FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Workshop Penulisan Laporan Penelitian Hak Minoritas Tahap II

workshop

Setelah workshop penulisan pertama di GG House Desember 2006 yang lalu, para peneliti Hak Minoritas tahun ke-2 diberikan keleluasaan waktu sekitar dua bulan untuk menyempurnakan tulisan hasil laporan riset di masing-masing wilayah. Workshop tgl. 26-28 Februari 2007 ini adalah lanjutan dari workshop sebelumnya. Tujuannya adalah untuk memeriksa dan mendiskusikan kertas kerja masing-masing peneliti setelah selama dua bulan mereka menulis.

Berbeda dari workshop pertama yang difokuskan pada presentasi temuan hasil penelitian lapangan, workshop kali ini khusus didedikasikan untuk membahas masing-masing laporan tertulis yang kelak akan dipersiapkan menjadi sebuah buku. Karena buku memiliki jangkauan pembaca lebih luas daripada sebuah naskah laporan penelitian, banyak aspek yang harus dikerjakan agar laporan-laporan tersebut siap diterbitkan. Masing-masing peneliti akan dihadapkan pada sebuah diskusi sangat mendalam yang bukan hanya membahas aspek substansi melainkan juga aspek-aspek lain seperti bahasa, gaya dan standar penulisan, dan sistematika tulisan. Setelah workshop ini, para peneliti hanya memiliki sisa waktu satu bulan untuk menyempurnakan tulisannya kembali, sebelum seluruh naskah masuk ke bagian editorial yayasan Interseksi. Diharapkan sekitar akhir bulan Juni 2007 buku yang didasarkan pada penelitian tentang Hak Minoritas tahap kedua ini sudah terbit dan beredar di pasaran.

Workshop akan dilaksanakan di Wisma Aryanti, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.


Laporan Diskusi Transformasi Keintiman di Indonesia

martin slama

Intimasi dalam arti kedekatan relasi personal yang mendalam antara seorang laki-laki dan perempuan sering melahirkan konotasi negatif dalam vernakular sebagian besar masyarakat Indonesia. Mungkin karena itu pembicaraan tentangnya masih cenderung tidak dilakukan secara terbuka. Sejak lama orang menganggap keintiman bukan sesuatu yang pantas dibicarakan, apalagi dipertontonkan di depan khalayak ramai. Sampai saat ini, misalnya, film-film yang disiarkan televisi di Indonesia, bahkan sekalipun itu film Hollywood, selalu menghilangkan bagian terbesar adegan ciuman penuh berahi lelaki versus perempuan. Ironisnya, ekspresi keintiman dalam bentuk adegan yang jauh lebih sensual, seperti gerakan-gerakan tari yang cenderung erotis, meskipun tanpa adegan ciuman, dalam film-film Bollywood, itu justru disiarkan secara lengkap, dan sejauh ini tidak ada yang memprotesnya. Ada sejenis ambivalensi dalam masyarakat kita dalam menyikapi penyiaran intimasi di layar TV.
another angle

Ketika film Buruan Cium Gua (BCG) mendapat protes dari beberapa kalangan masyarakat kita, bukan saja adegan filmis ciuman yang mengundang kontraversi, tapi bahkan pencantuman kata “ciuman” secara terbuka menjadi judul sebuah film pun dianggap tidak sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia. Di lain pihak, negara saat ini justru sangat sibuk mengatur tatalaksana tubuh biologis warganya. Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUUAPP), yang sangat kontroversial itu, misalnya, memperlihatkan bagaimana negara merasa memiliki kepentingan mengontrol beberapa aspek intimitas dalam kehidupan warganya. Ciuman (di tempat umum) termasuk salah satu yang akan ditertibkan. Intimitas ditarik masuk ke dalam wilayah politik kekuasaan, dan negara mengklaim dirinya sebagai otoritas yang berwenang mengaturnya demi tertib sosial.
table

Apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam masyarakat kita saat ini? Apa yang terjadi di balik semua itu? Diskusi bulanan Yayasan Interseksi tgl. 14 februari 2007 yang lalu mencoba memetakan beberapa persoalan yang mengiringi berlangsungnya proses transformasi keintiman dalam masyarakat Indonesia. Secara lebih spesifik, Dr. Martin Slama, antropolog dari Austrian Academy of Sciences (Ralat: sebelumnya kami menulis Austrian Institute of Sciences), yang datang sebagai pembicara dalam diskusi tersebut mendiskusikan banyak hal fundamental dalam hidup kita yang bisa dimulai dari sebuah kajian tentang praktek ciuman.

Slama menceritakan awal ketertarikannya untuk mempelajari praktek ciuman dalam masyarakat Indonesia ketika ia sedang belajar bahasa Indonesia hampir sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu ia merasa penasaran dengan arti kata jadian "mencium" dalam bahasa Indonesia yang berwayuh makna: mengecup pipi atau bagian tubuh yang lain yang padanannya dalam bahasa Inggris adalah "to kiss" ("küssen" dalam bahasa Jerman), dan membaui sesuatu atau "to smell" dalam bahasa Inggris ("riechen" dalam bahasa Jerman). Merujuk pada hasil kajian atas beberapa naskah klasik Jawa seperti Serat Centini, yang di dalamnya terdapat informasi tentang teknik atau cara para bangsawan Jawa menggoda kekasihnya, Slama menduga bahwa praktek ciuman yang dilakukan dalam masyarakat Indonesia berbeda dari apa yang dikenal dalam prakteknya pada masyarakat Eropa. Ini diperkuat oleh laporan antropolog Bronislaw Malinowski bahwa praktek ciuman seperti yang biasa dilakukan oleh orang Eropa dahulu sama sekali tidak dikenal dalam masyarakat-masyarakat Asia, bahkan di China dan Jepang sekalipun.
poster

Pada bagian lain Slama menguraikan pergeseran makna praktek ciuman dalam masyarakat Eropa (dan Amerika) dari zaman ke zaman. Pada zaman Pertengahan, ciuman merupakan bagian dari upacara. Artinya ia merupakan bagian dari kehidupan publik. Di zaman Pencerahan, ketika kehidupan domestik/privat dipisahkan secara tegas dari kehidupan publik, ciuman dimaknai sebagai praktek yang hanya boleh dilakukan pada ranah privat. Lebih dari itu, ciuman bahkan secara eksklusif mulai ditafsirkan sebagai praktek romantis. Pada awal abad 20, praktek ciuman kembali muncul dalam kehidupan publik ketika orang justru berusaha menciptakan ruang-ruang privat di dalam ranah publik. Mengutip argumen Eva Illouz, praktek semacam itu terjadi di dalam "islands of privacy in public". Dalam sejarah perfilman Hollywood terjadi perkembangan menarik ketika pada tahun 1930 dikeluarkan apa yang disebut Hollywood code. Isinya, antara lain, adegan ciuman lidah dalam film sebaiknya dihindari. Baru pada tahun 1968, seiring munculnya revolusi kultural di Eropa dan Amerika, Hollywood code dihapuskan, dan praktek ciuman kembali tampil di depan publik (penonton). Menariknya, salah satu isi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (2004) yang dikeluarkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tahun 2002, Pasal 41 justru dimulai dengan larangan adanya adegan ciuman romantik/erotis (Ayat 1). Ciuman yang diperbolehkan hanyalah yang terjadi dalam konteks kekeluargaan dan persahabatan: mencium rambut, mencium pipi, cium tangan, cium dahi dan sungkem (Ayat 2).

Pembahasan tema mulai menusuk memasuki problem sosial yang lebih mendasar ketika praktek ciuman juga ternyata merupakan salah satu tapal batas kapan Barat dimulai dan Timur berakhir dalam wacana yang berkembang di Indonesia. Ambivalensi masyarakat kita terhadap praktek keintiman di depan publik ternyata bukan hanya terjadi saat ini, melainkan sudah sejak lama. Merunut pada laporan Clifford Geertz, misalnya, seorang laki-laki di Pare akhir tahun 1950an mengaku bahwa dia tidak keberatan dengan adegan ciuman dan adegan romantis lainnya dalam film Amerika. Tapi ia keberatan kalau hal itu terjadi dalam film Indonesia. Lima puluh tahun kemudian, sebuah penelitian di Yogyakarta juga mendapati kenyataan yang persis sama.

Di luar dugaan, seluruh peserta diskusi sangat antusias menanggapi presentasi yang disampaikan oleh Slama. Diskusi kemudian berkembang ke perbincangan tentang agama dan politik dan relasi keduanya dengan proses-proses transformasi keintiman dalam masyarakat Indonesia, dan relasi maknanya dalam sektor kehidupan masyarakat yang lain. Ciuman sebagai sebuah praktek kultural ternyata bisa membukakan pintu bagi sebuah diskusi yang sangat serius tentang banyak persoalan yang terjadi dalam masyarakat kita.


Dikusi Bulanan tentang Transformasi Keintiman di Indonesia

intimasi

Program diskusi bulanan Yayasan Interseksi tahun 2007 akan dimulai pada bulan februari ini. Sejak Mei sampai Desember 2006 yang lalu, forum diskusi ini telah membahas bermacam-macam topik mulai dari persoalan hukum yang berpihak kepada perempuan, gerakan Islam baru di Indonesia, sampai tentang neoliberalisme. Tujuan terpenting forum ini adalah untuk membuat suberversi kecil-kecilan terhadap isi pikiran pesertanya sendiri. Dengan tujuan seperti itu pula, tahun ini kami akan mencoba mendiskusikan tema-tema lain yang lebih variatif dari mulai politik, film, gerakan sosial, sampai relasi sumberdaya alam dan demokrasi.

Untuk menyegarkan pikiran para peserta, kami akan mengawali program diskusi ini dengan tema yang sangat unik, menarik, tapi sekaligus juga konkret terjadi dalam hidup kita sehari-hari, yakni tentang proses transformasi bentuk-bentuk relasi intimasi anggota masyarakat kita sejak zaman awal kemerdekaan sampai sekarang ini. Salah satu bentuk ekspresi keintiman yang paling universal adalah ciuman. Pada diskusi kita kali ini, ciuman bukan hanya dilihat sebagai ekspresi romantik antara sepasang kekasih, melainkan juga sebagi peristiwa kultural yang di baliknya kita bisa mempelajari bermacam-macam soal pelik yang terjadi belakangan ini seperti kasus kontraversi Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUUAPP), sampai hirukpikuk tentang poligami yang bahkan melibatkan presiden RI dalam polemiknya.

Untuk mendiskusikan hal tersebut, kami sengaja mengundang pembicara seorang antropolog dari Austria Institute of Sciences, Dr. Martin Slama, yang bertahun-tahun menghabiskan waktu untuk mempelajari kehidupan masyarakat kontemporer di Indonesia. Rincian kegiatannya adalah sebagai berikut:

Topik Diskusi: Transformasi Keintiman di Indonesia. Sebuah Kajian Antropologi Budaya tentang Ciuman
Pembicara: Dr. Martin Slama (Austria Institute of Sciences)
Waktu: jam 15.00 - selesai
Tempat: Kantor Yayasan Interseksi, Jl. Raya Lenteng Agung Raya No. 39, Jakarta Selatan

Seperti biasa, diskusi ini hanya untuk jumlah peserta yang sangat terbatas. Karena itu konfirmasikan kehadiran Anda melalui telepon ke sekretariat Interseksi (021-7820444) atau melalui email ke alamat ini.




Banjir Jakarta dan A Tower of Bable

Posted by: Hikmat Budiman
banjir
Foto oleh Larasita Gerardine

Tahun 2002 yang lalu sebagian warga Jakarta mengalami banjir terparah yang pernah terjadi di kota ini. Waktu itu, konon, 2/3 wilayah DKI terendam genangan air yang bahkan ada yang sampai 5 meter tingginya. Hal paling menarik adalah bangkitnya solidaritas warga Jakarta untuk saling menolong. Ketika negara terlalu banyak menghabiskan anggaran dan energinya untuk politik kekuasaan, ia kehilangan sebagaian kemampuannya untuk membantu warganya yang kesusahan. Sebuah kekuatan besar kemudian muncul bersumber dari kerelaan orang untuk berbagi, untuk berempati pada penderitaan sesama. Di mana-mana ada posko bantuan. Peristiwa serupa, tapi dalam skala yang jauh lebih besar juga terjadi saat Aceh dihantam prahara tsunami beberapa tahun lalu. Dan dari situ kita masih bisa merasakan bahwa sesungguhnya republik ini belum mau habis. Paling tidak masih jauh lebih banyak orang baik hadir setiap hari di tengah-tengah kehidupan kita yang nyata, daripada apa yang kita dapat dari gambaran tentang buruknya reputasi pejabat-pejabat publik kita. Beberapa kalangan lantas menghubungkan itu dengan tesis-tesis tentang modal sosial.

Tahun ini, menurut pengakuan beberapa orang korban, banjir yang melumpuhkan Jakarta lebih parah daripada tahun 2002 yang lalu. Diperkirakan sekitar 70% wilayah Jakarta kebanjiran. Seperti biasa, suasana menjadi terlampau riuh, bukan hanya oleh lenguh penderitaan para korban bencana, tapi juga oleh para penjaja suara politik. Foto-foto di halaman muka semua surat kabar yang terbit di Jakarta menampilkan Jakarta yang mirip kuda nil: makhluk raksasa lamban yang sedang berendam dalam kubangan air kotor. Dan tampak bodoh. Sangat dramatis. Karena itu kami tidak ingin menampilkan gambar serupa di halaman ini.

Lantas muncul pernyataan yang benar-benar sulit dipercaya bahwa itu keluar dari orang yang memiliki empati. Banjir tahun 2007 ini, kata pernyataan tersebut, tidaklah separah seperti yang digambarkan dalam berbagai pemberitaan. Media massalah yang melebih-lebihkan berita sehingga seolah-olah Jakarta lumpuh. Padahal masih banyak warga yang tidak terkena musibah itu. Bahkan yang terkena musibah pun masih banyak yang bisa tertawa. Mudah ditebak, pernyataan itu hanya mungkin diucapkan oleh orang yang dulu pernah berkata "kalau tidak mampu membeli LPG kenapa tidak pakai kompor minyak tanah saja?". Persisnya, itu adalah ucapan Aburizal Bakrie, orang yang jabatannya mengalami demosi dari Menko Perekonomian (ketika menepis keberatan orang terhadap kenaikan LPG) menjadi Menko Kesra saat ini.

Dari pernyataan itu kita bisa melihat betapa tidak nyambungnya antara apa yang sedang dialami oleh rakyat dengan pemahaman seorang Menko Kesra, yang tugasnya justru untuk mengurusi kesejahteraan rakyat. Bagi rakyat yang sedang menderita akibat banjir tahun ini, keluhan mereka seperti terus-menerus membentur tembok keras, karena begitu susahnya seorang pejabat seperti Ical memahami apa yang disuarakan mereka. Indonesia jadi seperti apa yang dalam Genesis dilukiskan sebagai a tower of bable, antara rakyat dan pemerintahnya seperti bicara dalam bahasanya sendiri-sendiri sehingga tidak pernah bisa saling memahami. Kalau negara kita bayangkan sebagai sebuah penyelenggaran politik untuk mencapai kesejahteraan, seperti menara yang dibangun untuk mencapai syurga dalam kisah biblikal, pernyataan Ical tadi merefleksikan kenyataan bahwa penyelenggaraan politik itu justru bisa melahirkan frustasi karena antara bahasa yang dipakai oleh rakyat dan pemerintah tidak berada pada semesta pemaknaan yang sama. Duo monolog seperti itu hanya mungkin terjadi akibat dua kemungkinan: atau rakyat yang keliru memilih pemimpin atau si pemimpin yang kian hari kian bebal seperti tembok. Waktu rakyat Amerika kecewa pada Clinton akibat skandal seksualnya dengan Monica Lewinsky mereka berkesimpulan bahwa "Clinton memang presiden kita, tapi ia jelas bukanlah pemimpin kita". Lantas apa yang pantas kita katakan?