CAMPAIGN
Mandala of Difference
May 20, 2006/ 02:04 |

Diversity could both be the greatest strength and the greatest weakness of a country. Indonesia is a country of diversity; it consists of hundreds of ethnic groups with a huge variety of cultures living in thousands of islands. The Interseksi Foundation has been conducting researches to inductively comprehend the importance of multicultural policies in Indonesia to face the dilemmas of cultural diversities that we have been faced with for decades. We also organize cultural campaigns to raise the awarness of people of the virtues of cultural diversities and of cultural reconsiliation. And today we are delightly presenting Mandala Perbedaan (The Circular Arena of Difference), an astonishing computer graphics slideshow created by Ismiaji Cahyono of the School of Art Institute of Chicago, as part of our campaign to promote cultural reconciliation. Cahyono designed the artwork as a respond to the myriad of problems that we have been experiencing with in our contemporary Indonesia. With this gorgeous presentation, Cahyono tries to iluminate the underpinning principles of cultural as well as political phenomena currently occured in our societies. Please check it out in our Gallery. (Macromedia Flash plug-in required).
Protes Petani Pati
March 13, 2006/ 15:55 |

Pagi itu saya menyaksikan suatu aksi demonstrasi petani. Tepatnya tanggal 19 Januari 2006 di alun-alun kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ribuan petani dari berbagai kecamatan memenuhi lapangan alun-alun tengah kota. Tua, muda, perempuan ibu-ibu terlibat aksi massal dengan muka yang sangat antusias. Tidak ada provokasi “pihak ketiga” disana. Aksi ini digelar sebagai usaha sadar diri petani Pati menyikapi berbagai kondisi yang ada. Di tengah alun-alun itu juga dipasang panggung besar untuk memberi tempat bagi peserta yang ingin melakukan orasi. Suasananya begitu ramai, gaungnya terdengar dimana-mana. Sound system yang disediakan panitia ternyata tidak sekadar ditujukan untuk ajang orasi, tapi juga hiburan. Jauh sebelum aacara dimuali panitia dari SPP (Serikat Petani Pati) telah mengontak Cak Nun (Emha Ainun Najib) untuk disertakan tampil menghibur gratis petani peserta aksi. Rupanya Cak Nun menyambut gembira.
Diantara petani peserta aksi itu, petani Sukolilo terlihat paling besar jumlahnya, dan mereka tampak paling bersemangat. Secara bergelombang mereka memadati alun-alun Pati, merembet dari arah selatan, tidak kurang dari empat puluh truk. Mereka berduyun-duyun ke alun-alun kota sambil meneriakkan yel-yel “hidup petani!” berulang-ulang. Ngardi, lurah dari desa Baturejo, kecamatan Sukolilo, sehari sebelum acara dimulai bahkan sudah berkeliling ke seluruh desanya. Sambil membawa mobil pribadinya, ia berkeliling melakukan woro-woro agar seluruh warganya terlibat aktif dengan aksi ini.
“Sedulur-sedulur ayo podho bebareng mangkat sesuk ning alun-alun. Nyuarakno petani sing sakini pdoho urop sengsoro. Pupuk longko, beras murah, petani tambah susah" (Saudara-saudara, mari kita pergi ke alu-alun besok. Menyuarakan nasib petani yang sekarang lagi sengsara. Pupuk langka di pasaran, beras murah, petani bertambah sengsara). Fenomena ini mungkin terkesan tidak lazim. Di dalam kondisi desa yang semula dianggap “adem ayem”, tiba-tiba menggelegar suara penderitaan, dan ajakan untuk melakukan aksi bersama. Saya tertegun, bukankah yang selama ini selalu menjadi kelompok pasif adalah petani? Sudah habiskah masa kesabaran petani di Pati? Pertanyaan-pertanyaan ini menggugah saya untuk terus mencari pengetahuan sejauh mungkin mengenai dinamika petani yang kini bergolak. Baca selanjutnya>>