Dari Workshop Pra-Riset Audio Visual tentang Komunitas To Wana
November 30, 2007/ 21:07 | Filed in: REPORT
 Print This Article
Seperti diberitakan sebelumnya, bulan November 2007 sampai Februari 2008 Yayasan Interseksi akan melakukan sebuah riset audio visual tentang problem hak-hak minoritas di kalangan komunitas Wana di kawasan Cagar Alam Morowali, kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Tujuan utamanya adalah untuk mencoba melihat beberapa strategi lokal yang ditempuh komunitas Wana dalam menghadapi problem sistemik dalam kehidupannya sebagai warga sebuah negara modern, Indonesia. Penelitian kali ini diharapkan bisa memperkaya pemahaman kita tentang kehidupan komunitas suku Wana, yang sebelumnya telah dipaparkan dalam salah satu publikasi hasil penelitian yayasan Interseksi.
Untuk mempersiapkan para peneliti yang akan diterjunkan ke lapangan selama satu bulan mulai bulan Desember 2007 nanti, seperti biasa kami mengadakan sebuah workshop pra penelitian yang tujuannya adalah agar para peneliti memiliki pehaman yang baik tentang isu utama yang akan diangkat melalui medium audio-visual tersebut. Workshopnya sendiri diadakan tgl. 26-27 November 2007 yang lalu di Wisma Aryanti, Cisarua, kawasan Puncak-Bogor, Jawa Barat. Workshop dibagi menjadi tiga aktivitas utama.
Pertama, pemetaan tematik tetang problem hak minoritas dan mengapa riset audio visual dipilih sebagai alternatif di luar penelitian etnografi konvensional seperti sebelumnya. Diharapkan agar data yang diperoleh selama penelitian bisa memperkuat upaya advokasi hak-hak komunitas minoritas di Indonesia, secara spesifik komunitas suku Wana. Komunitas ini dipilih dari sembilan wilayah yang pernah diteliti para peneliti Interseksi, karena selain belum banyak diteliti oleh pihak lain, komunitas Wana juga mewakili dua kenyataan sekaligus: dari segi jumlah ia jelas sangat minoritas dibanding sisa total populasi penduduk Indonesia, dan secara "ideologis" ia juga sudah lama mengalami apa yang kami sebut proses "minoritasasi".
Selain dari tim interseksi materi juga banyak disampaikan oleh Yuli Sudaryanto, anggota tim peneliti Interseksi yang pernah meneliti komunitas Wana tahun 2005, dan Jabar Lahadji, pimpinan Yayasan Sahabat Morowali, Sulawesi Tengah, yang telah mendedikasikan sebagian besar waktunya bersama komunitas Wana selama puluhan tahun. Yuli Sudaryanto dengan penuh semangat membagi pengalaman yang diperolehnya ketika ia berkesempatan hidup bersama komunitas Wana lebih dari dua tahun yang lalu. Ia, misalnya, menceritakan bagaimana untuk bisa bertahan hidup bersama komunitas Wana di Kayupoli sebagai peneliti dia harus membawa perbekalan yang cukup mulai dari beras sampai berbungkus-bungkus rokok. Untuk kebutuhan makan setiap hari, sebagai peneliti dia juga harus menanak nasi sendiri dan bersedia berbagi dengan sesama warga. Kondisi alam di kawasan Cagar Alam Morowali juga merupakan tantangan yang sangat menarik: untuk pindah dari satu pemukiman penduduk ke lokasi pemukiman lain harus ditempuh dengan jalan kaki berjam-jam bahkan bisa satu hari penuh.
Jabar Lahadji tentu saja membawa kabar terbaru tentang perkembangan yang dialami komunitas Wana sejak terakhir kali Yuli tinggal di sana dua tahun lalu. Entah patut disyukuri atau tidak, Jabar menceritakan bahwa secara keseluruhan kondisinya belum terlalu banyak berubah. Interaksi warga komunitas Wana dengan penduduk Kolonedale memang mungkin sudah lebih sering terjadi sekarang, tapi selalu ada yang khas dari mereka: yakni kesanggupan mereka untuk senantiasa memelihara jarak dengan dunia di luarnya. Transaksi-transaksi ekonomi menggunakan uang mungkin memang lebih sering terjadi, karena orang Wana juga sudah terbiasa pergi ke pasar di kota kecamatan Kolonedale, tapi uang tetap belum terlalu banyak mengubah kondisi sosial ekonomi di dalam pemukiman-pemukiman mereka di dalam kawasan Cagar Alam.
Tapi itu sama sekali bukan berarti orang Wana hidup terisolir. Selain melalui transaksi-transaksi ekonomi pasar tadi, interaksi juga berlangsung pada level kebudayaan. Ketika Yuli Sudaryanto datang ke Wana tahun 2005 yang lalu, misalnya, dia cukup terperangah mendengar sebagian dari anak-anak muda di sana ternyata cukup hafal lagu Cucok Rowo, sebuah lagu pop Jawa yang waktu itu cukup populer di kota-kota besar di Indonesia. Jabar menambahkan bahwa mereka mengenal lagu-lagu pop yang lain, karena mereka membeli tape recorder di pasar di Kolonedale. Tapi pembelian tape recorder ini, juga-juga peristiwa-peristiwa konsumsi lainnya yang dilakukan warga komunitas Wana, kalau mengacu pada cerita Jabar, benar-benar menjadi yang sangat ikonis sifatnya. Sebab begitu batereinya habis, mereka tidak membelikannya yang baru agar tape recorder itu bisa dipakai lagi, tapi malah menggeletakkannya begitu saja. Mungkin karena untuk membeli baterei yang baru butuh perjalanan sangat jauh, tapi mungkin juga karena mereka memang tidak begitu peduli dengan hal-hal semacam itu. Contoh lain adalah kenyataan bahwa beberapa orang laki-laki Wana senang memakai jam tangan. Tapi kalau ditanya jam berapa sekarang, mereka tidak melihat jam di pergelangan tangannya melainkan malah melihat matahari di langit. Modernitas dan tradisionalitas, kalau dua istilah ini masih bisa dipakai dalam konteks tersebut, bersilang tindih tanpa saling mengalahkan.
Aktivitas kedua adalah pemutaran beberapa contoh film dokumenter yang pernah dibuat oleh pihak ketiga sebagai bahan inspirasi bagi proses pengumpulan data di lapangan. Selama dua hari workshop sedikitnya 5 (lima) film dokumenter diputar sampai dini hari. Setelah pemutaran film para peserta diajak mendiskusikan banyak aspek dari masing-masing film. Dua film dokumenter terbaru tentang komunitas Wana dibawa Jabar Lahadji, keduanya dibuat oleh pasangan Martine Journet dan Gerard Nougarol. Yang pertama berjudul Indo Pino (Ibunya si Pino), diproduksi tahun 2002, menceritakan sebagian kisah hidup Indo Pino, seorang dukun penyembuh (healer), ketika ia sendiri mengalami sakit Malaria. Film ini secara subtil menggambarkan tarik-tolak antara metode penyembuhan tradisional oleh dukun dengan metode kesehatan modern berupa obat malaria (Indo Pino menyebutnya "obat biru") yang dikasihkan oleh Martine kepada Indo Pino. Om Jima, dukun yang melakukan upacara penyembuhan Indo Pino, juga tidak mempertentangkan "obat biru" dengan metode penyembuhan yang dilakukannya. Menurutnya, "tidak apa-apa minum obat. Karena obat juga sama-sama membantu penyembuhan". Bagi penonton film ini, pertanyaannya yang menganggu adalah, apakah Indo Pino sembuh karena meminum obat malaria dari dokter yang dikasihkan Martine atau karena ritual pengobatan yang dilakukan oleh Jima. Bagi Indo Pino, dua hal tersebut tampaknya tidak penting dipersoalkan. Apa yang dikatakan Indo Pino ketika ia sembuh mungkin memberi kita sedikit gambaran tentang filosofi hidup orang Wana, bahwa yang membuatnya sembuh bukan "obat biru" tapi kekuatan tuhan yang masuk ke dalamnya. Kalau tuhan tidak masuk ke dalam "obat biru", kata Indo Pino, ia tidak akan bisa sembuh.
Film kedua, berjudul Gods and Satans, diproduksi tahun 2005, menampilkan sisi kehidupan religius orang Wana. Fim ini menampilkan kontras antara konsepsi-konsepsi teologis tentang tuhan dan syetan dalam agama-agama monotheis, terutama Kristen dalam konteks film ini, dengan agama yang dianut orang Wana. Kalau teologi agama monotheis mengajarkan konsep tuhan dan syetan sebagai dua kutub berseberangan antara kekuatan baik dan jahat, orang Wana justru memiliki konsepsi yang berbeda tentang syetan. Bagi mereka, syetan tidak semuanya jahat, karena ada juga yang baik. Secara sangat memikat film ini menggambarkan bagaimana dua faham ini saling berbantah melalui tuturan-tuturan Dino (orang Wana yang sudah berpindah agama menjadi Kristen), dan orang-orang Wana. Juga tentang bagaimana agama orang Wana dilihat sebagai bagian dari "dunia kegelapan" oleh organisasi Misionaris yang sudah lama mencoba mengkonversi mereka ke dalam iman Kristiani, tapi tidak pernah terlalu berhasil.
Aktivitas ketiga adalah penyusunan rencana detail riset lapangan. Dibantu Jabar dan Yuli Sudaryanto, tim peneliti Interseksi mencoba mengidentifikasi beberapa persoalan yang akan dilacak di lapangan, sampai ke persiapan teknis keberangkatan. Detail rencana keberangkatan, rute perjalanan, dan logistik apa yang harus dipersiapkan juga dibicarakan bersama. Berbekal peta Sulawesi Tengah dan peta kabupaten Morowali, Jabar memberi briefing yang sangat terperinci tentang segala hal yang dibutuhkan oleh tim peneliti Interseksi selama berada di lapangan.
Seperti diberitakan sebelumnya, bulan November 2007 sampai Februari 2008 Yayasan Interseksi akan melakukan sebuah riset audio visual tentang problem hak-hak minoritas di kalangan komunitas Wana di kawasan Cagar Alam Morowali, kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Tujuan utamanya adalah untuk mencoba melihat beberapa strategi lokal yang ditempuh komunitas Wana dalam menghadapi problem sistemik dalam kehidupannya sebagai warga sebuah negara modern, Indonesia. Penelitian kali ini diharapkan bisa memperkaya pemahaman kita tentang kehidupan komunitas suku Wana, yang sebelumnya telah dipaparkan dalam salah satu publikasi hasil penelitian yayasan Interseksi.
Untuk mempersiapkan para peneliti yang akan diterjunkan ke lapangan selama satu bulan mulai bulan Desember 2007 nanti, seperti biasa kami mengadakan sebuah workshop pra penelitian yang tujuannya adalah agar para peneliti memiliki pehaman yang baik tentang isu utama yang akan diangkat melalui medium audio-visual tersebut. Workshopnya sendiri diadakan tgl. 26-27 November 2007 yang lalu di Wisma Aryanti, Cisarua, kawasan Puncak-Bogor, Jawa Barat. Workshop dibagi menjadi tiga aktivitas utama.
Pertama, pemetaan tematik tetang problem hak minoritas dan mengapa riset audio visual dipilih sebagai alternatif di luar penelitian etnografi konvensional seperti sebelumnya. Diharapkan agar data yang diperoleh selama penelitian bisa memperkuat upaya advokasi hak-hak komunitas minoritas di Indonesia, secara spesifik komunitas suku Wana. Komunitas ini dipilih dari sembilan wilayah yang pernah diteliti para peneliti Interseksi, karena selain belum banyak diteliti oleh pihak lain, komunitas Wana juga mewakili dua kenyataan sekaligus: dari segi jumlah ia jelas sangat minoritas dibanding sisa total populasi penduduk Indonesia, dan secara "ideologis" ia juga sudah lama mengalami apa yang kami sebut proses "minoritasasi".
Selain dari tim interseksi materi juga banyak disampaikan oleh Yuli Sudaryanto, anggota tim peneliti Interseksi yang pernah meneliti komunitas Wana tahun 2005, dan Jabar Lahadji, pimpinan Yayasan Sahabat Morowali, Sulawesi Tengah, yang telah mendedikasikan sebagian besar waktunya bersama komunitas Wana selama puluhan tahun. Yuli Sudaryanto dengan penuh semangat membagi pengalaman yang diperolehnya ketika ia berkesempatan hidup bersama komunitas Wana lebih dari dua tahun yang lalu. Ia, misalnya, menceritakan bagaimana untuk bisa bertahan hidup bersama komunitas Wana di Kayupoli sebagai peneliti dia harus membawa perbekalan yang cukup mulai dari beras sampai berbungkus-bungkus rokok. Untuk kebutuhan makan setiap hari, sebagai peneliti dia juga harus menanak nasi sendiri dan bersedia berbagi dengan sesama warga. Kondisi alam di kawasan Cagar Alam Morowali juga merupakan tantangan yang sangat menarik: untuk pindah dari satu pemukiman penduduk ke lokasi pemukiman lain harus ditempuh dengan jalan kaki berjam-jam bahkan bisa satu hari penuh.
Jabar Lahadji tentu saja membawa kabar terbaru tentang perkembangan yang dialami komunitas Wana sejak terakhir kali Yuli tinggal di sana dua tahun lalu. Entah patut disyukuri atau tidak, Jabar menceritakan bahwa secara keseluruhan kondisinya belum terlalu banyak berubah. Interaksi warga komunitas Wana dengan penduduk Kolonedale memang mungkin sudah lebih sering terjadi sekarang, tapi selalu ada yang khas dari mereka: yakni kesanggupan mereka untuk senantiasa memelihara jarak dengan dunia di luarnya. Transaksi-transaksi ekonomi menggunakan uang mungkin memang lebih sering terjadi, karena orang Wana juga sudah terbiasa pergi ke pasar di kota kecamatan Kolonedale, tapi uang tetap belum terlalu banyak mengubah kondisi sosial ekonomi di dalam pemukiman-pemukiman mereka di dalam kawasan Cagar Alam.
Tapi itu sama sekali bukan berarti orang Wana hidup terisolir. Selain melalui transaksi-transaksi ekonomi pasar tadi, interaksi juga berlangsung pada level kebudayaan. Ketika Yuli Sudaryanto datang ke Wana tahun 2005 yang lalu, misalnya, dia cukup terperangah mendengar sebagian dari anak-anak muda di sana ternyata cukup hafal lagu Cucok Rowo, sebuah lagu pop Jawa yang waktu itu cukup populer di kota-kota besar di Indonesia. Jabar menambahkan bahwa mereka mengenal lagu-lagu pop yang lain, karena mereka membeli tape recorder di pasar di Kolonedale. Tapi pembelian tape recorder ini, juga-juga peristiwa-peristiwa konsumsi lainnya yang dilakukan warga komunitas Wana, kalau mengacu pada cerita Jabar, benar-benar menjadi yang sangat ikonis sifatnya. Sebab begitu batereinya habis, mereka tidak membelikannya yang baru agar tape recorder itu bisa dipakai lagi, tapi malah menggeletakkannya begitu saja. Mungkin karena untuk membeli baterei yang baru butuh perjalanan sangat jauh, tapi mungkin juga karena mereka memang tidak begitu peduli dengan hal-hal semacam itu. Contoh lain adalah kenyataan bahwa beberapa orang laki-laki Wana senang memakai jam tangan. Tapi kalau ditanya jam berapa sekarang, mereka tidak melihat jam di pergelangan tangannya melainkan malah melihat matahari di langit. Modernitas dan tradisionalitas, kalau dua istilah ini masih bisa dipakai dalam konteks tersebut, bersilang tindih tanpa saling mengalahkan.
Aktivitas kedua adalah pemutaran beberapa contoh film dokumenter yang pernah dibuat oleh pihak ketiga sebagai bahan inspirasi bagi proses pengumpulan data di lapangan. Selama dua hari workshop sedikitnya 5 (lima) film dokumenter diputar sampai dini hari. Setelah pemutaran film para peserta diajak mendiskusikan banyak aspek dari masing-masing film. Dua film dokumenter terbaru tentang komunitas Wana dibawa Jabar Lahadji, keduanya dibuat oleh pasangan Martine Journet dan Gerard Nougarol. Yang pertama berjudul Indo Pino (Ibunya si Pino), diproduksi tahun 2002, menceritakan sebagian kisah hidup Indo Pino, seorang dukun penyembuh (healer), ketika ia sendiri mengalami sakit Malaria. Film ini secara subtil menggambarkan tarik-tolak antara metode penyembuhan tradisional oleh dukun dengan metode kesehatan modern berupa obat malaria (Indo Pino menyebutnya "obat biru") yang dikasihkan oleh Martine kepada Indo Pino. Om Jima, dukun yang melakukan upacara penyembuhan Indo Pino, juga tidak mempertentangkan "obat biru" dengan metode penyembuhan yang dilakukannya. Menurutnya, "tidak apa-apa minum obat. Karena obat juga sama-sama membantu penyembuhan". Bagi penonton film ini, pertanyaannya yang menganggu adalah, apakah Indo Pino sembuh karena meminum obat malaria dari dokter yang dikasihkan Martine atau karena ritual pengobatan yang dilakukan oleh Jima. Bagi Indo Pino, dua hal tersebut tampaknya tidak penting dipersoalkan. Apa yang dikatakan Indo Pino ketika ia sembuh mungkin memberi kita sedikit gambaran tentang filosofi hidup orang Wana, bahwa yang membuatnya sembuh bukan "obat biru" tapi kekuatan tuhan yang masuk ke dalamnya. Kalau tuhan tidak masuk ke dalam "obat biru", kata Indo Pino, ia tidak akan bisa sembuh.
Film kedua, berjudul Gods and Satans, diproduksi tahun 2005, menampilkan sisi kehidupan religius orang Wana. Fim ini menampilkan kontras antara konsepsi-konsepsi teologis tentang tuhan dan syetan dalam agama-agama monotheis, terutama Kristen dalam konteks film ini, dengan agama yang dianut orang Wana. Kalau teologi agama monotheis mengajarkan konsep tuhan dan syetan sebagai dua kutub berseberangan antara kekuatan baik dan jahat, orang Wana justru memiliki konsepsi yang berbeda tentang syetan. Bagi mereka, syetan tidak semuanya jahat, karena ada juga yang baik. Secara sangat memikat film ini menggambarkan bagaimana dua faham ini saling berbantah melalui tuturan-tuturan Dino (orang Wana yang sudah berpindah agama menjadi Kristen), dan orang-orang Wana. Juga tentang bagaimana agama orang Wana dilihat sebagai bagian dari "dunia kegelapan" oleh organisasi Misionaris yang sudah lama mencoba mengkonversi mereka ke dalam iman Kristiani, tapi tidak pernah terlalu berhasil.
Aktivitas ketiga adalah penyusunan rencana detail riset lapangan. Dibantu Jabar dan Yuli Sudaryanto, tim peneliti Interseksi mencoba mengidentifikasi beberapa persoalan yang akan dilacak di lapangan, sampai ke persiapan teknis keberangkatan. Detail rencana keberangkatan, rute perjalanan, dan logistik apa yang harus dipersiapkan juga dibicarakan bersama. Berbekal peta Sulawesi Tengah dan peta kabupaten Morowali, Jabar memberi briefing yang sangat terperinci tentang segala hal yang dibutuhkan oleh tim peneliti Interseksi selama berada di lapangan.