DIKIR, Tradisi Pengobatan Orang Sakai di Tengah Gelombang Perubahan
February 03, 2009/ 22:27 | Filed in: CHRONICLES
Catatan perjalanan ke Riau 17-20 Januari 2009
Irine H Gayatri
Peneliti The Interseksi Foundation
Perjalanan dari Pekanbaru kutempuh dengan jalur darat menumpang travel berjenis Avanza. Rute Pekanbaru-Duri hanya memakan waktu tiga jam kurang dan sepanjang jalan kendaran kami melintasi kompleks Chevron yang tertata rapi diseling rumah-rumah staf perusahaan minyak itu. Menurut Pak Nardia, sopir travel, perusahaan Chevron yang awalnya adalah perusahaan asing baru-baru saja menemukan lagi 22 titik pengeboran. Sudah tentu aktivitas pengeboran ini, menurutnya selain akan mendatangkan rejeki untuk para pemilik perusahaan (asing) akan membuka lapangan kerja bagi para pendatang, yang, menurutnya lagi, ‘dikuasai’ oleh alumnus dari perguruan tinggi negeri ternama di Jawa Barat. Pak Nardia sendiri mengakui, setelah kendaraan kami hampair mendekati Duri dan tinggallah kami berdua di mobil, dia pernah bekerja sebagai salah satu staf kontrak untuk Cevron (dahulu Caltex) di salah satu divisi teknis. Dua belas tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Pak Nardia sehingga ketika pensiun, dia bsi amenyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Pak Nardia memang ‘orang asli’ dari Riau, dan dia membahasakan pendatang sebagai ‘orang kita Jawa’.
Memang perekonomian di Pekanbaru sebagai ibukota provinsi saat ini dapat dikatakan ditopang oleh urban sectors yang dimiliki oleh beragam etnis. Keberadaan Chevron membuat Provinsi Riau dapat disebut sebagai Jika kita berjalan-jalan di kota Pekanbaru, gemerlap lampu dari pusat-pusat perbelanjaan yang notabene berskala menengah-atas dipegang oleh kalangan etnis Cina. Orang Minang dan sebagian pedagang juga berasal dari Bugis. Komposisi etnis yang beraneka ini juga telah ditelusuri oleh antropolog Parsudi Suparlan dalam bukunya ‘Orang Sakai di Riau: Masyarakat Terasing dalam Masyarakat Indonesia’ (YOI, 1995). Di pusat kota Pekanbaru, gedung-gedung pemerintahan berarsitektur Melayu berdiri megah. Sudah barang tentu yang termegah adalah kantor Gubernur Riau.
’Petualangan’ ku ke Riau kali ini adalah untuk ‘mengikuti’ perjalanan riset Dina, program officer Interseksi yang melakukan penelitian tentang transformasi identitas orang Sakai di Riau. Siapa sangka di balik kegermelapan urban di Pekanbaru, saya akan menemukan berbagai sisi yang tampaknya paradoks? [Baca selanjutnya.....]
Irine H Gayatri
Peneliti The Interseksi Foundation
Perjalanan dari Pekanbaru kutempuh dengan jalur darat menumpang travel berjenis Avanza. Rute Pekanbaru-Duri hanya memakan waktu tiga jam kurang dan sepanjang jalan kendaran kami melintasi kompleks Chevron yang tertata rapi diseling rumah-rumah staf perusahaan minyak itu. Menurut Pak Nardia, sopir travel, perusahaan Chevron yang awalnya adalah perusahaan asing baru-baru saja menemukan lagi 22 titik pengeboran. Sudah tentu aktivitas pengeboran ini, menurutnya selain akan mendatangkan rejeki untuk para pemilik perusahaan (asing) akan membuka lapangan kerja bagi para pendatang, yang, menurutnya lagi, ‘dikuasai’ oleh alumnus dari perguruan tinggi negeri ternama di Jawa Barat. Pak Nardia sendiri mengakui, setelah kendaraan kami hampair mendekati Duri dan tinggallah kami berdua di mobil, dia pernah bekerja sebagai salah satu staf kontrak untuk Cevron (dahulu Caltex) di salah satu divisi teknis. Dua belas tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Pak Nardia sehingga ketika pensiun, dia bsi amenyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Pak Nardia memang ‘orang asli’ dari Riau, dan dia membahasakan pendatang sebagai ‘orang kita Jawa’.
Memang perekonomian di Pekanbaru sebagai ibukota provinsi saat ini dapat dikatakan ditopang oleh urban sectors yang dimiliki oleh beragam etnis. Keberadaan Chevron membuat Provinsi Riau dapat disebut sebagai Jika kita berjalan-jalan di kota Pekanbaru, gemerlap lampu dari pusat-pusat perbelanjaan yang notabene berskala menengah-atas dipegang oleh kalangan etnis Cina. Orang Minang dan sebagian pedagang juga berasal dari Bugis. Komposisi etnis yang beraneka ini juga telah ditelusuri oleh antropolog Parsudi Suparlan dalam bukunya ‘Orang Sakai di Riau: Masyarakat Terasing dalam Masyarakat Indonesia’ (YOI, 1995). Di pusat kota Pekanbaru, gedung-gedung pemerintahan berarsitektur Melayu berdiri megah. Sudah barang tentu yang termegah adalah kantor Gubernur Riau.
’Petualangan’ ku ke Riau kali ini adalah untuk ‘mengikuti’ perjalanan riset Dina, program officer Interseksi yang melakukan penelitian tentang transformasi identitas orang Sakai di Riau. Siapa sangka di balik kegermelapan urban di Pekanbaru, saya akan menemukan berbagai sisi yang tampaknya paradoks? [Baca selanjutnya.....]