FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Lowongan Kerja di Yayasan Interseksi

dibutuhkan
Yayasan Interseksi membutuhkan dua orang peneliti muda lulusan S1 atau S2 ilmu-ilmu sosial. Satu orang untuk kebutuhan (temporer) penelitian lapangan, dan satu orang sebagai staf regular. Pelamar untuk kedua posisi tersebut harus memiliki minat dan pengalaman penelitian dan pengelolaan program kegiatan, memiliki kemampuan menulis laporan penelitian, dan bersedia ditugaskan ke luar kota dalam waktu minimal satu bulan penuh. Angka Indeks Prestasi Akademik, dan kemampuan menulis artikel di surat kabar tidak akan banyak menjadi bahan pertimbangan. Diutamakan mereka yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris lisan dan tulisan untuk staf regular. Lebih disukai mereka yang menguasai salah satu alat musik.

Interseksi tidak memiliki preferensi berdasarkan jenis kelamin, agama, ras, dan etnik. Peluang ini terbuka baik bagi perempuan maupun laki-laki. Hanya pelamar serius yang akan dipanggil untuk wawancara.

Kirimkan lamaran Anda disertai CV dan contoh tulisan paling lambat tgl. 15 Juni 2008 ke office [at] interseksi [dot] org atau ke interseksi [at] gmail [dot] com. Cantumkan kode TEMP untuk staf temporer dan REG untuk staf regular pada subjek email Anda.

Lamaran melalui surat non elektronik harap dialamatkan ke YAYASAN INTERSEKSI, Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 39 RT 003/RW 01, Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta Selatan 12610. Cantumkan kode TEMP atau REG sesuai jenis pekerjaan yang Anda pilih pada pojok kiri-atas amplop lamaran.


Laporan Diskusi Bulanan tentang Gerakan Sosial Pasca Suharto

Oleh : Nia Trisnawati
Staf The Interseksi Foundation.

Di era Orde Baru, bertahan atau berakhirnya kekuasaan (formal) Suharto adalah salah satu indikator terpenting keberhasilan gerakan-gerakan sosial di Indonesia. Karena itu, peristiwa pemakzulan Suharto tahun 1998 sering dirujuk sebagai salah satu kulminasi gerakan sosial era Orde Baru. Tapi apakah tatanan sosial yang dihasilkan oleh gerakan sosial tersebut berubah total ke arah yang lebih baik, itu adalah persoalan yang tetap belum bisa dijawab secara memuaskan. Banyak perubahan berlangsung pada beberapa sektor kehidupan masyarakat pasca Suharto, tapi selebihnya adalah pembenaran terhadap konstata lama "plus ça change, plus c'est la même chose", semakin banyak berubah semakin tetap sama saja.

Diskusi Bulanan Interseksi putaran ke 19, tgl. 22 Mei 2008, menghadirkan pembicara Sape’i Rusin, Ketua Badan Pelaksana Perkumpulan Pergerakan, Bandung sekaligus anggota komunitas pendiri Yayasan Interseksi. Kondisi sosial, politik, dan ekonomi pasca Suharto membawa Sapei pada keinginan untuk melakukan sebuah refleksi kritis atas agenda dan strategi politik gerakan sosial kontemporer di Indonesia. [Baca selanjutnya...]

Batas Akhir Penyerahan Makalah Forum Interseksi 2008

Setelah mengalami penundaan dari rencana semula tgl. 15-17 Maret 2008, Forum Interseksi 2008 positif akan dilaksanakan pada tgl. 17 - 19 Juni 2008 di Yogyakarta. Sebagai konsekwensi dari penundaan tersebut, tgl. batas akhir penyerahan makalah juga mengalami pengunduran dari semula tgl. 15 Maret 2008 menjadi tgl. 5 Juni 2008. Semua calon peserta yang telah menyerahkan abstrak makalahnya diharapkan dapat mengirimkan makalah lengkapnya sebelum atau selambat-lambatnya pada tgl. 5 Juni 2008.

Panitia juga masih membuka kesempatan kepada Anda yang tertarik mengikuti Forum Interseksi 2008 tapi belum menyerahkan abstrak makalah untuk langsung menyerahkan makalah lengkap pada tanggal tersebut di atas. Keputusan tentang calon peserta yang makalahnya lolos seleksi untuk jadi peserta Forum Interseksi akan diumumkan pada tgl. 7 Juni 2008. Karena itu, semakin cepat Anda mengirimkan makalah, semakin besar kemungkinan panitia bisa memeriksa makalah Anda secara lebih teliti.

Untuk informasi lebih lengkap tentang Forum Interseksi 2008, silakan browsing di halaman Forum Interseksi 2008.



Refleksi Atas Agenda dan Strategi Politik Gerakan Sosial di Indonesia


gerakan sosial lawan apa?


  • Tema: Refleksi Atas Agenda dan Strategi Politik Gerakan Sosial
  • Pembicara: Sapei Rusin (Ketua Badan Pelaksana Perkumpulan Pergerakan, Bandung)
  • Tgl/Jam: Kamis, 22 Mei 2008, Jam 15.00 - selesai
  • Tempat: Kantor Yayasan Interseksi
                   Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 39
                   RT 003/RW 01, Kelurahan Lenteng Agung
                   Jakarta Selatan 12610
                   Telp./Fax.: 021 7820 444
                   Email: office [at] interseksi [dot] org; interseksi [at] gmail [dot] com
  • Makalah: dibagikan hanya kepada peserta diskusi
  • Konfirmasi: 021-7820444 (dengan Nia)

    Gerakan sosial (social movement) adalah salah satu terminologi yang paling banyak dibicarakan dalam khasanah teori-teori sosial modern. Tapi tidak banyak yang sadar bahwa konteks dan karakter gerakan sosial di Indonesia telah, sedang dan terus akan berubah. Selain perubahan konteks dan karakter gerakan, penting untuk dikaji bagaimana massa rakyat menghadapi pagelaran kuasa, dan bagaimana (sebagian) eksponen utama dan pendukung gerakan-gerakan rakyat tersebut menafsirkannya, menghadapi kesempatan politik yang tersedia dan merumuskan tantangan-tantangan utama yang dihadapinya, serta pada saatnya memilih dan melancarkan aksi kolektif yang mereka andalkan. Paper ini berangkat dari pengalaman penulisnya yang hampir satu dekade lebih terlibat dalam beberapa model gerakan sosial di Indonesia.

    Seperti apa bentuk pilihan agenda dan strategi politik yang diambil oleh gerakan-gerakan sosial yang ada di Indonesia setelah kekuasaan Suharto berkahir, itu akan menjadi tema yang dibahas oleh Sapei Rusin, Ketua Badan Pelaksana Perkumpulan Pergerakan, sebuah organisasi non pemerintah yang berbasis di Bandung, Jawa Barat dalam diskusi bulanan Yayasan Interseksi kali ini.



  • Siaran Pers Front Pembebasan Nasional Menentang Kenaikan Harga BBM


    money talk

    Dalam beberapa hari ke depan, rakyat Indonesia kembali harus menanggung beban penderitaan yang sangat berat. Sejak berkuasa tahun 2004 yang lalu, pemerintahan SBY-JK untuk ketiga kalinya kembali akan menaikan harga BBM dengan alasan yang itu-itu juga. Beberapa lembaga masyarakat sipil di Indonesia yang teragabung dalam Front Pembebasan Nasional (FBN), seperti seluruh rakyat miskin Indonesia, menolak tegas kebijakan tersebut. Berikut adalah siaran persnya yang diterima Interseksi.org. Naskah lengkapnya bisa dilihat di sini (PDF) dan di sini (HTML).


    Kebangsaan, Nasionalisme, dan Multikulturalisme

    Dr. Achmad Fedyani Syaifuddin
    Pergeseran peristilahan dari "suku bangsa" menjadi "kelompok etnik" (ethnic groups) merelatifkan dikotomi "kita"/"mereka", karena istilah "kelompok etnik", berbeda dari "sukubangsa", berada atau hadir di dalam "kita" ("self") sekaligus "orang lain/mereka" ("others"). Mekanisme batas (boundary mechanism) yang menyebabkan kelompok etnik tetap kurang-lebih distinktif atau diskret memiliki karakteristik formal yang sama di kota-kota metropolitan seperti Jakarta maupun di daerah pedalaman pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, dan perkembangan identitas etnik dapat dipelajari dengan peralatan konseptual yang sama di Indonesia maupun di negeri-negeri lain, meski pun konteks-konteks empirisnya berbeda-beda atau mungkin unik. Pada masa kini, kalangan antropologi sosial mengakui bahwa mungkin sebagian besar peneliti kini mempelajari sistem-sistem kompleks yang "unbounded" daripada komunitas-komunitas yang "terisolasi". Baca selanjutnya>>


    Membaca Film To Mompalivu Bure sebagai Esai Multikultural

    Suma Reilla Rusdiarti
    Pembacaan atas sebuah karya film dapat dimulai dan mencakup beberapa hal, seperti masalah tema, pendekatan, sudut pandang, aspek sinematografis, tujuan dan fungsi pembuatan film, dan lain sebagainya. Saya tidak akan membahas semuanya, karena ruang dan waktu yang terbatas. Pembacaan atas film To Mompalivu Bure ini akan saya batasi pada dua hal, yaitu masalah representasi dan masalah narasi yang akan menyentuh masalah tema, aspek sinematografis, dan tujuan pembuatan film ini. Baca selanjutnya>>