FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Monthly Discussion on Neoliberalism, The State, and the Citizen

For English please scroll down
piggyboot

Paling tidak sejak dekade 1970an, neoliberalisme telah menyebar ke banyak tempat di dunia, dan telah menjadi sebentuk "ideologi" di balik kebijakan-kebijakan pembangunan di banyak negara, termasuk di Indonesia saat ini. Argumen utama neoliberalisme adalah bahwa kita harus membiarkan pasar bebas menjadi panduan bagi seluruh tingkah laku umat manusia. Pasar, dengan kata lain, dianggap sebagai hakim sekaligus kuasa yang tidak bisa dilawan. Konsekwensinya, intervensi negara ke dalam ekonomi harus terus-menerus dikurangi, dan bahwa (dengan itu) obligasi negara untuk memberikan kesejahteraan bagi warga negara juga semakin tidak relevan. Indonesia di bawah rezim kuasa saat ini persis berada dalam lingkaran doktrin semacam itu.

Pada hari senin, tgl. 18 Desember 2006, kami mengundang Hilmar Farid, seorang intelektual muda yang sangat dihormati di Indonesia, untuk lebih jauh berdiskusi tentang topik neoliberalisme tersebut berikut konsekwensinya pada nasib negara Indonesia, dan relevansinya bagi kehidupan kita sebagai warga negara. Untuk ToR dan informasi lainnya yang terkait, silakan jelajahi halaman Agenda situs ini. Rincian pelaksanaan acaranya adalah sebagai berikut:


Seperti biasa, forum diskusi ini hanya untuk peserta yang jumlahnya sangat terbatas. Karena itu pastikan kehadiran Anda ke 021-79192676 (Amel) pada jam kerja atau ke INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM.

At least since 1970s, neoliberalism has spread throughout much of the world, and has become the dominant "ideology" behind development policies in many countries, including Indonesia today. The main argument of neoliberalism is that we should let the free market forces guiding all of human action. It argues that state intervention in the economy must be minimized so that the state can diminish its obligation to provide for the welfare of the citizen.

On Monday, the 18th of December 2006 we are inviting Hilmar Farid, a highly respected young intellectual from the Jakarta-based Jaringan Kerja Budaya, to our monthly discussion forum to dig deep the topic of neoliberalism and its concequences to the fate of the state of Indonesia, and its relevance to the life of the people in this country. And as always the case with our forum, it is for only limited participants. So please confirm your participation either by phone at 021-79192676 (work hour with Amel) or by email to
INTERSEKSI AT GE-MAIL DOT COM. For ToR and other information please browse our Agenda page.