Perubahan Jadwal Pelatihan Penelitian

StopPress
Karena interval waktu untuk praktek penelitian kemungkinan besar akan bertepatan dengan pelaksanaan puasa di bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri tahun 2009, maka kami memutuskan untuk mengundurkan jadwal seluruh tahapan kegiatan Program Pelatihan Penelitian Aktivis Muda HAM Angkatan II/2009. Akibat positifnya, tentu saja, tengat waktu untuk penerimaan calon peserta menjadi jauh lebih panjang, dari semula tgl. 30 Juli 2009 menjadi tgl. 30 Agustus 2009. Informasi lengkap tentang perubahan jadwal kegiatan ini bisa dilihat pada halaman Time Frame Program.continue

Pelatihan Penelitian HAM Angkatan II/2009

Advokasi HAM atau isu yang lain tidak hanya bisa dilakukan melalui aksi demonstrasi di jalan-jalan. Setiap advokasi membutuhkan dukungan argumentasi yang dapat dipercaya. Argumentasi Anda dapat dipercaya hanya apabila ia didukung oleh sebuah penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Yayasan Interseksi berusaha mendukung para pelaku advokasi HAM melalui pemberian pelatihan penelitian sosial yang lengkap: mulai dari pembekalan metodologi, praktik penelitian lapangan, sampai penulisan laporan yang bisa meyakinkan pembacanya.

Setelah berhasil menyelenggarakan program Pelatihan Penelitian Angkatan Pertama tahun 2008 yang lalu, Yayasan Interseksi, bekerjasama dengan Hivos, kembali akan menyelenggarakan program Pelatihan Penelitian Aktivis HAM tahun 2009. Program ini ditujukan bagi para peneliti/aktivis muda yang menekuni isu-isu hak asasi manusia dan persoalan-persoalan diversitas kultural dalam relasinya dengan bangunan sosial tentang kebangsaan Indonesia. Kami mengundang para aktivis/peneliti muda HAM yang berdomisili di wilayah Jabodetabek untuk mengikut program pelatihan ini. Peserta yang lolos seleksi penerimaan akan mendapatkan seluruh paket pelatihan secara cuma-cuma, dan subsidi sebagian dana praktek penelitian lapangan.

Berikut adalah testimoni beberapa peserta pelatihan Angkatan Pertama:

Dulu penelitian adalah suatu hal yang tampak sulit bagi saya. Penelitian juga terkesan rumit dan hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang memang mampu. Suatu hari, tiba-tiba ada sebuah undangan dari Interseksi untuk mengikuti pelatihan penelitian bagi pemula. Singkat cerita akhirnya saya menjadi salah satu peserta yang lolos untuk ikut pelatihan ini. Betapa senangnya hatiku saat itu..hehehehe

Pelatihan ini berbeda sekali dengan pelatihan yang diadakan oleh lembaga-lembaga lainnya: tidak terlalu serius, kalau pegal-pegal kelamaan duduk silahkan angkat kaki di atas kursi, merokok berbatang-batang, boleh pake celana pendek, boleh pake sandal biasa, fun dan para tutornya sangat membantu kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta selama proses penelitian. Dan yang paling penting sang peneliti dipersilahkan menulis sesuai dengan karakternya masing-masing.

So, buat teman-teman yang lain ayo ikut ramai-ramai daftar di pelatihan ini. Dijamin BEDA

Rini Kusnadi, IKOHI, Jakarta



Membuat penelitian kukira sama dengan membuat skripsi. Dimana harus ada banyak teori yang disertakan. Maka tak heran kalau proposal penelitian pertamaku menghabiskan hampir seratus halaman. Setidaknya begitu yang kualami sebelum aku mengikuti workshop penulisan penelitian yang diadakan Interseksi setahun lalu. Menjadi sangat surprise, ketika di workshop itu semua teori-teori yang sudah kutulis dipangkas habis (aku masih suka malu kalau mengingat kejadian itu), tetapi bukannya menghilangkan makna malah kemudian semakin memperjelas arah yang ingin kusampaikan. Aku belajar banyak di dalamnya terutama belajar menulis sambil mengendalikan emosi karena kami juga selalu diingatkan untuk menulis tidak dengan cara “marah-marah”.

Berbekal pengetahuan yang diperoleh dari workshop itu, aku mulai terjun kelapangan untuk mengumpulkan sejumlah data dan membuat laporannya. Setelah kutulis kasus itu menjadi jelas. Selama ini pengalaman advokasi yang kulakukan memang belum pernah didokumentasikan secara apik. Biasanya aku hanya menuliskan point-pointnya saja yang menurutku penting. Aku lupa bahwa setiap kata dan setiap peristiwa dalam sebuah kasus jika ditulis dan dianalisa bisa menjadi alat bantu dalam melakukan advokasi karena dari hasil analisa itu memudahkan kita menentukan strategi berikutnya.

Pengalaman melakukan penelitian bersama Interseksi, tidak saja membuat aku secara pribadi menjadi mengerti bagaimana cara membuat penelitian tetapi juga memberi semangat baru bagi kawan-kawanku untuk melakukan penelitian terhadap kasus-kasus yang kami tangani untuk kemudian didokumentasikan. Meski masih dalam proses belajar tetapi langkah ini memperkaya referensi kami sehingga tidak terjebak hanya dalam aktivisme belaka tanpa alat bukti.

Akhirnya, kepada kawan-kawan ayo ikuti penelitian ini, akan ada banyak pengetahuan dan pengalaman baru didalamnya, terutama buat kawan-kawan dari Sumatera.

Romiana Manurung, YPRP – Medan




Saya merasakan peningkatan kemampuan dalam penentuan fokus riset. Selama ini saya selalu kesulitan dalam menentukan fokus karena saya menganggap semua hal penting dan semua hal harus dijawab. Yang saya tahu, hal itu memang benar, namun ketika saya mengikuti pelatihan penelitian Interseksi, saya mendapat satu hal penting bahwa untuk menjawab semua hal, kita harus belajar satu hal secara maksimal dan tuntas. Awalnya memang sulit karena kebiasaan saya sebelumnya masih belum hilang benar. Namun saya memperoleh pengetahuan juga dari pengalaman temen-temen peserta yang lain, sehingga ada share pengalaman dan dari sana bisa belajar satu sama lain.

(M. Subkhi, peneliti the Wahid Institute, Jakarta)




Bagi saya, penelitian dan mengkaji tidak hanya melakukan konfirmasi seluruh informasi yang kita miliki di lapangan, melainkan juga adalah menunjukkan analisis baru yang bisa memperkaya wacana ilmu pengetahuan. Dengan diselenggarakannya Pelatihan Penelitian HAM, dan kebetulan saya termasuk yang lolos seleksi panitia, saya mendapatkan kesempatan untuk terus mengasah dan menguji kemampuan saya khususnya yang terkait dengan isu HAM. Pada saat itulah saya memiliki kesempatan yang cukup memadai untuk mempelajari tentang HAM lebih dalam, bagaimana konsep HAM mulai muncul dan bagaimana kaitannya dengan isu gerakan petani yang saya minati.

Pelatihan ini sangat efektif bagi saya, karena kemudian saya juga mendapatkan pengetahuan yang lebih luas tentang persoalan-persoalan HAM, hal ini dikarenakan peserta yang memiliki interest yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut kemudian membuat isu HAM yang menjadi fokus pelatihan ini menjadi sangat luas dipaparkan, sehingga setidaknya bagi saya, pelatihan ini telah memberikan gambaran menyeluruh tentang HAM itu sendiri.

Selebihnya, program ini cukup 'menyenangkan' sebagai sebuah program akademik, yang diselenggarakan dengan cara yang relax dan prosesnya secara tidak disadari telah mendorong seluruh pesertanya untuk selalu peka dan tangkas mencari bahan-bahan maupun wacana-wacana baru khususnya tentang HAM dan isu yang diminatinya. Dengan proses seperti ini, setidaknya akan memberikan peluang bagi siapa saja yang ingin menjadi peserta, baik mereka yang sangat minim pengetahuannya tentang HAM maupun yang sudah 'tumpah isi kepalanya' dengan isu HAM.... Sukses buat Yayasan Interseksi.

(Hilma Safitri, peneliti AKATIGA, Bandung)




Bagi para pelaku advokasi/peneliti muda yang bekerja pada isu-isu HAM, pelatihan ini akan banyak membantu Anda mempertajam pemahaman konseptual dan kemampuan analisa sosial yang didasarkan pada teknik pengumpulan data yang dapat dipertanggungjawabkan, dan disajikan dalam bentuk tulisan yang mudah dipahami oleh pembaca. Tahun 2009 ini Yayasan Interseksi kembali membuka program pelatihan untuk Angkatan Kedua. Jumlah peserta dibatasi hanya untuk 5 (lima) orang peserta. Pendaftaran peserta akan ditutup tgl. 30 Juli 2009. Silakan dibaca informasinya
©THE INTERSEKSI FOUNDATION 2007. Contact Us