FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Workshop Hasil Riset Audio Visual di Komunitas ToWana

printer Print this Page



di Rano Bae


Dua minggu yang lalu, tim peneliti udio-visual Yayasan Interseksi kembali dari sebuah field work di kawasan Cagar Alam Morowali, kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Seperti telah diberitakan sebelumnya, sejak bulan November 2007 yang lalu Interseksi sedang mencoba sebuah metode penelitian yang sama sekali baru bagi kami. Kalau selama ini kami menggunakan cara-cara konvensional dalam melakukan pengumpulan data, dalam riset audio-visual kami menggunakan perangkat kamera video untuk menghasilkan data audio-visual tentang ragam pola strategi yang dipakai komunitas-komunitas lokal di Indonesia dalam berhadapan dengan lingkungan pengaruh di luarnya.

Pada bulan desember 2007 kami memberangkatkan tiga orang anggota tim peneliti kami ke kawasan Cagar Alam Morowali, Sulawesi Tengah. Setelah selama satu bulan penuh berada di lapangan, mereka membawa pulang bukan oleh-oleh cenderamata berupa barang-barang eksotik seperti kebiasaan para pelancong, melainkan tumpukan besar data audio-visual yang sangat berharga. Tapi tumpukan data tersebut tidak akan terlalu banyak artinya kalau tidak bisa ditetapkan jaring-jaring relasi makna antara satu dengan lainnya. Singkatnya, setelah sebulan penuh berada di lapangan, tugas tim peneliti kami tidaklah menjadi mudah melainkan mungkin malah bertambah susah. Tantangan terbesar yang sekarang kami hadapi adalah bagaimana agar jejak-jejak audio-visual, orang biasa menyebutnya footage, yang total berukuran lebih dari 1 Terabyte (1000 GB), yang berhasil dikumpulkan dengan susah payah itu, bisa menghasilkan sebentuk pengetahuan yang bisa merangsang pikiran agar menjadi lebih cerdas.

Untuk keperluan itulah, tanggal 4 - 6 Februari 2008 ini kami mengadakan workshop di kawasan Cisarua Puncak. Melalui workshop tersebut kami berusaha memeriksa kelengkapan data, mendengar sebanyak mungkin saran dan kritik, sekaligus menetapkan bayangan konseptual tentang apa yang ingin kami hasilkan dari pekerjaan lapangan yang sudah dilakukan. Diharapkan hasil riset audio-visual kami bisa ditampilkan di depan publik pada awal minggu kedua bulan maret 2008.

Nomor kontak Yayasan Interseksi selama pelaksanaan Workshop : 081586467495 (Nia)

Masyarakat Adat Wana dan Kearifan Lingkungan


printer Print this Article


Jabar Lahadji

Jabar Lahaji
Direktur Yayasan Sahabat Morowali
Sulawesi Tengah
Pengantar

Akibat ekspansi "ekonomi kota" yang tercermin dari gaya hidup mereka beberapa di antaranya dapat dicontohkan disini. Tidak sulit untuk mencari tape recorder berkapasitas besar di Kajupoli. Setiap pendatang akan segera disuguhi oleh musik ataupun dendang lagu dangdut Bugis-Makasar di situ.....


Berbagai kalangan menyebut suku Wana, terutama yang hidup dan menetap di wilayah Cagar Alam Morowali, sebagai “suku terasing”. Penyebutan seperti itu sebetulnya didasarkan pada wilayah mereka yang “terisolir”, dan mengacu pada suatu keadaan ketidakberdayaan dari suku ini. Setidaknya terdapat dua ‘keuntungan’ sekaligus ‘kerugian’ bagi masyarakat Wana dengan munculnya istilah demikian yaitu; pertama, terdapat suatu upaya agar mereka kemudian menjadi tidak terisolir dan kemudian berdaya; kedua, terjadi perhatian yang luar biasa terhadap mereka.

Dengan istilah terisolir itu, kemudian timbul berbagai upaya agar mereka tidak terisolir lagi yang lantas memunculkan berbagai ‘proyek prestisius’ yang antara lain melahirkan program resettlement. Tidak dapat disangkal, program itu telah menelan dana yang sangat besar, tetapi secara jujur harus dikatakan bahwa program tersebut sama sekali tidak berhasil. Perhatian yang sangat besar terhadap mereka kemudian melahirkan suatu ekses yang bisa jadi mempunyai dampak yang cukup serius dalam perkembangan evolusi masyarakatnya. Karena istilah terisolir itu pula, mereka seakan-akan menjadi tontonan, atau alat peraga hidup bagi orang-orang yang merasa lebih modern. Dalam konteks evolusi masyarkat, kehidupan masyarakat Wana sebetunya hampir di alami oleh hampir semua suku bangsa yang pernah ada di dunia. Demikianlah, dalam skala dan watak mayarakat dikenal dengan istilah-istilah band, segmentary society (tribes), chiefdom, dan state.

Berdasarkan Pendataan tahun 2000-2001, populasi suku Wana berjumlah 1.767 jiwa. Pola hidup suku mereka dipengaruhi oleh sistem adat yang mereka anut dengan menyandarkan hidup mereka pada hutan Adat. Penyikapan-penyikapan mereka terhadap hutan, dengan demikian, bisa dikatakan merupakan the way of life, petunjuk dalam menjalani hidup, yang memberi arah hidup orang Wana sehari-hari. Diluar hari-hari mengerjakan lahan kebun dan masa menuai tanaman, keseharian mereka dihabiskan di hutan tropis Cagar Alam Morowali. Dalam kesahajaannya, di hutan seolah-olah selalu ada hari esok yang pasti bagi orang Wana, dan mereka menyongsong pagi dengan amat ceria dan kepastian bahwa di luar sana selalu ada tersedia apa saja yang mereka butuhkan dalam hidup.
[Baca selanjutnya...]