FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Diskusi: Memahami Perbatasan sebagai Kontinuum Sosial



Salah satu kekuatan Negara yang jarang dibahas adalah kemampuan Negara dengan perangkat narasinya untuk menciptakan partisi2 imajiner, baik yang bersifat spasial ('wilayah NKRI') atau pun yang bersifat temporal (misalnya periodisasi sejarah).Perbatasan dalam wacana negara selalu diasosiasikan sebagai sebuah sekat yang dilihat dengan ajeg, kaku dan otoritatif - sebuah sekat yang membedakan identitas, ruang dan sejarah. Sayangnya, sekat ini juga mempengaruhi arah perkembangan studi-studi di Indonesia tentang perbatasan.

Kasus dari penelitian Dave Lumenta di Kalimantan Timur yang mencoba memahami sejarah hubungan masyarakat suku Dayak Kenyah dengan proses (nation-)state making sejak zaman kolonial hingga sekarang, menunjukkan bahwa sebuah pendekatan dan metodologi baru diperlukan bagi analisa-analisa sosial dalam memahami dinamika wilayah perbatasan. Sebuah pendekatan baru menuntut kita untuk melihat wilayah perbatasan sebagai sebuah kontinuum ketimbang sebagai 'sekat'.

Diskusi bulanan Yayasan Interseksi putaran ke-23 akan membahas tema problemtik tentang isu-isu perbatasan (border issues). Pembicara yang akan memantik diskusi kali ini tidak lain adalah Dave Lumenta sendiri. Diskusi akan diadakan pada:

  • Hari/tgl: Senin, 27 Oktober 2008
  • Waktu: Jam 15.00 - selesai
  • Tempat: Kantor Yayasan Interseksi
                   Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 39
                   RT 003/RW 01, Kelurahan Lenteng Agung
                   Jakarta Selatan 12610
                   Telp./Fax.: 021 7820 444
                   Email: office [at] interseksi [dot] org; interseksi [at] gmail [dot] com
    Seperti biasa, karena keterbatasan tempat, diskusi ini hanya untuk jumlah peserta yang terbatas. Silakan konfirmasikan kehadiran Anda melalui 021-7820 444 (Risna) atau email ke interseksi[at]gmail[dot]com