Salah
satu kritik terhadap Neoliberalisme adalah kecenderungan
menempatkan negara dalam subordinasi pasar. Meskipun di kalangan
Mahzab Neoliberalisme sendiri terdapat silang sengketa antara
menempatkan negara dengan pasar, fakta yang bisa diterima umum
adalah kekuatan ekonomi pasar cenderung dibiarkan demi membela
prinsip paling mendasar dari Neoliberalisme itu sendiri:
“Kebebasan”.
Titik krusialnya justru terletak disini. Dengan membiarkan
kebebasan seperti lalu lintas yang dapat mengatur dirinya sendiri,
bagaimanakah menciptakan kontestasi yang seimbang diantara
kontestan jika dalam faktanya pasar yang berlangsung cukup sempurna
hanya bisa diterima di dalam konsep, bukan praktik? Konsep
warganegara yang dirancang dalam politik kesetaraan dan kebebasan
individu ternyata menimbulkan resiko sendiri jika pasar dibiarkan
berperan terlalu lebar dalam kehidupan kewargaan seperti ini.
Misalnya jika media sekarang ini kita bayangkan sedang memediasi
kesetaraan dan kebebasan berpendapat dalam kasus Lapindo, kenapa
representasi media masih terlalu bias perusahaan? Dimanakah suara
massa-rakyat yang mendekap dalam kubangan lumpur, dimanakah suara
ibu rumah tangga yang sibuk memikirkan anak kandung dan keluarganya
dalam kondisi yang serba darurat? Apakah media benar-benar berada
dalam kompetisi “pasar sempurna”? kenapa tiba-tiba kita
menerima berita bahwa kasus Lapindo telah dijadikan Musibah
nasional? Apakah seluruh representasi ini berlangsung alamiah
seperti pasar sempurna yang dibiarkan sebagaimana anjuran Smith
dimana pasar akan digerakaan oleh invisible hand?
Disini kita dihadapkan dengan prinsip dasar dalam mekanisme pasar
itu sendiri: Modal. Faktanya, modal yang dibiarkan bebas ternyata
memiliki mekanisme yang berbeda dengan kebebasan “pasar
gagasan”. Modal akan selalu mencari peluang untuk, seperti
dalam kata-kata Karl Marx: Penggandaan dan surplus value yang terus
menerus tidak peduli apakah disana akan ada kebebasan ataukah
tidak. Dan jika kebebasan modal ekonomi ini dibiarkan seperti
“pasar gagasan” maka lagi-lagi tidak mungkin kita
menjelmakan pasar yang sepurna.
Itulah kontradiksi antara kebebasan dan pasar.
Pertanyaan ke depan, apakah demokrasi yang kita bayangkan ke depan
memang bisa terus dilakukan sambil kita menerima “kebebasan
pasar’? Dengan cara apakah kesetaraan dan kebebasan individu
tidak menjadi hambatan dan berjalan seiring dengan kekuatan pasar?
Di negara-negara Eropa kebebasan pasar dikontrol oleh mekanisme
pasar-sosial. Diskursus ini tentu menarik dicermati. Sembari tetap
menerima kapitalisme, sistem pasar-sosial juga memahami
batas-batasnya. Mungkinkan cara ini efektif untuk menetapkan suatu
batas sekaligus menjinakkan kapitalisme agar tidak mencederai
relasi kewargaan yang dibayangkan berlangsung bebas-setara? Atau
pertanyaan yang lebih prisipil, mungkinkah kebebasan dan kesetaraan
dibangun dalam politik kewargaan, dengan masih tetap mempertahankan
kapitalisme?
Atau jika kita kita menolak kapitalisme, adakah jalan lain yang
jauh lebih manusiawi?