FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Soro Bareng, Seneng Bareng

Dari Diskusi dan Peluncuran Buku "Bencana Industri: Relasi Negara, Perusahaan, dan Masyarakat Sipil"
Jakarta, 5 Agustus 2010

Indriani Widiastuti
Program Officer, The Interseksi Foundation

man_made_disaster
Andaikata Twitter sudah menjadi tren nasional pada 2006, topik bencana Lumpur Lapindo pasti akan menjadi trending topic. Banyak orang membicarakannya, hingga pada akhirnya muncul perdebatan seru yang bermuara ke dua pilihan: populer habis-habisan atau jatuh ke tangan polisi (seperti Luna Maya dan Ariel). Lumpur Lapindo memang bukan Ariel dan Luna atau "Keong Racun" a la Sinta dan Jojo, yang mendapat reaksi begitu cepat di media dan dunia nyata. Bertahan selama seminggu sebagai trending topic di Twitter, diwawancarai infotainment sana-sini dan "dihantui" kepopuleran. Selain itu, mereka mendapat anugerah setimpal berupa kerja sama profesional di bawah manajemen Charly ST-12 dan mendapatkan beasiswa penuh hingga lulus kuliah, karena dianggap menaikkan status tempat perkuliahannya (sungguh, ini alasan yang aneh). Tidak habis pikir, empat tahun penuh penderitaan kalah telak dengan satu minggu selebritas instan.

Pada tanggal 5 Agustus 2010 lalu bertempat di gedung Jakarta Design Centre, Slipi, Desantara Foundation bekerja sama dengan Lafadl Initiatives mengadakan peluncuran buku kumpulan tulisan dengan tema bencana industri. Dominasi tulisan Bosman Batubara dan Paring Waluyo membuat tulisan lain di buku ini seakan "kalah pamor". Padahal pembahasannya mungkin tak kalah menarik, antara lain: permasalahan bencana versus perubahan sejarah kepemilikan tanah di Tanah Toa, Sulawesi Selatan, pengelolaan sumber daya alam berupa air di Pegunungan Kendeng Utara dan gas alam di Bojonegoro. Mungkin ada baiknya seperti yang disebutkan di prakata editor, jika buku ini muncul sendiri-sendiri.
Read More...
Comments

Sekolah Perempuan

Saatnya Perempuan Menjadi Agen Perdamaian Bagi Dirinya Sendiri, Keluarga dan Lingkungannya."



Indriani Widiastuti
Program Officer the Interseksi Foundation


10+yrs+IG
"Perempuan menjadi agen perdamaian". Kalimat itu tertulis pada undangan seminar yang diadakan oleh AMAN (Asian Muslim Action Network) Indonesia pada tanggal 26 Juli 2010. Kemudian saya membaca kalimat selanjutnya, "Bagaimana perempuan dapat menjadi agen perubahan di komunitas yang memiliki perbedaan karakter dan latar belakang agama, budaya, suku dan sisi kehidupan ekonomi sosial lainnya, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian". Seketika saya bersemangat mengikuti seminar ini, karena topiknya sangat menarik. Mengapa? Saya terbiasa berada di kumpulan yang mayoritas anggotanya adalah perempuan, gemar membuat kerajinan tangan dan berkesenian, sehingga saya pikir wacana ini sangat dekat dengan keseharian saya.

Seminar "Strategic Review Sekolah Perempuan untuk Perdamaian" ini ditujukan agar AMAN mendapat masukan dari pihak luar mengenai kegiatan yang sedang berlangsung hingga November 2010 ini di 4 (empat) tempat di Indonesia, yakni: Malei Lage dan Pamona (Poso), Kampung Sawah (Jakarta) dan Loji (Bogor). Sekolah Perempuan (SP) lahir dari inisiatif para perempuan pasca aksi bantuan bencana banjir di Pondok Bambu, Jakarta Timur. Mereka berkeinginan menjaga tali silaturahmi dengan staf AMAN melalui sebuah forum. Sebelum bernama "Sekolah Perempuan", forum ini bernama "Az-Zahrah". Ternyata, forum tersebut bisa berkembang dan tidak terbatas pengajian saja, namun juga menjadi media perempuan saling bertukar pengalaman, menambah ilmu dan sarana bertukar informasi yang tidak mungkin disampaikan melalui media lain. Mungkin karena salah satu sifat dasar perempuan -yang saya rasakan juga dalam kelompok kecil saya tadi- yakni dapat saling percaya, mendukung dan menguatkan melalui interaksi dalam kelompok.
Read More...
Comments