July 19, 2008/ 19:19 | Filed in:
ESSAY
Hatib Abdul Kadir
Kota Ambon yang sempit dan padat,
menyebabkan pola interaksi anak muda
menjadi lebih intensif. Pasca konflik,
ruang publik anak muda, secara garis besar
hanya terpusat pada dua tempat, yakni Ambon
Plaza dan Lapangan Merdeka. Dari kesempitan
ini tingkat persebaran gosip, isu dan
perkembangan anak muda secara informatif
sangat cepat menyebar. Gaya atau tingkah
pola anak muda Ambon yang penuh sensasi,
luar biasa atau bahkan menjengkelkan dengan
cepatnya terkabarkan ke segala penjuru.
Anak muda akan segera tahu, jika si A
sebagai pelaku sesuatu, maka pendengar
kabar atau saksi mata akan mengetahui, si A
anak muda dari wilayah mana, siapa saudara
yang dikenalnya, dan dimana ia sering
duduk-duduk2.
Pakaian, selera makanan dan minuman,
pilihan musik menggambarkan pengalaman
sosio kultural. Demikian pula, pengalaman
anak muda Ambon dalam menerjemahkan pilihan
gaya hidup dan selera tubuh mengacu kepada
benang historis dan nilai kultural.
Kemampuan menjalankan gaya secara bergengsi
pada sebagian anak muda Ambon, dianggap
bagian dari transfer gaya kaum kolonial
yang diadaptasi kembali dan terus
diartikulasikan hingga ketika pasca konlik
tahun 2002. Pencuatan gaya dikalangan anak
muda, disinyalir karena dua hal, yakni anak
muda yang memasuki masa usia transisi dan
perlu menyampaikan ekspresi tubuh dengan
mencolok, serta bentuk tingginya
kesensitifan terhadap rasa keterasingan
diri ketika berada di tengah modernitas
sebuah kota (Ewen, 47-54: 1988).
Konstruksi Anak Muda dalam
Negara
Anak muda digambarkan sebagai orang-orang
paling bergelora, radikal dan heroik
terhadap wacana anti kolonial. Munculnya
Jong Java (Pemuda Jawa), Indonesia Muda
(Pemuda Indonesia), Jong Islamietenbond
(Liga Pemuda Islam), Jong Minahasa (Pemuda
Minahasa), dan lainnya mengindikasikan
pemuda identik dengan orientasi yang peduli
dengan konstruksi Negara Bangsa. Setiap
individu pemuda diharuskan mempunyai
loyalitas kepatuhan terhadap negara
sekaligus pelaku utama perubahan dan
mempunyai berbagai potensi yang masih
tertanam (Ryter, 47, 58: 1998). Salah satu
karakter pemuda Indonesia seperti yang
digambarkan Anderson tidak merujuk pada
jenjang usia tertentu, dan memang pemuda di
Indonesia dalam rentangan rejim tidak
terbatas pada waktu tertentu (timeless)
(Anderson 3: 1999)
Antropolog James T Siegel, melihat bahwa
karakterisasi pemuda yang dianggap sangat
politik pada masa Orde Baru, dibengkokkan
ke istilah “remaja”. Sebuah istilah yang
diidentikkan dengan anak-anak muda
apolitis, dekat dengan perilaku konsumtif
dan hasrat-hasrat ketubuhan yang bertingkah
hedonistik3. Kata remaja juga mengacu
kepada anak muda kelas menengah dengan
pilihan-pilihan konsumsi yang telah selesai
mengurusi permasalahan tubuh secara primer,
seperti masalah gizi, kesehatan hingga
pendidikan. Konsep remaja ataupun anak muda
mempunyai satu kesamaan, yakni sangat
peduli dengan selera (taste) dan tingkat
konsumtifitas yang tinggi (Ryter, 58: 1998;
Siegel, 203-4: 1986; Shiraishi, 1997: 149).
Baca
selanjutnya>>