FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Cerita tentang Unpar, Problem Otoritas, dan Industri Penelitian di Kampung Naga


Oleh Amin Mudzakkir
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat

Peneliti yang berkunjung ke Kampung Naga akan menemukan cerita tentang Unpar. Saya sendiri mendapatkan cerita itu untuk pertama kalinya dari Kepala Desa Neglasari. Neglasari adalah nama desa (administratif) dimana Kampung Naga berlokasi. Kata Kepala Desa, demikian dia bercerita sewaktu saya kulo nuwun ke kantornya yang terletak beberapa langkah kaki saja dari parkir Kampung Naga, peneliti yang mengaku berasal dari Unpar akan ditolak di Kampung Naga. Sayang, Pak Kuwu, demikian Kepala Desa bisa dipanggil, tidak menjelaskan panjang lebar kenapa Unpar ditolak di Kampung Naga. Mungkin ada masalah dengan agama, karena mereka non-Islam, begitu dia menduga, dan barangkali mereka tidak “nyunda”, demikian dia melanjutkan dugaannya. Pak Kuwu mengaku mengetahui informasi mengenai penolakan terhadap Unpar di Kampung Naga itu dari cerita orang. Dia belum pernah mengonfirmasi duduk perkara cerita itu secara langsung kepada sesepuh Kampung Naga. “Saya tidak terlalu paham benar cerita itu. Saya belum bertanya langsung ke Kuncen Kampung Naga...”, kata Pak Kuwu.

Mendengar informasi dari Pak Kuwu, saya jadi bertanya-tanya, ada apa dengan Unpar? Sejauh yang saya tahu, Unpar, kependekan dari Universitas Parahyangan, adalah sebuah kampung terkemuka di Bandung yang reputasinya sangat baik. Sulit membayangkan, apalagi karena alasan agama dan etnisitas, Unpar ditolak di Kampung Naga. Begitu juga dengan Kampung Naga sendiri, sulit membayangkan sesepuh di sana menolak peneliti atau mahasiswa atau siapapun yang mengaku dari Unpar ditolak gara-gara mereka bukan orang Islam dan bukan orang Sunda. Meskipun Unpar adalah universitas Katolik, saya tahu persis kalau dosen dan mahasiswa Unpar sangat beragam. Banyak orang Islam dan orang Sunda yang jadi dosen dan mahasiswa di sana. Jadi, singkatnya, cerita tentang Unpar yang saya dapat dari Pak Kuwu terasa sangat janggal dan alasan dibaliknya, meski baru dugaaan, sangat tidak masuk akal.

[Baca selanjutnya.....]