FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Interseksi Pindah Kantor Baru

frontview

Hari sabtu tgl. 23 Desember 2006 kemarin, Yayasan Interseksi pindah alamat ke kantor yang baru. Efektif mulai hari Selasa, 26 Desember 2006 seluruh aktivitas Interseksi akan dilakukan di dan dari kantor baru tersebut. Tapi karena kami masih harus membenahi banyak hal, seperti biasa orang pindah alamat, dalam beberapa hari ke depan pasti masih banyak hal yang belum berlangsung normal seperti biasa. Mudah-mudahan persis pada pergantian tahun, bulan Januari 2007 nanti, kondisi kantor kami sudah 100% pulih. Untuk urusan administrasi, waktu pemulihan mungkin akan sedikit lebih lama.
minitruck

Kepindahan ini sebenarnya sudah kami rencanakan sejak jauh-jauh hari. Sudah lama kami tidak terlalu kerasan di tempat lama, karena letaknya yang tidak cukup mudah dijangkau kendaraan, dan lingkungan sekitarnya yang juga tidak cukup menggembirakan. Tapi seperti kita tahu, di Jakarta bukan hal mudah untuk menemukan lokasi yang cukup bagus dengan harga sewa yang terjangkau oleh lembaga kecil seperti Interseksi. Setelah berlangsung berbulan-bulan, perburuan lokasi kantor baru itu pun akhirnya berbuah juga. Kami bisa menemukan sebuah rumah di jalan raya Depok-Pasar Minggu, masih di daerah Jakarta Selatan, dengan halaman yang cukup luas dan teduh, dan ditumbuhi pohon-pohon besar dan rindang. Ada satu pokok pohon rambutan yang sekarang sedang mulai berbuah ketika kami mangangkuti barang-barang dari kantor lama ke sana.

Semula kami sedikit pesimis, karena harga sewa yang ditawarkan cukup melonjakkan bola mata. Tapi setelah bernegosiasi selama berhari-hari, akhirnya kami dan si pemilik rumah sampai pada jumlah nominal yang cukup masuk akal, untuk Interseksi terutama. Selain harga bisa turun, kami bahkan bisa mendapat tambahan sebuah ruang baru untuk rapat atau keperluan lain. Negosiasi, kalau berhasil, memang bisa menambah saudara...hehehe... Terima kasih Pak Edy.
numpuk

Di rumah yang cukup besar itu kami tidak sendirian, karena ada kantor lain yang menempati ruang lebih kecil di sebelah ruang yang dipakai untuk kantor Interseksi. Bukan LSM, tapi sebuah biro yang bergerak di bisnis rental kendaraan.

Karena tempatnya cukup nyaman, ada kemungkinan Agenda Diskusi Bulanan kami, yang selama ini diadakan di Bukafe, itu nanti akan dilakukan secara bergantian dengan ruang di kantor baru ini. Selain sedikit menghemat biaya, cara itu juga ditempuh untuk sedikit memperluas latar belakang audience peserta diskusi terbatas itu. Sebab tidak berapa jauh dari lokasi kantor kami yang baru, ada beberapa perguruan tinggi terkenal di Jakarta: UI, Universitas Panca Sila, IISIP, Universitas Guna Dharma, dll. Mudah-mudahan ini juga merupakan awal yang baik untuk diseminasi gagasan Interseksi, baik yang sudah maupun yang akan segera diterbitkan. Bagaimana pun, cita-cita kami untuk memperkuat jaringan-jaringan komunitas epistemik masih butuh kerja keras.
angkut

Kebetulan memang kepindahan kami hampir bersamaan dengan pergantian tahun. Tapi itu lebih karena jatuh tempo sewa di kantor lama memang persis di akhir bulan desember tahun ini. Kalau pun kebetulan seperti ini ada gunanya, kami hanya berharap agar di tahun yang baru nanti teman-teman warga komunitas Interseksi (sekarang sudah meluas karena ditambah komunitas peserta diskusi bulanan di Bukafe) bisa mendapat semangat baru untuk lebih keras bekerja.

Ada sebuah ungkapan terkenal selama masa revolusi industri di Inggris tempo dulu: firing on all cylinders. Dengan segala keberuntungan dan keterbatasan, kami mencoba menangkap semangat itu sebagai ajakan untuk kerja keras. We are now firing on all cylinders. Tahun baru, kantor baru, tantangan baru. Mohon doa dari semuanya. Selamat Natal dan Tahun Baru.



Workshop Penulisan Laporan Penelitian

presentasi

Hari Senin, tgl 4 Desember 2006, kami berangkat dalam beberapa rombongan terpisah menuju lokasi penyelenggaran workshop penulisan laporan hasil penelitian tentang hak minoritas tahun kedua. Ada yang berangkat dari Yogyakarta, ada pula yang langsung terbang dari Jawa Timur. Beberapa yang lain berangkat dari Jakarta dan Depok. Para peneliti yang datang dari luar kota semuanya tiba lebih dahulu daripada rombongan Jakarta dan Depok. Ketika seluruh rombongan akhirnya tiba satu persatu, waktu sudah hampir pukul 14 petang. Rombongan dari Depok, yang jaraknya paling dekat ke lokasi, justru datang paling belakangan.

diskusi
Sesuai rencana pada tanggal 4-6 Desember 2006, workshop penulisan pertama, yang bertujuan untuk mendiskusikan hasil temuan lapangan (field research) para peneliti di empat lokasi penelitian, telah dilaksanakan di kesunyian alam pedesaan, GG House, Gadog, Ciawi, Bogor. Semua peneliti lapangan dan Tim Interseksi hadir. Para peneliti, dalam acara tersebut, telah mempresentasikan temuan-temuan lapangannya dengan kapasitas datanya masing-masing, dan juga ditimpali dengan dialog-dialog kritis, baik oleh TIM Interseksi maupun teman-teman sesama peneliti yang terlibat. Acara berlangsung secara santai dan guyub, tanpa menghilangkan kualitas diskusi.

paveway

Semua peserta peneliti berusaha tampil sebaik mungkin mempresentasikan draft naskah laporannya masing-masing. Ada empat orang peneliti yang telah menyelesaikan riset lapangan: Heru Prasetia untuk wilayah komunitas Tolotang, Sulawesi Selatan; Uzair Fauzan untuk komunitas Parmalim, Sumatra Utara; Amin Mudzakir untuk komunitas Ahmadiyah, Cianjur, Jawa Barat; dan Paring Waluyo untuk komunitas Tengger, Jawa Timur. Selain keempat orang peneliti tersebut, program riset Interseksi tahun ini juga melibatkan seorang peneliti hukum untuk mengkaji aspek-aspek legal problem kelompok-kelompok komunitas minoritas di Indonesia. Indriawati Dyah Saptaningrum, sehari-hari bekerja di Elsam, Jakarta, kami undang untuk membantu Interseksi membangun argumentasi legal yang memadai atas hasil-hasil temuan para peneliti lapangan.
nulis

Secara umum, dari presentasi masing-masing tergambar bahwa para peneliti telah berhasil mengumpulkan banyak data lapangan, yang berguna untuk proses penulisan ke depan, meskipun kumpulan data tersebut belum terstruktur dan sistematik dalam suatu laporan yang utuh. Tetapi, arena ini memang tidak difokuskan untuk tujuan itu. Arena ini lebih bermaksud tidak saja untuk mendiskusikan draft laporan lapangan, tetapi juga membuat out line penulisan untuk kepentingan publikasi sebagai output dari riset. Singkatnya, belum ada kepentingan untuk hadirnya suatu laporan lapangan yang sempurna. Direncanakan pada bulan Februari 2007 akan diadakan workshop penulisan kedua, yang akan menitikberatkan pada konten dan koherensi gagasan secara keseluruhan. Pada saat ini para peneliti diberi waktu untuk membuat draft laporan untuk publikasi buku yang akan didedah lagi pada workshop penulisan ke dua. Untuk melihat notulasi acara dapat menghubungi Interseksi.



Kekerasan Kembali Menghantam Kita di Ujung Tahun

Ada banyak peristiwa mencemaskan yang terjadi di ujung tahun 2006 ini. Dua di antaranya menyangkut kebebasan yang selama beberapa tahun ini justru sering dianggap sudah sangat berlebihan di Indonesia. Yang pertama adalah kasus pemecatan wartawan senior harian Kompas, P. Bambang Wisudo, yang didahului oleh sebuah drama kekerasan adalah sebuah ironi memalukan. Seorang wartawan di sebuah surat kabar yang sangat dihormati di Indonesia, karena dianggap merupakan salah satu cagar kekuatan moral dan intelektual bangsa, itu disergap oleh beberapa orang anggota SATPAM, disekap, dan diinterogasi hanya karena ia menyebarluaskan protesnya terhadap elit-elit pimpinan Kompas.

Pemecatan tentu saja merupakan bagian dari konflik dalam hubungan industrial yang biasa terjadi di perusahaan mana pun. Kita bisa mempercayakan solusi untuk masalah tersebut pada perundingan-perundingan yang lazim ditempuh untuk menyelesaikan kasus seperti itu.

Tapi (kabar tentang) penanganan manajemen kompas atas tubuh biologis Wisudo adalah sebuah kasus yang sama sekali lain. Kalau apa yang dituturkan Wisudo dalam kronologi peristiwa penangkapan dan pemecatannya itu benar adanya, Kompas telah melakukan sebuah tindak kekerasan yang benar-benar menyakitkan secara harfiah, dan sangat mencemaskan secara politik karena itu berarti selalu ada upaya pengerahan kekuatan koersif untuk membungkam. Masing-masing pihak tentu saja punya cerita versinya sendiri. Kita masih harus menunggu apakah yang terjadi adalah benar sebuah praktek kekerasan atau sebuah justa semata--satu bentuk kekerasan yang lain sebenarnya. Tapi moralnya adalah, tidak patut sebuah masalah diringkus oleh kekerasan. Apa pun bentuknya.

Penyakit represif rezim otoriter tampaknya memang menular ke mana-mana, bahkan ketika negara demikian lemah reprepsi bisa dilakukan oleh siapa saja. Sampai beberapa bulan yang lalu, hampir setiap pekan kita mendengar kabar tentang tindakan dan ancaman kekerasan oleh beberapa kelompok massa kepada kelompok lainnya. Jakarta seperti dihidupkan melulu oleh orang-orang yang sibuk saling tarik urat leher dan kebencian. Dan orang-orang yang selalu siap menghancurkan.

Beberapa hari yang lalu, sekelompok orang membubarkan sebuah diskusi di toko buku Ulitimus di Bandung, Jawa Barat. Dalihnya, mereka menolak kalau Bandung dijadikan celah kecil penyebarluasan faham komunisme. Penyebabnya, diskusi tersebut membahas gerakan Marxisme internasional. Bisa dibayangkan berapa jarak epistemologis yang dilompati logika mereka untuk sampai pada kesimpulan bahwa orang yang mendiskusikan Marxisme identik dengan pewarta komunisme. Lebih sewindu Orde Baru runtuh, tapi tabiat busuknya terus beranak pinak di hati dan pikiran sebagian warga kita, seperti gelembung-gelembung nafsu angkara Rahwana terus menelikung kesadaran masyarakat dan para pemimpin dalam alam Ramayana. Tapi apakah mereka membaca Ramayana?


Monthly Discussion on Neoliberalism, The State, and the Citizen

For English please scroll down
piggyboot

Paling tidak sejak dekade 1970an, neoliberalisme telah menyebar ke banyak tempat di dunia, dan telah menjadi sebentuk "ideologi" di balik kebijakan-kebijakan pembangunan di banyak negara, termasuk di Indonesia saat ini. Argumen utama neoliberalisme adalah bahwa kita harus membiarkan pasar bebas menjadi panduan bagi seluruh tingkah laku umat manusia. Pasar, dengan kata lain, dianggap sebagai hakim sekaligus kuasa yang tidak bisa dilawan. Konsekwensinya, intervensi negara ke dalam ekonomi harus terus-menerus dikurangi, dan bahwa (dengan itu) obligasi negara untuk memberikan kesejahteraan bagi warga negara juga semakin tidak relevan. Indonesia di bawah rezim kuasa saat ini persis berada dalam lingkaran doktrin semacam itu.

Pada hari senin, tgl. 18 Desember 2006, kami mengundang Hilmar Farid, seorang intelektual muda yang sangat dihormati di Indonesia, untuk lebih jauh berdiskusi tentang topik neoliberalisme tersebut berikut konsekwensinya pada nasib negara Indonesia, dan relevansinya bagi kehidupan kita sebagai warga negara. Untuk ToR dan informasi lainnya yang terkait, silakan jelajahi halaman Agenda situs ini. Rincian pelaksanaan acaranya adalah sebagai berikut:


Seperti biasa, forum diskusi ini hanya untuk peserta yang jumlahnya sangat terbatas. Karena itu pastikan kehadiran Anda ke 021-79192676 (Amel) pada jam kerja atau ke INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM.

At least since 1970s, neoliberalism has spread throughout much of the world, and has become the dominant "ideology" behind development policies in many countries, including Indonesia today. The main argument of neoliberalism is that we should let the free market forces guiding all of human action. It argues that state intervention in the economy must be minimized so that the state can diminish its obligation to provide for the welfare of the citizen.

On Monday, the 18th of December 2006 we are inviting Hilmar Farid, a highly respected young intellectual from the Jakarta-based Jaringan Kerja Budaya, to our monthly discussion forum to dig deep the topic of neoliberalism and its concequences to the fate of the state of Indonesia, and its relevance to the life of the people in this country. And as always the case with our forum, it is for only limited participants. So please confirm your participation either by phone at 021-79192676 (work hour with Amel) or by email to
INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM. For ToR and other information please browse our Agenda page.