FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Dari Workshop Pra-Penelitian Hak Minoritas Tahap 3

WORKSHOP


Tanggal 15-17 Desember 2008 Yayasan Interseksi mengadakan workshop persiapan penelitian yang diadakan di Wisma Aryanti, Cisarua Puncak, Bogor. Workshop ini merupakan awal pelaksanaan kegiatan penelitian tentang Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahap 3 oleh Yayasan Interseksi bekerja sama dengan Yayasan Tifa, Jakarta. Tujuannya adalah untuk membahas desain penelitian (research design) dan memberikan pembekalan metodologi dan kerangka konseptual tentang isu-isu Hak Minoritas dan komunitas/wilayah yang akan dijadikan subjek penelitian. Untuk penelitian kali ini, ada empat wilayah yang dipilih yakni masyarakat Mentawai di Pulau Siberut, Suku Sakai di Riau, Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat, dan masyarakat penganut Buda di Lombok, Nusa Tenggara Timur. Selain penelitian antropologis/sosiologis, pada rentang waktu yang sama Interseksi juga kembali akan memproduksi sebuah film dokumenter di salah satu lokasi penelitian. Peserta workshop berjumlah 22 orang termasuk dua orang narasumber, yaitu Dr. Pujo Semedi yang memberikan materi etnografi serta Dr. Dave Lumenta yang membahas isu minoritisasi.
workshop_desember2008_3

Di tengah-tengah berlangsungnya workhsop, salah seorang peserta menyampaikan informasi tentang kemungkinan terjadinya tsunami di wilayah pulau Siberut.


Pada sessi pembukaan workshop, direktur Yayasan Interseksi, Hikmat Budiman, memberikan gambaran tentang program penelitian tentang Hak Minoritas yang telah dilakukan oleh Interseksi sejak tahun 2004/2005 yang lalu, dan konteks program tersebut dalam kerangka kerja Yayasan Interseksi yang lebih luas. Selain menceritakan beberapa capaian Hikmat Budiman juga mengungkapkan beberapa kelemahan mendasar dari penelitian-penelitian Hak minoritas yang sudah dilakukan Interseksi tersebut, yang diharapkan bisa diperbaiki dan dilengkapi dalam penelitian berikutnya.

Dua penelitian tentang Hak Minoritas terdahulu, misalnya, cenderung mengisolasi problem hak-hak komunitas minonoritas dari dinamik politik lokal yang berlangsung di masing-masing wilayah. Padahal problem tersebut jelas harus dicarikan solusi-solusi politiknya bukan hanya di tingkat pusat kekuasaan di Jakarta, melainkan yang lebih penting adalah pada tingkat negara-negara lokal. Di sisi lain, dalam hal pembuatan video dokumenter, Hikmat mengakui bahwa Interseksi masih dalam tahap belajar. Dokumentasi visual tentang komunitas Wana yang pernah diproduksi Interseksi tahun 2008 yang lalu adalah langkah awal untuk mengangkat isu-isu multikulturalisme dan hak minoritas melalui medium komunikasi yang lebih mudah dipahami oleh lebih banyak kalangan. Pembuatan video dokumenter tahun 2009 tentu merupakan peluang untuk bukan hanya melengkapi dokumentasi visual sebelumnya, melainkan juga untuk lebih banyak mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan tematik yang bisa ditampilkan.

semua peneliti dan tim pembuat film sepakat untuk melanjutkan pembahasan desain penelitian pada sebuah workshop terbatas di kantor Yayasan Interseksi pada tgl. 30 Desember 2008.


Sessi-sessi berikutnya secara berturut-turut diisi dengan presentasi dan pembahasan desain penelitian yang telah dibuat oleh masing-masing peneliti. Amin Mudzakir, yang sebelumnya juga pernah terlibat dalam penelitian Hak Minoritas tahap 2, tahun ini akan diberangkatkan ke Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat. Berbekal observasi awalnya tentang kehidupan masyarakat penghuni Kampung Naga, Amin melihat bahwa persolan krusial yang saat ini dihadapi mereka adalah soal komodifikasi Kampung Naga melalui proyek-proyek pariwisata. Ia kemudian mengakaitkan problem tersebut dengan kontestasi politik kebudayaan yang melibatkan pemerintah, NGO, dan penduduk Kampung Naga sendiri.
workshop_desmber2008_1

Peneliti berikutnya, Dina Amalia Susamto memaparkan rancangan penelitian tentang masyarakat Sakai yang di masa pemerintahan Suharto dikenai predikat sebagai “yang tertinggal” dan “yang terasing”. Identifikasi kesakaian yang diberikan oleh rezim ini mempengaruhi wacana tentang masyarkkat Sakai pada lapisan masyarakat yang lebih luas. Pada masa sekarang adanya kelas-kelas menengah baru orang Sakai yang telah mengenyam pendidikan modern berusaha menghancurkan citra kesakaian sebagai yang teringgal dengan merekonstruksi identitas kesakaian yang baru. Kemudian bagaimana artikulasi kesakaian tersebut dalam kehidupan sehari-hari, dan bagaimana masyarakat Sakai menempatkan Indonesia sebagai suatu nation-state.

Peneliti ketiga, Radjimo Sastro Wijono, mempresentasikan draft penelitian tentang masyarakat penganut agama Buda di Nusa Tenggara Barat. Dalam perjalanan waktu dan perubahan rezim kekuasaan, menurut Rajimo, masyarakat Buda menghadapi masalah representasi identitas ketika berhadapan dengan Negara dan agama-agama yang diresmikan oleh Negara. Persoalan yang menjadi perhatian Rajimo adalah kontestasi politik, budaya, dan identitas dalam ruang keagamaan masyarakat di Lombok Barat, termasuk melihat posisi perempuan dalam ruang tersebut.

Tarlen Handayani yang akan berangkat ke Siberut tertarik mempersoalkan strategi adat yang digunakan masyarakat Siberut di tengah pergeseran identitas, representasi otonomi daerah di Kabupaten Mentawai. Penelitian ini menurut Tarlen dilatarbelakangi oleh pergeseran politik dari sentralitas pemerintahan ke era otonomi daerah. Sejak itu pemerintahan di kabupaten Mentawai yang dulu ditunjuk oleh pemerintah pusat biasanya selalu orang dari Minang kini menjadi putra daerah Mentawai sendiri. Akan tetapi pergeseran ini juga satu sisi memberi dampak menguatnya posisi adat. LSM local dan komunitas adat pada saat bersamaan mencari posisi dan berusaha menemukan struktur yang paling menguntungkan bagi mereka sendiri. Rakyat Mentawai hanya dijaikan penonton sehingga kemudian menimbulkan pandangan sinis terhadap retorika politis yang menegaskan adat yang seakan bicara bottom up pada proses desentralisasi tersebut.

Dalam hampir semua diskusi pembahasan desain penelitian, sangat jelas terlihat kekurangan dan kesulitan para peneliti dalam mengembangkan rancangan penelitiannya. Tidak satu pun peneliti yang dari awal sanggup memformulasikan persoalan yang akan diteliti dengan baik karena relatif minimnya bacaan tentang masing-masing wilayah yang akan diteliti dan komunitas yang menjadi subjek penelitiannya. Tapi justru karena itulah workshop ini menjadi sangat penting artinya, karena melalui diskusi terbuka dengan seluruh peserta workshop para peneliti banyak terbantu memahami subjek penelitiannya masing-masing, dan dari sana kemudian berusaha merumuskan pertanyaan penelitian yang lebih tajam.
pujo_semedi

Disela-sela diskusi rancangan proposal para peneliti, Pujo Semedi, antropolog dari Universitas Gadjah Mada memberi materi tentang etnografi. Pujo menjelaskan etnografi dari peristilahan etnos dan grafis yang masing-masing berarti bangsa/masyarakat dan tulisan. Tetapi etnografi bukan berarti sekedar mendeskripsikan seperti yang digunakan oleh antropolog klasik. Etnografi yang mampu berbicara tentang suatu persoalan adalah yang dilandasi oleh suatu pertanyaan yang kemudian akan dijawab dengan menggunakan data empiris.

Etnografi berbeda dengan hard science yang bersuaha untuk menjelaskan. Sebaliknya, etnografi berusaha memahami atau verstehen yang dilandasi empati. Ia tidak berpretensi membuat generalisasi melainkan bekerja pada tataran mikro. Data khas etnografer didapat dengan cara being there atau tinggal di wilayah subjek penelitian. Dengan menggunakan indra tubuhnya sendiri sang etnografer melihat atau mengobservasi dan mencatat hinggai detail apa yang terjadi. Wawancara dengan subjek jarang berlangsung secara formal seperti yang biasa dilakukan oleh para jurnalis melainkan dalam cara yang sangat longgar, sehingga si subjek tidak merasa terintimidasi oleh si peneliti. Etnografer melakukan perbincangan dengan sesama subjek bukan wawancara (formal) antara peneliti dengan objeknya. Untuk melengkapi data hasil observasi dan perbincangan tersebut, para etnografer perlu pula menggali data historis agar narasi yang dihasilkannya bersifat kritis.

Di luar substansi etnografi, Pujo juga membagi beberapa teknik yang dapat digunakan para peneliti baik selama proses mengumpulkan data maupun ketika menulis laporan penelitian. Pujo menyampaikan materi dan pengalamannya sendiri selama puluhan tahun melakukan penelitian-penelitian antropologis, itu dengan cara yang sangat menarik minat peserta. Ia memiliki kemampuan memadukan humor-humor segar dengan paparan-paparan konseptual secara jernih. Metode penyampaian seperti ini terbukti membuat seluruh peserta workshop sangat antusias dengan subjek yang dibicarakan.
dave_lumenta

Pada hari berikutnya, setelah peserta memaparkan kembali hasil perbaikan desain penelitian berdasarkan diskusi sebelumnya, Dave Lumenta membagi pengalamannya ketika melakukan penelitian tentang wilayah perbatasan di Kalimantan. Menurutnya penelitian yang dilakukan oleh etnografer ketika harus menghadapi konteks masyarakat lokal, pengertian "lokal" tidak bisa hanya dipahami hanya dalam kontek spasial dan temporer. Terminologi lokal harus pula dipahami dalam konteks historis. Peroidisasi bisa menjadi penting akan tetapi tidak berarti juga harus terjebak pada hal tersebut. Kalau kita terjebak dalam periodisasi kita akan malas melihat peristiwa dalam rangkaian alur yang lebih panjang.

Dari pengalamannya meneliti di perbatasan Apokayan dan Serawak, memperhatikan sesuatu yang kecil yang terkadang tidak terpikirkan sebelumnya akan sangat membantu melihat persoalan yang lebih luas. Dave mencontohkan bagaimana ia tanpa sengaja membaca sebuah artikel di surat kabar tentang kesenangan masyarakat perbatasan tersebut menggunakan uang ringgit meskipun memang mereka bekerja di Serawak. Tetapi anehnya mereka tidak pernah tertangkap meskipun mereka tidak mempunyai passport atau illegal. Mengapa demikian? Pertanyaan ini yang akhirnya mendorong Dave untuk meneliti kawasan perbatasan. Dan saat Dave harus memahami konteks lokal masyarakat Apokayan, ia tidak hanya meneliti Apokayan saja, melainkan uga melakukan studi tentang wilayah tetangganya yang sudah menjadi wilayah Negara lain, konteks hubungan masyarakat Apokayan sebagai masyarakat di wilayah hulu dan masyarakat yang menduduki wilayah hilir yang kebanyakan kaum pendatang tidak saja selama periode saat itu.

Selain membangun kepekaan dari hal yang remeh temeh Dave juga menekankan kesadaran tentang diri kita sebagai peneliti dengan subjek yang akan diteliti. Menurutnya, sebenarnya yang terjadi dalam hubungan peneliti-masyarakat terdapat aktivitas penelitian bersifat timbal balik. Masyarakat juga melakukan pengamatan terhadap si peneliti. Di sini posisi peneliti harus hati-hati ketika tanpa sadar akan berat pada suatu kelompok tertentu, maka posisi tersebut akan menyulitkan kita dalam mendapatkan data. Dalam penelitian dengan narasumber perempuan peneliti laki-laki akan menghadapi kendala komunikasi yang akhirnya menggagu proses pengumpulan data, karena narasumber perempuan jika berhadapan denngan laki-laki dalam keadaan seorang diri akan sangat tidak nyaman dan bersikap waspada. Ketika akan mencari informasi dari kaum perempuan sebaiknya tidak dilakukan hanya dengan satu orang tetapi bersama perempuan-perempuan lain. Kaum perempuan akan merasa lebih nyaman jika bersama-sama.

Materi-materi tersebut diakui oleh peneliti dan tim film sangat berguna. Akan tetapi menurut mereka sebelum berangkat ke lapangan dibutuhkan sehari lagi untuk bertemu membahas bahan bacaan masing-masing peneliti dan tim Film. Hal ini akan bermanfaat dalam membuat satu kerangka besar pertanyaan yang akan mengarahkan penelitian di lapangan.
workshop_desember2008_5

Di tengah-tengah berlangsungnya workhsop, salah seorang peserta menyampaikan informasi tentang kemungkinan terjadinya tsunami di wilayah pulau Siberut. Setelah dilakukan pencarian data melaui beberapa situs internet, kami tidak bisa menemukan satu pun kepastian tentang hal tersebut. Akan tetapi, tsunami sebagai sebuah peristiwa alam sama sekali tidak bisa diabaikan. Didasarkan pada beberapa informasi yang kami temukan akhirnya diputuskan untuk memindah salah satu lokasi penelitian dari pulau Siberut ke wilayah Nunukan di Kalimantan Timur. Dengan alasan yang sama program pembuatan video dokumenter juga dipindah ke lokasi yang sama.

Selama tiga workshop, para peserta tentu saja tidak hanya diajak berkutat dengan soal-soal rumit tentang metodologi, metode, dan konsep-konsep teoritis. Untuk mengusir kejenuhan selama workshop, para peserta diberi waktu cukup untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang menyegarkan pikiran. Ada yang memilih lari-lari kecil di sekitar lokasi, ada yang menghabiskan waktu untuk melanjutkan diskusi dengan obrolan santai, dan sebagian ada yang memanfaatkannya untuk bermain futsal di halaman lokasi workshop yang memang cukup luas. Maka meskipun secara fisik beberapa peserta terlihat kelelahan, tapi dari mukanya tampak seri kesegaran pikiran. Hasilnya, ketika malam workshop dilanjutkan dengan kembali mendiskusikan soal-soal substantif dan serius, mereka terbukti bisa bertahan diskusi bahkan hingga malam larut.

Pelaksanaan workshop berlangsung sehari lebih cepat dari yang dijadwalkan semula, karena setelah mendapatkan kritik tajam selama sessi-sessi presentasi draft desain penelitian, para peneliti mengaku membutuhkan tambahan waktu dan bahan acuan yang tidak bisa diakses di lokasi pelaksanaan workshop. Dengan alasan itu pula, semua peneliti dan tim pembuat film sepakat untuk melanjutkan pembahasan desain penelitian pada sebuah workshop terbatas di kantor Yayasan Interseksi pada tgl. 30 Desember 2008.

AGENDA


Senin, 15 Desember 2008
  • 13.00-14.00 Pembukaan
  • 14.00-15.00 Presentasi Interseksi tentang Program Penelitian dan Pembuatan Vidio Dokumenter Hak Minoritas
  • 15.00-15.30 adjourn
  • 15.30-18.00 Presentasi dan Pembahasan Draft Design Penelitian
  • 18.00-19.30 Istirahat
  • 19.30-22.00 Materi Etnografi
    Selasa, 16 Desember 2008
  • 09.00-12.00 Presentasi dan Pembahasan Draft Penelitian peneliti (lanjutan)
  • 12.00-13.00 Istirahat
  • 13.00-15.30 Materi Politik Lokal dan Minoritisasi
  • 15.30-18.30 Refreshement Activities
  • 19.00-21.00 Presentasi Perbaikan Draft DesainPenelitian
  • 21.00-23.00 Apresiasi dan Diskusi Film dan Video Dokumenter
    Rabu, 17. Desember 2008
  • 09.00-11.00 Presentasi Program Pembuatan Video Dokumenter
  • 11.00-12.00 Penetapan jadwal kerja dan administrasi peserta
  • 12.00-sd. selesai Makan Siang dan Bersiap Pulang
  • PATICIPANTS

    1 Pius [Inisiatif, Bandung; 081322127301; piuswidi@yahoo.com]
    2 Ruby Kholifah [AMAN INDONESIA; 021 7984164; amanindonesia@yahoo.com]
    3 Tarlen Handayani [0818421941; vitarlenology@gmail.com]
    4 Irine Hiraswari Gayatri [Yayasan Interseksi; 081534877193; hiragayatri@gmail.com]
    5 Dave Lumenta [081382468376; dlumenta@gmail.com]
    6 Dirmawan Hatta [Flix Studio; 081389475191; hatta_of_oz@yahoo.com]
    7 Anggi [081511612622; anggi_cumit@yahoo.com]
    8 Nova [081317618884; nova_pay@yahoo.com]
    9 Rini Kusnadi [IKOHI 08561506714; kusnadirini@gmail.com]
    10 Dina Amalia [Yayasan Interseksi; 081321436271; dina@interseksi.org]
    11 Realino Nurza [AMAN INDONESIA; 085835930974; rnurza@yahoo.com]
    12 Pujo Semedi [Antropologi UGM; 0274 895604; widuri@indosat.net.id]
    13 Erasmus Cahyadi [AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara); 081519839018; erasmus@aman.or.id]
    14 Ana Westy [INISIATIF, Bandung; 085221177469; anawesty@yahoo.com]
    15 Hikmat Budiman [Yayasan Interseksi; 7820444; hikmat@interseksi.org]
    16 Amin Mudzakkir [Yayasan Interseksi; 081385231584; amin.mudzakkir@gmail.com]
    17 Radjimo Sastro Wijono [0817814624; radjimo@hotmail.com]
    18 Risna Tri H [Yayasan Interseksi; 0818841085; risna@interseksi.org]
    19 Hendrawan [Yayasan Interseksi; 08811499938]
    20 M. Nurkhoiron Desantara [081514027018; nuriron@gmail.com]