Sep 2006
Mengatur Siasat di Tengah Purifikasi
September 28, 2006/ 12:43 | Filed in: CHRONICLES
Technorati Profile
(Bagian Satu)
Posted by: Paring Waluyo Utomo
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Yayasan Interseksi
Saya telah membaca kiriman e-mail dari kawan-kawan. Terima kasih atas beberapa pertimbangan yang disampaikan kepada saya. Saat ini saya fokus di dua desa di Tengger yang masuk dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, yakni Desa Wonokerto dan Desa Ngadas. Kedua desa ini saling bersebelahan. Keduanya saya jadikan situs penelitian, karena keduanya memiliki karakteristik yang menarik. Di Desa Ngadas inilah koordinator Dukun Tengger tinggal, sementara di Desa Wonokerto terdapat “orang Tengger” yang telah menganut Islam. Saat ini Islam memang telah menjamah sebagian desa Tengger, namun Wonokerto adalah “desa Islam” yang letaknya paling tinggi dan berbatasan langsung dengan desa-desa Tengger di dataran atas.
Karena orang-orang di Wonokerto ini memeluk Islam, maka Desa Ngadirejo yang berada di bawah Wonokerto dinyatakan sebagai Desa Putus oleh orang-orang Tengger di atas Wonokerto. Menurut orang-orang Tengger di desa-desa atas, gara-gara Wonokerto memeluk Islam inilah desa Ngadirejo dan desa Ngadas tidak dapat melaksanakan Upacara Karo.[1] Baca selanjutnya>>
(Bagian Satu)
Posted by: Paring Waluyo Utomo
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Yayasan Interseksi
Saya telah membaca kiriman e-mail dari kawan-kawan. Terima kasih atas beberapa pertimbangan yang disampaikan kepada saya. Saat ini saya fokus di dua desa di Tengger yang masuk dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, yakni Desa Wonokerto dan Desa Ngadas. Kedua desa ini saling bersebelahan. Keduanya saya jadikan situs penelitian, karena keduanya memiliki karakteristik yang menarik. Di Desa Ngadas inilah koordinator Dukun Tengger tinggal, sementara di Desa Wonokerto terdapat “orang Tengger” yang telah menganut Islam. Saat ini Islam memang telah menjamah sebagian desa Tengger, namun Wonokerto adalah “desa Islam” yang letaknya paling tinggi dan berbatasan langsung dengan desa-desa Tengger di dataran atas.
Karena orang-orang di Wonokerto ini memeluk Islam, maka Desa Ngadirejo yang berada di bawah Wonokerto dinyatakan sebagai Desa Putus oleh orang-orang Tengger di atas Wonokerto. Menurut orang-orang Tengger di desa-desa atas, gara-gara Wonokerto memeluk Islam inilah desa Ngadirejo dan desa Ngadas tidak dapat melaksanakan Upacara Karo.[1] Baca selanjutnya>>
Laporan Diskusi Konflik dan Pembangunan
September 21, 2006/ 12:35 | Filed in: REPORT
Bukafe Pancoran Jakarta Selatan, 20 September 2006.
Minimnya kajian Konflik dan Pembangunan di Negara yang Banyak Konflik
Konflik dan Pembangunan jarang disinggung dalam perdebatan publik di Indonesia. Padahal, seiring runtuhnya Orde Baru konflik terjadi di berbagai tempat. Penanganan terhadap konflik sayangnya tidak disertai dengan blueprint yang jelas dengan melakukan pendekatan studi pembangunan yang memadai. Demikian benang merah dalam diskusi bertajuk Konflik dan Pembangunan yang diadakan forum interseksi. Tajoeddin menambahkan bahwa, meskipun saat ini studi pembangunan sudah banyak digunakan oleh beberapa lembaga donor dalam menganalisis suatu kasus konflik di suatu negara, kondisi di Indonesia belum memberikan harapan bagi sumbangan yang signifikan bagi adanya studi konflik dan pembangunan. Masalahnya adalah, negara tidak memiliki visi yang jelas, elite-elite politik jarang sekali yang bersedia melihat manfaat bagi penelitian yang berhubungan dengan studi konflik dan pembangunan. Relasi antara negara dan dunia pemnelitian masih missing link, sehingga komunikasi untuk mendapatkan manfaat antara satu dengan yang lain tidak terjadi. Parahnya, sebagian kelompok yang bisa memanfaatkan negara untuk membiayai sejumlah proyek penelitian tidak memiliki visi yang jelas dalam rangka pertanggungjawaban publik. Buru-buru merasakan manfaat dari hasil penelitian ini, BAPPENAS sebagai lembaga resmi negara yang seharusnya memiliki kewenangan membangun blueprint pembangunan tidak banyak yang tahu kesibukannya. Ironis karena minimnya kajian mengenai konflik dan pembangunan, ditunjang oleh kejumudan para pengambil kebijakan justru terjadi negara yang potensial terjadi konflik seperti Indonesia.
Sementara itu, di negara-negara Eropa dan negara lain, konflik dan pembangunan sudah menjadi kajian menarik. Kajian ini berkembang pesat, melahirkan beragam perspektif dengan tingkat impelementasi kebijakan yang berbeda-beda. Jika semula ilmu-ilmu ekonomi banyak mewarnai dan mendominasi kajian pembangunan di awal tahun 1970an, isu-isu konflik banyak menyadarkan banyak pihak untuk melihat dimensi konflik dan pembangunan dalam perspektif yang multidisiplin. Mereka sebagian menyadari bahwa berbagai dimensi dalam studi pembangunan dapat digunakan untuk melihat berbagai kasus konflik di belahan dunia. Salah satu persepektif dalam konflik dan pembangunan misalnya menyatakan bahwa konflik itu bersifat embedded dalam pembangunan. Pembangunan yang digalakkan di berbagai negara secara tak terelakkan berpotensi menimbulkan konflik. Pembangunan-pembangunan di belahan dunia selalu menciptakan kemiskinan (selain kemakmuran bagi sebagian pihak), kelangkaan sumber daya (scarcity), kesenjangan sosial, dan lain-lain. Kajian ini mengimplikasikan sejumlah indikator-indikator penting untuk mengurangi konflik. Misalnya indikator prosperity (kesejahteraan). Namun demikian, perspektif kajian konflik dan pembanngunan, tidak selalu melihat konflik secara negatif.. Perang-perang sipil misalnya, yang muncul akhir-akhir ini di beberapa negara dinyatakan juga sebagai katalisator bagi munculnya perbaikan dalam pembangunan. Ini adalah bagian dari perspektif dalam kajian konflik dan pembangunan yang melihat dimensi konflik sebagai upaya awal untuk mengawali perbaikan dan perubahan. Konflik tidak dilihat sebagai sosok yang negatif.
Beberapa studi komparatif oleh beberapa pakar studi pembangunan memang sudah banyak dilakukan. Studi ini banyak membandingkan dinamika pembangunan di Indonesia dengan negara-negara berkembang lain. Beberapa kajian itu menyimpulkan bahwa kondisi di Indonesia tidak jauh lebih buruk dari Afrika barat, dan beberapa negara di Asia Selatan. Namun studi seperti ini tidak sepatutnya membuat kemajuan-kemajuan yang harus dikembangkan oleh bangsa Indonesia terhenti. Lagipula, kajian komparasi ini terlalu bias ‘merendahkan Indonesia” karena hanya dibandingkan dengan negara-negara yang sangat miskin, dan terbelakang. Dengan kata lain, dalam konteks studi konflik dan pembangunan, studi konparasi seharusnya bisa dilakukan lebih baik.
Sayangnya, meskipun di Indonesia perdebatan studi pembangunan sudah berlangsung sejak tahun 1970an, perdebatan ini jarang dikembangkan menjadi studi yang lebih serius dan lebih powerfull. Misalnya, dalam studi pembangunan tentang modernisasi yang dikembangkan masa Orde Baru, kajian ini terhenti bersamaan dengan runtuhnya Orde Baru. Sebagian pihak yang melihat kegagalan negara Orde Baru mengelola proyek modernisasi ini bahkan semakin antipati, dan jarang yang bisa melihat persoalan pembangunan secara kritis. Padahal bisa jadi dimensi dalam perspektif modernisasi, khususnya di masa Orde Baru sebagian dapat diteruskan, meskipun tidak bisa diabaikan bahwa asumsi-asumsi teoritik yang membangun gagasan ini sudah banyak dikritik oleh dunia akademik. Misalnya gagasan modernisasi yang banyak menerapkan paradigma positivistik ini mempunyak kekayaan alat yang canggih dalam melakukan perubahan sosial. Menurut Tajoeddin, orang-orang positivistik yang banyak menerapkan analisis ilmu eksakta ini memiliki kecanggihan dalam membangun tool of analysis. “Kita seharusnya bisa belajar dari situ. Membangun kajian konflik dan pembangunan yang sistematik”.
Munculnya konflik yang terjadi di Indonesia akhirnya kurang dapat ditangkap dalam perspektif pembangunan. Beberapa lembaga donor di Indonesia sebenarnya membawa perspektif –perspektif baru dalam melihat konflik dan pembangunan. Sayangnya perspektif ini kurang bisa ditangkap oleh para peneliti dan kelompok akademisi di Indonesia. Soalnya adalah lembaga donor masih dilihat sebagai lembaga proyek dan bisa memberikan sejumlah proyek tertentu. Persoalan bahwa mereka membawa sejumlah ideologi tertentu, dan asumsi teoritik tertentu dalam mengoperasionalisasikan proyek jarang dievaluasi dan dilihat secara kritik. Lagi-lagi, ini karena lemahnya dunia penelitian dan intelektual yang independen di Indonesia.
Diskusi ini akhirnya menyimpulkan perlunya wawasan yang lebih kritis, independen dan lebih terbuka bagi kelompok peneliti dan intelektual di Indonesia. Diperlukan forum-forum diskusi yang dapat melibatkan berbagai pihak untuk dijadikan forum tukar gagasan. Padahal selama ini forum-forum diskusi masih berjalan di tempat (onani), karena belum bisa dihubungkan dengan pra pengambil kebijakan yang memiliki dunia sendiri. Disinilah perlunya kemauan untuk menjebol missing link antara dunia peneliti, akademisi, elite birokrasi/ pengambil kebijakan dan kelompok lain yang saling bertukar pikiran untuk mendiskusikan persoalan-persoalan kebijakan publik di Indonesia. (Nurkhoiron)
Minimnya kajian Konflik dan Pembangunan di Negara yang Banyak Konflik
Konflik dan Pembangunan jarang disinggung dalam perdebatan publik di Indonesia. Padahal, seiring runtuhnya Orde Baru konflik terjadi di berbagai tempat. Penanganan terhadap konflik sayangnya tidak disertai dengan blueprint yang jelas dengan melakukan pendekatan studi pembangunan yang memadai. Demikian benang merah dalam diskusi bertajuk Konflik dan Pembangunan yang diadakan forum interseksi. Tajoeddin menambahkan bahwa, meskipun saat ini studi pembangunan sudah banyak digunakan oleh beberapa lembaga donor dalam menganalisis suatu kasus konflik di suatu negara, kondisi di Indonesia belum memberikan harapan bagi sumbangan yang signifikan bagi adanya studi konflik dan pembangunan. Masalahnya adalah, negara tidak memiliki visi yang jelas, elite-elite politik jarang sekali yang bersedia melihat manfaat bagi penelitian yang berhubungan dengan studi konflik dan pembangunan. Relasi antara negara dan dunia pemnelitian masih missing link, sehingga komunikasi untuk mendapatkan manfaat antara satu dengan yang lain tidak terjadi. Parahnya, sebagian kelompok yang bisa memanfaatkan negara untuk membiayai sejumlah proyek penelitian tidak memiliki visi yang jelas dalam rangka pertanggungjawaban publik. Buru-buru merasakan manfaat dari hasil penelitian ini, BAPPENAS sebagai lembaga resmi negara yang seharusnya memiliki kewenangan membangun blueprint pembangunan tidak banyak yang tahu kesibukannya. Ironis karena minimnya kajian mengenai konflik dan pembangunan, ditunjang oleh kejumudan para pengambil kebijakan justru terjadi negara yang potensial terjadi konflik seperti Indonesia.
Sementara itu, di negara-negara Eropa dan negara lain, konflik dan pembangunan sudah menjadi kajian menarik. Kajian ini berkembang pesat, melahirkan beragam perspektif dengan tingkat impelementasi kebijakan yang berbeda-beda. Jika semula ilmu-ilmu ekonomi banyak mewarnai dan mendominasi kajian pembangunan di awal tahun 1970an, isu-isu konflik banyak menyadarkan banyak pihak untuk melihat dimensi konflik dan pembangunan dalam perspektif yang multidisiplin. Mereka sebagian menyadari bahwa berbagai dimensi dalam studi pembangunan dapat digunakan untuk melihat berbagai kasus konflik di belahan dunia. Salah satu persepektif dalam konflik dan pembangunan misalnya menyatakan bahwa konflik itu bersifat embedded dalam pembangunan. Pembangunan yang digalakkan di berbagai negara secara tak terelakkan berpotensi menimbulkan konflik. Pembangunan-pembangunan di belahan dunia selalu menciptakan kemiskinan (selain kemakmuran bagi sebagian pihak), kelangkaan sumber daya (scarcity), kesenjangan sosial, dan lain-lain. Kajian ini mengimplikasikan sejumlah indikator-indikator penting untuk mengurangi konflik. Misalnya indikator prosperity (kesejahteraan). Namun demikian, perspektif kajian konflik dan pembanngunan, tidak selalu melihat konflik secara negatif.. Perang-perang sipil misalnya, yang muncul akhir-akhir ini di beberapa negara dinyatakan juga sebagai katalisator bagi munculnya perbaikan dalam pembangunan. Ini adalah bagian dari perspektif dalam kajian konflik dan pembangunan yang melihat dimensi konflik sebagai upaya awal untuk mengawali perbaikan dan perubahan. Konflik tidak dilihat sebagai sosok yang negatif.
Beberapa studi komparatif oleh beberapa pakar studi pembangunan memang sudah banyak dilakukan. Studi ini banyak membandingkan dinamika pembangunan di Indonesia dengan negara-negara berkembang lain. Beberapa kajian itu menyimpulkan bahwa kondisi di Indonesia tidak jauh lebih buruk dari Afrika barat, dan beberapa negara di Asia Selatan. Namun studi seperti ini tidak sepatutnya membuat kemajuan-kemajuan yang harus dikembangkan oleh bangsa Indonesia terhenti. Lagipula, kajian komparasi ini terlalu bias ‘merendahkan Indonesia” karena hanya dibandingkan dengan negara-negara yang sangat miskin, dan terbelakang. Dengan kata lain, dalam konteks studi konflik dan pembangunan, studi konparasi seharusnya bisa dilakukan lebih baik.
Sayangnya, meskipun di Indonesia perdebatan studi pembangunan sudah berlangsung sejak tahun 1970an, perdebatan ini jarang dikembangkan menjadi studi yang lebih serius dan lebih powerfull. Misalnya, dalam studi pembangunan tentang modernisasi yang dikembangkan masa Orde Baru, kajian ini terhenti bersamaan dengan runtuhnya Orde Baru. Sebagian pihak yang melihat kegagalan negara Orde Baru mengelola proyek modernisasi ini bahkan semakin antipati, dan jarang yang bisa melihat persoalan pembangunan secara kritis. Padahal bisa jadi dimensi dalam perspektif modernisasi, khususnya di masa Orde Baru sebagian dapat diteruskan, meskipun tidak bisa diabaikan bahwa asumsi-asumsi teoritik yang membangun gagasan ini sudah banyak dikritik oleh dunia akademik. Misalnya gagasan modernisasi yang banyak menerapkan paradigma positivistik ini mempunyak kekayaan alat yang canggih dalam melakukan perubahan sosial. Menurut Tajoeddin, orang-orang positivistik yang banyak menerapkan analisis ilmu eksakta ini memiliki kecanggihan dalam membangun tool of analysis. “Kita seharusnya bisa belajar dari situ. Membangun kajian konflik dan pembangunan yang sistematik”.
Munculnya konflik yang terjadi di Indonesia akhirnya kurang dapat ditangkap dalam perspektif pembangunan. Beberapa lembaga donor di Indonesia sebenarnya membawa perspektif –perspektif baru dalam melihat konflik dan pembangunan. Sayangnya perspektif ini kurang bisa ditangkap oleh para peneliti dan kelompok akademisi di Indonesia. Soalnya adalah lembaga donor masih dilihat sebagai lembaga proyek dan bisa memberikan sejumlah proyek tertentu. Persoalan bahwa mereka membawa sejumlah ideologi tertentu, dan asumsi teoritik tertentu dalam mengoperasionalisasikan proyek jarang dievaluasi dan dilihat secara kritik. Lagi-lagi, ini karena lemahnya dunia penelitian dan intelektual yang independen di Indonesia.
Diskusi ini akhirnya menyimpulkan perlunya wawasan yang lebih kritis, independen dan lebih terbuka bagi kelompok peneliti dan intelektual di Indonesia. Diperlukan forum-forum diskusi yang dapat melibatkan berbagai pihak untuk dijadikan forum tukar gagasan. Padahal selama ini forum-forum diskusi masih berjalan di tempat (onani), karena belum bisa dihubungkan dengan pra pengambil kebijakan yang memiliki dunia sendiri. Disinilah perlunya kemauan untuk menjebol missing link antara dunia peneliti, akademisi, elite birokrasi/ pengambil kebijakan dan kelompok lain yang saling bertukar pikiran untuk mendiskusikan persoalan-persoalan kebijakan publik di Indonesia. (Nurkhoiron)
A Note from A Terra Incognita
September 20, 2006/ 07:49 | Filed in: CHRONICLES
Technorati Profile
Posted by M. Uzair Fauzan
Member of Interseksi's Researc Team on Minority Rights and Multiculturalism
First Day in Medan
I almost failed to fly to Medan this morning. For Mandala airline, I was “blamed” for not confirming my flight a day before departure. For me, the rule is too bureaucratic. As long as I know, this is the only airline that obliges their passenger to give report about their plan of departure (though in fact they already issued the ticket, like me, which I guess can be interpreted as a kind of confirmation about departure plan). After waiting for the last minute, they finally allowed me to come aboard. And the adventure into a foreign land had just begun. Baca selanjutnya>>
Posted by M. Uzair Fauzan
Member of Interseksi's Researc Team on Minority Rights and Multiculturalism
First Day in Medan
I almost failed to fly to Medan this morning. For Mandala airline, I was “blamed” for not confirming my flight a day before departure. For me, the rule is too bureaucratic. As long as I know, this is the only airline that obliges their passenger to give report about their plan of departure (though in fact they already issued the ticket, like me, which I guess can be interpreted as a kind of confirmation about departure plan). After waiting for the last minute, they finally allowed me to come aboard. And the adventure into a foreign land had just begun. Baca selanjutnya>>
Jadwal Baru Diskusi Konflik dan Pembangunan
September 14, 2006/ 17:46 | Filed in: FORACAFETARIA
Seperti telah kami sampaikan akhir bulan Agustus yang lalu, kami akan menata ulang jadwal diskusi tentang Konflik dan Pembangunan bersama Zulfan Tadjoeddin sebagai pembicara. Beberapa hari yang lalu, kami kembali menghubunginya, dan yang bersangkutan menyatakan positif bersedia datang pada hari Rabu, 20 September 2006 untuk berbicara dalam diskusi yang tertunda itu. Maka kami memutuskan untuk melaksanakan diskusi pada tanggal tersebut. Berikut adalah jadwal lengkapnya:
Diskusi hanya untuk jumlah peserta yang sangat terbatas. Silakan konfirmasikan kehadiran Anda melalui telepon pada 021-79192676 pada jama kerja, atau melalui email ke INTERSEKSIATGEMAILDOTCOM.
- Topik Diskusi: Konflik dan Pembangunan (lihat TOR)
- Pembicara: Zulfan Tadjoeddin, MA
- Hari/Tgl: Rabu, 20 September 2006
- Waktu: Jam 15.00 WIBB - selesai
- Tempat: Bukafe, Jl. Duren Tiga No. 6A, Jakarta Selatan 12760 (lihat Denah Menuju Lokasi)
Diskusi hanya untuk jumlah peserta yang sangat terbatas. Silakan konfirmasikan kehadiran Anda melalui telepon pada 021-79192676 pada jama kerja, atau melalui email ke INTERSEKSIATGEMAILDOTCOM.
Bromo Sebagai Situs Integrasi Wong Tengger
September 13, 2006/ 16:20 | Filed in: NEWS
Posted by: Paring Waluyo Utomo
Beberapa hari belakangan ini ramai diberitakan dimedia massa bahwa Gunung Bromo sedang mengalami peningkatan aktivitas. Dalam siarannya, BMG menganalisis ada beberapa gempa berskala kecil karena aktivitas Gunung Bromo. Seolah tak mau ketinggalan, tetangganya, Gunung Semeru juga mengeluarkan asap yang meningkat dari aktivitas normalnya. Bahkan abu Semeru sempat menyebar hingga di Kota Malang dan sekitarnya.
Berita yang hiruk pikuk atas peningkatan aktivitas kedua gunung diatas sempat merisaukan para pengunjung, terutama dari turis-turis yang akan menikmati keindahan Gunung Bromo. Bahkan beberapa warga di Malang membatalkan kunjungannya untuk menghadiri peringatan Kasada di puncak Gunung Bromo.
Meningkatnya aktivitas Gunung Bromo nampaknya tidak berpengaruh pada kepercayaan masyarakat Tengger. Walau diberitakan Gunung Bromo dan Semeru sedang “batuk”, namun masyarakat Tengger tetap menjalankan ritual Kasada dan pujan Kasada dengan hitkmat di Poten dan bibir kawah Bromo. Ada perasaan yang begitu kuat untuk terikat antara masyarakat Tengger dengan Gunung Bromo.
Justru melalui ritual Kasada inilah puncak dari seluruh kebaktian dan penghormatan masyarakat Tengger terhadap Tuhan, alam, dan leluhur sedang dilakukan. Bagi masyarakat Tengger tidak ada kata pemutus antara mereka dengan Bromo. Ajaran Kasada menyatakan bahwa Ki Kusuma, sesepuh mereka (dalam mitologi Kasada) melakukan pengorbanan diri untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Tengger, sebab mereka adalah masyarakat agraris yang basis materialnya ditopang oleh pertanian.
Hingga kini, Bromo adalah situs penting tempat masyarakat tengger dari empat penjuru berkumpul, terutama disaat Bulan Kasada seperti saat ini. Boleh jadi masyarakat tengger saat ini dikotakkan dalam kategori agama yang berbeda mulai dari Islam, Hindu, Budha, maupun Katolik akibat ulah orde baru. Namun semuanya terintegrasi dan berkiblat kepada Gunung Bromo, bahkan sampai meninggal sekalipun harus tetap menghadap Gunung Bromo.
Lari atas kenyataan yang terjadi di Bromo bagi masyarakat Tengger adalah sebuah kefatalan. Kalau mereka lari atas kenyataan di Bromo, sama halnya mereka hendak memalingkan diri dari leluhur mereka. Padahal seluruh konsep pokok dari tradisi dan ajaran yang dikembangkan oleh masyarakat Tengger adalah memberikan penghormatan atas leluhur (atma) mereka yang bersemayam kawasan Bromo, Tengger dan Semeru
Hal ini tercermin tidak hanya terlihat dalam bentuk-bentuk persembahan (sesaji) yang berupa hasil pertanian, akan tetapi penghormatan itu dipujakan dalam mantra dukun Tengger sebagai pemangku teologi Tengger. Mantara pembuka seperti; hong ulun bapa kuasa ibu pertiwi adalah sepenggal kalimat mantra yang menjadi basis kebudayaan Tengger. Kalimat itu mengandaikan betapa pentingnya hubungan antara wong Tengger yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Melalui Gunung Bromo-lah mereka senantiasa merasa dapat berhubungan terus dengan leluhur mereka.
Sudah sejak lama, bahkan sejak awal mula mendiami pegunungan Bromo, Tengger, dan Semeru masyarakat Tengger mengetahui benar tentang kemungkinan ancaman gunung berapi. Justru melalui ritual-ritual yang sedang mereka jalani selama ini yang diwariskan secara terumurun itulah masyarakat tengger hendak merinci gelagat alam, agar mampu memprediksiakan sedemikian rupa. Sayangnya, kearifan dalam memandang fenomena alam ini harus “kalahkan” dengan hitungan matematis model para ahli vulkanologi, geologi maupun geofisika.
Apalagi jika asumsi-asumsi matematis model para vulkanolog ini bersekutu dengan media massa. Maka tak mengherankan jika asumsi yang dibangun oleh para vulkanolog itu mampu membius semua mata publik, bagaikan sebuah “sabda” yang patut untuk didengar adanya.
Atas pemberitaan ini, maka sebagian masyarakat Tengger yang biasanya mencari nafkah dalam keramaian massa disetiap penyelenggaraan ritual kasada menjadi menggerutu. Potensi pendapatan ekonomi menjadi sirna dengan sepinya pengunjung disaat hari-hari sebelum Kasada. Mestinya para teknokrat dan media massa juga mempertimbangan hal-hal seperti ini. Bukankah kalau masyarakat Tengger tidak memiliki kemampuan prediktif atas aktivitas Bromo, mereka telah sirna sedari dulu karena amukan alam dari dua gunung aktif, yakni Bromo dan Semeru.
Kita memang patut memberikan apresiasi kepada para teknokrat gunung itu atas early warning yang mereka keluarkan mengenai aktivitas Gunung Bromo. Namun pertimbangan kultural dan antropologi untuk kemaslahatan orang Tengger juga patut kita perhitungkan.
Penulis sekarang lagi berdiam diri di Gunung Bromo.
Beberapa hari belakangan ini ramai diberitakan dimedia massa bahwa Gunung Bromo sedang mengalami peningkatan aktivitas. Dalam siarannya, BMG menganalisis ada beberapa gempa berskala kecil karena aktivitas Gunung Bromo. Seolah tak mau ketinggalan, tetangganya, Gunung Semeru juga mengeluarkan asap yang meningkat dari aktivitas normalnya. Bahkan abu Semeru sempat menyebar hingga di Kota Malang dan sekitarnya.
Berita yang hiruk pikuk atas peningkatan aktivitas kedua gunung diatas sempat merisaukan para pengunjung, terutama dari turis-turis yang akan menikmati keindahan Gunung Bromo. Bahkan beberapa warga di Malang membatalkan kunjungannya untuk menghadiri peringatan Kasada di puncak Gunung Bromo.
Meningkatnya aktivitas Gunung Bromo nampaknya tidak berpengaruh pada kepercayaan masyarakat Tengger. Walau diberitakan Gunung Bromo dan Semeru sedang “batuk”, namun masyarakat Tengger tetap menjalankan ritual Kasada dan pujan Kasada dengan hitkmat di Poten dan bibir kawah Bromo. Ada perasaan yang begitu kuat untuk terikat antara masyarakat Tengger dengan Gunung Bromo.
Justru melalui ritual Kasada inilah puncak dari seluruh kebaktian dan penghormatan masyarakat Tengger terhadap Tuhan, alam, dan leluhur sedang dilakukan. Bagi masyarakat Tengger tidak ada kata pemutus antara mereka dengan Bromo. Ajaran Kasada menyatakan bahwa Ki Kusuma, sesepuh mereka (dalam mitologi Kasada) melakukan pengorbanan diri untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Tengger, sebab mereka adalah masyarakat agraris yang basis materialnya ditopang oleh pertanian.
Hingga kini, Bromo adalah situs penting tempat masyarakat tengger dari empat penjuru berkumpul, terutama disaat Bulan Kasada seperti saat ini. Boleh jadi masyarakat tengger saat ini dikotakkan dalam kategori agama yang berbeda mulai dari Islam, Hindu, Budha, maupun Katolik akibat ulah orde baru. Namun semuanya terintegrasi dan berkiblat kepada Gunung Bromo, bahkan sampai meninggal sekalipun harus tetap menghadap Gunung Bromo.
Lari atas kenyataan yang terjadi di Bromo bagi masyarakat Tengger adalah sebuah kefatalan. Kalau mereka lari atas kenyataan di Bromo, sama halnya mereka hendak memalingkan diri dari leluhur mereka. Padahal seluruh konsep pokok dari tradisi dan ajaran yang dikembangkan oleh masyarakat Tengger adalah memberikan penghormatan atas leluhur (atma) mereka yang bersemayam kawasan Bromo, Tengger dan Semeru
Hal ini tercermin tidak hanya terlihat dalam bentuk-bentuk persembahan (sesaji) yang berupa hasil pertanian, akan tetapi penghormatan itu dipujakan dalam mantra dukun Tengger sebagai pemangku teologi Tengger. Mantara pembuka seperti; hong ulun bapa kuasa ibu pertiwi adalah sepenggal kalimat mantra yang menjadi basis kebudayaan Tengger. Kalimat itu mengandaikan betapa pentingnya hubungan antara wong Tengger yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Melalui Gunung Bromo-lah mereka senantiasa merasa dapat berhubungan terus dengan leluhur mereka.
Sudah sejak lama, bahkan sejak awal mula mendiami pegunungan Bromo, Tengger, dan Semeru masyarakat Tengger mengetahui benar tentang kemungkinan ancaman gunung berapi. Justru melalui ritual-ritual yang sedang mereka jalani selama ini yang diwariskan secara terumurun itulah masyarakat tengger hendak merinci gelagat alam, agar mampu memprediksiakan sedemikian rupa. Sayangnya, kearifan dalam memandang fenomena alam ini harus “kalahkan” dengan hitungan matematis model para ahli vulkanologi, geologi maupun geofisika.
Apalagi jika asumsi-asumsi matematis model para vulkanolog ini bersekutu dengan media massa. Maka tak mengherankan jika asumsi yang dibangun oleh para vulkanolog itu mampu membius semua mata publik, bagaikan sebuah “sabda” yang patut untuk didengar adanya.
Atas pemberitaan ini, maka sebagian masyarakat Tengger yang biasanya mencari nafkah dalam keramaian massa disetiap penyelenggaraan ritual kasada menjadi menggerutu. Potensi pendapatan ekonomi menjadi sirna dengan sepinya pengunjung disaat hari-hari sebelum Kasada. Mestinya para teknokrat dan media massa juga mempertimbangan hal-hal seperti ini. Bukankah kalau masyarakat Tengger tidak memiliki kemampuan prediktif atas aktivitas Bromo, mereka telah sirna sedari dulu karena amukan alam dari dua gunung aktif, yakni Bromo dan Semeru.
Kita memang patut memberikan apresiasi kepada para teknokrat gunung itu atas early warning yang mereka keluarkan mengenai aktivitas Gunung Bromo. Namun pertimbangan kultural dan antropologi untuk kemaslahatan orang Tengger juga patut kita perhitungkan.
Penulis sekarang lagi berdiam diri di Gunung Bromo.
Secuil Catatan dari Gunung Bromo
September 13, 2006/ 16:13 | Filed in: CHRONICLES
Technorati Profile
Posted by: Paring Waluyo Utomo
Hari kedua sejak kedatanganku di Tengger, aku diajak oleh para pemuka dukun Tengger untuk melakukan ritual pujan kasada. Ritual ini dilakukan di Desa Wonokerso. Letaknya di atas gunung. Walau dapat dijangkau dengan hardtop, namun punggungku terasa patah, sebab hampir dua jam perjalanan jalanan seperti ikut offroad. Bagitu tiba ditempat ritual, oleh warga desa aku disambut sejajar dengan para dukun, sebab aku datang bersama rombongan dukun. Aku mengikuti ritual ini, termasuk juga gerak-gerak ritualnya. Padahal ritual ini dilaksanakan hari Jumat siang, dan tak jauh dari tempat aku menjalankan ritual ini terdapat masjid yang sedang menjalankan Jumat'an. Aku ternyata cukup enjoy menjalankan ritual ini. Ini adalah permulaan yang cukup baik untuk semakin menjalin hubungan kekerabatan dengan wong Tengger, bukan sekedar hubungan peneliti dan yang diteliti. Baca selanjutnya>>
Posted by: Paring Waluyo Utomo
Hari kedua sejak kedatanganku di Tengger, aku diajak oleh para pemuka dukun Tengger untuk melakukan ritual pujan kasada. Ritual ini dilakukan di Desa Wonokerso. Letaknya di atas gunung. Walau dapat dijangkau dengan hardtop, namun punggungku terasa patah, sebab hampir dua jam perjalanan jalanan seperti ikut offroad. Bagitu tiba ditempat ritual, oleh warga desa aku disambut sejajar dengan para dukun, sebab aku datang bersama rombongan dukun. Aku mengikuti ritual ini, termasuk juga gerak-gerak ritualnya. Padahal ritual ini dilaksanakan hari Jumat siang, dan tak jauh dari tempat aku menjalankan ritual ini terdapat masjid yang sedang menjalankan Jumat'an. Aku ternyata cukup enjoy menjalankan ritual ini. Ini adalah permulaan yang cukup baik untuk semakin menjalin hubungan kekerabatan dengan wong Tengger, bukan sekedar hubungan peneliti dan yang diteliti. Baca selanjutnya>>
Tampilan Baru Situs Interseksi
September 04, 2006/ 20:55 | Filed in: COMMUNITY BLOG
Technorati Profile
Pengembangan versi awal situs web Interseksi dimulai sekitar bulan oktober 2005 yang lalu. Belum diterbitkan secara online, melainkan baru sebatas sebuah mockup di dalam komputer. Istilah teknisnya, for internal evaluation only. Karena satu dan hal lain, publikasi pertama versi beta baru dilakukan sekitar akhir bulan november 2005. Itu pun masih berupa tampilan sementara yang sama sekali belum lengkap. Banyak halaman yang bukan hanya tidak ada isinya, tapi juga benar-benar belum dibuat ruangannya. Sekitar bulan Februari 2006 diputuskan bahwa situs Interseksi akan langsung dikelola oleh Interseksi sendiri. Pertimbangannya, selain faktor biaya yang memang akan radikal jauh lebih kecil, juga agar segalanya lebih mudah kalau ingin melakukan perbaikan. Mengandalkan pengelolaan situs internet kepada pihak ketiga, apalagi kepada para profesional pengembang web site, selain membutuhkan biaya cukup besar, kadang memang menyulitkan kita melakukan perubahan-perubahan sesuai keinginan kita. Itulah mengapa situs ini termasuk sangat sering berganti kulit.
Di samping didorong oleh keinginan menyajikan informasi dalam tampilan yang nyaman di mata, suksesi cepat bermacam-macam tampilan situs ini mungkin sekaligus juga merupakan testamen bahwa secara teknis hal tersebut memang tidak terlalu sulit. Dari sisi biaya, karena kami seratus persen mengelolanya sendiri, perbaikan-perbaikan tersebut sebenarnya juga tidak terlalu signifikan. Argumen yang paling masuk akal adalah karena kami masih terus dalam proses perbaikan. Kelebihan pengelolaan situs secara mandiri adalah tersedianya kesempatan untuk setiap saat melakukan apa pun yang kita inginkan sejauh memungkinkan. Mungkin ada pembaca yang terganggu oleh proses gonta-ganti kulit ini. Tapi mungkin itu memang merupakan metamorfosa yang harus kami lewati. Kami berterima kasih atas kesediaan Anda berkunjung setiap saat ke situs ini. Dan percayalah, pergantian-pergantian itu pun dilakukan karena kami ingin membuat pengalaman Anda lebih nyaman di "rumah" kami ini.
Ada satu hal yang meskipun tidak terlalu sulit dari sisi teknologis, tapi menjengkelkan secara sosial. Seperti Anda ketahui, situs ini cenderung tidak bersahabat dengan browser usang keluaran Microsoft, Internet Explorer 6 atau versi yang lebih lama. Ada beberapa pembaca yang menanyakan hal tersebut, mencari penjelasan mengapa situs ini tidak bisa sepenuhnya kompatibel dengan browser IE-nya Microsoft. Penjelasan teknisnya bisa berlarut-larut, tapi secara singkat kami ingin menyampaikan bahwa problem tersebut sama sekali bukan sesuatu yang disengaja dari awal. Kami harus jujur mengatakan bahwa kami memang sudah tidak pernah lagi menggunakan IE, tapi kami berusaha untuk sebisa mungkin memenuhi standar validasi dari beberapa konsorsium internasional tentang XHTML dan CSS. Meskipun pasti masih banyak kekurangan teknisnya, tapi secara keseluruhan situs kami sudah dinyatakan lolos validasi HTML, CSS, dan bahkan RSS. Tapi mengapa tidak "lolos" standar IE?

Di situlah letak soalnya. Kami sadar ada banyak jawaban teknologis yang bisa mengatasi problem semacam ini, tapi kami juga sepenuhnya menyadari bahwa IE (versi 6 paling tidak) memang cenderung tidak menghormati standar-standar web tadi. Ada orang meringkas tahap-tahap penyikapan Micsoroft terhadap standar dengan ungkapan triple E; embrace, extend (standards to Microsoft's proprietary extensions), and exterminate (the original standars). Sampai IE versi 7 (yang sekarang masih dalam versi Beta) kelak resmi diterbitkan Microsoft dan makin banyak dipakai orang, situs ini tampaknya akan tetap tidak terlalu bersahabat dengan para pengguna IE 6 atau sebelumnya. Alibi kami sebenarnya sederhana saja: daripada menuntut kami yang hanya memiliki sumberdaya terbatas menghabiskan energi dan waktu untuk mengatasi problem (yang kemungkinan besar disebabkan oleh kelemahan) teknologi IE, bukankah lebih baik kita menuntut Microsoft yang mahakuasa dan mahakaya itu membuat software yang lebih baik daripada yang selama ini diproduksinya?
Jadi, pada dasarnya kami bukanlah kumpulan anti-Microsoft meskipun, paling tidak untuk kebutuhan pengembangan dan akses internet, kami memang tidak lagi memakai produknya.
Setelah hampir satu tahun, sudah banyak perubahan terjadi pada situs kita ini. Pasti masih banyak kekurangannya, tapi pasti pula akan ada upaya untuk terus meningkatkan kualitasnya. Kunjungan Anda selalu menyalakan semangat kami. Terima kasih.
Selamat membaca!
Pengembangan versi awal situs web Interseksi dimulai sekitar bulan oktober 2005 yang lalu. Belum diterbitkan secara online, melainkan baru sebatas sebuah mockup di dalam komputer. Istilah teknisnya, for internal evaluation only. Karena satu dan hal lain, publikasi pertama versi beta baru dilakukan sekitar akhir bulan november 2005. Itu pun masih berupa tampilan sementara yang sama sekali belum lengkap. Banyak halaman yang bukan hanya tidak ada isinya, tapi juga benar-benar belum dibuat ruangannya. Sekitar bulan Februari 2006 diputuskan bahwa situs Interseksi akan langsung dikelola oleh Interseksi sendiri. Pertimbangannya, selain faktor biaya yang memang akan radikal jauh lebih kecil, juga agar segalanya lebih mudah kalau ingin melakukan perbaikan. Mengandalkan pengelolaan situs internet kepada pihak ketiga, apalagi kepada para profesional pengembang web site, selain membutuhkan biaya cukup besar, kadang memang menyulitkan kita melakukan perubahan-perubahan sesuai keinginan kita. Itulah mengapa situs ini termasuk sangat sering berganti kulit.
Di samping didorong oleh keinginan menyajikan informasi dalam tampilan yang nyaman di mata, suksesi cepat bermacam-macam tampilan situs ini mungkin sekaligus juga merupakan testamen bahwa secara teknis hal tersebut memang tidak terlalu sulit. Dari sisi biaya, karena kami seratus persen mengelolanya sendiri, perbaikan-perbaikan tersebut sebenarnya juga tidak terlalu signifikan. Argumen yang paling masuk akal adalah karena kami masih terus dalam proses perbaikan. Kelebihan pengelolaan situs secara mandiri adalah tersedianya kesempatan untuk setiap saat melakukan apa pun yang kita inginkan sejauh memungkinkan. Mungkin ada pembaca yang terganggu oleh proses gonta-ganti kulit ini. Tapi mungkin itu memang merupakan metamorfosa yang harus kami lewati. Kami berterima kasih atas kesediaan Anda berkunjung setiap saat ke situs ini. Dan percayalah, pergantian-pergantian itu pun dilakukan karena kami ingin membuat pengalaman Anda lebih nyaman di "rumah" kami ini.
Ada satu hal yang meskipun tidak terlalu sulit dari sisi teknologis, tapi menjengkelkan secara sosial. Seperti Anda ketahui, situs ini cenderung tidak bersahabat dengan browser usang keluaran Microsoft, Internet Explorer 6 atau versi yang lebih lama. Ada beberapa pembaca yang menanyakan hal tersebut, mencari penjelasan mengapa situs ini tidak bisa sepenuhnya kompatibel dengan browser IE-nya Microsoft. Penjelasan teknisnya bisa berlarut-larut, tapi secara singkat kami ingin menyampaikan bahwa problem tersebut sama sekali bukan sesuatu yang disengaja dari awal. Kami harus jujur mengatakan bahwa kami memang sudah tidak pernah lagi menggunakan IE, tapi kami berusaha untuk sebisa mungkin memenuhi standar validasi dari beberapa konsorsium internasional tentang XHTML dan CSS. Meskipun pasti masih banyak kekurangan teknisnya, tapi secara keseluruhan situs kami sudah dinyatakan lolos validasi HTML, CSS, dan bahkan RSS. Tapi mengapa tidak "lolos" standar IE?

Di situlah letak soalnya. Kami sadar ada banyak jawaban teknologis yang bisa mengatasi problem semacam ini, tapi kami juga sepenuhnya menyadari bahwa IE (versi 6 paling tidak) memang cenderung tidak menghormati standar-standar web tadi. Ada orang meringkas tahap-tahap penyikapan Micsoroft terhadap standar dengan ungkapan triple E; embrace, extend (standards to Microsoft's proprietary extensions), and exterminate (the original standars). Sampai IE versi 7 (yang sekarang masih dalam versi Beta) kelak resmi diterbitkan Microsoft dan makin banyak dipakai orang, situs ini tampaknya akan tetap tidak terlalu bersahabat dengan para pengguna IE 6 atau sebelumnya. Alibi kami sebenarnya sederhana saja: daripada menuntut kami yang hanya memiliki sumberdaya terbatas menghabiskan energi dan waktu untuk mengatasi problem (yang kemungkinan besar disebabkan oleh kelemahan) teknologi IE, bukankah lebih baik kita menuntut Microsoft yang mahakuasa dan mahakaya itu membuat software yang lebih baik daripada yang selama ini diproduksinya?
Jadi, pada dasarnya kami bukanlah kumpulan anti-Microsoft meskipun, paling tidak untuk kebutuhan pengembangan dan akses internet, kami memang tidak lagi memakai produknya.
Setelah hampir satu tahun, sudah banyak perubahan terjadi pada situs kita ini. Pasti masih banyak kekurangannya, tapi pasti pula akan ada upaya untuk terus meningkatkan kualitasnya. Kunjungan Anda selalu menyalakan semangat kami. Terima kasih.
Selamat membaca!