FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Bomo, Saksi Perubahan


Dina Amalia Susamto
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahap 3 di komunitas Orang Sakai, Riau


Seorang Bomo dalam struktur masyarakat Sakai sejak masa lalu merupakan seorang yang istimewa memperantarai dunia manusia dan dunia para hantu. Seorang Bomo berpengaruh dalam menentukan jalan pikiran masyarakat melalui lembaga yang mengurusi keyakinan animisme atau tradisi yang bersangkutan dengan alam atau mahluk halus termasuk pengobatan (dikir). Setelah masuknya Islam Bomo hanya tinggal memegang peran pengobatan, sedangkan upacara keagamaan dipegang oleh kholifah. Masuknya agama Islam tidak hanya mengurangi wewenang Bomo, bahkan ketika gerakan islam Wahabiah yaitu aliran ahlusunah Wal jamaah masuk dari Sumatra bagian Barat, praktik pengobatan dikir dilarang.

Akan tetapi aliran apapun dalam agama Islam yang masuk pada masyarakat Sakai sejak masa kesultanan Siak Sri Indrapura, yang sangat terkenal adalah Naqsabandyah yang diajarkan oleh Abdul Wahab Rokan, tradisi pengobatan dikir tetap dilakukan oleh masyarakat Sakai. Seperti yang ditulis oleh Parsudi Suparlan (1995), karena aliran keagamaan ini belum lama berada pada kehidupan orang Sakai, konflik-konflik antar aliran keagamaan cepat mereda. Sebagian orang Sakai tidak terlibat dalam konflik-konflik tersebut karena mereka tidak merasa menjadi bagian dari dua aliran yang sedang berkembang. Mereka masih lebih percaya pada keyakinan mereka sendiri yang sudah mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Sakai yang digambarkan Parsudi Suparlan sepuluh tahun yang lalu mungkin telah mengalami perubahan. Bagaimana Bomo masa kini memandang masyarakat Sakai melewati perubahan-perubahan waktu dan transformasi sosial budaya di dalam diri mereka.

[Baca selanjutnya....]