Laporan Diskusi Transformasi Keintiman di Indonesia
February 21, 2007/ 13:23 | Filed in: REPORT

Intimasi dalam arti kedekatan relasi personal yang mendalam antara seorang laki-laki dan perempuan sering melahirkan konotasi negatif dalam vernakular sebagian besar masyarakat Indonesia. Mungkin karena itu pembicaraan tentangnya masih cenderung tidak dilakukan secara terbuka. Sejak lama orang menganggap keintiman bukan sesuatu yang pantas dibicarakan, apalagi dipertontonkan di depan khalayak ramai. Sampai saat ini, misalnya, film-film yang disiarkan televisi di Indonesia, bahkan sekalipun itu film Hollywood, selalu menghilangkan bagian terbesar adegan ciuman penuh berahi lelaki versus perempuan. Ironisnya, ekspresi keintiman dalam bentuk adegan yang jauh lebih sensual, seperti gerakan-gerakan tari yang cenderung erotis, meskipun tanpa adegan ciuman, dalam film-film Bollywood, itu justru disiarkan secara lengkap, dan sejauh ini tidak ada yang memprotesnya. Ada sejenis ambivalensi dalam masyarakat kita dalam menyikapi penyiaran intimasi di layar TV.

Ketika film Buruan Cium Gua (BCG) mendapat protes dari beberapa kalangan masyarakat kita, bukan saja adegan filmis ciuman yang mengundang kontraversi, tapi bahkan pencantuman kata “ciuman” secara terbuka menjadi judul sebuah film pun dianggap tidak sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia. Di lain pihak, negara saat ini justru sangat sibuk mengatur tatalaksana tubuh biologis warganya. Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUUAPP), yang sangat kontroversial itu, misalnya, memperlihatkan bagaimana negara merasa memiliki kepentingan mengontrol beberapa aspek intimitas dalam kehidupan warganya. Ciuman (di tempat umum) termasuk salah satu yang akan ditertibkan. Intimitas ditarik masuk ke dalam wilayah politik kekuasaan, dan negara mengklaim dirinya sebagai otoritas yang berwenang mengaturnya demi tertib sosial.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam masyarakat kita saat ini? Apa yang terjadi di balik semua itu? Diskusi bulanan Yayasan Interseksi tgl. 14 februari 2007 yang lalu mencoba memetakan beberapa persoalan yang mengiringi berlangsungnya proses transformasi keintiman dalam masyarakat Indonesia. Secara lebih spesifik, Dr. Martin Slama, antropolog dari Austrian Academy of Sciences (Ralat: sebelumnya kami menulis Austrian Institute of Sciences), yang datang sebagai pembicara dalam diskusi tersebut mendiskusikan banyak hal fundamental dalam hidup kita yang bisa dimulai dari sebuah kajian tentang praktek ciuman.
Slama menceritakan awal ketertarikannya untuk mempelajari praktek ciuman dalam masyarakat Indonesia ketika ia sedang belajar bahasa Indonesia hampir sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu ia merasa penasaran dengan arti kata jadian "mencium" dalam bahasa Indonesia yang berwayuh makna: mengecup pipi atau bagian tubuh yang lain yang padanannya dalam bahasa Inggris adalah "to kiss" ("küssen" dalam bahasa Jerman), dan membaui sesuatu atau "to smell" dalam bahasa Inggris ("riechen" dalam bahasa Jerman). Merujuk pada hasil kajian atas beberapa naskah klasik Jawa seperti Serat Centini, yang di dalamnya terdapat informasi tentang teknik atau cara para bangsawan Jawa menggoda kekasihnya, Slama menduga bahwa praktek ciuman yang dilakukan dalam masyarakat Indonesia berbeda dari apa yang dikenal dalam prakteknya pada masyarakat Eropa. Ini diperkuat oleh laporan antropolog Bronislaw Malinowski bahwa praktek ciuman seperti yang biasa dilakukan oleh orang Eropa dahulu sama sekali tidak dikenal dalam masyarakat-masyarakat Asia, bahkan di China dan Jepang sekalipun.

Pada bagian lain Slama menguraikan pergeseran makna praktek ciuman dalam masyarakat Eropa (dan Amerika) dari zaman ke zaman. Pada zaman Pertengahan, ciuman merupakan bagian dari upacara. Artinya ia merupakan bagian dari kehidupan publik. Di zaman Pencerahan, ketika kehidupan domestik/privat dipisahkan secara tegas dari kehidupan publik, ciuman dimaknai sebagai praktek yang hanya boleh dilakukan pada ranah privat. Lebih dari itu, ciuman bahkan secara eksklusif mulai ditafsirkan sebagai praktek romantis. Pada awal abad 20, praktek ciuman kembali muncul dalam kehidupan publik ketika orang justru berusaha menciptakan ruang-ruang privat di dalam ranah publik. Mengutip argumen Eva Illouz, praktek semacam itu terjadi di dalam "islands of privacy in public". Dalam sejarah perfilman Hollywood terjadi perkembangan menarik ketika pada tahun 1930 dikeluarkan apa yang disebut Hollywood code. Isinya, antara lain, adegan ciuman lidah dalam film sebaiknya dihindari. Baru pada tahun 1968, seiring munculnya revolusi kultural di Eropa dan Amerika, Hollywood code dihapuskan, dan praktek ciuman kembali tampil di depan publik (penonton). Menariknya, salah satu isi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (2004) yang dikeluarkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tahun 2002, Pasal 41 justru dimulai dengan larangan adanya adegan ciuman romantik/erotis (Ayat 1). Ciuman yang diperbolehkan hanyalah yang terjadi dalam konteks kekeluargaan dan persahabatan: mencium rambut, mencium pipi, cium tangan, cium dahi dan sungkem (Ayat 2).
Pembahasan tema mulai menusuk memasuki problem sosial yang lebih mendasar ketika praktek ciuman juga ternyata merupakan salah satu tapal batas kapan Barat dimulai dan Timur berakhir dalam wacana yang berkembang di Indonesia. Ambivalensi masyarakat kita terhadap praktek keintiman di depan publik ternyata bukan hanya terjadi saat ini, melainkan sudah sejak lama. Merunut pada laporan Clifford Geertz, misalnya, seorang laki-laki di Pare akhir tahun 1950an mengaku bahwa dia tidak keberatan dengan adegan ciuman dan adegan romantis lainnya dalam film Amerika. Tapi ia keberatan kalau hal itu terjadi dalam film Indonesia. Lima puluh tahun kemudian, sebuah penelitian di Yogyakarta juga mendapati kenyataan yang persis sama.
Di luar dugaan, seluruh peserta diskusi sangat antusias menanggapi presentasi yang disampaikan oleh Slama. Diskusi kemudian berkembang ke perbincangan tentang agama dan politik dan relasi keduanya dengan proses-proses transformasi keintiman dalam masyarakat Indonesia, dan relasi maknanya dalam sektor kehidupan masyarakat yang lain. Ciuman sebagai sebuah praktek kultural ternyata bisa membukakan pintu bagi sebuah diskusi yang sangat serius tentang banyak persoalan yang terjadi dalam masyarakat kita.