FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Tradisi Akademik Malang Kadak

Posted by: Paring Waluyo Utomo


Pada tanggal 7 - 10 Agustus 2006, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Yogjakarta mengadakan kegiatan Jelajah Budaya. Akitivitas ini dilakukan di beberapa wilayah lokal, seperti di Komunitas Tengger, Pendalungan, dan Using. Pesertanya adalah para guru SMA yang mengajar antropologi dan sosiologi, siswa-siswi berprestasi disekolah dan atau siswa yang menjadi pengurus osis di sekolah dari jurusan IPS. Tak lupa pula kegiatan ini menyertakan wartawan yang selama ini aktif memberitakan tentang kebudayaan.

Kegiatan ini didahului dengan pembekalan/ briefing oleh orang-orang di Jawa Timur yang dianggap sebagai pakar kebudayaan, dan peneliti kajian sejarah dan nilai tradisional, seperti Dr. Ayu Soetarto. Saat tiba di Tengger tanggal 8 Agustus 2006, peserta Jelajah Budaya mendapatkan ceramah budaya Tengger oleh Mujono, Koordinator Dukun Tengger.

Kegiatan ini diklaim oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sebagai kepedulian pemerintah terhadap keanekaragaman budaya. Agar masyarakat (peserta) dapat memahami keanekaragaman budaya yang merupakan jati diri bangsa, untuk menuju cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa.

Sekilas acara ini memang mengundang perhatian khusus, apalagi tema kegiatannya adalah studi budaya yang ditujukan kepada guru-guru SMA. Namun dalam prateknya, acara ini tak lebih dari sekedar kemasan pariwisata. Secara logis saja dapat dilihat bahwa acara ini tidak begitu serius, sesuai target yang dicanangkan. Bagaimana mungkin mengenal kebudayaan lokal (Tengger) hanya dalam tempo 12 jam. Ketersediaan waktu studi yang kurang dari 12 jam, sama lamanya dengan orang (turis) yang sedang melakukan rekreasi. Bahkan para turis dari mancanegara saja bisa sampai seminggu untuk bertahan di kawasan Bromo.

Belum lagi jika ditinjau dari isi acaranya, berupa peninjauan tempat-tempat wisata yang ada di Bromo, dan ditambah dengan ceramah Mbah Mujono dalam tempo 2 jam. Kenyataan ini sungguh sangat menyedihkan. Kekhawatiran dari bentuk-bentuk acara seperti ini adalah penangkapan realitas terhadap komunitas Tengger yang sangat mungkin bias. Rata-rata peserta memandang bahwa komunitas tradisonal (Tengger) sebagai komunitas eksotis dan unik dalam kacamata orang kota (guru, siswa, dan wartawan). Karena dalam memandang Tengger berpijak pada prinsip eksotika, maka tak ada bedanya dalam memandang benda (artefak) cagar budaya.

Kalau tidak hati-hati dan senantiasa otokritik, bentuk-bentuk acara seperti jelajah budaya ini akan menimbulkan persamaan dalam memandang antara kebudayaan Tengger dengan artefak sejarah, yang berarti harus dimuseumisasi, karena alasan-alsan eksotis, unik, dan menyejarah. Sesat pikir seperti ini harus disadari sejak awal. Kebudayaan wong Tengger adalah sesuatu yang organis, artinya dalam dirinya hidup sel kebudayaan yang terus berkembang dinamis, dan bisa berubah sewaktu-waktu. Wong Tengger bisa saling bernegosiasi, meresepsi, pun juga meresistensi kebudayaan yang datang dari luar dirinya. Jika ide atau gagasan untuk melakukan pelestarian adat itu dilakukan oleh Tengger sendiri patut kiranya kita dukung, namun sebaliknya jika ide itu dating dari luar, terutama orang-orang diperkotaan, maka perlu kiranya untuk melakukan rincian atas motif mereka.

Dalam paparannya kepada para guru-guru yang ikut acara tersebut, Mujono memberikan penjelasan mengenai seluk beluk adat Tengger, seperti yang menyangkut soal upacara adat, hingga sistem perkawinan. Acara seperti ini akan jauh bermanfaat jika para peserta sejak awal tidak digiring sebagai “turis”, akan tetapi lebih sebagai sahabat. Dengan membangun relasi sebagai sahabat, maka para peserta Jelajah Budaya tidak cenderung berpandangan wong Tengger sebagai obyek kajian, sehingga yang muncul hanya pikiran eksotika.

Saat berdiskusi, suara-suara yang muncul dari kalangan peserta Jelajah Budaya memang persis dalam rumusan di atas. Sehingga tak mengherankan jika, para peserta tersebut sangat berharap agara kebudayaan tengger tetap dan harus dilestarikan. Kondisi ini kian menjadi rumit, ketika realitas mereka tentang tengger yang terbentuk melalui kunjungan kurang dari sehari itu lalu didistribusikan kepada para peserta didik di SMA. Disamping menghasilkan materi-materi yang kurang lengkap atas tengger, kegiatan seperti ini lebih kental nuansa wisata ketimbang belajar atas fenomena secara lebih serius.

Hal ini akan berakibat serius jika imajinasi para guru dan wartawan yang mengikuti Jelajah Budaya tersebut membentuk realitas atas tengger di audien mereka masing-masing (guru kepada muridnya dan wartawan kepada pembacanya). Publik seolah-olah menangkap kebudayaan lokal {Tengger, Pendalungan, dan Using} sebagaimana yang dinarasikan oleh para guru dan wartawan tersebut. Padahal tangkapan itu hanyalah bagian kecil saja dari sebuah pergumulan yang rumit dan komplek dari kebudayaan local tersebut.

Kenyataan ini persis yang terjadi pada beberapa peneliti yang selama ini masuk ke Tengger, yang kemudian menghasilkan buku. Buku Agama-Agama Tradisional yang diterbitkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang {UMM} dan LKiS Yogyakarta misalnya menunjukkan betapa tidak serius dan gigih isinya dalam menangkap realitas yang terjadi di Tengger. Imajinasi peneliti telah berubah menjadi “kisah hidup” sendiri di Tengger, dan tentu saja bukan kisah hidup sepenuhnya sebagaimana yang terjadi di Tengger.

Pikiran-pikiran para peneliti yang cenderung modern dan berjarak dengan komunitas yang diteliti telah menghasilkan jarak tersendiri, bahkan secara kejam peneliti membangun rumusan sendiri. Pembentukan kategori agama tradisional atas agama yang berkembang di Tengger telah melemparkan masyarakat tengger dalam barisan dunia antah berantah, yang tentu saja dianggap aneh bagi para peneliti kota, patut untuk diteliti dan dilihat sebagai sesuatu yang unik.

Memang harus kita akui bahwa hampir semua peneliti yang berjibaku di Tengger mungkin saja tidak seratus persen mampu menggambarkan tekstur kebudayaan tengger, namun dari kegigihan peneliti dapat kita katakan karyanya sangat serius. Karya Robert Hefner yang menghasilkan beberapa buku atas Tengger adalah sedikit contoh dari tradisi akademik yang baik, walaupun Hefner belum tentu mampu mendeskripsikan Tengger secara presisi, karena penelitian sosial bukanlah angka matematis yang serba pasti.

Tradisi akademik kita yang begitu buruk ini harus segera di akhiri, kita harus berani terbuka dan jujur untuk mengatakana secara gambalang bahwa ada yang berbeda antara studi budaya dengan wisata. Sunguh tragis jika kita membiasakan diri having fun dengan berlagak sedang melakukan studi atau kajian. Sehingga dunia akademik kita tidak seperti orang melihat kucing dalam karung. Suaranya bagus, tetapi jika karung dibuka kita akan mendapati kucing yang penuh dengan ketidaksempurnaan secara fatal.


Turut Berduka Cita


white flower


Seluruh warga komunitas Interseksi menyampaikan turut berduka dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya guru, bapak, dan tauladan kami Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri pada kecelakaan pesawat Garuda tgl. 7 Maret 2007. Kami percaya beliau akan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga dan kerabat yang ditinggalkan diberi ketabahan, keikhlasan dan kekuatan. Kami murid-muridnya akan tetap mengingat dan meneruskan semangat, kejujuran, dan kerendahan hati dan kesederhanaan yang telah dicontohkan almarhum di masa hidupnya.

Selamat jalan Pak Kus!


Banjir Jakarta dan A Tower of Bable

Posted by: Hikmat Budiman
banjir
Foto oleh Larasita Gerardine

Tahun 2002 yang lalu sebagian warga Jakarta mengalami banjir terparah yang pernah terjadi di kota ini. Waktu itu, konon, 2/3 wilayah DKI terendam genangan air yang bahkan ada yang sampai 5 meter tingginya. Hal paling menarik adalah bangkitnya solidaritas warga Jakarta untuk saling menolong. Ketika negara terlalu banyak menghabiskan anggaran dan energinya untuk politik kekuasaan, ia kehilangan sebagaian kemampuannya untuk membantu warganya yang kesusahan. Sebuah kekuatan besar kemudian muncul bersumber dari kerelaan orang untuk berbagi, untuk berempati pada penderitaan sesama. Di mana-mana ada posko bantuan. Peristiwa serupa, tapi dalam skala yang jauh lebih besar juga terjadi saat Aceh dihantam prahara tsunami beberapa tahun lalu. Dan dari situ kita masih bisa merasakan bahwa sesungguhnya republik ini belum mau habis. Paling tidak masih jauh lebih banyak orang baik hadir setiap hari di tengah-tengah kehidupan kita yang nyata, daripada apa yang kita dapat dari gambaran tentang buruknya reputasi pejabat-pejabat publik kita. Beberapa kalangan lantas menghubungkan itu dengan tesis-tesis tentang modal sosial.

Tahun ini, menurut pengakuan beberapa orang korban, banjir yang melumpuhkan Jakarta lebih parah daripada tahun 2002 yang lalu. Diperkirakan sekitar 70% wilayah Jakarta kebanjiran. Seperti biasa, suasana menjadi terlampau riuh, bukan hanya oleh lenguh penderitaan para korban bencana, tapi juga oleh para penjaja suara politik. Foto-foto di halaman muka semua surat kabar yang terbit di Jakarta menampilkan Jakarta yang mirip kuda nil: makhluk raksasa lamban yang sedang berendam dalam kubangan air kotor. Dan tampak bodoh. Sangat dramatis. Karena itu kami tidak ingin menampilkan gambar serupa di halaman ini.

Lantas muncul pernyataan yang benar-benar sulit dipercaya bahwa itu keluar dari orang yang memiliki empati. Banjir tahun 2007 ini, kata pernyataan tersebut, tidaklah separah seperti yang digambarkan dalam berbagai pemberitaan. Media massalah yang melebih-lebihkan berita sehingga seolah-olah Jakarta lumpuh. Padahal masih banyak warga yang tidak terkena musibah itu. Bahkan yang terkena musibah pun masih banyak yang bisa tertawa. Mudah ditebak, pernyataan itu hanya mungkin diucapkan oleh orang yang dulu pernah berkata "kalau tidak mampu membeli LPG kenapa tidak pakai kompor minyak tanah saja?". Persisnya, itu adalah ucapan Aburizal Bakrie, orang yang jabatannya mengalami demosi dari Menko Perekonomian (ketika menepis keberatan orang terhadap kenaikan LPG) menjadi Menko Kesra saat ini.

Dari pernyataan itu kita bisa melihat betapa tidak nyambungnya antara apa yang sedang dialami oleh rakyat dengan pemahaman seorang Menko Kesra, yang tugasnya justru untuk mengurusi kesejahteraan rakyat. Bagi rakyat yang sedang menderita akibat banjir tahun ini, keluhan mereka seperti terus-menerus membentur tembok keras, karena begitu susahnya seorang pejabat seperti Ical memahami apa yang disuarakan mereka. Indonesia jadi seperti apa yang dalam Genesis dilukiskan sebagai a tower of bable, antara rakyat dan pemerintahnya seperti bicara dalam bahasanya sendiri-sendiri sehingga tidak pernah bisa saling memahami. Kalau negara kita bayangkan sebagai sebuah penyelenggaran politik untuk mencapai kesejahteraan, seperti menara yang dibangun untuk mencapai syurga dalam kisah biblikal, pernyataan Ical tadi merefleksikan kenyataan bahwa penyelenggaraan politik itu justru bisa melahirkan frustasi karena antara bahasa yang dipakai oleh rakyat dan pemerintah tidak berada pada semesta pemaknaan yang sama. Duo monolog seperti itu hanya mungkin terjadi akibat dua kemungkinan: atau rakyat yang keliru memilih pemimpin atau si pemimpin yang kian hari kian bebal seperti tembok. Waktu rakyat Amerika kecewa pada Clinton akibat skandal seksualnya dengan Monica Lewinsky mereka berkesimpulan bahwa "Clinton memang presiden kita, tapi ia jelas bukanlah pemimpin kita". Lantas apa yang pantas kita katakan?


Selamat untuk Pak Achmad Fedyani Syaifuddin

achmad fedyani syaifuddin

Harian Kompas memberitakan bahwa pada hari Rabu (21 Januari 2007), Dr. Fedyani Syaifuddin telah dikukuhkan sebagai Guru Besa FISIP UI. Orasinya berjudul Kemiskinan di Indonesia: Realitas di Balik Angka.

Dr. Achmad Fedyani Saifudin bukan nama asing bagi Yayasan Interseksi, terutama setelah beliau menulis review tentang buku Hak Minoritas. Dilema Mulitikulturalisme di Indonesia yang kami terbitkan akhir tahun 2005 yang lalu, dan setelah beliau menjadi salah seorang pembicara dalam diskusi bulanan kami pada tgl. 12 Juli 2006 yang lalu.

Seluruh warga Interseksi menyampaikan selamat atas pengukuhan tersebut, dan berharap agar Dr. Syaifuddin senantiasa sukses dan semakin produktif berkarya dan mendidik bangsa. Meskipun pasti akan makin bertambah kesibukan hariannya, tapi mudah-mudahan juga beliau masih berkenan kalau suatu saat diundang lagi ke forum diskusi bulanan Interseksi.


Interseksi Pindah Kantor Baru

frontview

Hari sabtu tgl. 23 Desember 2006 kemarin, Yayasan Interseksi pindah alamat ke kantor yang baru. Efektif mulai hari Selasa, 26 Desember 2006 seluruh aktivitas Interseksi akan dilakukan di dan dari kantor baru tersebut. Tapi karena kami masih harus membenahi banyak hal, seperti biasa orang pindah alamat, dalam beberapa hari ke depan pasti masih banyak hal yang belum berlangsung normal seperti biasa. Mudah-mudahan persis pada pergantian tahun, bulan Januari 2007 nanti, kondisi kantor kami sudah 100% pulih. Untuk urusan administrasi, waktu pemulihan mungkin akan sedikit lebih lama.
minitruck

Kepindahan ini sebenarnya sudah kami rencanakan sejak jauh-jauh hari. Sudah lama kami tidak terlalu kerasan di tempat lama, karena letaknya yang tidak cukup mudah dijangkau kendaraan, dan lingkungan sekitarnya yang juga tidak cukup menggembirakan. Tapi seperti kita tahu, di Jakarta bukan hal mudah untuk menemukan lokasi yang cukup bagus dengan harga sewa yang terjangkau oleh lembaga kecil seperti Interseksi. Setelah berlangsung berbulan-bulan, perburuan lokasi kantor baru itu pun akhirnya berbuah juga. Kami bisa menemukan sebuah rumah di jalan raya Depok-Pasar Minggu, masih di daerah Jakarta Selatan, dengan halaman yang cukup luas dan teduh, dan ditumbuhi pohon-pohon besar dan rindang. Ada satu pokok pohon rambutan yang sekarang sedang mulai berbuah ketika kami mangangkuti barang-barang dari kantor lama ke sana.

Semula kami sedikit pesimis, karena harga sewa yang ditawarkan cukup melonjakkan bola mata. Tapi setelah bernegosiasi selama berhari-hari, akhirnya kami dan si pemilik rumah sampai pada jumlah nominal yang cukup masuk akal, untuk Interseksi terutama. Selain harga bisa turun, kami bahkan bisa mendapat tambahan sebuah ruang baru untuk rapat atau keperluan lain. Negosiasi, kalau berhasil, memang bisa menambah saudara...hehehe... Terima kasih Pak Edy.
numpuk

Di rumah yang cukup besar itu kami tidak sendirian, karena ada kantor lain yang menempati ruang lebih kecil di sebelah ruang yang dipakai untuk kantor Interseksi. Bukan LSM, tapi sebuah biro yang bergerak di bisnis rental kendaraan.

Karena tempatnya cukup nyaman, ada kemungkinan Agenda Diskusi Bulanan kami, yang selama ini diadakan di Bukafe, itu nanti akan dilakukan secara bergantian dengan ruang di kantor baru ini. Selain sedikit menghemat biaya, cara itu juga ditempuh untuk sedikit memperluas latar belakang audience peserta diskusi terbatas itu. Sebab tidak berapa jauh dari lokasi kantor kami yang baru, ada beberapa perguruan tinggi terkenal di Jakarta: UI, Universitas Panca Sila, IISIP, Universitas Guna Dharma, dll. Mudah-mudahan ini juga merupakan awal yang baik untuk diseminasi gagasan Interseksi, baik yang sudah maupun yang akan segera diterbitkan. Bagaimana pun, cita-cita kami untuk memperkuat jaringan-jaringan komunitas epistemik masih butuh kerja keras.
angkut

Kebetulan memang kepindahan kami hampir bersamaan dengan pergantian tahun. Tapi itu lebih karena jatuh tempo sewa di kantor lama memang persis di akhir bulan desember tahun ini. Kalau pun kebetulan seperti ini ada gunanya, kami hanya berharap agar di tahun yang baru nanti teman-teman warga komunitas Interseksi (sekarang sudah meluas karena ditambah komunitas peserta diskusi bulanan di Bukafe) bisa mendapat semangat baru untuk lebih keras bekerja.

Ada sebuah ungkapan terkenal selama masa revolusi industri di Inggris tempo dulu: firing on all cylinders. Dengan segala keberuntungan dan keterbatasan, kami mencoba menangkap semangat itu sebagai ajakan untuk kerja keras. We are now firing on all cylinders. Tahun baru, kantor baru, tantangan baru. Mohon doa dari semuanya. Selamat Natal dan Tahun Baru.



Kekerasan Kembali Menghantam Kita di Ujung Tahun

Ada banyak peristiwa mencemaskan yang terjadi di ujung tahun 2006 ini. Dua di antaranya menyangkut kebebasan yang selama beberapa tahun ini justru sering dianggap sudah sangat berlebihan di Indonesia. Yang pertama adalah kasus pemecatan wartawan senior harian Kompas, P. Bambang Wisudo, yang didahului oleh sebuah drama kekerasan adalah sebuah ironi memalukan. Seorang wartawan di sebuah surat kabar yang sangat dihormati di Indonesia, karena dianggap merupakan salah satu cagar kekuatan moral dan intelektual bangsa, itu disergap oleh beberapa orang anggota SATPAM, disekap, dan diinterogasi hanya karena ia menyebarluaskan protesnya terhadap elit-elit pimpinan Kompas.

Pemecatan tentu saja merupakan bagian dari konflik dalam hubungan industrial yang biasa terjadi di perusahaan mana pun. Kita bisa mempercayakan solusi untuk masalah tersebut pada perundingan-perundingan yang lazim ditempuh untuk menyelesaikan kasus seperti itu.

Tapi (kabar tentang) penanganan manajemen kompas atas tubuh biologis Wisudo adalah sebuah kasus yang sama sekali lain. Kalau apa yang dituturkan Wisudo dalam kronologi peristiwa penangkapan dan pemecatannya itu benar adanya, Kompas telah melakukan sebuah tindak kekerasan yang benar-benar menyakitkan secara harfiah, dan sangat mencemaskan secara politik karena itu berarti selalu ada upaya pengerahan kekuatan koersif untuk membungkam. Masing-masing pihak tentu saja punya cerita versinya sendiri. Kita masih harus menunggu apakah yang terjadi adalah benar sebuah praktek kekerasan atau sebuah justa semata--satu bentuk kekerasan yang lain sebenarnya. Tapi moralnya adalah, tidak patut sebuah masalah diringkus oleh kekerasan. Apa pun bentuknya.

Penyakit represif rezim otoriter tampaknya memang menular ke mana-mana, bahkan ketika negara demikian lemah reprepsi bisa dilakukan oleh siapa saja. Sampai beberapa bulan yang lalu, hampir setiap pekan kita mendengar kabar tentang tindakan dan ancaman kekerasan oleh beberapa kelompok massa kepada kelompok lainnya. Jakarta seperti dihidupkan melulu oleh orang-orang yang sibuk saling tarik urat leher dan kebencian. Dan orang-orang yang selalu siap menghancurkan.

Beberapa hari yang lalu, sekelompok orang membubarkan sebuah diskusi di toko buku Ulitimus di Bandung, Jawa Barat. Dalihnya, mereka menolak kalau Bandung dijadikan celah kecil penyebarluasan faham komunisme. Penyebabnya, diskusi tersebut membahas gerakan Marxisme internasional. Bisa dibayangkan berapa jarak epistemologis yang dilompati logika mereka untuk sampai pada kesimpulan bahwa orang yang mendiskusikan Marxisme identik dengan pewarta komunisme. Lebih sewindu Orde Baru runtuh, tapi tabiat busuknya terus beranak pinak di hati dan pikiran sebagian warga kita, seperti gelembung-gelembung nafsu angkara Rahwana terus menelikung kesadaran masyarakat dan para pemimpin dalam alam Ramayana. Tapi apakah mereka membaca Ramayana?


Tampilan Baru Situs Interseksi

Technorati Profile
Pengembangan versi awal situs web Interseksi dimulai sekitar bulan oktober 2005 yang lalu. Belum diterbitkan secara online, melainkan baru sebatas sebuah mockup di dalam komputer. Istilah teknisnya, for internal evaluation only. Karena satu dan hal lain, publikasi pertama versi beta baru dilakukan sekitar akhir bulan november 2005. Itu pun masih berupa tampilan sementara yang sama sekali belum lengkap. Banyak halaman yang bukan hanya tidak ada isinya, tapi juga benar-benar belum dibuat ruangannya. Sekitar bulan Februari 2006 diputuskan bahwa situs Interseksi akan langsung dikelola oleh Interseksi sendiri. Pertimbangannya, selain faktor biaya yang memang akan radikal jauh lebih kecil, juga agar segalanya lebih mudah kalau ingin melakukan perbaikan. Mengandalkan pengelolaan situs internet kepada pihak ketiga, apalagi kepada para profesional pengembang web site, selain membutuhkan biaya cukup besar, kadang memang menyulitkan kita melakukan perubahan-perubahan sesuai keinginan kita. Itulah mengapa situs ini termasuk sangat sering berganti kulit.

Di samping didorong oleh keinginan menyajikan informasi dalam tampilan yang nyaman di mata, suksesi cepat bermacam-macam tampilan situs ini mungkin sekaligus juga merupakan testamen bahwa secara teknis hal tersebut memang tidak terlalu sulit. Dari sisi biaya, karena kami seratus persen mengelolanya sendiri, perbaikan-perbaikan tersebut sebenarnya juga tidak terlalu signifikan. Argumen yang paling masuk akal adalah karena kami masih terus dalam proses perbaikan. Kelebihan pengelolaan situs secara mandiri adalah tersedianya kesempatan untuk setiap saat melakukan apa pun yang kita inginkan sejauh memungkinkan. Mungkin ada pembaca yang terganggu oleh proses gonta-ganti kulit ini. Tapi mungkin itu memang merupakan metamorfosa yang harus kami lewati. Kami berterima kasih atas kesediaan Anda berkunjung setiap saat ke situs ini. Dan percayalah, pergantian-pergantian itu pun dilakukan karena kami ingin membuat pengalaman Anda lebih nyaman di "rumah" kami ini.

Ada satu hal yang meskipun tidak terlalu sulit dari sisi teknologis, tapi menjengkelkan secara sosial. Seperti Anda ketahui, situs ini cenderung tidak bersahabat dengan browser usang keluaran Microsoft, Internet Explorer 6 atau versi yang lebih lama. Ada beberapa pembaca yang menanyakan hal tersebut, mencari penjelasan mengapa situs ini tidak bisa sepenuhnya kompatibel dengan browser IE-nya Microsoft. Penjelasan teknisnya bisa berlarut-larut, tapi secara singkat kami ingin menyampaikan bahwa problem tersebut sama sekali bukan sesuatu yang disengaja dari awal. Kami harus jujur mengatakan bahwa kami memang sudah tidak pernah lagi menggunakan IE, tapi kami berusaha untuk sebisa mungkin memenuhi standar validasi dari beberapa konsorsium internasional tentang XHTML dan CSS. Meskipun pasti masih banyak kekurangan teknisnya, tapi secara keseluruhan situs kami sudah dinyatakan lolos validasi HTML, CSS, dan bahkan RSS. Tapi mengapa tidak "lolos" standar IE?
graph

Di situlah letak soalnya. Kami sadar ada banyak jawaban teknologis yang bisa mengatasi problem semacam ini, tapi kami juga sepenuhnya menyadari bahwa IE (versi 6 paling tidak) memang cenderung tidak menghormati standar-standar web tadi. Ada orang meringkas tahap-tahap penyikapan Micsoroft terhadap standar dengan ungkapan triple E; embrace, extend (standards to Microsoft's proprietary extensions), and exterminate (the original standars). Sampai IE versi 7 (yang sekarang masih dalam versi Beta) kelak resmi diterbitkan Microsoft dan makin banyak dipakai orang, situs ini tampaknya akan tetap tidak terlalu bersahabat dengan para pengguna IE 6 atau sebelumnya. Alibi kami sebenarnya sederhana saja: daripada menuntut kami yang hanya memiliki sumberdaya terbatas menghabiskan energi dan waktu untuk mengatasi problem (yang kemungkinan besar disebabkan oleh kelemahan) teknologi IE, bukankah lebih baik kita menuntut Microsoft yang mahakuasa dan mahakaya itu membuat software yang lebih baik daripada yang selama ini diproduksinya?

Jadi, pada dasarnya kami bukanlah kumpulan anti-Microsoft meskipun, paling tidak untuk kebutuhan pengembangan dan akses internet, kami memang tidak lagi memakai produknya.

Setelah hampir satu tahun, sudah banyak perubahan terjadi pada situs kita ini. Pasti masih banyak kekurangannya, tapi pasti pula akan ada upaya untuk terus meningkatkan kualitasnya. Kunjungan Anda selalu menyalakan semangat kami. Terima kasih.

Selamat membaca!


Catatan dari Workshop Jaringan Yayasan Desantara

Posted by: Hikmat Budiman

Ada yang menarik dari proses workshop penguatan jaringan Yayasan Desantara di Puncak, Jawa Barat, tgl. 5-7 Juni 2006 yang lalu. Kebetulan saya sendiri "ditodong" oleh panitia untuk menjadi salah seorang fasilitator dalam workshop tersebut. Pembentukan jaringan antar sesama lembaga swadaya masyarakat, atau organisasi nonpemerintah, atau apa pun sebutan yang seturut maknanya, itu tentu saja bukan hal istimewa. Dalam pekerjaan saya sebelumnya, berkali-kali saya terlibat membidani lahirnya beberapa jaringan antar-LSM di Indonesia. Yang mengesankan dari workshopnya Desantara ini adalah karena di dalamnya para peserta sepakat untuk:

Pertama, membentuk sebuah jaringan yang tidak meletakkan komunitas masyarakat yang dibelanya sebagai pusat orientasi melainkan justru menjadi bagian integral dari jaringan itu sendiri. Yang berada di pusat perhatian bukan komunitas lokalnya sebagai sebuah entitas fisik, melainkan problem ketimpangan relasi atau proses pembedaan (distiction) yang bisa menimpa siapa saja. Dengan demikian, antara Yayasan Tantular di Malang dengan komunitas-komunitas seniman Ludruk, atau antara Yayasan Sahabat Morowali di kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah dengan komunitas masyarakat Wana di kawasan Cagar Alam Morowali, misalnya, ditempatkan pada status yang sama dalam jaringan. Konsekwensinya, bukan hanya LSM anggota jaringan yang memiliki obligasi moral untuk membela komunitas lokal, tapi komunitas lokal pun bisa terlibat membantu komunitas-komunitas lain secara bersama-sama. Secara konseptual, komunitas lokal juga bisa berperan besar dalam membantu kerja-kerja LSM yang menjadi anggota jaringan. Ini tidak sama dengan konsep jaringan yang dipakai oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara tentu saja.

Kedua, semua peserta workshop sepakat memperluas medan kritisismenya dengan penekanan bahwa komunitas-komunitas lokal memang harus dibela tapi bukan berarti bahwa mereka tidak pernah salah. Posisi ini diharapkan bisa mendihindarkan jaringan ini dari jebakan romantisasi kultural yang substansinya nyaris identik dengan proyek-proyek kekuasaan negara untuk melestarikan mereka.

Kita masih akan melihat bagaimana kerja konkret dari jaringan yang bahkan disepakati untuk tidak buru-buru diberi nama ini. Interseksi sendiri bisa membantu jaringan ini melalui pemanfaatan ruang-ruang elektronik dalam cyberspace ini. Ke depan, situs Interseksi.ORG bolehjadi bisa dimanfaatkan oleh teman-teman jaringan kita untuk mempublikasikan lembaganya ke lingkungan yang lebih luas. Ini mungkin bentuk lain dari komitmen untuk menjadikan networking sebagai salah satu basis penyelenggaraan program-program aktivitas Interseksi. Ada ide lain?


Warga Interseksi Mengenang Pram

Beberapa warga Interseksi juga menarasikan pengalaman pribadinya dengan sosok Pramoedya Ananta Toer dalam personal blognya masing-masing. Nama dan karya-karya Pramoedya memang mengisi bukan hanya kepala mereka yang secara khusus mendalami studi sastra atau ilmu-ilmu budaya, melainkan hampir setiap orang yang punya nyali menghidupkan peradaban dengan gagasan-gagasan cerdas. Sobekan-sobekan kenangan/pengalaman tadi tentu menarik untuk dibagi bersama. Kami menurunkan kembali beberapa cerita tersebut untuk kita semua di halaman Community(Blog).


Mengenang Pram dalam Blogosphere

blog pram


Pram bukan hanya dibaca oleh kelompok-kelompok susastra melainkan oleh hampir semua kalangan pembaca di dunia. Mungkin ia merupakan orang Indonesia yang karyanya paling banyak dibaca bahkan sejak Indonesia belum lagi terbentuk. Beberapa warga komunitas Interseksi tentu saja adalah juga pembaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Pram ternyata bukan hanya sebuah nama yang menjulang tinggi jauh di cakrawala, melainkan juga sosok pribadi yang sangat mudah diakrabi. Ia bukan seniman yang bersinggasana di awan dan dari sana menorehkan karya-karyanya, melainkan orang kebanyakan yang sehari-harinya, sekurang-kurangnya pada sisa umur di hari tuanya, begitu peduli bahkan pada soal membakar sampah. Kepergian Pram, begitu ia biasa dipanggil, seperti mengorek kenangan kami tentang sosok istimewa ini. Dan apa yang lebih tepat, lebih intim sekaligus mendunia, untuk menuliskan kenangan semacam itu di zaman internet sekarang ini selain Blog? Philips J. Vermonte, misalnya, menceritakan kenangannya tentang Pram dalam sebuah Blog yang dia kirimkan ke milis Interseksi. Philips antara lain menulis:

Suatu hari di tahun 1994, saya mewawancarai Pram di rumahnya, di daerah Utan Kayu Jakarta. Biasalah, wawancara untuk majalah Polar yang kita terbitkan di kampus dulu itu…he..he. Ketika sampai di rumahnya, Pram sedang tidur siang. Istri Pram yang ramah menawarkan untuk menunggu. “Satu jam lagi paling sudah bangun”, katanya. Benar, tidak sampai satu jam Pram sudah bangun dan menemui kami, mengenakan celana training serta kaus kaki dan sandal. Waktu itu mungkin umur Pram sudah sekitar 70 tahun. Selama perbincangan, asap tak henti mengepul dari rokok Pram.

Pram adalah orang yang sangat energik, jelas tampak dari cara bicara dan pandangan matanya yang tajam. Dia bilang waktu itu, “sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa.” Kalimat itu yang saya ingat dari wawancara dengan Pram hingga sekarang.



Philips adalah seorang kandidat doktor ilmu politik yang sekarang sedang suntuk belajar di Northern Ilionis University. Cerita lengkap tentang kenangannya pada sosok Pram memperlihatkan bahwa ternyata ia, seperti warga Interseksi yang lain, juga pernah menaruh perhatian cukup besar pada perdebatan gagasan-gagasan kebudayaan di Indonesia. Ia membaca silang gagasan antara kelompok yang menamakan dirinya Manikebuis (Manifesto Kebudayaan) dengan kelompok LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) bahkan sebelum ia membaca karya-karya Pram.

Hikmat Budiman membagi momen duka yang sama, meskipun dengan penekanan yang berbeda, pada situs blog pribadinya. Seperti Philips, kebetulan ia juga sempat mengenal Pram sebagai sosok pribadi di rumahnya di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur. Ia, misalnya, menulis:

Dalam salah satu kunjungan ke rumahnya, saya sempat membuka-buka sebuah buku tamu yang ada di ruang tamu rumahnya. Rupanya itu adalah buku tamu ketika Pak Pram pernah menderita sakit beberapa waktu sebelumnya. Yang membuat saya sedikit melotot adalah karena di buku tamu itu, Mochtar Lubis tercatat sebagai tamu pertama yang datang menjenguk. Padahal semua orang yang mengenal kedua tokoh tersebut pasti tahu betapa sengitnya perselisihan (ideologis) di antara keduanya. Ini adalah sebuah pelajaran sangat penting bagi saya: bahwa hubungan personal tidak patut diputus bahkan dengan orang yang secara politik dan ideologis bermusuhan.



Kami yakin masih banyak orang yang, dalam caranya sendiri, menanamkan Pram dalam keping kenangannya agar kepergiannya tidak menguap begitu saja dari sisi personal masing-masing orang. Pram memang telah wafat, tapi ia tidak pergi ke mana pun karena namanya terpahat kuat pada hati kita.


Pramoedya Ananta Toer

MONDAY, MAY 01, 2006


Pramoedya Ananta Toer, yang akrab dipanggil Pram, berpulang kemarin. Di tahun 1960-an, sebagai tokoh utama Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang sangat dekat dengan PKI, dia sangat ‘galak’. Pram keras berpendirian bahwa seni bukanlah hanya untuk seni. Bagi Pram yang revolusioner, seni harus mencerminkan realitas sosial dan harus bisa digunakan sebagai mesin penggerak perubahan sosial. Karena itu, banyak orang menyebut bahwa karya-karya Pram berciri realisme sosial.

Pram berseteru hebat dengan pegiat kebudayaan yang kerap disebut sebagai kelompok Manikebu, Manifes Kebudayaan. Pegiat Manikebu menolak determinasi seniman-seniman kiri, yang relatif berkuasa saat itu, untuk menjadikan seni dan kebudayaan sebagai alat revolusi. Di seberang Pram, berdirilah para budayawan aktifis Manikebu yang dimotori antara lain oleh Wiratmo Soekito. Di dalam kelompok Manikebu, ada juga Goenawan Mohammad (GM) yang kala itu masih muda usia.

Kisah perseteruan Manikebu dan Lekra saya temukan tidak sengaja di suatu hari di tahun 1993, saat masih kuliah di Bandung. Sebagaimana banyak mahasiswa lain di masa itu, saya sering pergi ke pasar loak Cikapundung, dekat alun-alun kota Bandung. Cikapundung terkenal sebagai tempat jual beli majalah-majalah bekas edisi lama.

Di sana bisa kita temukan juga edisi-edisi lama majalah Prisma yang merupakan arena pergulatan pemikiran para intelektual dan tokoh pemikir besar kita. Di majalah Prisma yang terbit rutin di tahun 1970-an dan 1980-an kita bisa baca tulisan-tulisan dari Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Mochtar Pabottingi, Dawam Rahardjo, Nurcholis Madjid dan banyak tokoh lain saat mereka berusia sekitar akhir 20-an atau pertengahan 30-an.

Tulisan panjang mengenai polemik Manikebu itu saya temukan di dalam rubrik Selingan majalah Tempo edisi lama, yang saya beli di Cikapundung. Bagi seorang mahasiswa seperti saya, yang lahir dan dibesarkan di masa Orde Baru, membaca polemik Manikebu sangat memberi inspirasi dan membuka mata betapa keringnya rezim Orde Baru yang mengharamkan pertarungan ide-ide. Sebaliknya, dari tulisan itu kita juga bisa belajar betapa menakutkannya jika kekuatan politik dominan memaksakan ide-nya, seperti Lekra menghantam Manikebu. Tapi, itulah sejarah, yang harus ditulis dengan jujur.

Lepas dari pilihan politiknya di tahun 1960-an dulu, Pram tetaplah sastrawan besar. Saya menyukai karya-karya Pram, seperti saya juga menyukai tulisan-tulisan GM di rubrik Catatan Pinggir majalah Tempo. Cara Pram bertutur dalam Tetralogi Pulau Buru amat indah dan menggugah semangat untuk melawan ragam penindasan. Mungkin semangat perlawanan itu yang menjadi alasan Kejaksaan Agung di masa Orde Baru melarang peredaran empat buku novel tetralogi: Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah, yang dikenal sebagai Tetralogi Buru.

Melalui tetralogi, Pram berkisah mengenai semangat perlawanan kaum muda melawan kolonialisme di bumi Nusantara, lewat tokoh Minke, seorang pemuda Jawa berpandangan maju di zamannya, dan juga melalui tokoh Mas Marco dan Tjokro. Diceritakan juga Kartini dan Dewi Sartika.

Tokoh-tokoh dalam tetralogi seperti fiksi, tapi juga seperti sejarah kita yang nyata. Karena itu Pram sering juga disebut sebagai penulis novel sejarah. Pergulatan kisah dalam tetralogi serupa dengan kisah perjuangan para tokoh nasionalis awal kita, di tahun 1920-an dan 1930-an. Tokoh Minke, menurut banyak orang adalah representasi seorang tokoh pers nasional Tirto Adi Suryo. Sementara Mas Marco dan Tjokro, dalam novel Pram itu, tampak merujuk pada Marco dan Tjokroaminoto dan organisasi Sarekat Islam, yang merupakan dua tokoh dan organisasi penting dalam sejarah pembentukan nasionalisme Indonesia yang menghancurkan kolonialisme Belanda.

Suatu hari di tahun 1994, saya mewawancarai Pram di rumahnya, di daerah Utan Kayu Jakarta. Biasalah, wawancara untuk majalah Polar yang kita terbitkan di kampus dulu itu…he..he. Ketika sampai di rumahnya, Pram sedang tidur siang. Istri Pram yang ramah menawarkan untuk menunggu. “Satu jam lagi paling sudah bangun”, katanya. Benar, tidak sampai satu jam Pram sudah bangun dan menemui kami, mengenakan celana training serta kaus kaki dan sandal. Waktu itu mungkin umur Pram sudah sekitar 70 tahun. Selama perbincangan, asap tak henti mengepul dari rokok Pram.

Pram adalah orang yang sangat energik, jelas tampak dari cara bicara dan pandangan matanya yang tajam. Dia bilang waktu itu, “sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa.” Kalimat itu yang saya ingat dari wawancara dengan Pram hingga sekarang.

Ketika ditanya mengenai pelarangan buku-buku karyanya oleh Kejaksaan Agung, Pram bilang: “Karangan saya adalah seperti anak saya. Mereka bebas menemukan jalannya sendiri, apakah akan dilarang atau diterima orang banyak”. Lagipula, kata Pram, “pelarangan tidak berarti apa-apa, karena ide tidak bisa di kerangkeng dan ide punya kaki. Dia akan bergerak sendiri, kalau tidak sekarang, ya pasti suatu hari nanti.”

Betul juga. Tubuh Pram yang terpenjara sebagai tahanan politik selama beberapa tahun di Pulau Buru, tidak menghalangi pikirannya yang terus bergolak. Bahkan di pulau Buru lah empat buku novel yang dahsyat itu tercipta. Proses penciptaan novel tetralogi pulau Buru itupun sangat luar biasa. Pram khawatir tidak mungkin bisa keluar dari Buru hidup-hidup dan menyelesaikan empat novelnya itu. Pram lalu memutuskan untuk mulai mengarang empat novel itu di dalam kepalanya, lalu menceritakannya secara lisan kepada rekan-rekannya sesama tahanan politik di pulau Buru. Pram dibebaskan dari Buru pada tahun 1979, lalu mengalami masa tahanan rumah hingga tahun 1992.

Jujur saja, saat mewawancarai Pram itu saya belum pernah membaca tetralogi pulau Buru. Modal wawancara cuma tulisan mengenai Manikebu itu. Setelah wawancara, saya bertekad akan mencari keempat novel itu dan membacanya. Akan tetapi, larangan Kejaksaan Agung dan teror Orde Baru rupanya sangat efektif. Jarang sekali orang menyimpan novel itu. Saya cari di Palasari, pasar buku di Bandung, tidak ada. Mungkin ada satu dua yang menyimpan, tapi tidak berani sembarangan menjual.

Jauh sebelum wawancara Pram itu, suatu hari di Palasari seorang penjual buku berbisik pada saya yang masih duduk di semester-semester awal kuliah: “Dik, mau nggak nih ada buku yang barusan dilarang Kejaksaan”. Saat saya bilang mau, ternyata dia menunjukan buku terjemahan karya Kunio Yoshihara, mengenai erzast capitalism. Buku itu diterbitkan Yayasan Obor, diterjemahkan menjadi “Kapitalisme Semu Asia Tenggara”. Kunio Yoshihara membahas kroni-kroni bisnis Suharto, dan juga kroni-kroni bisnis para penguasa otoriter lain di Asia Tenggara sepanjang 1970-an dan 1980-an. Ketika saya datang lagi ke toko yang sama untuk mencari buku-buku Pram, si penjual buku hanya menjawab dengan gelengan kepala.

Buku-buku karya Pram baru terbaca oleh saya di awal tahun 2001. Yang pertama tentunya adalah empat novel tetralogi itu. Berikutnya adalah novel berjudul Arok Dedes, baru Perburuan dan yang lainnya. Sepulang studi dari Australia di akhir tahun 2000, saya menjadi pengangguran beberapa bulan lamanya, sebelum lamaran kerja menjadi peneliti diterima. Jadi, ada banyak sekali waktu luang..he..he..he. Selama menganggur, teringat niat lama membaca buku-buku Pram yang saat itu telah dijual bebas.

Zaman berubah, buku-buku karya Pram mudah didapat. Tidak perlu lagi membeli dan membacanya sembunyi-sembunyi. Saya sering mendorong mahasiswa saya di Jakarta untuk menyempatkan membaca tetralogi itu, untuk melengkapi bacaan novel-novel pop yang banyak digandrungi sekarang. Agar kita tidak menjadi angkatan muda yang mati rasa justru di era ketika penguasa hampir tidak mungkin lagi memasung dan memenjara pikiran anak bangsanya sendiri.

Dekalb, 30 April 2006
philips vermonte

Surat dari Seorang Pembaca

Tanggal 14 Maret kami mendapat sebuah surat dari salah seorang pembaca buku yang kami terbitkan. Berikut salinannya.


Jakarta, 12 Maret '06
Pak Hikmat yang budiman,

Bagi saya, buku Hak Minoritas adalah yang terbaik yang pernah saya baca mengenai masyarakat alam di negara ini. Membesarkan hati mengetahui bahwa para penulisnya, meskipun masih muda, sudah terbuka pikirannya tentang masalah mereka dan lebih berani mengedepankan ancaman terhadap mereka, yaitu agama-agama modern yang tentu saja bertentangan dengan keyakinan yang mereka alami. Bukannya saya tidak menyadari bahwa mereka semua sedang dalam proses dimusnahkan, namun sangat disayangkan kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki yang hanya ada di unida mereka akan turut lenyap. Dari yang katanya penegak hukum, pembuat hukum, para pembela rakyat, penguasa, pengusaha bahkan ke presiden kita rata-rata buta ekologi, apalagi ekologi dalamnya. Belum apa-apa seseorang sudah lemas membayangkan bahwa untuk membela masyarakat alam (holistik dan adat) dia harus berhadapan dengan hampir seluruh lapisan masyarakat kota dan kampung yang sudah modern.

Terlampir adalah buku saya yang ditujukan untuk anak-anak, namun menurut Pak Mochtar Lubis, boleh untuk semua orang. Pak Mochtar menyukainya, tapi rasanya beliau sendiri adalah mahluk langka. Bila Pak Hikmat ada diskusi lagi dengan teman-teman, tentu saya juga ingin hadir, tapi saya tidak memakai email. Tolong telpon saya di ..............(sengaja tidak dicantumkan--red) untuk tanggalnya melalui pegawai Interseksi.

Sekian dan terima kasih.

Salam,

An Mei



Ibu Mei yang terhormat,
Terima kasih banyak atas suratnya. Kami senang bahwa Ibu bisa menemukan sesuatu yang berguna dari buku yang kami terbitkan. Mewakili para penulisnya, saya juga ingin menyampaikan penghargaan tinggi atas apresiasi Ibu terhadap apa yang sudah kami kerjakan. Mudah-mudahan kami bisa menghasilkan karya yang lebih baik di masa yang akan datang. Masalah Hak-hak komunitas minoritas di Indonesia, terutama saudara-saudara kita yang biasa disebut komunitas lokal, itu memang merupakan salah satu fokus perhatian kami di Yayasan Interseksi. Kalau tidak ada kendala yang terlalu besar, tahun 2006 ini kami akan segera melakukan penelitian lanjutan di beberapa daerah lain.

Kami juga menyampaikan terima kasih atas kiriman bukunya yang pasti akan banyak manfaatnya bagi pembaca yang ditujunya. Kami akan memberitahukan jadwal diskusi kami seperti yang Ibu minta.

Salam,
Hikmat Budiman