PERSONAL JOURNAL
Makassar
29/07/10 16:01
Syaiful Anwar
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi

Mungkin hampir bisa dibilang sebuah “kecelakaan” ketika saya memilih tawuran mahasiswa di Makassar sebagai ide filem yang saya buat di sini. Karena sebelum memilih ide tersebut, saya pribadi berangkat ke Makassar ingin membuat karya visual tentang sepakbola, entah dari segi apa. Itupun dengan kekurangan materi riset bertema sepakbola. Maklum saya peserta terakhir dari workshop Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi.
Ya, ide ini datang ketika saya berbincang dengan Pak Halilintar Latief. Tanpa sengaja obrolan yang bertempat di Rumah Nusantara, mengarah ke situasi panasnya pasca penyerangan kampus. Apalagi ditambah ada tiga atau empat mahasiswi yang sedang mencari persembunyian yang aman untuk dirinya. Ternyata situasi pasca tawuran antar-mahasiswa dan keributan disertai pembakaran gedung membawa dampak ke setiap mahasiswa dan mahasiswinya. Bayangkan, para mahasiswa dan mahasiswi dicari oleh sebagian kelompok yang tak dikenal sebagai aksi balas dendam karena kematian Dodo Rifaldi. Kelompok ini diduga masih terikat dalam hubungan kerabat keluarga dan teman sefakultas korban, katanya di obrolan sore itu.
Read More...
Comments
Lapo: Ruang Bincang Masyarakat
29/07/10 11:29
Sedikit Cerita tentang Kota Medan
Andang Kelana
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi
Minuman tradisi menjadi salah satu penanda untuk sebuah kota. Di beberapa daerah di Indonesia orang mengenal Ciu, Cong Yang, Arak Tuban, Arak dan Brem Bali, Tuak, Sopi, Cap Tikus, Kamput dan sebagainya. Sebagian dari minuman tradisi ini adalah jamuan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat setempat.
Tapi minuman-minuman tadi juga menjalankan fungsi sosial dalam masyarakat. Di Medan, tuak yang menjadi minuman khas orang-orang Batak memang aslinya disadap dari pohon bagot, akan tetapi tuak minuman khas itu dapat pula disadap dari pohon kelapa. Secara umum bagi orang Batak sekarang ini, tuak berdasarkan sumbernya dibagi dalam dua kategori, yakni Tuak Bagot dan Tuak Kalapa. Tapi berdasarkan proses pembuatannya minuman yang sama dikategorikan menjadi Tuak Raru dan Tuak Na Tonggi. Adapula yang disebut Tuak Tangkasan1, yaitu tuak yang selalu disertakan sebagai minuman dalam suatu prosesi adat, termasuk Tuak Na Tonggi yang pada umumnya dikhususkan untuk kaum wanita walaupun banyak pula kaum lelaki yang menggemarinya.2
Read More...
Andang Kelana
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi
"Dengan menenggak tuak, orang-orang tak dikenal ini meninggalkan tanda-tanda yang lebih dalam dibanding kekuatan besar yang ada".
Narasi pembuka dalam film dokumenterku, Lapo.

"Kalau kata orang Barat bilang, orang Batak itu seperti durian katanya, mukanya kan kasar-kasar . . . Tapi kalau udah dibelah macam mana? Tambah bung, tambah . . .", kata salah satu pengunjung lapo di dekat Bang Iwan.
Tapi minuman-minuman tadi juga menjalankan fungsi sosial dalam masyarakat. Di Medan, tuak yang menjadi minuman khas orang-orang Batak memang aslinya disadap dari pohon bagot, akan tetapi tuak minuman khas itu dapat pula disadap dari pohon kelapa. Secara umum bagi orang Batak sekarang ini, tuak berdasarkan sumbernya dibagi dalam dua kategori, yakni Tuak Bagot dan Tuak Kalapa. Tapi berdasarkan proses pembuatannya minuman yang sama dikategorikan menjadi Tuak Raru dan Tuak Na Tonggi. Adapula yang disebut Tuak Tangkasan1, yaitu tuak yang selalu disertakan sebagai minuman dalam suatu prosesi adat, termasuk Tuak Na Tonggi yang pada umumnya dikhususkan untuk kaum wanita walaupun banyak pula kaum lelaki yang menggemarinya.2
Read More...
Kampung Tugu
28/07/10 18:17
Teuku M. Umar
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi

Saat bus memasuki terminal Tanjung Priuk, saya mulai bertanya alamat Kampung Tugu. Awalnya saya bertanya kepada kernet bus, tapi dia menjawab tidak tahu. Kemudian ada dua orang penumpang yang menyahut, sepertinya mereka pernah mendengar nama kampung itu, tapi tidak tahu persis alamatnya di mana. Ketika bus sudah berhenti di terminal, salah seorang dari mereka mencoba membantu saya bertanya kepada orang-orang (tukang ojek) yang ada di terminal. Sudah beberapa orang ditanyai, tidak ada juga yang tahu tentang Kampung Tugu. Saya mulai bingung, dan penumpang yang menolong saya tadi pun harus pergi meninggalkan saya, padahal belum lagi jelas kemana arah saya pergi. Tak lama kemudian, datang seorang bapak (tukang Ojek). Ia mengatakan bahwa kalau Gereja Tugu memang ada, tapi Kampung Tugu belum pernah dia dengar. "Gereja Tugu itu jauh dari sini", kata si Bapak, dan dia mulai nawarkan jasa ojeknya kepada saya. Untuk sampai di Gereja Tugu ongkosnya Rp. 30.000. Namun saya berkilah, bahwa karena saya sedang melakukan penelitian tentang Kampung Tugu, saya harus tahu jarak dan jenis anggukatan untuk menuju ke sana. Setelah mendengar alasan tersebut, ia memberi tahu saya angkutan apa yang bisa dipakai (angkot no. 41), dan bahwa saya harus turun di perempatan simper. "Nah dari situ kamu naik ojek lagi. Rp. 5000 paling", jelas bapak tukang ojek.
Read More...
Tamil Medan
23/07/10 00:27
Ronaldiaz Hartantyo
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi

Read More...
Syurga Dunia, Short Time!
21/07/10 08:05
Marthen Luther Sesa
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi

Berbagai upaya untuk bisa menikmati anugerah tanah yang diberkati ini akan selalu dicap sparatis dan makar. Sebut saja Arnold Ap, Thomas Wanggai, Theys H. Eluay, Opinus Tabuni dan terakhir Kelly Kwalik yang mati dibunuh oleh pemerintah Jakarta (Indonesia).
Read More...
Sutadi Sudah Tak Di Sini
17/07/10 09:45
Marthen Luther Sesa
Peserta Program Crossing Boundaries: Cross-Culture Video Making Project For Peace 2010 dari Papua.

Setelah beberapa saat aku bersiap, metromini 62 menjemputku, membawaku meninggalkan balai berhias patung jenderal Sudirman menuju sebuah terminal yang diambil dari salah satu nama daerah di Kepulauan Nusa Tenggara Timur, Manggarai. Dengan membeli tiket Rp. 3.500,- aku berniat untuk berdesak-desakan dengan para penumpang busway, salah satu alat transportasi umum yang terbilang megah di ibukota Jakarta. Aku menjadi manusia asing dalam sorotan mata orang-orang yang duduk berderet dihadapanku. Kuperhatikan, antara mereka, satu dan yang lainnya juga saling terasing, tak ada percakapan, obrolan bahkan gurauan.
Read More...
Mendapat Durian Runtuh
16/07/10 14:16
Tiara Salampessy
Peserta Program Cross Culture Video Project for Peace 2010 dari Ambon

Rasa gak pede untuk mendaftar, walau didesak terus sama teman-teman di Lembaga Antar Iman Maluku dan Institute Tifa Damai Maluku, membuat aku agak ragu-ragu mendaftar. Mungkin juga karena selama ini cuma terbiasa dengan kamera foto, belum terbiasa dengan kamera video. Barulah di hari terakhir pendaftaran aku coba kirimkan persyaratan yang diminta. Itu juga gak berharap keterima untuk ikut kegiatan itu.
Tapi ya itu tadi, kayak "dapat durian runtuh" aku kaget waktu dapat SMS dari teman-teman panitia kalau aku lolos seleksi untuk ikut kegiatan ini. Lebih kaget lagi setelah tahu, aku satu-satunya peserta cewek, dari enam peserta yang ada. Sudah begitu aku peserta yang termuda pula. Wuiiihhhh, gima jadinya nanti. Rasanya deg-degan juga. Dan akhirnya aku tiba juga di Bogor untuk ikut workshop awal sebelum turun ke lapangan.
Read More...