n+k graphics 07
Indonesian Chinese Quest for Identity: A
problem of ethnic minority integration in
multi-ethnic Indonesia
Speaker: Tobias Basuki, MA[#]
Date: Friday, September 28th,
2007. At 15.30
On Friday the 22nd of September 2007 at
15.30 we are inviting Tobias Basuki,
MA of the Pelita Harapan
University to discuss the topic of
Indonesian Chinese Quest for Identity to
our monthly discussion. And as always the
case with our monthly forum, it is only for
limited participants. So please confirm
your participation either by phone at
021-7820-444 (work hour with Nia) or by
email to interseksi [at] gmail
[dot] com.
Abstract (English)
The Indonesian Chinese had been part of the
archipelago for centuries. They had lived,
settled, and considered various parts of
the Indonesian archipelago as their home.
But compared to their counterparts, the
other overseas Chinese in the neighboring
Southeast Asian countries, the Indonesian
Chinese have remained in a quandary about
their identity and place in the nation they
call home. Discrimination and violence had
occurred and persisted against them through
different regimes. This paper attempts to
answer the question regarding the dilemma
of the Indonesian Chinese and their
associated ethnic, socio-political, and
economic problems. A variety of studies and
perspectives had proposed different answers
regarding the problem. In general they can
be categorized into three perspectives in
Comparative Politics: rationalist,
structuralist, and culturalist. This paper
studied the case across three different
time periods (pre-Independence, Soekarno
era, and Soeharto era). A fourth variable,
identity, is proposed as a crucial element
in understanding the problem and a starting
point to the solution to the quandary.
Abstrak (Bahasa Indonesia)
Sudah beratus tahun kaum Tionghoa,
bersama-sama dengan suku-suku lainnya,
telah hidup dan menjad bagian dari
kepulauan Nusantara yang saat ini kita
kenal sebagai negara Indonesia. Walaupun
telah kehilangan akarnya baik dari segi
bahasa maupun budaya, kaum Tionghoa
Indonesia sampai saat ini tidak pernah
'mapan' dalam kedudukannya sebagai salah
satu suku/bagian di Indonesia yang terdiri
dari beribu pulau dan budaya. Wang Gungwu
profesor ahli politik dari National
University of Singapore mengatakan bahwa
"Indonesia adalah negara terbesar di Asia
Tenggara dengan masalah Cina" dan "entah
karena apa dibandingkan dengan di
negara-negara lain, Cina perantauan di
Indonesia paling banyak dibantai atau
dilukai, melarikan diri atau diusir, dan
paling tidak aman keadaannya ….."
Makalah ini meninjau beberapa pengamatan
yang telah dilakukan oleh para peneliti
masalah Cina perantauan mengenai kurangnya
integrasi dan terjadinya kekerasan yang
dialami kaum Tionghoa Indonesia:
- Rasionalis menyebut kompetisi ekonomi
dan manipulasi politik sebagai
penyebab.
- Strukturalis meninjau masalah ini
dari aspek usaha-usaha kaum elit politik
untuk mempertahankan kekuasaan dengan
memakai kaum Tionghoa sebagai bemper
ataupun kambing hitam.
- Kulturalis menyatakan permasalahannya
ada pada perbedaan agama, kultur, dan
tradisi.
Di dalam studi perbandingan tiga periode
pemerintahan di Indonesia, makalah ini
menemukan bahwa ketiga faktor yang disebut
di atas tidak dapat menjelaskan
permasalahannya secara utuh dalam rentang
waktu dan jarak
(across time and
space). Makalah ini mengemukakan
variabel keempat, identitas. Dikemukakan
bahwa permasalahan etnis Tionghoa adalah
pertama-tama permasalahan identitas sebelum
menjadi permasalahan Rasionalis,
Strukturalis, maupun Kulturalis.
Permasalahan etnis Tionghoa bukanlah
satu-satunya permasalahan kaum minoritas di
Indonesia. Namun problematika etnis
Tionghoa dapat menjadi representasi
permasalahan minoritas secara luas dalam
kenegaraan Indonesia yang plural. Dan
solusi dari dilema ini penting dalam
mengatasi permasalahan bangsa secara luas.
Etnis Tionghoa diharapkan dapat membentuk
identitas mereka, menyadari kewajiban
sebagai warga negara dengan seimbang bukan
saja sekadar memperjuangkan hak-hak mereka.
Apakah etnis Tionghoa akan menjadi bagian
dari "komunitas imaginer" (Benedict
Anderson's "Imagined Community) bangsa
Indonesia?
[#] Tobias Basuki is
a lecturer at the Faculty of Social
and Political Sciences, Pelita Harapan
University. He recently finished his
MA in Political Science from Northern
Illinois University with
concentrations in Comparative Politics
(CP) and International Relations (IR).
He postponed entrance to the PhD
program until next Fall of 2008 to
return home to Indonesia to reorient
and research for issues that are
imminent and in line with his
specialties and interests. He
can be reached at Tobias Basuki [at] Gmail
[dot] com. For more
information please go to
http://www.tobiasbasuki.com