ada beberapa nama lagi, dan salah satu yang urung datang adalah Nasr Hamid Abu Zaid, skolar Mesir yang dikafikan oleh pemerintahnya dan hengkang ke Belanda dan mengajar di sana. 

...Secara singkat sesi persidangan parallel hari berikutnya juga diganggu oleh mereka, bahkan seorang presenter dari Madura, Alfis (eks aktivis Desantara) malah ditantang untuk menari, hanya karena mempresentasikan siasat kesenian tradisional melawan Perda syari&rsquo;at Islam di Pamekasan. 

...Setelah mengikuti rangkaian acara penutupan yang lebih bersifat ceremony dan structural, saya menyempatkan diri berjalan-jalan di Pasar Bawah Pekan Baru dengan teman-teman peserta lain, di antaranya Novi Anoegrajekjti dari LSM Desantara. ]]></content:encoded></item><item><title>Demokrasi Lokal di Aceh Selatan Paska MOU Helsinki</title><dc:creator></dc:creator><category>ARTICLE</category><dc:date>2007-11-18T19:43:27+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Demokrasi_Lokal_di_Aceh_Selatan_Paska_MOU_Helsinki.php#unique-entry-id-77</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Demokrasi_Lokal_di_Aceh_Selatan_Paska_MOU_Helsinki.php#unique-entry-id-77</guid><content:encoded><![CDATA[Dunia menyaksikan bahwa di Aceh, &lsquo;perdamaian&rsquo; tidak sekedar merupakan penghentian kekerasan, melainkan suatu arena baru dimana para pihak yang tadinya berkonflik mendapatkan kesempatan untuk menyumbangkan pikiran dan idealismenya melalui program-program yang dikampanyekan secara publik ketika proses pemilu. 

...Penulis selama beberapa hari memenuhi undangan untuk mengisi diskusi tentang demokrasi lokal dalam seri Dialog Kedai Kopi yang diselenggarakan oleh  Save Emergency For Aceh (SEFA), sebuah organisasi yang telah lama aktif dalam mendorong demokratisasi dan advokasi isu-isu HAM serta dialog antar budaya di Aceh.    Setelah melalui beberapa kali dialog publik di warung-warung kopi antara lain di Aceh Utara (Kota Lhokseumawe), Meulaboh (Aceh Barat) dan Aceh Tengah, kali ini dialog kedai kopi bertempat di Aceh Selatan, pada 13 November 2007 yang dihadiri oleh sekitar 15 orang keuchik (kepala desa) di Kecamatan Pasie Raja. 

...Etnografer Belanda, Snouck Hurgronje dalam laporan ekspedisinya di Aceh sebelum berlangsungnya kolonialisme yang panjang di tanah itu mengemukakan bahwa gampong adalah wilayah adat, dimana terdapat perangkat keuchik, tuha peut  (atau ureueng tuha) dan teungku atau imam meunasah.  ...  Secara spasial, di masa Kesultanan Aceh  gampong adalah merupakan kumpulan hunian di mana terdapat satu meunasah( atau surau); dan umumnya suatu gampong terdiri dari  beberapa jurong (lorong), tumpok  atau kumpulan rumah, dan ujong (atau ujung gampong).<a name="call1" href="#ref1">[1]</a>  

...Dalam catatan sejarahwan Anthony Reid,  kalangan saudagar di Selat Malaka mengambil persediaan pala dari wilayah ini.<a name="call3" href="#ref3">[3]</a>  Sekarang, petani pala hampir tidak ada lagi di Aceh Selatan, sebab sejak 4 tahun yang lalu serangan hama mematikan pohon-pohon pala para petani, menyebabkan mereka beralih pada tanaman nilam, selain tentunya padi. 

...Hingga saat ini, dari 16 kecamatan  yang ada di Kabupaten Aceh Selatan, beberapa di antaranya merupakan lokasi bagi keberadaan markas TNI Divisi 115 ( Di Kecamatan Pasie Raja, Trumon, Sawang dan Labuhan Haji) yang ada di tengah-tengah pemukiman penduduk.<a name="call4" href="#ref4">[4]</a> 

...Dalam percakapan penulis ketika diskusi di kedai kopi Kecamatan Pasie Raja dengan beberapa keuchik (atau gesyik, di beberapa wilayah lain di Aceh) terungkap bahwa  ureung gampong selama konflik senantiasa dipersepsikan sebagai &lsquo;pendukung pemerintah&rsquo; (apalagi aparat atau perangkat gampong), atau pro TNI/ Polisi, oleh pihak GAM. ]]></content:encoded></item><item><title>Penelitian Audio-Visual tentang Komunitas To Wana</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2007-11-04T14:30:01+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Penelitian_Audio-Visual_tentang_Komunitas_To_Wana.php#unique-entry-id-75</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Penelitian_Audio-Visual_tentang_Komunitas_To_Wana.php#unique-entry-id-75</guid><content:encoded><![CDATA[Kalau segalanya berjalan sesuai rencana, mulai bulan November 2007 ini sampai bulan Februari 2008 nanti Interseksi, dengan dukungan yayasan Tifa, akan mengorganisir sebuah penelitian baru, penelitian audio visual, yang akan mencoba merekam strategi-strategi lokal komunitas  To Wana di kawasan Cagar Alam Morowali, kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dalam menghadapi problem sistemik kehidupan mereka dalam konteks Indonesia kontemporer.   Komunitas To Wana adalah salah satu komunitas yang pernah diteliti tim peneliti Interseksi tahun 2005 lalu, dalam program penelitian tentang Hak Minoritas tahun pertama.


Dalam kaitan dengan pemahaman masyarakat Indonesia tentang hak minoritas, melalui beberapa program yang pernah dilajalankannya selama beberapa tahun terakhir ini,  Interseksi mendapati kenyataan yang kontradiktif satu dengan lainnya: di satu sisi orang Indonesia merasa bangga dengan kekayaan ragam budaya bangsanya, tapi di sisi lain kebanggaan tersebut tidak diiringi oleh terbitnya penerimaan penuh bahwa seluruh perbedaan itu memiliki hak hidup yang sama di dalam sebuah geopolitik yang sama, Indonesia.   Penelitian kami di sembilan daerah di Indonesia, misalnya, memperlihatkan kuatnya dorongan kelompok mayoritas untuk memaksakan nilai-nilai dan identitasnya kepada komunitas-komunitas minoritas yang memiliki perangkat nilai dan identitasnya sendiri. 


...Di lain pihak, aktivitas kami membawa persoalan hak-hak minoritas ke peta perdebatan diskursif mulai merangsang minat sebagian masyarakat Indonesia untuk mendiskusikan persoalan hak-hak komunitas minoritas secara lebih serius. ...  Meskipun demikian, karena pilihan medium dan cara penyampaian gagasan yang dipilih, yakni dalam bentuk tulisan ilmiah yang cenderung ketat dan pekat, buku tersebut belum dapat menjangkau khlayak peminat yang lebih luas. 

...Kenyataan seperti itu mendorong Interseksi mencari alternatif penyampaian gagasan yang, selain lebih mudah dipahami oleh lebih banyak orang, lebih mampu menarik minat dan kepedulian masyarakat terhadap problem-problem hak minoritas di Indonesia. ...  Penelitian ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan akan sebuah deskripsi naratif yang serius tentang sebuah problem krusial yang sedang dihadapi bangsa Indonesia, tapi yang disampaikan melalui medium dan idiom yang lebih mudah dipahami.
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Diskusi tentang Pencarian Identitas China Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2007-10-02T16:07:44+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_tentang_Pencarian_Identitas_China_Indonesia.php#unique-entry-id-72</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_tentang_Pencarian_Identitas_China_Indonesia.php#unique-entry-id-72</guid><content:encoded><![CDATA[Hal ini tentu saja mengherankan jika mengingat kehadiran mereka yang telah lama, bahkan ada sebuah versi sejarah yang mengatakan asal usul orang Indonesia adalah dari daerah Cina Selatan. 

...Oleh karena itu, Tobias menilai pendekatan akademis yang ada selama ini tentang kaum Tionghoa Indonesia tidak memadai lagi jika digunakan untuk melihat cakupan waktu yang merentang panjang sejak masa kolonial, masa kekuasaan Sukarno, dan masa kekuasaan Soeharto. 

...Apa yang dimaksud identitas tentu saja melibatkan relasi kaum Tionghoa sebagai minoritas dengan kelompok etnis lain yang mayoritas. ...  Dengan kata lain, permasalahan kaum Tionghoa Indonesia tidak bisa hanya dilihat dari aspek ekonomi semata, politik semata atau budaya semata. 

...Permasalahan sesungguhnya datang dari relasi kekuasaan yang membuat kaum Tionghoa tetap menjadi minoritas, meski pada tingkat tertentu mereka justru dianggap sebagai mayoritas. ...  Dalam diskusi tersebut juga muncul keraguan tentang apakah etnis Tionghoa masih bisa dikelompokkan sebagai kaum minoritas di Indonesia, mengingat bahwa bahkan jumlah numeriknya saat ini mungkin sudah jauh lebih banyak daripada etnis-etnis lain yang tidak pernah dianggap atau menganggap dirinya minoritas.


Oleh karena itu, kalau kemudian ditemukan adanya diskriminasi dalam soal relasi mayoritas-minoritas, usaha untuk menolak hal itu harus dikerjakan secara simultan.   Ini artinya, apa yang disebut pencarian identitas kaum Tionghoa Indonesia sesungguhnya bukan sekedar pekerjaan kaum Tionghoa semata atau kelompok etnis non-Tionghoa semata, tetapi harus melibatkan seluruh warga bangsa ini. ]]></content:encoded></item><item><title>Masa Depan Pluralisme</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2007-09-29T02:09:45+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Masa_Depan_Pluralisme.php#unique-entry-id-71</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Masa_Depan_Pluralisme.php#unique-entry-id-71</guid><content:encoded><![CDATA[Di ruang Nusantara Room yang sejuk, bertempat di hotel Dharmawangsa, Jakarta, 26 September 2007, sejak jam 14.30-17.30 telah digelar sebuah diskusi yang menyoal masa depan pluralisme agama, termasuk kebebasan beragama. 

...Menurutnya, acara ini bertujuan untuk bertukar-bagi pengalaman di antara beberapa lembaga yang bergerak di isu pluralisme, demokrasi dan civil society. 

...Pembicara kedua siang itu adalah Lily Zakiyah Munir, dari Center for Pesantren and Democracy Studies (CePDes) yang membahas upaya membangun jaringan kerja (network) untuk advokasi agama. 

...Menurutnya, betapapun Sukarno menganut istilah tersebut, namun tampaknya ia secara prinsipil menyadari bahwa konsep keTuhanan yang ia imajinasikan sangat sederhana dan terlepas dari segala atribut dan konsekuensi yang muncul pada kepercayaan monoteistik itu. ...  Singkatnya,  jika kita kembali kepada unintended consequences dari kebijakan desentralisasi maka enclave mayoritas yang memperjuangkan nilai-nilai dan budayanya dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan kehidupan multikultur di tanah air.

...Spektrum pertanyaan dan komentar sangat luas terkait dengan presentasi para pembicara, mulai dari klarifikasi konseptual pluralisme agama hingga mendebat konsep keTuhanan dalam Pancasila kita; mulai dari advokasi hingga bagaimana mewujudkan strategi advokasi pluralisme agama yang efektif. ...  Kita sadari bahwa dewasa ini pluralisme agama berada dalam situasi yang tidak menguntungkan dengan kehadiran Perda-perda berbasis interpretasi syari&rsquo;at, pengharaman pluralisme, liberalisme dan sekularisme oleh Majelis Ulama Indonesia, serta penghakiman keyakinan Jemaat Ahmadiyah  dan Lia Eden, dll. 

Mengakhiri laporan pandangan mata ini, saya teringat, kurang lebih, perkataan Kautsar Azhari, dosen Paramadina, tadi di forum tanya jawab, bahwa &ldquo;tidak ada yang berhak menghakimi keyakinan suatu kelompok kecuali kelompok tersebut&hellip;Negara bahkan tidak dapat menghakimi keyakinan seorang Kautsar Azhari!&rdquo; ]]></content:encoded></item><item><title>Monthly Discussion on Indonesian Chinese Quest for Identity </title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2007-09-20T14:50:36+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Monthly_Discussion_on_Indonesian_Chinese_Quest_for_Identity%20.php#unique-entry-id-70</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Monthly_Discussion_on_Indonesian_Chinese_Quest_for_Identity%20.php#unique-entry-id-70</guid><content:encoded><![CDATA[On Friday the 22nd of September 2007 at 15.30  we are inviting Tobias Basuki, MA of the Pelita Harapan University  to discuss the topic of  Indonesian Chinese Quest for Identity  to our monthly discussion.  

...But compared to their counterparts, the other overseas Chinese in the neighboring Southeast Asian countries, the Indonesian Chinese have remained in a quandary about their identity and place in the nation they call home. 

...Sudah beratus tahun kaum Tionghoa, bersama-sama dengan suku-suku lainnya, telah hidup dan menjad bagian dari kepulauan Nusantara yang saat ini kita kenal sebagai negara Indonesia.   Walaupun telah kehilangan akarnya baik dari segi bahasa maupun budaya, kaum Tionghoa Indonesia sampai saat  ini tidak pernah 'mapan' dalam kedudukannya sebagai salah satu suku/bagian di Indonesia yang terdiri dari beribu pulau dan budaya.   Wang Gungwu profesor ahli politik dari National University of Singapore mengatakan bahwa "Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara dengan masalah Cina" dan "entah karena apa dibandingkan dengan di negara-negara lain, Cina perantauan di Indonesia paling banyak dibantai atau dilukai, melarikan diri atau diusir, dan paling tidak aman keadaannya &hellip;.."

...Di dalam studi perbandingan tiga periode pemerintahan di Indonesia, makalah ini menemukan bahwa ketiga faktor yang disebut di atas tidak dapat menjelaskan permasalahannya secara utuh dalam rentang waktu dan jarak (across time and space). 

...<a name="ref1" href="#call1">[#]</a> Tobias Basuki is a lecturer at the Faculty of Social and Political Sciences, Pelita Harapan University. ...  He postponed entrance to the PhD program until next Fall of 2008 to return home to Indonesia to reorient and research for issues that are imminent and in line with his specialties and interests.  ]]></content:encoded></item><item><title>Sebuah Pertanyaan untuk Penelitian Sosial dan Kemanusiaan</title><dc:creator></dc:creator><category>ARTICLE</category><dc:date>2007-10-08T18:02:24+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Problem_Penelitian.php#unique-entry-id-69</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Problem_Penelitian.php#unique-entry-id-69</guid><content:encoded><![CDATA[Saat saya melakuan penelitian tentang komunitas wetutelu di Lombok, misalnya, pertanyaan pertama yang terlontar dari mayarakat lokal ketika saya bahkan belum sempat mengajukan pertanyaan pada mereka adalah: apa manfaat penelitian ini bagi kami? ...  Seolah  sudah ada template jawaban terhadap setiap wawancara penelitian Bahkan kadang mereka mengoda peneliti yang seperti kehabisan bahan wawancara dengan pertanyaan, &rdquo;Lho kok tidak tanya tentang ini mas, biasanya pada tanya lho&hellip;&rdquo; 

...Tradisi penelitian di negeri ini sepertinya memang tak benar-benar  menempatkan komunitas yang diteliti sebagai subyek, sehingga begitu penelitian selesai dikerjakan, komunitas tersebut dianggap tidak relevan lagi bahkan sekadar untuk diberi kesempatan membaca laporan penelitian tersebut. ...  Komunitas-komunitas lokal tak akan peduli dengan apakah sebuah penelitian sudah memenuhi standard ilmiah atau belum, namun mereka akan menyoal apakah tulisan tersebut menjelek-jelekkan diri mereka atau tidak. 

...Identifikasi semacam ini pada gilirannya juga akan semakin mengucilkan komunitas wetutelu, sebab selama ini hanya ajaran agama resmi yang berhak untuk hidup dan dianggap lebih sesuai dengan program pembangunan. 

...Monografi komunitas bukannya tidak penting, ia bisa memberi sumbangan  pada akumulasi pengetahuan secara umum, namun ia tidak akan banyak berpengaruh pada perubahan pola dominasi pengetahuan dan distribusi pengetahuan pada berbagai kelompok sosial yang berbeda. 

...Pertanyaan tentang manfaat penilitian bagi komunitas yang diteliti tadi barangkali bisa menjadi pijakan untuk berpikir tentang agenda penelitian baru yang lebih menempatkan  komunitas-komunitas tersebut sebagai subyek atau bahkan sebagai peneliti itu sendiri.   Sebuah agenda penelitian yang tidak hanya berpikir tentang bagaimana memahami kondisi sosial sebuah komunitas namun juga memberi jalan untuk melakukan perubahan, sehingga pada gilirannya ia akan menjadi instrumen perubahan yang membuat kaum yang tak berdaya, tertindas, terkuasai, dan terpinggirkan mampu mempertanyakan, kemudian mensubversi, dan akhirnya mengubah sistem dominatif yang ada. 
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Peluncuran dan Diskusi Buku Hak Minoritas</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2007-09-10T00:04:25+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Peluncuran_dan_Diskusi_Buku_Hak_Minoritas.php#unique-entry-id-67</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Peluncuran_dan_Diskusi_Buku_Hak_Minoritas.php#unique-entry-id-67</guid><content:encoded><![CDATA[Salah satu tujuan program penelitian tentang hak minoritas dan multikulturalisme yang dijalankan oleh Interseksi, menurutnya, adalah untuk mencoba memeriksa gagasan-gagasan tentang hak minoritas secara lebih kritis, dan mencari alternatif konseptual bagi advokasi hak-hak minoritas di Indonesia. ...  Melalui direkturnya, Interseksi juga memberi penghargaan kepada para peneliti yang telah mencurahkan dedikasinya selama proses penelitian dan penulisan, serta pihak-pihak yang telah banyak membantu Interseksi dalam proses tersebut, terutama kepada warga di semua komunitas yang dijadikan subjek penelitian, dan Yayasan Tifa yang telah memberi dukungan finansial dalam semua tahapan penelitian.   Beberapa peneliti dan tim kerja yang terlibat dalam penelitian tentang Hak Minoritas dipanggil untuk tampil ke depan diperkenalkan kepada para peserta diskusi.


...Dalam sambutan berikutnya, direktur eksekutif Tifa memberikan apresiasi tinggi kepada Interseksi atas keberhasilannya menerbitakan dua buah buku yang, menurutnya, selain berpenampilan bagus juga berisi pembahasan tema-tema yang cukup sulit tapi dikerjakan secara cukup berhasil. 

...Diskusi diawali dengan pemaparan Indriaswati Dyah Saptaningrum (Indry) yang mencoba meletakkan problem hak minoritas di Indonesia ke dalam konteks pencarian format hukum yang lebih akomodatif terhadap gagasan-gagasan multikulturalisme.   Presentasi Indry dimulai dengan kajian singkat tentang peran hukum (produk perundang-undangan) negara  dalam konstruksi dan peminggiran kelompok masyarakat lokal, diikuti dengan analisis singkat untuk mengkritisi advokasi berbasis hak yang menjadi mainstream dalam pemberdayaan masyarakat lokal. 

...Ia kemudian membandingkan kerja-kerja penelitian Interseksi, melalui publikasi dua buku tentang hak minoritas, itu dengan apa yang telah dilakukan oleh institusi kolonial Belanda yang kemudian menjadi terkenal sebagai the Leiden School of Anthropology (LSA). 

...Beberapa peserta yang sejak awal sudah pamit tidak bisa hadir lengkap, ternyata tetap terpaku di kursinya masing-masing sampai pembawa acara mengumumkan bahwa acara peluncuran dan diskusi buku sudah selesai, dan tepuk tangan meriah diberikan kepada semua pembicara.
]]></content:encoded></item><item><title>Press Release</title><dc:creator></dc:creator><category>PRESS RELEASE</category><dc:date>2007-09-04T07:03:53+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Press_Release.php#unique-entry-id-66</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Press_Release.php#unique-entry-id-66</guid><content:encoded><![CDATA[However, a book entitled Multicultural Education and southeats Asia: Stepping Into The Unfamiliar (Depok: Jurnal Antropologi UI, 2004) is worth mentioning here as it has ushered us to the "uncharted" academic discourse in the country. 


...As the resolution scenario, the book also employs a legal  perspective to enrich the analysis on the problems of minority groups and to obtain legal or policy framework  that will guarantee equality of all cultural identities in public sphere.


...Besides the abundant numbers of minority communities in the country that have not been revealed yet, we also have to face financial limitations that so far preventing us for being able to undertake field research on some other local communities.   Notwithstanding through the series of research and publication on minority rights in Indonesia, INTERSEKSI is trying to encourage people to dicuss ideas of multiculturalism more critically, and is comitted to convey minority rights and multiculturalism as two topics that deserve wide-scaled discussion in searching for the equality of rights among various identities in public sphere.   We sincerely hope that the series will make a modest contribution to the advancement of the discourses on multiculturalism and minority rights in the country, and that there are few lessons can be learnt from this book as reference of a more just policy to the marginalised minority communitues. 

...Secara sederhana, konsep minoritisasi (minoritization) yang operasional di sini mengandung arti terjadinya proses-proses atau &rdquo;proyek&rdquo; yang membuat kelompok-kelompok minoritas yang diteliti menjadi semakin terpinggirkan atau semakin terkucilkan sebagai suatu entitas kelompok yang disebut minoritas, dan juga berlangsungnya proses pembentukan, reformulasi dan negosiasi secara sinambung batasan tentang identitas, etnik dan sebagainya. ...  Namun demikian, melalui rangkaian seri penelitian dan publikasi tentang hak minoritas ini, yayasan Interseksi mencoba mengajak banyak pihak untuk menghadapi gagasan multikulturalisme secara lebih kritis, dan menjadikan hak minoritas sebagai masalah bersama yang harus dipikirkan jalan keluarnya.   Kami berharap beberapa gagasan dalam buku ini dapat dijadikan acuan untuk pembuatan kebijakan yang lebih adil bagi komunitas lokal, dan dapat memberi kontribusi pada pengembangan wacana tentang multikulturalisme yang lebih kritis di Indonesia. ]]></content:encoded></item><item><title>Usulan Ide untuk Forum Interseksi</title><dc:creator></dc:creator><category>FORUM INTERSEKSI</category><dc:date>2007-10-08T17:55:32+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Usulan_Ide_untuk_Forum_Interseksi.php#unique-entry-id-65</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Usulan_Ide_untuk_Forum_Interseksi.php#unique-entry-id-65</guid><content:encoded><![CDATA[Setelah pertemuan Bandung tgl 7-9 Juni 2007 yang lalu, Forum Interseksi berikutnya rencananya akan diadakan pada bulan Desember 2007 atau Januari 2008.   Seperti biasa, tema Forum Interseksi akan diangkat dari hasil diskusi para pesertanya.   Untuk menampung diskusi tersebut, maka mulai bulan Oktober 2007 ini situs INTERSEKSI.ORG akan memuat ide-ide yang dilontarkan oleh peserta forum agar bisa mendapat respon yang lebih luas.


...Fenomena menguatnya sentimen fundamentalisme dalam politik Indonesia pasca Orde Baru sering dipahami sebagian pengamat asing&mdash;dan juga domestik&mdash;dengan sikap gusar.   Akan tetapi apa yang sesungguhnya disebut fundamentalisme tetaplah merupakan sesuatu yang mirip siluman: ia ada bagaikan bayangan hitam di balik rerimbun ingatan.   Lalu para pengamat itu membuat teka-teki, konspirasi, dan teori: sebentuk usaha untuk menerka secara lebih ilmiah apa yang sesungguhnya disebut fundamentalisme itu.   Masalahnya belum berhenti sampai di sini, sebab apa yang disebut politik Indonesia pasca Orde Baru pun masih menyimpan tanya: apakah ia merupakan era baru atau hanyalah sumpah serapah yang akhirnya akan mengisi keranjang sampah sejarah?


Tetapi baiklah, katakanlah saya tidak melanjutkan diskusi ini dan menganggap bahwa apa yang disebut fundamentalisme itu memang benar-benar ada, lalu apa yang hendak kita kerjakan?
]]></content:encoded></item><item><title>Undangan Peluncuran dan Diskusi Buku Hak Minoritas V.1 dan V.2</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2007-08-25T12:25:39+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Undangan_Peluncuran_dan_%20Diskusi_Buku_Hak_Minoritas.php#unique-entry-id-64</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Undangan_Peluncuran_dan_%20Diskusi_Buku_Hak_Minoritas.php#unique-entry-id-64</guid><content:encoded><![CDATA[Yayasan Interseksi dan Yayasan TIFA dengan hormat mengundang Anda untuk hadir dalam acara Peluncuran dan Diskusi Buku 


...Dilema Multikulturalisme di Indonesia (Editor: Hikmat Budiman)


...Multikulturalisme dan Dilema Negara Bangsa (Editor: Mashudi Noorsalim, M. 

...Karena keterbatasan tempat, yang berminat diharapkan mendaftarkan diri kepada panitia penyelenggara.


Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi 021-7820444 selama jam kerja.


The Interseksi Foundation in cooperation with the TIFA Foundation cordially invite you to  


...Multikulturalisme dan Dilema Negara Bangsa (Editor: Mashudi Noorsalim, M. 

...Date/Time: Tuesday, 4 September 2007/12.00 - 17.30 
]]></content:encoded></item><item><title>Seri Penelitian &#x26; Publikasi tentang Hak Minoritas di Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2007-08-24T07:34:26+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Seri_Penelitian_dan_Publikasi_tentang_Hak_Minoritas_di_Indonesia.php#unique-entry-id-63</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Seri_Penelitian_dan_Publikasi_tentang_Hak_Minoritas_di_Indonesia.php#unique-entry-id-63</guid><content:encoded><![CDATA[Klik untuk melihat gambar yang lebih besar</div>


Sudah dua tahun ini Interseksi, bekerjasama dengan Yayasan TIFA, Jakarta, mengerjakan agenda penelitian dan penerbitan tentang problem hak-hak minoritas di Indonesia.   Agenda tahun pertama, seperti anda ketahui, sudah menghasilkan sebuah buku yang cukup mendapat respon positif dari pembacanya, yakni buku Hak Minoritas.   Dilema Multikulturalisme di Indonesia.   Seperti diberitakan dalam posting sebelumnya, tahun ini buku tersebut dicetak ulang dengan satu tujuan sederhana: memperluas potensi diseminasi gagasan tentang problema kehidupan komunitas-komunitas lokal di Indonesia.   Tahun ini pula, Agenda tahun kedua selesai dengan akan terbitnya sebuah buku yang dihasilkan dari perluasan penelitian tahun pertama. ...  Kedua buku ini akan diluncurkan dan didiskusikan pada waktu yang sama pada minggu pertama bulan September 2004.   Kami akan menyediakan informasi lebih lengkap tentang itu pada update berikutnya sesegera mungkin.
]]></content:encoded></item><item><title>Cetak Ulang Buku Hak Minoritas Dilema Multikulturalisme di Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2007-07-31T13:40:13+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Cetak_Ulang_Buku_Hak_Minoritas.php#unique-entry-id-62</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Cetak_Ulang_Buku_Hak_Minoritas.php#unique-entry-id-62</guid><content:encoded><![CDATA[Yang pertama adalah buku yang didasarkan pada hasil penelitian tentang Hak Minoritas tahap kedua di Medan, Cianjur, Sulawesi Selatan, dan Jawa Timur.    Saat ini naskah buku tersebut sedang dalam proses akhir penyuntingan, dan diperkirakan dalam beberapa hari ke depan sudah akan mulai masuk tahap pracetak, dan mudah-mudahan sekitar pertengah Agustus sudah mulai naik cetak.


...Di luar dugaan kami, buku ini ternyata mendapat resepsi yang sangat baik dari khalayak pembacanya, dan telah habis persediaannya bahkan sejak sepuluh bulan pertama ia diterbitkan bulan agustus tahun 2005 yang lalu. ...  Interseksi memang mendapatkan sejumlah uang dari margin hasil penjualan sebagian buku ini, tapi sejak awal buku itu dijual jauh dibawah perhitungan untung rugi usaha penerbitan komersial.   Sebab jika demikian, selain harga yang didapat pembaca akan jauh lebih mahal, hal tersebut juga ditakutkan akan menggeser impresi orang tentang orientasi kelembagaan yayasan Interseksi sebagai sebagai badan hukum nirlaba. ...  Dengan demikian, penjualan buku bagi kami sebenarnya lebih merupakan usaha untuk memperluas akses masyarakat terhadap hasil penelitian kami daripada murni upaya mencari keuntungan finansial. 

...Kenyataan bahwa buku tersebut juga mulai banyak dirujuk dalam beberapa kajian lain dengan tema yang relevan oleh beberapa lembaga lain, bahkan dijadikan sebagai materi bahan ajar di beberapa institusi pendidikan, hal tersebut menunjukkan bahwa apa yang kami kerjakan ada sedikit manfaatnya bagi masyarakat.


Pada edisi cetak ulang ini, beberapa kesalahan yang sangat mengganggu seperti kesalahan cetak pada header beberapa tulisan, kejanggalan penomoran catatan kaki dan beberapa kekeliruan minor lainnya sudah diperbaiki. 
]]></content:encoded></item><item><title>Berita Duka</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2007-07-11T20:57:01+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Berita_Duka.php#unique-entry-id-61</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Berita_Duka.php#unique-entry-id-61</guid><content:encoded><![CDATA[<div align=center></div>


Salah seorang peneliti Interseksi, Ridwan Al-Makassary, yang sekarang sedang berada di Amerika Serikat untuk sebuah kursus tentang pluralisme, mengirimkan sebuah kabar sedih bagi komunitas Interseksi: salah seorang warga Interseksi, E.   Kusnadiningrat, telah meninggal dunia beberapa hari yang lalu.


Kusnadiningrat adalah salah satu anggota Forum Interseksi sejak pertama kali forum ini dimulai bulan oktober tahun 2001 yang lalu.   Tahun 2002 ia masih ikut aktif merancang beberapa pertemuan Forum Interseksi berikutnya, meskipun ia sendiri sudah tidak bisa lagi ikut serta sejak putaran diskusi ketiga.   Diskusi persiapan Forum Interseksi terakhir yang diikutinya adalah ketika kami mempersiapkan topik Civil Rights dalam sebuah diskusi santai di Restoran Situ Gintung, Ciputat. 


Seluruh warga komunitas Interseksi menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian almarhum, dan secara seksama mendoakannya mendapat tempat terbaik di haribaan-Nya.   Selamat jalan sahabat!
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Diskusi tentang Pilkada Aceh</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2007-06-27T21:01:47+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_tentang_Pilkada_Aceh.php#unique-entry-id-59</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_tentang_Pilkada_Aceh.php#unique-entry-id-59</guid><content:encoded><![CDATA[Tema ini merupakan hasil penelitian yang telah dikerjakannya sebagai peneliti  pada Program Konflik dan Pembangunan, World Bank mengenai pelaksanaan Pilkada di Aceh pada bulan Desember 2006 lalu.   Menurut Blair, meskipun secara keseluruhan pelaksanaannya relatif dapat dikatakan berhasil, dalam pengertian jujur dan adil, namun pilkada di Aceh masih menyisakan beberapa pertanyaan, misalnya tentang penyelesaian sengketa, implikasi hubungan antara Pilkada dan good governance, pola kampanye dan perilaku pemilih.</p>

...Seperti diketahui, Pilkada yang dilaksanakan di Aceh pada bulan Desember 2006 lalu telah menghasilkan pasangan Irwandi Yusuf sebagai gubernur dan M. ...  Selain itu, Pilkada yang juga memilih 19 pasangan bupati dan walikota ini telah menghasilkan pemenang sebagai berikut: tujuh pasangan dari KPA/GAM, yaitu di Lhoksumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Barat, Aceh Jaya, Pidie, dan Sabang. 

...Neopatrimonial dapat diartikan sebagai hubungan yang menggunakan sumber-sumber pemerintah/negara untuk mengamankan loyalitas klien dalam populasi umum, dan merupakan indikasi dari hubungan patron-klien yang informal  (http://en.wikipedia.org/wiki/Neopatrimonialism). 

...Bermula dari keberhasilan pasangan Irwandi Yusuf dan M Nazar dalam Pilkada Gubernur Nangro Aceh Darussalam, misalnya, di beberapa daerah lain juga mulai muncul wacana tentang pentingnya bahkan tuntutan untuk memberi peluang bagi calon-calon independen. 

...Kalau setelah terpilih seorang calon yang berasal dari partai politik melakukan pelanggaran dalam kebijakannya, misalnya, tekanan dan kontrol bukan hanya akan muncul dari kekuatan oposisi di luar partainya melainkan juga dari dalam partainya sendiri. 

...Kalau memang calon independen bisa memacu perbaikan performa partai politik yang ada, tampaknya tuntutan sebagian orang untuk memberi ruang bagi calon independen dalam Pilkada (bahkan Pemilu nasional) memang pantas dipertimbangkan. 
]]></content:encoded></item><item><title>Konflik Tanah di Indonesia: Kesaksian Petani Lengkong&#x2c; Sukabumi</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2007-06-14T21:02:54+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Konflik_Tanah_di_Indonesia.php#unique-entry-id-58</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Konflik_Tanah_di_Indonesia.php#unique-entry-id-58</guid><content:encoded><![CDATA[Ketika tiba di kantor Perkumpulan Pergerakan Bandung, peserta langsung berkenalan dengan beberapa orang petani yang jadi korban langsung dari konflik tanah yang terjadi di kecamatan Lengkong, kabupaten Sukabumi, sekitar 200 km dari Bandung ke arah selatan. 

...Pengalihan fungsi tersebut saat itu tidak disertai dengan perjanjian secara tertulis karena masyarakat tidak dapat menulis dan membaca namun Belanda menjanjikan bahwa setelah 30 tahun lahan tersebut dapat dimiliki oleh masyarakat apabila tidak digarap lagi.<br><br>

...Pada tahun 1972, tanaman kayu alami yang tumbuh di atas lahan tersebut dibabat oleh Perkebunan dengan cara &lsquo;diareng&rsquo; sampai saat ini para saksi bahkan tengkulaknya masih hidup (salah satunya H. 

...Pada tahun 1992, Perkebunan melakukan kembali pembabatan lahan hasil garapan kolektif rakyat dari 3 desa dengan cara tumpang sari berdasarkan izin dari pihak kelurahan dan kecamatan  setempat. 

...Tahun 1993, Perkebunan menghasut Pihak Koramil (pak Suharso) bahwa lahan yang sedang digarap warga Lengkong adalah milik Perkebunan yang dikelola dan ditanami berdasarkan HGU namun pada kenyataanya tidak ada tanaman satupun, bertentangan dengan pengakuan rakyat bahwa lahan tersebut adalah milik mereka. 

...Kekecewaan masyarakat dipicu oleh kenyataan bahwa mereka telah mengadukan masalahnya sejak tahun 1992 namun tidak ada tanggapan positif, sebaliknya pihak Perkebunan yang mulai menggugat masyarakat tahun 1998 malah dimenangkan dan diberi hak HGU. <br><br>

...Setelah 3 bulan, kepolisian datang lagi untuk memanggil Pak Amas dan Pak Syarif ke Kapolres untuk berunding dan itu disetujui oleh warga dengan tujuan perdamaian namun ternyata mereka malah ditangkap dan dijebloskan ke penjara. <br><br>

...Kejadian ini disaksikan oleh anak-anak yang berusia sekitar 9 tahun, mereka berusaha menghadang mobil yang membawa  guru ngaji mereka dengan cara terlentang di jalan untuk  menghentikan mobil polisi namun tidak berhasil karena polisi langsung membanting anak-anak tersebut. <br><br>
]]></content:encoded></item><item><title>My experience and comments on the Interseksi forum</title><dc:creator></dc:creator><category>FORUM INTERSEKSI</category><dc:date>2007-06-11T13:59:18+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/My_experience_and_comments_on_the_Interseksi_forum.php#unique-entry-id-57</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/My_experience_and_comments_on_the_Interseksi_forum.php#unique-entry-id-57</guid><content:encoded><![CDATA[subject=look at this website&body=Hi, I found this website and thought you might like it at http://www.interseksi.org/news/news.html/"></A>


It has been a great experience being amidst resourceful people like you, though not really understanding what the discussions are about.


I like the arrangement of this forum, i call it a CAFE, it is a relaxed and a conducive environment for POWERFUL discussions. 

...Powerful discussions emerge when people have created rapport(free with each other) with each other, i feel it would make a difference if on the first day the first session is dedicated to team building and leveling the ground.


...The venue for the forum is outstanding, someone can not think of going to see a friend outside, its far from the city center, this was conducive for the discussions. 

...It has been a great time being with you here, you have been so friendly and welcoming, despite my not understanding every part of the discussion, i felt i was part of the forum.


My coming here was to see how this forum functions, i was more interested in the processes, i like the relaxed discussions.    I have improved on my bahasa Indonesia, i hope that the next forum i will be able to take an active part.
]]></content:encoded></item><item><title>Pilkada Aceh&#x2c; boleh minta lebih dari bebas dan adil?</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2007-06-12T13:27:01+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Pilkada_Aceh_Boleh_minta_lebih_dari_bebas_dan_adil.php#unique-entry-id-56</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Pilkada_Aceh_Boleh_minta_lebih_dari_bebas_dan_adil.php#unique-entry-id-56</guid><content:encoded><![CDATA[subject=look at this website&body=Hi, I found this website and thought you might like it at http://www.interseksi.org/news/news.html/"></A>


...<div id="textbox"><ul style="list-style: square;padding-left:15px;"><li>Topik: Pilkada Aceh: Boleh Minta Lebih dari "Bebas dan Adil"?


...Pemilihan dimaksudkan untuk menjadi bagian dari sebuah sistem demokrasi di mana masyarakat bisa pilih calon dengan kesadaran atas platformnya, dan di mana pelaksanaan pilkada menjamin bahwa calon yang menang melakukannya dengan cara yang demokratis. 

...Makalah ini akan membahas hubungan antara Pilkada Aceh (dengan fokus kepada pilkada tingkat kabupaten/kota), demokratisasi dan governance, melalui dua jalur. ...  Beberapa aspek dari pelaksanaan Pilkada Aceh dinilai baik &ndash; seperti pendaftaran pemilih, dan penghitungan suara &ndash; tetapi beberapa hal tidak dilaksanakan dengan baik &ndash; seperti pengawasan (termasuk pengawasan pendanaan) dan penyelesaian sengketa. ...  Penelitian di lapangan menunjuk bahwa pemilih mempertimbangkan beberapa hal dalam memilih antara calon, termasuk platform (kalau memang ada platform yang jelas), track record, legitimasi dan afiliasi.   Yang terakhir ini menunjukkan bahwa sistem neo-patrimonial masih bertahan, dan merupakan ancaman terhadap sistem demokrasi dan kesejahteraan bagi masyarakat luas.   Kelemahan dalam pelaksanaan pilkada dan perilaku pemilih yang neo-patrimonial mempunyai potensi untuk melestarikan sebuah &ldquo;siklus pemerintahan korup&rdquo;. ]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Diskusi tentang Konflik Ambon</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2007-06-06T04:33:15+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_tentang_Konflik_Ambon.php#unique-entry-id-55</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_tentang_Konflik_Ambon.php#unique-entry-id-55</guid><content:encoded><![CDATA[Dari hasil penelurusan literatur mengenai konflik di Maluku dan Indonesia secara umum, Akiko menganggap bahwa kebanyakan penelitian tentang konflik kekerasan antar etnik di Indonesia menggunakan teori atau pendekatan yang dianggapnya masih konvensional. 


...Sebagai peneliti yang dalam tiga tahun terakhir melakukan penelitian lapangan di Ambon Akiko melihat diperlukannya penjelasan yang lebih komprehensif mengapa konflik kekerasan meledak dan meluas pada tahun 1999 di Ambon, dan meluas hampir di seluruh wilayah Propinsi Maluku. 

...Perspektif ini mengarahkan penelitian untuk melihat bagaimana asosiasi antara kelompok masyarakat sipil bekerja, termasuk apakah ada perlindungan terhadap individu, kelompok atau komunitas dari ancaman dari luar. 

...Review atas beberapa pendekatan yang banyak digunakan dalam berbagai analisa konflik tersebut dilanjutkan dengan paparan tentang pengalamannya sendiri selama melakukan penelitian lapangan di beberapa wilayah di Maluku. 

...Kalau pada masa sebelum konflik warga Muslim dan Kristen bisa hidup rukun bersama, ketegangan di antara dua kelompok tersebut mulai muncul ke permukaan sejak tahun 1980an, ketika identitas keagamaan mulai menguat. ...  Pada kelompok Kristen berkembang pemaknaan diri bahwa mereka merupakan korban, tapi di sisi lain juga mereka merasa bangga dan mengklaim sebagai komunitas Kristen pertama di Indonesia sambil sekaligus merasa terancam oleh proses Islamisasi di Indonesia.   Sebaliknya, pada kelompok Muslim juga berkembang sikap psikologis yang menempatkan kelompoknya sebagai korban, melihat kondisi di Ambon sebagai ketidakadilan bagi mereka, dan merasa terancam oleh proses Kristenisasi di Maluku. 

...Pada level yang lain, demarkasi simbolik tampak jelas dalam atribut-atribut yang dipakai oleh dua komunitas ini: kelompok Kristen mengenakan ikat kepala merah, sedangkan kelompok Islam memilih ikat kepala warna putih; di wilayah Kristen banyak dipasang gambar-gambar Yesus dan salib berukuran besar, sedangkan di wilayah Muslim banyak dipakai kata-kata berbahasa Arab dan penggunaan busana yang dianggap mencerminkan identitas Islam.
]]></content:encoded></item><item><title>Kisah Dua Forum</title><dc:creator></dc:creator><category>RECOLLECTION</category><dc:date>2007-05-22T12:08:02+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Kisah_Dua_Forum.php#unique-entry-id-54</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Kisah_Dua_Forum.php#unique-entry-id-54</guid><content:encoded><![CDATA[Tahun 2000 yang lalu, ketika saya pertama kali merencanakan serial diskusi dua bulanan di kantor the Japan Foundation (JF), Jakarta, yang di kemudian hari menjadi Forum Interseksi itu, saya tidak pernah membayangkan bahwa forum tersebut akan bertahan cukup lama. ...  Seri diskusinya sendiri baru dimulai menjelang akhir tahun 2001, karena selama tahun 2000 ada beberapa aktivitas lain yang lebih mendesak, dan saya masih harus beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru saya masuki waktu itu. 


...Karena saya praktis bekerja sendirian (dibantu satu orang teman staf Japan Foundation lain yang mengurusi administrasi), saya jelas kewalahan kalau harus memandu seluruh acara workshop seorang diri. 

...Penggerak utama jaringan ini adalah Mas Tom Ibnur, seniman senior dari Jambi yang pernah menjadi direktur Dewan Kesenian Jakarta, Halilintar Latief dari Makasar, Nico Andasputra dari Dayakologi,  Edy Utama, pelanglang budaya dari Sumatra Barat, Markus Binur dari Papua, dan beberapa teman dari Yayasan Kelola (waktu itu masih berkantor di Solo). 

...Kebetulan salah seorang teman lama yang saya kenal jauh sebelum saya kerja di JF, Maho Sato, ditugaskan di kantor JF Jakarta mulai tahun 2001. ...  Karena kebetulan Landry sedang harus bertugas ke luar negeri,  dia merekomendasikan seorang kolega barunya yang kelak menjadi salah satu tokoh penting gerakan intelektual ini, Philips J. 

...Beberapa hari sebelum itu, kebetulan saya sempat ngobrol dengan teman lama saya, Sugeng Bahagijo dari INFID, dan kami sempat nyinggung soal radikalisme dan prospek demokrasi di Indonesia. 

...Hanya tiga orang yang termasuk golongan tua waktu itu: saya sendiri (33), Didik Supriyanto (35) dari Detik.com, dan Chaedar Bamualim (35) dari Pusat Bahasa dan Kebudayaan UIN Jakarta. ]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Diskusi: Aktor Non-negara dan Lingkaran Kekerasan di Papua</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2007-05-11T14:08:34+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Aktor_Non-negara_dan_Lingkaran_Kekerasan_di_Papua.php#unique-entry-id-52</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Aktor_Non-negara_dan_Lingkaran_Kekerasan_di_Papua.php#unique-entry-id-52</guid><content:encoded><![CDATA[Hal ini tampak dalam beberapa referensi mengenai Papua seperti yang ditulis oleh Robin Osborne mengenai &lsquo;secret war&rsquo;, juga oleh Carmel Budiardjo dan Liem Soei Liong tentang &lsquo;obliteration of people&rsquo;, yang dikutip oleh kajian akademisi Yale University dengan kesimpulan bahwa &lsquo;telah terjadi genocide di Papua&rsquo;.   Secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa literatur tentang Papua yang ditulis oleh akademisi internasional memiliki beberapa kelemahan antara  lain sumber-sumber tulisan yang cenderung sepihak dan terlalu menonjolkan kekerasan Negara. 


Pengamatan terhadap kasus-kasus kekerasan  di Papua menunjukkan bahwa adalah berbahaya untuk mengambil kesimpulan bahwa &lsquo;terdapat 150 ribu orang meninggal di Papua&rdquo; hanya dari beberapa kasus dan sumber yang terbatas. ...  Untuk mengetahui hal ini dilakukanlah pengumpulan data kasus-kasus kekerasan di papua yang berlangsung semenjak periode tahun  70 an dan 80 an, selain kasus &ndash;kasus terbaru. ...  Opini bahwa &lsquo;NGO dan  actor-aktor non Negara turut menciptakan mitos kekerasan di papua&rsquo;, menuai sejumlah kritikan  tajam dari kalangan NGO dan aktivis pro Papua Merdeka di luar negeri. 

...Faktanya memang terdapat kekerasan di Papua karena NKRI menolak &lsquo;self determinism of the papuans&rsquo; di samping itu terdapat akibat-akibat dari protes yang dijawab dengan kekerasan senjata oleh militer dan polisi.   Sikap Indonesia yang menegaskan bahwa Papua adalah bagian integral dari Indonesia ini menyebabkan reaksi, selain itu ditambah dengan  sejarah gerakan mileniarisme yang mempercayai bahwa dalam situasi krisis akan muncullah messiah. 

...Jalinan operasi rahasia yang dipersiapkan secara cermat dilakukan oleh kelompok aktivis gerilya dari wilayah pegunungan dengan motif untuk melakukan pembalasan terhadap peristiwa sebelumnya, tragedi Arso. ]]></content:encoded></item><item><title>Ambon Conflict A Social Movement Theory and Civic Relation Perspective</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2007-05-11T21:54:43+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Ambon_Conflict_A_Social_Movement_Theory_and_Civic_Relation_Perspective.php#unique-entry-id-51</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Ambon_Conflict_A_Social_Movement_Theory_and_Civic_Relation_Perspective.php#unique-entry-id-51</guid><content:encoded><![CDATA[subject=look at this website&body=Hi, I found this website and thought you might like it at http://www.interseksi.org/news/news.html/"></A>


...We invite her to discuss some of the finding of her research on Ambon conflict from an insight of social movement theory and civic relations perspective.   She begins with a basic question why instead of abating the Ambon Conflict was expanded throughout some other areas in Molucas region.


...Her  focus of study is on why ordinary people, even women and children, involved in the violence and expanded the conflict, and how people were mobilized into two communities and fought each other. 


In her presentation Akiko will discuss the mobilization process in Ambon conflict and comparing the Christian and the Muslim community by using the insights of Social Movement Theory and the perspectives of civic relations.   First, She will explain why Social Movement Theory is useful to analyze the conflict and to understand people&rsquo;s involvement of conflict, mainly about collective action framing and mobilization structures.   Secondly, She will look at the Ambon civic relations, especially city of Ambon, in order to get deeper understanding of mobilization structures. 

...It is hoped that once we understand the people&rsquo;s mobilization process, we can analyze deeply the conflict itself and also we can get new perspectives for peacebuilding and conflict prevention.    
]]></content:encoded></item><item><title>Desaku yang tercinta&#x2c; Siapa yang Punya</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2007-04-26T08:06:34+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Desaku_yang_tercinta%20.php#unique-entry-id-50</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Desaku_yang_tercinta%20.php#unique-entry-id-50</guid><content:encoded><![CDATA[Berawal dari keprihatinan terhadap masa depan demokrasi di desa, Perkumpulan INISIATIF yang bermarkas di Bandung menyelenggarakan diskusi terbatas pada tanggal 16 April 2007 tentang otonomi desa dalam konteks setelah berlakunya UU tentang Pemerintahan Daerah No. 32/ tahun 2004. 

...Masing-masing narasumber membawakan poin-poin diskusi sesuai dengan tema yang diberikan oleh panitia, yaitu tentang desa dari beberapa sudut pandang: sejarah, dinamika sosial, ekonomi, politik, dan profil ekonomi politik desa ke depan; otonomi desa; serta bagaimana desa dalam menghadapi gempuran kapitalisme global danp neoliberalismePara peserta berasal dari berbagai latar belakang antara lain dari endamping Serikat Petani Sumedang, Pusat Sumber Daya Komunitas, forum Manglayang yang memusatkan aktivitas pada isu lingkungan;  kelompok pendamping buruh migran di Bandung.


...Kecenderungan pemerintah pusat yang melihat  hanya dari sisi negatif, bahwa di desa baru sebatas  &rsquo;demokrasi prosedural&rsquo; yang salahsatunya ditandai dengan frekuensi konflik  yang tinggi antara kepala desa-BPD ; telah mengesampingkan fakta bahwa demokrasi di desa membutuhkan waktu penyesuaian oleh para penyelenggara pemerintahan desa dan masyarakat desa. 


Ruang politik yang terbuka justru harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk memfasilitasi  pemberdayaan kapasitas ekonomi dan politik dari para elite politik desa, memperkuat organisasi sektoral desa, selain tetap konsisten dalam mengadvokasi nilai-nilai demokrasi dalam politik desa yang sesuai dengan karakter &rsquo;otonomi asli&rsquo; desa. 

...Haryo melihat bahwa pemerintahan desa hendaknya ditujukan untuk melayani kepentingan pemenuhan kesejahteraan masyarakat desaianalogikan dengan contoh-contoh faktual dimana desa memang tidak berdaya (juga kelembagaan pemerintah desa) jika menghadapi pelbagai situasi dari luar, misalnya bencana alam.&rdquo;orang desa sibuk menjadi korban bencana ala, namun pemerintah desa tidak mampu mengatasinya. 

...Dari sudut pandang aturan hukum, UU   No. 32/ th.2004 berdasarkan pada UUD 45, pasal 18b, yang menyebutkan bahwa negara mengakui bersifat khusus dan istimewa diatur dalam UU, mendukung berbagai sistem pemerintahan khusus/istimewa; Negara mengakui kesatuan masyarakat hukum adat berdasarkan hak tradisionalnya sesuai prinsip NKRI sesuai UU&rdquo;. 

...Satu hal yang menarik adalah keragaman latar belakang peserta membuat diskusi &rsquo;terbagi&rsquo; dalam dua perspektif yaitu perspektif lega formal (pembahasan UU pemerintahan desa); dan perspektif praxis, yaitu  berbagi pengalaman mengenai &rsquo;bagaimana desa&rsquo; di antara para peserta (notabene dari desa) yang telah lama berkutat di lapangan  untuk mengadvokasi  isu-isu tanah, petani, buruh.


Para peserta umumnya mengalami dari sudut pandang pengalaman nyata di lapangan dalam sektor-sektor petani,buruh, masyarakat desa hutan, bahwa dea semata-mata hanya &rdquo; satu pemindahan birokrasi&rsquo;,  tampak dari ketiadaan upaya penyelesaian masalah yang ada di desa misalnya sengketa tanah dengan pihak lain; atau isu-isu ekonomi  lainnya. ]]></content:encoded></item><item><title>Non-State Actors and the &#x27;Cycle&#x27; of Violence in Contemporary Papua</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2007-04-16T11:23:39+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Non-State_Actors_and_the_Cycle_of_Violence.php#unique-entry-id-49</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Non-State_Actors_and_the_Cycle_of_Violence.php#unique-entry-id-49</guid><content:encoded><![CDATA[As long as the violent conflicts in Papua cannot be terminated, the flow of refugees from the Indonesian province into Papua New Guinea (PNG) will continue.   It is widely believed that the reasons for such flights have been the threats of violence made by the Indonesian security apparatus. ...  Both the security apparatus and pro-Independence groups have a stake in maintaining the violence.   Apart from the violent measures taken by the Indonesian army and police, the aggressive conduct of non-State actors, such as OPM and its affiliated groups, highland youth or student groups, and other pro-Independence hardliners, have recently contributed significantly in the reproduction of violence.   These groups distrust the Indonesian State institutions in the strongest sense while opposing the mainstream pro-Independence group such as Papuan Presidium Council. 

...On Tuesday, the 25th of April 2007 we are inviting Muridan Satrio Wijoyo, a highly respected young intellectual from the Indonesian Institute of Sciences and a Ph.  D candidate at Leiden University, the Netherland, to our monthly discussion forum to dig deep the topic of "Non-State Actors and the 'Cycle' of Violence" in contemporary Papua, and its relevance to the life of the people in this country. ...  So please confirm your participation either by phone at 021-7820-444 (work hour with Amel)  or by email to INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM.  
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Diskusi tentang Political Party Survival</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2007-04-11T10:39:58+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_tentang_Political_Party_Survival.php#unique-entry-id-48</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_tentang_Political_Party_Survival.php#unique-entry-id-48</guid><content:encoded><![CDATA[Tidak hanya itu, pada Pemilu kedua setelah era Orde Baru berakhir, Golkar bahkan bisa kembali merebut supremasinya dengan meraih jumlah suara terbanyak mengalahkan PDIP yang memenangi Pemilu pertama pasca Orde Baru.


...Tapi yang menarik adalah justru kenyataan bahwa banyak sekali partai politik semacam itu yang tetap bisa sintas bahkan ada yang mampu kembali meraih kemenangan. 

...Dari sekian banyak partai politik yang bisa bertahan dalam periode transisi menuju demokrasi, Nico juga melihat faktor low routinazing dan portable skills sebagai faktor penting, sebab dua hal tersebut bisa mencegah partai yang bersangkutan dari jebakan kebuntuan inovasi strategis untuk menggalang dukungan pemilihnya.  

...Seperti diketahui, seskipun Golkar adalah kekuatan utama penopang rezim Orde Baru, tapi kekuatan politik ini memiliki strategi penyelematan diri yang memungkinkannya terhindar dari tuduhan bahwa Golkarlah satu-satunya yang harus bertanggungjawab atas kerusakan negara akibat ulah politik rezim yang disokongnya itu.   Fokus utama gerakan penentangan Orde Baru tahun 1998, misalnya, adalah turunnya Soeharto dari tampuk kekuasaan, dan di luar beberapa bentuk demonstrasi kecil dan sporadis yang menuntut pembubaran Golkar, hampir tidak ada upaya sistematik dan formal untuk meminta tanggungjawab politik Golkar atas keterlibatannya dalam kerusakan tadi. ...  Alih-alih dibubarkan, Golkar malah bisa mentransformasikan dirinya menjadi Partai Politik, dan kembali ikut Pemilu pertama pasca Orde Baru, dan meraih posisi kedua dalam perolehan jumlah suara. 

...Kedua, deklarasi tersebut juga berfungsi mengalihkan tuduhan atas kesalahan masa lalu kepada pihak lain, yakni Golkar lama, TNI dan Soeharto, sedangkan Partai Golkar sama sekali tidak bertanggungjawab atas semua itu. 

...Berbeda dengan wacana yang berkembang di Indonesia, menurutnya seorang ketua partai politik seharusnya benar-benar serius mengurus dan membesarkan partainya dan bukan justru menjadikan posisi tersebut sebagai batu loncatan untuk mencalonkan diri menjadi presiden dalam Pemilu. ]]></content:encoded></item><item><title>Monthly Discussion on Political Party Survival</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2007-03-15T20:08:02+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Monthly_Discussion_on_Political_Party_Survival.php#unique-entry-id-47</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Monthly_Discussion_on_Political_Party_Survival.php#unique-entry-id-47</guid><content:encoded><![CDATA[On Thursday, the 22nd of March 2007 at 15.30  we are inviting Nicolaus Teguh Budiharjanto of the Jakarta-based Center for Strategic and Internasional Studies (CSIS), a Ph....  So please confirm your participation either by phone at 021-7820-444 (work hour with Amel)  or by email to INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM.  


...We may expect discredited and disgraced elites and institutions to lose substantial power to new reformist elites and political parties, to end up in the dustbin of history as a memento of past abusive and repressive regimes.   Yet, in some cases the individuals and social groups that underpinned the old regimes and their political party vehicles are able to survive and prosper in radically new political contexts characterized by democratic elections and consolidation processes. 


...Reformist political parties emerge and many new local or communal parties are established to channel the aspirations of particular groups. 

...Other parties cultivate support from business interests to tap money to finance campaigns, mobilize supporters, broaden territorial penetration, and, if possible, to buy votes.   These varying strategic choices, however, do not seem to explain the divergent fortunes among formerly dominant parties in coping with fundamentally transformed political and institutional contexts.   Rather, the ability of such parties to prosper under these new conditions seems to be linked to their abilities to exploit, sustain, and expand clientelistic mass and oligarchic linkages.
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Workshop Penulisan Tahap 2</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2007-03-11T15:02:05+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Workshop_Penulisan_Tahap_2.php#unique-entry-id-46</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Workshop_Penulisan_Tahap_2.php#unique-entry-id-46</guid><content:encoded><![CDATA[Seperti telah dijadwalkan jauh-jauh hari sebelumnya, tanggal 26-28 Februari 2007 yang lalu Yayasan Interseksi telah menyelenggarakan workshop penulisan tahap akhir program riset Hak Minoritas tahun ke-2 di Wisma Ariyanti, Cisarua, Bogor. 

...Di samping para peneliti, juga hadir beberapa orang pengurus Interseksi dan para observer yang secara tajam selalu memberi komentar dan kritik pada semua kertas kerja yang ditulis oleh para peneliti.  ...  Para peneliti datang sendir-sendiri dari kota asalnya masing-masing, sedangkan sebagian besar yang lainnya berangkat dari kantor Interseksi sekitar jam 11.00 pagi tgl. 26 februari 2007. 

...Secara umum, peneliti berhasil membuat kemajuan dalam penulisan kertas kerjanya, meskipun kertas kerja tersebut akhirnya harus disempurnakan lagi berdasarkan dialog yang santai namun tidak kehilangan kritisisme. ...  Pada akhir Maret ini, para peneliti akan menyerahkan kertas kerja mandirinya, dan kemudian akan dimulai proses pembacaan secara elektronik melalui email untuk terus menyempurnakan tulisan yang sudah dibuat.   Setelah tahap ini selesai, sekitar bulan April atau Mei 2007 naskah akan masuk ke bagian editing dan setiap naskah kembali akan "dibongkar" untuk menghasilkan karya yang lebih baik. 

...Secara khusus, dalam program ini peneliti mengusulkan adanya preliminary research terutama yang terkait dengan pilihan lokasi riset, yang pada program ini tidak cukup waktu untuk melakukannya. ...  Secara khusus, Interseksi juga merencanakan adanya kegiatan sosialisasi hasil riset tersebut melalui worksop atau seminar di daerah yang telah diteliti, dan mencoba untuk meneruskan riset atas komunitas lokal yang mungkin diperluas dengan agenda kampanye terhadap isu ini. ]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Penulisan Laporan Penelitian Hak Minoritas Tahap II</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2007-02-25T03:08:58+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Workshop_Penulisan_Laporan_Penelitian_Hak_Minoritas_Tahap_II.php#unique-entry-id-45</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Workshop_Penulisan_Laporan_Penelitian_Hak_Minoritas_Tahap_II.php#unique-entry-id-45</guid><content:encoded><![CDATA[Setelah workshop penulisan pertama di GG House Desember 2006 yang lalu, para peneliti Hak Minoritas tahun ke-2 diberikan keleluasaan waktu sekitar dua bulan untuk menyempurnakan tulisan hasil laporan riset di masing-masing wilayah. ...  26-28 Februari 2007 ini adalah lanjutan dari workshop sebelumnya.   Tujuannya adalah untuk memeriksa dan mendiskusikan kertas kerja masing-masing peneliti setelah selama dua bulan mereka menulis. 


Berbeda dari workshop pertama yang difokuskan pada presentasi temuan hasil penelitian lapangan, workshop kali ini khusus didedikasikan untuk membahas masing-masing laporan tertulis yang kelak akan dipersiapkan menjadi sebuah buku.   Karena buku memiliki jangkauan pembaca lebih luas daripada sebuah naskah laporan penelitian, banyak aspek yang harus dikerjakan agar laporan-laporan tersebut siap diterbitkan.   Masing-masing peneliti akan dihadapkan pada sebuah diskusi sangat mendalam yang bukan hanya membahas aspek substansi melainkan juga aspek-aspek lain seperti bahasa, gaya dan standar penulisan, dan sistematika tulisan.   Setelah workshop ini, para peneliti hanya memiliki sisa waktu satu bulan untuk menyempurnakan tulisannya kembali, sebelum seluruh naskah masuk ke bagian editorial yayasan Interseksi.   Diharapkan sekitar akhir bulan Juni 2007 buku yang didasarkan pada penelitian tentang Hak Minoritas tahap kedua ini sudah terbit dan beredar di pasaran. 
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Diskusi Transformasi Keintiman di Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2007-02-21T13:23:45+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_Transformasi_Keintiman_di_Indonesia.php#unique-entry-id-44</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_Transformasi_Keintiman_di_Indonesia.php#unique-entry-id-44</guid><content:encoded><![CDATA[Ironisnya, ekspresi keintiman dalam bentuk adegan yang jauh lebih sensual, seperti gerakan-gerakan tari yang cenderung erotis, meskipun tanpa adegan ciuman, dalam film-film Bollywood, itu justru disiarkan secara lengkap, dan sejauh ini tidak ada yang memprotesnya. 

...Ketika film Buruan Cium Gua (BCG) mendapat protes dari beberapa kalangan masyarakat kita, bukan saja adegan filmis ciuman yang mengundang kontraversi, tapi bahkan pencantuman kata &ldquo;ciuman&rdquo; secara terbuka menjadi judul sebuah film pun dianggap tidak sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia. 

...Martin Slama, antropolog dari Austrian Academy of Sciences (Ralat: sebelumnya kami menulis Austrian Institute of Sciences), yang datang sebagai pembicara dalam diskusi tersebut mendiskusikan banyak hal fundamental dalam hidup kita yang bisa dimulai dari sebuah kajian tentang praktek ciuman.


...Waktu itu ia merasa penasaran dengan arti kata jadian "mencium" dalam bahasa Indonesia yang berwayuh makna: mengecup pipi atau bagian tubuh yang lain yang padanannya dalam bahasa Inggris adalah "to kiss" ("k&uuml;ssen" dalam bahasa Jerman), dan membaui sesuatu atau "to smell" dalam bahasa Inggris ("riechen" dalam bahasa Jerman).   Merujuk pada hasil kajian atas beberapa naskah klasik Jawa seperti Serat Centini, yang di dalamnya terdapat informasi tentang teknik atau cara para bangsawan Jawa menggoda kekasihnya, Slama menduga bahwa praktek ciuman yang dilakukan dalam masyarakat Indonesia berbeda dari apa yang dikenal dalam prakteknya pada masyarakat Eropa.   Ini diperkuat oleh laporan antropolog Bronislaw Malinowski bahwa praktek ciuman seperti yang biasa dilakukan oleh orang Eropa dahulu sama sekali tidak dikenal dalam masyarakat-masyarakat Asia, bahkan di China dan Jepang sekalipun.


...Merunut pada laporan Clifford Geertz, misalnya, seorang laki-laki di Pare akhir tahun 1950an mengaku bahwa dia tidak keberatan dengan adegan ciuman dan adegan romantis lainnya dalam film Amerika. 

...Diskusi kemudian berkembang ke perbincangan tentang agama dan politik dan relasi keduanya dengan proses-proses transformasi keintiman dalam masyarakat Indonesia, dan relasi maknanya dalam sektor kehidupan masyarakat yang lain. ]]></content:encoded></item><item><title>Dikusi Bulanan tentang Transformasi Keintiman di Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2007-02-10T15:58:33+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Dikusi_Bulanan_tentang_Transformasi_Keintiman_di_Indonesia.php#unique-entry-id-43</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Dikusi_Bulanan_tentang_Transformasi_Keintiman_di_Indonesia.php#unique-entry-id-43</guid><content:encoded><![CDATA[Program diskusi bulanan Yayasan Interseksi tahun 2007 akan dimulai pada bulan februari ini.   Sejak Mei sampai Desember 2006 yang lalu, forum diskusi ini telah membahas bermacam-macam topik mulai dari persoalan hukum yang berpihak kepada perempuan, gerakan Islam baru di Indonesia, sampai tentang neoliberalisme. ...  Dengan tujuan seperti itu pula, tahun ini kami akan mencoba mendiskusikan tema-tema lain yang lebih variatif dari mulai politik, film, gerakan sosial, sampai relasi sumberdaya alam dan demokrasi. 


Untuk menyegarkan pikiran para peserta, kami akan mengawali program diskusi ini dengan tema yang sangat unik, menarik, tapi sekaligus juga konkret terjadi dalam hidup kita sehari-hari, yakni tentang proses transformasi bentuk-bentuk relasi intimasi anggota masyarakat kita sejak zaman awal kemerdekaan sampai sekarang ini. ...  Pada diskusi kita kali ini, ciuman bukan hanya dilihat sebagai ekspresi romantik antara sepasang kekasih, melainkan juga sebagi peristiwa kultural yang di baliknya kita bisa mempelajari bermacam-macam soal pelik yang terjadi belakangan ini seperti kasus kontraversi Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUUAPP), sampai hirukpikuk tentang poligami yang bahkan melibatkan presiden RI dalam polemiknya.


Untuk mendiskusikan hal tersebut, kami sengaja mengundang pembicara seorang antropolog dari Austria Institute of Sciences, Dr.   Martin Slama, yang bertahun-tahun menghabiskan waktu untuk mempelajari kehidupan masyarakat kontemporer di Indonesia. 

...Karena itu konfirmasikan kehadiran Anda melalui telepon ke sekretariat Interseksi (021-7820444) atau melalui email ke alamat ini.
]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Penulisan Laporan Penelitian</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2006-12-20T16:41:07+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Workshop_Penulisan_Laporan_Penelitian.php#unique-entry-id-41</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Workshop_Penulisan_Laporan_Penelitian.php#unique-entry-id-41</guid><content:encoded><![CDATA[Hari Senin, tgl 4 Desember 2006, kami berangkat dalam beberapa rombongan terpisah menuju lokasi penyelenggaran workshop penulisan laporan hasil penelitian tentang hak minoritas tahun kedua. 

...Sesuai rencana pada tanggal 4-6 Desember 2006, workshop penulisan pertama, yang bertujuan untuk mendiskusikan hasil temuan lapangan (field research) para peneliti di empat lokasi penelitian, telah dilaksanakan di kesunyian alam pedesaan, GG House, Gadog, Ciawi, Bogor. ...  Para peneliti, dalam acara tersebut, telah mempresentasikan temuan-temuan lapangannya dengan kapasitas datanya masing-masing, dan juga ditimpali dengan dialog-dialog kritis, baik  oleh TIM Interseksi maupun teman-teman sesama peneliti yang terlibat. 

...Ada empat orang peneliti yang telah menyelesaikan riset lapangan: Heru Prasetia untuk wilayah komunitas Tolotang, Sulawesi Selatan; Uzair Fauzan untuk komunitas Parmalim, Sumatra Utara; Amin Mudzakir untuk komunitas Ahmadiyah, Cianjur, Jawa Barat; dan Paring Waluyo untuk komunitas Tengger, Jawa Timur.   Selain keempat orang peneliti tersebut, program riset Interseksi tahun ini juga melibatkan seorang peneliti hukum untuk mengkaji aspek-aspek legal problem kelompok-kelompok komunitas minoritas di Indonesia. 

...Secara umum, dari presentasi masing-masing tergambar bahwa para peneliti telah berhasil mengumpulkan banyak data lapangan, yang berguna untuk proses penulisan ke depan, meskipun kumpulan data tersebut belum terstruktur dan sistematik dalam suatu laporan yang utuh. ...  Arena ini lebih bermaksud tidak saja untuk mendiskusikan draft laporan lapangan, tetapi juga membuat out line penulisan untuk kepentingan publikasi sebagai output dari riset. ...  Pada saat ini para peneliti diberi waktu untuk membuat draft laporan untuk publikasi buku yang akan didedah lagi pada workshop penulisan ke dua. ]]></content:encoded></item><item><title>Monthly Discussion on Neoliberalism&#x2c; The State&#x2c; and the Citizen</title><dc:creator></dc:creator><category>FORACAFETARIA</category><dc:date>2006-12-13T23:22:53+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Monthly_Discussion_on_Neoliberalism_The_State_and_the_Citizen.php#unique-entry-id-40</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Monthly_Discussion_on_Neoliberalism_The_State_and_the_Citizen.php#unique-entry-id-40</guid><content:encoded><![CDATA[Paling tidak sejak dekade 1970an, neoliberalisme telah menyebar ke banyak tempat di dunia, dan telah menjadi sebentuk "ideologi" di balik kebijakan-kebijakan pembangunan di banyak negara, termasuk di Indonesia saat ini. ...  Konsekwensinya, intervensi negara ke dalam ekonomi harus terus-menerus dikurangi, dan bahwa (dengan itu) obligasi negara untuk memberikan kesejahteraan bagi warga negara juga semakin tidak relevan. 

...18 Desember 2006, kami mengundang Hilmar Farid, seorang intelektual muda yang sangat dihormati di Indonesia, untuk lebih jauh berdiskusi tentang topik neoliberalisme tersebut berikut konsekwensinya pada nasib negara Indonesia, dan relevansinya bagi kehidupan kita sebagai warga negara. 

...Karena itu pastikan kehadiran Anda ke 021-79192676 (Amel) pada jam kerja atau ke INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM.


At least since 1970s, neoliberalism has spread throughout much of the world, and has become the dominant "ideology" behind development policies in many countries, including Indonesia today. ...  It argues that state intervention in the economy must be minimized so that the state can diminish its obligation to provide for the welfare of the citizen. 


On Monday, the 18th of December 2006 we are inviting Hilmar Farid, a highly respected young intellectual from the Jakarta-based Jaringan Kerja Budaya, to our monthly discussion forum to dig deep the topic of neoliberalism and its concequences to the fate of the state of Indonesia, and its relevance to the life of the people in this country. ...  So please confirm your participation either by phone at 021-79192676 (work hour with Amel)  or by email to INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM.  ]]></content:encoded></item><item><title>First Workshop on Report Writing on Minority Rights Phase 2</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2006-11-30T15:08:45+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/First_Workshop_on_Report_Writing_on_Minority_Rights_Phase_2.php#unique-entry-id-39</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/First_Workshop_on_Report_Writing_on_Minority_Rights_Phase_2.php#unique-entry-id-39</guid><content:encoded><![CDATA[In August to October 2006 we dispatched our research team to conduct field researches on minority rights issues in four local communities in Indonesia: Ahmad Uzair to Permalim community in Medan, North Sumatra; Paring Waluyo to Tengger community in East Java; Amin Mudzakir to Ahmadiyah Islamic community in Cianjur, West Java, and;  Heru Prasetya to Tolotang community in South Sulawesi.   After the field research is through, they took two months to write the rough draft of  report  based on their findings in the respective areas or communities.  


On Monday to Wednesday (Desember 4th-6th, 2006), we are organizing a-three day meeting amongs our field researchers, team of supervisors, and some other resource persons  in our first workshop on Report Writing.   In the workshop the researchers will exchange their findings to each other, and will collaboratively define the main ideas to be more cultivated to compose a collective report representing Interseksi's research team.    The main objective of the workshop is to enhance the quality of the report  based on which we will start to prepare the book writing processes in our subsequent workshop later on.   Convened at Gunung Geulis House, Bogor, West Java, the workshop is structured into two main activities: researchers' presentations, and discussion on book publication. 
]]></content:encoded></item><item><title>Report on Discussion on New (Islamic) Social Movement in Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>FORACAFETARIA</category><dc:date>2006-11-29T17:14:29+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Report_on_Discussion_on_New_Social_Movement_in_Indonesia.php#unique-entry-id-38</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Report_on_Discussion_on_New_Social_Movement_in_Indonesia.php#unique-entry-id-38</guid><content:encoded><![CDATA[Sueady said that most of the studies on Islamic movement before 1980s put emphasis on the intermingling relations of Islamic movements with Communism and/or Sosialism, and other issues such as the betterment of people's life, the succesion of government and the likes.   However, since 1979 when Khomeini trembled the world with Iranian Revolution, most of the studies on Islam have shifted the focus to the emergence of the radical-fundamentalist movement groups by muslim communities in many regions in the world.   This has been exacerbated by the September 11, 2001 terrorists attack of the WTC twin tower in the USA after which most writings on Islam have been focused on Islam and or as the source of world terrorism. 


...Wacana gerakan Islam yang mendominasi lingkungan intelektual sebelum 1980-an acap berkelindan dengan gerakan Komunisme atau Sosialisme yang mengusung aspirasi kelompok yang menuntut perbaikan nasib atau suksesi pemerintahan seperti kaum buruh, kaum tani, dan kelompok separatis, seperti GAM di Aceh dan pembebasan Muslim Moro. 

...Gerakan fundamentalisme Islam seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir, Jamaat Al-Islamy di Pakistan; belakangan  muncul Taliban dan Mujahidin di Afghaistan; FIS di Al-Jazair; revolusi Mullah di Iran dan seterusnya sejatinya memperjuang ideologi Islam sebagai negasi bagi kegagalan ideologi besar dunia, seperti nasionalisme, sekularisme bahkan kapitalisme. 

...Sejak keberhasilan Revolusi Iran menumbangkan kekuasaan Syah, malah muncul rasa percaya diri pada tokoh-tokoh gerakan Islam radikal bahwa untuk mengambil alih kuasa (yang dianggapnya zalim), Islam terbukti tidak lagi membutuhkan boncengan komunisme atau sosialisme.

...Di balik perbedaan karakteristiknya, Suaedy tetap melihat bahwa dua bentuk gerakan Islam tadi pada dasarnya membagi satu hal yang sama dalam peta politik nasional saat ini: keduanya berhimpitan dengan Ornop dan Ormas atau bahkan partai politik.

...Perlawanan terhadap kekuasaan, atau bahkan lebih jauh perlawanan terhadap dominasi Barat, tidak harus selalu dilakukan melalui pendekatan frontal, melainkan bisa pula melalui bentuk-bentuk perlawanan simbolik seperti melalui praktek-praktek kebudayaan yang resisten terhadap hegemoni dan dominasi. ]]></content:encoded></item><item><title>Diksusi Bulanan tentang Gerakan Sosial Islam Baru</title><dc:creator></dc:creator><category>FORACAFETARIA</category><dc:date>2006-11-21T20:35:34+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Diksusi_Bulanan_tentang_Gerakan_Sosial_Islam_Baru.php#unique-entry-id-37</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Diksusi_Bulanan_tentang_Gerakan_Sosial_Islam_Baru.php#unique-entry-id-37</guid><content:encoded><![CDATA[Islam seperti tiba-tiba masuk ke dalam pusat perbincangan global setelah peristiwa peledakan menara kembar World Trade Center 11 september 2001 yang lalu.   Padahal Islam jelas sejak lama telah menjadi bagian dan memberi kontribusi pada dinamik politik, ekonomi, dan kebudayaan dunia.   Ironisnya, dalam peta diskursif dominan saat ini, wacana tentang Islam, dan gerakan sosial berbasis Islam terutama, justru tampil dengan segala gambaran negatif tentangnya.   Diskusi bulanan Yayasan Interseksi putaran bulan November kali ini, akan secara khusus membincangkan pola-pola gerakan sosial berbasis Islamisme tersebut, dengan terutama mengambil pelajaran dari kasus-kasus yang terjadi di Indonesia.   Menghadirkan Ahmad Sueady, direktur eksekutif the Wahid Institute, sebagai pembicara, diskusi kita kali ini akan diadakan pada:


...<li>Topik: Memahami Gerakan Sosial Baru Berbasis Islam


...Seperti biasa, diskusi hanya untuk jumlah peserta yang sangat terbatas.   Jadi silakan pastikan keikutsertaan Anda melalui telepon pada 021-79192676 atau melui email ke INTERSEKSIATGEMAILDOTCOM.
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Diskusi Islam dan Filantropi</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2006-10-22T23:41:53+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_Islam_dan_Filantropi.php#unique-entry-id-36</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_Islam_dan_Filantropi.php#unique-entry-id-36</guid><content:encoded><![CDATA[Krisis ekonomi, dan juga bencana alam, yang merundung Indonesia sejak 1997 telah menyemangati kaum Muslim memapankan organisasi filantropi Islam guna menyahuti problem sosial ekonomi tersebut.   Tidak diragukan, Yayasan Dompet Dhua&rsquo;fa (YDD) terbentuk karena mengguritanya kemiskinan umat, yaitu kelaparan  hebat di Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Juga Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) hadir merespon pelbagai bencana alam, khususnya banjir dan gempa bumi, yang terjadi di pelbagai wilayah Indonesia. 

...Karena itu, di tengah problem kemiskinan yang mengancam bangsa ini, eksistensi lembaga filantropi Islam ini penting dikaji guna memperkuat efektifitas dan kinerja dari lembaga filantropi Islam tersebut. 

...Jika jumlah rata-rata sum-bangan ini dikalikan dengan jumlah keluarga Muslim di Indonesia sebesar 34,5 juta (data BPS tahun 2000), maka total dana  yang dapat dikumpulkan mencapai 14,2 triliun. 

...Mayoritas masyarakat Muslim (81%), terutama para penge-lola organisasi, memandang penting kehadiran Undang-undang yang mengatur organisasi filantropi Islam untuk memberikan kepastian hukum dalam penyelenggaraan aktivitas filantropi.   Karena itu, mereka yang mengetahui keberadaan UU No. 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat, menilai UU tersebut memberi arti positif dalam dunia filantropi Islam di Indonesia. 

...Meski sebagian besar masyarakat (67%) menilai bahwa UU tersebut memenuhi asas-asas keadilan sosial, namun UU tersebut dinilai tidak komprehensif, tidak spesifik dan tidak mengatur kewenangan teknis, serta bersifat sentralistik.   Meski aturan pelaksanaan UU tersebut telah diatur oleh Peraturan Menteri Agama, namun tidak adanya Peraturan Pemerintah (PP) atas UU tersebut membuat sebagian masyarakat (48%) meragukan keseriusan pemerintah dalam penerapan UU zakat tersebut. ]]></content:encoded></item><item><title>Monthly Discussion on Islam and Philanthropy</title><dc:creator></dc:creator><category>FORACAFETARIA</category><dc:date>2006-10-02T20:09:08+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Monthly_Discussion_on_Islam_and_Philanthropy.php#unique-entry-id-35</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Monthly_Discussion_on_Islam_and_Philanthropy.php#unique-entry-id-35</guid><content:encoded><![CDATA[Hari Rabu, 11 Oktober 2006 Yayasan Interseksi akan mengadakan diskusi bulanan terbatas dengan tema Islam dan Filantropi.   Untuk mendiskusi relevansi dan problematik tradisi filantropi dalam masyarakat muslim, kami mengundang Chaedar Bamualim, MA, direktur Center for the Studies of Relegion and Culture (CSRS), Universitas Islam Negeri, Jakarta, sekaligus anggota Dewan Penasihat Yayasan Interseksi, sebagai pembicara.   Selama beberapa tahun ini, bersama tim peneliti the CSRS Chaedar telah dan sedang mengadakan penelitian tentang Filantropi Islam di Indonesia. 

...On Wednesday, October 11th, 2006, the Interseksi Foundation is having a limited discussion on the topic of Islam and Philanthropy.   To discuss  philanthropy tradition in Islamic societies and its relevance in our contemporary Indonesia, we invite Chaedar Bamualim, MA, director of the Jakarta-based Center for the Studies of Relegion and Culture (CSRS) of the Jakarta State Islamic University, who himself has been a member of Interseksi Foundation's Advisory Board, as the speaker. ...  Bamualim has been researching Islamic Philanthropy in Indonesia for years. 

...As has been the case, the discussion is for a very limited participants only.   So please confirm your reservation either by phone at 021-79192676 or by email at INTERSEKSIATGEMAILDOTCOM.
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Diskusi Konflik dan Pembangunan</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2006-09-21T12:35:51+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_Konflik_dan_Pembangunan.php#unique-entry-id-34</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_Konflik_dan_Pembangunan.php#unique-entry-id-34</guid><content:encoded><![CDATA[Tajoeddin menambahkan bahwa, meskipun saat ini studi pembangunan sudah banyak digunakan oleh beberapa lembaga donor dalam menganalisis suatu kasus konflik di suatu negara, kondisi di Indonesia belum memberikan harapan bagi sumbangan yang signifikan bagi adanya studi konflik dan pembangunan.   Masalahnya adalah, negara tidak memiliki  visi yang jelas, elite-elite politik jarang sekali yang bersedia melihat manfaat bagi penelitian yang berhubungan dengan studi konflik dan pembangunan. 

...Jika semula ilmu-ilmu ekonomi banyak mewarnai dan mendominasi kajian pembangunan di awal tahun 1970an,  isu-isu konflik banyak menyadarkan banyak pihak untuk melihat dimensi konflik dan pembangunan dalam perspektif yang multidisiplin.   Mereka sebagian menyadari bahwa berbagai dimensi dalam studi pembangunan dapat digunakan untuk melihat berbagai kasus konflik di belahan dunia. 

...Sebagian pihak yang melihat kegagalan negara Orde Baru mengelola proyek modernisasi ini bahkan semakin antipati, dan jarang yang bisa melihat persoalan pembangunan secara  kritis.    Padahal  bisa jadi dimensi dalam perspektif modernisasi, khususnya di masa Orde Baru sebagian dapat diteruskan, meskipun tidak bisa diabaikan bahwa asumsi-asumsi teoritik yang membangun gagasan ini sudah banyak dikritik oleh dunia akademik.  

...Padahal selama ini forum-forum diskusi masih berjalan di tempat (onani), karena belum bisa dihubungkan dengan pra pengambil kebijakan yang memiliki dunia sendiri.   Disinilah perlunya kemauan untuk menjebol missing link antara dunia peneliti, akademisi, elite birokrasi/ pengambil kebijakan dan kelompok lain yang saling bertukar pikiran untuk mendiskusikan persoalan-persoalan kebijakan publik di Indonesia. ]]></content:encoded></item><item><title>Jadwal Baru Diskusi Konflik dan Pembangunan</title><dc:creator></dc:creator><category>FORACAFETARIA</category><dc:date>2006-09-14T17:46:02+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Jadwal_Baru_Diskusi_Konflik_dan_Pembangunan.php#unique-entry-id-33</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Jadwal_Baru_Diskusi_Konflik_dan_Pembangunan.php#unique-entry-id-33</guid><content:encoded><![CDATA[Seperti telah kami sampaikan akhir bulan Agustus yang lalu, kami akan menata ulang jadwal diskusi tentang Konflik dan Pembangunan bersama Zulfan Tadjoeddin sebagai pembicara.   Beberapa hari yang lalu, kami kembali menghubunginya, dan yang bersangkutan menyatakan positif bersedia datang pada hari Rabu, 20 September 2006 untuk berbicara dalam diskusi yang tertunda itu.   Maka kami memutuskan untuk melaksanakan diskusi pada tanggal tersebut. 

...<li>Topik Diskusi: Konflik dan Pembangunan (lihat TOR)


...<li>Hari/Tgl: Rabu, 20 September 2006


...6A, Jakarta Selatan 12760 (lihat Denah Menuju Lokasi)</ul>


Diskusi hanya untuk jumlah peserta yang sangat terbatas.   Silakan konfirmasikan kehadiran Anda melalui telepon pada 021-79192676 pada jama kerja, atau melalui email ke INTERSEKSIATGEMAILDOTCOM.
]]></content:encoded></item><item><title>Bromo Sebagai Situs Integrasi Wong Tengger</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2006-09-13T16:20:25+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Bromo_Sebagai_Situs_Integrasi_Wong_Tengger.php#unique-entry-id-32</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Bromo_Sebagai_Situs_Integrasi_Wong_Tengger.php#unique-entry-id-32</guid><content:encoded><![CDATA[Walau diberitakan Gunung Bromo dan Semeru sedang &ldquo;batuk&rdquo;, namun masyarakat Tengger tetap menjalankan ritual Kasada dan pujan Kasada dengan hitkmat di Poten dan bibir kawah Bromo. 

...Justru melalui ritual Kasada inilah puncak dari seluruh kebaktian dan penghormatan masyarakat Tengger terhadap Tuhan, alam, dan leluhur sedang dilakukan. ...  Ajaran Kasada menyatakan bahwa Ki Kusuma, sesepuh mereka (dalam mitologi Kasada) melakukan pengorbanan diri untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Tengger, sebab mereka adalah masyarakat agraris yang basis materialnya ditopang oleh pertanian.


...Padahal seluruh konsep pokok dari tradisi dan ajaran yang dikembangkan oleh masyarakat Tengger adalah memberikan penghormatan atas leluhur (atma) mereka yang bersemayam kawasan Bromo, Tengger dan Semeru


Hal ini tercermin tidak hanya terlihat dalam bentuk-bentuk persembahan (sesaji) yang berupa hasil pertanian, akan tetapi penghormatan itu dipujakan dalam mantra dukun Tengger sebagai pemangku teologi Tengger. 

...Justru melalui ritual-ritual yang sedang mereka jalani selama ini yang diwariskan secara terumurun itulah masyarakat tengger hendak merinci gelagat alam, agar mampu memprediksiakan sedemikian rupa. 

...Maka tak mengherankan jika asumsi yang dibangun oleh para vulkanolog itu mampu membius semua mata publik, bagaikan sebuah &ldquo;sabda&rdquo; yang patut untuk didengar adanya. 


...Bukankah kalau masyarakat Tengger tidak memiliki kemampuan prediktif atas aktivitas Bromo, mereka telah sirna sedari dulu karena amukan alam dari dua gunung aktif, yakni Bromo dan Semeru. 
]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi Bulan Agustus Ditunda</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2006-08-29T11:55:24+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Diskusi_Bulan_Agustus_Ditunda.php#unique-entry-id-31</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Diskusi_Bulan_Agustus_Ditunda.php#unique-entry-id-31</guid><content:encoded><![CDATA[Hari Senin malam (28 Agustus 2006), melalui kontak telepon Zulfan Tadjoeddin menghubungi salah seorang staf kami memberitahukan bahwa ia baru saja mendapat pemberitahuan tentang rapat yang sangat penting di kantornya tgl. ...  Karena alasan tersebut, Tadjoeddin tidak bisa hadir dalam diskusi di Yayasan Interseksi.   Kami akan menata ulang jadwal untuk diskusi Konflik dan Pembangunan ini, dan secara mendalam kami mohon maaf atas pembatalan pada saat-saat akhir menjelang diskusi tanggal 30 Agustus tersebut. 

...Saya mohon maaf sekali karena tidak bisa datang pada acara diskusi yang sudah di agendakan hari Rabu besok karena ada jadwal rapat mendadak di kantor yang harus saya ikuti.   Mohon maaf, dalam minggu ini jadwal saya sangat tidak menentu yang tidak saya antisipasi ketika memberikan komitmen ketika di telpon oleh mbak Amel akhir minggu lalu.<br><br>


...Sekali lagi saya mohon maaf, mungkin kita bisa atur lagi waktu dikusi di bulan-bulan mendatang.<br><br>


...Zulfan Tadjoeddin called one of our staff saying that due to a sudden change in meeting schedule in his office, he had to cancel his presentation in our discussion forum  on Wednesday 30th, 2006.    We will rearrange the schedule for him, and we sincerely apologize for canceling the 30th August discussion at the last minute. ]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi Bulanan tentang Konflik dan Pembangunan</title><dc:creator></dc:creator><category>FORACAFETARIA</category><dc:date>2006-08-25T21:44:30+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Diskusi_Bulanan_tentang_Konflik_dan_Pembangunan.php#unique-entry-id-30</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Diskusi_Bulanan_tentang_Konflik_dan_Pembangunan.php#unique-entry-id-30</guid><content:encoded><![CDATA[Salah satu pertanyaan mendasar yang sering muncul tentang relasi antara konflik dan pembangunan adalah, apakah konflik merupakan kendala program pembangunan ataukah ia justru merupakan produk yang niscaya dari proses-proses perubahan sosial sistemik yang direncanakan melalui agenda pembangunan.   Sebagian orang menganggap konflik adalah problem sosial yang harus diredam agar tidak mengganggu pembangunan nasional, tapi sebagian yang lain justru merekomendasikan reformasi politik pembangunan agar konflik-konflik sosial bisa diminimalisir.   Kontraversi argumen semacam itu tentu saja bergantung pada perspektif apa yang dipakai seseorang dalam melihat konflik dan/atau paradigma teori sosial apa yang dipakai sebagai panduan dalam menafsirkan pembangunan.


...One of the fundamental question on the relation of conflict and development is is conflict a hindrance or obstacle to or is it actually a product of development processes.   Some sees conflict as social problems to be solved to not disrupting the national development processes, while some other recommends  reevaluating the policy of the development to minimize conflict.   Needless to say that the controversies are mostly depending on what perspective one uses to look at the conflicts and/or what theoretical paradigm one utilize as the guidance for interpreting the development policies.


On August 30th, 2006, the Interseksi foundation is organizing a discussion on the topic of conflict and development, and we are inviting Mr. ...  Tadjoeddin is one of the highly respected researcher on conflict in Indonesia today, and his findings are frequently quoted on recent conflict studies in the country.
]]></content:encoded></item><item><title>Report on Designing Research on Minority Rights</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2006-08-13T02:40:49+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Report_on_Designing_Research_on_Minority_Rights.php#unique-entry-id-29</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Report_on_Designing_Research_on_Minority_Rights.php#unique-entry-id-29</guid><content:encoded><![CDATA[Tanggal 7 sampai 9 Agustus 2006, bertempat di Wisma Aryanti, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Yayasan Interseksi telah melaksanakan sebuah Workshop Rancangan Penelitian tentang Hak Minoritas Komunitas-komunitas Etnis/Agama di Indonesia Tahap Kedua.   Workshop ini dimaksudkan untuk memberikan pembekalan metodis bagi para peneliti yang akan dikirim ke lapangan untuk melakukan penelitian lanjutan tentang subjek tersebut. 

...Uzair Fauzan, Heru Prasetia, Paring Waluyo, dan Indriaswati Dyah Saptaningrum), peneliti Interseksi, dan beberapa peserta lain yang diundang untuk membantu menyusun rancangan penelitian yang lebih operasional. 

...Persoalan menjadi semakin menantang secara intelektual karena untuk Tahap Kedua penelitian tahun ini, Yayasan Interseksi juga berusaha untuk mengintegrasikan studi hukum ke dalam program penelitian yang akan dilakukannya. 

...On August, 7-9, 2006, in Wisma Ariyanti, Cisarua, Bogor, West Java,  the Interseksi Foundation organized a three-day Workshop to futher develop a research design on Minority Rights, based on which the foundation is going to conduct the second phase of the research on local/religious communities in Indonesia. 

...Uzair Fauzan, Heru Prasetia, Paring Waluyo, and Indriaswati Dyah Saptaningrum), and some other participants invited to help the foundation in designing a doable research design. 

...In the first session, all participants were given time to make presentation based on their preliminary study on the suject of Minority Rights and the areas/communities of the research.  ...  Started with some basic explanations on what type of data the researcher have to take care of during and after the field research, he went on lecturing the audience on how to capture the problems of Minority Rights ethnographically, and how to analyze the data and presenting them in report writing process.  
]]></content:encoded></item><item><title>Our Workshop on Developing Research Design on Minority Rights</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2006-07-30T11:26:56+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Our_Workshop_on_Developing_Research_Design_on_Minority_Rights.php#unique-entry-id-28</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Our_Workshop_on_Developing_Research_Design_on_Minority_Rights.php#unique-entry-id-28</guid><content:encoded><![CDATA[Setelah sempat tertunda beberapa bulan, program penelitian tentang Hak-hak Minoritas tahap kedua akan dilakukan para peneliti Interseksi mulai bulan Agustus 2006. ...  Untuk menjaga dan memperbaiki kualitas yang sudah ada, tanggal 7 sampai 9 Agustus 2006 Interseksi akan mengadakan workshop persiapan penelitian di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. 


Dalam workshop tersebut, para peneliti Interseksi akan memberikan pemaparan konseptual tentang isu-isu utama yang menjadi fokus perhatian dalam program penelitian tahap kedua ini. ...  Tujuannya agar masing-masing peneliti bisa merumuskan persoalan-persoalan spesifik di masing-masing wilayah di luar formulasi persoalan yang telah ditetapkan dalam rancangan awal penelitian. 

...Penelitian tahap kedua ini akan dilakukan di empat komunitas di empat wilayah: komunitas lokal Tolotan di Sulawesi Selatan; komunitas lokal Parmalim di Sumatra Utara; Jamaah Ahmadiyah di Bogor, Jawa Barat, dan; masyarakat Tengger di Jawa Timur. 

...To that end, on 7 - 9 August 2006 we are organizing a workshop in Puncak, Bogor, West Java.


...It is hoped that through the workshop the researcher will better understand not only how to collect the data from the field but also how to systematize and analyse them, and how to write a good report.


This year we will conducting research in four communities in Indonesia: Tolotan community in South Sulawesi; Parmalim community in North Sumatra; Ahmadiyah Islamic community in Bogor, West Java, and; Tengger community in East Java. ]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi Bulanan tentang Kebudayaan dan Kekuasaan</title><dc:creator></dc:creator><category>FORACAFETARIA</category><dc:date>2006-07-06T13:39:04+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Diskusi_Bulanan_tentang_Kebudayaan_dan_Kekuasaan.php#unique-entry-id-26</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Diskusi_Bulanan_tentang_Kebudayaan_dan_Kekuasaan.php#unique-entry-id-26</guid><content:encoded><![CDATA[Saifuddin adalah dosen senior jurusan Antropologi Universitas Indonesia, dan telah banyak menulis tentang isu-isu krusial dalam ranah diskursi kebudayaan.   Dalam diskusi kita kali ini, ia akan membahas tema Kebudayaan dan Kekuasaan.   Meskipun ini merupakan sebuah tema klasik yang sudah sangat sering dibicarakan di seluruh dunia, tapi ia tetap sangat penting karena diskusi tentangnya niscaya kuat terkait dengan konteks historis perkembangan atau dinamik setiap masyarakat. ...  Untuk gambaran tematik yang lebih jelas silakan dipelajari TOR Diskusinya pada halaman Agenda situs ini.


...Karena itu pastikan kehadiran Anda ke 021-79192676 (Amel) pada jam kerja atau ke INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM.


On July 12th, 2006, the Interseksi Foundation is convening the third montly discuccion to explore several issues in contemporary Indonesia. ...  Achmad Fedyani Saifuddin, a senior lecturer at the department of Anthropology, University of Indonesia, to discuss a rather classic theme on the relation of Culture and Power. 

...So please confirm your participation either by phone at 021-79192676 (work hour with Amel)  or by email to INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM. 
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Diskusi tentang Teror&#x2c; Massa&#x2c; dan Trauma</title><dc:creator></dc:creator><category>FORACAFETARIA</category><dc:date>2006-06-30T21:53:17+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_tentang_Teror.php#unique-entry-id-25</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_tentang_Teror.php#unique-entry-id-25</guid><content:encoded><![CDATA[Rasionalitas modern memandang massa sebagai kekuatan anomali, irasional dan selalu menjadi pusat reproduksi bagi energi-energi desktruktif.   Singkatnya, massa yang bergerak dengan melakukan tindakan kekerasan merupakan kolektivitas yang disusun berdasarkan elemen-elemen negatif.   Individualitas di dalam kerumunan massa menjadi kosong, lalu kekosongan ini diisi oleh suatu energi balik untuk meretas proses individuasi itu sendiri.   Pertanyaannya adalah kenapa di zaman yang semakin modern, kerumunan massa seperti ini masih menghantui kehidupan kita sehari-hari? 

...Francisco Budi Hardiman, atau yang lebih akrab disapa Franky, dalam diskusi bulanan yayasan Interseksi (21 Juni 2006) meragukan kenyataan ini.   Ia justru berpendapat bahwa dorongan merusak dan berbuat positif dalam takaran rasionalitas modern terus menjadi bagian inheren dari pendulum modernitas itu sendiri.   Pada satu sisi, manusia sebagai pribadi memiliki hasrat untuk berbeda, menjadi unik.   Tapi pada sisi yang lain dan pada saat yang bersamaan, individu modern juga memiliki kecenderungan untuk mencari simililaritas menjadi "yang sama" di dalam apa individu bisa memperoleh ketenangan, tidak memiliki keharusan bertanggungjawab secara individual, dan menyerahkan kedaulatan subjeknya kepada kolektivitas. ]]></content:encoded></item><item><title>The Dilemma of the Shariah&#x2c; Secularism&#x2c; and Human Rights in Modern Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2006-06-24T22:09:43+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/The_Dilemma_of_the_Shariah.php#unique-entry-id-24</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/The_Dilemma_of_the_Shariah.php#unique-entry-id-24</guid><content:encoded><![CDATA[After the demise of Soeharto&rsquo;s New Order regime the political situation in Indonesia is marked by, among others, political liberalization.    The situation has given the impetus for the emergence of a double-edged phenomenon.   On the one hand, there are some groups of society that has taken their communal identities, religion identities in particular, as their main political vehicle to prevail over opposing forces in political strugles, and to grasp the power left by former authoritarian government.    On the other hand, the same political athmosphere has also given wider political opportunities for those interested in promoting secularism as well as other issues such as human rights issues as part of the efforts to strengthen democracy in the country.   This double-edged phenomenon is inevitable as part of contemporary political reality marked by the increase of religion and efforts to empower the people.   In his essay, Ridwan al-Makassary tries to reflect the dilemma that Indonesian has been faced with due to the tensions and political contestations amongs Islamic hard liner and secularism advocates.   He also iluminates the problematic situations regarding the application of universal principles of the human rights  brought about by the architectural shift of the global politics.   Read the essays>>
]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi tentang Massa&#x2c; Teror&#x2c; dan Trauma bersama Budi Hardiman</title><dc:creator></dc:creator><category>FORACAFETARIA</category><dc:date>2006-06-12T17:58:10+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Diskusi_tentang_Massa.php#unique-entry-id-23</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Diskusi_tentang_Massa.php#unique-entry-id-23</guid><content:encoded><![CDATA[Topik ini tentu saja sangat relevan dengan konteks kondisi dunia saat ini, ketika terorisme sudah nyaris seperti CocaCola: hadir kapan saja dan di mana saja, tanpa pernah sepenuhnya bisa kita duga. ...  Hardiman adalah seorang filsuf yang sehari-hari mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, dan baru-baru ini telah mempublikasikan buku terbarunya dengan topik yang juga menjadi subjeks diskusi ini.   Sejak lebih satu dekade yang lalu, nama Budi Hardiman juga sudah dikenal luas di kalangan pembaca teori-teori sosial (kritis), terutama melalui serangkaian karyanya yang secara khusus membahas pemikiran filsuf Jerman pewaris terjauh Aliran Frankfurt, Jurgen Habermas.   Erudisinya pada bidang filsafat akan membantu mencerahkan pemahaman kita tentang banyak soal yang belakangan ini benar-benar menghantui hidup kita: terorisme.


...Karena itu pastikan kehadiran Anda melalui 021-79192676 (Amel) pada jam kerja atau melalui email ke INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM. 

...This particular topic is extremely crucial in current situation when terrorism is almost like Cocacola; anytime, anywhere it haunts us without us being aware of. ...  His name has been widely known to those interested in critical social theories  in Indonesia, since he has published several works discussing the ideas developed by one of the most important figures of the Frankfurt School, Jurgen Habermas. 

...So please confirm your participation either by phone at 021-79192676 (Amel) at work hour or by email to INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM. ]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Diskusi tentang Hukum yang Berpihak Kepada Perempuan</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2006-06-07T20:26:47+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_tentang_Hukum_yang_Berpihak_Kepada_Perempuan.php#unique-entry-id-22</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_tentang_Hukum_yang_Berpihak_Kepada_Perempuan.php#unique-entry-id-22</guid><content:encoded><![CDATA[Salah satu kelompok yang paling terancam dengan RUU APP (Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) adalah kaum perempuan. ...  Beberapa organisasi kewanitaan seperti KOWANI, dan organisasi-organisasi perempuan keagamaan malah turut terlibat aktif dalam aksi mendukung RUU tersebut. ...  Hal ini menyebabkan, seperti tampak di media, antar kelompok perempuan sendiri justru saling berseberangan dalam memandang kasus RUU APP.

...Pertama, RUU APP adalah multitafsir, dan hal ini berpotensi untuk dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk membatasi kelompok minoritas. ...  Padahal, tidak sedikit kelompok-kelompok Islam yang menolak RUU tersebut karena juga akan menjadi korban.

...Di sini, Indonesia sebagai bangsa multikultur akan terancam karena variasi budaya akan dihilangkan dan menjadi satu kebudayaan yang seragam.   Ini adalah ancaman yang paling mengerikan, karena selain membatasi kebebasan individu, RUU ini berpotensi menghilangkan kekhasan kebudayaan-kebudayaan yang tumbuh di Indonesia.

...Jika dipetakan, satu-satunya fraksi yang menolak RUU APP ini adalah PDIP, dan partai yang mendukung adalah Partai demokrat, PKS dan beberapa partai Islam lainnya. ]]></content:encoded></item><item><title>Literasi dan Pendidikan Multikultural</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2006-05-26T16:02:31+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Literasi_dan_Pendidikan_Multikultural.php#unique-entry-id-21</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Literasi_dan_Pendidikan_Multikultural.php#unique-entry-id-21</guid><content:encoded><![CDATA[Multikulturalisme melihat kemajemukan sebagai basis penyelenggaraan relasi-relasi sosial antar warga negara.   Dalam konteks politik, multikulturalisme merekomendasikan kebijakan yang memungkinkan negara berdiri tegak menjamin diversitas kultural tidak saling melumat satu sama lain.   Salah satu bentuk ramifikasi gagasan multikulturalisme adalah dalam penyelenggaraan pendidikan nasional yang bukan hanya adaptif terhadap konteks sosial di mana proses belajar dilakukan, melainkan juga mampu mendorong peserta didik melihat perbedaan sebagai azas hubungan dengan sesama.   Dalam  "Literasi, Properti, Jatidiri", novelis Sofie Dewayani mengulas satu soal krusial dalam dunia pendidikan kita saat ini.   Ia memberi tekanan pada partikularitas lokal yang seharusnya menjadi sebuah imperatif baru dalam menentukan muatan materi pendidikan di sekolah.   Baginya, literasi tidak harus berarti orang menjadi terasing dari lingkungan hidupnya.   Baca selanjutnya>>
]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi tentang Hukum yang Berpihak Kepada Perempuan</title><dc:creator></dc:creator><category>FORACAFETARIA</category><dc:date>2006-05-20T02:33:45+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Diskusi_tentang_Hukum_yang_Berpihak_Kepada_Perempuan.php#unique-entry-id-20</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Diskusi_tentang_Hukum_yang_Berpihak_Kepada_Perempuan.php#unique-entry-id-20</guid><content:encoded><![CDATA[Selama tahun takwim 2006/2007, Yayasan Interseksi akan melanjutkan rangkaian forum diskusi terbatas, yang secara internal kami sebut foracafetaria, untuk membahas bermacam-macam isu dalam kehidupan kontemporer di Indonesia. ...  Diskusi akan diselenggarakan di Bukafe, Duren Tiga, Jakarta Selatan, dan hanya untuk jumlah peserta yang sangat terbatas.   Adriana Venny adalah pemimin redaksi sebuah berkala tentang isu-isu perempuan yang sangat diperhitungankan di Indonesia, Jurnal Perempuan, sekaligus direktur eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan. ...  Kebetulan ia juga pernah menjadi salah seorang peserta putaran terakhir Forum Interseksi di Kuningan, Jawa Barat, tahun 2003 yang lalu. 

...In the fiscal year of 2006/2007, the Interseksi Foundation will continue the series of discussion forum, which we internally dub foracafetaria, to elaborate various issues in contemporary Indonesia.  ...  Adriana Venny as the speaker in the forum discussing the  women-sensitive legal system that is extremely crucial in the context of current political situations in Indonesia.    The discussion  will be held in Bukafe, Duren Tiga, Jakarta Selatan (see the map), and is only for limited participants.   Ms Venny is the editor-inchief of the highly respected publication on Feminism in the country, Jurnal Perempuan, and is a Ph.]]></content:encoded></item><item><title>Mandala of Difference</title><dc:creator></dc:creator><category>CAMPAIGN</category><dc:date>2006-05-20T02:04:09+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Mandala_of_Difference.php#unique-entry-id-19</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Mandala_of_Difference.php#unique-entry-id-19</guid><content:encoded><![CDATA[Diversity could both be  the greatest strength and the greatest weakness of a country.   Indonesia is a country of diversity; it consists of hundreds of ethnic groups with a huge variety of cultures  living in thousands of islands.   The Interseksi Foundation has  been conducting researches to inductively comprehend the importance of multicultural policies in Indonesia to face the dilemmas of cultural diversities that we have been faced with for decades.   We also organize cultural campaigns to raise the awarness of people of the virtues of cultural diversities and of cultural reconsiliation.     And today we are delightly presenting Mandala Perbedaan (The Circular Arena of Difference), an astonishing computer graphics slideshow created by Ismiaji Cahyono of the School of Art Institute of Chicago, as part of our campaign to promote cultural reconciliation.   Cahyono designed the artwork as a respond to the myriad of problems that we have been experiencing with in our contemporary Indonesia.    With this gorgeous presentation, Cahyono tries to iluminate the underpinning principles of cultural as well as political phenomena currently occured in our societies.   Please check it out in our Gallery. ]]></content:encoded></item><item><title>The Role of Conflict Entrepreneurs in Violent Conflicts in Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2006-06-06T18:38:42+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/The_Role_of_Conflict_Entrepreneurs.php#unique-entry-id-15</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/The_Role_of_Conflict_Entrepreneurs.php#unique-entry-id-15</guid><content:encoded><![CDATA[Social conflict has many dimensions, one of which is the emergence of individuals, the so-called conflict entrepreneurs, who take the necessary and deliberate steps to ignite a violent conflict by utilizing a specific situation or in order to gain something through the exploitation of new power relationship.   This by no means conflict entreprenuer's main agenda is to seek personal advantage from the conflict.   In the case of Maluku, some people deliberately ignited violent conflicts for the benefit of their comunal identities.


Through a joint-project with the Japan Foundation, Jakarta, in the year 2003/2004 the Interseksi Foundation conducted a preliminary research on the role of conflict entrepreneurs in the then recent violent conflicts in Maluku.   The research was mainly aimed as a theoretical exploration on the concept of conflict entrepreneurs and to seek the possibilities to utilize such a concept in analysing conflicts in the region.   Now, almost three years later, in his essay, Philips Jusario Vermonte, who himself was the project coordinator of the research and is now pursuing Ph.  D in political science in Northern Illinois University, further reflects the phenomenon from a wider perspective.   Read the essay>>  
]]></content:encoded></item><item><title>Warga Interseksi Mengenang Pram</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-05-02T09:08:39+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Warga_Interseksi_Mengenang_Pram.php#unique-entry-id-14</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Warga_Interseksi_Mengenang_Pram.php#unique-entry-id-14</guid><content:encoded><![CDATA[Beberapa warga Interseksi juga menarasikan pengalaman pribadinya dengan sosok Pramoedya Ananta Toer dalam personal blognya masing-masing.   Nama dan karya-karya Pramoedya memang mengisi bukan hanya kepala mereka yang secara khusus mendalami studi sastra atau ilmu-ilmu budaya, melainkan hampir setiap orang yang punya nyali menghidupkan peradaban dengan gagasan-gagasan cerdas.   Sobekan-sobekan kenangan/pengalaman tadi tentu menarik untuk dibagi bersama.   Kami menurunkan kembali beberapa cerita tersebut untuk kita semua di halaman Community(Blog). 
]]></content:encoded></item><item><title>Turut Berduka Cita</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2006-04-30T17:47:32+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Turut_Berduka_Cita.php#unique-entry-id-13</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Turut_Berduka_Cita.php#unique-entry-id-13</guid><content:encoded><![CDATA[Seluruh warga komunitas Yayasan Interseksi, Jakarta menyampaikan turut berduka yang sedalam-dalamnya atas wafatnya sastrawan terbesar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pada usia 81 tahun, pada hari Minggu, 30 April 2006.   Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.   Ini adalah kehilangan besar bagi seluruh warga dunia.   Pram mendedikasikan sebagian terbesar hidupnya untuk terus-menerus mempersoalkan nasib umat manusia.   Ia pernah salah tentu saja, tapi selain soal pilihan sikap sejarah, kesalahannya itu tidak sama sekali menganulir cintanya pada sesama manusia seperti tercermin dalam seluruh karya yang pernah ditulisnya.   Lepas dari segala bentuk kontroversi dan pertentangan politik di masa lalu, karya-karya dan semangat beliau niscaya tetap hidup dalam jiwa dan pikiran kami yang lebih muda. 
]]></content:encoded></item><item><title>Multikulturalisme&#x2c; Dirayakan atau Dipertanyakan?&#xa;</title><dc:creator></dc:creator><category>REVIEW</category><dc:date>2006-04-26T19:30:25+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Multikulturalisme_Dirayakan_atau_Dipertanyakan.php#unique-entry-id-12</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Multikulturalisme_Dirayakan_atau_Dipertanyakan.php#unique-entry-id-12</guid><content:encoded><![CDATA[Oleh Bosman Batubara


Dalam tulisannya yang terkenal, berjudul &lsquo;Can the Subaltern Speak?&rsquo;  , Gayatri Chakravorty Spivak, mengungkapkan bahwa kekerasan bukan hanya hadir dalam bentuk kasat mata seperti yang lazim kita kenali selama ini.   Kekerasan dapat juga menjelma dalam bentuk yang subtil dengan kadar bahaya yang lebih dahsyat dalam bentuk &lsquo;epistemic violence&rsquo; (kekerasan epistemologi).   Meski Spivak melandaskan argumennya pada konteks relasi Barat-Timur, Penjajah-Terjajah, tetapi metodenya dalam menganalisis bagaimana sesuatu menahbiskan diri sebagai Subyek (dalam hal ini Barat), dan bagaimana sesuatu diluarnya ditahbiskan sebagai Obyek (dalam hal ini Timur), dapat dipakai untuk menjejaki fenomena yang kurang-lebih sama dalam konteks yang berbeda.   Baca selanjutnya>>
]]></content:encoded></item><item><title>Multikulturalisme dan kebijakan pembangunan Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2006-04-26T19:26:57+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Multikulturalisme_dan_kebijakan_pembangunan_Indonesia.php#unique-entry-id-11</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Multikulturalisme_dan_kebijakan_pembangunan_Indonesia.php#unique-entry-id-11</guid><content:encoded><![CDATA[Biasanya di negeri ini berbagai wacana semacam posmodernisme, liberalisme, dan multikulturalisme ini hanya menjadi riak-riak belum menyentuh perdebatan yang lebih serius, khusunya dalam public discourse.   Maka adalah penting untuk mengangkat discourse multikulturalisme ke dalam konteks dan situasi indonesia. ...  Sebab konsep ini tidak lahir dari sejarah masyarakat Indonesia.   Multikulturalisme muncul dari sejarah sosial politik negara Barat seperti Amerika Serikat, Kanada, dan lain-lain.  Negara-negara yang berhadapan dengan isu rasialisme dan kaum imigran.   Isu-isu rasialisme ini menjadi perrsoalan yang lebih luas karena hubungan antar ras dan antar nation meimbulkan problem tertentu yang tidak hanya bisa diatasi dengan pola-pola agenda pembangunan yang sudah dimiliki oleh negara-negara menghadapinya.   Jadi multikulturalsme muncul ketika satu wadah nation-state menghadapi pergolakan internal dari dalam.   Pergolakan yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok yang masih mengikatkan dirinya dengan semangat-semangat primordial. ]]></content:encoded></item><item><title>Indonesian Military in Human Rights Violations</title><dc:creator></dc:creator><category>ARTICLE</category><dc:date>2006-03-10T23:59:38+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Indonesian_Military_in_Human_Rights_Violations.php#unique-entry-id-4</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Indonesian_Military_in_Human_Rights_Violations.php#unique-entry-id-4</guid><content:encoded><![CDATA[by Mashudi Noorsalim


A corrupt legal system and a lack of political will means human rights abuses involving the Indonesian military have not been properly processed through the country&rsquo;s legal system.    The Law on Human Rights released in 1999 has not functioned as a firm basis for the processing of human rights abuse cases.   In effect, the fall of the New Order regime in 1998 has brought no significant advances in dealing with human rights abuse cases.   Continue>>
]]></content:encoded></item><item><title>Third Party Interventons in Pre-Tsunami Aceh Conflict</title><dc:creator></dc:creator><category>FORACAFETARIA</category><dc:date>2005-10-29T22:03:12+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Third_Party_Interventons_in_Pre-Tsunami_Aceh_Conflict.php#unique-entry-id-3</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Third_Party_Interventons_in_Pre-Tsunami_Aceh_Conflict.php#unique-entry-id-3</guid><content:encoded><![CDATA[On Wednesday 26 October 2005,  interseksi held a small discussion with selected participants.   The topic of the discussion was on the Third Party Intervention in Pre-Tsunami Aceh Conflict.   Drawn from her MA thesis in Upsala university, Irene Hiraswati Gayatri delivered  her paper which seeks to apply negotiation and mediation theory to the Aceh conflict, in particular William zartman&rsquo;s approach of &ldquo;ripe moments&rdquo;.   This is a relatively straightforward idea on the linkage between the theoretical section of ripe moments, and brief description of the Aceh conflict. ...  William Zartman, the conditions (of ripe moment) might exists, but people do not perceive them&mdash;and they might have passed when they do.  There also some necessary but not sufficient conditions for ripe moments. ...  Are the indicators for those conditions reliable in the case? 

...Convened in Bukafe, Duren Tiga, Jakarta Selatan, the discussion went on discussing on how ex-GAM or Gerakan Aceh Merdeka (The Aceh Liberation Movement) will face new challenges after the so-called Helsinky's memorandum between the Indonesian government and GAM's representative months earlier.
]]></content:encoded></item><item><title>Our Book on a Radio Talkshow</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2006-02-05T21:57:46+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Our_Book_on_a_Radio_Talkshow.php#unique-entry-id-1</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Our_Book_on_a_Radio_Talkshow.php#unique-entry-id-1</guid><content:encoded><![CDATA[Another day another press coverage.   On Wednesday, February 15th, 2006, Jaringan Islam Emansipatoris (Emancipatory Islam Network) of Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) or the Network for Pesantren and Society Development, is broadcasting a radio talkshow discussing the book the Interseksi foundation has published, Hak  Minoritas.   Dilema Multikulturalisme di Indonesia.   Muhtadin AR is hosting the talkshow with Very Verdiansyah as the speaker.   The talkshow will be aired at 9 - 11 PM at 103.4 D Radio FM.   Please check it out.   For more information please contact P3M.
]]></content:encoded></item><item><title>Fundamentalism as A Social Movement</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2006-02-09T21:51:43+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Fundamentalism_as_A_Social_Movement.php#unique-entry-id-0</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Fundamentalism_as_A_Social_Movement.php#unique-entry-id-0</guid><content:encoded><![CDATA[Fundamentalism has been one of the most heatedly debated catchword in global poitics for years.   Hundreds of essays have been written to depict the phenomenon from myriad of perspectives.   More often than not, fundamentalism is merely seen as a religious hatred of Islam communities against secularized civilization championed by the West.   Fundamentalism pictured as a particular Islamic movements agaisnt Western domination is indeed one of the widely used approaches in contemporary social analysis.   In his essay, Ridwan al-Makassary, himself has spent enourmous times studying Islam politics, tries to use a slightly different outlook.   He argues that the contemporary Islamic fundamentalism movements have been given the impetus by the current unjust global situation.   Read more>>
]]></content:encoded></item></channel>
</rss>
