Laporan Workshop Pelatihan Penelitian HAM 2009
(Dipersiapkan oleh Irine H. G dan Arkhemi Suci Lestari)
Tahun 2009 adalah tahun kedua program Pelatihan Penelitian yang diadakan Interseksi bekerjasama dengan HIVOS, khusus untuk mereka yang menekuni isu-isu hak minoritas dan/atau diversitas cultural. Program ini bukan terutama menekankan pada metode pelatihan klasikal di dalam ruang-ruang kelas, melainkan lebih merupakan apa yang dalam ungkapan lama disebut learning by doing, belajar penelitian dengan cara melakukan penelitian. Pada prinsipnya, kami melihat bahwa orang tidak mungkin belajar penelitian hanya dengan menerima materi atau teori-teori di dalam kelas seperti bentuk-bentuk perkuliahan di universitas. Penelitian bukan materi yang harus dihafal diluar kepala, melainkan aktivitas yang hanya mungkin disempurnakan melalui praktek terus-menerus. Tapi itu tidak berarti para peserta pelatihan langsung berangkat ke lapangan tanpa pembekalan materi pemahan tentang penelitian sosial yang memadai. Untuk keperluan itulah kami melaksanakan Workshop persiapan penelitian tgl. 7-9 September 2009 yang lalu.

Dalam pembukaan workshop pimpinan Interseksi menjelaskan latar belakang mengapa NTERSEKSI melakukan kegiatan pelatihan penelitian, dan membuka kesempatan bagi peneliti muda se Nusantara (walaupun baru bisa dilakukan untuk wilayah Jabodetabek). Melalui kegiatan ini INTERSEKSI mencoba untuk “membongkar” anggapan seolah-olah penelitian hanya bisa dilakukan oleh kalangan intelektual kampus ataupun yang bekerja sebagai peneliti seperti LIPI. Sebab pada dasarnya penelitian adalah aktivitas yang bisa dilakukan oleh semua orang.

Penelitian juga dipandang sebagai hal yang penting, terutama jika isu yang diteliti sangat membantu pada proses advokasi. Persoalannya adalah, hasil penelitian seperti apa? Ada kecenderungan bahwa aktivis NGO menggunkan bahasa yang hiperbolis atau mempuyai kelemahan dalam argumentasi untuk mengadvokasi isu. Penelitian akan membantu aktivis untuk sedikit berjarak dengan isu yang diteliti, dan lebih reflektif.

Organisasi workshop terbagi ke dalam dua aktivitas utama: Pertama, pembekalan materi tentang penelitian sosial dan logika penulisan sosial oleh Dr. Pujo Semedi, dan diskusi tentang materi Hak Asasi Manusia oleh Bhatara Ibn Reza dari Imparsial; Kedua, pembahasan draft rancangan penelitian yang disusun oleh masing-masing peserta terpilih.
Pujo Semedi memberi tekanan akan pentingnya pengamatan (observasi) dalam sebuah proses penelitian dengan metode kualitatif. Dalam banyak kasus, pengamatan ini bahkan kadang lebih penting daripada wawancara formal berbekal panduan wawancara. Sebab jika seorang peneliti berhasil menempatkan dirinya dalam konteks kehidupan masyarakat tempatan, seringkali orang akan memberikan informasi yang dibutuhkan bahkan tanpa harus ditanya. Aktivitasnya lebih merupakan obrolan informal daripada sebuah wawancara formal. Pujo Semedi sendiri membagikan pengalaman penelitiannya di wilayah perkebunan teh di Jolotigo, Jawa Tengah. Ia menceritakan dengan lugas bahwa peneliti berbeda dengan para pendongeng, sebab peneliti mempunyai kewajiban untuk menceritakan kembali hal pertemuan dengan subyek dan isu yang ditelitinya sesuai dengan fakta yang ada. Pujo menjelaskan bahwa siapapun bisa menulis, namun sebuah tulisan yang baik akan dimulai dengan:
Pertama, dongeng kita ini (bahasa Pujo Semedi untuk penelitian) dibuat untuk menjawab pertanyaan tertentu. Kedua, sudah pasti, sebelum merumuskan pertanyaan penelitian, peneliti wajib membaca literatur yang relevan. Tanpa itu, rumusan pertanyaan penelitian hanya akan mengandalkan common sense belaka. Pujo Semedi memberikan contoh melalui tulisan sepanjang 1500-an kata yang “disarikan” dari riset dia mengenai perkebunan teh Jolotigo. Dengan judul “struggle for Dignity” , yang menceritakan strategi perempuan pemetik teh perkebunan Jolotigo untuk mempertahankan harga dirinya. Pujo memulai penelitiannya dengan pertanyaan mengapa perempuan buruh perkebunan teh senang berdandan padahal mereka menghabiskan waktunya sejak pagi buta hingga sore hari di perkebunan. Pertanyaan ini dipandu oleh serangkaian hasil pembacaannya terhadap kondisi gender dalam proses produksi di perkebunan teh itu, selain dari pengamatannya terhadap perilaku sehari hari atau relasi antara para peghuni perkebunan.
Kedua, data sangat penting dalam penelitian tak lain disebabkan oleh kedudukannya sebagai informasi faktual yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan. Dalam penelitian digunakan informasi faktual yaitu informasi yang benar, dan secara ontologis benar pernah terjadi.
Ketiga, penelitian dilakukan berdasarkan logika tertentu. Logika inilah yang sejak awal “dipandu”oleh pertanyaan penelitian. Pujo Semedi menekankan bahwa untuk menulis, bukan teori apa yang akan dipakai yang harus dibingungkan, melainkan pertanyaan penelitian yang harus tajam.
Batara Ibnu Reza dari Imparsial, Jakarta, mengulas aspek-aspek yang mendukung eksplorasi mengenai HAM dan sekaligus memberikan masukan pada masing-masing peserta yang sebagian telah mempresentasikan makalahnya setelah sesi pembicara pertama. Masukan Batara sangat penting, dan peserta mengikuti diskusi dengan antusias sebab tidak terbayangkan oleh mereka bahwa cakupan isu mengenai HAM saling terkait satu dengan lainnya, dengan peran negara menjadi sentral ketika ada persoalan ketimpangan pengaturan dan distribusi hak-hak ini.
Pada Sessi presentasi draft rancangan penelitian, semua peserta mendapat kritik tajam dari sesama peserta workshop. Pada Sessi inilah semua kesalahan umum yang terjadi pada para peneliti pemula dibahas satu persatu, dengan langsung merujuk pada draft rancangan masing-masing peneliti. Diksusi yang intensif baik antara peserta dengan tim fasilitator Interseksi maupun antar sesama peserta menyebabkan acara berlangsung sampai larut malam menjelang sahur puasa. Setelah Sessi presentasi pertama, seluruh peserta pelatihan diberi waktu untuk memperbaiki draft rancangan penelitiannya berdasarkan masukan dan kritik yang telah mereka terima, dan kemudian diwajibkan melakukan presentasi kembali pada keesokan harinya.
Setelah tahapan workshop ini, peserta pelatihan mempunyai waktu dua minggu mulai 10 September hingga 24 September 2009 untuk merapikan proposal penelitian yang akan digunakan sebagai acuan penelitian lapangan selama sebulan.
Peserta Terpilih Pelatihan Penelitian 2009
Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pelamar, dan mohon maaf karena kami belum bisa menampung seluruh peminat dalam program tahun ini.
Selanjutnya, mereka yang terpilih ini wajib mengikuti seluruh rangkaian kegiatan program pelatihan penelitian dari awal sampai akhir (mulai dari workshop persiapan, praktek penelitian lapangan, penulisan laporan, workshop penulisan laporan, perbaikan laporan dan tahap editing laporan). Di bawah ini adalah nama-nama peneliti yang terpilih berikut usulan topik penelitian masing-masing:
| No. | Nama | Jenis Kelamin | Topik Peneltian | Asal Lembaga |
|---|---|---|---|---|
| 1. | Kristina Viri | Perempuan | Peran Serta Perempuan Pati dalam Upaya Pelestarian kawasan Pegunungan Kendeng dari Ancaman PR Semen Gresik | Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Jakarta | 2. | Dina Puspita Hapsari Savaluna | Perempuan | Aksesibilitas Ekonomi untuk Memperoleh Pelayanan Kesehatan Dasar bagi Orang dengan HIV/AIDS di Indonesia | ELSAM, Jakarta | 3. | Asep Deden | Laki-laki | Kesempatan Mendapatkan Pendidikan yang Layak bagi Anak Jalanan di Kota Tasikmalaya | LK-HAM, Tasik Malaya | 4. | Maskur Hasan | Laki-laki | Menelaah Akses Kesehatan bagi Warga Kampung Sawah | AMAN Indonesia, Jakarta | 5. | Baron Harahap Shaleh | Laki-laki | Tanggung Jawab Pemerintah Daerah Bombana terhadap Akses Pertambangan bagi Warga Masyarakat dan Perlindungan Hukum bagi Warga Petambang Tradisional di Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara | LBH Kendari | 6. | Hendri Isnaeni | Laki-laki | Prinsip-prinsip Adat Masyarakat Baduy dalam Memilih Golput | PSIK Paramadina, Jakarta | 7. | Gamma Triono | Laki-laki | Bekerja sebagai Pekerja Seks adalah Hak Asasi Manusia: Pengakuan dan Perlindungan Hak Perempuan Pekerja Seks dalam Menentukan Otonomi Tubuhnya | PKBI, Jogjakarta | 8. | Ester Wagania | Perempuan | Peran Pemerintah dalam Manajemen Konflik di Indonesia | Institut Titian Perdamaian |
Perubahan Jadwal Pelatihan Penelitian

Pelatihan Penelitian HAM Angkatan II/2009
Setelah berhasil menyelenggarakan program Pelatihan Penelitian Angkatan Pertama tahun 2008 yang lalu, Yayasan Interseksi, bekerjasama dengan Hivos, kembali akan menyelenggarakan program Pelatihan Penelitian Aktivis HAM tahun 2009. Program ini ditujukan bagi para peneliti/aktivis muda yang menekuni isu-isu hak asasi manusia dan persoalan-persoalan diversitas kultural dalam relasinya dengan bangunan sosial tentang kebangsaan Indonesia. Kami mengundang para aktivis/peneliti muda HAM yang berdomisili di wilayah Jabodetabek untuk mengikut program pelatihan ini. Peserta yang lolos seleksi penerimaan akan mendapatkan seluruh paket pelatihan secara cuma-cuma, dan subsidi sebagian dana praktek penelitian lapangan.
Berikut adalah testimoni beberapa peserta pelatihan Angkatan Pertama:
Dulu penelitian adalah suatu hal yang tampak sulit bagi saya. Penelitian juga terkesan rumit dan hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang memang mampu. Suatu hari, tiba-tiba ada sebuah undangan dari Interseksi untuk mengikuti pelatihan penelitian bagi pemula. Singkat cerita akhirnya saya menjadi salah satu peserta yang lolos untuk ikut pelatihan ini. Betapa senangnya hatiku saat itu..hehehehe
Pelatihan ini berbeda sekali dengan pelatihan yang diadakan oleh lembaga-lembaga lainnya: tidak terlalu serius, kalau pegal-pegal kelamaan duduk silahkan angkat kaki di atas kursi, merokok berbatang-batang, boleh pake celana pendek, boleh pake sandal biasa, fun dan para tutornya sangat membantu kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta selama proses penelitian. Dan yang paling penting sang peneliti dipersilahkan menulis sesuai dengan karakternya masing-masing.
So, buat teman-teman yang lain ayo ikut ramai-ramai daftar di pelatihan ini. Dijamin BEDA
Membuat penelitian kukira sama dengan membuat skripsi. Dimana harus ada banyak teori yang disertakan. Maka tak heran kalau proposal penelitian pertamaku menghabiskan hampir seratus halaman. Setidaknya begitu yang kualami sebelum aku mengikuti workshop penulisan penelitian yang diadakan Interseksi setahun lalu. Menjadi sangat surprise, ketika di workshop itu semua teori-teori yang sudah kutulis dipangkas habis (aku masih suka malu kalau mengingat kejadian itu), tetapi bukannya menghilangkan makna malah kemudian semakin memperjelas arah yang ingin kusampaikan. Aku belajar banyak di dalamnya terutama belajar menulis sambil mengendalikan emosi karena kami juga selalu diingatkan untuk menulis tidak dengan cara “marah-marah”.
Berbekal pengetahuan yang diperoleh dari workshop itu, aku mulai terjun kelapangan untuk mengumpulkan sejumlah data dan membuat laporannya. Setelah kutulis kasus itu menjadi jelas. Selama ini pengalaman advokasi yang kulakukan memang belum pernah didokumentasikan secara apik. Biasanya aku hanya menuliskan point-pointnya saja yang menurutku penting. Aku lupa bahwa setiap kata dan setiap peristiwa dalam sebuah kasus jika ditulis dan dianalisa bisa menjadi alat bantu dalam melakukan advokasi karena dari hasil analisa itu memudahkan kita menentukan strategi berikutnya.
Pengalaman melakukan penelitian bersama Interseksi, tidak saja membuat aku secara pribadi menjadi mengerti bagaimana cara membuat penelitian tetapi juga memberi semangat baru bagi kawan-kawanku untuk melakukan penelitian terhadap kasus-kasus yang kami tangani untuk kemudian didokumentasikan. Meski masih dalam proses belajar tetapi langkah ini memperkaya referensi kami sehingga tidak terjebak hanya dalam aktivisme belaka tanpa alat bukti.
Akhirnya, kepada kawan-kawan ayo ikuti penelitian ini, akan ada banyak pengetahuan dan pengalaman baru didalamnya, terutama buat kawan-kawan dari Sumatera.
Saya merasakan peningkatan kemampuan dalam penentuan fokus riset. Selama ini saya selalu kesulitan dalam menentukan fokus karena saya menganggap semua hal penting dan semua hal harus dijawab. Yang saya tahu, hal itu memang benar, namun ketika saya mengikuti pelatihan penelitian Interseksi, saya mendapat satu hal penting bahwa untuk menjawab semua hal, kita harus belajar satu hal secara maksimal dan tuntas. Awalnya memang sulit karena kebiasaan saya sebelumnya masih belum hilang benar. Namun saya memperoleh pengetahuan juga dari pengalaman temen-temen peserta yang lain, sehingga ada share pengalaman dan dari sana bisa belajar satu sama lain.
Bagi saya, penelitian dan mengkaji tidak hanya melakukan konfirmasi seluruh informasi yang kita miliki di lapangan, melainkan juga adalah menunjukkan analisis baru yang bisa memperkaya wacana ilmu pengetahuan. Dengan diselenggarakannya Pelatihan Penelitian HAM, dan kebetulan saya termasuk yang lolos seleksi panitia, saya mendapatkan kesempatan untuk terus mengasah dan menguji kemampuan saya khususnya yang terkait dengan isu HAM. Pada saat itulah saya memiliki kesempatan yang cukup memadai untuk mempelajari tentang HAM lebih dalam, bagaimana konsep HAM mulai muncul dan bagaimana kaitannya dengan isu gerakan petani yang saya minati.
Pelatihan ini sangat efektif bagi saya, karena kemudian saya juga mendapatkan pengetahuan yang lebih luas tentang persoalan-persoalan HAM, hal ini dikarenakan peserta yang memiliki interest yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut kemudian membuat isu HAM yang menjadi fokus pelatihan ini menjadi sangat luas dipaparkan, sehingga setidaknya bagi saya, pelatihan ini telah memberikan gambaran menyeluruh tentang HAM itu sendiri.
Selebihnya, program ini cukup 'menyenangkan' sebagai sebuah program akademik, yang diselenggarakan dengan cara yang relax dan prosesnya secara tidak disadari telah mendorong seluruh pesertanya untuk selalu peka dan tangkas mencari bahan-bahan maupun wacana-wacana baru khususnya tentang HAM dan isu yang diminatinya. Dengan proses seperti ini, setidaknya akan memberikan peluang bagi siapa saja yang ingin menjadi peserta, baik mereka yang sangat minim pengetahuannya tentang HAM maupun yang sudah 'tumpah isi kepalanya' dengan isu HAM.... Sukses buat Yayasan Interseksi.
Bagi para pelaku advokasi/peneliti muda yang bekerja pada isu-isu HAM, pelatihan ini akan banyak membantu Anda mempertajam pemahaman konseptual dan kemampuan analisa sosial yang didasarkan pada teknik pengumpulan data yang dapat dipertanggungjawabkan, dan disajikan dalam bentuk tulisan yang mudah dipahami oleh pembaca. Tahun 2009 ini Yayasan Interseksi kembali membuka program pelatihan untuk Angkatan Kedua. Jumlah peserta dibatasi hanya untuk 5 (lima) orang peserta. Pendaftaran peserta akan ditutup tgl. 30 Juli 2009. Silakan dibaca informasinya↳
Laporan Workshop Penulisan Laporan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural

[Baca selanjutnya...]
Workshop Penulisan Laporan

Program Pelatihan Penelitian mengenai isu-isu Hak Asasi Manusia dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi dan Hivos, yang diiikuti oleh enam orang peneliti dari dari wilayah Jakarta, Bandung, dan Medan sudah harus berakhir bulan Oktober 2008 ini. Sejauh ini seluruh tahapan kegiatan telah berlangsung baik, dan semua peserta pelatihan sudah menulisakan pengalamannya masing-masing selama melakukan praktek penelitian dalam Jurnal Personal yang terbit di situs ini sejak akhir Agustus 2008 lalu. Banyak cerita menarik yang bisa dibaca dari catatan pengalaman para peneliti tersebut, yang justru sangat jelas memperlihatkan bagaimana dinamik proses sebuah penelitian sosial berlangsung. Dari catatan-catatan itu pula kita bisa melihat bagaimana para peneliti berusaha keras mengatasi keterbatasan dan tantangan, ketika kenyataan yang dihadapi di lapangan tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang semula dibayangkan ketika mempersiapkan penelitian.
Selama libur puasa dan lebaran yang lalu, semua peneliti mungkin menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menulis draft laporan penelitian masing-masing. Untuk memperbaiki kualitas laporan itulah Workshop tanggal 13-15 Oktober diadakan. Kali ini, workshop akan dilaksanakan di Studio Kendil, Jl. Perumahan Ciluar Asri No.17, Ciluar Bogor.
Seperti aktivitas-aktivitas sejenis yang pernah dilakukan Interseksi selama ini, workshop penulisan sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengajari pesertanya menulis laporan, tapi justru untuk saling berbagi. Semua peserta akan diberi waktu untuk melakukan presentasi, dan secara bersama-sama mendiskusikan temuan-temuan lapangannya. Melalui metode semacam ini diharapkan agar peserta bisa belajar antara satu dengan yang lainnya. Aspek-aspek yang akan dibahas merentang panjang dari mulai substansi temuan lapangan, teknis penulisan, pilihan diksi sampai standar penulisan yang biasa dipakai dalam beberapa tradisi akademik. Secara keseluruhan, workshop ini diarahkan untuk :
Nomor kontak Interseksi selama berlangsung workshop: 0818841085 (Risna), dan 08132143622 (Dina).
Workshop Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural
WORKSHOP

Dalam rentang waktu mulai tgl. 12 Agustus sampai 7 September 2008, para peserta terpilih Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Interseksi-Hivos akan melaksanakan praktek penelitian lapangan di wilayah penelitiannya masing-masing. Sebelum mereka diterjunkan ke lapangan, seluruh peserta akan mengikuti workshop persiapan penelitian sejak tanggal 7-9 Agustus 2008 di Wisma Aryanti, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Melalui workshop ini, selain pembekalan metodis dan kerangka konseptual tentang isu-isu HAM dan diversitas kultural, seluruh peserta akan diajak untuk secara kooperatif memperbaiki draft rancangan penelitian yang telah dibuatnya.
Kepada masing-masing peserta akan diberi waktu khusus untuk mempresentasikan rancangan penelitiannya masing-masing, dan kemudian mendiskusikan dan membahasnya secara kritis dengan bantuan para fasilitator, pemberi materi, dan para peserta workshop lainnya. Dengan cara ini diharapkan agar draft yang mereka buat bisa dikembangkan menjadi sebuah desain penelitian yang bisa langsung dipakai dalam praktek penelitian lapangan. Karena itu, bukan tidak mungkin kalau draft-draft tersebut harus mengalami perombakan secara besar-besaran tergantung pada hasil pembahasan bersama dalam workshop.
Informasi lebih lengkap tentang Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural silakan browsing di halaman ini.
AGENDA WORKSHOP
Kamis, 7 Agustus 200810.00 Berangkat dari Kantor Interseksi
12.00 – 13.30 Check In dan Makan siang
13.30 – 15.00 Pembukaan dan Perkenalan Peserta (Orientasi Peserta)
15.30 – 16.00 Coffe break
16.00 – 18.00 Brainstorming: Problem HAM di Indonesia (Bhatara Ibnu Reza)
18.00 – 19.30 Istirahat & Makan malam
19.30 – Lanjutan (Problem HAM dan Diversitas Kultural di Indonesia)
Jum’at, 8 Agustus 2008 08.00 – 09.00 Sarapan pagi
09.00 – 12.30 Presentasi dan Pembahasan 6 (enam) Desain Riset Peserta
12.30 – 13.30 Istirahat & Makan siang
14.00 – 18.00 Lanjutan Presentasi Peserta
18.00 – 19.30 Istirahat & Makan malam
19.30 – 22.00 Diskusi Etnografi (Hikmat Budiman)
22.00- Istirahat
Sabtu, 9 Agustus 2008 08.00 – 09.00 Sarapan Pagi
09.00 – 12.30 Materi: Sejarah Sosial
12.30 – 13.30 Makan Siang
14.00 – 16.00 Diskusi Materi Sejarah Sosial
16.00 – Kembali Ke Jakarta
INFORMASI LAIN
Karena workshop ini akan melibatkan proses perbaikan dan pengembangan desain penelitian, semua peserta workshop diharapkan membawa komputer laptop sendiri. Semua biaya untuk kebutuhan workshop (akomodasi, transportasi dan konsumsi) akan ditanggung oleh panitia penyelenggara. Akan tetapi, panitia tidak akan mengganti biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang personal sifatnya.ALAMAT KANTOR INTERSEKSI
YAYASAN INTERSEKSI-JAKARTA
Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 39
RT 003/RW 01, Kelurahan Lenteng Agung
Jakarta Selatan 12610
Telp. 021-7820444
Cara termudah untuk sampai di kantor Interseksi adalah dengan naik kereta api jurusan Jakarta-Bogor, kemudian turun di statsiun Tanjung Barat. Kantor Interseksi terletak persis di seberang jalan statsiun kreta api Tanjung Barat ke arah Pasar Minggu.
ALAMAT WISMA ARYANTI
Jl. Dewi Sartika, Kp. Cipari-Cisarua
Telp:0251-8255902
Dari Arah Bandung berhenti sebelum Taman Safari, dan masuk sebuah jalan kecil di sebelah kanan. Beberapa papan penunjuk jalan akan cukup membantu Anda menemukan lokasi Wisma ini yang lebih kurang berjarak 1,5 km dari jalan raya Cisarua.
Peserta Terpilih Pelatihan Penelitian HAM
| No. | Nama | Jenis Kelamin | Topik Peneltian | Asal Lembaga |
|---|---|---|---|---|
| 1. | Rini Kusnadi | Perempuan | Kajian Atas Pemenuhan Hak Reparasi bagi korban HAM Berat di Indonesia, studi kasus di Jakarta | Ikatan Keluarga Orang Hilang, Jakarta | 2. | M. Subhi | Laki-laki | Kekerasan terhadap Minoritas Agama di Indonesia: Membaca Perselingkuhan Agama dan Negara | The Wahid Institute, Jakarta | 3. | Romiana Manurung | Perempuan | Perjuangan Hak-Hak Perumahan Rakyat Miskin Kota, studi kasus pada organisasi rakyat KWRS Amplas, Medan-SUMUT | Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran, Medan | 4. | Ana Westy | Perempuan | Prakarsa Pemerintah Daerah Dalam pemenuhan Hak Warga , Studi tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Daerah di Kabupaten Sinjai | Perkumpulan INISIATIF, Bandung | 5. | Ingwuri Handayani | Laki-laki | Diskriminasi Kelompok Minoritas Kristiani Jatimulya Tambun | Desantara, Institute for Cultural Studies, Depok, Jawa Barat | 6. | Hilma Safitri | Perempuan | Gerakan Petani dan Agenda Neoliberalisme, studi kasus gerakan petani kabupaten Batang, Jawa Tengah | Konsorsium Pembaharuan Agraria, Bandung |
Pelatihan Penelitian Aktivis HAM

Yayasan Interseksi, bekerjasama dengan Hivos, akan menyelenggarakan program Pelatihan Penelitian Aktivis HAM tahun 2008. Program ini ditujukan bagi para peneliti/aktivis muda yang menekuni isu-isu hak asasi manusia dan persoalan-persoalan diversitas kultural dalam relasinya dengan bangunan sosial tentang kebangsaan Indonesia. Untuk tahap pertama, pelatihan akan diadakan bagi peserta yang berdomisili di wilayah Jabotadebek dan kota Medan, Sumatra Utara.
Pelatihan ditempuh dalam tiga metode yang saling terkait.
Pertama, pelatihan di dalam kelas dalam bentuk workshop persiapan penelitian. Selama workshop semua peserta pelatihan akan diberi pembekalan metodis, sejarah sosial, dan filosofis tentang isu-isu HAM dan diversitas kultural. Di samping itu, selama workshop peserta juga akan dibantu menyempurnakan rancangan penelitiannya masing-masing.
Kedua, pelatihan di luar kelas dalam bentuk praktek penelitian lapangan. Setelah mengikuti workshop persiapan penelitian, seluruh peserta diwajibkan melakukan praktek penelitian lapangan di wilayahnya masing-masing.
Ketiga, pelatihan penulisan laporan. Setelah melakukan penelitian lapangan, seluruh peserta wajib mengikuti sebuah workshop penulisan laporan penelitian. Workshop ini bertujuan untuk menyempurnakan draft laporan penelitian yang sudah ditulis oleh masing-masing peserta agar memenuhi standar penulisan ilmiah sekaligus mudah dipahami oleh pembaca pada umumnya.
Untuk informasi yang lebih lengkap silakan dilihat dalam ToR Pelatihan Penelitian Aktivis HAM.