FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Laporan Workshop Pelatihan Penelitian HAM

WORKSHOP

pelatihan1
Workshop pelatihan penelitian HAM dan Diversifikasi Kultural yang diadakan oleh Yayasan INTERSEKSI, bekerjasama dengan HIVOS, 7-9 Agustus 2008 di Wisma Aryanti, kawasan Cisarua, Puncak, kabupaten Bogor, diikuti oleh 6 (enam) peneliti muda dari Jabodetabek dan Medan, 3 (tiga) narasumber dari Jakarta dan 3 peserta dari Interseksi dan Yayasan TIFA. Ide untuk melakukan penelitian oleh para aktivis HAM ini berawal dari keinginan para peneliti Interseksi untuk memberikan dukungan bagi para aktivis HAM dengan dasar-dasar penelitian sosial yang kuat sehingga bisa membangun argumentasi yang kukuh untuk menopang kerja-kerja advokasinya. Karena itu, program penelitian ini dirancang dengan tahapan cukup lengkap, mulai dari tahap penetapan tema, penyusunan rancangan penelitian (research design), praktek penelitian lapangan, penulisan laporan, sampai tahap penyuntingan laporan.

Aktivitas penelitian tentu saja bukan hal asing bagi kalangan aktivis NGO di mana pun. Tapi itu tidak dengan sendirinya berarti bahwa semua orang sudah bisa melakukan seluruh tahapan penelitian dengan baik. Salah satu kesulitan yang sering dihadapi para peneliti (muda) di kalangan NGO adalah dalam merumuskan persoalan yang hendak ditelitinya.
pelatihan4
Meskipun terkesan sangat mudah dan elementer, tapi upaya merumuskan persoalan yang akan diteliti pada dasarnya justru merupakan salah satu bagian terpenting dalam proses menyusun desain penelitian. Problem lain yang juga umum ditemui di kalangan aktivis advokasi adalah faktor kedekatan atau bahkan ikatan/problem emosional dengan subjek penelitiannya, yang menyulitkan mereka membuat sebuah jarak-kritis untuk menghasilkan sebuah kajian yang bisa dipercaya. Sebagai lembaga yang sejak awal menjadikan penelitian sebagai aktivitas utamanya, kebetulan Interseksi memiliki pengalaman yang bisa dibagi bersama dengan sesama aktivis lembaga masyarakat sipil. Moral program ini, dengan demikian, adalah upaya berbagi pengalaman dan belajar bersama untuk saling menguatkan.

Salah satu elemen penting dalam tahapan penelitian adalah proses pembuatan rancangan penelitian. Kualitas sebuah penelitian akan banyak ditentukan oleh kualitas rancangan penelitiannya. Karena itu, draft rancangan penelitian dijadikan sebuah syarat untuk menjaring peserta pelatihan ini.
pelatihan5
Workshop yang berlangsung tgl. 7-9 Agustus 2008 ini khusus ditujukan untuk membahas, memperbaiki, dan meningkatkan kualitas rancangan penelitian yang telah diajukan oleh beberapa peserta pelatihan yang sudah terpilih. Beberapa isu yang diangkat sebagai topik penelitian di antaranya mencakup persoalan jaminan kesehatan masyarakat sebagai hak masyarakat di Banjar, Jawa Barat, hak perumahan yang layak di Amplas Medan, hak kebebasan beragama dan keyakinan di Bekasi dan Jakarta, serta hak terhadap akses pertanahan di kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Selama workshop, semua peserta pelatihan diberi waktu untuk melakukan dua kali presentasi rancangan penelitiannya masing-masing. Pada presentasi pertama, mereka diminta menjelaskan apa yang sudah ditulisnya dalam draft yang sudah dikirimkan kepada panitia. Semua rancangan penelitian kemudian dibahas secara mendetail oleh seluruh peserta dan pemateri workshop. Aspek yang dibahas meliputi substansi tema penelitian, alur logika sebuah rancangan penelitian, cara merumuskan masalah penelitian dengan mengacu pada ulasan kepustakaan (literature review ), pemilihan fokus kajian, aspek-aspek teoritis sampai kelengkapan metodis. Beberapa kritik dan saran perbaikan yang diterima selama sessi presentasi kemudian diinkorporasikan ke dalam desain penelitian yang akan dipakai masing-masing peneliti melakukan penelitian lapangan. Setelah presentasi pertama masing-masing peserta diminta untuk melakukan perbaikan rancangan penelitian dengan memperhatikan pembahasan yang sudah dilakukan.
pelatihan7
Pada presentasi kedua, peserta diharuskan menampilkan hasil perbaikan pada rancangan penelitiannya masing-masing.

Secara substantif keenam peneliti sangat memahami lekuk-liku dari isu atau topik-topik yang diangkat ke dalam kertas kerja penelitian sebagai dasar bagi suatu advokasi. Pelatihan selama tiga hari tersebut dirasakan telah menambah wawasan para peneliti dari aspek teoretik maupun metodologi penelitian. Selain itu, melalui fórum diskusi yang intens di antara para peneliti dan para nara sumber, kemampuan para peneliti untuk mengorganisasikan wawasan mereka serta merumuskan masalah utama yang hendak diteliti menjadi semakin tajam dan terfokus. Wawasan yang luas dan perumusan masalah yang jelas merupakan dua hal penting dalam mengadvokasikan suatu isu. Apalagi idealnya, para aktivis melalui pengetahuan dan riset yang mendalam dapat meyakinkan publik serta pembuat kebijakan agar isu-isu diadvokasi mendapatkan dukungan. Dalam workshop, para peserta membuktikan bahwa suatu data bisa didapatkan melalui proses pencarian data berdasarkan metodologi yang tepat. Selain persoalan mengenai bagaimana menumpulkan data melalui teknik wawancara maupun analisa dokumen, salah satu isu yang dibahas dalam forum adalah metodologi penelitian.

Di samping itu, pilihan metodologi yang tepat akan menghasilkan posisi atau sudut pandang yang kuat, dan menghasilkan analisa yang tajam. Para peserta workshop semakin memahami betapa selama ini mereka sangat kaya akan data lapangan, apalagi dengan adanya tambahan alat analisa berupa wawasan baru, atau 'bagasi' yang diperoleh dari pendalaman materi tengan HAM dan sejarah sosial. 'Bagasi' ini akan membantu sikap kritis advokator, termasuk peneliti, terhadap isu atau masalah yang diangkat. Dalam workshop ini, para peserta mempertajam análisis masalah yang hendak diadvokasi dengan mengaitkannya dengan konteks HAM dan pengetahuan sejarah sosial ke dalam proses analisanya. Pada prakteknya, 'eksperimentasi' ini--mengaitkan isu yang hendak diadvokasi ke dalam 'ruang' yang lebih luas-- akan membantu peneliti untuk memahami isu/masalah/topik penelitian dalam suatu konteks spesifik, serta melihat relasi isu dengan latar budaya, sosial, politik dan ekonomi subjek yang dikaji. Perumusan masalah juga lebih terbantu dengan tinjauan literatur, yang dimaksudkan untuk menelaah dan membandingkan sumber-sumber pustaka lain yang mempunyai fokus isu serupa.

PESERTA WORKSHOP

1. Hikmat Budiman (Interseksi)
2. Hilmar Farid (Institut Sejarah Sosial)
3. Irine H. Gayatri (Interseksi)
4. Amin Mudzakkir (Interseksi)
5. Bhatara Ibnu Reza ( Imparsial)
6. Rini Kusnadi (perwakilan IKOHI, Jakarta)
7. M. Subhi (The Wahid Institute, Jakarta)
8. Romiana Manurung (Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran, Medan)
9. Ana Westy (Perkumpulan INISIATIF, Bandung)
10. Hilma Safitri (Bandung)
11. Ingwuri Handayani (Desantara Depok)
12. Samuel Gultom (Yayasan TIFA, Jakarta)
13. Dina Amalia Susamto(Interseksi)
14. Nia Trisnawati (Interseksi)
15. Hendra(Interseksi)