Diskusi Bulanan: KeIndonesiaan dan Modernitas

sang saka merahputih

"Di Timur matari mulai bercahya, bangun dan berdiri kawan semua. Marilah mengatur barisan kita. Pemuda-pemudi Indonesia".
Wage Rudolf Supratman



Di balik orang ramai membicarakan kebangkitan kembali Indonesia belakangan ini, kita seperti melihat frustasi hari ini yang bercampur begitu saja dengan sekepalan harapan untuk hari nanti. Dalam pusaran labirin keputusasaan itu, kita seperti sedang melihat satu larik saja cahaya yang memberi kita keyakinan bahwa di ujung sana masih ada terang, yang sumbernya justru dari masa lalu yang belum terlampau jauh betul. Indonesia kita bayangkan seperti sebuah sosok yang tidak lagi bediri tegak, terhampar oleh berton-ton persoalan. Karena itu ada ajakan untuk bangkit kembali, untuk mengatur barisan, agar kita melangkah lebih tegap, padu-padan sehaluan.

Indonesia adalah sebuah konsep modern. Ia sebenarnya tak punya jejak-jejak pra sejarah. Tapi, dari masa ke masa selalu muncul pandangan-pandangan yang mencoba menarik jauh mundur Indonesia ke jaman pra-Indonesia demi kepentingan politik persatuan. Berhadapan dengan pandangan mistis ini adalah dua kecenderungan yang pernah beradu pendapat dalam "polemik kebudayaan" antara mereka yang mencoba merumuskan keindonesiaan dengan melacak unsur-unsur kebudayaan yang menghidupi dan dihidupi masyarakat kebanyakan dengan yang melihat 'barat' sebagai acuan kemajuan sehingga diperlukan percepatan untuk mengejar ketinggalan berabad-abad.

Perdebatan yang sampai hari ini belum selesai sering disederhanakan sebagai pertentangan antara 'barat-timur' atau 'tradisi-modernitas', sementara sisi-sisi yang lebih kompleks dari perdebatan ini, misalnya perlawanan terhadap feodalisme, kebimbangan dalam menyikapi kolonialisme, atau keengganan untuk mempersoalkan struktur kelas, jarang disentuh. Padahal, dari kompleksitas inilah lahir satu konsep yang boleh dikatakan 'organik' Indonesia, yaitu 'kerakyatan' meskipun kata 'rakyat' itu sendiri berasal dari Arab. Seperti apa itu gagasan tentang 'kerakyatan' ramai diperbincangkan, terutama di kalangan seniman dan intelektual kiri, sejak 1950an, tapi sebelum ia berkembang lebih luas sudah terlibas oleh tragedi 1965 bersama dengan penumpasan para pekerja kebudayaan yang menyumbangkan pikiran dan karya bagi terumuskannya konsep 'kerakyatan'.

Untuk mendiskusikan hal tersebut secara lebih kritis, hari Jum'at tgl. 25 Juli 2008 kami mengundang Gung Ayu Ratih, peneliti pada Institut Sejarah Sosial Indonesia, untuk jadi pembicara dalam Diskusi Bulanan Yayasan Interseksi putaran ke-21. Seperti biasa, diskusi akan dilaksanakan di kantor Yayasan Interseksi, dan dimulai pada jam 15.00 waktu Jakarta Selatan sampai selesai. Keterbatasan ruang menyebabkan diskusi bulanan Interseksi hanya bisa diikuti oleh jumlah peserta yang sangat terbatas. Karena itu, pastikan kehadiran Anda melalui 021-7820444 (pada jam kerja), atau melalui surat elektronik pada interseksi[at]gmail[dot]com.

Nyong Ambon Pung Gaya

Hatib Abdul Kadir


anakmuda
Kota Ambon yang sempit dan padat, menyebabkan pola interaksi anak muda menjadi lebih intensif. Pasca konflik, ruang publik anak muda, secara garis besar hanya terpusat pada dua tempat, yakni Ambon Plaza dan Lapangan Merdeka. Dari kesempitan ini tingkat persebaran gosip, isu dan perkembangan anak muda secara informatif sangat cepat menyebar. Gaya atau tingkah pola anak muda Ambon yang penuh sensasi, luar biasa atau bahkan menjengkelkan dengan cepatnya terkabarkan ke segala penjuru. Anak muda akan segera tahu, jika si A sebagai pelaku sesuatu, maka pendengar kabar atau saksi mata akan mengetahui, si A anak muda dari wilayah mana, siapa saudara yang dikenalnya, dan dimana ia sering duduk-duduk2.

Pakaian, selera makanan dan minuman, pilihan musik menggambarkan pengalaman sosio kultural. Demikian pula, pengalaman anak muda Ambon dalam menerjemahkan pilihan gaya hidup dan selera tubuh mengacu kepada benang historis dan nilai kultural. Kemampuan menjalankan gaya secara bergengsi pada sebagian anak muda Ambon, dianggap bagian dari transfer gaya kaum kolonial yang diadaptasi kembali dan terus diartikulasikan hingga ketika pasca konlik tahun 2002. Pencuatan gaya dikalangan anak muda, disinyalir karena dua hal, yakni anak muda yang memasuki masa usia transisi dan perlu menyampaikan ekspresi tubuh dengan mencolok, serta bentuk tingginya kesensitifan terhadap rasa keterasingan diri ketika berada di tengah modernitas sebuah kota (Ewen, 47-54: 1988).

Konstruksi Anak Muda dalam Negara
Anak muda digambarkan sebagai orang-orang paling bergelora, radikal dan heroik terhadap wacana anti kolonial. Munculnya Jong Java (Pemuda Jawa), Indonesia Muda (Pemuda Indonesia), Jong Islamietenbond (Liga Pemuda Islam), Jong Minahasa (Pemuda Minahasa), dan lainnya mengindikasikan pemuda identik dengan orientasi yang peduli dengan konstruksi Negara Bangsa. Setiap individu pemuda diharuskan mempunyai loyalitas kepatuhan terhadap negara sekaligus pelaku utama perubahan dan mempunyai berbagai potensi yang masih tertanam (Ryter, 47, 58: 1998). Salah satu karakter pemuda Indonesia seperti yang digambarkan Anderson tidak merujuk pada jenjang usia tertentu, dan memang pemuda di Indonesia dalam rentangan rejim tidak terbatas pada waktu tertentu (timeless) (Anderson 3: 1999)

Antropolog James T Siegel, melihat bahwa karakterisasi pemuda yang dianggap sangat politik pada masa Orde Baru, dibengkokkan ke istilah “remaja”. Sebuah istilah yang diidentikkan dengan anak-anak muda apolitis, dekat dengan perilaku konsumtif dan hasrat-hasrat ketubuhan yang bertingkah hedonistik3. Kata remaja juga mengacu kepada anak muda kelas menengah dengan pilihan-pilihan konsumsi yang telah selesai mengurusi permasalahan tubuh secara primer, seperti masalah gizi, kesehatan hingga pendidikan. Konsep remaja ataupun anak muda mempunyai satu kesamaan, yakni sangat peduli dengan selera (taste) dan tingkat konsumtifitas yang tinggi (Ryter, 58: 1998; Siegel, 203-4: 1986; Shiraishi, 1997: 149). Baca selanjutnya>>

Pelatihan Penelitian Aktivis HAM

pelatihan

Yayasan Interseksi, bekerjasama dengan Hivos, akan menyelenggarakan program Pelatihan Penelitian Aktivis HAM tahun 2008. Program ini ditujukan bagi para peneliti/aktivis muda yang menekuni isu-isu hak asasi manusia dan persoalan-persoalan diversitas kultural dalam relasinya dengan bangunan sosial tentang kebangsaan Indonesia. Untuk tahap pertama, pelatihan akan diadakan bagi peserta yang berdomisili di wilayah Jabotadebek dan kota Medan, Sumatra Utara.

Pelatihan ditempuh dalam tiga metode yang saling terkait.

Pertama, pelatihan di dalam kelas dalam bentuk workshop persiapan penelitian. Selama workshop semua peserta pelatihan akan diberi pembekalan metodis, sejarah sosial, dan filosofis tentang isu-isu HAM dan diversitas kultural. Di samping itu, selama workshop peserta juga akan dibantu menyempurnakan rancangan penelitiannya masing-masing.

Kedua, pelatihan di luar kelas dalam bentuk praktek penelitian lapangan. Setelah mengikuti workshop persiapan penelitian, seluruh peserta diwajibkan melakukan praktek penelitian lapangan di wilayahnya masing-masing.

Ketiga, pelatihan penulisan laporan. Setelah melakukan penelitian lapangan, seluruh peserta wajib mengikuti sebuah workshop penulisan laporan penelitian. Workshop ini bertujuan untuk menyempurnakan draft laporan penelitian yang sudah ditulis oleh masing-masing peserta agar memenuhi standar penulisan ilmiah sekaligus mudah dipahami oleh pembaca pada umumnya.

Untuk informasi yang lebih lengkap silakan dilihat dalam ToR Pelatihan Penelitian Aktivis HAM.
©THE INTERSEKSI FOUNDATION 2007. Contact Us