FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Tradisi Akademik Malang Kadak

Posted by: Paring Waluyo Utomo


Pada tanggal 7 - 10 Agustus 2006, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Yogjakarta mengadakan kegiatan Jelajah Budaya. Akitivitas ini dilakukan di beberapa wilayah lokal, seperti di Komunitas Tengger, Pendalungan, dan Using. Pesertanya adalah para guru SMA yang mengajar antropologi dan sosiologi, siswa-siswi berprestasi disekolah dan atau siswa yang menjadi pengurus osis di sekolah dari jurusan IPS. Tak lupa pula kegiatan ini menyertakan wartawan yang selama ini aktif memberitakan tentang kebudayaan.

Kegiatan ini didahului dengan pembekalan/ briefing oleh orang-orang di Jawa Timur yang dianggap sebagai pakar kebudayaan, dan peneliti kajian sejarah dan nilai tradisional, seperti Dr. Ayu Soetarto. Saat tiba di Tengger tanggal 8 Agustus 2006, peserta Jelajah Budaya mendapatkan ceramah budaya Tengger oleh Mujono, Koordinator Dukun Tengger.

Kegiatan ini diklaim oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sebagai kepedulian pemerintah terhadap keanekaragaman budaya. Agar masyarakat (peserta) dapat memahami keanekaragaman budaya yang merupakan jati diri bangsa, untuk menuju cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa.

Sekilas acara ini memang mengundang perhatian khusus, apalagi tema kegiatannya adalah studi budaya yang ditujukan kepada guru-guru SMA. Namun dalam prateknya, acara ini tak lebih dari sekedar kemasan pariwisata. Secara logis saja dapat dilihat bahwa acara ini tidak begitu serius, sesuai target yang dicanangkan. Bagaimana mungkin mengenal kebudayaan lokal (Tengger) hanya dalam tempo 12 jam. Ketersediaan waktu studi yang kurang dari 12 jam, sama lamanya dengan orang (turis) yang sedang melakukan rekreasi. Bahkan para turis dari mancanegara saja bisa sampai seminggu untuk bertahan di kawasan Bromo.

Belum lagi jika ditinjau dari isi acaranya, berupa peninjauan tempat-tempat wisata yang ada di Bromo, dan ditambah dengan ceramah Mbah Mujono dalam tempo 2 jam. Kenyataan ini sungguh sangat menyedihkan. Kekhawatiran dari bentuk-bentuk acara seperti ini adalah penangkapan realitas terhadap komunitas Tengger yang sangat mungkin bias. Rata-rata peserta memandang bahwa komunitas tradisonal (Tengger) sebagai komunitas eksotis dan unik dalam kacamata orang kota (guru, siswa, dan wartawan). Karena dalam memandang Tengger berpijak pada prinsip eksotika, maka tak ada bedanya dalam memandang benda (artefak) cagar budaya.

Kalau tidak hati-hati dan senantiasa otokritik, bentuk-bentuk acara seperti jelajah budaya ini akan menimbulkan persamaan dalam memandang antara kebudayaan Tengger dengan artefak sejarah, yang berarti harus dimuseumisasi, karena alasan-alsan eksotis, unik, dan menyejarah. Sesat pikir seperti ini harus disadari sejak awal. Kebudayaan wong Tengger adalah sesuatu yang organis, artinya dalam dirinya hidup sel kebudayaan yang terus berkembang dinamis, dan bisa berubah sewaktu-waktu. Wong Tengger bisa saling bernegosiasi, meresepsi, pun juga meresistensi kebudayaan yang datang dari luar dirinya. Jika ide atau gagasan untuk melakukan pelestarian adat itu dilakukan oleh Tengger sendiri patut kiranya kita dukung, namun sebaliknya jika ide itu dating dari luar, terutama orang-orang diperkotaan, maka perlu kiranya untuk melakukan rincian atas motif mereka.

Dalam paparannya kepada para guru-guru yang ikut acara tersebut, Mujono memberikan penjelasan mengenai seluk beluk adat Tengger, seperti yang menyangkut soal upacara adat, hingga sistem perkawinan. Acara seperti ini akan jauh bermanfaat jika para peserta sejak awal tidak digiring sebagai “turis”, akan tetapi lebih sebagai sahabat. Dengan membangun relasi sebagai sahabat, maka para peserta Jelajah Budaya tidak cenderung berpandangan wong Tengger sebagai obyek kajian, sehingga yang muncul hanya pikiran eksotika.

Saat berdiskusi, suara-suara yang muncul dari kalangan peserta Jelajah Budaya memang persis dalam rumusan di atas. Sehingga tak mengherankan jika, para peserta tersebut sangat berharap agara kebudayaan tengger tetap dan harus dilestarikan. Kondisi ini kian menjadi rumit, ketika realitas mereka tentang tengger yang terbentuk melalui kunjungan kurang dari sehari itu lalu didistribusikan kepada para peserta didik di SMA. Disamping menghasilkan materi-materi yang kurang lengkap atas tengger, kegiatan seperti ini lebih kental nuansa wisata ketimbang belajar atas fenomena secara lebih serius.

Hal ini akan berakibat serius jika imajinasi para guru dan wartawan yang mengikuti Jelajah Budaya tersebut membentuk realitas atas tengger di audien mereka masing-masing (guru kepada muridnya dan wartawan kepada pembacanya). Publik seolah-olah menangkap kebudayaan lokal {Tengger, Pendalungan, dan Using} sebagaimana yang dinarasikan oleh para guru dan wartawan tersebut. Padahal tangkapan itu hanyalah bagian kecil saja dari sebuah pergumulan yang rumit dan komplek dari kebudayaan local tersebut.

Kenyataan ini persis yang terjadi pada beberapa peneliti yang selama ini masuk ke Tengger, yang kemudian menghasilkan buku. Buku Agama-Agama Tradisional yang diterbitkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang {UMM} dan LKiS Yogyakarta misalnya menunjukkan betapa tidak serius dan gigih isinya dalam menangkap realitas yang terjadi di Tengger. Imajinasi peneliti telah berubah menjadi “kisah hidup” sendiri di Tengger, dan tentu saja bukan kisah hidup sepenuhnya sebagaimana yang terjadi di Tengger.

Pikiran-pikiran para peneliti yang cenderung modern dan berjarak dengan komunitas yang diteliti telah menghasilkan jarak tersendiri, bahkan secara kejam peneliti membangun rumusan sendiri. Pembentukan kategori agama tradisional atas agama yang berkembang di Tengger telah melemparkan masyarakat tengger dalam barisan dunia antah berantah, yang tentu saja dianggap aneh bagi para peneliti kota, patut untuk diteliti dan dilihat sebagai sesuatu yang unik.

Memang harus kita akui bahwa hampir semua peneliti yang berjibaku di Tengger mungkin saja tidak seratus persen mampu menggambarkan tekstur kebudayaan tengger, namun dari kegigihan peneliti dapat kita katakan karyanya sangat serius. Karya Robert Hefner yang menghasilkan beberapa buku atas Tengger adalah sedikit contoh dari tradisi akademik yang baik, walaupun Hefner belum tentu mampu mendeskripsikan Tengger secara presisi, karena penelitian sosial bukanlah angka matematis yang serba pasti.

Tradisi akademik kita yang begitu buruk ini harus segera di akhiri, kita harus berani terbuka dan jujur untuk mengatakana secara gambalang bahwa ada yang berbeda antara studi budaya dengan wisata. Sunguh tragis jika kita membiasakan diri having fun dengan berlagak sedang melakukan studi atau kajian. Sehingga dunia akademik kita tidak seperti orang melihat kucing dalam karung. Suaranya bagus, tetapi jika karung dibuka kita akan mendapati kucing yang penuh dengan ketidaksempurnaan secara fatal.