November 04, 2007/ 14:30 | Filed in:
NEWS
Kalau segalanya berjalan sesuai rencana,
mulai bulan November 2007 ini sampai
bulan Februari 2008 nanti Interseksi,
dengan dukungan yayasan Tifa, akan
mengorganisir sebuah penelitian baru,
penelitian audio visual, yang akan
mencoba merekam strategi-strategi lokal
komunitas
To Wana di kawasan
Cagar Alam Morowali, kabupaten Morowali,
Sulawesi Tengah, dalam menghadapi problem
sistemik kehidupan mereka dalam konteks
Indonesia kontemporer. Komunitas
To
Wana adalah salah satu komunitas
yang pernah diteliti tim peneliti
Interseksi tahun 2005 lalu, dalam program
penelitian tentang Hak Minoritas tahun
pertama.
Dalam kaitan dengan pemahaman masyarakat
Indonesia tentang hak minoritas, melalui
beberapa program yang pernah
dilajalankannya selama beberapa tahun
terakhir ini, Interseksi mendapati
kenyataan yang kontradiktif satu dengan
lainnya: di satu sisi orang Indonesia
merasa bangga dengan kekayaan ragam
budaya bangsanya, tapi di sisi lain
kebanggaan tersebut tidak diiringi oleh
terbitnya penerimaan penuh bahwa seluruh
perbedaan itu memiliki hak hidup yang
sama di dalam sebuah geopolitik yang
sama, Indonesia. Penelitian kami di
sembilan daerah di Indonesia, misalnya,
memperlihatkan kuatnya dorongan kelompok
mayoritas untuk memaksakan nilai-nilai
dan identitasnya kepada
komunitas-komunitas minoritas yang
memiliki perangkat nilai dan identitasnya
sendiri.
Di lain pihak, aktivitas kami membawa
persoalan hak-hak minoritas ke peta
perdebatan diskursif mulai merangsang
minat sebagian masyarakat Indonesia untuk
mendiskusikan persoalan hak-hak komunitas
minoritas secara lebih serius. Ini antara
lain bisa dilihat dari respon yang sangat
positif dari masyarakat terhadap
publikasi buku
Hak Minoritas. Dilema
Multikulturalisme di
Indonesia (2005 cetak ulang
2007) yang pernah kami terbitkan. Buku
berikutnya,
Hak Minoritas.
Multikulturalisme dan Dilema Negara
Bangsa (2007) yang baru bulan
Agustus 2007 lalu kami terbitkan juga
sudah mendapat respon cukup baik dari
pembacanya. Meskipun demikian, karena
pilihan medium dan cara penyampaian
gagasan yang dipilih, yakni dalam
bentuk tulisan ilmiah yang cenderung
ketat dan pekat, buku tersebut belum
dapat menjangkau khlayak peminat yang
lebih luas. Meskipun diapresiasi
tinggi oleh sebagian kalangan
akademisi, tapi ia tidak cukup mudah
dipahami oleh masyarakat awam pada
umumnya.
Kenyataan seperti itu mendorong
Interseksi mencari alternatif penyampaian
gagasan yang, selain lebih mudah dipahami
oleh lebih banyak orang, lebih mampu
menarik minat dan kepedulian masyarakat
terhadap problem-problem hak minoritas di
Indonesia. Tantangan ini harus segera
dijawab, dan salah satu jawabannya adalah
melalui program penelitian audio visual.
Penelitian ini diharapkan dapat menjawab
kebutuhan akan sebuah deskripsi naratif
yang serius tentang sebuah problem
krusial yang sedang dihadapi bangsa
Indonesia, tapi yang disampaikan melalui
medium dan idiom yang lebih mudah
dipahami.