FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Diskusi Bulan Agustus Ditunda

Hari Senin malam (28 Agustus 2006), melalui kontak telepon Zulfan Tadjoeddin menghubungi salah seorang staf kami memberitahukan bahwa ia baru saja mendapat pemberitahuan tentang rapat yang sangat penting di kantornya tgl. 30 Agustus 2006. Karena alasan tersebut, Tadjoeddin tidak bisa hadir dalam diskusi di Yayasan Interseksi. Kami akan menata ulang jadwal untuk diskusi Konflik dan Pembangunan ini, dan secara mendalam kami mohon maaf atas pembatalan pada saat-saat akhir menjelang diskusi tanggal 30 Agustus tersebut. Terima kasih.

Berikut adalah email susulan dari Tadjoeddin tentang pembatalan tersebut:

Dear Mbak Amel dan Mashoodi,

Saya mohon maaf sekali karena tidak bisa datang pada acara diskusi yang sudah di agendakan hari Rabu besok karena ada jadwal rapat mendadak di kantor yang harus saya ikuti. Mohon maaf, dalam minggu ini jadwal saya sangat tidak menentu yang tidak saya antisipasi ketika memberikan komitmen ketika di telpon oleh mbak Amel akhir minggu lalu.

Sekali lagi saya mohon maaf, mungkin kita bisa atur lagi waktu dikusi di bulan-bulan mendatang.

Salam hangat

Zulfan



On Monday night (August 28th, 2006) Mr. Zulfan Tadjoeddin called one of our staff saying that due to a sudden change in meeting schedule in his office, he had to cancel his presentation in our discussion forum on Wednesday 30th, 2006. We will rearrange the schedule for him, and we sincerely apologize for canceling the 30th August discussion at the last minute. Thank you.



Diskusi Bulanan tentang Konflik dan Pembangunan


For English please scroll down


Konflik dan pembangunan mungkin merupakan dua sisi dari satu keping mata uang yang sama. Salah satu pertanyaan mendasar yang sering muncul tentang relasi antara konflik dan pembangunan adalah, apakah konflik merupakan kendala program pembangunan ataukah ia justru merupakan produk yang niscaya dari proses-proses perubahan sosial sistemik yang direncanakan melalui agenda pembangunan. Sebagian orang menganggap konflik adalah problem sosial yang harus diredam agar tidak mengganggu pembangunan nasional, tapi sebagian yang lain justru merekomendasikan reformasi politik pembangunan agar konflik-konflik sosial bisa diminimalisir. Kontraversi argumen semacam itu tentu saja bergantung pada perspektif apa yang dipakai seseorang dalam melihat konflik dan/atau paradigma teori sosial apa yang dipakai sebagai panduan dalam menafsirkan pembangunan.

Tgl. 30 Agustus 2006, Yayasan Interseksi akan kembali mengadakan diskusi terbatas. Kali ini temanya adalah tentang Konflik dan Pembangunan. Zulfan Tadjoeddin akan hadir sebagai pembicara. Tadjoeddin adalah salah seorang peneliti konflik terkemuka di Indonesia saat ini, dan hasil penelitiannya telah banyak dirujuk dalam studi-studi konflik mutakhir. Untuk TOR dan rute menuju lokasi silakan buka halaman Agenda kami.

Seperti biasa, diskusi ini hanya untuk peserta yang sangat terbatas jumlahnya. Karena itu pastikan kehadiran Anda ke 021-79192676 (Amel) pada jam kerja atau ke INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM.

Conflict and development might be like the two sides of the same coin. One of the fundamental question on the relation of conflict and development is is conflict a hindrance or obstacle to or is it actually a product of development processes. Some sees conflict as social problems to be solved to not disrupting the national development processes, while some other recommends reevaluating the policy of the development to minimize conflict. Needless to say that the controversies are mostly depending on what perspective one uses to look at the conflicts and/or what theoretical paradigm one utilize as the guidance for interpreting the development policies.

On August 30th, 2006, the Interseksi foundation is organizing a discussion on the topic of conflict and development, and we are inviting Mr. Zulfan Tadjoeddin as the speaker. Mr. Tadjoeddin is one of the highly respected researcher on conflict in Indonesia today, and his findings are frequently quoted on recent conflict studies in the country.

As always, the discussion is for a very limited participants only. So please ensure your participation either by phone at 021-79192676 (work hour with Amel) or by email to
INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM.


Report on Designing Research on Minority Rights


For English please scroll down.

bird view

Tanggal 7 sampai 9 Agustus 2006, bertempat di Wisma Aryanti, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Yayasan Interseksi telah melaksanakan sebuah Workshop Rancangan Penelitian tentang Hak Minoritas Komunitas-komunitas Etnis/Agama di Indonesia Tahap Kedua. Workshop ini dimaksudkan untuk memberikan pembekalan metodis bagi para peneliti yang akan dikirim ke lapangan untuk melakukan penelitian lanjutan tentang subjek tersebut. Rencananya, penelitian lapangan tentang persoalan Hak Minoritas tahap kedua ini akan mulai dilakukan pada awal September 2006.
paring_cs

Peserta yang ikut dalam workshop ini terdiri dari tim peneliti lapangan (M. Uzair Fauzan, Heru Prasetia, Paring Waluyo, dan Indriaswati Dyah Saptaningrum), peneliti Interseksi, dan beberapa peserta lain yang diundang untuk membantu menyusun rancangan penelitian yang lebih operasional. Salah seorang peneliti, Amin Muzakkir berhalangan hadir karena sakit. Selain itu, workshop juga melibatkan antropolog senior, Dr. Heddy Ahimsa Putra, dari jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada. Sementara Dr. Ahmad Fedyani Saifuddin dari jurusan Antropologi Universitas Indonesia yang semula menyatakan bersedia hadir, berhalangan karena masalah keluarga. Meskipun demikian, kepada panitia workshop Fedyani menyatakan bahwa ia bersedia mengirimkan review terhadap rancangan awal penelitian yang telah disusun oleh Tim Interseksi. Di samping itu, workshop kemarin telah menghadirkan beberapa peserta khusus seperti Jan Lamardy dan Mubarikh (dari Komunitas Ahmadiyah), Zainal dari CENAS, dan beberapa peserta undangan lainnya. Mereka berpartisipasi sangat aktif selama workshop dilangsungkan.
Heddy

Pelaksanaan workshop disusun dengan struktur acara terdiri dari dua bagian utama. Pada bagian pertama, para peneliti diberi waktu untuk melakukan presentasi hasil studi awal tentang masing-masing wilayah/komunitas yang akan diteliti. Dalam Sesi tersebut para peneliti tampak mengalami kesulitan dalam memformulasikan persoalan-persoalan spesifik di masing-masing wilayah penelitian. Persoalan menjadi semakin menantang secara intelektual karena untuk Tahap Kedua penelitian tahun ini, Yayasan Interseksi juga berusaha untuk mengintegrasikan studi hukum ke dalam program penelitian yang akan dilakukannya. Bagian kedua, workshop diisi materi pembekalan metodis yang dipandu oleh Hikmat Budiman, dengan menghadirkan antropoplog senior, Dr. Heddy Ahimsa Putra. Pada Sesi inilah rancangan final penelitian dirumuskan. Secara sangat jernih Dr. Heddy berhasil memaparkan metode etnografi, jenis data, teknik pengumpulan dan analisa data di lapangan sampai bagaimana menuliskannya dalam format laporan penelitian. Penjelasannya juga dilengkapi dengan bermacam-macam cerita tentang pengalamannya sendiri dalam melakukan beberapa penelitian, yang sangat membantu memberi ilustrasi tentang hal-hal teknis-metodis yang dipaparkannya.


sebelah_kiri

On August, 7-9, 2006, in Wisma Ariyanti, Cisarua, Bogor, West Java, the Interseksi Foundation organized a three-day Workshop to futher develop a research design on Minority Rights, based on which the foundation is going to conduct the second phase of the research on local/religious communities in Indonesia. The workshop was mainly aimed to enhance methodological capacity of the researchers before they are dispatched to undertake the field research in the next following weeks. If everything goes as planned, the field research on the subject will be started on September 1st, 2006.

The participants to the workshop consisted of field researchers (M. Uzair Fauzan, Heru Prasetia, Paring Waluyo, and Indriaswati Dyah Saptaningrum), and some other participants invited to help the foundation in designing a doable research design. It was quite unfortune that one of the researcher, Amin Muzakkir, could not come to the workshop as he was ill. The foundation also invited Dr. Heddy Ahimsa Putra, senior anthropologist of the Department of Anthropology, Gadjah Mada Univeristy, Yogyakarta. They were also some participants from other institutions, including two participants representing Ahmadiyah Islamic community, that were very active during the discussion.
papan tulis

The workshop was structured into two main Sessions. In the first session, all participants were given time to make presentation based on their preliminary study on the suject of Minority Rights and the areas/communities of the research. The discussion became very challenging intellectually as they tried to integrate a legal study into the research. In the second session, Dr. Heddy Ahimsa came to the rescue. Started with some basic explanations on what type of data the researcher have to take care of during and after the field research, he went on lecturing the audience on how to capture the problems of Minority Rights ethnographically, and how to analyze the data and presenting them in report writing process.