Dulu penelitian adalah suatu hal yang tampak sulit bagi saya. Penelitian juga terkesan rumit dan hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang memang mampu. Suatu hari, tiba-tiba ada sebuah undangan dari Interseksi untuk mengikuti pelatihan penelitian bagi pemula. Singkat cerita akhirnya saya menjadi salah satu peserta yang lolos untuk ikut pelatihan ini. Betapa senangnya hatiku saat itu..hehehehe
Pelatihan ini berbeda sekali dengan pelatihan yang diadakan oleh lembaga-lembaga lainnya: tidak terlalu serius, kalau pegal-pegal kelamaan duduk silahkan angkat kaki di atas kursi, merokok berbatang-batang, boleh pake celana pendek, boleh pake sandal biasa, fun dan para tutornya sangat membantu kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta selama proses penelitian. Dan yang paling penting sang peneliti dipersilahkan menulis sesuai dengan karakternya masing-masing.
So, buat teman-teman yang lain ayo ikut ramai-ramai daftar di pelatihan ini. Dijamin BEDA
Membuat penelitian kukira sama dengan membuat skripsi. Dimana harus ada banyak teori yang disertakan. Maka tak heran kalau proposal penelitian pertamaku menghabiskan hampir seratus halaman. Setidaknya begitu yang kualami sebelum aku mengikuti workshop penulisan penelitian yang diadakan Interseksi setahun lalu. Menjadi sangat surprise, ketika di workshop itu semua teori-teori yang sudah kutulis dipangkas habis (aku masih suka malu kalau mengingat kejadian itu), tetapi bukannya menghilangkan makna malah kemudian semakin memperjelas arah yang ingin kusampaikan. Aku belajar banyak di dalamnya terutama belajar menulis sambil mengendalikan emosi karena kami juga selalu diingatkan untuk menulis tidak dengan cara “marah-marah”.
Berbekal pengetahuan yang diperoleh dari workshop itu, aku mulai terjun kelapangan untuk mengumpulkan sejumlah data dan membuat laporannya. Setelah kutulis kasus itu menjadi jelas. Selama ini pengalaman advokasi yang kulakukan memang belum pernah didokumentasikan secara apik. Biasanya aku hanya menuliskan point-pointnya saja yang menurutku penting. Aku lupa bahwa setiap kata dan setiap peristiwa dalam sebuah kasus jika ditulis dan dianalisa bisa menjadi alat bantu dalam melakukan advokasi karena dari hasil analisa itu memudahkan kita menentukan strategi berikutnya.
Pengalaman melakukan penelitian bersama Interseksi, tidak saja membuat aku secara pribadi menjadi mengerti bagaimana cara membuat penelitian tetapi juga memberi semangat baru bagi kawan-kawanku untuk melakukan penelitian terhadap kasus-kasus yang kami tangani untuk kemudian didokumentasikan. Meski masih dalam proses belajar tetapi langkah ini memperkaya referensi kami sehingga tidak terjebak hanya dalam aktivisme belaka tanpa alat bukti.
Akhirnya, kepada kawan-kawan ayo ikuti penelitian ini, akan ada banyak pengetahuan dan pengalaman baru didalamnya, terutama buat kawan-kawan dari Sumatera.
Saya merasakan peningkatan kemampuan dalam penentuan fokus riset. Selama ini saya selalu kesulitan dalam menentukan fokus karena saya menganggap semua hal penting dan semua hal harus dijawab. Yang saya tahu, hal itu memang benar, namun ketika saya mengikuti pelatihan penelitian Interseksi, saya mendapat satu hal penting bahwa untuk menjawab semua hal, kita harus belajar satu hal secara maksimal dan tuntas. Awalnya memang sulit karena kebiasaan saya sebelumnya masih belum hilang benar. Namun saya memperoleh pengetahuan juga dari pengalaman temen-temen peserta yang lain, sehingga ada share pengalaman dan dari sana bisa belajar satu sama lain.
Bagi saya, penelitian dan mengkaji tidak hanya melakukan konfirmasi seluruh informasi yang kita miliki di lapangan, melainkan juga adalah menunjukkan analisis baru yang bisa memperkaya wacana ilmu pengetahuan. Dengan diselenggarakannya Pelatihan Penelitian HAM, dan kebetulan saya termasuk yang lolos seleksi panitia, saya mendapatkan kesempatan untuk terus mengasah dan menguji kemampuan saya khususnya yang terkait dengan isu HAM. Pada saat itulah saya memiliki kesempatan yang cukup memadai untuk mempelajari tentang HAM lebih dalam, bagaimana konsep HAM mulai muncul dan bagaimana kaitannya dengan isu gerakan petani yang saya minati.
Pelatihan ini sangat efektif bagi saya, karena kemudian saya juga mendapatkan pengetahuan yang lebih luas tentang persoalan-persoalan HAM, hal ini dikarenakan peserta yang memiliki interest yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut kemudian membuat isu HAM yang menjadi fokus pelatihan ini menjadi sangat luas dipaparkan, sehingga setidaknya bagi saya, pelatihan ini telah memberikan gambaran menyeluruh tentang HAM itu sendiri.
Selebihnya, program ini cukup 'menyenangkan' sebagai sebuah program akademik, yang diselenggarakan dengan cara yang relax dan prosesnya secara tidak disadari telah mendorong seluruh pesertanya untuk selalu peka dan tangkas mencari bahan-bahan maupun wacana-wacana baru khususnya tentang HAM dan isu yang diminatinya. Dengan proses seperti ini, setidaknya akan memberikan peluang bagi siapa saja yang ingin menjadi peserta, baik mereka yang sangat minim pengetahuannya tentang HAM maupun yang sudah 'tumpah isi kepalanya' dengan isu HAM.... Sukses buat Yayasan Interseksi.
Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra bukan orang asing bagi keluarga dan warga komunitas Interseksi. Beberapa peneliti kami ada yang sempat menjadi muridnya baik semasa kuliah atau kerja di UGM maupun yang kuliah di S2 Antropologi UI. Mas Heddy, begitu kami akrab memanggilnya, bahkan juga pernah memberi pembekalan metodologi bagi para peneliti Interseksi sebelum mereka berangkat ke lapangan untuk penelitian tentang Hak Minoritas tahun 2006 yang lalu. Pengukuhan beliau menjadi Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM, dengan demikian, adalah juga sebuah kabar gembira bagi kami. Selamat untuk sang Profesor. Semoga makin produktif berkarya dan mendidik anak bangsa.
Berikut adalah siaran pers yang diterbitkan oleh Humas UGM tentang pengukuhan tersebut:
Ratusan orang berseragam Front Pembela Islam (FPI) menyerang puluhan massa dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang tengah mempersiapkan aksi damai di pelataran Monumen Nasional (Monas), Minggu (01/06/2008). Puluhan orang dari AKKBB yang terdiri termasuk ibu-ibu dan anak-anak mengalami luka-luka dan trauma.
Penyerangan yang berlangsung tiba-tiba tersebut terjadi pada pukul 13.00 WIB ketika massa AKKBB yang bermaksud memperingati 63 tahun Pancasila itu belum sepenuhnya berkumpul. Akibat penyerangan tersebut, 12 orang luka parah dan puluhan orang luka ringan termasuk ibu-ibu dan anak-anak. Sebagian korban kemudian dilarikan ke rumah sakit dan sebagian lagi dievakuasi ke halaman Gedung Galeri Nasional.
Beberapa orang yang mengalami luka serius antara lain Imdadun Rahmat memar di sekujur badan dan kepala bocor, M. Guntur Romli luka di sekujur badan dan hidung patah, KH Maman Imanulhaq luka di sekujur badan dan sobek di bagian dagu, Ahmad Suaedy, luka di punggung dan sobek di dagu, Dr. Syafii Anwar, kepala berdarah, Hamid Taher gegar otak ringan dan tangan kiri patah, Joanes sobek di kepala dengan tujuh jahitan, Bernard sobek di kepala dengan delapan jahitan, Omink gegar otak, Sunandar memar di badan dan mata kemasukan pasir.
Korban lain Doni, Sopir soundsystem, Yogi, Heru, Siti Maryam, Ela, Ataurrahman, Sarip, Yaya, Dani H, Nurbarjah, Yanto, Jaka, Lukman, Suleman, Said, Kusworo dan Sair.
Selain korban luka, satu Mobil dirusak, beberapa soundsystem rusak dan dibakar, backdrop terbakar dan satu gitar dirusak.
Berikut kronologi peristiwa Aksi 63 tahun Pancasila dengan tema “Satu Indonesia untuk Semua” Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) Pelataran Monas, 1 Juni 2008.
12.45
Massa AKKBB mulai berdatangan ke belakang Stasiun Gambir, bercampur dengan massa gerak jalan sehat PDIP. Ada 3-4 polisi yang mengatur lalu lintas dan mengatur massa PDIP yang menuju pulang.
12.55
Massa AKKBB yang lain berdatangan ke dalam Pelataran Monas, berkumpul di satu titik untuk konsolidasi.
13.10
Massa AKKBB yang berada di belakang Stasiun Gambir berjalan menuju ke dalam Monas untuk merapatkan barisan dengan massa yang lain, untuk memberi kesempatan kepada massa PDIP membubarkan diri dari tempat parkir di belakang Stasiun. Ada seorang polisi berpakaian preman yang berkumpul di lokasi ini, dan 2 polisi berseragam agak jauh dari lokasi.
13.20
500-an massa FPI berjalan dari arah utara selayaknya orang baris berbaris.
13.25
Massa FPI sampai di depan massa AKKBB yang sedang mengatur barisan, dan tanpa basa basi langsung memukuli massa AKKBB yang sebagian duduk-duduk di aspal, tanpa perlawanan. Mereka memukuli membabi buta sambil berteriak: “Kamu Ahmadiyah ya”. “Allahu Akbar”. Tidak ada seorang aparat pun yang menolong. FPI sudah menyiapkan laskarnya dalam 4 lapis dan lapis terakhir laskar memakai baju hitam hitam, tutup muka dan senjata tajam seperti pedang, sejenis samurai, kayu seperti tombak. Juga pasir pedas yang dilemparkan ke mata.
13.30
Lapisan pertama membubarkan diri namun datang lapisan kedua sambil berteriak ’Allah Akbar’ dan minta lapisan pertama kembali menyerang, sehingga bertambah rombongan FPI yang menyerang teman teman AKKBB. Seorang polisi dengan mobil patroli datang menghampiri namun mobil nya ditendang beberapa orang FPI sehingga polisi itupun lari. Beberapa anggota AKKBB mencoba minta polisi berbuat sesuatu tapi polisi itu malah pergi. Mereka sempat dihampiri seorang anggota FPI dengan mengatakan,"Pergi lu, gue tahu lu Ahmadyah, pergi lu, mau mampus lu".
13.35
Massa AKKBB sudah lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Serombongan polisi bermotor dating ke lokasi, melokalisir massa FPI. Massa FPI menghancurkan mobil dan soundsystem di dalamnya, kemudian membakarnya, di depan para polisi yang mengelilingi mereka.
14.00
Tim AKKBB menyisir seluruh lokasi, dan ada beberapa massa AKKBB yang masih tersisa di dalam dan tak berani keluar. Mereka memilih berdampur dengan pengunjung umum Monas, menunggu massa FPI bubar.
14.15
Massa FPI berjalan ke arah istana, bergabung dengan aksi Hizbuttahrir di depan istana.
14.28
AKKBB membuat konferensi pers dadakan di pelataran Galeri Nasional. Polisi mengingatkan massa AKKBB untuk tidak berlama-lama di Galeri Nasional, karena ada kemungkinan massa FPI masih akan mengejar.
15.00
Massa AKKBB bubar dari Pelataran Galeri Nasional
16.00
Delapan sepeda motor berbendera FPI berhenti di depan Galeri Nasional dan melakukan pengamatan. Hanya tersisa beberapa orang di Pelataran Galeri Nasional.
Diskusi bulanan Interseksi pada 19 Juni 2007 menghadirkan pembicara Blair Palmer, Ph.D Candidate dari Australian National University, dengan tema Pilkada Aceh. Tema ini merupakan hasil penelitian yang telah dikerjakannya sebagai peneliti pada Program Konflik dan Pembangunan, World Bank mengenai pelaksanaan Pilkada di Aceh pada bulan Desember 2006 lalu. Menurut Blair, meskipun secara keseluruhan pelaksanaannya relatif dapat dikatakan berhasil, dalam pengertian jujur dan adil, namun pilkada di Aceh masih menyisakan beberapa pertanyaan, misalnya tentang penyelesaian sengketa, implikasi hubungan antara Pilkada dan good governance, pola kampanye dan perilaku pemilih.
Dear Mbak Amel dan Mashoodi,
Saya mohon maaf sekali karena tidak bisa datang pada acara diskusi yang sudah di agendakan hari Rabu besok karena ada jadwal rapat mendadak di kantor yang harus saya ikuti. Mohon maaf, dalam minggu ini jadwal saya sangat tidak menentu yang tidak saya antisipasi ketika memberikan komitmen ketika di telpon oleh mbak Amel akhir minggu lalu.
Sekali lagi saya mohon maaf, mungkin kita bisa atur lagi waktu dikusi di bulan-bulan mendatang.
Salam hangat
Zulfan