FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Demokrasi untuk Si Miskin

Sudiarto (Program Officer, The Interseksi Foundation)

Selama 2005-2007, Indonesia telah menggelar PILKADA secara langsung 282 kali di tingkat kabupaten/kota. PILKADA langsung merupakan eksperimen baru berdemokrasi di Indonesia, setelah sebelumnya berpuluh-puluh tahun kepala daerah dipilih oleh DPRD. Selama kekuasaan Orde Baru (1966-1998), pemilihan di tingkat DPRD itu dilandasi atas dasar disukai oleh Suharto atau tidak. Tetapi setelah jatuhnya Suharto oleh gelombang demokratisasi pada 1998, Jakarta kehilangan kendali, sehingga kepala-kepala daerah betul-betul murni hasil pemilihan wakil-wakil rakyat di DPRD. Sejak 2005, atas desakan kuat desentralisasi, proses pemilihan diubah menjadi pemilihan langsung oleh rakyat.

Electoral Hostility Index (EHI)
Berbeda dengan pemilu nasional pertama pasca-Orba pada 1999, dan selanjutnya pada 2004 dan 2009, yang relatif berjalan damai, tidak demikian dengan jalannya PILKADA yang diwarnai dengan kekerasan dan perseteruan dalam derajat yang berbeda-beda. Pemilihan presiden dan DPR nasional dipersepsikan berjarak dari kehidupan sehari-hari rakyat, sedangkan PILKADA adalah peristiwa lokal, terkait dengan isu lokal dan tokoh-tokoh lokal, sehingga pemilih cenderung lebih militan dan mudah dimobilisasi untuk PILKADA ketimbang pemilu nasional. Read More...
Comments