FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Cerita Pendek Agustus


Hari Merdeka Bagi Kasih


Dina Amalia Susamto






H

ari ini seorang bayi perempuan lahir di istana. Tepat tujuh belas Agustus. Tujuh tahun lalu Kasih lahir dari dunia gelap rahim ibu. Sejak memasuki bulan Agustus, sepanjang jalan di gang menuju rumah bilik kami, warna merah putih berkibar-kibar, bergelantung, bahkan rumah-rumah gubuk di sekitarku dicat merah putih. Juga gubuk kami.

Aku menunggui ibuku saat menahan mulas. Ada cairan merah mengalir di betis ibu yang putih. “Ini tujuh belas agustusan, Ibu.” Ibu memandangku sambil memegang pensil yang panjangnya sejempol tangannya. Ia membuka buku coklat lusuh berisi catatan uangnya.
“Ini hari merdeka kan Bu?”
“Merdeka apa? Yoga, kemarikan uangmu. Dapat berapa?” Aku mengeluarkan dari saku bajuku receh lima ratusan dan seribuan.
“Rp.25.000.”
“Hitung!” Ibu mengamati dengan teliti jari-jariku seakan ia tahu, jari-jari kecilku akan menyulap lembar-lembar ribuan itu menguap entah kemana. Ekor mataku sempat melirik wajahnya yang tak tampak sedikitpun merasakan sakit, padahal aku tahu leleran merah di betisnya yang putih semakin lebar dan panjang.
Ketika aku memberi uang itu pada ibu, ia mengangkat roknya. Ia membuka kakinya sehingga terlihat olehku seperti ada batu hitam keluar dari kemaluan ibu.
“Masakin air hangat.” Perintahnya tetap dengan suara tenang.

Jantungku berdegup kencang. Ini pertama kali aku melihat orang melahirkan. Sambil menunggu air menjadi hangat, aku buru-buru kembali ke kamar ibu, takut ia kesakitan. Merah sudah merembes kemana-mana. Ibu menyuruhku mengambil badan bayi yang sudah setengah keluar, dan aku melihat ibu menggunting sesuatu yang panjang seperti tali.
“Kamu kalau pegang bayi, kepala dan badannya, sandarin lehernya di dadamu. Kalau nggak begitu kecengklak” Aku mengikuti perintah ibu. Setelah selesai ibu meminta bayi yang kugendong. Tanganku seperti dicat merah, kulitku juga menjadi merah. Aku diperintahnya lagi mengambil air hangat yang diwadahi dalam baskom putih.

“Ini mandikan.” Aku memandikan bayi itu dengan satu pertanyaan, mengapa dia tidak menangis? Bukankah katanya setiap bayi yang lahir pasti menangis? Aku memeriksa nafasnya, jantungnya. Dia masih hidup. Begitu mahluk kecil ini kumasukkan, seluruh air menjadi merah. Aku sangat hati-hati memeganginya. Dia kecil sekali sebesar kelinci. Dia kelihatan sangat lemah, meskipun setelah telunjukku kumasukkan dalam genggaman tangannya, dia sanggup menggenggamku. Aku merasakan detak jantungnya.
“Ini baju-bajunya.Dan ini kain buat bedong. Ini handuknya.” Ibu pergi mandi.

Aku melaksanakan semua perintah ibu sampai yang terakhir. Memberi nama. Tapi ibu sudah pergi saat aku berteriak menemukan nama untuk adik perempuanku. Saat itu aku baru berusia 10 tahun dan merasa begitu bahagia memberi nama adikku: Kasih. Aku juga hanya tiba-tiba terpikir Kasih. Mungkin karena di sinetron ada nama anak perempuan Cinta. Kasih adik perempuanku ketiga, yang paling cantik, karena ia terlahir bisu.

Sejak umur 0 tahun, 0 bulan, Kasih bersamaku. Tak satupun adikku yang lain kupercaya mengasuhnya. Ibuku jarang sekali menggendong adikku, sesekali saja memberinya susu. Aku mengasuh Kasih sambil bekerja di gerbong-gerbong kereta Bogor-Jakarta. Tidak seperti adik-adikku yang lain, Kasih begitu lambat tumbuhnya. Badannya sangat kurus, aku takut dia mati. Sejak dia usia dua bulan, ibuku sama sekali tak pernah menetekinya. Terbersit dalam pikiranku untuk menyisakan Rp.5000 dari penghasilanku, dan kubelikan susu. Awalnya aku melakukan itu dengan perasaan sangat takut, aku mulai berbohong pada ibu. Tapi Kasih tak boleh mati. Hanya itu yang ada dalam pikiranku, kalau nanti suatu saat ketahuan, aku rela ibu memukuliku, menghukumku. Biasanya ibu menghukumku dengan cara tidak memberi makan selama dua hari.

Tapi kalau aku dihukum, Kasih pasti seorang diri. Aku harus bersekutu dengan adikku. Aku harus mulai berani percaya pada mereka. Dalam perjalanan bekerja sehari-hari, aku mencari Laila, adikku. Biasanya jam 2, dia beristirahat bersama teman-temannya di stasiun Bojong. Laila hanya terpaut setahun denganku.
“Laila, kamu tau kan, ibu nggak netekin Kasih lagi.”
Laila cengengesan.
“Iya. Tetek ibu sekarang buat bikin adik baru lagi.” Teman-teman adikku ikut tertawa-tawa nakal.
“Kamu tau nggak, bapaknya Kasih siapa?”
“Emang kamu tau?” Aku terkejut. Laila menunjukkan wajah yang begitu banyak tahu.
“Tau dong! Itu kan pacarnya ibu yang sering bawa motor Hon…” Aku menutup mulut adikku.
“Sst, jangan bilang di sini. Ntar kasih tau ya, yang mana? Jangan bilang-bilang sama ibu atau siapa-siapa.”
“Siapa yang berani bilang ke ibu? Mau ditampar?” Laila menghempaskan tanganku dengan kasar.
“Aku juga tau dong yang mana bapakku.” Aku lebih terkejut daripada yang pertama.
“Hah? Dari mana kamu tau? Kamu mencari tau?”“Iya dong! Dasar bodoh. Emang kamu, nggak nyari tau siapa bapakmu?Terus kalau kamu nggak pengen tau, bagaimana kamu bisa ketemu bapaknya Kasih?” Laila memandang Kasih yang ada dalam gendonganku. Aku tergeragap, bagaimana anak kecil ini bisa tahu apa yang ada dalam pikiranku.
“Kamu juga tau kok, bapak kamu. Kita semua punya bapak.”

“Laila.” Aku menggandeng tangannya yang kekar. Aku tahu, walaupun Laila anak perempuan, tetapi dia lebih berani dari pada aku.
“Aku nggak mau kamu nunjukin yang mana bapakku. Nggak penting. Aku ingin tau bapakmu dan bapak Kasih aja, atau bapak Jonah juga. Kamu pasti juga tau kan bapaknya Jonah?” Laila menggeleng.
“Jonah yang malang. Bapaknya udah mati.”
“Hah?” Ini lebih menyedihkan. Aku terduduk lemas. Tak berani menatap mata adik-adikku.

Lewat jam 12 malam, Laila membangunkanku. Dia mengajakku mengintip bilik ibu yang hanya dibatasi kain tipis bekas spanduk dengan tempat kami tidur. Kain itu lebih tinggi dari tubuh kami, tapi kami bisa menyingkapkannya dari bawah.
“Kita akan punya adik lagi.” Wajah Laila tak bersemangat.
“Kamu lihat baik-baik wajah laki-laki itu, kelak kalau lahir adik baru, kamu tau siapa bapaknya.”
“Jadi kamu suka mengintip ibu?” Aku marah pada Laila. Tapi tangan kasarnya menjambak rambutku. Ia menarik tanganku dan kami pelan-pelan keluar gubuk kami yang seperti rumah kelinci.

Laila mengajakku menyusuri gang sampai ujung, lalu kami berbelok menuju pintu belakang perumahan. Perumahan itu dipagari tembok, tapi ada yang berlubang dan dapat dimasuki satu tubuh manusia dewasa. Laila melangkah dulu melewati lubang itu.
“Lihat!” Laila menunjuk rumah bercat biru. Kami tak dapat melihat bagaimana rupa rumah bagian depan, yang Laila tunjuk adalah dapur rumah itu. Laila bilang rumah-rumah di kompleks ini tak seberapa besar, bentuknya kebanyakan sama, tetapi mereka banyak juga yang mempunyai mobil. Dan mereka juga banyak menngambil pembantu dari perkampungan kami. Ibuku juga pembantu di salah satu rumah-rumah itu.
“Laki-laki itu sering buang sampah ke sini setiap pagi.” Laila menunjukkan tempat pembuangan sampah tak jauh dari lubang tembok itu, di perkampungan kami.
“Ayo pulang sebelum ketahuan ibu.” Aku terpaku menatap rumah itu.
“Ayo, bodoh, malah menangis. Anak laki-laki cengeng.”

Tujuh tahun lalu dalam bulan-bulan awal membesarkan Kasih, saat perasaanku didera begitu takut adikku yang kurus itu akan mati, aku berkali-kali mengamati laki-laki itu. Ketika dia pagi-pagi membuang sampah atau hendak berangkat kerja dengan motornya. Aku tidak sekolah tapi aku dapat memikirkan bagaimana caranya adikku tidak mati. Tentu saja cara berpikir anak jalanan begitu brutal dan seolah kejam. Sampai sekarng aku masih hidup di jalanan, dan tidak memaknai apa yang kulakukan dulu itu sebagai sesuatu yang bodoh. Aku sering mendengar cerita-cerita bayi dibuang di depan panti asuhan, atau di depan pagar rumah orang kaya. Aku tidak tahu apakah ibuku pernah membuang bayinya. Aku rasa ibuku tak sekejam itu, sampai usia itu aku masih sadar, aku dan adik-adikku masih selalu bersama. Meskipun aku sering berpikir, benarkah salah satu adikku, yang lahir beberapa tahun di atas Jonah, anak laki-laki bernama Rio, diangkat anak oleh keluarga kaya yang sangat menginginkan anak? Aku percaya saja pada ibu, dan tidak mau percaya pada berita bohong yang dikatakan Laila.

Malam itu aku merencanakan sesuatu bersama Laila untuk masa depan Kasih. Hari itu aku titipkan Kasih pada Laila dan Jonah. Siang bagiku terasa sangat panjang, dan aku hanya berjalan mondar-mandir mengamen di kompleks perumahan itu. Aku sudah menyiapkan kardus yang masih bersih. Sambil mengamen aku membayangkan nasib adikku, Kasih yang bisu. Wajahnya yang cantik, mirip sekali ibu. Aku membayangkan suatu hari nanti kami mungkin akan bertemu lagi. Ah, bagaimana ia akan mengingatku? Katanya orang dewasa tak bisa ingat masa-masa bayinya, apalagi masih 0 tahun.

Semakin mendekati malam, aku tak tahan. Aku tidak bisa menunggu Laila sampai pulang ke rumah. Aku ingin sekali bertemu dengan Kasih. Aku tiba-tiba rindu sekali padanya. Ini akan menjadi saat-saat terakhir bagiku bersama Kasih. Aku naik kereta ekonomi ke arah Bogor. Aku turun di tiap stasiun dimana adikku biasa berada. Sampai magrib turun aku tak menemukan mereka. Jam tujuh malam aku memutuskan pulang, mungkin mereka sudah di rumah. Aku pulang dengan begitu tergesa, mungkin tanpa sadar aku berlari-lari.Jantungku berdebar keras.

Dari kejauhan aku mendengar suara Laila menangis, mungkin dimarahi Ibu.
“Ibu.” Aku tak melihat ibu di rumah. Aku melihat Laila meraung-raung. Aku memeluknya. Jonah di sampingnya hanya memandangiku.
“Kasih mana?” Aku begitu terkejut, sadar adikku yang terkasih itu tak ada dianatara mereka. “Dengan Ibu?” Aku meyakinkan diri, mungkin sedang pergi bersama Ibu.
“Iya.” Jawab Jonah singkat.
“Dijual. Tiga ratus ribu. Tadi siang.”








Dina Amalia Susamto adalah peneliti Cultural Studies pada the Interseksi Foundation, Jakarta.