FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Monthly Discussion on Political Party Survival

On Thursday, the 22nd of March 2007 at 15.30 we are inviting Nicolaus Teguh Budiharjanto of the Jakarta-based Center for Strategic and Internasional Studies (CSIS), a Ph.D candidate at the Northern Illinois university, to our office to discuss the topic of political party survival in our monthly discussion. And as always the case with our forum, it is for only limited participants. So please confirm your participation either by phone at 021-7820-444 (work hour with Amel) or by email to INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM.

The ability of former authoritarian parties to survive transitions to democracy is puzzling. We may expect discredited and disgraced elites and institutions to lose substantial power to new reformist elites and political parties, to end up in the dustbin of history as a memento of past abusive and repressive regimes. Yet, in some cases the individuals and social groups that underpinned the old regimes and their political party vehicles are able to survive and prosper in radically new political contexts characterized by democratic elections and consolidation processes.

Democratic transitions are complex, contentious, and multidimensional processes in which players multiply, parties proliferate, and interests diversify. Reformist political parties emerge and many new local or communal parties are established to channel the aspirations of particular groups. All compete to gain support from previously non-mobilized electorates. Often, elites from the former regime establish new parties to secure their political existence or to protect their interests. Typically, these contexts are marked by party hopping and opportunistic behavior.

The pressures on political parties to devise successful electoral strategies and to use their existing assets optimally are intense. Small parties may mobilize local or ethno-communal identities and symbolic power to win votes. Some may emphasize a distinct platform or party ideology as an effective way to appeal to electorates. Other parties cultivate support from business interests to tap money to finance campaigns, mobilize supporters, broaden territorial penetration, and, if possible, to buy votes. These varying strategic choices, however, do not seem to explain the divergent fortunes among formerly dominant parties in coping with fundamentally transformed political and institutional contexts. Rather, the ability of such parties to prosper under these new conditions seems to be linked to their abilities to exploit, sustain, and expand clientelistic mass and oligarchic linkages.


Tradisi Akademik Malang Kadak

Posted by: Paring Waluyo Utomo


Pada tanggal 7 - 10 Agustus 2006, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Yogjakarta mengadakan kegiatan Jelajah Budaya. Akitivitas ini dilakukan di beberapa wilayah lokal, seperti di Komunitas Tengger, Pendalungan, dan Using. Pesertanya adalah para guru SMA yang mengajar antropologi dan sosiologi, siswa-siswi berprestasi disekolah dan atau siswa yang menjadi pengurus osis di sekolah dari jurusan IPS. Tak lupa pula kegiatan ini menyertakan wartawan yang selama ini aktif memberitakan tentang kebudayaan.

Kegiatan ini didahului dengan pembekalan/ briefing oleh orang-orang di Jawa Timur yang dianggap sebagai pakar kebudayaan, dan peneliti kajian sejarah dan nilai tradisional, seperti Dr. Ayu Soetarto. Saat tiba di Tengger tanggal 8 Agustus 2006, peserta Jelajah Budaya mendapatkan ceramah budaya Tengger oleh Mujono, Koordinator Dukun Tengger.

Kegiatan ini diklaim oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sebagai kepedulian pemerintah terhadap keanekaragaman budaya. Agar masyarakat (peserta) dapat memahami keanekaragaman budaya yang merupakan jati diri bangsa, untuk menuju cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa.

Sekilas acara ini memang mengundang perhatian khusus, apalagi tema kegiatannya adalah studi budaya yang ditujukan kepada guru-guru SMA. Namun dalam prateknya, acara ini tak lebih dari sekedar kemasan pariwisata. Secara logis saja dapat dilihat bahwa acara ini tidak begitu serius, sesuai target yang dicanangkan. Bagaimana mungkin mengenal kebudayaan lokal (Tengger) hanya dalam tempo 12 jam. Ketersediaan waktu studi yang kurang dari 12 jam, sama lamanya dengan orang (turis) yang sedang melakukan rekreasi. Bahkan para turis dari mancanegara saja bisa sampai seminggu untuk bertahan di kawasan Bromo.

Belum lagi jika ditinjau dari isi acaranya, berupa peninjauan tempat-tempat wisata yang ada di Bromo, dan ditambah dengan ceramah Mbah Mujono dalam tempo 2 jam. Kenyataan ini sungguh sangat menyedihkan. Kekhawatiran dari bentuk-bentuk acara seperti ini adalah penangkapan realitas terhadap komunitas Tengger yang sangat mungkin bias. Rata-rata peserta memandang bahwa komunitas tradisonal (Tengger) sebagai komunitas eksotis dan unik dalam kacamata orang kota (guru, siswa, dan wartawan). Karena dalam memandang Tengger berpijak pada prinsip eksotika, maka tak ada bedanya dalam memandang benda (artefak) cagar budaya.

Kalau tidak hati-hati dan senantiasa otokritik, bentuk-bentuk acara seperti jelajah budaya ini akan menimbulkan persamaan dalam memandang antara kebudayaan Tengger dengan artefak sejarah, yang berarti harus dimuseumisasi, karena alasan-alsan eksotis, unik, dan menyejarah. Sesat pikir seperti ini harus disadari sejak awal. Kebudayaan wong Tengger adalah sesuatu yang organis, artinya dalam dirinya hidup sel kebudayaan yang terus berkembang dinamis, dan bisa berubah sewaktu-waktu. Wong Tengger bisa saling bernegosiasi, meresepsi, pun juga meresistensi kebudayaan yang datang dari luar dirinya. Jika ide atau gagasan untuk melakukan pelestarian adat itu dilakukan oleh Tengger sendiri patut kiranya kita dukung, namun sebaliknya jika ide itu dating dari luar, terutama orang-orang diperkotaan, maka perlu kiranya untuk melakukan rincian atas motif mereka.

Dalam paparannya kepada para guru-guru yang ikut acara tersebut, Mujono memberikan penjelasan mengenai seluk beluk adat Tengger, seperti yang menyangkut soal upacara adat, hingga sistem perkawinan. Acara seperti ini akan jauh bermanfaat jika para peserta sejak awal tidak digiring sebagai “turis”, akan tetapi lebih sebagai sahabat. Dengan membangun relasi sebagai sahabat, maka para peserta Jelajah Budaya tidak cenderung berpandangan wong Tengger sebagai obyek kajian, sehingga yang muncul hanya pikiran eksotika.

Saat berdiskusi, suara-suara yang muncul dari kalangan peserta Jelajah Budaya memang persis dalam rumusan di atas. Sehingga tak mengherankan jika, para peserta tersebut sangat berharap agara kebudayaan tengger tetap dan harus dilestarikan. Kondisi ini kian menjadi rumit, ketika realitas mereka tentang tengger yang terbentuk melalui kunjungan kurang dari sehari itu lalu didistribusikan kepada para peserta didik di SMA. Disamping menghasilkan materi-materi yang kurang lengkap atas tengger, kegiatan seperti ini lebih kental nuansa wisata ketimbang belajar atas fenomena secara lebih serius.

Hal ini akan berakibat serius jika imajinasi para guru dan wartawan yang mengikuti Jelajah Budaya tersebut membentuk realitas atas tengger di audien mereka masing-masing (guru kepada muridnya dan wartawan kepada pembacanya). Publik seolah-olah menangkap kebudayaan lokal {Tengger, Pendalungan, dan Using} sebagaimana yang dinarasikan oleh para guru dan wartawan tersebut. Padahal tangkapan itu hanyalah bagian kecil saja dari sebuah pergumulan yang rumit dan komplek dari kebudayaan local tersebut.

Kenyataan ini persis yang terjadi pada beberapa peneliti yang selama ini masuk ke Tengger, yang kemudian menghasilkan buku. Buku Agama-Agama Tradisional yang diterbitkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang {UMM} dan LKiS Yogyakarta misalnya menunjukkan betapa tidak serius dan gigih isinya dalam menangkap realitas yang terjadi di Tengger. Imajinasi peneliti telah berubah menjadi “kisah hidup” sendiri di Tengger, dan tentu saja bukan kisah hidup sepenuhnya sebagaimana yang terjadi di Tengger.

Pikiran-pikiran para peneliti yang cenderung modern dan berjarak dengan komunitas yang diteliti telah menghasilkan jarak tersendiri, bahkan secara kejam peneliti membangun rumusan sendiri. Pembentukan kategori agama tradisional atas agama yang berkembang di Tengger telah melemparkan masyarakat tengger dalam barisan dunia antah berantah, yang tentu saja dianggap aneh bagi para peneliti kota, patut untuk diteliti dan dilihat sebagai sesuatu yang unik.

Memang harus kita akui bahwa hampir semua peneliti yang berjibaku di Tengger mungkin saja tidak seratus persen mampu menggambarkan tekstur kebudayaan tengger, namun dari kegigihan peneliti dapat kita katakan karyanya sangat serius. Karya Robert Hefner yang menghasilkan beberapa buku atas Tengger adalah sedikit contoh dari tradisi akademik yang baik, walaupun Hefner belum tentu mampu mendeskripsikan Tengger secara presisi, karena penelitian sosial bukanlah angka matematis yang serba pasti.

Tradisi akademik kita yang begitu buruk ini harus segera di akhiri, kita harus berani terbuka dan jujur untuk mengatakana secara gambalang bahwa ada yang berbeda antara studi budaya dengan wisata. Sunguh tragis jika kita membiasakan diri having fun dengan berlagak sedang melakukan studi atau kajian. Sehingga dunia akademik kita tidak seperti orang melihat kucing dalam karung. Suaranya bagus, tetapi jika karung dibuka kita akan mendapati kucing yang penuh dengan ketidaksempurnaan secara fatal.


Laporan Workshop Penulisan Tahap 2

reading papers

Seperti telah dijadwalkan jauh-jauh hari sebelumnya, tanggal 26-28 Februari 2007 yang lalu Yayasan Interseksi telah menyelenggarakan workshop penulisan tahap akhir program riset Hak Minoritas tahun ke-2 di Wisma Ariyanti, Cisarua, Bogor. Ridwan Al-Makassary menurunkan laporannya di bawah ini.

Empat orang peneliti lapangan yang dalam workshop sebelumnya telah diminta menyiapkan tulisan yang lebih lengkap, semuanya hadir. Sayangnya, satu orang peneliti hukum tidak bisa datang karena baru saja melahirkan putri pertamanya (selamat!). Di samping para peneliti, juga hadir beberapa orang pengurus Interseksi dan para observer yang secara tajam selalu memberi komentar dan kritik pada semua kertas kerja yang ditulis oleh para peneliti. Seperti biasa, para peserta tidak berangkat bersama-sama dalam satu rombongan. Para peneliti datang sendir-sendiri dari kota asalnya masing-masing, sedangkan sebagian besar yang lainnya berangkat dari kantor Interseksi sekitar jam 11.00 pagi tgl. 26 februari 2007.
diskusi malam

Setelah makan siang, sekitar jam 14.00 acara workshop mulai dibuka. Pembahasan pertama adalah evaluasi tentang proses penulisan dan membuat time schedule penulisan akhir dan penerbitan buku. Beberapa standar penulisan ilmiah disepakati, dan semua penulis harus mengikuti standar yang disepakati tersebut. Setelah itu, presentasi kertas kerja dari peneliti. Kegiatan ini yang menjadi inti acara di Wisma Ariyanti. Secara umum, peneliti berhasil membuat kemajuan dalam penulisan kertas kerjanya, meskipun kertas kerja tersebut akhirnya harus disempurnakan lagi berdasarkan dialog yang santai namun tidak kehilangan kritisisme. Meskipun tidak terlalu optimal, workshop penulisan ke-2 ini memberi pijakan untuk menghasilkan karya yang cukup baik kualitasnya. Beberapa orang peneliti bahkan cukup berhasil menyajikan gagasan baru tentang analisa terhadap hak minoritas. Semua peserta berharap buku yang dihasilkan kelak akan lebih baik daripada buku hasil penelitian sebelumnya. Ini menjadi obsesi dari semua peserta yang hadir. Pada akhir Maret ini, para peneliti akan menyerahkan kertas kerja mandirinya, dan kemudian akan dimulai proses pembacaan secara elektronik melalui email untuk terus menyempurnakan tulisan yang sudah dibuat. Setelah tahap ini selesai, sekitar bulan April atau Mei 2007 naskah akan masuk ke bagian editing dan setiap naskah kembali akan "dibongkar" untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Akhir Juni atau awal Juli 2007 naskah buku dijadwalkan sudah selesai dicetak, dan siap dipasarkan.
football

Tentu saja tidak seluruh waktu kami habiskan untuk mendiskusikan isi tulisan para peneliti. Untuk mengurangi ketegangan, para peserta berinisiatif mengadakan adu-tanding sepakbola mini di halaman wisma tempat kami menginap. Pemain dibagi menjadi dua tim, masing-masing tim terdiri dari empat orang. Para peneliti tergabung dalam satu tim melawan tim panitia. Hasilnya, tim penatia berhasil mencukur habis kekuatan tim para peneliti. Pada momen-momen seperti itulah kegembiraan bersama meluap, dan kami bisa melupakan sedikit beban dari workshop yang memang sering terasa membosankan itu.

Pada akhir acara ada evaluasi terhadap program untuk perbaikan program ke depan. Ada dua hal yang penting dikemukan di sini. Pertama, bahwa mewujudkan karya berdasar riset berkualitas tidak mudah. Perlu kesungguhan! Secara khusus, dalam program ini peneliti mengusulkan adanya preliminary research terutama yang terkait dengan pilihan lokasi riset, yang pada program ini tidak cukup waktu untuk melakukannya. Kendala utamanya sebenarnya adalah soal anggaran yang tidak cukup untuk itu. Kedua, peneliti mengharapkan adanya program yang tidak sebatas menghasilkan riset, melainkan juga agar diiringi oleh pendampingan masyarakat yang diteliti. Bagi Interseksi, terus terang ini bukan hal mudah. Kami tentu saja juga pernah berpikir ke arah itu, tapi untuk melakukannya butuh dukungan bukan hanya dana yang cukup tapi juga sumberdaya manusia yang handal. Sebelum hal tersebut bisa diwujudkan, Interseksi berkomitmen untuk terus melakukan penelitian sosial yang cukup serius, yang bisa digunakan oleh pihak lain untuk kepentingan advokasi dan pendampingan. Secara khusus, Interseksi juga merencanakan adanya kegiatan sosialisasi hasil riset tersebut melalui worksop atau seminar di daerah yang telah diteliti, dan mencoba untuk meneruskan riset atas komunitas lokal yang mungkin diperluas dengan agenda kampanye terhadap isu ini.
scienta divina degracias

Setelah seluruh acara workshop selesai, hari Rabu tanggal 28 Februari 2007 kami berangkat pulang ke Jakarta. Dalam perjalanan kami khusus menyempatkan diri berkunjung ke rumah salah seorang peneliti kami, Indry, di daerah dekat Cijantung, Jakarta Timur. Setelah sempat keliru jalan sekitar jam 11 siang kami tiba di rumah yang asri itu. Indry terlihat sangat bahagia menimang buah cintahnya. Seorang bayi perempuan yang cantik. Setelah sebuah penantian demikian panjang, kegembiraan selalu terpancar dalam setiap kalimat yang diucapkannya dalam obrolan bersama kami. Kami semua juga ikut bahagia. Selamat. Selamat. Selamat!



Turut Berduka Cita


white flower


Seluruh warga komunitas Interseksi menyampaikan turut berduka dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya guru, bapak, dan tauladan kami Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri pada kecelakaan pesawat Garuda tgl. 7 Maret 2007. Kami percaya beliau akan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga dan kerabat yang ditinggalkan diberi ketabahan, keikhlasan dan kekuatan. Kami murid-muridnya akan tetap mengingat dan meneruskan semangat, kejujuran, dan kerendahan hati dan kesederhanaan yang telah dicontohkan almarhum di masa hidupnya.

Selamat jalan Pak Kus!