FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Turut Berduka Cita

Pramoedya Ananta Toer

Seluruh warga komunitas Yayasan Interseksi, Jakarta menyampaikan turut berduka yang sedalam-dalamnya atas wafatnya sastrawan terbesar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pada usia 81 tahun, pada hari Minggu, 30 April 2006. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Ini adalah kehilangan besar bagi seluruh warga dunia. Pram mendedikasikan sebagian terbesar hidupnya untuk terus-menerus mempersoalkan nasib umat manusia. Ia pernah salah tentu saja, tapi selain soal pilihan sikap sejarah, kesalahannya itu tidak sama sekali menganulir cintanya pada sesama manusia seperti tercermin dalam seluruh karya yang pernah ditulisnya. Lepas dari segala bentuk kontroversi dan pertentangan politik di masa lalu, karya-karya dan semangat beliau niscaya tetap hidup dalam jiwa dan pikiran kami yang lebih muda.


Multiculturalism and Development Policies in Indonesia

Pada tgl. 22 April 2006, Lafadl Institute, sebuah LSM di Yogyakarta, bekerjasama dengan Yayasan Desantara Institute for Cultural Studies, dan Yayasan Interseksi mengadakan sebuah diskusi kecil dengan topik multikulturalisme dan kebijakan pembangunan di Indonesia. Diselenggarakan di kantor Lafadl, diskusi tersebut dihadiri oleh sejumlah intelektual muda Yogyakarta yang memiliki perhatian pada kebudayaan dan isu-isu politik. Heru Prasetia menurunkan laporannya untuk kita>>

On April 22nd, 2006, Lafadl Institute, a Yogyakarta-based NGO, in cooperation with Desantara Institute for Cultural Studies, and the Interseksi Foundation organized a small discussion on the topic of multiculturalism and the development Policies in Indonesia. Covened in Lafadl's office building, the discussion was attended by a number of young Yogyanese intellectuals who have concern with culture and political issues. Report on the discussion is written for us here by Heru Prasetia>>


Multikulturalisme, Dirayakan atau Dipertanyakan?

Oleh Bosman Batubara
Dalam tulisannya yang terkenal, berjudul ‘Can the Subaltern Speak?’, Gayatri Chakravorty Spivak, mengungkapkan bahwa kekerasan bukan hanya hadir dalam bentuk kasat mata seperti yang lazim kita kenali selama ini. Kekerasan dapat juga menjelma dalam bentuk yang subtil dengan kadar bahaya yang lebih dahsyat dalam bentuk ‘epistemic violence’ (kekerasan epistemologi). Meski Spivak melandaskan argumennya pada konteks relasi Barat-Timur, Penjajah-Terjajah, tetapi metodenya dalam menganalisis bagaimana sesuatu menahbiskan diri sebagai Subyek (dalam hal ini Barat), dan bagaimana sesuatu diluarnya ditahbiskan sebagai Obyek (dalam hal ini Timur), dapat dipakai untuk menjejaki fenomena yang kurang-lebih sama dalam konteks yang berbeda. Baca selanjutnya>>


Multikulturalisme dan kebijakan pembangunan Indonesia

diskusi lafadl
Biasanya di negeri ini berbagai wacana semacam posmodernisme, liberalisme, dan multikulturalisme ini hanya menjadi riak-riak belum menyentuh perdebatan yang lebih serius, khusunya dalam public discourse. Maka adalah penting untuk mengangkat discourse multikulturalisme ke dalam konteks dan situasi indonesia. Meskipun demikian, diperlukan juga sikap kritis. Sebab konsep ini tidak lahir dari sejarah masyarakat Indonesia. Multikulturalisme muncul dari sejarah sosial politik negara Barat seperti Amerika Serikat, Kanada, dan lain-lain.Negara-negara yang berhadapan dengan isu rasialisme dan kaum imigran. Isu-isu rasialisme ini menjadi perrsoalan yang lebih luas karena hubungan antar ras dan antar nation meimbulkan problem tertentu yang tidak hanya bisa diatasi dengan pola-pola agenda pembangunan yang sudah dimiliki oleh negara-negara menghadapinya. Jadi multikulturalsme muncul ketika satu wadah nation-state menghadapi pergolakan internal dari dalam. Pergolakan yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok yang masih mengikatkan dirinya dengan semangat-semangat primordial. Baca selanjutnya>>