Kekerasan Kembali Menghantam Kita di Ujung Tahun
December 16, 2006/ 16:48 | Filed in: COMMUNITY BLOG
Ada banyak peristiwa mencemaskan yang terjadi di ujung tahun 2006 ini. Dua di antaranya menyangkut kebebasan yang selama beberapa tahun ini justru sering dianggap sudah sangat berlebihan di Indonesia. Yang pertama adalah kasus pemecatan wartawan senior harian Kompas, P. Bambang Wisudo, yang didahului oleh sebuah drama kekerasan adalah sebuah ironi memalukan. Seorang wartawan di sebuah surat kabar yang sangat dihormati di Indonesia, karena dianggap merupakan salah satu cagar kekuatan moral dan intelektual bangsa, itu disergap oleh beberapa orang anggota SATPAM, disekap, dan diinterogasi hanya karena ia menyebarluaskan protesnya terhadap elit-elit pimpinan Kompas.
Pemecatan tentu saja merupakan bagian dari konflik dalam hubungan industrial yang biasa terjadi di perusahaan mana pun. Kita bisa mempercayakan solusi untuk masalah tersebut pada perundingan-perundingan yang lazim ditempuh untuk menyelesaikan kasus seperti itu.
Tapi (kabar tentang) penanganan manajemen kompas atas tubuh biologis Wisudo adalah sebuah kasus yang sama sekali lain. Kalau apa yang dituturkan Wisudo dalam kronologi peristiwa penangkapan dan pemecatannya itu benar adanya, Kompas telah melakukan sebuah tindak kekerasan yang benar-benar menyakitkan secara harfiah, dan sangat mencemaskan secara politik karena itu berarti selalu ada upaya pengerahan kekuatan koersif untuk membungkam. Masing-masing pihak tentu saja punya cerita versinya sendiri. Kita masih harus menunggu apakah yang terjadi adalah benar sebuah praktek kekerasan atau sebuah justa semata--satu bentuk kekerasan yang lain sebenarnya. Tapi moralnya adalah, tidak patut sebuah masalah diringkus oleh kekerasan. Apa pun bentuknya.
Penyakit represif rezim otoriter tampaknya memang menular ke mana-mana, bahkan ketika negara demikian lemah reprepsi bisa dilakukan oleh siapa saja. Sampai beberapa bulan yang lalu, hampir setiap pekan kita mendengar kabar tentang tindakan dan ancaman kekerasan oleh beberapa kelompok massa kepada kelompok lainnya. Jakarta seperti dihidupkan melulu oleh orang-orang yang sibuk saling tarik urat leher dan kebencian. Dan orang-orang yang selalu siap menghancurkan.
Beberapa hari yang lalu, sekelompok orang membubarkan sebuah diskusi di toko buku Ulitimus di Bandung, Jawa Barat. Dalihnya, mereka menolak kalau Bandung dijadikan celah kecil penyebarluasan faham komunisme. Penyebabnya, diskusi tersebut membahas gerakan Marxisme internasional. Bisa dibayangkan berapa jarak epistemologis yang dilompati logika mereka untuk sampai pada kesimpulan bahwa orang yang mendiskusikan Marxisme identik dengan pewarta komunisme. Lebih sewindu Orde Baru runtuh, tapi tabiat busuknya terus beranak pinak di hati dan pikiran sebagian warga kita, seperti gelembung-gelembung nafsu angkara Rahwana terus menelikung kesadaran masyarakat dan para pemimpin dalam alam Ramayana. Tapi apakah mereka membaca Ramayana?
Pemecatan tentu saja merupakan bagian dari konflik dalam hubungan industrial yang biasa terjadi di perusahaan mana pun. Kita bisa mempercayakan solusi untuk masalah tersebut pada perundingan-perundingan yang lazim ditempuh untuk menyelesaikan kasus seperti itu.
Tapi (kabar tentang) penanganan manajemen kompas atas tubuh biologis Wisudo adalah sebuah kasus yang sama sekali lain. Kalau apa yang dituturkan Wisudo dalam kronologi peristiwa penangkapan dan pemecatannya itu benar adanya, Kompas telah melakukan sebuah tindak kekerasan yang benar-benar menyakitkan secara harfiah, dan sangat mencemaskan secara politik karena itu berarti selalu ada upaya pengerahan kekuatan koersif untuk membungkam. Masing-masing pihak tentu saja punya cerita versinya sendiri. Kita masih harus menunggu apakah yang terjadi adalah benar sebuah praktek kekerasan atau sebuah justa semata--satu bentuk kekerasan yang lain sebenarnya. Tapi moralnya adalah, tidak patut sebuah masalah diringkus oleh kekerasan. Apa pun bentuknya.
Penyakit represif rezim otoriter tampaknya memang menular ke mana-mana, bahkan ketika negara demikian lemah reprepsi bisa dilakukan oleh siapa saja. Sampai beberapa bulan yang lalu, hampir setiap pekan kita mendengar kabar tentang tindakan dan ancaman kekerasan oleh beberapa kelompok massa kepada kelompok lainnya. Jakarta seperti dihidupkan melulu oleh orang-orang yang sibuk saling tarik urat leher dan kebencian. Dan orang-orang yang selalu siap menghancurkan.
Beberapa hari yang lalu, sekelompok orang membubarkan sebuah diskusi di toko buku Ulitimus di Bandung, Jawa Barat. Dalihnya, mereka menolak kalau Bandung dijadikan celah kecil penyebarluasan faham komunisme. Penyebabnya, diskusi tersebut membahas gerakan Marxisme internasional. Bisa dibayangkan berapa jarak epistemologis yang dilompati logika mereka untuk sampai pada kesimpulan bahwa orang yang mendiskusikan Marxisme identik dengan pewarta komunisme. Lebih sewindu Orde Baru runtuh, tapi tabiat busuknya terus beranak pinak di hati dan pikiran sebagian warga kita, seperti gelembung-gelembung nafsu angkara Rahwana terus menelikung kesadaran masyarakat dan para pemimpin dalam alam Ramayana. Tapi apakah mereka membaca Ramayana?