Catatan dari Workshop Jaringan Yayasan Desantara
June 11, 2006/ 03:25 | Filed in: COMMUNITY BLOG
Posted by: Hikmat Budiman
Ada yang menarik dari proses workshop penguatan jaringan Yayasan Desantara di Puncak, Jawa Barat, tgl. 5-7 Juni 2006 yang lalu. Kebetulan saya sendiri "ditodong" oleh panitia untuk menjadi salah seorang fasilitator dalam workshop tersebut. Pembentukan jaringan antar sesama lembaga swadaya masyarakat, atau organisasi nonpemerintah, atau apa pun sebutan yang seturut maknanya, itu tentu saja bukan hal istimewa. Dalam pekerjaan saya sebelumnya, berkali-kali saya terlibat membidani lahirnya beberapa jaringan antar-LSM di Indonesia. Yang mengesankan dari workshopnya Desantara ini adalah karena di dalamnya para peserta sepakat untuk:
Pertama, membentuk sebuah jaringan yang tidak meletakkan komunitas masyarakat yang dibelanya sebagai pusat orientasi melainkan justru menjadi bagian integral dari jaringan itu sendiri. Yang berada di pusat perhatian bukan komunitas lokalnya sebagai sebuah entitas fisik, melainkan problem ketimpangan relasi atau proses pembedaan (distiction) yang bisa menimpa siapa saja. Dengan demikian, antara Yayasan Tantular di Malang dengan komunitas-komunitas seniman Ludruk, atau antara Yayasan Sahabat Morowali di kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah dengan komunitas masyarakat Wana di kawasan Cagar Alam Morowali, misalnya, ditempatkan pada status yang sama dalam jaringan. Konsekwensinya, bukan hanya LSM anggota jaringan yang memiliki obligasi moral untuk membela komunitas lokal, tapi komunitas lokal pun bisa terlibat membantu komunitas-komunitas lain secara bersama-sama. Secara konseptual, komunitas lokal juga bisa berperan besar dalam membantu kerja-kerja LSM yang menjadi anggota jaringan. Ini tidak sama dengan konsep jaringan yang dipakai oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara tentu saja.
Kedua, semua peserta workshop sepakat memperluas medan kritisismenya dengan penekanan bahwa komunitas-komunitas lokal memang harus dibela tapi bukan berarti bahwa mereka tidak pernah salah. Posisi ini diharapkan bisa mendihindarkan jaringan ini dari jebakan romantisasi kultural yang substansinya nyaris identik dengan proyek-proyek kekuasaan negara untuk melestarikan mereka.
Kita masih akan melihat bagaimana kerja konkret dari jaringan yang bahkan disepakati untuk tidak buru-buru diberi nama ini. Interseksi sendiri bisa membantu jaringan ini melalui pemanfaatan ruang-ruang elektronik dalam cyberspace ini. Ke depan, situs Interseksi.ORG bolehjadi bisa dimanfaatkan oleh teman-teman jaringan kita untuk mempublikasikan lembaganya ke lingkungan yang lebih luas. Ini mungkin bentuk lain dari komitmen untuk menjadikan networking sebagai salah satu basis penyelenggaraan program-program aktivitas Interseksi. Ada ide lain?
Ada yang menarik dari proses workshop penguatan jaringan Yayasan Desantara di Puncak, Jawa Barat, tgl. 5-7 Juni 2006 yang lalu. Kebetulan saya sendiri "ditodong" oleh panitia untuk menjadi salah seorang fasilitator dalam workshop tersebut. Pembentukan jaringan antar sesama lembaga swadaya masyarakat, atau organisasi nonpemerintah, atau apa pun sebutan yang seturut maknanya, itu tentu saja bukan hal istimewa. Dalam pekerjaan saya sebelumnya, berkali-kali saya terlibat membidani lahirnya beberapa jaringan antar-LSM di Indonesia. Yang mengesankan dari workshopnya Desantara ini adalah karena di dalamnya para peserta sepakat untuk:
Pertama, membentuk sebuah jaringan yang tidak meletakkan komunitas masyarakat yang dibelanya sebagai pusat orientasi melainkan justru menjadi bagian integral dari jaringan itu sendiri. Yang berada di pusat perhatian bukan komunitas lokalnya sebagai sebuah entitas fisik, melainkan problem ketimpangan relasi atau proses pembedaan (distiction) yang bisa menimpa siapa saja. Dengan demikian, antara Yayasan Tantular di Malang dengan komunitas-komunitas seniman Ludruk, atau antara Yayasan Sahabat Morowali di kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah dengan komunitas masyarakat Wana di kawasan Cagar Alam Morowali, misalnya, ditempatkan pada status yang sama dalam jaringan. Konsekwensinya, bukan hanya LSM anggota jaringan yang memiliki obligasi moral untuk membela komunitas lokal, tapi komunitas lokal pun bisa terlibat membantu komunitas-komunitas lain secara bersama-sama. Secara konseptual, komunitas lokal juga bisa berperan besar dalam membantu kerja-kerja LSM yang menjadi anggota jaringan. Ini tidak sama dengan konsep jaringan yang dipakai oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara tentu saja.
Kedua, semua peserta workshop sepakat memperluas medan kritisismenya dengan penekanan bahwa komunitas-komunitas lokal memang harus dibela tapi bukan berarti bahwa mereka tidak pernah salah. Posisi ini diharapkan bisa mendihindarkan jaringan ini dari jebakan romantisasi kultural yang substansinya nyaris identik dengan proyek-proyek kekuasaan negara untuk melestarikan mereka.
Kita masih akan melihat bagaimana kerja konkret dari jaringan yang bahkan disepakati untuk tidak buru-buru diberi nama ini. Interseksi sendiri bisa membantu jaringan ini melalui pemanfaatan ruang-ruang elektronik dalam cyberspace ini. Ke depan, situs Interseksi.ORG bolehjadi bisa dimanfaatkan oleh teman-teman jaringan kita untuk mempublikasikan lembaganya ke lingkungan yang lebih luas. Ini mungkin bentuk lain dari komitmen untuk menjadikan networking sebagai salah satu basis penyelenggaraan program-program aktivitas Interseksi. Ada ide lain?