Sep 2008
Belajar Dari Senjatanya Orang-Orang Yang Kalah
September 25, 2008/ 17:37 | Filed in: CHRONICLES
Romiana Manurung
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran, Medan, Sumatra Utara.
Memahami apa yang dituliskan James C. Scott dalam ”Senjatanya Orang-Orang Yang Kalah” adalah kesulitan tersendiri bagi saya. Setiap kata yang James tuliskan membutuhkan beberapa menit bagi saya untuk dapat mencernanya dan hasilnya saya harus mengulang kembali kata-kata itu sampai beberapa kali. Begitulah yang saya rasakan sampai kemudian saya dapat memahaminya tanpa perlu mengulangnya kembali. Perubahan ini yang saya alami setelah diskusi saya dengan Dina dari Interseksi ketika ia datang ke Medan beberapa waktu lalu. Saya keluhkan ini kepadanya dan ia memberi saran agar saya membacanya dalam situasi yang tenang bukan saja ruang dan waktu tetapi juga fikiran dan konsentrasi saya.
Setelah saya sadari, akar masalah sebenarnya adalah ketika informasi yang telah saya dapatkan tentang gerakan KWRS Amplas dalam mempertahankan hak-hak perumahannya selama ini hanya saya rekam di kepala dan membiarkannya mengendap begitu saja.
Dina memang berulangkali mengingatkan saya agar membuat transkrip, menurutnya kalau transkrip langsung dibuat kita akan segera tahu data apa lagi yang akan dibutuhkan dan selain itu juga akan sangat membantu dalam membuat analisis. Ini mempermudah kita juga untuk berkonsentrasi pada hal lain. Sempat Dina meledek saya, katanya biasanya dalam melakukan penelitian terlebih dahulu dituliskan transkripnya baru analisisnya. Sementara saya terbalik, analisisnya sudah saya buat sebelum transkrip itu saya tuliskan.[Baca selanjutnya...]
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran, Medan, Sumatra Utara.
- Tulisan Romiana Sebelumnya
- Bingung Aku!
Baca Juga Kronika Terkait
- Jati Mulya di Bulan Puasa
- Perjalananku ke Solo
- Narasi Kecil Kota Bahagia
- Observasi dan Wawancara
- Dokumen yang Menyelamatkanku
- Ini Medan, Bung!
- Pelayanan Kesehatan di Banjar
- Dari Interim Meeting
- Pertanyaan ke Observasi
- Perjalanan Wawancara ke Malang
- Bingung Aku!
Memahami apa yang dituliskan James C. Scott dalam ”Senjatanya Orang-Orang Yang Kalah” adalah kesulitan tersendiri bagi saya. Setiap kata yang James tuliskan membutuhkan beberapa menit bagi saya untuk dapat mencernanya dan hasilnya saya harus mengulang kembali kata-kata itu sampai beberapa kali. Begitulah yang saya rasakan sampai kemudian saya dapat memahaminya tanpa perlu mengulangnya kembali. Perubahan ini yang saya alami setelah diskusi saya dengan Dina dari Interseksi ketika ia datang ke Medan beberapa waktu lalu. Saya keluhkan ini kepadanya dan ia memberi saran agar saya membacanya dalam situasi yang tenang bukan saja ruang dan waktu tetapi juga fikiran dan konsentrasi saya.
Setelah saya sadari, akar masalah sebenarnya adalah ketika informasi yang telah saya dapatkan tentang gerakan KWRS Amplas dalam mempertahankan hak-hak perumahannya selama ini hanya saya rekam di kepala dan membiarkannya mengendap begitu saja.
Dina memang berulangkali mengingatkan saya agar membuat transkrip, menurutnya kalau transkrip langsung dibuat kita akan segera tahu data apa lagi yang akan dibutuhkan dan selain itu juga akan sangat membantu dalam membuat analisis. Ini mempermudah kita juga untuk berkonsentrasi pada hal lain. Sempat Dina meledek saya, katanya biasanya dalam melakukan penelitian terlebih dahulu dituliskan transkripnya baru analisisnya. Sementara saya terbalik, analisisnya sudah saya buat sebelum transkrip itu saya tuliskan.[Baca selanjutnya...]
Jati Mulya di Bulan Puasa
September 25, 2008/ 04:01 | Filed in: CHRONICLES
Ingwuri Handayani
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada Desantara, Institute for Cultural Studies, Depok, Jawa Barat.
Seorang peserta dialog MADIA-KPSM di medan pada 15-17 Februari 2001[#]
Siang begitu terik saat saya keluar dari kantor di Depok. Sungguh tidak mudah menaklukkan hati untuk mengajaknya keluar di saat puasa seperti ini. Apalagi, saya harus berganti-ganti angkot untuk sampai ke Jati Mulya. Tetapi, ini harus dilakukan. Sengaja saya memilih datang lagi di bulan berkah ini, untuk melihat gerak kultural masyarakat yang biasanya berbeda dari bulan di lain Ramadhan.
Kedatangan kali ini, saya ingin mencatat monografi desa di Jati Mulya. Saya, sengaja datang tidak terlalu pagi, supaya saya tak mengganggu aktivitas lurah dan perangkat desa di Jati Mulya, di samping, saya juga tidak ingin terlalu lama menunggu buka karena kalau berangkat pagi, siang hari akan berdampak pada kondisi fisik, terutama melawan haus.
Waktu siang menjelang sore, juga memungkinkan untuk berbincang dengan perangkat, karena beberapa pekerjaan sudah terselesaikan di waktu sebelumnya. Sayang, saat saya sampai di sana, sekitar pukul 14.13, hanya ada tiga orang yang berada kantor desa Jati Mulya.
[Baca selanjutnya...]
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada Desantara, Institute for Cultural Studies, Depok, Jawa Barat.
“Hubungan harmonis antar-agama selama ini sesungguhnya semu. Kerukunan yang ada bersifat elitis, tidak menjangkau lapisan masyarakat bawah. Karena itu, situasi yang ada sesungguhnya bukan lah rukun, melainkan acuh tak acuh. Padahal masyarakat kita sebenarnya bagaikan kawah gunung berapi yang siap meledak”
Seorang peserta dialog MADIA-KPSM di medan pada 15-17 Februari 2001[#]
- Tulisan Ingwuri Sebelumnya
- Belajar Spradley di Jatimulya
Baca Juga Kronika Terkait
- Perjalananku ke Solo
- Narasi Kecil Kota Bahagia
- Observasi dan Wawancara
- Bingung Aku!
- Dokumen yang Menyelamatkanku
- Ini Medan, Bung!
- Pelayanan Kesehatan di Banjar
- Dari Interim Meeting
- Pertanyaan ke Observasi
- Perjalanan Wawancara ke Malang
- Belajar Spradley di Jatimulya
Siang begitu terik saat saya keluar dari kantor di Depok. Sungguh tidak mudah menaklukkan hati untuk mengajaknya keluar di saat puasa seperti ini. Apalagi, saya harus berganti-ganti angkot untuk sampai ke Jati Mulya. Tetapi, ini harus dilakukan. Sengaja saya memilih datang lagi di bulan berkah ini, untuk melihat gerak kultural masyarakat yang biasanya berbeda dari bulan di lain Ramadhan.
Kedatangan kali ini, saya ingin mencatat monografi desa di Jati Mulya. Saya, sengaja datang tidak terlalu pagi, supaya saya tak mengganggu aktivitas lurah dan perangkat desa di Jati Mulya, di samping, saya juga tidak ingin terlalu lama menunggu buka karena kalau berangkat pagi, siang hari akan berdampak pada kondisi fisik, terutama melawan haus.
Waktu siang menjelang sore, juga memungkinkan untuk berbincang dengan perangkat, karena beberapa pekerjaan sudah terselesaikan di waktu sebelumnya. Sayang, saat saya sampai di sana, sekitar pukul 14.13, hanya ada tiga orang yang berada kantor desa Jati Mulya.
[Baca selanjutnya...]
Diskusi Dwibulanan: HAM dan Demokrasi Lokal
September 21, 2008/ 18:18 | Filed in: MONTHLY DISCUSSION
Diskusi bulanan Yayasan Interseksi putaran ke-22 akan membahas tema problemtik HAM dan Demokrasi Lokal di Indonesia. Pembicara yang akan memantik diskusi kali ini adalah Samuel Gultom, MA, program officer HAM Yayasan Tifa, Jakarta. Diskusi akan diadakan pada
Hari/tgl: Senin, 22 September 2008
Waktu: Jam 15.00 - selesai disambung buka puasa
Tempat: Kantor Yayasan Interseksi
Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 39
RT 003/RW 01, Kelurahan Lenteng Agung
Jakarta Selatan 12610
Telp./Fax.: 021 7820 444
Email: office [at] interseksi [dot] org; interseksi [at] gmail [dot] com Seperti biasa, karena keterbatasan tempat, diskusi ini hanya untuk jumlah peserta yang terbatas. Silakan konfirmasikan kehadiran Anda melalui 021-7820 444 (Risna) atau email ke interseksi[at]gmail[dot]com
Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 39
RT 003/RW 01, Kelurahan Lenteng Agung
Jakarta Selatan 12610
Telp./Fax.: 021 7820 444
Email: office [at] interseksi [dot] org; interseksi [at] gmail [dot] com Seperti biasa, karena keterbatasan tempat, diskusi ini hanya untuk jumlah peserta yang terbatas. Silakan konfirmasikan kehadiran Anda melalui 021-7820 444 (Risna) atau email ke interseksi[at]gmail[dot]com
Perjalananku ke Solo
September 18, 2008/ 18:16 | Filed in: CHRONICLES
Rini Kusnadi
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI), Jakarta.
Solo adalah kota yang aku kunjungi setelah kota Malang, tapi bedanya kali ini aku tidak lagi menggunakan kereta api untuk sampai ke Solo. Dari Malang aku naik travel ke Solo. Bapak dan Ibu Utomolah yang berbaik hati mau memesankan travel langganan mereka untuk ke Solo. Aku kira perjalanan ke Solo dengan travel bisa lebih cepat dibandingkan jika menggunakan kereta api. Tetapi perkiraanku ternyata salah. Travel memang menjemputku di rumah Bapak Utomo jam Sembilan pagi, tapi setelah itu kami berputar-putar kota Solo untuk menjemput para penumpang yang lain. Hatiku sedikit kesal, karna perjalanan jadi begitu lama, tapi setelah aku pikir-pikir kembali aku senang juga karna bisa keliling kota Malang dengan gratis.[Baca selanjutnya...]
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI), Jakarta.
- Tulisan Rini Sebelumnya
- Perjalanan Wawancara ke Malang
Baca Juga Kronika Terkait
- Narasi Kecil Kota Bahagia
- Observasi dan Wawancara
- Bingung Aku!
- Dokumen yang Menyelamatkanku
- Ini Medan, Bung!
- Pelayanan Kesehatan di Banjar
- Dari Interim Meeting
- Pertanyaan ke Observasi
- Belajar Spradley di Jatimulya
- Perjalanan Wawancara ke Malang
BUNGA DAN TEMBOK
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kaukehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kaukehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok
Tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersamad
Engan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di mana pun – tirani harus tumbang!
Solo, ’87 - ‘88
Wiji Thukul
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kaukehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kaukehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok
Tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersamad
Engan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di mana pun – tirani harus tumbang!
Solo, ’87 - ‘88
Wiji Thukul
Solo adalah kota yang aku kunjungi setelah kota Malang, tapi bedanya kali ini aku tidak lagi menggunakan kereta api untuk sampai ke Solo. Dari Malang aku naik travel ke Solo. Bapak dan Ibu Utomolah yang berbaik hati mau memesankan travel langganan mereka untuk ke Solo. Aku kira perjalanan ke Solo dengan travel bisa lebih cepat dibandingkan jika menggunakan kereta api. Tetapi perkiraanku ternyata salah. Travel memang menjemputku di rumah Bapak Utomo jam Sembilan pagi, tapi setelah itu kami berputar-putar kota Solo untuk menjemput para penumpang yang lain. Hatiku sedikit kesal, karna perjalanan jadi begitu lama, tapi setelah aku pikir-pikir kembali aku senang juga karna bisa keliling kota Malang dengan gratis.[Baca selanjutnya...]
Narasi Kota Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS)
September 17, 2008/ 18:21 | Filed in: CHRONICLES
Ana Westy
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja sebagai Peneliti Kebijakan Kesehatan di Perkumpulan Inisiatif-Bandung.
Kota Banjar, dahulu tak pernah mengundang minat khusus pada diri saya. Namun ketika bekerja dan bersentuhan dengan isu governance, Kota Banjar langsung mencuri perhatian saya. Beberapa kali, saya pernah melewati kota ini ketika saya sedang kuliah kerja nyata (KKN) di salah satu desa di pantai selatan Jawa. Waktu itu saya heran, mengapa Kota ini terletak di tengah-tengah Kabupaten Ciamis.
Kalau digambarkan, setelah keluar dari wilayah Kabupaten Tasikmalaya, kita langsung memasuki Kabupaten Ciamis. Kemudian sekitar 20 Km melewati daerah ini, Gerbang Kota Banjar telah terpampang di depan mata. Dan kira-kira 10 Km melewati Kota Banjar, kita akan wilayah memasuki Kabupaten Ciamis kembali. Cukup membingungkan.
Namun, rupanya Kota Banjar dahulu adalah temasuk salah satu kecamatan di Kabupaten Ciamis pada kurun waktu Tahun 1937-1940, lalu berubah menjadi kewedanaan pada Tahun 1941-1992. Dari Tahun 1992 – 20 Februari 2003 Banjar merupakan Kota Administratif dan dengan semangat otonomi daerah pada 21 Februari 2003, Banjar resmi menjadi kota.
Memasuki wilayah Kota Banjar kita disambut oleh gerbang kota, kemudian sebuah jembatan panjang dengan Sungai Citanduy mengalir dibawahnya menanti untuk dilewati. Menyeberangi jembatan, jalan protokol yang cukup lengang ditingkahi dengan rutinitas terminal yang tak terlalu ramai adalah pemandangan berikutnya.
Satu hal yang menarik, sepanjang jalan di Kota Banjar, yang terlihat hanyalah deretan ruko dan minimnya jumlah lalu-lintas kendaraan. Kurang dari 5 kendaraan yang sabar menunggu lampu merah berubah hijau di setiap perempatan. Jelas saja, penduduk Kota Banjar ini kurang dari 200.000 jiwa. Tak ada bangunan di Kota Banjar yang lebih dari tiga lantai karena belum ada kebutuhan untuk itu. Tapi ada warga juga yang mengatakan, supaya kebersihan dan keindahan kota tetap terjaga.
[Baca selanjutnya...]
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja sebagai Peneliti Kebijakan Kesehatan di Perkumpulan Inisiatif-Bandung.
- Baca Juga Kronika Terkait
- Observasi dan Wawancara
- Bingung Aku!
- Dokumen yang Menyelamatkanku
- Ini Medan, Bung!
- Pelayanan Kesehatan di Banjar
- Dari Interim Meeting
- Pertanyaan ke Observasi
- Perjalanan Wawancara ke Malang
- Belajar Spradley di Jatimulya
Kota Banjar, dahulu tak pernah mengundang minat khusus pada diri saya. Namun ketika bekerja dan bersentuhan dengan isu governance, Kota Banjar langsung mencuri perhatian saya. Beberapa kali, saya pernah melewati kota ini ketika saya sedang kuliah kerja nyata (KKN) di salah satu desa di pantai selatan Jawa. Waktu itu saya heran, mengapa Kota ini terletak di tengah-tengah Kabupaten Ciamis.
Kalau digambarkan, setelah keluar dari wilayah Kabupaten Tasikmalaya, kita langsung memasuki Kabupaten Ciamis. Kemudian sekitar 20 Km melewati daerah ini, Gerbang Kota Banjar telah terpampang di depan mata. Dan kira-kira 10 Km melewati Kota Banjar, kita akan wilayah memasuki Kabupaten Ciamis kembali. Cukup membingungkan.
Namun, rupanya Kota Banjar dahulu adalah temasuk salah satu kecamatan di Kabupaten Ciamis pada kurun waktu Tahun 1937-1940, lalu berubah menjadi kewedanaan pada Tahun 1941-1992. Dari Tahun 1992 – 20 Februari 2003 Banjar merupakan Kota Administratif dan dengan semangat otonomi daerah pada 21 Februari 2003, Banjar resmi menjadi kota.
Memasuki wilayah Kota Banjar kita disambut oleh gerbang kota, kemudian sebuah jembatan panjang dengan Sungai Citanduy mengalir dibawahnya menanti untuk dilewati. Menyeberangi jembatan, jalan protokol yang cukup lengang ditingkahi dengan rutinitas terminal yang tak terlalu ramai adalah pemandangan berikutnya.
Satu hal yang menarik, sepanjang jalan di Kota Banjar, yang terlihat hanyalah deretan ruko dan minimnya jumlah lalu-lintas kendaraan. Kurang dari 5 kendaraan yang sabar menunggu lampu merah berubah hijau di setiap perempatan. Jelas saja, penduduk Kota Banjar ini kurang dari 200.000 jiwa. Tak ada bangunan di Kota Banjar yang lebih dari tiga lantai karena belum ada kebutuhan untuk itu. Tapi ada warga juga yang mengatakan, supaya kebersihan dan keindahan kota tetap terjaga.
[Baca selanjutnya...]
Observasi dan Wawancara
September 16, 2008/ 18:21 | Filed in: CHRONICLES
M Subhi Azhari
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada The Wahid Institute, Jakarta.
Rumusan pertanyaan riset yang sudah di susun sudah lebih fokus setelah saya memperoleh beberapa data awal hasil riset pustaka dan juga hasil dari monitoring kasus di Ciputat beberapa hari sebelumnya. Karena itu pada tanggal 22 Agustus saya sudah mulai melakukan wawancara dengan narasumber. Narasumber pertama yang saya wawancara adalah Zafrullah Ahmad Pontoh, salah satu petingi JAI yang cukup memahami persoalan yang dihadapi Ahmadiyah. Selain itu, narasumber ini adalah orang yang cukup saya kenal secara pribadi karena sering terlibat bersama dalam berbagai aktifitas. Pertimbangan kedekatan secara personal ternyata sangat membantu saya dalam mengajukan berbagai pertanyaan dan ternyata mendapat respon yang sangat baik. Karena itu berbagai informasi yang ia berikan sudah memenuhi target yang ingin saya gali, meskipun beberapa pertanyaan harus diperkuat dengan data tertulis. Namun hal itu tidak menjadi masalah karena yang bersangkutan juga dengan senang hati membantu saya menyediakan data-data tersebut.
Dalam pertemuan pertama ini wawancara dilakukan di markas JAI, Jl. Balikpapan Jakarta Pusat karena narasumber setiap hari beraktifitas di sini. Ditemani segelas teh hangat, wawancara berlangsung cair dan akrab sehingga tidak terasa 1,5 jam waktu berlalu. Dengan penuh antusian, ZA Pontoh menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan. Bahkan beberapa pertanyaan dijawab sangat panjang, terkadang keluar dari konteks pertanyaan. Namun hal itu saya anggap bagian penting dari metode agar yang bersangkutan lebih nyaman, karenanya saya biarkan saja.[Baca selanjutnya...]
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada The Wahid Institute, Jakarta.
- Baca Juga Kronika Terkait
- Bingung Aku!
- Dokumen yang Menyelamatkanku
- Ini Medan, Bung!
- Pelayanan Kesehatan di Banjar
- Dari Interim Meeting
- Pertanyaan ke Observasi
- Perjalanan Wawancara ke Malang
- Belajar Spradley di Jatimulya
Rumusan pertanyaan riset yang sudah di susun sudah lebih fokus setelah saya memperoleh beberapa data awal hasil riset pustaka dan juga hasil dari monitoring kasus di Ciputat beberapa hari sebelumnya. Karena itu pada tanggal 22 Agustus saya sudah mulai melakukan wawancara dengan narasumber. Narasumber pertama yang saya wawancara adalah Zafrullah Ahmad Pontoh, salah satu petingi JAI yang cukup memahami persoalan yang dihadapi Ahmadiyah. Selain itu, narasumber ini adalah orang yang cukup saya kenal secara pribadi karena sering terlibat bersama dalam berbagai aktifitas. Pertimbangan kedekatan secara personal ternyata sangat membantu saya dalam mengajukan berbagai pertanyaan dan ternyata mendapat respon yang sangat baik. Karena itu berbagai informasi yang ia berikan sudah memenuhi target yang ingin saya gali, meskipun beberapa pertanyaan harus diperkuat dengan data tertulis. Namun hal itu tidak menjadi masalah karena yang bersangkutan juga dengan senang hati membantu saya menyediakan data-data tersebut.
Dalam pertemuan pertama ini wawancara dilakukan di markas JAI, Jl. Balikpapan Jakarta Pusat karena narasumber setiap hari beraktifitas di sini. Ditemani segelas teh hangat, wawancara berlangsung cair dan akrab sehingga tidak terasa 1,5 jam waktu berlalu. Dengan penuh antusian, ZA Pontoh menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan. Bahkan beberapa pertanyaan dijawab sangat panjang, terkadang keluar dari konteks pertanyaan. Namun hal itu saya anggap bagian penting dari metode agar yang bersangkutan lebih nyaman, karenanya saya biarkan saja.[Baca selanjutnya...]
Bingung Aku!
September 15, 2008/ 19:36 | Filed in: CHRONICLES
Romiana Manurung
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran, Medan, Sumatra Utara.
Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Menuliskan jurnal harian yang kerap “ditagih” pak Hikmat melalui Dina, bagiku terasa berat sekali. Setiap kali aku selesai menulis, aku selalu tidak puas dengan hasil tulisanku, sehingga kuulang, kuulang dan kuulang. Akhirnya semua menumpuk tak satupun yang jelas.
Ketika Dina bertanya padaku tentang hasil wawancaraku, aku bisa memberikan informasi yang banyak (menurut Dina) sehingga aku tidak perlu lagi sebenarnya mencari data kelapangan karena hampir semua data yang dibutuhkan sudah ada di tanganku.
Gerakan Kelompok Warga Rumah Susun (KWRS) Amplas dalam mempertahankan hak-hak perumahan, yang menjadi subjek penelitianku, memang tidak asing bagiku. Baik hubungan dengan warga di rusun secara kelembagaan (YPRP – KWRS), secara pribadi (beberapa kali mereka curhat tentang masalah rumah tangganya) ataupun perkembangan kasusnya aku sudah mulai hapal. Karena memang selain melakukan penelitian, sejak awal aku sudah menjadi bagian yang ikut dalam advokasi kasus ini. Tapi lagi-lagi untuk menuliskannya menjadi sebuah laporan, cerita atau jurnal atau apalah aku kerap berucap “ampun”.
Huh…!!!, kadang-kadang aku berfikir lebih baik aku mewawancarai mereka saja terus dan terus tapi jangan suruh aku menulisannya.hehe.
[Baca selanjutnya...]
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran, Medan, Sumatra Utara.
Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Menuliskan jurnal harian yang kerap “ditagih” pak Hikmat melalui Dina, bagiku terasa berat sekali. Setiap kali aku selesai menulis, aku selalu tidak puas dengan hasil tulisanku, sehingga kuulang, kuulang dan kuulang. Akhirnya semua menumpuk tak satupun yang jelas.
- Baca Juga Kronika Terkait
- Dokumen yang Menyelamatkanku
- Ini Medan, Bung!
- Pelayanan Kesehatan di Banjar
- Dari Interim Meeting
- Pertanyaan ke Observasi
- Perjalanan Wawancara ke Malang
- Belajar Spradley di Jatimulya
Ketika Dina bertanya padaku tentang hasil wawancaraku, aku bisa memberikan informasi yang banyak (menurut Dina) sehingga aku tidak perlu lagi sebenarnya mencari data kelapangan karena hampir semua data yang dibutuhkan sudah ada di tanganku.
Gerakan Kelompok Warga Rumah Susun (KWRS) Amplas dalam mempertahankan hak-hak perumahan, yang menjadi subjek penelitianku, memang tidak asing bagiku. Baik hubungan dengan warga di rusun secara kelembagaan (YPRP – KWRS), secara pribadi (beberapa kali mereka curhat tentang masalah rumah tangganya) ataupun perkembangan kasusnya aku sudah mulai hapal. Karena memang selain melakukan penelitian, sejak awal aku sudah menjadi bagian yang ikut dalam advokasi kasus ini. Tapi lagi-lagi untuk menuliskannya menjadi sebuah laporan, cerita atau jurnal atau apalah aku kerap berucap “ampun”.
Huh…!!!, kadang-kadang aku berfikir lebih baik aku mewawancarai mereka saja terus dan terus tapi jangan suruh aku menulisannya.hehe.
[Baca selanjutnya...]
Dokumen yang Menyelamatkanku dari Bahasa Jawa
September 12, 2008/ 18:03 | Filed in: CHRONICLES
Hilma Safitri
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja sebagai Peneliti pada AKATIGA, Bandung.
Kedatangan ke FPPB, pertama kali hanya dengan bekal bahwa saya pernah berkenalan dengan Mas Handoko, yang kebetulan pernah saya undang untuk menjadi salah satu pengajar tamu pada Sekolah Politik Reforma Agraria angkatan I, diawal tahun 2007. Kedatanganku ke FPPB juga dalam rangka mengantar seorang teman – kandidat PhD dari Toronto University, Toronto Canada – meminta aku untuk menemani di awal studi lapangannya di tempat yang sama. Kedua faktor tersebut tidak menjadi sesuatu hal yang mengganjal, karena memang untuk persoalan mengkaji dan studi, FPPB termasuk baru aku datangi. Jika sebelumnya pernah ‘bertemu’ dengan teman-teman FPPB, tentunya bukan untuk konteks kajian atau studi. Bahkan, kedua factor tersebut menjadikan satu alasan bagi saya untuk dapat mempelajari (kembali) organisasi tani lain yang ada di Indonesia, selain Serikat Petani Pasundan (SPP) dan Serikat Tani Bengkulu (STAB). Demikianlah, dalam konteks mempelajari seluk beluk organisasi, bagi saya, FPPB adalah organisasi tani ketiga yang saya pelajari.
Walaupun ketiga organisasi yang sudah dan sedang saya pelajari adalah Organisasi Tani, masing-masing memiliki ciri khasnya masing-masing. Salah satunya adalah bagaimana mereka melakukan upaya pendokumentasian seluruh korespondensi surat-menyurat antara organisasi dengan jaringan atau dengan pihak-pihak terkait didalam penyelesaian kasus (seperti Kepolisian, departemen terkait, institusi pengadilan dsb.). FPPB termasuk organisasi yang baik didalam memperlakukan berkas-berkas surat menyurat, mereka melakukan filing yang baik, sehingga bagi siapapun yang akan mengaksesnya dengan mudah kemudian mengerti apa yang sedang terjadi di FPPB. Saya termasuk salah satu yang betul-betul mendapatkan manfaat dari upaya baik mereka, karena saya kemudian mengandalkan dokumen-dokumen tersebut sebagai awalan diskusi dengan seluruh personil FPPB.
[Baca selanjutnya...]
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja sebagai Peneliti pada AKATIGA, Bandung.
Kedatangan ke FPPB, pertama kali hanya dengan bekal bahwa saya pernah berkenalan dengan Mas Handoko, yang kebetulan pernah saya undang untuk menjadi salah satu pengajar tamu pada Sekolah Politik Reforma Agraria angkatan I, diawal tahun 2007. Kedatanganku ke FPPB juga dalam rangka mengantar seorang teman – kandidat PhD dari Toronto University, Toronto Canada – meminta aku untuk menemani di awal studi lapangannya di tempat yang sama. Kedua faktor tersebut tidak menjadi sesuatu hal yang mengganjal, karena memang untuk persoalan mengkaji dan studi, FPPB termasuk baru aku datangi. Jika sebelumnya pernah ‘bertemu’ dengan teman-teman FPPB, tentunya bukan untuk konteks kajian atau studi. Bahkan, kedua factor tersebut menjadikan satu alasan bagi saya untuk dapat mempelajari (kembali) organisasi tani lain yang ada di Indonesia, selain Serikat Petani Pasundan (SPP) dan Serikat Tani Bengkulu (STAB). Demikianlah, dalam konteks mempelajari seluk beluk organisasi, bagi saya, FPPB adalah organisasi tani ketiga yang saya pelajari.
- Baca Juga Kronika Terkait
- Ini Medan, Bung!
- Pelayanan Kesehatan di Banjar
- Dari Interim Meeting
- Pertanyaan ke Observasi
- Perjalanan Wawancara ke Malang
- Belajar Spradley di Jatimulya
Walaupun ketiga organisasi yang sudah dan sedang saya pelajari adalah Organisasi Tani, masing-masing memiliki ciri khasnya masing-masing. Salah satunya adalah bagaimana mereka melakukan upaya pendokumentasian seluruh korespondensi surat-menyurat antara organisasi dengan jaringan atau dengan pihak-pihak terkait didalam penyelesaian kasus (seperti Kepolisian, departemen terkait, institusi pengadilan dsb.). FPPB termasuk organisasi yang baik didalam memperlakukan berkas-berkas surat menyurat, mereka melakukan filing yang baik, sehingga bagi siapapun yang akan mengaksesnya dengan mudah kemudian mengerti apa yang sedang terjadi di FPPB. Saya termasuk salah satu yang betul-betul mendapatkan manfaat dari upaya baik mereka, karena saya kemudian mengandalkan dokumen-dokumen tersebut sebagai awalan diskusi dengan seluruh personil FPPB.
[Baca selanjutnya...]
Ini Medan, Bung!
September 09, 2008/ 02:41 | Filed in: CHRONICLES
Dina Amalia Susamto
Peneliti Yayasan Interseksi
Sejak pertama aku mendengar kabar dari Pak Hikmat, aku menggantikan beliau untuk berangkat ke Medan menjadi supervisor Romi, aku bahagia sekali. Ini tugas pertamaku ke daerah dan aku merasa beruntung mendapat kesempatan ke lapangan—suatu hal yang jarang dilakukan andai aku memilih bekerja di universitas.
Sebelum ke Medan aku merasa sudah tidak enak badan. Aku juga terus berpikir, perjalanan nanti adalah perjalanan pertamaku menggunakan pesawat terbang, aku takut sebenarnya. Sebuah ketakutan yang wajar karena memori ini memang hanya diisi oleh peristiwa kecelakaan pesawat yang puluhan kali sudah terjadi dengan mengenaskan. Tapi aku tidak boleh menyerah, tidak boleh sakit, nanti tidak jadi ke Medan!
Pesawat di Bandara berangkat pukul 11.00. Sekujur tubuhku dibalut dingin begitu diumumkan sebentar lagi take off. Berkali-kali aku merasa gelisah memeriksa seatbelt, mengencangkannya, sampai benar-benar kencang, hingga kurasakan perutku kejang dan mual entah oleh ikatan yang begitu kuat atau oleh deraan rasa cemas. Tapi kukira dua-duanya. Pesawat mulai naik, aku tidak takut ketinggian—aku terbiasa naik gunung—tapi dalam pesawat ini perasaanku melayang, jantungku berdetak sangat kencang dan aku hanya bisa berdoa. Aku harus percaya pada pilot yang mengendalikan pesawat, aku harus percaya pada Lion air yang kutumpangi—meskipun begitu buruk citra penerbangan Indonesia—dan terlebih lagi harus percaya, hanya Tuhan yang mempunyai nyawa. Yang harus terjadi terjadilah! Tapi aku memohon aku selamat tak kurang suatu apa sampai di Medan.
[Baca selanjutnya...]
Peneliti Yayasan Interseksi

Sebelum ke Medan aku merasa sudah tidak enak badan. Aku juga terus berpikir, perjalanan nanti adalah perjalanan pertamaku menggunakan pesawat terbang, aku takut sebenarnya. Sebuah ketakutan yang wajar karena memori ini memang hanya diisi oleh peristiwa kecelakaan pesawat yang puluhan kali sudah terjadi dengan mengenaskan. Tapi aku tidak boleh menyerah, tidak boleh sakit, nanti tidak jadi ke Medan!
Pesawat di Bandara berangkat pukul 11.00. Sekujur tubuhku dibalut dingin begitu diumumkan sebentar lagi take off. Berkali-kali aku merasa gelisah memeriksa seatbelt, mengencangkannya, sampai benar-benar kencang, hingga kurasakan perutku kejang dan mual entah oleh ikatan yang begitu kuat atau oleh deraan rasa cemas. Tapi kukira dua-duanya. Pesawat mulai naik, aku tidak takut ketinggian—aku terbiasa naik gunung—tapi dalam pesawat ini perasaanku melayang, jantungku berdetak sangat kencang dan aku hanya bisa berdoa. Aku harus percaya pada pilot yang mengendalikan pesawat, aku harus percaya pada Lion air yang kutumpangi—meskipun begitu buruk citra penerbangan Indonesia—dan terlebih lagi harus percaya, hanya Tuhan yang mempunyai nyawa. Yang harus terjadi terjadilah! Tapi aku memohon aku selamat tak kurang suatu apa sampai di Medan.
[Baca selanjutnya...]
Universalisme Pelayanan Kesehatan di Kota Banjar
September 08, 2008/ 17:48 | Filed in: CHRONICLES
Ana Westy
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja sebagai Peneliti Kebijakan Kesehatan di Perkumpulan Inisiatif-Bandung.
Kesehatan adalah Hak
Pelayanan kesehatan dasar sebagai bagian dari hak asasi manusia dan hak dasar warga negara merupakan kewajiban negara yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Hal ini bahkan sudah menjadi keputusan politik dan hukum internasional, juga amanah konstitusi nasional. Pertanyaannya, sudahkah pemerintah melaksanakan kewajibannya tersebut. Jika selama ini belum, mengapa? Lalai? Korupsi? Salah-urus? Keliru-cara pandang? Sekedar kesalahan teknis, ataukah paradigmatis?
Sebagai warga dunia, dimana pun berada, setiap orang berhak atas akses pada pelayanan kesehatan dan kontrol terhadap kebijakan-kebijakan kesehatan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak (public goods and service). Hak ini telah dijamin dan menjadi kesepakatan global yang dituangkan dalam berbagai dokumen atau perjanjian internasional, mulai dari Deklarasi Umum Hak-Hak Asasi Manusia (DUHAM) Tahun 1948 sampai yang terakhir, misalnya, Penjelasan Umum (General Comments) No.14/2000 dari Kovenan Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang khusus mengatur kewajiban negara dalam penegakan hak-hak atas perawatan dan pelayanan kesehatan warganya. Di Indonesia, kovenan ini juga sudah diratifikasi melalui UU No. 11/2005. Oleh karena itu setiap kelalaian yang dilakukan negara merupakan pelanggaran hak-hak asasi manusia.
[Baca selanjutnya...]
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja sebagai Peneliti Kebijakan Kesehatan di Perkumpulan Inisiatif-Bandung.
Kesehatan adalah Hak
Pelayanan kesehatan dasar sebagai bagian dari hak asasi manusia dan hak dasar warga negara merupakan kewajiban negara yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Hal ini bahkan sudah menjadi keputusan politik dan hukum internasional, juga amanah konstitusi nasional. Pertanyaannya, sudahkah pemerintah melaksanakan kewajibannya tersebut. Jika selama ini belum, mengapa? Lalai? Korupsi? Salah-urus? Keliru-cara pandang? Sekedar kesalahan teknis, ataukah paradigmatis?
Sebagai warga dunia, dimana pun berada, setiap orang berhak atas akses pada pelayanan kesehatan dan kontrol terhadap kebijakan-kebijakan kesehatan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak (public goods and service). Hak ini telah dijamin dan menjadi kesepakatan global yang dituangkan dalam berbagai dokumen atau perjanjian internasional, mulai dari Deklarasi Umum Hak-Hak Asasi Manusia (DUHAM) Tahun 1948 sampai yang terakhir, misalnya, Penjelasan Umum (General Comments) No.14/2000 dari Kovenan Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang khusus mengatur kewajiban negara dalam penegakan hak-hak atas perawatan dan pelayanan kesehatan warganya. Di Indonesia, kovenan ini juga sudah diratifikasi melalui UU No. 11/2005. Oleh karena itu setiap kelalaian yang dilakukan negara merupakan pelanggaran hak-hak asasi manusia.
[Baca selanjutnya...]
Catatan dari Interim Meeting Peneliti HAM dan Diversitas Kultural
September 07, 2008/ 04:08 | Filed in: REPORT
Posted by Irine H. Gayatri

Sebagai kegiatan lanjutan setelah workshop peneliti yang diselenggarakan oleh INTERSEKSI-HIVOS tentang HAM dan Diversitas Budaya, semua peserta mulai berangkat ke lapangan di wilayah penelitiannya masing-masing. Untuk mendiskusikan temuan awal dan hambatan-hambatan yang ditemui pada proses praktek penelitian lapangan, Interseksi mengundang semua peserta pelatihan yang melakukan praktek di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah untuk mengikuti sebuah interim meeting di kantor Interseksi di Lenteng Agung, tanggal 24 Agustus 2008.
Dari pembicaraan di forum pertemuan ini, tampaklah bahwa para peneliti menemukan banyak hal baru di lapangan, baik yang berkaitan dengan topik yang diangkat menjadi tema penelitian, sampai pada hubungan antara para peneliti dengan subyek yang diteliti serta beberapa hal yang muncul di luar dugaan atau,’tidak terencana sebagaimana dalam riset desain’. Suatu hal yang menonjol dalam cerita peneliti adalah bagaimana, hubungan antara peneliti dengan subyek sangat memperlihatkan hakikat sisi-sisi kemanusiaan. Dengan melihat sisi-sisi ini, justru memberikan ‘warning’ bagi kita, peneliti atau orang luar, agar tidak terjebak dengan satu metode riset saja (misalnya wawancara). Para peneliti mengungkapkan hal-hal yang menarik terhadap isu yang diteliti selain berdasarkan observasi di lapangan, juga dari kajian literatur yang dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti memang tidak berpretensi apapun, selain hanya mengungkapkan realitas yang inter subyektif sifatnya.[Baca selanjutnya...]

Sebagai kegiatan lanjutan setelah workshop peneliti yang diselenggarakan oleh INTERSEKSI-HIVOS tentang HAM dan Diversitas Budaya, semua peserta mulai berangkat ke lapangan di wilayah penelitiannya masing-masing. Untuk mendiskusikan temuan awal dan hambatan-hambatan yang ditemui pada proses praktek penelitian lapangan, Interseksi mengundang semua peserta pelatihan yang melakukan praktek di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah untuk mengikuti sebuah interim meeting di kantor Interseksi di Lenteng Agung, tanggal 24 Agustus 2008.
Dari pembicaraan di forum pertemuan ini, tampaklah bahwa para peneliti menemukan banyak hal baru di lapangan, baik yang berkaitan dengan topik yang diangkat menjadi tema penelitian, sampai pada hubungan antara para peneliti dengan subyek yang diteliti serta beberapa hal yang muncul di luar dugaan atau,’tidak terencana sebagaimana dalam riset desain’. Suatu hal yang menonjol dalam cerita peneliti adalah bagaimana, hubungan antara peneliti dengan subyek sangat memperlihatkan hakikat sisi-sisi kemanusiaan. Dengan melihat sisi-sisi ini, justru memberikan ‘warning’ bagi kita, peneliti atau orang luar, agar tidak terjebak dengan satu metode riset saja (misalnya wawancara). Para peneliti mengungkapkan hal-hal yang menarik terhadap isu yang diteliti selain berdasarkan observasi di lapangan, juga dari kajian literatur yang dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti memang tidak berpretensi apapun, selain hanya mengungkapkan realitas yang inter subyektif sifatnya.[Baca selanjutnya...]
Minoritas dan Diversitas: Cerita dari Kaliurang
September 03, 2008/ 23:04 | Filed in: REPORT
Posted by Hikmat Budiman

Sebagian peserta Roundtable Meeting Advokasi Hak Minoritas dan Masyarakat Adat di Indonesia
Sumber foto: Pusat Studi Asia Pasifik, UGM
Minoritas dan diversitas adalah dua persoalan krusial bagi masa depan Indonesia. Keduanya adalah dua sisi dari satu keping persoalan yang sama, yang sudah didiskusikan bahkan sejak sebelum negara Indonesia terbentuk, tapi yang oleh sebab-sebab tertentu tidak pernah benar-benar bisa diselesaikan secara menggembirakan. Minoritas adalah produk dari proses-proses sosial melalui apa perbedaan (difference) menjadi acuan untuk menemukan "yang lain", dan melahirkan praktek-praktek pembedaan (distinction) dalam sikap hidup sehari-hari antar kelompok sosial masyarakat. Diveritas menarik wacana tentang kebangsaan modern pada sebuah dilema tanpa putus: tarik-tolak antara dorongan meleburkan diri ke dalam bangsa dan kenyataan bahwa peleburan semacam itu dalam prakteknya lebih sering merupakan praktek perampasan oleh negara seperti yang terjadi dalam kasus hak-hak masyarakat adat. [Baca selanjutnya...]

Sebagian peserta Roundtable Meeting Advokasi Hak Minoritas dan Masyarakat Adat di Indonesia
Sumber foto: Pusat Studi Asia Pasifik, UGM
Minoritas dan diversitas adalah dua persoalan krusial bagi masa depan Indonesia. Keduanya adalah dua sisi dari satu keping persoalan yang sama, yang sudah didiskusikan bahkan sejak sebelum negara Indonesia terbentuk, tapi yang oleh sebab-sebab tertentu tidak pernah benar-benar bisa diselesaikan secara menggembirakan. Minoritas adalah produk dari proses-proses sosial melalui apa perbedaan (difference) menjadi acuan untuk menemukan "yang lain", dan melahirkan praktek-praktek pembedaan (distinction) dalam sikap hidup sehari-hari antar kelompok sosial masyarakat. Diveritas menarik wacana tentang kebangsaan modern pada sebuah dilema tanpa putus: tarik-tolak antara dorongan meleburkan diri ke dalam bangsa dan kenyataan bahwa peleburan semacam itu dalam prakteknya lebih sering merupakan praktek perampasan oleh negara seperti yang terjadi dalam kasus hak-hak masyarakat adat. [Baca selanjutnya...]
Dari Pertanyaan ke Observasi Awal
September 03, 2008/ 22:42 | Filed in: CHRONICLES
M Subhi Azhari
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada The Wahid Institute, Jakarta.
Proses penelitian ini persis dimulai pada tanggal 11 Agustus 2008, ketika saya memulai menyusun daftar pertanyaan untuk para narasumber. Daftar pertanyaan ini sesungguhnya adalah panduan umum yang tentu tidak akan saya ikuti secara rigid di lapangan mengingat segala informasi bisa dikembangkan sesuai dengan konteks yang dibutuhkan. Begitupula dalam menyusun daftar pertanyaan ini, saya membaginya kedalam 3 kelompok pertanyaan yang disesuaikan dengan bidang dan kompetensi setiap narasumber. Ketiga kelompok pertanyaan tersebut menggambarkan setiap perspektif dari informasi yang ingin digali dalam riset ini yakni kelompok pertanyaan untuk pemerintah/negara, kelompok pertanyaan untuk pengamat dan praktisi HAM serta yang terakhir kelompok pertanyaan untuk korban.
Pengelompokan seperti ini sengaja saya gunakan dengan harapan akan memenuhi tujuan dari riset ini yakni mengetahui bagaimana persepsi pemerintah/negara terhadap MUI sebagai organisasi keagamaan yang memiliki peranan sangat besar dalam lahirnya keputusan pemerintah (SKB) terhadap Ahmadiyah. Juga ketidakmampuan pemerintah menangkap gejala meningkatnya kekerasan pasca keluarnya fatwa MUI tentang Ahmadiyah. Karena dugaan sementara saya, pemerintah selama ini telah salah mempersepsikan MUI sebagai satu-satunya lembaga fatwa yang harus diikuti. Kesalahan persepsi itu telah menimbulkan pemihakan pemerintah dalam persoalan tafsir agama hanya kepada MUI. Padahal banyak lembaga keagamaan yang juga memiliki kompetensi mengeluarkan fatwa, namun tidak mendapat respon yang sebanding dari pemerintah ketimbang fatwa yang dikeluarkan MUI.[Baca selanjutnya...]
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada The Wahid Institute, Jakarta.
Proses penelitian ini persis dimulai pada tanggal 11 Agustus 2008, ketika saya memulai menyusun daftar pertanyaan untuk para narasumber. Daftar pertanyaan ini sesungguhnya adalah panduan umum yang tentu tidak akan saya ikuti secara rigid di lapangan mengingat segala informasi bisa dikembangkan sesuai dengan konteks yang dibutuhkan. Begitupula dalam menyusun daftar pertanyaan ini, saya membaginya kedalam 3 kelompok pertanyaan yang disesuaikan dengan bidang dan kompetensi setiap narasumber. Ketiga kelompok pertanyaan tersebut menggambarkan setiap perspektif dari informasi yang ingin digali dalam riset ini yakni kelompok pertanyaan untuk pemerintah/negara, kelompok pertanyaan untuk pengamat dan praktisi HAM serta yang terakhir kelompok pertanyaan untuk korban.
Pengelompokan seperti ini sengaja saya gunakan dengan harapan akan memenuhi tujuan dari riset ini yakni mengetahui bagaimana persepsi pemerintah/negara terhadap MUI sebagai organisasi keagamaan yang memiliki peranan sangat besar dalam lahirnya keputusan pemerintah (SKB) terhadap Ahmadiyah. Juga ketidakmampuan pemerintah menangkap gejala meningkatnya kekerasan pasca keluarnya fatwa MUI tentang Ahmadiyah. Karena dugaan sementara saya, pemerintah selama ini telah salah mempersepsikan MUI sebagai satu-satunya lembaga fatwa yang harus diikuti. Kesalahan persepsi itu telah menimbulkan pemihakan pemerintah dalam persoalan tafsir agama hanya kepada MUI. Padahal banyak lembaga keagamaan yang juga memiliki kompetensi mengeluarkan fatwa, namun tidak mendapat respon yang sebanding dari pemerintah ketimbang fatwa yang dikeluarkan MUI.[Baca selanjutnya...]