FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Bromo Sebagai Situs Integrasi Wong Tengger

Posted by: Paring Waluyo Utomo

Beberapa hari belakangan ini ramai diberitakan dimedia massa bahwa Gunung Bromo sedang mengalami peningkatan aktivitas. Dalam siarannya, BMG menganalisis ada beberapa gempa berskala kecil karena aktivitas Gunung Bromo. Seolah tak mau ketinggalan, tetangganya, Gunung Semeru juga mengeluarkan asap yang meningkat dari aktivitas normalnya. Bahkan abu Semeru sempat menyebar hingga di Kota Malang dan sekitarnya.

Berita yang hiruk pikuk atas peningkatan aktivitas kedua gunung diatas sempat merisaukan para pengunjung, terutama dari turis-turis yang akan menikmati keindahan Gunung Bromo. Bahkan beberapa warga di Malang membatalkan kunjungannya untuk menghadiri peringatan Kasada di puncak Gunung Bromo.

Meningkatnya aktivitas Gunung Bromo nampaknya tidak berpengaruh pada kepercayaan masyarakat Tengger. Walau diberitakan Gunung Bromo dan Semeru sedang “batuk”, namun masyarakat Tengger tetap menjalankan ritual Kasada dan pujan Kasada dengan hitkmat di Poten dan bibir kawah Bromo. Ada perasaan yang begitu kuat untuk terikat antara masyarakat Tengger dengan Gunung Bromo.

Justru melalui ritual Kasada inilah puncak dari seluruh kebaktian dan penghormatan masyarakat Tengger terhadap Tuhan, alam, dan leluhur sedang dilakukan. Bagi masyarakat Tengger tidak ada kata pemutus antara mereka dengan Bromo. Ajaran Kasada menyatakan bahwa Ki Kusuma, sesepuh mereka (dalam mitologi Kasada) melakukan pengorbanan diri untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Tengger, sebab mereka adalah masyarakat agraris yang basis materialnya ditopang oleh pertanian.

Hingga kini, Bromo adalah situs penting tempat masyarakat tengger dari empat penjuru berkumpul, terutama disaat Bulan Kasada seperti saat ini. Boleh jadi masyarakat tengger saat ini dikotakkan dalam kategori agama yang berbeda mulai dari Islam, Hindu, Budha, maupun Katolik akibat ulah orde baru. Namun semuanya terintegrasi dan berkiblat kepada Gunung Bromo, bahkan sampai meninggal sekalipun harus tetap menghadap Gunung Bromo.

Lari atas kenyataan yang terjadi di Bromo bagi masyarakat Tengger adalah sebuah kefatalan. Kalau mereka lari atas kenyataan di Bromo, sama halnya mereka hendak memalingkan diri dari leluhur mereka. Padahal seluruh konsep pokok dari tradisi dan ajaran yang dikembangkan oleh masyarakat Tengger adalah memberikan penghormatan atas leluhur (atma) mereka yang bersemayam kawasan Bromo, Tengger dan Semeru

Hal ini tercermin tidak hanya terlihat dalam bentuk-bentuk persembahan (sesaji) yang berupa hasil pertanian, akan tetapi penghormatan itu dipujakan dalam mantra dukun Tengger sebagai pemangku teologi Tengger. Mantara pembuka seperti; hong ulun bapa kuasa ibu pertiwi adalah sepenggal kalimat mantra yang menjadi basis kebudayaan Tengger. Kalimat itu mengandaikan betapa pentingnya hubungan antara wong Tengger yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Melalui Gunung Bromo-lah mereka senantiasa merasa dapat berhubungan terus dengan leluhur mereka.

Sudah sejak lama, bahkan sejak awal mula mendiami pegunungan Bromo, Tengger, dan Semeru masyarakat Tengger mengetahui benar tentang kemungkinan ancaman gunung berapi. Justru melalui ritual-ritual yang sedang mereka jalani selama ini yang diwariskan secara terumurun itulah masyarakat tengger hendak merinci gelagat alam, agar mampu memprediksiakan sedemikian rupa. Sayangnya, kearifan dalam memandang fenomena alam ini harus “kalahkan” dengan hitungan matematis model para ahli vulkanologi, geologi maupun geofisika.

Apalagi jika asumsi-asumsi matematis model para vulkanolog ini bersekutu dengan media massa. Maka tak mengherankan jika asumsi yang dibangun oleh para vulkanolog itu mampu membius semua mata publik, bagaikan sebuah “sabda” yang patut untuk didengar adanya.

Atas pemberitaan ini, maka sebagian masyarakat Tengger yang biasanya mencari nafkah dalam keramaian massa disetiap penyelenggaraan ritual kasada menjadi menggerutu. Potensi pendapatan ekonomi menjadi sirna dengan sepinya pengunjung disaat hari-hari sebelum Kasada. Mestinya para teknokrat dan media massa juga mempertimbangan hal-hal seperti ini. Bukankah kalau masyarakat Tengger tidak memiliki kemampuan prediktif atas aktivitas Bromo, mereka telah sirna sedari dulu karena amukan alam dari dua gunung aktif, yakni Bromo dan Semeru.

Kita memang patut memberikan apresiasi kepada para teknokrat gunung itu atas early warning yang mereka keluarkan mengenai aktivitas Gunung Bromo. Namun pertimbangan kultural dan antropologi untuk kemaslahatan orang Tengger juga patut kita perhitungkan.

Penulis sekarang lagi berdiam diri di Gunung Bromo.