FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Mencari Lauk, Menemukan Sate Pusut


Radjimo Sastro Wijono
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di komunitas Buda, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

Sebagian besar orang mengenal Pulau Lombok, namun dari yang kenal pulau di timur Pulau Bali ini belum tentu pernah menyinggahinya. Aku termasuk salah satunya, sebelum melakukan penelitian masyarakat Buda di Lombok Utara. Setelah mengenal dalam sebulan, aku merasakan seperti tinggal di tempat impian saat aku masih berusia kanak-kanak. Waktu seperti berhenti, kalau toh dikatakan bergerak ia hanya merambat pelan. Berada di dalam waktu yang terasa abadi menimbulkan keriangan dalam beraktivitas, seperti anak kecil yang sedang bermain. Berada di dalam pulau yang tidak terikat pada waktu, namun pada ruang, seperti tinggal di rumah dengan keamanan dan kenyamanan yang membetahkan.

Pukul 22.48 hari kelima terakhir sebelum aku kembali ke Jakarta aku menikmati temaram malam. Aku masih memunyai lima jam yang sama di Lombok: empat malam menginap di Dusun Todo, dan satu malam lagi di Kota Mataram. Perasaan berat berpisah dengan lingkungan dan masyarakat yang menemaniku dalam memahami budaya yang ada di Lombok Utara sudah kuhinggapi di minggu terakhir ini. Apalagi sayup-sayup kudengar lantunan orang membaca lontar, sebagai bagian prosesi hajat (begawe) yang terdengar sangat khas. Aku tidak tahu apa persis yang dibaca, oleh sebagian besar narasumber mengatakan, biasanya yang dibaca tapal adam (serat galih) atau menak,[1] dan soundscape ini memberi kesan yang nanti tidak mudah kulupakan.

[Baca selanjutnya...]