Mengenang Pram dalam Blogosphere

Pram bukan hanya dibaca oleh kelompok-kelompok susastra melainkan oleh hampir semua kalangan pembaca di dunia. Mungkin ia merupakan orang Indonesia yang karyanya paling banyak dibaca bahkan sejak Indonesia belum lagi terbentuk. Beberapa warga komunitas Interseksi tentu saja adalah juga pembaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Pram ternyata bukan hanya sebuah nama yang menjulang tinggi jauh di cakrawala, melainkan juga sosok pribadi yang sangat mudah diakrabi. Ia bukan seniman yang bersinggasana di awan dan dari sana menorehkan karya-karyanya, melainkan orang kebanyakan yang sehari-harinya, sekurang-kurangnya pada sisa umur di hari tuanya, begitu peduli bahkan pada soal membakar sampah. Kepergian Pram, begitu ia biasa dipanggil, seperti mengorek kenangan kami tentang sosok istimewa ini. Dan apa yang lebih tepat, lebih intim sekaligus mendunia, untuk menuliskan kenangan semacam itu di zaman internet sekarang ini selain Blog? Philips J. Vermonte, misalnya, menceritakan kenangannya tentang Pram dalam sebuah Blog yang dia kirimkan ke milis Interseksi. Philips antara lain menulis:
Suatu hari di tahun 1994, saya mewawancarai Pram di rumahnya, di daerah Utan Kayu Jakarta. Biasalah, wawancara untuk majalah Polar yang kita terbitkan di kampus dulu itu…he..he. Ketika sampai di rumahnya, Pram sedang tidur siang. Istri Pram yang ramah menawarkan untuk menunggu. “Satu jam lagi paling sudah bangun”, katanya. Benar, tidak sampai satu jam Pram sudah bangun dan menemui kami, mengenakan celana training serta kaus kaki dan sandal. Waktu itu mungkin umur Pram sudah sekitar 70 tahun. Selama perbincangan, asap tak henti mengepul dari rokok Pram.
Pram adalah orang yang sangat energik, jelas tampak dari cara bicara dan pandangan matanya yang tajam. Dia bilang waktu itu, “sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa.” Kalimat itu yang saya ingat dari wawancara dengan Pram hingga sekarang.
Philips adalah seorang kandidat doktor ilmu politik yang sekarang sedang suntuk belajar di Northern Ilionis University. Cerita lengkap tentang kenangannya pada sosok Pram memperlihatkan bahwa ternyata ia, seperti warga Interseksi yang lain, juga pernah menaruh perhatian cukup besar pada perdebatan gagasan-gagasan kebudayaan di Indonesia. Ia membaca silang gagasan antara kelompok yang menamakan dirinya Manikebuis (Manifesto Kebudayaan) dengan kelompok LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) bahkan sebelum ia membaca karya-karya Pram.
Hikmat Budiman membagi momen duka yang sama, meskipun dengan penekanan yang berbeda, pada situs blog pribadinya. Seperti Philips, kebetulan ia juga sempat mengenal Pram sebagai sosok pribadi di rumahnya di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur. Ia, misalnya, menulis:
Dalam salah satu kunjungan ke rumahnya, saya sempat membuka-buka sebuah buku tamu yang ada di ruang tamu rumahnya. Rupanya itu adalah buku tamu ketika Pak Pram pernah menderita sakit beberapa waktu sebelumnya. Yang membuat saya sedikit melotot adalah karena di buku tamu itu, Mochtar Lubis tercatat sebagai tamu pertama yang datang menjenguk. Padahal semua orang yang mengenal kedua tokoh tersebut pasti tahu betapa sengitnya perselisihan (ideologis) di antara keduanya. Ini adalah sebuah pelajaran sangat penting bagi saya: bahwa hubungan personal tidak patut diputus bahkan dengan orang yang secara politik dan ideologis bermusuhan.
Kami yakin masih banyak orang yang, dalam caranya sendiri, menanamkan Pram dalam keping kenangannya agar kepergiannya tidak menguap begitu saja dari sisi personal masing-masing orang. Pram memang telah wafat, tapi ia tidak pergi ke mana pun karena namanya terpahat kuat pada hati kita.