Sedikit Cerita dari Annual Conference on Islamic Studies 2007
November 30, 2007/ 00:56 | Filed in: JOURNAL

Ridwan Al-Makassary
Research Coordinator, The Interseksi Foundation
Saya beruntung terpilih sebagai salah satu di antara 60 pemakalah paralel yang akan mempresentasikan paper pada acara “Annual Conferences on Islamic Studies 2007”, di ruang Ratu Agung Ballroom, Sahid Raya Hotel, Pekan Baru. Saya mengatakan saya dipayungi dewi keberuntungan karena, menurut laporan ketua panitia konferensi, terdapat sekitar 430 paper yang masuk ke meja panitia untuk didedah dan diseleksi. Dan, akhirnya tidak semua orang yang berminat dan telah mengirimkan papernya mendapatkan kemewahan untuk menghadiri haplah intelektual yang bertema “Kontribusi Ilmu-Ilmu KeIslaman dalam Menyelesaikan Masalah-Masalah Kemanusiaan pada Millenium Ketiga”. Bahkan, acara ini diembel-embeli oleh panitia sebagai “barometer pemikiran Islam di tanah air”.
Pertemuan para peminat kajian Islamic Studies di Riau ini adalah penyelenggaraan yang ketujuh sejak konferensi ini digelar pertama kali pada tahun 2000-an yang lalu. Sejak pertemuan ke-6 di Bandung, acara ini telah melibatkan peserta yang tidak lagi terbatas pada skolar di lingkungan internal STAIN dan STAI setanah air, tetapi telah membuka ruang yang lebih bebas bagi partisipasi peminat studi Islam di luar lingkup UIN dan STAI/STAIN, misalnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Saya termasuk representasi LSM dari yayasan Interseksi , bersama beberapa peserta lain dari LSM yang berasal dari wilayah Jawa dan sekitarnya, seperti Wahid Institute Jakarta dan IRE Yogyakarta. Tentu saja pemakalah pada umumnyadidominasi oleh skolar yang berasal dari lingkup STAI dan UIN seIndonesia. Saya sendiri rencananya akan mempresentasikan paper yang berjudul “Pengarusutamaan Multikulturalisme dalam Masyarakat Islam di Indonesia: Sebuah Kerangka Konseptual untuk Aksi”. Sebuah kajian kepustakaan yang sifatnya baru berupa sebuah pemetaan awal dan berorientasi membuka selubung kesadaran kita akan “problema multikulturalisme dan pluralisme” di tanah air.
Saya meninggalkan Jakarta hari Rabu siang (21 November 2007) dengan menumpang pada maskapai penerbangan Lion air. Menjelang sore saya mendarat dengan selamat di bandara udara Pekan Baru, setelah sempat sport jantung di udara karena turbulensi yang terjadi. Setelah mendarat dan melapor kedatangan kepada panitia ACIS, saya menumpang bis yang sdh disediakan panitia untuk ke hotel. Hanya butuh sepeminuman teh untuk tiba di hotel. Setelah mengikuti antri untuk pengurusan administrasi saya memperoleh kunci kamar. Ternyata saya harus berbagi tempat dengan dua peserta lain dari STAIN Jayapura.
Secara umum acara yang dibagi dalam dua sesi (sesi pleno dan sesi paralel) berjalan sebagaimana mestinya. Di sesi pleno beberapa intelektual terkemuka ambil bagian, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dari dalam negeri di antaranya Prof Dewi Fortuna Anwar, Prof. Zamakhsyari Dhofier, Profesor Azyumardi Azra, dll. Sementara yang dari luar negeri terdapat Prof Mark Woodward (Arizona University) dan Prof Peter Suwarno (putra Indonesia yang mengajar di Arizona University). Ada beberapa nama lagi, dan salah satu yang urung datang adalah Nasr Hamid Abu Zaid, skolar Mesir yang dikafikan oleh pemerintahnya dan hengkang ke Belanda dan mengajar di sana. Ada rumor yang berkembang bahwa dia dicekal oleh warga masyarakat Riau, karena professor ini menghalalkan homoseksual.
Pada sesi pleno acara bersifat lebih massal. Pembicara mempresentasikan paper di hadapan sekitar 700-an peserta konferensi. Ada satu sesi pleno yang cukup menarik perhatian, yaitu ketika Professor Azyumardi Azra memprsentasikan makalahnya tentang tantangan Pendidikan Tinggi Islam di era Globalisasi. Pada sesi Tanya jawab, seorang skolar menuding Azyumardi Azra sebagai skolar yang tidak perduli nasib umat Islam. Dia menyayangkan tulisan Azra di Kompas yang mengatakan pintu kekhalifahan sudah tertutup. Penanya mengutip Ibnu Khaldun bahwa pintu kekhalifahan tidak pernah tertutup. Dalam jawabannya Azra menjelaskan praktik kekhalifahan yang coba diperjuangkan adalah romantisisme masa lalu dan tidak rasional untuk dilaksanakan sekarang. Selain itu, Azra juga meminta si penanya agar belajar lagi sebelum berdebat dengannya.
Saya sendiri berpidato pada sesi paralel hari pertama, bersama professor Abdullah Idi dari IAIN Palembang dan sorang aktivis dari STAI Serang. Sesia pertama ini lebih banyak mengutarakan aspek konseptual dari multikulturalsime dan pluralisme. Saya diberi waktu 10 Menit untuk berpresentasi poin-poin pemikiran yang ada di paper saya. Acara kami dipandu oleh Anas Saidi, peneliti LIPI Indonesia. Pada sesi saya ini secara tidak terduga muncul dua orang penanya yang mengdeclare sebagai anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kedua peserta ini sangat menganggu jalannya persidangan karena mereka cendurung apriori dan apologetik terhadap konsep yang berasal dari Barat dan dianggap melemahkan akidah. Secara singkat sesi persidangan parallel hari berikutnya juga diganggu oleh mereka, bahkan seorang presenter dari Madura, Alfis (eks aktivis Desantara) malah ditantang untuk menari, hanya karena mempresentasikan siasat kesenian tradisional melawan Perda syari’at Islam di Pamekasan. Di luar semua dinamika itu, persidangan disesi Islam dan budaya adalah yang paling diminati oleh peserta. Bahkan, Profesor Zamakhsyari melontarkan pujian akan kedinamisan sesi ini dalam laporan penutup yang diadakan di Pusat Kegiatan Mahasiswa UIN SUSKA Riau.
Setelah mengikuti rangkaian acara penutupan yang lebih bersifat ceremony dan structural, saya menyempatkan diri berjalan-jalan di Pasar Bawah Pekan Baru dengan teman-teman peserta lain, di antaranya Novi Anoegrajekjti dari LSM Desantara. Menjelang sore, saya bersama Anas Saidi, Novi dan Alfis menuju bandara untuk kembali ke Jakarta. Selamat Tinggal Pekan Baru.