FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Literasi, Properti, Jatidiri

Apa yang diharapkan dari sebuah sistem pendidikan yang sebagian tenaga pengajarnya merupakan tenaga kerja kelas dua? Ini tentu saja soal sensitif bagi kita. Tapi soal pengkelasan tenaga kerja dalam konteks ini tidak harus semata mengacu pada model formasi sosial sebuah masyarakat, melainkan terutama pada aspek-aspek yang menentukan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia menjadi mungkin, bukan slogan kosong setiap rezim pemerintah yang baru berkuasa. Apa yang bisa diharapkan dari sistem pendidikan yang tenaga pengajarnya dibayar bahkan sering lebih murah dari tingkat upah buruh minimum? Apa yang bisa diharapkan dari sebuah sistem pendidikan yang sebagian cukup besar bangunan fisik sekolah dasarnya lebih menyerupai "kandang ayam", seperti pernah diungkapkan dalam puisi seorang profesor ahli pendidikan kita?

Sofie Dewayani, penulis cerita untuk anak-anak dan remaja yang kini tengah menempuh program master di sebuah universitas di Amerika, melukiskan kondisi di atas dalam kalimat-kalimat berikut:

Nanik bukanlah seorang guru di sekolah berlantai keramik, yang sibuk mencari tambahan dengan memberi les privat di sore hari. Sekolahnya berlantai semen, dindingnya muram berhias satu-dua gambar pahlawan yang diam. Tak ada karya-karya anak di sana, atau gambar warna-warni, bulletin board, poster, apalagi semboyan pemicu semangat belajar. Sekolahnya yang menyendiri di pinggiran sawah di pelosok kota kecil Krian terasa gerah, bukan karena jalan batu di depannya berdebu, namun karena anak-anak duduk berdesakan, tiga-empat orang, berbagi satu bangku, satu buku, dan juga keringat yang bau. Janganlah berbicara tentang perpustakaan, karena Nanik harus membiarkan buku pelajaran yang hanya beberapa gelintir itu lusuh akibat harus dipakai bergantian. Di pertengahan tahun 2004, saat banyak sekolah di kota-kota besar menyambut rencana kurikulum baru berbasis kompetensi dengan antusias, Nanik mendengarnya diam-diam. Matanya menerawang, beku seperti sorot mata gambar pahlawan, kosong seperti pandangan mata anak-anak di kelasnya saat menyimak pelajaran.


Sekolah, kita tahu, adalah produk dari bermacam-macam pergeseran paradigma kultural. Tradisi yang bertumpu pada sistem pewarisan pengetahuan secara lisan bertumbukan dengan tradisi baca tulis. Menulis dan membaca pasti bukan sekedar sebuah jenis keterampilan baru, karena ia juga telah menjadi sebuah nilai, norma yang dengan mengingkarinya berarti kita telah melakukan kesalahan fatal. Singkatnya literasi membawa serta di dalamnya selarik harapan sekaligus segunung beban. Harapan untuk bisa melecut punggung budak jajahan agar setapak lebih maju, segunung beban yang tidak jelas benar relevansinya bagi hidup sejumlah orang selain bahwa ia telah menjadi sebuah proyek negara. Tentang ini Dewayani, antara lain, menulis:

Kiranya tak berlebihan seandainya Catherine Prendergast menyebutkan bahwa literasi adalah properti, atau milik kelas tertentu. Dalam bukunya Literacy and Racial Justice, Prendergast menunjukkan bahwa dalam sejarah literasi selalu menjadi alat bagi bangsa-bangsa kolonial untuk mengukuhkan hegemoninya. Literasi tak hanya menjadi hak milik mereka yang dulu tak bisa diakses oleh bangsa yang terjajah, namun juga sesuatu yang kini dibagi-bagikan dengan kemasan ‘kesetaraan, kemajuan, dan modernitas.’ Sepertinya, negara-negara maju tengah mendistribusikan sesuatu milik mereka agar negara berkembang tumbuh bersama-sama. Padahal, yang tercipta adalah suatu bentuk ketergantungan baru. Kita akan terus-menerus mengejar sesuatu itu seperti menggapai fatamorgana, hingga entah kapan. Mungkin sudah saatnya kita bertanya, benarkah literasi menawarkan wacana pembebasan?


Esai Dewayani terlalu penting untuk dilewatkan. Bukan hanya karena kalimat-kalimatnya demikian fasih membunyikan isi pikirannya, tapi juga karena tulisannya kembali menegaskan satu soal fundamental dalam politik kita: pendidikan yang tidak pernah jelas relevansinya bagi hidup orang yang menempuhnya. Silakan baca selengkapanya. Sebagai referensi kami juga menghadirkan esai dengan tema serupa yang ditulis Hikmat Budiman sekitar tiga belas tahun yang lalu.