FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Laporan Workshop Pelatihan Penelitian HAM 2009

Cisarua, 7-9 September 2009

(Dipersiapkan oleh Irine H. G dan Arkhemi Suci Lestari)


Tahun 2009 adalah tahun kedua program Pelatihan Penelitian yang diadakan Interseksi bekerjasama dengan HIVOS, khusus untuk mereka yang menekuni isu-isu hak minoritas dan/atau diversitas cultural. Program ini bukan terutama menekankan pada metode pelatihan klasikal di dalam ruang-ruang kelas, melainkan lebih merupakan apa yang dalam ungkapan lama disebut learning by doing, belajar penelitian dengan cara melakukan penelitian. Pada prinsipnya, kami melihat bahwa orang tidak mungkin belajar penelitian hanya dengan menerima materi atau teori-teori di dalam kelas seperti bentuk-bentuk perkuliahan di universitas. Penelitian bukan materi yang harus dihafal diluar kepala, melainkan aktivitas yang hanya mungkin disempurnakan melalui praktek terus-menerus. Tapi itu tidak berarti para peserta pelatihan langsung berangkat ke lapangan tanpa pembekalan materi pemahan tentang penelitian sosial yang memadai. Untuk keperluan itulah kami melaksanakan Workshop persiapan penelitian tgl. 7-9 September 2009 yang lalu.

pelatihan_2009
Workshop diadakan di Wisma Aryanti, kawasan Cisarua, Puncak, kabupaten Bogor, diikuti oleh 9 (sembilan) peneliti muda dari Jabodetabek, Yogyakarta dan Sulwesi Tenggara, 2 (dua) narasumber dari Yogyakarta, yaitu Dr Pujo Semedi dari Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada dan Batara Ibnu Reza, S.H., LLM dari IMPARSIAL Jakarta, serta 6 peserta dari Interseksi dan Akatiga. Dua peserta terjauh yag mengikuti pelatihan penelitian kali ini datang dari Kendari dan Yogyakarta. Workshop ini khusus ditujukan untuk membahas, memperbaiki, dan meningkatkan kualitas rancangan penelitian yang telah diajukan oleh beberapa peserta pelatihan yang sudah terpilih.

Dalam pembukaan workshop pimpinan Interseksi menjelaskan latar belakang mengapa NTERSEKSI melakukan kegiatan pelatihan penelitian, dan membuka kesempatan bagi peneliti muda se Nusantara (walaupun baru bisa dilakukan untuk wilayah Jabodetabek). Melalui kegiatan ini INTERSEKSI mencoba untuk “membongkar” anggapan seolah-olah penelitian hanya bisa dilakukan oleh kalangan intelektual kampus ataupun yang bekerja sebagai peneliti seperti LIPI. Sebab pada dasarnya penelitian adalah aktivitas yang bisa dilakukan oleh semua orang.
pelatihan_2009_3
Di samping itu, gagasan pelatihan ini juga dipicu oleh kenyataan bahwa di lingkungan organisasi masyarakat sipil, misalnya, banyak sekali orang yang berminat melakukan riset, tapi kualitasnya hasilnya masih banyak yang belum memenuhi standar penelitian yang baik. Di lain pihak, upaya advokasi isu-isu penting berbasiskan HAM dan demokrasi banyak yang tidak didukung oleh analisa dan data yang akurat. Dalam konteks ini, Interseksi melihat bahwa banyak lembaga mempunyai dukungan dana yang besar tetapi tidak mempunyai dukungan data yang kuat.

Penelitian juga dipandang sebagai hal yang penting, terutama jika isu yang diteliti sangat membantu pada proses advokasi. Persoalannya adalah, hasil penelitian seperti apa? Ada kecenderungan bahwa aktivis NGO menggunkan bahasa yang hiperbolis atau mempuyai kelemahan dalam argumentasi untuk mengadvokasi isu. Penelitian akan membantu aktivis untuk sedikit berjarak dengan isu yang diteliti, dan lebih reflektif.

pelatihan_2009_4
Kebetulan Interseksi memiliki sedikit pengalaman melakukan beberapa penelitian dengan hasil yang mendapat apresiasi cukup baik dari berbagai kalangan. Pengalaman itulah yang ingin dibagi kepada para peserta pelatihan ini. Untuk kepentingan berbagi pengalaman dan pengetahuan itulah, dalam Workshop ini Interseksi juga menghadirkan beberapa peneliti yang pernah terlibat dalam beberapa penelitian bersama, baik dalam penelitian tentang isu-isu Hak Minoritas dan Multikulturalisme maupun peserta pelatihan penelitian angkatan sebelumnya (tahun 2008).

Organisasi workshop terbagi ke dalam dua aktivitas utama: Pertama, pembekalan materi tentang penelitian sosial dan logika penulisan sosial oleh Dr. Pujo Semedi, dan diskusi tentang materi Hak Asasi Manusia oleh Bhatara Ibn Reza dari Imparsial; Kedua, pembahasan draft rancangan penelitian yang disusun oleh masing-masing peserta terpilih.

Pujo Semedi memberi tekanan akan pentingnya pengamatan (observasi) dalam sebuah proses penelitian dengan metode kualitatif. Dalam banyak kasus, pengamatan ini bahkan kadang lebih penting daripada wawancara formal berbekal panduan wawancara. Sebab jika seorang peneliti berhasil menempatkan dirinya dalam konteks kehidupan masyarakat tempatan, seringkali orang akan memberikan informasi yang dibutuhkan bahkan tanpa harus ditanya. Aktivitasnya lebih merupakan obrolan informal daripada sebuah wawancara formal. Pujo Semedi sendiri membagikan pengalaman penelitiannya di wilayah perkebunan teh di Jolotigo, Jawa Tengah. Ia menceritakan dengan lugas bahwa peneliti berbeda dengan para pendongeng, sebab peneliti mempunyai kewajiban untuk menceritakan kembali hal pertemuan dengan subyek dan isu yang ditelitinya sesuai dengan fakta yang ada. Pujo menjelaskan bahwa siapapun bisa menulis, namun sebuah tulisan yang baik akan dimulai dengan:

Pertama, dongeng kita ini (bahasa Pujo Semedi untuk penelitian) dibuat untuk menjawab pertanyaan tertentu. Kedua, sudah pasti, sebelum merumuskan pertanyaan penelitian, peneliti wajib membaca literatur yang relevan. Tanpa itu, rumusan pertanyaan penelitian hanya akan mengandalkan common sense belaka. Pujo Semedi memberikan contoh melalui tulisan sepanjang 1500-an kata yang “disarikan” dari riset dia mengenai perkebunan teh Jolotigo. Dengan judul “struggle for Dignity” , yang menceritakan strategi perempuan pemetik teh perkebunan Jolotigo untuk mempertahankan harga dirinya. Pujo memulai penelitiannya dengan pertanyaan mengapa perempuan buruh perkebunan teh senang berdandan padahal mereka menghabiskan waktunya sejak pagi buta hingga sore hari di perkebunan. Pertanyaan ini dipandu oleh serangkaian hasil pembacaannya terhadap kondisi gender dalam proses produksi di perkebunan teh itu, selain dari pengamatannya terhadap perilaku sehari hari atau relasi antara para peghuni perkebunan.

Kedua, data sangat penting dalam penelitian tak lain disebabkan oleh kedudukannya sebagai informasi faktual yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan. Dalam penelitian digunakan informasi faktual yaitu informasi yang benar, dan secara ontologis benar pernah terjadi.

Ketiga, penelitian dilakukan berdasarkan logika tertentu. Logika inilah yang sejak awal “dipandu”oleh pertanyaan penelitian. Pujo Semedi menekankan bahwa untuk menulis, bukan teori apa yang akan dipakai yang harus dibingungkan, melainkan pertanyaan penelitian yang harus tajam.

Batara Ibnu Reza dari Imparsial, Jakarta, mengulas aspek-aspek yang mendukung eksplorasi mengenai HAM dan sekaligus memberikan masukan pada masing-masing peserta yang sebagian telah mempresentasikan makalahnya setelah sesi pembicara pertama. Masukan Batara sangat penting, dan peserta mengikuti diskusi dengan antusias sebab tidak terbayangkan oleh mereka bahwa cakupan isu mengenai HAM saling terkait satu dengan lainnya, dengan peran negara menjadi sentral ketika ada persoalan ketimpangan pengaturan dan distribusi hak-hak ini.

Pada Sessi presentasi draft rancangan penelitian, semua peserta mendapat kritik tajam dari sesama peserta workshop. Pada Sessi inilah semua kesalahan umum yang terjadi pada para peneliti pemula dibahas satu persatu, dengan langsung merujuk pada draft rancangan masing-masing peneliti. Diksusi yang intensif baik antara peserta dengan tim fasilitator Interseksi maupun antar sesama peserta menyebabkan acara berlangsung sampai larut malam menjelang sahur puasa. Setelah Sessi presentasi pertama, seluruh peserta pelatihan diberi waktu untuk memperbaiki draft rancangan penelitiannya berdasarkan masukan dan kritik yang telah mereka terima, dan kemudian diwajibkan melakukan presentasi kembali pada keesokan harinya.

Setelah tahapan workshop ini, peserta pelatihan mempunyai waktu dua minggu mulai 10 September hingga 24 September 2009 untuk merapikan proposal penelitian yang akan digunakan sebagai acuan penelitian lapangan selama sebulan.

Peserta Terpilih Pelatihan Penelitian 2009

Sampai batas akhir pengiriman lamaran tgl. 30 Agustus 2009 yang lalu, kami telah menerima sejumlah lamaran dari beberapa peneliti untuk menjadi peserta dalam program Pelatihan Penelitian yang diselenggarakan oleh Yayasan Interseksi bekerjasama dengan HIVOS. Berdasarkan pada kualitas draft rancangan penelitian dan feasibilitasnya, kami memutuskan nama-nama yang tercantum di bawah ini sebagai peserta terpilih yang berhak mengikuti program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural tahun 2009 ini. Di luar peserta yang berasal dari wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat, kami juga memutuskan untuk menerima beberapa peserta dari wilayah lain. Ada dua pertimbangan untuk keputusan ini: Pertama, kualitas draft rancangan penelitiannya cukup baik, dan; kedua, yang bersangkutan bersedia menanggung sendiri seluruh biaya program ini.

Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pelamar, dan mohon maaf karena kami belum bisa menampung seluruh peminat dalam program tahun ini.

Selanjutnya, mereka yang terpilih ini wajib mengikuti seluruh rangkaian kegiatan program pelatihan penelitian dari awal sampai akhir (mulai dari workshop persiapan, praktek penelitian lapangan, penulisan laporan, workshop penulisan laporan, perbaikan laporan dan tahap editing laporan). Di bawah ini adalah nama-nama peneliti yang terpilih berikut usulan topik penelitian masing-masing:


No. Nama Jenis Kelamin Topik Peneltian Asal Lembaga
1. Kristina Viri Perempuan Peran Serta Perempuan Pati dalam Upaya Pelestarian kawasan Pegunungan Kendeng dari Ancaman PR Semen Gresik Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Jakarta
2. Dina Puspita Hapsari Savaluna Perempuan Aksesibilitas Ekonomi untuk Memperoleh Pelayanan Kesehatan Dasar bagi Orang dengan HIV/AIDS di Indonesia ELSAM, Jakarta
3. Asep Deden Laki-laki Kesempatan Mendapatkan Pendidikan yang Layak bagi Anak Jalanan di Kota Tasikmalaya LK-HAM, Tasik Malaya
4. Maskur Hasan Laki-laki Menelaah Akses Kesehatan bagi Warga Kampung Sawah AMAN Indonesia, Jakarta
5. Baron Harahap Shaleh Laki-laki Tanggung Jawab Pemerintah Daerah Bombana terhadap Akses Pertambangan bagi Warga Masyarakat dan Perlindungan Hukum bagi Warga Petambang Tradisional di Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara LBH Kendari
6. Hendri Isnaeni Laki-laki Prinsip-prinsip Adat Masyarakat Baduy dalam Memilih Golput PSIK Paramadina, Jakarta
7. Gamma Triono Laki-laki Bekerja sebagai Pekerja Seks adalah Hak Asasi Manusia: Pengakuan dan Perlindungan Hak Perempuan Pekerja Seks dalam Menentukan Otonomi Tubuhnya PKBI, Jogjakarta
8. Ester Wagania Perempuan Peran Pemerintah dalam Manajemen Konflik di Indonesia Institut Titian Perdamaian

Perubahan Jadwal Pelatihan Penelitian

StopPress
Karena interval waktu untuk praktek penelitian kemungkinan besar akan bertepatan dengan pelaksanaan puasa di bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri tahun 2009, maka kami memutuskan untuk mengundurkan jadwal seluruh tahapan kegiatan Program Pelatihan Penelitian Aktivis Muda HAM Angkatan II/2009. Akibat positifnya, tentu saja, tengat waktu untuk penerimaan calon peserta menjadi jauh lebih panjang, dari semula tgl. 30 Juli 2009 menjadi tgl. 30 Agustus 2009. Informasi lengkap tentang perubahan jadwal kegiatan ini bisa dilihat pada halaman Time Frame Program.continue

Pelatihan Penelitian HAM Angkatan II/2009

Advokasi HAM atau isu yang lain tidak hanya bisa dilakukan melalui aksi demonstrasi di jalan-jalan. Setiap advokasi membutuhkan dukungan argumentasi yang dapat dipercaya. Argumentasi Anda dapat dipercaya hanya apabila ia didukung oleh sebuah penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Yayasan Interseksi berusaha mendukung para pelaku advokasi HAM melalui pemberian pelatihan penelitian sosial yang lengkap: mulai dari pembekalan metodologi, praktik penelitian lapangan, sampai penulisan laporan yang bisa meyakinkan pembacanya.

Setelah berhasil menyelenggarakan program Pelatihan Penelitian Angkatan Pertama tahun 2008 yang lalu, Yayasan Interseksi, bekerjasama dengan Hivos, kembali akan menyelenggarakan program Pelatihan Penelitian Aktivis HAM tahun 2009. Program ini ditujukan bagi para peneliti/aktivis muda yang menekuni isu-isu hak asasi manusia dan persoalan-persoalan diversitas kultural dalam relasinya dengan bangunan sosial tentang kebangsaan Indonesia. Kami mengundang para aktivis/peneliti muda HAM yang berdomisili di wilayah Jabodetabek untuk mengikut program pelatihan ini. Peserta yang lolos seleksi penerimaan akan mendapatkan seluruh paket pelatihan secara cuma-cuma, dan subsidi sebagian dana praktek penelitian lapangan.

Berikut adalah testimoni beberapa peserta pelatihan Angkatan Pertama:

Dulu penelitian adalah suatu hal yang tampak sulit bagi saya. Penelitian juga terkesan rumit dan hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang memang mampu. Suatu hari, tiba-tiba ada sebuah undangan dari Interseksi untuk mengikuti pelatihan penelitian bagi pemula. Singkat cerita akhirnya saya menjadi salah satu peserta yang lolos untuk ikut pelatihan ini. Betapa senangnya hatiku saat itu..hehehehe

Pelatihan ini berbeda sekali dengan pelatihan yang diadakan oleh lembaga-lembaga lainnya: tidak terlalu serius, kalau pegal-pegal kelamaan duduk silahkan angkat kaki di atas kursi, merokok berbatang-batang, boleh pake celana pendek, boleh pake sandal biasa, fun dan para tutornya sangat membantu kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta selama proses penelitian. Dan yang paling penting sang peneliti dipersilahkan menulis sesuai dengan karakternya masing-masing.

So, buat teman-teman yang lain ayo ikut ramai-ramai daftar di pelatihan ini. Dijamin BEDA

Rini Kusnadi, IKOHI, Jakarta



Membuat penelitian kukira sama dengan membuat skripsi. Dimana harus ada banyak teori yang disertakan. Maka tak heran kalau proposal penelitian pertamaku menghabiskan hampir seratus halaman. Setidaknya begitu yang kualami sebelum aku mengikuti workshop penulisan penelitian yang diadakan Interseksi setahun lalu. Menjadi sangat surprise, ketika di workshop itu semua teori-teori yang sudah kutulis dipangkas habis (aku masih suka malu kalau mengingat kejadian itu), tetapi bukannya menghilangkan makna malah kemudian semakin memperjelas arah yang ingin kusampaikan. Aku belajar banyak di dalamnya terutama belajar menulis sambil mengendalikan emosi karena kami juga selalu diingatkan untuk menulis tidak dengan cara “marah-marah”.

Berbekal pengetahuan yang diperoleh dari workshop itu, aku mulai terjun kelapangan untuk mengumpulkan sejumlah data dan membuat laporannya. Setelah kutulis kasus itu menjadi jelas. Selama ini pengalaman advokasi yang kulakukan memang belum pernah didokumentasikan secara apik. Biasanya aku hanya menuliskan point-pointnya saja yang menurutku penting. Aku lupa bahwa setiap kata dan setiap peristiwa dalam sebuah kasus jika ditulis dan dianalisa bisa menjadi alat bantu dalam melakukan advokasi karena dari hasil analisa itu memudahkan kita menentukan strategi berikutnya.

Pengalaman melakukan penelitian bersama Interseksi, tidak saja membuat aku secara pribadi menjadi mengerti bagaimana cara membuat penelitian tetapi juga memberi semangat baru bagi kawan-kawanku untuk melakukan penelitian terhadap kasus-kasus yang kami tangani untuk kemudian didokumentasikan. Meski masih dalam proses belajar tetapi langkah ini memperkaya referensi kami sehingga tidak terjebak hanya dalam aktivisme belaka tanpa alat bukti.

Akhirnya, kepada kawan-kawan ayo ikuti penelitian ini, akan ada banyak pengetahuan dan pengalaman baru didalamnya, terutama buat kawan-kawan dari Sumatera.

Romiana Manurung, YPRP – Medan




Saya merasakan peningkatan kemampuan dalam penentuan fokus riset. Selama ini saya selalu kesulitan dalam menentukan fokus karena saya menganggap semua hal penting dan semua hal harus dijawab. Yang saya tahu, hal itu memang benar, namun ketika saya mengikuti pelatihan penelitian Interseksi, saya mendapat satu hal penting bahwa untuk menjawab semua hal, kita harus belajar satu hal secara maksimal dan tuntas. Awalnya memang sulit karena kebiasaan saya sebelumnya masih belum hilang benar. Namun saya memperoleh pengetahuan juga dari pengalaman temen-temen peserta yang lain, sehingga ada share pengalaman dan dari sana bisa belajar satu sama lain.

(M. Subkhi, peneliti the Wahid Institute, Jakarta)




Bagi saya, penelitian dan mengkaji tidak hanya melakukan konfirmasi seluruh informasi yang kita miliki di lapangan, melainkan juga adalah menunjukkan analisis baru yang bisa memperkaya wacana ilmu pengetahuan. Dengan diselenggarakannya Pelatihan Penelitian HAM, dan kebetulan saya termasuk yang lolos seleksi panitia, saya mendapatkan kesempatan untuk terus mengasah dan menguji kemampuan saya khususnya yang terkait dengan isu HAM. Pada saat itulah saya memiliki kesempatan yang cukup memadai untuk mempelajari tentang HAM lebih dalam, bagaimana konsep HAM mulai muncul dan bagaimana kaitannya dengan isu gerakan petani yang saya minati.

Pelatihan ini sangat efektif bagi saya, karena kemudian saya juga mendapatkan pengetahuan yang lebih luas tentang persoalan-persoalan HAM, hal ini dikarenakan peserta yang memiliki interest yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut kemudian membuat isu HAM yang menjadi fokus pelatihan ini menjadi sangat luas dipaparkan, sehingga setidaknya bagi saya, pelatihan ini telah memberikan gambaran menyeluruh tentang HAM itu sendiri.

Selebihnya, program ini cukup 'menyenangkan' sebagai sebuah program akademik, yang diselenggarakan dengan cara yang relax dan prosesnya secara tidak disadari telah mendorong seluruh pesertanya untuk selalu peka dan tangkas mencari bahan-bahan maupun wacana-wacana baru khususnya tentang HAM dan isu yang diminatinya. Dengan proses seperti ini, setidaknya akan memberikan peluang bagi siapa saja yang ingin menjadi peserta, baik mereka yang sangat minim pengetahuannya tentang HAM maupun yang sudah 'tumpah isi kepalanya' dengan isu HAM.... Sukses buat Yayasan Interseksi.

(Hilma Safitri, peneliti AKATIGA, Bandung)




Bagi para pelaku advokasi/peneliti muda yang bekerja pada isu-isu HAM, pelatihan ini akan banyak membantu Anda mempertajam pemahaman konseptual dan kemampuan analisa sosial yang didasarkan pada teknik pengumpulan data yang dapat dipertanggungjawabkan, dan disajikan dalam bentuk tulisan yang mudah dipahami oleh pembaca. Tahun 2009 ini Yayasan Interseksi kembali membuka program pelatihan untuk Angkatan Kedua. Jumlah peserta dibatasi hanya untuk 5 (lima) orang peserta. Pendaftaran peserta akan ditutup tgl. 30 Juli 2009. Silakan dibaca informasinya


Laporan Workshop Penulisan Laporan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural

Posted by Dina Amalia Susamto

kendil
Workshop Penulisan Laporan tanggal 13 sd 15 Oktober 2008, membahas laporan akhir yang ditulis oleh peserta program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural yang diselenggarakan oleh Yayasan Interseksi dan Hivos. Workshop ini dimulai dari presentasi Ana Westy tentang universalisme HAM dalam kebijakan publik di daerah pada pemenuhan hak kesehatan masyarakat kota Banjar. Tulisan Westy awalnya mempertanyakan tentang universalisme yang berlaku bagi masyarakat lokal di satu sisi, sementara di sisi lain universalisme dalam HAM berasal dari konsep luar. Bagi Westy kebijaksanaan adanya otonomi daerah memungkinkan pemerintah daerah leluasa dalam membuat kebijakan sesuai kebutuhan, seperti walikota Banjar yang membuat kebijakan Puskesmas gratis bagi masyarakat Banjar. Westy melihat peng-gratisan Puskesmas tersebut sebagai pemenuhan hak yang membantu masyarakat miskin berobat gratis sehingga tidak membebani warga masyarakat. Selama ini kesehatan tidak terlalu diperdulikan oleh pemerintah. Padahal kesehatan adalah salah satu penyebab kemiskinan. Orang yang sakit tidak bisa bekerja sehingga tidak bisa mengobati sakitnya, dan karena sakit, orang miskin tidak akan bisa bekerja sehingga ia akan terus hidup miskin. Dengan alasan tersebut Westy melihat bahwa kebijakan yang dilakukan walikota Banjar bernilai positif, meskipun kemudian diketahui bahwa kebijakan puskesmas gratis saja tidak cukup dalam pemenuhan hak kesehatan masyarakat Banjar.
[Baca selanjutnya...]

Workshop Penulisan Laporan

workshop_pelatihan


Program Pelatihan Penelitian mengenai isu-isu Hak Asasi Manusia dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi dan Hivos, yang diiikuti oleh enam orang peneliti dari dari wilayah Jakarta, Bandung, dan Medan sudah harus berakhir bulan Oktober 2008 ini. Sejauh ini seluruh tahapan kegiatan telah berlangsung baik, dan semua peserta pelatihan sudah menulisakan pengalamannya masing-masing selama melakukan praktek penelitian dalam Jurnal Personal yang terbit di situs ini sejak akhir Agustus 2008 lalu. Banyak cerita menarik yang bisa dibaca dari catatan pengalaman para peneliti tersebut, yang justru sangat jelas memperlihatkan bagaimana dinamik proses sebuah penelitian sosial berlangsung. Dari catatan-catatan itu pula kita bisa melihat bagaimana para peneliti berusaha keras mengatasi keterbatasan dan tantangan, ketika kenyataan yang dihadapi di lapangan tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang semula dibayangkan ketika mempersiapkan penelitian.

Selama libur puasa dan lebaran yang lalu, semua peneliti mungkin menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menulis draft laporan penelitian masing-masing. Untuk memperbaiki kualitas laporan itulah Workshop tanggal 13-15 Oktober diadakan. Kali ini, workshop akan dilaksanakan di Studio Kendil, Jl. Perumahan Ciluar Asri No.17, Ciluar Bogor.

Seperti aktivitas-aktivitas sejenis yang pernah dilakukan Interseksi selama ini, workshop penulisan sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengajari pesertanya menulis laporan, tapi justru untuk saling berbagi. Semua peserta akan diberi waktu untuk melakukan presentasi, dan secara bersama-sama mendiskusikan temuan-temuan lapangannya. Melalui metode semacam ini diharapkan agar peserta bisa belajar antara satu dengan yang lainnya. Aspek-aspek yang akan dibahas merentang panjang dari mulai substansi temuan lapangan, teknis penulisan, pilihan diksi sampai standar penulisan yang biasa dipakai dalam beberapa tradisi akademik. Secara keseluruhan, workshop ini diarahkan untuk :

  • Pertama, belajar bersama meningkatkan kemampuan menyajikan hasil temuan sebuah penelitian dalam bentuk tulisan yang sistematis, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara intelektual.

  • Kedua, secara bersama-sama berupaya meningkatkan ketajaman kemampuan analisa sosial atas substansi penelitian dan relasinya dengan isu-isu HAM di satu pihak dan problem diversitas kultural di pihak lain.

  • Ketiga, memeriksa relevansi sosial dari isu-isu yang dibahas dalam tulisan laporan dalam kaitannya dengan kebutuhan untuk memperkuat agenda-agenda advokasi HAM terutama dalam konteks diversitas kultural masyarakat Indonesia.

    Nomor kontak Interseksi selama berlangsung workshop: 0818841085 (Risna), dan 08132143622 (Dina).

  • Workshop Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural

    WORKSHOP

    workshop_pelatihan

    Dalam rentang waktu mulai tgl. 12 Agustus sampai 7 September 2008, para peserta terpilih Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Interseksi-Hivos akan melaksanakan praktek penelitian lapangan di wilayah penelitiannya masing-masing. Sebelum mereka diterjunkan ke lapangan, seluruh peserta akan mengikuti workshop persiapan penelitian sejak tanggal 7-9 Agustus 2008 di Wisma Aryanti, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Melalui workshop ini, selain pembekalan metodis dan kerangka konseptual tentang isu-isu HAM dan diversitas kultural, seluruh peserta akan diajak untuk secara kooperatif memperbaiki draft rancangan penelitian yang telah dibuatnya.

    Kepada masing-masing peserta akan diberi waktu khusus untuk mempresentasikan rancangan penelitiannya masing-masing, dan kemudian mendiskusikan dan membahasnya secara kritis dengan bantuan para fasilitator, pemberi materi, dan para peserta workshop lainnya. Dengan cara ini diharapkan agar draft yang mereka buat bisa dikembangkan menjadi sebuah desain penelitian yang bisa langsung dipakai dalam praktek penelitian lapangan. Karena itu, bukan tidak mungkin kalau draft-draft tersebut harus mengalami perombakan secara besar-besaran tergantung pada hasil pembahasan bersama dalam workshop.

    Informasi lebih lengkap tentang Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural silakan browsing di halaman ini.

    AGENDA WORKSHOP

    Kamis, 7 Agustus 2008
    10.00           Berangkat dari Kantor Interseksi
    12.00 – 13.30 Check In dan Makan siang
    13.30 – 15.00 Pembukaan dan Perkenalan Peserta (Orientasi Peserta)
    15.30 – 16.00 Coffe break
    16.00 – 18.00 Brainstorming: Problem HAM di Indonesia (Bhatara Ibnu Reza)
    18.00 – 19.30 Istirahat & Makan malam
    19.30 – Lanjutan (Problem HAM dan Diversitas Kultural di Indonesia)

    Jum’at, 8 Agustus 2008 08.00 – 09.00 Sarapan pagi
    09.00 – 12.30 Presentasi dan Pembahasan 6 (enam) Desain Riset Peserta
    12.30 – 13.30 Istirahat & Makan siang
    14.00 – 18.00 Lanjutan Presentasi Peserta
    18.00 – 19.30 Istirahat & Makan malam
    19.30 – 22.00 Diskusi Etnografi (Hikmat Budiman)
    22.00- Istirahat

    Sabtu, 9 Agustus 2008 08.00 – 09.00 Sarapan Pagi
    09.00 – 12.30 Materi: Sejarah Sosial
    12.30 – 13.30 Makan Siang
    14.00 – 16.00 Diskusi Materi Sejarah Sosial
    16.00 – Kembali Ke Jakarta


    INFORMASI LAIN

    Karena workshop ini akan melibatkan proses perbaikan dan pengembangan desain penelitian, semua peserta workshop diharapkan membawa komputer laptop sendiri. Semua biaya untuk kebutuhan workshop (akomodasi, transportasi dan konsumsi) akan ditanggung oleh panitia penyelenggara. Akan tetapi, panitia tidak akan mengganti biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang personal sifatnya.

    ALAMAT KANTOR INTERSEKSI
    YAYASAN INTERSEKSI-JAKARTA
    Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 39
    RT 003/RW 01, Kelurahan Lenteng Agung
    Jakarta Selatan 12610
    Telp. 021-7820444

    Cara termudah untuk sampai di kantor Interseksi adalah dengan naik kereta api jurusan Jakarta-Bogor, kemudian turun di statsiun Tanjung Barat. Kantor Interseksi terletak persis di seberang jalan statsiun kreta api Tanjung Barat ke arah Pasar Minggu.

    ALAMAT WISMA ARYANTI
    Jl. Dewi Sartika, Kp. Cipari-Cisarua
    Telp:0251-8255902

    Dari Arah Bandung berhenti sebelum Taman Safari, dan masuk sebuah jalan kecil di sebelah kanan. Beberapa papan penunjuk jalan akan cukup membantu Anda menemukan lokasi Wisma ini yang lebih kurang berjarak 1,5 km dari jalan raya Cisarua.





    Peserta Terpilih Pelatihan Penelitian HAM

    Sampai batas akhir pengiriman lamaran tgl. 30 Juli 2008 yang lalu, kami telah menerima sejumlah lamaran lengkap dengan draft rancangan penelitian dari beberapa peneliti di lembaganya masing-masing untuk menjadi peserta dalam program Pelatihan Penelitian tentang HAM dan Diversitas Kultural yang diselenggarakan oleh Yayasan Interseksi bekerjasama dengan HIVOS. Sayangnya, untuk tahun 2008 ini program ini hanya bisa diikuti oleh 6 (enam) orang peserta. Karena itu, berdasarkan pada kualitas draft rancangan penelitian dan feasibilitasnya, kami memutuskan nama-nama yang tercantum di bawah ini sebagai peserta terpilih yang berhak mengikuti program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural. Selanjutnya, mereka yang terpilih ini wajib mengikuti seluruh rangkaian kegiatan program pelatihan penelitian dari awal sampai akhir (mulai dari workshop persiapan, praktek penelitian lapangan, penulisan laporan, workshop penulisan laporan, perbaikan laporan dan tahap editing laporan). Berikut adalah nama-nama peneliti yang terpilih berikut usulan topik penelitian masing-masing:

    No. Nama Jenis Kelamin Topik Peneltian Asal Lembaga
    1. Rini Kusnadi Perempuan Kajian Atas Pemenuhan Hak Reparasi bagi korban HAM Berat di Indonesia, studi kasus di Jakarta Ikatan Keluarga Orang Hilang, Jakarta
    2. M. Subhi Laki-laki Kekerasan terhadap Minoritas Agama di Indonesia: Membaca Perselingkuhan Agama dan Negara The Wahid Institute, Jakarta
    3. Romiana Manurung Perempuan Perjuangan Hak-Hak Perumahan Rakyat Miskin Kota, studi kasus pada organisasi rakyat KWRS Amplas, Medan-SUMUT Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran, Medan
    4. Ana Westy Perempuan Prakarsa Pemerintah Daerah Dalam pemenuhan Hak Warga , Studi tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Daerah di Kabupaten Sinjai Perkumpulan INISIATIF, Bandung
    5. Ingwuri Handayani Laki-laki Diskriminasi Kelompok Minoritas Kristiani Jatimulya Tambun Desantara, Institute for Cultural Studies, Depok, Jawa Barat
    6. Hilma Safitri Perempuan Gerakan Petani dan Agenda Neoliberalisme, studi kasus gerakan petani kabupaten Batang, Jawa Tengah Konsorsium Pembaharuan Agraria, Bandung

    Pelatihan Penelitian Aktivis HAM

    pelatihan

    Yayasan Interseksi, bekerjasama dengan Hivos, akan menyelenggarakan program Pelatihan Penelitian Aktivis HAM tahun 2008. Program ini ditujukan bagi para peneliti/aktivis muda yang menekuni isu-isu hak asasi manusia dan persoalan-persoalan diversitas kultural dalam relasinya dengan bangunan sosial tentang kebangsaan Indonesia. Untuk tahap pertama, pelatihan akan diadakan bagi peserta yang berdomisili di wilayah Jabotadebek dan kota Medan, Sumatra Utara.

    Pelatihan ditempuh dalam tiga metode yang saling terkait.

    Pertama, pelatihan di dalam kelas dalam bentuk workshop persiapan penelitian. Selama workshop semua peserta pelatihan akan diberi pembekalan metodis, sejarah sosial, dan filosofis tentang isu-isu HAM dan diversitas kultural. Di samping itu, selama workshop peserta juga akan dibantu menyempurnakan rancangan penelitiannya masing-masing.

    Kedua, pelatihan di luar kelas dalam bentuk praktek penelitian lapangan. Setelah mengikuti workshop persiapan penelitian, seluruh peserta diwajibkan melakukan praktek penelitian lapangan di wilayahnya masing-masing.

    Ketiga, pelatihan penulisan laporan. Setelah melakukan penelitian lapangan, seluruh peserta wajib mengikuti sebuah workshop penulisan laporan penelitian. Workshop ini bertujuan untuk menyempurnakan draft laporan penelitian yang sudah ditulis oleh masing-masing peserta agar memenuhi standar penulisan ilmiah sekaligus mudah dipahami oleh pembaca pada umumnya.

    Untuk informasi yang lebih lengkap silakan dilihat dalam ToR Pelatihan Penelitian Aktivis HAM.