Radjimo Sastro
Wijono
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan
Multikulturalisme di komunitas Buda, Lombok
Utara
Aku di bangku paling belakang di bus warna
merah yang menuju bandara Cengkareng,
Tangerang, Banten, pada siang 5 Januari
2009. Aku duduk di situ karena itulah
tempat yang tidak disukai banyak orang.
Para penumpang biasanya memilih bangku
depan atau tengah. Berbagai alasan mereka
miliki untuk memilih barisan depan di bus
antarkota ini, dan yang sering terlontar
adalah masalah keamanan. Alasan mereka
memang kuat, bukankah cerita kriminal dalam
angkutan umum memang banyak dilakukan di
barisan belakang. Dalam perjalanan yang
agak istimewa ini aku sengaja memilih
bangku belakang karena tak ingin terusik
oleh penumpang lain, baik diminta bergeser
tempat duduk maupun diajak ngobrol. Di
belakang bus yang selalu ngebut itu aku
mengaharapkan dapat menyusun kegiatan
selanjutnya, saat tiba di Pulau Lombok:
mencari asisten peneliti dalam tiga hari
pertama.
Pada awalnya suasana bus yang gaduh sempat
membuat aku tenggelam di dalamnya, yang
penuh ketidaknyamanan. Memasuki pintu tol
Serang Timur, Banten, suasana bus yang
kuinginkan baru kudapatkan: ketenangan
dalam ketegangan. Hampir sejam perjalanan
aku asyik dalam alam bayangan tentang orang
yang akan membantuku dalam penelitian
selama sebulan di Lombok Utara. Paling
tidak ada tiga kontak person yang kumiliki,
sebagai alternatif asisten peneliti.
Pertama, kontak person yang
diberikan oleh M. Khoiron, Direktur
Eksekutif Desantara.
Kedua, kontak
person dari Erasmus, aktivis AMAN, dan
ketiga, kontak person dari Mas
Ashar, teman kuliah istriku.
Hampir satu tahun tidak terlibat dalam
aktivitas penelitian komunitas membuatku
seperti melakukan penelitian yang pertama
kali. Keraguan pada banyak hal menjadi
kekhawatiran, tak aneh kebutuhan partner di
lapangan sangat penting kurasakan. Apalagi
meneliti di tempat yang belum kukenal betul
dan masyarakatnya bahasa lokalnya masih
kuat. Pikirku, tak mungkin aku dalam waktu
singkat dapat mengenal daerah dan
masyarakat setempat tanpa partner di
lapangan. Idealitas tentang asisten
peneliti tergambar dalam bayanganku: kenal
lokasi dan kenal masyarakat dengan
bahasanya. Lama kelamaan bayang-bayangku
tentang asisten peneliti malah memunculkan
ketakutan. Aku pun segera menghentikan
bayangan tentang asisten peneliti,
sekaligus mempersiapkan untuk turun dari
bus. Tapi aku sempat berpikir (mengutip
sebuah kalimat dalam novel Pram--mungkin),
mengapa takut pada sesuatu yang belum ada.
Aku tidak membayangkan tentang penelitian
dan asisten peneliti sampai kakiku
menginjak tanah Pulau Lombok, pada jam
23.40 waktu Indonesia bagian tengah. Dalam
perjalanan ini aku merasa rugi waktu,
pertama karena pengunduran jadwal
penerbangan selama hampir dua jam, dan
kedua karena konversi waktu sejam lebih
awal. Aku berpikir baik-baik saja dalam
kekecewaan ini sampai
check-in
hotel di Jalan Airlangga, termasuk apa saja
yang akan dicatat malaikat atas
amal-perbuatan yang hilang sejam itu.
[Baca selanjutnya......]