FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Dari Diskusi tentang Isu-isu Perbatasan


Posted by Dina Amalia Susamto

discussing border issues with Dave Lumenta

Sejak masih duduk di bangku SD melalui pelajaran membaca peta dalam subjek IPS, negara melalui kurikulum pendidikan sudah membangun imaji spasial tentang negara lain sebagai wilayah bayangan berwarna putih yang diabaikan. Anak-anak SD pun tidak terpikir untuk bertanya tentang tanah-tanah yang berada pada garis perbatasan, bagaimana penduduknya, kebiasaan sehari-hari mereka dan lain-lain. Jangankan anak-anak, negara yang mempunyai wacana teritorial, selama ini menganggap bahwa perbatasan hanya sekat yang keadaannya terisolir, ditancapi patok-patok, dijaga oleh tentara-tentara karena wilayah tersebut biasanya menjadi sarang kejahatan-kejahatan seperti penyelundupan dan perampokan.

Melalui studi tetang perbatasan, seperti yang didiskusikan dalam Disklusi Bulanan Interseksi tanggal 27 Oktober 2008, Dave Lumenta mencoba memperkenalkan pendekatan baru, untuk konteks kajian sosial di Indonesia tentu saja, dalam memahami dinamika wilayah perbatasan sebagai kontinuum sosial dari pada sekedar sekat. Menurut Lumenta, studi tentang perbatasan sebenarnya belum lama dilakukan di Indonesia. Studi-studi seperti ini baru mulai sekitar tahun 2001 dengan isu-isu seputar ilegal logging, TKI dan human trafficking. Tapi isu perbatasan tentu saja tidak bisa direduksi hanya ke dalam tiga isu tersebut. Problem perbatasan sangat kompleks, dan untuk melakukan studi tentang satu wilayah perbatasan maka mau tidak mau orang harus pula melakukan studi tentang negara di seberang wilayah batas tersebut. Lumenta sendiri selama bertahun-tahun melakukan penelitian di wilayah perbatasan Kalimantan Timur, Indonesia, khususnya wilayah Apokayan, dan di Serawak, Malaysia.

Daerah Apokayan dihuni oleh beberapa suku Dayak, salah satu diantaranya adalah Dayak Kenyah. Daerah ini sangat sulit dijangkau secara fisik sehingga kalau kita membicarakan soal integrasi wilayah kesatuan Indonesia, ia merupakan tantangan yang sangat berat. Ironi wilayah-wilayah perbatasan seperti ini adalah ia merupakan wilayah yang terisolir dari negerinya sendiri, tapi justru sangat terbuka dari wilayah negara tetangga di seberangnya. Secara geografis Apokayan dilalui -sungai-sungai yang terpotong jeram yang dalam sehingga kalau ditempuh melalui rute di dalam negeri akan membutuhkan waktu 2,5 bulan melintasi sungai untuk sampai di wilayah ini. Sebaliknya, rute tempuh jauh lebih singkat kalau menempuh rute melalui Serawak. Pengakuan yang terlihat dari negara terhadap eksistensi kelompok masyarakat yang bermukim di daerah ini adalah representasi rumah panjang dalam lembaran uang kertas bernilai nominal lima ratus rupiah (yang sekarang kemungkinan besar justru sudah tidak berlaku lagi), dan pada salah satu anjungan di Taman Mini Indonesia Indah. Deskripsi visual lainnya adalah dalam bentuk penayangan orang-orang bertelinga panjang dalam acara Desa ke Desa yang legendaris dari reporter TVRI Sambas pada dekade 1980an.

Menurut literatur yang pernah ditemukan Dave tentang orang-orang Kenyah, orang-orang tersebut sebenarnya tidak terisolasi, bahkan mempunyai pengalaman pergaulan yang kosmopolit. Tahun 1909 beberapa orang-orang Kenyah pernah bepergian bersama orang-orang Belanda ke pegunungan Jaya Wijaya di Papua. Orang-orang Apokayan adalah orang-orang nomaden yang bergerak tersebar berdasarkan kebutuhan ekonomi. Persebarannya mengikuti sungai, sehingga ketika peta-peta perbatasan dibuat setelah adanya negara, orang-orang Apokayan ini terbagi dalam dua negara: Indonesia dan Malaysia.

Karena letak geografis yang terpencil maka tingkat kebutuhan masyarakat Apokayan untuk travelling demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekonomi semakin tinggi. Komoditi membutuhkan space, dan Serawak adalah ruang bagi mereka. Hasil-hasil hutan di daerah apokayan seperti kayu Gaharu dipasarkan ke Sarawak , dan banyak dicari oleh orang-orang China. Kegiatan ekonomi sehari-hari yang lebih dekat pada Serawak membuat orang-orang Apokayan lebih kenal suku-suku Dayak lain di Serawak dari pada orang-orang di Samarinda.

Identitas orang-orang Apokayan tidak bisa berdasarkan desa sebagai unit analisis seperti di Jawa. Di Apokayan banyak desa berlainan tapi mudah berinteraksi satu sama lain karena berada pada alur aliran sungai yang sama. Teritori Apokayan sangat tumpang tindih, bisa bercampur dengan suku-suku lain. Teritori Apokayan tidak berkesinambungan tapi terpecah-pecah karena mereka nomaden berdasarkan usaha mencari mata pencaharian. Satu waktu mereka satu wilayah, tapi di lain waktu bisa terpecah karena berpindah mencari sungai lain. Pola perpindahan mereka didasarkan pada tempat musim ikan. Tetapi satu waktu setelah terpisah, mereka bisa bertemu kembali.

Kedekatan hubungan orang Kenyah di Apokayan dengan orang Kenyah dan beberapa jenis suku Dayak yang lain di Serawak sampai pada hubungan ketenagakerjaan, sisalnya, sebagai penerjemah Injil. Tidak hanya itu untuk tenaga kerja dengan profesi-profesi tertentu, orang-orang Apokayan sangat dipercaya oleh perusahaan-perusahaan kayu di Serawak. Untuk tenaga kerja TKI, ketika orang-orang Jawa mengalami kesulitan sebagai tenaga kerja di Malaysia, TKI asal Apokayan sangat mudah mengurus segala sesuatu. Jika terjadi persoala antara TKI dengan majikan atau agen, karena letak PJTK yang dekat yaitu di Sambas, memudahkan masyarakat Apokayan mengontrol wargaya secara sosial. Hubungan patron-klien ini membuat orang-orang Kenyah Apokayan mempunyai daya tawar yang cukup tinggi di Serawak.

Studi Lumenta merupakan kritik terhadap tesis James Scott, yang mengatakan bahwa negara memusuhi orang-orang nomaden karena sulit membayar pajak. Dalam analisis James Scott ditunjukkan bahwa orang-orang nomaden di perbatasan Kalimantan seakan sub-ordinatnya negara. Tetapi kenyataan yang ditemukan Lumenta justru sebaliknya: orang-orang nomaden Dayak Kenyah ini mampu memanfaatkan dua identitas kewarganegaraan ketika mobilitas tercipta begitu mudah di perbatasan, dan bahkan negara tak dapat membendungnya karena hubungan persaudaraan antar suku yang lebih cair. Ini sudah dirasakan sejak zaman pemerintahan Belanda pada saat mereka menginginkan orang Apokayan hanya berdagang dengan Belanda, yang akhirnya tidak tercapai, karena sulitnya menjangkau daerah tersebut.

Pada masa Orde Lama, saat terjadi konfrontasi dengan Malaysia pemerintah Sukarno juga pernah berusaha memindahkan penduduk Apokayan ke pinggiran dengan tujuan agar tidak mudah dipengaruhi neokolim, tetapi kenyataannya keputusan itupun gagal. Pada masa Orde Baru pemerintah Suharto berusaha mengintegrasikan Apokayan dengan memberikan subsidi dan penjagaan militer yang tidak seketat di wilayah Kalimantan Barat. Tetapi usaha Orde Baru juga gagal. Bahkan tentara-tentara ini juga pada akhirnya merasa bosan berjaga di daerah tersebut, karena terbukti tidak mempunyai masalah keamanan dan akhirnya ikut kegiatan ekonomi menjual potongan-potongan kayu. Pemerintah kemudian membangun proyek penerbangan perintis untuk memudahkan perhubungan dengan wilayah Apokayan.

Bagaimana orang-orang Kenyah di Apokayan dan Dayak Iban pernah memanfaatkan dua identitas? Lumenta memaparkannya sebagai berikut: orang-orang Dayak Iban di Kalimantan Barat mempunyai dua kewarganegaraan karena mengurusnya sangat mudah, tinggal menyebut anggota rumah panjang mana, maka orang tersebut sudah bisa membuat kartu penduduk. Tahun 1970 banyak orang Dayak Iban bekerja pada industri kayu di Serawak bukan hanya dengan alasan mengejar kesejahteraan atau ringgit. Alasan mereka sangat pragmatis: untuk bekerja di perusahaan kayu mereka bisa mejadi warga negara Malaysia, tetapi karena tanah mereka di Indonesia, mereka juga tetap ingin kembali ke Indonesia. Babi, tanah, ikan adalah ukuran penjelas eksistensial bagi mereka.

Begitu juga orang Kenyah Apokayan. Ketika Indonesia berperang dengan Malaysia, ada orang-orang Apokayan yang bekerja sebagai pemandu tentara Indonesia. Maka ketika tentara Indonesia akan memasuki daerah tertentu, orang Apokayan ini akan mengabari saudaranya di Serawak untuk memberitahu pasukan Gurka agar menyingkir sebentar. Hal sebaliknya juga dilakukan orang Kenyan yang jadi pemandu tentara Malaysia di Serawak terhadap saudaranya di Apokayan. Suatu hari salah satu keluarga di Apokayan menerima tamu tentara Gurka Malaysia. Sang tamu kemudian menginap dan tidur di bagian loteng rumahnya. Pada saat yang sama, ia juga menerima tamu tentara Indonesia yang tidur di bagian bawah. Secara kebetulan kedua pihak yang bermusuhan itu bertemu. Bisa diduga, tembak-menembak pasti terjadi. Tapi apa yang kemudian dilakukan oleh si tuan rumah. Dengan tegas orang Apokayan itu berkata: “Ini rumah saya, kalian tamu di rumah saya, walaupun kalian bermusuhan, tapi saya harap kalian tidak saling menembak di sini, di daerah saya. Di sini kalian sama-sama sebagai tamu saya.”

Menurut Lumenta, orang-orang Apokayan sangat pragmatis. Mereka berpendapat, peperangan ini adalah persoalan negara, dan sama sekali tidak ada manfaatnya bagi mereka. Karena itu mereka tetap melanjutkan hubungan baik dengan orang-orang Sarawak.

Cara pandang yang sangat cair dalam melihat warga dan negara lain ini sangat berbeda dengan cara pandang negara dalam hubungan internasional yang lebih politis, sehingga berimplikasi terciptanya hubungan kenegaraan yang kaku. Bayangan negara yang mencengkram kuat warga negara justru dirasakan di kota-kota besar tempat negara dapat mengikat dengan kuat penduduknya, bukan di wilayah perbatasan Apokayan.

Akan tetapi sayangnya kekakuan kebijakan dalam wilayah perbatasan terutama Apokayan ini masih berlangsung hingga kini. Pemerintah Indonesia belum memperbolehkan wilayah kecamatan untuk mengurusi keimigrasian. Hasilnya banyak tenaga kerja orang-orang Apokayan di Serawak yang ilegal. Padahal permintaan tenaga kerja ini sangat tinggi dengan upah yang cukup tinggi, karena orang-orang di Serawak percaya, untuk spesialisasi pemotong kayu, orang Apokayan dianggap paling baik.

Dalam konteks pemberian upah tenaga kerja, perlakuan majikan-majikan di Malaysia terhadap orang-orang Apokayan berbeda jika dibandingkan dengan perlakuan mereka terhadap tenaga kerja Indonesia pada umumnya. Lumenta melihat bahwa hubungan industrial dalam pekerjaan di wilayah perbatasan ini lebih cenderung berbasis pada etnis: Orang China menempati top manager, lalu dibawahnya Dayak Iban sebagai mechanic, Dayak Kenyah sebagai logmen, dan yang menempati posisi paling bawah adalah orang-orang Toraja. Dalam konteks spesifik seperti ini, negara dituntut berperan dalam melindungi para pekerja Indonesia yang berasal dari etnis lain agar tidak mengalami diskriminasi.