FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

PERSONAL JOURNAL

Makassar


Syaiful Anwar
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi




paul
"Sejumlah kelompok mahasiswa terlibat tawuran. Tidak ada informasi pasti penyebab tawuran tersebut." Mungkin potongan kalimat tersebut seringkali muncul di beberapa media, dan hadir di kepala kita menjadi ingatan. Mungkin itu juga ingatan kita tentang Makassar. Mengapa?

Mungkin hampir bisa dibilang sebuah “kecelakaan” ketika saya memilih tawuran mahasiswa di Makassar sebagai ide filem yang saya buat di sini. Karena sebelum memilih ide tersebut, saya pribadi berangkat ke Makassar ingin membuat karya visual tentang sepakbola, entah dari segi apa. Itupun dengan kekurangan materi riset bertema sepakbola. Maklum saya peserta terakhir dari workshop Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi.

Ya, ide ini datang ketika saya berbincang dengan Pak Halilintar Latief. Tanpa sengaja obrolan yang bertempat di Rumah Nusantara, mengarah ke situasi panasnya pasca penyerangan kampus. Apalagi ditambah ada tiga atau empat mahasiswi yang sedang mencari persembunyian yang aman untuk dirinya. Ternyata situasi pasca tawuran antar-mahasiswa dan keributan disertai pembakaran gedung membawa dampak ke setiap mahasiswa dan mahasiswinya. Bayangkan, para mahasiswa dan mahasiswi dicari oleh sebagian kelompok yang tak dikenal sebagai aksi balas dendam karena kematian Dodo Rifaldi. Kelompok ini diduga masih terikat dalam hubungan kerabat keluarga dan teman sefakultas korban, katanya di obrolan sore itu.
Read More...
Comments

Lapo: Ruang Bincang Masyarakat

Sedikit Cerita tentang Kota Medan

Andang Kelana
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi




"Dengan menenggak tuak, orang-orang tak dikenal ini meninggalkan tanda-tanda yang lebih dalam dibanding kekuatan besar yang ada".

Narasi pembuka dalam film dokumenterku, Lapo.


andang
Minuman tradisi menjadi salah satu penanda untuk sebuah kota. Di beberapa daerah di Indonesia orang mengenal Ciu, Cong Yang, Arak Tuban, Arak dan Brem Bali, Tuak, Sopi, Cap Tikus, Kamput dan sebagainya. Sebagian dari minuman tradisi ini adalah jamuan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat setempat.

"Kalau kata orang Barat bilang, orang Batak itu seperti durian katanya, mukanya kan kasar-kasar . . . Tapi kalau udah dibelah macam mana? Tambah bung, tambah . . .", kata salah satu pengunjung lapo di dekat Bang Iwan.



Tapi minuman-minuman tadi juga menjalankan fungsi sosial dalam masyarakat. Di Medan, tuak yang menjadi minuman khas orang-orang Batak memang aslinya disadap dari pohon bagot, akan tetapi tuak minuman khas itu dapat pula disadap dari pohon kelapa. Secara umum bagi orang Batak sekarang ini, tuak berdasarkan sumbernya dibagi dalam dua kategori, yakni Tuak Bagot dan Tuak Kalapa. Tapi berdasarkan proses pembuatannya minuman yang sama dikategorikan menjadi Tuak Raru dan Tuak Na Tonggi. Adapula yang disebut Tuak Tangkasan1, yaitu tuak yang selalu disertakan sebagai minuman dalam suatu prosesi adat, termasuk Tuak Na Tonggi yang pada umumnya dikhususkan untuk kaum wanita walaupun banyak pula kaum lelaki yang menggemarinya.2
Read More...
Comments

Kampung Tugu


Teuku M. Umar
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi



t_umar
Hari pertama setelah proses pengambilan gambar dimulai, yang pertama saya lakukan adalah pergi ke Tanjung Priuk, mencari Kampung Tugu, yang konon dihuni oleh orang-orang keturunan Portugis. Hampir dua jam perjalanan saya tempuh menuju terminal Tanjung Priuk, menumpangi bus jurusan Depok-Tanjung Priuk. Saya memang berangkat dari kantor Interseksi yang terletak di Lenteng Agung, di seberang stasiun kereta api Tanjung Barat.

Saat bus memasuki terminal Tanjung Priuk, saya mulai bertanya alamat Kampung Tugu. Awalnya saya bertanya kepada kernet bus, tapi dia menjawab tidak tahu. Kemudian ada dua orang penumpang yang menyahut, sepertinya mereka pernah mendengar nama kampung itu, tapi tidak tahu persis alamatnya di mana. Ketika bus sudah berhenti di terminal, salah seorang dari mereka mencoba membantu saya bertanya kepada orang-orang (tukang ojek) yang ada di terminal. Sudah beberapa orang ditanyai, tidak ada juga yang tahu tentang Kampung Tugu. Saya mulai bingung, dan penumpang yang menolong saya tadi pun harus pergi meninggalkan saya, padahal belum lagi jelas kemana arah saya pergi. Tak lama kemudian, datang seorang bapak (tukang Ojek). Ia mengatakan bahwa kalau Gereja Tugu memang ada, tapi Kampung Tugu belum pernah dia dengar. "Gereja Tugu itu jauh dari sini", kata si Bapak, dan dia mulai nawarkan jasa ojeknya kepada saya. Untuk sampai di Gereja Tugu ongkosnya Rp. 30.000. Namun saya berkilah, bahwa karena saya sedang melakukan penelitian tentang Kampung Tugu, saya harus tahu jarak dan jenis anggukatan untuk menuju ke sana. Setelah mendengar alasan tersebut, ia memberi tahu saya angkutan apa yang bisa dipakai (angkot no. 41), dan bahwa saya harus turun di perempatan simper. "Nah dari situ kamu naik ojek lagi. Rp. 5000 paling", jelas bapak tukang ojek.
Read More...
Comments

Tamil Medan


Ronaldiaz Hartantyo
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi


aldy
Medan, kota yang saya buta sama sekali keadaannya seperti apa. Saya mengikuti program “Crossing Boundaries: Cross Culture Video-making Project for Peace” ini dengan kepala kosong dan pandangan yang sangat stereotipe -baik tentang konflik maupun tentang film dokumenter itu sendiri- secara definisi, maupun cara menikmatinya. Maklum anak muda zaman sekarang terlalu banyak dicekoki oleh film-film yang sangat didramatisir dan supernatural-maksudnya di luar batas normal, dan sulit terjadi di kehidupan nyata. Entah mengapa concept paper saya lolos. Akhirnya saya dan teman-teman wakil dari kotanya masing-masing, dipersiapkan sebelum pergi ke Medan. “Dikurung” selama 7 hari di daerah Gadog Puncak untuk Workshop Pra-produksi. Di workshop ini mata saya dibuka lebar-lebar lagi, bahwa film itu mungkin adalah karya seni terbesar yang pernah dimiliki manusia (seperti kata-kata dalam film “Janji Joni”). Bahasa visual yang sangat bermakna, simbol-simbol kecil yang mewakili hal-hal yang tak terbayangkan besarnya. Dan tentu saja tentang Medan tempat tujuan saya.
Read More...
Comments

Syurga Dunia, Short Time!


Marthen Luther Sesa
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi



martin
Ketika aku sebut Papua, maka pikiran kebanyakan orang akan langsung tertuju pada TPN/OPM, rambut keriting, kulit hitam dan daerah tertinggal. Paradise Island, itulah sebutan lain dari tanah yang diberkati ini, karena selain keindahan dan kemolekan burung cenderawasih (Bird of Paradise) terdapat banyak eksotisme alam lainnya, dari bawah laut di kepulauan Raja Ampat hingga ke puncak Cartenz yang hingga kini puncaknya masih tertutup es beku di Kawasan Pegunungan Jayawijaya, dari lempengan tembaga dan emas di Freeport Timika hingga berjuta-juta kubik Liquefied Natural Gas (LNG) di British Petroleum’s (BP) Teluk Bintuni. Inilah Papua, Alam penuh nikmat yang tak pernah bisa dinikmati oleh masyarakat kasta paling bawah di Papua.

Berbagai upaya untuk bisa menikmati anugerah tanah yang diberkati ini akan selalu dicap sparatis dan makar. Sebut saja Arnold Ap, Thomas Wanggai, Theys H. Eluay, Opinus Tabuni dan terakhir Kelly Kwalik yang mati dibunuh oleh pemerintah Jakarta (Indonesia).
Read More...
Comments

Sutadi Sudah Tak Di Sini


Marthen Luther Sesa
Peserta Program Crossing Boundaries: Cross-Culture Video Making Project For Peace 2010 dari Papua.

martin
Pagi itu, matahari dengan gagahnya bertengger, seolah-olah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dialah yang paling super, yang siap membakar siapa saja yang berani menghalangnya. Jam di salah satu sudut dinding rumah itu menunjukkan pukul 08.15 ketika kupaksa mata ini terbuka, aku terpaksa harus egois untuk tak menuruti kemauannya setelah semalaman ku ajak memelototi layar kaca televisi, menyaksikan team dari berbagai belahan bumi berkompetisi menunjukkan bahwa negara mereka-lah yang paling jago soal bermain bola kaki.

Setelah beberapa saat aku bersiap, metromini 62 menjemputku, membawaku meninggalkan balai berhias patung jenderal Sudirman menuju sebuah terminal yang diambil dari salah satu nama daerah di Kepulauan Nusa Tenggara Timur, Manggarai. Dengan membeli tiket Rp. 3.500,- aku berniat untuk berdesak-desakan dengan para penumpang busway, salah satu alat transportasi umum yang terbilang megah di ibukota Jakarta. Aku menjadi manusia asing dalam sorotan mata orang-orang yang duduk berderet dihadapanku. Kuperhatikan, antara mereka, satu dan yang lainnya juga saling terasing, tak ada percakapan, obrolan bahkan gurauan.
Read More...
Comments

Mendapat Durian Runtuh


Tiara Salampessy
Peserta Program Cross Culture Video Project for Peace 2010 dari Ambon


tiara
Seperti kata pepatah, "Dapat Durian Runtuh", sebuah kesempatan langka akhirnya bisa aku dapatkan. Yaitu mengikuti kegiatan Pembuatan Film Dokumenter Lintas Kultur untuk Perdamaian. Sebenarnya aku sudah dapat informasi kegiatannya seminggu sebelumnya, cuma karena sibuk dengan ujian kenaikan kelas di SMA Negeri 1 Ambon, aku tidak sempat mendaftar untuk ikut kegiatan tersebut.

Rasa gak pede untuk mendaftar, walau didesak terus sama teman-teman di Lembaga Antar Iman Maluku dan Institute Tifa Damai Maluku, membuat aku agak ragu-ragu mendaftar. Mungkin juga karena selama ini cuma terbiasa dengan kamera foto, belum terbiasa dengan kamera video. Barulah di hari terakhir pendaftaran aku coba kirimkan persyaratan yang diminta. Itu juga gak berharap keterima untuk ikut kegiatan itu.

Tapi ya itu tadi, kayak "dapat durian runtuh" aku kaget waktu dapat SMS dari teman-teman panitia kalau aku lolos seleksi untuk ikut kegiatan ini. Lebih kaget lagi setelah tahu, aku satu-satunya peserta cewek, dari enam peserta yang ada. Sudah begitu aku peserta yang termuda pula. Wuiiihhhh, gima jadinya nanti. Rasanya deg-degan juga. Dan akhirnya aku tiba juga di Bogor untuk ikut workshop awal sebelum turun ke lapangan.
Read More...
Comments