April 30, 2006/ 17:47 | Filed in:
NEWS
Seluruh
warga komunitas Yayasan Interseksi, Jakarta
menyampaikan turut berduka yang
sedalam-dalamnya atas wafatnya sastrawan
terbesar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer,
pada usia 81 tahun, pada hari Minggu, 30
April 2006. Semoga keluarga yang
ditinggalkan diberi ketabahan. Ini adalah
kehilangan besar bagi seluruh warga dunia.
Pram mendedikasikan sebagian terbesar
hidupnya untuk terus-menerus mempersoalkan
nasib umat manusia. Ia pernah salah tentu
saja, tapi selain soal pilihan sikap
sejarah, kesalahannya itu tidak sama sekali
menganulir cintanya pada sesama manusia
seperti tercermin dalam seluruh karya yang
pernah ditulisnya. Lepas dari segala bentuk
kontroversi dan pertentangan politik di
masa lalu, karya-karya dan semangat beliau
niscaya tetap hidup dalam jiwa dan pikiran
kami yang lebih muda.
April 28, 2006/ 16:08 | Filed in:
NEWS
Pada tgl. 22 April 2006, Lafadl Institute,
sebuah LSM di Yogyakarta, bekerjasama
dengan Yayasan Desantara
Institute for
Cultural Studies, dan Yayasan
Interseksi mengadakan sebuah diskusi kecil
dengan topik multikulturalisme dan
kebijakan pembangunan di Indonesia.
Diselenggarakan di kantor Lafadl, diskusi
tersebut dihadiri oleh sejumlah intelektual
muda Yogyakarta yang memiliki perhatian
pada kebudayaan dan isu-isu politik. Heru
Prasetia
menurunkan laporannya
untuk kita>>
On April 22nd, 2006,
Lafadl Institute, a Yogyakarta-based NGO,
in cooperation with Desantara Institute for
Cultural Studies, and the Interseksi
Foundation organized a small discussion on
the topic of multiculturalism and the
development Policies in Indonesia. Covened
in Lafadl's office building, the discussion
was attended by a number of young Yogyanese
intellectuals who have concern with culture
and political issues. Report on the discussion
is written for us here by Heru
Prasetia>>
April 26, 2006/ 19:30 | Filed in:
REVIEW
Oleh Bosman Batubara
Dalam tulisannya yang terkenal, berjudul
‘Can the Subaltern Speak?’, Gayatri
Chakravorty Spivak, mengungkapkan bahwa
kekerasan bukan hanya hadir dalam bentuk
kasat mata seperti yang lazim kita kenali
selama ini. Kekerasan dapat juga menjelma
dalam bentuk yang subtil dengan kadar
bahaya yang lebih dahsyat dalam bentuk
‘epistemic violence’ (kekerasan
epistemologi). Meski Spivak melandaskan
argumennya pada konteks relasi Barat-Timur,
Penjajah-Terjajah, tetapi metodenya dalam
menganalisis bagaimana sesuatu menahbiskan
diri sebagai Subyek (dalam hal ini Barat),
dan bagaimana sesuatu diluarnya ditahbiskan
sebagai Obyek (dalam hal ini Timur), dapat
dipakai untuk menjejaki fenomena yang
kurang-lebih sama dalam konteks yang
berbeda.
Baca
selanjutnya>>
April 26, 2006/ 19:26 | Filed in:
NEWS
Biasanya di negeri ini berbagai
wacana semacam posmodernisme, liberalisme,
dan multikulturalisme ini hanya menjadi
riak-riak belum menyentuh perdebatan yang
lebih serius, khusunya dalam
public
discourse. Maka adalah penting untuk
mengangkat
discourse
multikulturalisme ke dalam konteks dan
situasi indonesia. Meskipun demikian,
diperlukan juga sikap kritis. Sebab konsep
ini tidak lahir dari sejarah masyarakat
Indonesia. Multikulturalisme muncul dari
sejarah sosial politik negara Barat seperti
Amerika Serikat, Kanada, dan
lain-lain.Negara-negara yang berhadapan
dengan isu rasialisme dan kaum imigran.
Isu-isu rasialisme ini menjadi perrsoalan
yang lebih luas karena hubungan antar ras
dan antar
nation meimbulkan
problem tertentu yang tidak hanya bisa
diatasi dengan pola-pola agenda pembangunan
yang sudah dimiliki oleh negara-negara
menghadapinya. Jadi multikulturalsme muncul
ketika satu wadah
nation-state
menghadapi pergolakan internal dari dalam.
Pergolakan yang ditimbulkan oleh
kelompok-kelompok yang masih mengikatkan
dirinya dengan semangat-semangat
primordial.
Baca
selanjutnya>>