<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" 
    xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
    xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
    xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
    xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
    xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">
	<channel>
<title>Interseksi&#x27;s RSS Feed</title><link>http://interseksi.org/index.php</link><description>Community Blog</description><dc:language>en</dc:language><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><dc:rights>Copyright 2010 THE INTERSEKSI FOUNDATION</dc:rights><dc:date>2012-01-15T13:24:46+07:00</dc:date><admin:generatorAgent rdf:resource="http://www.realmacsoftware.com/" />
<admin:errorReportsTo rdf:resource="mailto:The Interseksi Foundation" /><sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
<sy:updateBase>2000-01-01T12:00+00:00</sy:updateBase>
<lastBuildDate>Sun, 15 Jan 2012 14:09:06 +0700</lastBuildDate><item><title>Masyarakat Perkotaan dan Budaya Kosmopolitan&#x3c;br /&#x3e;di Tiga Kota Asia Tenggara Era Kolonial </title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2012-01-15T13:24:46+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/3kota_asean.php#unique-entry-id-67</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/3kota_asean.php#unique-entry-id-67</guid><content:encoded><![CDATA[Dalam sejarah Asia Tenggara, kota-kota pelabuhan merupakan pusat-pusat perdagangan bahari yang menjadi ruang hidup bersama bagi beragam kelompok etnik. ...  Rujak Center for Urban Studies mengadakan diskusi di Goethe Haus, Jakarta (20/12/2011), memperbincangkan evolusi tata kota pada masa kolonial dengan fokus pada ruang bersama bagi kelompok-kelompok etnik yang turut menyumbang bagi lahirnya ranah publik baru, dalam ruang publik, perkumpulan, melalui media cetak, sekolah-sekolah, dan berbagi pengalaman budaya modern dan populer. 


...Su Lin Lewis, profesor asisten tamu di Departemen Studi Asia Selatan dan Tenggara Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, lebih banyak memfokuskan pada kota Yangon (Myanmar), Bangkok (Thailand) dan Penang (Malaysia), dengan sedikit merujuk ke Singapura, Batavia atau Jakarta, dan kota-kota lainnya di Indonesia. ...  Globalisasi merupakan fenomena yang sudah berlangsung lama dalam sejarah perdagangan di Samudera Hindia, hingga masuknya pedagang-pedagang Barat dengan bendera perusahaan dagang Hindia Timur, VOC (Belanda) dan EIC (Inggris). 


...Berbagai moda transportasi dikembangkan, dari becak tarik (rickshaw) yang pertama kali diciptakan di Jepang pada 1860-an, gerobak sapi (bullock cart) yang diimpor dari India, hingga kehadiran trem listrik yang bisa mengangkut banyak orang, yang berarti pula mempertemukan orang-orang dari beragam kelompok etnik. 


...Menurut Lewis, lanskap kota Yangon dan Penang pada 1920-an dan 1930-an diambil alih oleh kaum muda, yang dengan mengenakan busana model baru serta merayakan kebebasan, berkumpul di pantai-pantai dan bulevar, di kafe-kafe dan bioskop. 

...Wacana populer di media-media lokal saat itu berpusat pada kaum muda sebagai pelopor masa depan, merangsang munculnya fenomena &ldquo;gadis modern&rdquo; (the Modern Girl) seperti ditampilkan di iklan-iklan dan film-film. ...  Perbandingan antara pengalaman kaum muda di Yangon dan Penang dalam berbagi semangat modernitas kosmopolitan juga menyorot pada ketegangan dalam imajinasi politik mengenai kekuasaan imperialisme dan bangsa, khususnya bagi mereka yang mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah berbahasa Inggris. 


Tumbuh dalam kesadaran hidup di masyarakat yang multi-etnik, kaum muda Penang mendamaikan gagasan ideal kosmopolitanisme imperialis dengan nasionalisme kaum diaspora yang terhubung dengan bagian-bagian lain dunia. 

...Menyajikan gambar-gambar tiga kelompok masyarakat di Bangkok, kuil pengobatan Cina, masjid Haroon dan museum Siam, Lewis menunjukkan bagaimana Bangkok menyatakan dirinya terbuka bagi berbagai kelompok masyarakat. 


...Perusahaan-perusahaan baru bermunculan, diikuti dengan kehadiran buruh migran serta kuatnya masyarakat sipil yang progresif memberi keunikan pada kota Penang yang berbeda dengan kota-kota lain di Malaysia yang nyaris semua dikuasai Barisan Nasional.   Penang menjadi basis bagi lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti asosiasi konsumen (berdiri pada 1969), gerakan HAM Aliran (1977), Third World Network atau TWN (1984), Penang Heritage Trust (1986), dan World Alliance for Breastfeeding Actions (1991). ...  Spanduk yang terpasang di aula utama Museum dan Galeri Seni Negara Penang bertuliskan &ldquo;They came to Penang from all over the world&rdquo;, hendak menegaskan bahwa kota tersebut adalah percampuran budaya yang unik yang membentuk masyarakat kota Penang.


...Myanmar saat ini sedang membuka diri terhadap dunia dan demokratisasi, masih tanda tanya bagaimana upaya komunitas lokal untuk melestarikan bangunan-bangunan lama di kota Yangon.   Jakarta sedang berjuang untuk merehabilitasi Taman Fatahillah di Kota Tua, hanya sayangnya tidak ada orang-orang yang bertempat tinggal dan beraktivitas ekonomi sehari-hari di seputar kawasan tersebut. 

...Lewis berargumen bahwa dengan memandang sejarah Asia Tenggara melalui kacamata kosmopolitanisme atau multi-etnisitas pada kota-kota pelabuhan, kita akan sampai pada pemahaman yang lebih inklusif akan kekayaan budaya dan sejarahnya yang saling terhubung. ]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Penulisan Laporan Penelitian &#x201c;Kota-kota di Sumatra&#x22;</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>RESEARCH</category><category>REPORT</category><dc:date>2011-12-25T16:58:35+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/laporan_riset_sumatra.php#unique-entry-id-66</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/laporan_riset_sumatra.php#unique-entry-id-66</guid><content:encoded><![CDATA[Pada hari Senin dan Selasa, 12-13 Desember 2011 yang lalu, para peserta joint-research &ldquo;Kota-Kota di Sumatera&rdquo; mempresentasikan dan mendiskusikan laporan penelitiannya acara Workshop Penulisan Laporan Hasil Penelitian &ldquo;Kota-kota di Sumatera&rdquo;. 

...Amin Mudzakkir dari LIPI mempersoalkan judul laporan yang menggunakan kata harmonis, atas dasar apa warga kota Binjai harmonis, apakah ini sekedar praduga atau memang dulunya harmonis dan sekarang tidak?   Kata harmonis atau harmonisasi pada judul paper (&ldquo;Kami Orang Binjei&rdquo;: Harmonisasi Agama dan Etnis di Kota Binjai) bisa menjadikan peneliti stuck hanya mengutak-atik harmoni dan berusaha mencocok-cocokkan kata tersebut dengan data temuan di lapangan.


...Bukittinggi tidak hanya didiami oleh masyarakat beragama Islam dan suku Minang saja, dengan adanya peraturan-peraturan semacam ini, bagaimana orang-orang di luar kedua kriteria tersebut mendapatkan hak dasarnya sebagai warga negara. ...  Hikmat Budiman menambahkan, bahwa ada kecenderungan reformasi menyebabkan diskriminasi semakin terlihat, agama dan etnis semakin terdivisikan, apakah hal ini diikuti dengan perubahan juga di kelompok politik atau pola pemerintahan.


...Pidie dipilihnya sebagai lokasi penelitian, karena dari telusur literatur banyak peristiwa besar di Aceh yang berpusat di Pidie, misalnya Daud Beureueh (tokoh yang memimpin pemberontakan melawan Jakarta dengan bendera Islam; ulama kenamaan yang mendirikan organisasi Islam modernis pertama di Aceh pada tahun 1939, Persatuan Ulama Seluruh Aceh atau PUSA) berasal dari Pidie. ...  Ia merujuk pada peristiwa sejarah di mana ada kerusuhan anti-Cina meletus di Aceh pada tahun 1981 dan 1983, belum lagi eksodus besar-besaran etnis Cina di Banda Aceh karena kerusuhan di Blang Pidie. ...  Hegemoni kultural dirasa kurang tepat karena seperti di pulau Jawa, meskipun didominasi oleh budaya Jawa, orang Cina di Surabaya masih menggunakan bahasa Jawa dan orang Jawanya pun tidak bisa menolak keberadaan orang lain. 

...Kehadiran Pertamina di kota ini seakan menjadi alasan kuat bagi Prabumulih untuk mandiri secara finansial terlepas dari kabupaten Muara Enim, akan tetapi pembangunan yang terjadi terkesan terlepas dari realitas masyarakat. ...  Sementara itu jalan di depan pasar Prabumulih, yang merupakan jalan utama yang menghubungkan antara kota Palembang dan Kabupaten Muara Enim dan Lahat rusak dan tidak ada tindakan untuk membetulkannya dari pemerintah kota maupun pihak-pihak yang menggunakan jalan umum tersebut untuk kepentingan perekonomian.   Indriani Widiastuti, peneliti yang tinggal selama sebulan di Prabumulih, juga mengungkapkan bahwa dampak Pertamina pada lapangan pekerjaan tidak terlampau besar, justru sektor informal seperti perkebunan karet milik perorangan yang lebih menjanjikan daripada sektor formal yang banyak diisi oleh para pendatang. 

...Pembentukan Provinsi Jambi, yang lebih muda dari pembentukan daerah di bawah administratifnya, seperti Kabupaten Batanghari ataupun Kabupaten Kerinci merupakan bukti bahwa proyek politik Jambi dibentuk untuk mewadahi daerah-daerah yang sebelumnya sudah ada. ...  Jika jalur darat, pembangunan jalan sebagai pengikat modern, yang dalam sejarah menjadi sarana untuk mempercepat tujuan pusat ke daerah sekarang ini kondisinya rusak, dan jalur air, sebagai pengikat tradisional, juga dalam kondisi kritis.   Dalam penelitiannya Radjimo mempersoalkan apakah kerusakan yang ada pada jalur darat (modern) dan jalur air/sungai (tradisional) ada hubungannya dengan belum selesainya ikatan politis yang menggabungkan Jambi dengan Kerinci dan mencari alasan mengapa ikatan politis antara keduanya belum selesai. 

...Kota Bagan (demikian orang menyebut Bagansiapiapi) sesungguhnya prototipe dari masyarakat yang bisa hidup bersama, tetapi masih sulit untuk menemukan kebersamaan, karena masih adanya eksklusifisme beberapa etnis dan agama, baik dengan alasan sejarah, budaya ataupun agama itu sendiri. 

...Hatta memberikan beberapa shot preview yang cukup menarik mengenai identitas orang Bagan keturunan Tionghoa, seperti kakek keturunan Tionghoa yang pandai bermain alat musik dengan lagu &ldquo;Sabang sampai Merauke&rdquo;, pria yang dapat menghitung hari baik menurut perhitungan tradisional Tiongkok dan guru bahasa Mandarin. ]]></content:encoded></item><item><title>Dari Koentjaraningrat untuk Dialog Papua</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-12-14T21:31:58+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/koentjaraningrat.php#unique-entry-id-65</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/koentjaraningrat.php#unique-entry-id-65</guid><content:encoded><![CDATA[Keindonesiaan hadir dalam bentuk korupsi di tubuh birokrasi dan elite politik lokal tanpa menyejahterakan masyarakat Papua, dengan sekolah-sekolah yang bermutu rendah karena kekurangan guru dan fasilitas, serta puskesmas yang hampir kosong tanpa dokter atau paramedis lainnya. 

...Bachtiar, doktor sejarah yang kemudian menjadi guru besar di Fakultas Sastera Universitas Indonesia (UI), menyunting buku berjudul Penduduk Irian Barat, sebuah literatur antropologi pertama tentang manusia dan kebudayaan Papua yang terbit pasca-kemerdekaan.   Dalam salah satu tulisan di buku tersebut, &ldquo;Reaksi Penduduk terhadap Perobahan Zaman&rdquo;, Koentjaraningrat menganalisis fenomena kehadiran orang asing kulit putih di Papua dan perubahan besar yang mereka bawa, tentang gerakan spiritual cargo cult, semacam gerakan ratu adil di wilayah budaya Melanesia dan Oseania, yang kemudian menjadi tempat berseminya gagasan dan gerakan kemerdekaan Papua. 


Lebih lanjut dikatakan oleh Meutia Farida Hatta Swasono, guru besar Antropologi UI, pada periode pemerintahan sementara PBB (UNTEA) Koentjaraningrat melakukan penelitian untuk mengkaji berbagai aspek sosial-budaya masyarakat Papua di tiga daerah, yakni penduduk Sarmi di pantai utara Papua, penduduk Dani di Pegunungan Jayawijaya, dan penduduk Marind-Anim di Pulau Kolepom. 

...Untuk mengenang jasa-jasa dan memuliakan Bapak Antropologi Indonesia, guru besar dan seorang guru bangsa, FKAI dengan dukungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politk (FISIP) UI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Harian Kompas, dan Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) menyelenggarakan &ldquo;Koentjaraningrat Memorial Lectures ke-8&rdquo; di auditorium Pusat Studi Jepang UI, Depok (29/11/2011), dengan tema &ldquo;Meneropong Keindonesiaan dalam Kepapuaan: Menuju Dialog untuk Memutus Siklus Konflik dan Kekerasan di Papua&rdquo;.

...Karel Phil Erari, ketua Persekutuan Gereja di Indonesia (PGI), dialog kemanusiaan yang adil, komprehensif dan bermartabat ini akan membawa Papua dalam persimpangan jalan, setelah rangkaian ketegangan dalam relasi antara Papua dengan Jakarta selama 49 tahun lamanya. 


...Dumatubun, Ketua Program Pascasarjana Magister Antropologi Universitas Cenderawasih, Papua bukanlah entitas yang homogen, melainkan terbagi-bagi menurut zona ekologi, wilayah budaya, tipe kepemimpinan, hak ulayat tanah, wilayah adat dan sebaran bahasa. 

...Dalam hal tipe kepemimpinan, Sahlins (1963) menemukan adanya empat macam tipe kepemimpinan khas Melanesia dan Polynesia, yaitu tipe &ldquo;pria berwibawa&rdquo; (Big Man) yang berbasiskan pencapaian, tipe raja dan tipe kepala suku yang berbasiskan pewarisan, dan tipe campuran yang menampakkan ciri-ciri pewarisan dan pencapaian. ...  Tipe raja dicirikan dengan orientasi nilai budaya yang statis, menggantungkan diri pada pimpinan atau atasan, tidak percaya diri, lebih berorientasi vertikal, tidak berani mengambil keputusan secara pribadi, kurang bertanggung jawab secara individu, dan kemajuan individu terbatas dalam arti tidak melebihi pimpinan atau raja. ...  Tipe kepala suku mirip dengan tipe raja, sedangkan tipe campuran lebih bersifat dinamis, orientasi ada yang vertikal dan ada yang horizontal, percaya diri dan lebih cepat menyesuaikan diri dengan inovasi dalam pembangunan.

...Dalam hal penyelesaian konflik, menurut Agapitus, orang Amungme di Papua mempunyai cara tradisional, yaitu setelah perang usai kedua pihak akan menghitung korban masing-masing, lalu digelar &ldquo;pesta bakar batu&rdquo; dan &ldquo;pesta perdamaian&rdquo; disertai ganti rugi kepada keluarga korban dengan sejumlah babi atau uang dari kulit kerang. 

...Keindonesiaan menjadi berbenturan dengan kepapuaan, padahal keindonesiaan merupakan kerangka ideal sebagai bangsa yang berpijak di atas prinsip kebajikan politik perenial-universal yang terkandung dalam proyek Indonesia sebagai bangsa-negara dengan tiga nilai utama yaitu perdamaian, kebenaran dan keadilan. 

...Sejak 2004, Tim Kajian Papua LIPI secara khusus meneliti konflik Papua, dan menyimpulkan bahwa ada empat masalah utama yaitu marjinalisasi dan diskriminasi orang asli Papua, kegagalan pembangunan di Papua, kontradiksi antara pemahaman sejarah integrasi dan konstruksi identitas politik antara Papua dan Jakarta, serta pengalaman panjang kekerasan politik di Papua. 

...Perumusan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus) juga merupakan dialog antara intelektual Papua, elite politik Papua dan pemerintah pusat Jakarta, tetapi tidak melibatkan para pemimpin yang berseberangan dengan Jakarta terutama PDP dan OPM.   Menurut Pendeta Erari, pada 9-10 Juni 2010, Musyawarah Rakyat Papua menyatakan Otsus telah gagal dan dikembalikan ke Jakarta, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menawarkan pembentukan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) dan menawarkan &ldquo;komunikasi konstruktif&rdquo; sebagai bentuk dialog. 

...Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional Dewan Perwakilan Rakyat (F-PAN) DPR RI Tjatur Sapto Edi menawarkan rekomendasi pembentukan tim komunikasi untuk meyakinkan tokoh-tokoh Papua, meningkatkan dialog antara Jakarta dengan stakeholder Papua, bimbingan komprehensif kepada pemerintah daerah untuk efisiensi pembangunan di Papua, percepatan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Papua, dan audit komprehensif terhadap PT Freeport serta renegosiasi terhadap kontrak-kontrak pertambangan di Papua.]]></content:encoded></item><item><title>Catatan dari Pelatihan Advokasi Hak Minoritas di Bangkok</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-12-14T21:29:53+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/dari_bangkok.php#unique-entry-id-64</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/dari_bangkok.php#unique-entry-id-64</guid><content:encoded><![CDATA[Pelatihan berlangsung selama empat hari, 18-21 November 2011, diikuti oleh 21 peserta yang mewakili berbagai organisasi masyarakat sipil di Asia Tenggara dan Asia Selatan yang bergiat di isu hak-hak kelompok minoritas. ...  Berbeda dengan isu hak-hak indigenous people yang relatif sudah terorganisasikan dengan baik, MRG bersama dengan Uni Eropa masih mengembangkan forum aktivis dan komunitas hak-hak minoritas, sejalan dengan Forum on Minority Issues yang diadakan oleh Kantor Komisioner Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau OCHCR di Jenewa. 


...Hak minoritas sebagai bagian dari HAM merupakan gerakan sosial baru, tetapi kaitannya dengan relasi antara kelompok mayoritas dan kelompok minoritas masih perdebatan, demikian menurut Prof. 

...Dalam mekanisme PBB, isu hak minoritas diakomodasi dalam Deklarasi Hak-hak Minoritas (UNDM) dengan penekanan pada hak-hak individu, tidak seperti Deklarasi Hak-hak Indigenous People (UNDRIP) yang mengakui hak-hak sebagai kelompok, serta kaitannya dengan hak atas tanah, warisan nenek-moyang, budaya dan sumber daya alam. 

...Peserta lainnya dari Myanmar, Mahn Thaik Tun menceritakan penggunaan pamflet-pamflet bergambar untuk mengkampanyekan materi-materi Konvensi PBB tentang isu perempuan (CEDAW), hak-hak anak (CRC) maupun Deklarasi HAM PBB, atau menggunakan lagu-lagu berbahasa lokal dan pemutaran video tentang Aung San Suu Kyi.


Dalam sesi strategi media, Carl Soderbergh dari MRG London membuat daftar sisi positif dan sisi negatif media terhadap advokasi hak-hak minoritas, ternyata jauh lebih banyak sisi negatif media daripada sisi positifnya. ...  Intinya adalah membangun hubungan baik dengan media, dengan selektif dalam memilih isu agar tidak terus-menerus membombardir media dengan isu yang sama, untuk menghilangkan kesan seolah-olah kelompok minoritas kerjanya hanya bisa mengeluh dan mengeluh.   Penting juga agar isu-isu yang bernilai politis diutarakan melalui cara-cara yang tidak terlalu politis, dengan memberi wajah terhadap berita yang dibuat, misalnya mengambil dari sudut keluarga dan anak-anak dari kelompok minoritas, serta menggunakan aspek humor. 

...Demikian pula dengan arus migrasi penduduk Asia ke Afrika, menciptakan minoritas Asia di Afrika yang mengalami diskriminasi, tetapi tidak diakui hak-haknya, hanya dianggap sebagai buruh migran. 


...Peserta dari Nepal, Rakesh Karna mempresentasikan upaya proteksi minoritas dalam konstitusi baru Nepal pasca-runtuhnya monarki, sedangkan peserta dari Filipina Ryan Jeremiah Quan dan Johaira Wahab masing-masing mempresentasikan strategi litigasi menghadapi kasus pertambangan di Pulau Palawan dan perjuangan minoritas Bangsa Moro di Filipina Selatan.   Untuk mendinamiskan acara, Emily Hong dari MRG Bangkok membagi peserta berdasarkan gender, di mana para peserta perempuan melakukan diskusi fish bowl, berbagi pengalaman secara personal dalam kerja-kerja advokasi selama ini, sementara para peserta laki-laki mendengarkan dan mengomentari setelah diskusi berakhir.


Masuk ke tingkat sub-kawasan Asia Tenggara, Yuyun Wahyuningrum dari Human Rights Working Group (HRWG) Indonesia menekankan pentingnya mekanisme HAM regional sebagai upaya perlindungan jika mekanisme di tingkat nasional gagal, sebagai check and balances terhadap mekanisme nasional, dan sensitivitas terhadap budaya lokal. ...  Organisasi sub-kawasan yang beranggotakan 10 negara di Asia Tenggara, ASEAN, sudah memiliki dua komisi HAM yaitu komisi antar-pemerintah ASEAN untuk HAM (AICHR) dan komisi hak-hak perempuan dan anak ASEAN (ACWC), serta satu komite khusus tentang buruh migran (ACMW). 

...Meskipun ASEAN banyak dikritik, tetapi posisinya jauh lebih baik daripada kawasan Asia Selatan, di mana organisasi negara-negara SAARC bahkan belum memiliki mekanisme HAM sama sekali.   Peserta dari Thailand, Sirada Khemanitthathai (Ning) membagi pengalaman masyarakat sipil dalam advokasi di tingkat nasional dan regional melalui jaringan Southeast Asia People&rsquo;s Alliance-Task Force (SAPA-TF) serta agenda riset tentang konflik di Thailand Selatan dengan mengambil pelajaran dari Aceh (Indonesia) dan Mindanao (Filipina Selatan).   Pada sesi terakhir, para peserta mendiskusikan strategi di tingkat sub-kawasan untuk advokasi hak minoritas, dengan mengangkat persoalan buruh migran dan minoritas etnis di ASEAN, serta peran masyarakat sipil dan persoalan perubahan iklim di SAARC. ]]></content:encoded></item><item><title>Benturan Ijtihad &#xd;Di bawah Bayang-bayang Kritik Anti-Wall Street&#xd;</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-11-02T23:40:23+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/ijtihad.php#unique-entry-id-63</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/ijtihad.php#unique-entry-id-63</guid><content:encoded><![CDATA[<br /> Sumber Foto: Wahid Institute<br />Fundamentalisme lahir dari upaya manusia mencari identitas, di tengah-tengah krisis yang menciptakan ketidakstabilan, demikian menurut Hisanori Kato, peneliti tentang Indonesia dari Jepang, dalam Diskusi Buku The Clash of Ijtihad: Fundamentalist Versus Liberal Muslims (The Development of Islamic Thinking in Contemporary Indonesia), Jumat (28/10/2011) di Wahid Institute, Jakarta. 

...Membandingkan dengan kondisi di Jepang, Kato melihat bahwa agama Buddha yang ada di Jepang sangat berbeda dengan agama Buddha di Tibet atau India.   Dalam kasus fundamentalisme di Indonesia, sangat menarik membayangkan apakah Islam di Indonesia bisa tetap sama persis dengan Islam di Arab pada abad ke-7. ...  Di Eropa, tuntutan Muslim agar syariah dijadikan hukum negara dilandasi oleh puritanisme yang dibawa dari negeri asalnya di Timur Tengah dan Asia Selatan. 

...Bagi Suaedy, masa depan Islam di Indonesia akan sangat berbeda dengan Islam di Timur Tengah dan Asia Selatan, apalagi di Eropa, juga dengan di negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Thailand. ...  Pada tahun 2005, para pegawai negeri sipil (PNS) di Lombok Timur berdemonstrasi menolak peraturan daerah (Perda) tentang zakat karena itu berarti memotong gaji PNS, hingga akhirnya Perda itu pun dibatalkan. 

...Menulis dalam buku The Clash of Ijtihad tentang posisi perempuan dalam Islam, Siti Musdah Mulia mengapresiasi upaya Profesor Kato meneliti tentang Indonesia. 

...Salah satu penulis di buku The Clash of Ijtihad, Soffa Ihsan, menganggap buku tersebut komprehensif, dari tema-tema yang &ldquo;bersih&rdquo; sampai tema-tema yang &ldquo;kumuh&rdquo; dan marjinal seperti isu homoseksualitas dalam Islam. 

...Bagi Kato, tanpa adanya pertemuan dan diskusi antara kubu fundamentalis dengan kubu liberal, yang terjadi hanya deadlock.   Menurut Suaedy, dalam suatu kesempatan Fauzan Anshari dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pernah berusaha mempertemukan Gus Dur dengan Ba&rsquo;asyir di depan publik. ...  Tanpa perlu bertemu secara fisik, Gus Dur sudah melakukan dialog yang luar biasa dengan kalangan fundamentalis ketika Gus Dur berteriak paling kencang menentang rencana kepolisian mengawasi pesantren-pesantren termasuk pesantren milik Ba&rsquo;asyir. 


Irisan antara kubu fundamentalis dengan kelompok-kelompok yang bisa dianggap liberal juga terjadi pada isu-isu anti-kapitalisme. ...  Human Rights Working Group (HRWG) yang liberal pernah bekerja sama dengan Dompet Dhuafa, yang bisa digolongkan kelompok Islamis, menerbitkan Laporan Goldstone tentang pelanggaran HAM di Palestina yang merupakan laporan Tim Pencari Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (TPF-PBB) dalam konflik Gaza.   Tetapi barangkali memang sulit mengadakan dialog antara kubu fundamentalis dengan kubu liberal, mengingat adanya faktor represi yang dihadapi kelompok-kelompok fundamentalis, sehingga berkembang anggapan bahwa Islam terancam oleh dominasi Barat dan Yahudi melalui tangan-tangan kelompok liberal seperti JIL.

...Kategorisasi antara fundamentalisme dan liberalisme pun dipersoalkan oleh Suaedy, yang merasa tidak nyaman dimasukkan dalam kubu liberal, seolah-olah dirinya pendukung Wall Street atau kapitalisme. 

...Selain hasil penelitian Kato, tulisan-tulisan dalam buku ini juga berasal dari pemikir-pemikir liberal seperti Luthfi Assyaukanie dan Siti Musdah Mulia, tetapi juga pemikir-pemikir fundamentalis seperti Ismail Yusanto dan Zulkifliemansyah, dari isu sekularisme, nasionalisme, syariah, hingga tentang persoalan perempuan dan homoseksualitas dalam Islam.]]></content:encoded></item><item><title>Dari Diskusi Media Sosial dan Perubahan Sosial-Budaya</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><category>BIMONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2011-11-02T23:37:59+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/media_sosial.php#unique-entry-id-62</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/media_sosial.php#unique-entry-id-62</guid><content:encoded><![CDATA[Marc Prensky (2001;1) menggunakan istilah digital natives untuk menyebut mereka yang sepanjang waktu dikelilingi oleh dan menggunakan alat-alat berteknologi digital seperti komputer, videogame, pemutar musik digital/MP3 player, kamera video, telepon selular dan Internet. ...  Beberapa ciri dari golongan ini adalah kebiasaan menerima dan bertukar informasi secara cepat, cenderung menyukai proses kerja secara paralel/dalam satu waktu yang bersamaan dan multitasking.   Banyak orang menyandarkan kegiatan sehari-harinya pada informasi, seperti untuk menentukan rute jalan, hari ini macet atau tidak, memperkaya diri dengan berita terkini atau sekedar melihat ada promosi diskon apa di toko kesayangan mereka.


...Pada era awal munculnya media baru, kalangan penerbit media cetak, seperti surat kabar dan buku, cukup khawatir bahwa apa yang akan mereka hasilkan tidak akan relevan lagi dengan era digital. ...  &ldquo;Ada karakteristik baru dari orang-orang yang bisa dikategorikan sebagai digital native, ada yang lebih senang membaca berita di media sosial seperti Twitter,&rdquo; jelas Ignatius Haryanto.   Mungkin kecepatan untuk meng-update dan kecenderungan untuk menjadi yang pertama (atau mungkin juga diselipkan sedikit munculnya gejala narsisme) membuat digital native ini beralih dari media konvensional ke media baru.


...Saat itu ia sedang berbincang dengan temannya melalui messenger, kemudian temannya bertanya secara mendetail tentang keadaan di Merapi, seperti apa sekarang keadaannya, bagaimana para penduduknya, apakah sudah ada posko atau belum.   Tidak lama setelah perbincangan itu berakhir, Okta melihat di timeline Twitter temannya, ia menulis berita persis dengan apa yang mereka perbincangkan sebelumnya. ...  Ia merasa dirugikan, karena pertama, ia bukan orang yang seharusnya bertanggung jawab pada penanganan bencana ini dan kedua, temannya dengan semena-mena mencantumkan nomor telepon pribadinya untuk informasi yang terbatas. 

...Pewartaan berita dalam bencana seperti yang disebutkan di atas dapat dikategorikan sebagai citizen journalism atau pewartaan yang melibatkan masyarakat dalam proses mengumpulkan informasi, membuat berita, melaporkannya dan menyebarluaskannya.   Namun terkadang dalam banyak hal, citizen journalism tidak lebih dari suatu kondisi di mana ada orang yang tepat, berada di tempat dan waktu yang tepat dan memiliki alat yang tepat. 

...Ignatius Haryanto memberikan sebuah contoh pesan yang disampaikan melalui broadcast message di Blackberry Messenger, mengenai seorang bapak yang sembuh dari leukemia karena pengobatan tertentu.   Sang pengirim pun mencantumkan nomor telepon yang dapat dihubungi untuk mendapatkan obat leukemia, ternyata nomor tersebut justru nomor seorang bapak yang menderita leukemia dan sedang mencari pengobatan alternatif. ...  Merujuk kepada sikap kiritis Socrates, ada tiga hal yang dapat kita terapkan setiap kita menerima informasi yaitu: apakah kita yakin akan kebenaran informasi yang akan kita sampaikan kepada orang lain, apakah ini membawa kebaikan dan apakah ini berguna bagi orang banyak.


...Tampaknya sungguh mudah menggunakan media sosial untuk mengumpulkan simpati, akan tetapi media ini juga dapat mempermudah langkah para spindoctor, yakni orang-orang yang melakukan disinformasi atau propaganda untuk mencapai opini publik terhadap suatu organisasi atau public figure, biasanya untuk menjatuhkan reputasi atau memanipulasi keadaan.   Mereka membuat akun-akun palsu, yang dikembangkan secara serius (seakan-akan orang-orang di akun ini benar-benar ada) dan membentuk opini publik melalui tanggapan terhadap isu yang sedang hangat beredar.
]]></content:encoded></item><item><title>Media Baru dan Perubahan Sosial</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>BIMONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2011-10-18T17:46:51+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/media_perubahan_sosial.php#unique-entry-id-61</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/media_perubahan_sosial.php#unique-entry-id-61</guid><content:encoded><![CDATA[<div class="box5"><br /><h3>Diskusi Dwibulanan, Oktober 2011</h3><ul><br /><li>Tema	:  &ldquo;Media Baru dan Perubahan Budaya Masyarakat&rdquo;<br />


...Mungkin sebagian dari kita yang memiliki smart phone sudah tanpa sadar memiliki ritme per sekian menit sekali menengok layar telepon genggam atau menanti lampu penanda berkelap-kelip merah tanda ada update pesan, status atau balasan chat. ...  Komputer jinjing atau laptop bukan barang asing yang kerap bersanding dengan secangkir kopi atau teh, teman nongkrong berjam-jam, sehingga kita tidak lagi takut nongkrong di kafe sendirian.   Penemuan telepon genggam dengan tombol QWERTY pun mengubah kecepatan seseorang dalam mengetik SMS dan memungkinkan seseorang untuk menulis email panjang seperti menggunakan komputer.

Perkembangan dunia digital ini kemudian dilihat orang dengan kewaspadaan: di satu sisi ada yang merasa bahwa penemuan teknologi dan alat berkomunikasi ini memudahkan kehidupan mereka, tetapi di sisi lain ada juga yang merasa bahwa perkembangan teknologi ini hanya mendudukkan kita dalam posisi sebagai pasar belaka. 

...Mungkin ini keadaan yang diprediksi oleh seorang futurolog Alvin Toffler sebagai "future shock" di tahun 1970.   Future shock ia definisikan sebagai perubahan yang begitu banyak dalam waktu yang begitu singkat yang dialami tidak hanya pada tingkat individu, tetapi juga seluruh masyarakat.   Perubahan struktural yang terjadi di masyarakat dari masyarakat industri menjadi super-industri, akan menenggelamkan masyarakat dalam percepatan kemajuan teknologi dan perubahan sistem sosial, sehingga mereka merasa terputus dan disorientasi. ...  Sebuah masyarakat tidak dapat berjalan jika sepenuhnya dikontrol oleh data dan komputer, karena selain kemampuan kognitif, juga diperlukan emosi dan afeksi.


Selain itu muncul pula istilah digital native merujuk pada komunitas masyarakat saat ini yang menjadi bagian dari masyarakat digital. 

...Pertanyaan di atas muncul sebagai akibat dari beberapa gejala di masyarakat antara lain meningkatnya kebutuhan masyarakat akan respon yang cepat dalam menggunakan jasa telekomunikasi.   Telepon dan SMS yang dahulu dianggap paling cepat saja, sekarang tergantikan dengan instant messenger yang hemat tarif dan lebih cepat ditanggapi.   Selain itu, kini informasi boleh jadi dianggap sebagai salah satu tulang punggung utama yang menggerakkan roda ekonomi industri media.   Juga sering kita dengar, bahwa media baru, terutama jejaring sosial menjadi "rumah sakit bersalin" bagi aksi-aksi solidaritas seperti koin untuk Prita Mulyasari atau #prayforjapan (trending topic di Twitter ketika Jepang dilanda gempa besar bulan Maret 2011 lalu).

...Apakah yang dapat diperbuat oleh industri media "tradisional" untuk menghadapi era media baru yang serba cepat?   Mari kita diskusikan bersama dalam acara Diskusi Dwi-Bulanan The Interseksi Foundation Oktober 2011 dengan pembicara seorang pakar media dan direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta, Ignatius Haryanto. 
]]></content:encoded></item><item><title>Peluang dan Tantangan Advokasi HAM Regional di ASEAN</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-10-13T21:46:39+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/ham_asean.php#unique-entry-id-59</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/ham_asean.php#unique-entry-id-59</guid><content:encoded><![CDATA[Jika sudah ada mekanisme hak asasi manusia (HAM) di tingkat nasional maupun internasional (Perserikatan Bangsa-bangsa atau PBB), mengapa masih diperlukan mekanisme di tingkat regional, demikian Wahyuningrum, Senior Advisor HRWG (Human Rights Working Group) untuk isu ASEAN dalam &ldquo;Pelatihan Mekanisme HAM PBB, ASEAN dan OKI untuk Masyarakat Sipil&rdquo;, 1-5 Oktober 2011 di Bogor dan Jakarta. ...  Kerjasama politik dan HAM di tingkat regional juga bisa untuk memperkuat posisi tawar dalam mekanisme internasional, di samping untuk mendukung advokasi di tingkat nasional sendiri ketika mekanisme nasional gagal bekerja, berfungsi sebagai check and balances. ...  Afrika juga sangat kuat di tingkat regional dengan dasar bahwa masyarakat di tingkat kawasanlah yang berhak mengklaim hak-hak universal yang sensitif pada budaya lokal, seperti tecermin dalam nama komisi HAM Afrika yang menggunakan istilah &ldquo;human and people&rsquo;s rights&rdquo;. 


...Tidak seperti di negara-negara lain, peran organisasi masyarakat sipil di ASEAN dalam sejarah politik dan keterlibatan dalam isu HAM sangat besar. 

...Pembelajaran penting dari komisi HAM Inter-Amerika menunjukkan, pada awalnya pun tidak mempunyai mekanisme pengaduan, tetapi setelah menguat desakan agar komisi memeriksa kasus penculikan di Argentina, sekarang tidak saja Argentina berubah menjadi lebih demokratis tetapi komisi HAM Inter-Amerika pun menjadi badan yang paling kuat dalam penegakan HAM.   Mekanisme HAM ASEAN masih sebatas pada memperoleh informasi (to obtain information), tetapi perkembangan lahirnya badan HAM regional adalah kemajuan penting setelah sebelumnya isu HAM haram disebut-sebut dalam setiap pertemuan ASEAN. 

...Meskipun mengeluhkan kalau &ldquo;nilai-nilai ASEAN&rdquo; yang menekankan pada prinsip non-intervensi dan konsesus itu melelahkan, tetapi Taufan Damanik wakil Indonesia untuk ACWC dalam sesi &ldquo;klinik&rdquo; hari kelima pelatihan melihat langkah maju dengan keberhasilan ACWC melibatkan organisasi masyarakat sipil (civil society organization atau CSO) dalam workshop baru-baru ini di Solo. ...  Isu yang disepakati dalam workplan pun sangat maju, mencakup isu kekerasan perempuan dan anak serta partisipasi anak, yang sangat jarang disebut-sebut, selain isu-isu lain seperti partisipasi perempuan dalam politik, hak perempuan atas tanah, kemiskinan, iklim, HIV/AIDS, difabel, dan pendidikan usia dini. 

...Bagi negara-negara lain apalagi Vietnam yang sangat birokratik, isu perempuan dan anak dianggap kurang politis, sehingga wakil-wakil mereka saat sidang cenderung progesif dan mendukung usulan-usulan maju dari Indonesia. ...  Persoalan lebih pada bagaimana menyamakan platform di tengah adanya kesenjangan di antara masing-masing negara anggota, misalnya isu hak minoritas bahkan sama sekali tidak ada definisi hukumnya di Laos dan Vietnam, sedangkan isu pendidikan sangat timpang antara Singapura dan Malaysia yang sangat mewah dengan negara miskin seperti Laos.


Mengenai persoalan tidak adanya mekanisme pengaduan di ASEAN, Rafendi Djamin, wakil Indonesia di AICHR, mengakui adanya kompromi politik sehingga kewenangan AICHR terbatas pada memperoleh informasi dan melakukan kajian tematik.   Usulan Indonesia agar ada mekanisme pengaduan, country visit dan fact finding, serta pembahasan situasi HAM di tiap negara ditolak semua, sehingga peluang untuk pengaduan hanya bisa masuk melalui isu-isu tematik. ...  Individual complaint yang dikirim ke PBB bisa ditembuskan ke ASEAN, karena dari mandat yang diberikan ada ruang bagi AICHR untuk berkonsultasi dengan entitas HAM lain baik di tingkat regional maupun internasional. ...  Mengenai penyelesaian kasus-kasus masa lalu, AICHR belum membahas sama sekali, tetapi di tingkat global sudah ada diskusi tentang hak korban dan resolusi Dewan HAM PBB tentang keadilan transisi. 

...Dengan adanya AICHR, posisi CSO makin menguat, meskipun masih ada hambatan seperti CSO di Vietnam yang masih dikendalikan negara untuk isu-isu HAM, kecuali untuk isu difabel yang lebih maju. 

...Tentang peran NHRI (national human rights institution) seperti Komnas HAM dan Komnas Perempuan, di tingkat Asia Pasifik sudah ada forum NHRI di mana AICHR pernah menjadi narasumber, tetapi di ASEAN menurut Rafendi baru empat negara yang mempunyai NHRI. ]]></content:encoded></item><item><title>Islam dan Mekanisme HAM OKI </title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-10-13T21:42:56+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/islam_ham_oki.php#unique-entry-id-58</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/islam_ham_oki.php#unique-entry-id-58</guid><content:encoded><![CDATA[Dalam berbagai diskursus terdapat pandangan positif bahwa Islam kompatibel dengan hak asasi manusia (HAM), ada pula pandangan negatif bahwa HAM adalah produk Barat yang tidak sesuai dengan Islam, demikian pengantar diskusi oleh Muhammad Choirul Anam, deputi direktur eksekutif HRWG (Human Rights Working Group) pada &ldquo;Pelatihan Mekanisme HAM PBB, ASEAN dan OKI untuk Masyarakat Sipil&rdquo;, 1-5 Oktober 2011 di Bogor dan Jakarta.   Melalui Deklarasi Kairo (1990), negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) jelas-jelas menyatakan bahwa tidak ada persoalan antara Islam dan HAM, meskipun di dalamnya masih ada pasal-pasal yang melemahkan posisi perempuan dan adanya larangan keluar dari agama Islam atau menganut ateisme. 


Sementara dalam Piagam OKI (OIC Charter) tahun 2008, disebutkan bahwa tujuan OKI antara lain untuk mempromosikan HAM dan kebebasan dasar, good governance, rule of law, demokrasi dan akuntabilitas di negara-negara anggota, menumbuhkan nilai-nilai Islam tentang moderasi, toleransi dan menghargai keragaman, serta melindungi dan mempromosikan hak-hak perempuan.   Dalam Program Aksi 10 Tahun (2005), OKI menyatakan mengutuk ekstremisme dan manifestasinya karena bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan, serta bertekad untuk mengatasi akar persoalannya dari sisi politik, ekonomi, sosial dan budaya.   Disebutkan pula rencana untuk memperkuat hukum yang bertujuan untuk meningkatkan kemajuan perempuan di masyarakat Muslim dalam bidang ekonomi, budaya, sosial dan politik.


...Jadwal sidang-sidang Dewan HAM PBB pernah digagalkan oleh kubu OKI yang mengadakan special session untuk membahas insiden penyerangan kapal flotilla oleh Israel. ...  Indonesia sebagai anggota OKI mempunyai keunikan karena cukup demokratis dibandingkan dengan negara-negara lain, dan berperan penting untuk mendorong sikap toleransi. 


Dijelaskan oleh Muhammad Hafiz, Manajer Program HRWG untuk OKI, bahwa awal mula berdirinya OKI pada 25 September 1969 dilatarbelakangi persoalan politik terkait Palestina.   Setelah perubahan OIC Charter pada tahun 2008, pasal 5 menyebutkan pembentukan komisi HAM OKI (Independent Permanent Human Rights Commission atau IPHRC).   Pada pasal 15 dijelaskan fungsi IPHRC adalah mempromosikan hak-hak sipil, politik, sosial dan ekonomi. ...  Pada tahun 2008, OKI mengeluarkan Rencana Aksi untuk Kemajuan Perempuan (OPAAW) yang disebut-sebut mirip dengan Deklarasi Beijing, MDGs (Millenium Development Goals) ataupun CEDAW (Konvensi Penghapusan Diskriminasi Perempuan).   Meskipun demikian, harus pula diperhatikan bahwa OKI jauh lebih cair daripada PBB atau ASEAN (Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara), dan Arab Saudi yang menjadi pendana terbesar OKI seringkali menggunakan pengaruhnya untuk menekan negara-negara anggota OKI lainnya. 


...Sisi positifnya, Indonesia bisa mengambil peran strategis sebagai negara muslim terbesar di dunia yang majemuk dan demokratis, berbeda dengan negara-negara di Timur Tengah atau bahkan Malaysia yang relatif homogen.   &ldquo;Islam di Indonesia sangat terbuka, tidak seperti di Arab Saudi, pada waktu saya mengajukan visa, tidak hanya mengisi kolom agama tetapi juga harus mengisi mazhabnya apa,&rdquo; tutur Ruhaini sebagai perbandingan. ...  Meskipun posisi Indonesia unik sebagai negara Islam yang demokratis dan menjunjung tinggi HAM, kita masih mempunyai pekerjaan rumah (PR) dengan isu kebebasan beragama. 

...Namun untuk isu-isu sensitif seperti LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender), OKI menjadi tidak relevan karena posisinya hampir sama dengan Indonesia, harus menggunakan jaringan (networking) yang lain.]]></content:encoded></item><item><title>Charter-Based dan Treaty-Based dalam Mekanisme HAM PBB</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-10-13T20:44:44+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/mekanisme_ham_pbb.php#unique-entry-id-57</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/mekanisme_ham_pbb.php#unique-entry-id-57</guid><content:encoded><![CDATA[&ldquo;HAM (hak asasi manusia) itu bukan sesuatu yang abstrak, tetapi ada secara fisik,&rdquo; demikian menurut Rafendi Djamin, direktur eksekutif Human Rights Working Group (HRWG) dalam pengantar untuk &ldquo;Pelatihan Mekanisme HAM PBB, ASEAN dan OKI untuk Masyarakat Sipil&rdquo;, 1-5 Oktober 2011 di Bogor dan Jakarta.   Selain adanya standar norma-norma HAM internasional, secara kelembagaan sudah tersedia berbagai mekanisme HAM baik pada level internasional, regional maupun cross-regional yang dapat digunakan untuk memperkuat strategi advokasi di level nasional.   Pelatihan yang diselenggarakan oleh HRWG ini diikuti oleh 21 orang perwakilan dari berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari Aceh hingga Ambon, ada juga dari Komisi Nasional (Komnas) HAM dan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).


Sebagai produk dari proses-proses politik dan negosiasi, penyusunan norma-norma HAM internasional bisa berlangsung singkat seperti Deklarasi Universal HAM (DUHAM) yang selesai dalam dua tahun, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu hingga 20 tahun seperti Kovenan Hak Sipil Politik (International Covenant of Civl and Political Rights atau ICCPR) dan Kovenan Ekonomi Sosial dan Budaya atau EKOSOB (International Covenant of Economic Social and Cultural Rights atau ICESCR).   Kovenan dan konvensi sebagai norma dilembagakan dalam bentuk komite atau komisi, seperti Komite HAM untuk ICCPR dan Komite EKOSOB untuk ICESCR, di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

...Kawasan Asia-Pasifik sama sekali belum memiliki mekanisme HAM-nya sendiri, dan baru dicoba di sub-regional Asia Tenggara yang sudah memiliki Komisi HAM sejak tahun 2009, yaitu ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR). 

...Siapapun bisa melakukan pengaduan secara individu (individual complaint) kepada Dewan HAM PBB, tetapi  tidak semua Komite Treaty bisa menerima pengaduan (atau disebut communications). 

...Masyarakat sipil dapat terlibat dalam proses pelaporan tersebut dengan membuat laporan alternatif dan menjawab daftar pertanyaan (list of issues) yang diajukan Komite kepada Negara Pihak.   Selain itu masyarakat sipil juga bisa membuat publikasi atas laporan alternatif dan rekomendasi Komite, membuat laporan follow up rekomendasi, dan melakukan diplomat briefing serta lobi-lobi dan side event pada saat berlangsung sidang di markas Komite di Jenewa, Swiss.   Diingatkan oleh Ali Akbar Tanjung, Manajer Program HRWG untuk PBB, agar kita tidak hanya membaca konvensi dan Optional Protocol, tetapi juga membaca General Comments yang merupakan tafsir resmi dari Komite terhadap konvensi. 

...Masing-masing sesi sidang berlangsung terpisah dan hanya memakan waktu 30 menit hingga satu jam saja, sehingga NGO diharapkan dapat memanfaatkan sebaik-baiknya waktu istirahat yang berkisar 1 sampai 2 jam untuk forum lobi. ...  Harus diingat pula bahwa anggota Komite bukanlah orang Indonesia yang semuanya paham situasi di Indonesia, dan jika mereka menanyakan sesuatu hal yang kelihatannya menyimpang dari isu yang dibahas, itu artinya sebetulnya mereka sebelumnya sudah mendapatkan informasi baik dari pemerintah maupun NGO tentang Indonesia. 


...Country mandate misalnya Pelapor Khusus PBB untuk Kamboja (sejak 1993) dan Independent Expert untuk Burundi (2004), sedangkan thematic mandate misalnya Pelapor Khusus PBB untuk perumahan layak (2000), Working Group untuk penahanan sewenang-wenang (1991), dan Independent Expert untuk isu minoritas (2005).   Selain bisa menerima pengaduan (communications), mekanisme Special Procedures juga memungkinkan untuk menerima pengaduan untuk kasus yang sedang terjadi dan membutuhkan tindakan mendesak untuk mencegah hilangnya nyawa (urgent appeal), serta pengaduan atas kejadian yang sudah berlalu (letter of allegation).


...Dalam proses UPR, tiap negara di-review oleh tiga negara atau troika berdasarkan laporan nasional yang diberikan oleh negara, laporan dari Special Procedures, serta laporan dari NHRI dan NGO yang sebelumnya dikompilasi oleh sekretariat.   Dalam mekanisme UPR, NGO juga dapat berpartisipasi dengan turut mempersiapkan laporan nasional atau membuat laporan alternatif, memberikan list issues, serta melakukan lobi-lobi atau diplomat briefing. ]]></content:encoded></item><item><title>A Tribute to the Crazy One</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>A TRIBUTE</category><dc:date>2011-10-06T11:34:52+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/tribute_to_steve.php#unique-entry-id-56</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/tribute_to_steve.php#unique-entry-id-56</guid><content:encoded><![CDATA[<center></center><br /><h3>STEVE JOBS</h3>


...Here&rsquo;s to the crazy ones. ...  The round pegs in the square holes.   The ones who see things differently.   They&rsquo;re not fond of rules.   And they have no respect for the status quo.   You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them.   About the only thing you can&rsquo;t do is ignore them.   Because they change things.   They push the human race forward.   And while some may see them as the crazy ones, we see genius.   Because the people who are crazy enough to think they can change the world, are the ones who do.


Taken from Apple Inc&rsquo;s <i>Think Different </i>Campaign which was written by the man himself.    Below is the video in which the man, instead of Richard Dreyfuss as in the original version, narrating the campaign. 

...<center><iframe width="420" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/8rwsuXHA7RA" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></center>


Posted by Hikmat Budiman
]]></content:encoded></item><item><title>Meninjau Kualitas Pelaksanaan Demokrasi di Tingkat Lokal&#xd;</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-10-03T22:01:06+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/demokrasi_lokal.php#unique-entry-id-55</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/demokrasi_lokal.php#unique-entry-id-55</guid><content:encoded><![CDATA[Diskusi ini diisi oleh empat pembicara antara lain dua orang dari tim peneliti bidang lokal P2P LIPI, Mardiyanto Wahyu Triyatmoko, S.IP, MAP, MPP dan Irine Hiraswari Gayatri, S.Sos, MA, Ganjar Pranowo, SH (DPR RI) dan I Gusti Putu Artha, Sp, M.Si (dari Komisi Pemilihan Umum). 

...Bukan hanya hal baik yang dibawa oleh proses ini, tetapi juga membuka arena kontestasi besar bagi berbagai kepentingan ekonomi dan politik untuk mementukan bagaimana kekuasaan dan sumberdaya didistribusikan (Hadiz, 2010). 

...Widjojo, M.Si, Kepala Bidang Politik Lokal di P2P LIPI, mengungkapkan bahwa pemberian otonomi khusus kepada Aceh dan Papua menghasilkan output yang berbeda dengan Jakarta atau Yogyakarta. ...  UU No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.32 Tahun 2004 pun tidak cukup kuat untuk mengatur mekanisme desentralisasi, khususnya di bidang demokrasi dan administrasi pemerintahan lokal.   Mardyanto Wahyu Tryatmoko, peneliti pada Bidang Perkembangan Politik Lokal P2P LIPI, menjelaskan dalam presentasi hasil penelitiannya &ldquo;Kompleksitas bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan kekisruhan dalam daerah yang diberi status otsus, yaitu: pertama, adanya ketidakpastian dalam menempatkan titik berat otonomi daerah, sehingga batas distribusi kewenangan dan kekuasaan antar daerah juga tidak jelas; kedua, titik berat otonomi daerah tidak selaras dengan pilihan prosedur demokrasi lokal (dalam hal ini pemilukada, karena aktor lokal dapat dengan bebas memainkan kebijakan di daerah dan lintas daerah); ketiga, ketidakjelasan hubungan antara kekuasaan dan distribusi kewenangan antar pemerintahan, sehingga timbul konflik daerah; keempat, hak-hak tradisional dan adat yang diabaikan karena terjebak dalam persoalan administrasi.&rdquo; 

...Berbeda dengan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dan Yogyakarta, pemberian otonomi khusus di Aceh dengan adanya UU khusus Aceh masih dipenuhi dengan pasal karet yang menimbulkan multi interpretasi oleh para pembuat kebijakan, salah satunya mengani alokasi dana otsus. ...  Otonomi politik (dalam pemilukada misalnya) seringkali dicampuradukkan dengan persoalan administrasi (terkadang tidak memakai proses-proses birokratik rasional), sedangkan proses administrasi itu sendiri sering diintervensi oleh kepentingan politik gubernur yang lebih banyak bersifat subyektif.  

...Kontestasi antar elit untuk memperebutkan posisi-posisi tertentu juga sangat keras, berbagai cara ditempuh seperti mengangkat identitas kelompok tertentu dengan latar belakang yang bervariatif, misalnya saja suku, agama dan kewilayahan (di Papua dikenal dua kelompok besar wilayah yakni kelompok pantai dan gunung).

...Efektifitas desentralisasi untuk mengurangi konflik dan separatisme di Aceh dan Papua menjadi pertanyaan bagi pemerintah pusat, bahwa otsus yang diberikan kepada  suatu daerah bisa jadi menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan baik. 

...Jika kita kembali ke sejarah Indonesia pasca Soeharto, maka ada dua kondisi yang cukup signifikan di ranah politik antara lain terbentuknya ruang-ruang politik dan ekonomi baru melalui desentralisasi dan masih eksisnya struktur organisasi warisan Orde baru yang hirarkis, administratif dan sentraslistis, tidak hanya di desa, tetapi juga di kota. 

...Karir politiknya dimulai sebagai anggota DPRD Kabupaten Bima dari Partai Golkar hingga pada masa jabatannya sebagai Ketua DPRD Kota Bima tahun periode 2004-2009, partai Golkar memberinya akses untuk menjadi Bupati Bima. 

...&ldquo;Kelas menengah di Bima melakukan fungsi kontrol terhadap pemerintah hanya sebatas sebagai bagian dari afiliasi mereka terhadap kekuatan kelompok-kelompok elite yang ada,&rdquo; tukas Irine memaparkan hasil penelitiannya. 

...Kemudian ia menyimpulkan bahwa desentralisasi yang dijabarkan dalam bentuk pelimpahan wewenang lebih besar pada tingkat kabupaten tidak diikut oleh pemberdayaan kapasitas lokal (baik di kalangan masyarakat dan pemerintahan), sehingga &ldquo;reformasi&rdquo; yang sifatnya kelembagaan hanyalah untuk memenuhi tuntutan prosedural, tetapi tidak untuk memunculkan tokoh ideal yang &ldquo;demokrat&rdquo;. 

...Persoalan yang tampak dari berbagai tempat di Indonesia ini sepertinya menuntut negara untuk meninjau ulang desentralisasi dan pemberian otonomi khusus kepada daerah-daerah sebagai jawaban dari permasalahan atas nama pelaksanaan demokrasi di Indonesia.   Jangan sampai desentralisasi gagal karena pemerintah pusat tidak peka akan kebutuhan masing-masing daerah (karena adanya penyeragaman model desentralisasi) dan kadar intervensi pemerintah nasional yang terlalu banyak. ...  Intervensi pemerintah nasional juga jangan sampai menunjukkan keberpihakan terhadap partai politik tertentu melalui tindakan-tindakan diskriminatif, misalnya memecat legislator lokal melalui partai politik atau menyetir mereka karena &ldquo;kedekatan&rdquo; hubungan. ]]></content:encoded></item><item><title>Pengelolaan Konflik Sosial di  Maluku&#x2c; Papua dan Poso</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-08-23T01:34:27+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/konflik_maluku.php#unique-entry-id-54</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/konflik_maluku.php#unique-entry-id-54</guid><content:encoded><![CDATA[Habibie memulai proses desentralisasi kekuasaan dan mengurangi peran sosial politik militer, sehingga mengubah hubungan antara Negara dan masyarakat serta menyediakan latar belakang  bagi pecahnya konflik yang kompleks. ...  Untuk mengisi kesenjangan informasi ini, Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI) bekerja sama dengan Center for Humanitarian Dialogue (HD Center) dan Current Asia melakukan penelitian selama 2009-2010, dan laporannya dibukukan dengan judul Pengelolaan Konflik di Indonesia: Sebuah Analisis Konflik di Maluku, Papua dan Poso.


Penelitian ini memetakan isu-isu signifikan dalam proses perdamaian di Indonesia mencakup desentralisasi, aparat keamanan, peran perempuan dan masyarakat sipil. ...  Reformasi militer yang memisahkan antara TNI dan polisi tidak disertai dengan pembagian dan tanggung jawab yang jelas antara kedua institusi, sementara militer sendiri hanya mempunyai pengalaman menangani konflik separatis atau anti-pemerintah, tidak dalam hal konflik komunal.   Peran perempuan dalam menciptakan perdamaian relatif terbatasi oleh budaya konservatif dan rendahnya kesadaran perempuan, terbukti dari minimnya keterlibatan kaum perempuan dalam proses perdamaian di Aceh, Ambon dan Poso.   Sedangkan masyarakat sipil yang memainkan peran besar dalam penyelesaian konflik lebih banyak terpecah-pecah, kurang koordinasi, lemah secara organisasi dan tidak ada mekanisme pertanggungjawaban dari masyarakat.


...Baru setelah perjanjian Malino II, pemerintah pusat dan lokal mulai serius menangani isu-isu yang berhubungan dengan konflik, dengan memprioritaskan pada rekonstruksi infrastruktur dan pemukiman kembali pengungsi. 

...Perjanjian Malino I menjadi titik balik ketika Jusuf Kalla memberikan opsi yang tegas dengan menjadikan para pelaku kekerasan yang pada tahap belakangan kebanyakan dari kalangan Muslim sebagai target serangan pemerintah. 

...Dibandingkan dengan Maluku dan Poso, konflik di Papua lebih rumit dan panjang sejarahnya, berakar pada proses dekolonisasi Indonesia dan status politik Papua pada era 1960-an. 

...Sejumlah inisiatif dilakukan oleh kalangan masyarakat sipil, antara lain deklarasi Papua Tanah Damai oleh wakil ketua PDP, Tom Beanal pada Desember 2002 dan dialog antara komunitas Papua dan pemerintah di Jakarta yang diprakarsai oleh pastor Neles Tobay pada 2009.   LIPI menerbitkan proposal Road Map Papua yang mengidentifikasi empat akar konflik Papua, yaitu marjinalisasi orang Papua, kegagalan pembangunan di Papua, perbedaan pemahaman yang mendasar terhadap sejarah antara Jakarta dan Papua, dan warisan kekerasan yang dilakukan oleh Negara terhadap masyarakat Papua.   LIPI merekomendasikan dialog pada empat tingkatan: dialog nasional antara pemerintah Indonesia dengan rakyat Papua, dialog antara rakyat Papua di Papua, dialog informal antara elite Papua, dan dialog internasional antara perwakilan pemerintah Indonesia dengan mediator internasional. 


...Tetapi, anggota Komisi III DPR Eva Kusuma Sundari, dalam peluncuran buku hasil penelitian LIPI di Jakarta, 21 Juli 2011, mengkritik RUU PKS yang dinilainya lebih berorientasi pada penanganan konflik, bukan pada pencegahan. ...  Eva melihat penelitian LIPI ini belum bisa diaplikasikan dalam berbagai kasus yang umum, misalnya konflik seputar sumber daya alam di Kalimantan tidak bisa disamakan dengan konflik di Papua. 

...Dalam hubungan pusat dan daerah, banyak penelitian yang menyatukan semua aspek dari politik, ekonomi hingga budaya, menurut Thung perlu dipisah-pisah. 

...Penelitian ini dikritik oleh Yolanda dari Komnas Perempuan, dinilainya sama dengan penelitian yang pernah dilakukan Komnas pada tahun 2005, dan hasilnya sama saja. ]]></content:encoded></item><item><title>Relasi Segitiga Antara Agama&#x2c; Demokrasi dan Konstitusi</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-08-23T01:33:34+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/agama_demokrasi.php#unique-entry-id-53</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/agama_demokrasi.php#unique-entry-id-53</guid><content:encoded><![CDATA[Mas&rsquo;udi, penulis buku Syarah Konstitusi: UUD 1945 dalam Perspektif Islam, gagasan kalangan Islam normatif dan teologis itu cenderung mengarah ke otoritarianisme, mengingat label agama yang berciri kemutlakan sebagai dasar perjuangan mereka untuk mencapai kekuasaan.


Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Nurcholish Madjid Society pada 11 Agustus 2011 di Jakarta, Masdar mengingatkan kembali batasan dalam hubungan antara Negara dan agama, sejauh mana Negara berhak untuk mencampuri urusan-urusan keagamaan, dan sebaliknya. ...  Selebihnya dalam urusan muammalah, kelompok-kelompok agama berhak untuk menawarkan prinsip-prinsip Islami dalam regulasi pemerintahan, tetapi bukan berdasarkan ayat-ayat suci melainkan pada nalar publik.


...Berkaitan dengan prinsip kedaulatan rakyat, bahwa setiap orang sama di hadapan hukum dan pemerintahan, Fadjroel dan kawan-kawan juga melakukan uji material agar calon independen diperbolehkan bertarung dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang digelar secara langsung. 

...Mengomentari buku Syarah Konstitusi, Fadjroel sangat setuju dengan pandangan Masdar bahwa nilai-nilai agama merupakan sumber hukum dalam bernegara, tetapi tidak menjadi hukum positif. ...  Sayangnya, Fadjroel mengeluhkan ternyata pemerintah justru memperalat kalangan agamawan untuk meloloskan peraturan-peraturan yang dinilainya bertabrakan dengan prinsip-prinsip demokrasi, seperti dalam kasus uji material terhadap undang-undang (UU) sensor film, UU pelarangan buku dan UU pornografi. 

...Menyebut HAM (hak asasi manusia) sebagai &ldquo;hak insaniyah&rdquo;, Masdar merujuk pada pendapat Al-Ghazali, sedangkan Fadjroel lebih mengaitkannya pada prinsip-prinsip universal tentang HAM dan kovenan EKOSOB (ekonomi, sosial dan budaya).   Meskipun Masdar tidak secara detil mengupas hak-hak seperti hak untuk hidup, hak berkumpul dan berserikat, hak atas pekerjaan yang layak, dan hak atas pendidikan, tetapi bagi Fadjroel buku ini sudah memenuhi tujuannya untuk mencari kesesuaian antara nilai-nilai Islam dengan Konstitusi. 


Menurut Yudi Latif, penulis buku Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas dan Aktualisasi Pancasila, wacana kontemporer saat ini bukan lagi mempertentangkan antara keislaman dengan keindonesiaan, karena keduanya sekarang sudah berimpit.   Ide-ide tentang Indonesia, Pancasila dan UUH 1945 tak lagi dianggap sebagai Thaghut dan kafir, karena menurut Masdar ternyata tidak ada konsep Negara Islam dalam Islam, sedang Konstitusi 1945 sendiri dinilai sangat Islami.   Jadi bagi kelompok-kelompok yang masih meyakini belum mencapai cita-cita keislaman, Yudi mengharap agar tidak ragu-ragu menerima UUD 1945 dan tidak usah lagi capek-capek mendirikan Negara Islam.


Merujuk pada Natsir sebagai tokoh yang sering diidentikkan sebagai pendukung dasar negara Islam, Yudi menganggap BPUPKI (Badan Persiapan Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia) yang mayoritas muslim tidak mungkin akan melahirkan konstitusi yang menentang Islam. ...  Bagi Supomo, kemerdekaan adalah perjuangan untuk menciptakan kesetaraan bagi semua warga negara setelah lepas dari kolonialisme, karena itu ide mendirikan negara Islam hanya akan menciptakan warganegara kelas dua bagi non-muslim. 

...Negara Islam tidak akan pernah bisa diwujudkan dalam sistem demokratis, hanya mungkin dalam sistem yang otoriter, karena itulah kelompok-kelompok pengusung ideologi Islam cenderung mendekati militer sebagai aparatus kekerasan bersenjata. 

...Seorang penanggap dari UIN (Universitas Islam Negeri) Ciputat mengkritik Fadjroel yang memuji-muji proses amandemen UUD 1945 sebagai keberhasilan perjuangan demokrasi, sehingga ide untuk mengembalikan UUD 1945 ke bentuk aslinya akan membangkitkan perlawanan yang berdarah-darah. 

...Bicara tentang amandemen Konstitusi, Yudi menawarkan ide untuk menambahkan lampiran (addendum), artinya boleh menambahkan pasal atau ayat, tetapi tidak boleh mengubah yang sudah ada. ]]></content:encoded></item><item><title>Sekuritisasi vs Dialog Soal Papua</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-08-23T01:32:54+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/dialog_papua.php#unique-entry-id-52</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/dialog_papua.php#unique-entry-id-52</guid><content:encoded><![CDATA[Sejak menjalankan administrasi pemerintahan sebelum maupun sesudah PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) 1969, pemerintah Indonesia memilih pendekatan keamanan (security approach) untuk mengikis gerakan separatism maupun gerakan masyarakat sipil di Papua. ...  Pemerintah tidak juga belajar dari konflik di Timor Timur maupun Aceh untuk mengubah pola pendekatan dalam menyelesaikan konflik di Papua.


Tidak semua persoalan berakar pada masalah keamanan, bisa saja karena ketidakadilan secara ekonomi dan poltik yang memicu ketidakpuasan daerah terhadap pemerintah pusat. ...  Hingga saat ini terus dilakukan pengiriman aparat TNI (Tentara Nasional Indonesia) maupun Polri (Kepolisian Negara Republik Indonesia) dari luar Papua (non-organik) tanpa ada transparansi berapa jumlah personil yang dikirim, untuk tujuan apa, dan bagaimana mereka bekerja.   Aktivitas militer dalam bentuk operasi militer atau keamana terus meningkat di Papua, baik untuk menumpas separatisme maupun aktivitas sosial seperti TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD).   Padahal kekuatan separatis OPM (Organisasi Papua  Merdeka) tidak cukup solid dan terorganisir seperti GAM (Gerakan Aceh Merdeka), sehingga patut dipertanyakan mengapa terjadi deployment aparat non-organik dalam jumlah besar di Papua.


Penggunaan pendekatan lapangan berimplikasi pada banyaknya pelanggaran HAM (hak asasi manusia) di Papua, di antaranya pembunuhan ketua Presidium Dewan Papua (PDP) Theys Hiyo Eluay oleh aparat Kopassus.   Di luar itu juga terjadi ancaman, penembakan sewenang-wenang, terror, penyiksaan dan kekerasan, termasuk perkosaan terhadap perempuan dan pelanggaran terhadap pembela HAM (human right defender). 

...Tidak berubahnya paradigma sekuritisasi dalam penanganan konflik di Papua dilatari oleh ketidakpercayaan antara Jakarta dan Papua dan prasangka separatisme oleh aparat keamanan. ...  Setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan terus berulangnya pelanggaran HAM di Papua, yaitu tersendatnya reformasi TNI, tidak konsistennya pelaksanaan Otonomi Khusus Papua (Otsus), tertutup dan lemahnya pengawasan terhadap aparat keamanan, tidak adanya proses hukum terhadap pelanggaran HAM (impunitas), budaya kekerasan dan pemahaman HAM yang lemah di lingkungan TNI, rendahnya kesejahteraan aparat TNI, bisnis keamanan yang dilakukan TNI, dan stigma separatis bagi warga Papua.


...Imparsial menyimpulkan lima agenda strategis untuk kemajuan penegakan HAM di Papua, yaitu percepatan reformasi sektor keamanan terutama reformasi TNI, pendekatan penyelesaian konflik secara damai, pengurangan aparat militer di Papua, penghapusan impunitas atas pelanggaran HAM yang telah terjadi  dan penguatan pengawasan publik dan otoritas sipil. 


Dalam peluncuran buku hasil penelitian Imparsial dan diskusi publik bertajuk &ldquo;Membangun Papua Tanah Damai&rdquo; di Jakarta, 9  Agustus 2011, direktur program Imparsial Al Araf menekankan pentingnya dialog yang konstruktif dan demiliterisasi untuk mencegah terus berulangnya pelanggaran HAM di Papua.   Tetapi menurut ketua Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) Letjen Bambang Dharsono, persoalan HAM belum diterapkan di Papua karena terkait dengan persoalan sosial ekonomi. 

...Sekretaris jenderal (sekjen) PDP Thaha Al Hamid menilai bahwa dominasi aparat militer di Papua karena latar belakang sejarah militer dalam mempertahankan Papua masuk wilayah Indonesia. ...  Rumitnya persoalan Papua membutuhkan keterlibatan semua pihak dan perlu adanya pikiran yang terbuka di kalangan pemuda, pemimpin agama, pejabat pemerintah dan aparat TNI/Polri. ...  Hal serupa dibenarkan oleh anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dari PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) Tubagus Hasanuddin bahwa Otsus telah gagal total dalam membangun ekonomi maupun sektor pendidikan dan kesehatan di Papua. ]]></content:encoded></item><item><title>Nasib Industri Batik dalam Pasang Naik Individualisme</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><category>BIMONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2011-08-23T01:32:13+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/nasib_batik.php#unique-entry-id-51</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/nasib_batik.php#unique-entry-id-51</guid><content:encoded><![CDATA[Gulirannya membawa pada pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada kurun 1995 hingga dekade 2000-an, yang keputusan-keputusannya bersifat mengikat setiap negara anggotanya (legally binding). ...  Meskipun sudah ada sejak dekade sebelumnya, para pengamat komik melihat adanya akselerasi pemunculan tokoh-tokoh superhero, mendukung gagasan tentang sosok satu orang individu yang bisa menyelamatkan dunia. 

...Menghadapi deadlock dalam sejumlah putaran konferensi tingkat menteri (KTM), sekarang praktis WTO &ldquo;diparkir&rdquo;, dan sebagai gantinya digulirkan berbagai kesepakatan perdagangan bebas yang sifatnya bilateral (bilateral free trade agreement atau BFTA). ...  Ditambahkan dengan jumlah penduduk Cina sendiri, kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-Cina (ACFTA) menjadi pakta perdagangan terbesar di dunia, mencakup 1,9 miliar penduduk dunia.


...Perdagangan menjadi sebuah cara hidup, dan sejumlah FTA seperti ACFTA, AANZFTA (FTA ASEAN-Australia-Selandia Baru) dan yang akan segera dibentuk FTA ASEAN-Eropa meningkatkan arus dagang dengan di-nol-persen-kannya pajak masuk barang-barang.   Salah satu yang bakal terkena dampak adalah industri batik, khususnya pada kelas batik cetak (print) yang segmentasinya paling besar dibanding dua kelas batik lainnya, yaitu batik tulis dan batik cap. ...  Batik cap, dengan keunggulan produksi yang lebih banyak karena efisiensi pengurangan jam kerja, dinilai berkurang sentuhan manusiawinya (human touch), relatif tidak terlalu terganggu oleh ACFTA.


...Kalaupun mau melindungi batik dalam kerangka perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) sesuai mekanisme dalam WTO yaitu TRIPS (Trade Related Intellectual Property Rights), yang bisa dipatenkan adalah teknik pembuatan batik khas Indonesia, misalnya canting, bahan-bahan dan proses lorot yang digunakan para pembatik Indonesia.


...Dalam sejarahnya, pembagian motif ini bisa jadi didasarkan pada politik kerajaan untuk menandai wilayah kekuasaannya, dari pusat kekuasaan, daerah pinggiran, hingga daerah luar yang dianggap para penduduknya berpakaian minim hingga telanjang. ...  Saat ini Kementerian Perindustrian telah melakukan langkah positif dengan memberi label &ldquo;batik mark&rdquo; untuk membedakan produk batik dalam negeri dengan batik luar negeri, tetapi kebijakan nasionalistik ini tidak akan efektif tanpa upaya mensiasati dengan melakukan mekanisme non-tariff barrier. 

...Dalam kasus industri kayu ukiran Jepara, seringkali finishing dilakukan di tengah-tengah istirahat kerja bertani di sawah, dan sesudah selesai tinggal diserahkan ke galeri untuk mendapat imbalan sejumlah uang. 


...Mengkritisi pendapat Revitriyoso yang lebih menyasar pada pasar eksklusif kalangan ekspatriat yang berani membayar mahal untuk produk-produk batik, Direktur Yayasan Interseksi Hikmat Budiman mempertanyakan bagaimana dengan pasar kelas bawah yang dikuasai Cina. ...  Persaingan paling keras justru terjadi di tingkat produk-produk batik pada kisaran harga lima puluh ribu rupiah yang mengancam sentra-sentra industri batik seperti di Pekalongan.   Produk-produk Cina sendiri tidak semuanya buruk, banyak yang dibuat dengan tingkat kehalusan produksi karena sudah distandarkan dengan mesin-mesin pabrik. 

...Bagi Revitiriyoso, dirinya bersama para penggiat batik lebih bersifat mendorong orang-orang untuk berlatih menciptakan motif dan mempelajari teknik pembuatan batik, tidak bergerak pada lini produksi.   Menyoal rendahnya pemahaman masyarakat terhadap proses craft yang susah-payah, peneliti CSIS (Center for Strategic and International Studies) Nico Harjanto lebih menekankan pada kekuatan &ldquo;ciri khas&rdquo; yang dimiliki oleh produsen-produsen tertentu dalam menarik konsumen. 
]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi Dua-Bulanan: Batik Melawan Perdagangan Bebas</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>BIMONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2011-08-12T18:32:43+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/batik_vs_pasar.php#unique-entry-id-50</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/batik_vs_pasar.php#unique-entry-id-50</guid><content:encoded><![CDATA[Kesepakatan ini akan membuka pasar bebas terbesar di dunia, mencakup 1,9 miliar penduduk.   Banyak pihak menengarai, agresifnya China untuk mendesakkan ACFTA karena imbas krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat dan Eropa.   Untuk mengalihkan pasar bagi produk-produknya, China melirik ASEAN yang penduduknya berjumlah sekitar 600 juta jiwa, jumlah yang sangat menggiurkan dan letaknya yang strategis di selatan China.


Dalam praktiknya, realisasi perdagangan antara negara-negara ASEAN dengan China bersifat asimetris, artinya tidak seimbang antara kedua belah pihak.   China lebih banyak diuntungkan, mengingat selama beberapa dekade terakhir industri manufaktur di China sedang tumbuh sangat pesat, sementara ASEAN masih berjuang untuk melepaskan diri dari dampak krisis ekonomi 1997.   Kesepakatan ACFTA hanya melegitimasi banjirnya impor secara ilegal produk-produk China yang sudah berlangsung bertahun-tahun sebelumnya.


Segera sesudah ACFTA dinyatakan berlaku, gelombang penolakan datang dari para pengusaha dan serikat-serikat buruh yang merasa terancam. ...  Kalangan pengusaha berusaha menekan pemerintah, dalam hal ini Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, untuk melakukan renegosiasi terhadap sejumlah pos tariff dalam ACFTA.   Para wakil rakyat di DPR pun terlibat dengan membentuk Panja Daya Saing untuk mempersiapkan langkah-langkah antisipasi, tidak saja terhadap ACFTA, tetapi juga terhadap kesepakatan-kesepakatan serupa seperti dengan India (AIFTA) dan Australia-Selandia Baru (AANZFTA).


Salah satu yang menjadi keprihatinan adalah ancaman terhadap industri batik, yang menjadi ciri khas Indonesia dan telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.   Membanjirnya tekstil bermotif batik dari China mengancam sentra-sentra industri batik di Pekalongan dan Solo.   Namun para pengusaha batik merasa optimis dapat bersaing dengan produk serupa dari China.   Batik China memang besar dalam volume perdagangan, tetapi coraknya sedikit, sementara batik lokal unggul dalam kekayaan motif.   Tetapi tidak menutup kemungkinan China akan melakukan variasi terhadap motif-motif batik untuk menyesuaikan dengan kompetitor lokal.


Untuk mendiskusikan dampak kesepakatan perdagangan bebas (free trade agreement / FTA) terhadap industri nasional khususnya batik, Yayasan Interseksi mengadakan Diskusi Dwibulanan dengan menghadirkan pembicara seorang pemerhati budaya dan juga aktivis anti-globalisasi, Revitriyoso Husodo.   Selain aktif di lembaga Institute for Global Justice (IGJ), beliau juga mendirikan Perkumpulan Budaya Bumi Bagus yang mengangkat isu budaya dalam upaya menyelamatkan kekayaan budaya Indonesia dalam upaya peningkatan daya saing menghadapi dampak globalisasi. ]]></content:encoded></item><item><title>Kritik Operasi Pemberatasan Terorisme</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-07-04T09:55:59+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/berantas_teroris.php#unique-entry-id-49</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/berantas_teroris.php#unique-entry-id-49</guid><content:encoded><![CDATA[Andre Taufik, Direktur Riset dari Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) yang hadir mewakili Direktur Eksekutif YPP, Noor Huda Ismail, yang berhalangan hadir, mengawali diskusi pada siang hari tersebut dengan membuka sejumlah data tentang jumlah korban salah tangkap atau terduga teroris yang meninggal ketika operasi penyergapan dilakukan oleh pihak Polri.   Digaris bawahi oleh Taufik, dalam operasi kontraterorisme selama ini, meskipun Polri telah berhasil menangkap sejumlah pelaku dan terduga teror seperti trio bom bali (yang pada akhirnya setelah menjalani proses persidangan dijatuhi hukuman mati) namun aksi terorisme selalu terjadi dan terus berulang.   Bahkan, Taufik mencatat bahwa operasi dari Polisi mengalami kemunduran dibandingkan ketika pengungkapan kasus terorisme oleh Satgas Bom (yang dibentuk pasca Bom Bali I) dibandingkan yang ditangani oleh Detasemen 88 dimana justru sejumlah mata rantai yang penting dalam link jejaring teror malah hilang dengan tewasnya terduga teroris.


...Berdasarkan data yang diolah oleh YPP, opsi when to shoot lebih dominan akhir-akhir ini, jadi kita hanya melihat penindakan atau operasi penyergapan yang dilakukan oleh aparat detasemen 88 misalnya banyak mendapatkan kritik dari masyarakat dikarenakan sifatnya terlalu dramatik namun justru meninggalkan alat bukti yang penting dikarenakan sejumlah terduga teroris seperti doktor Azahari, Ibrohim, atau bahkan sekaliber Noordin Mohd Top yang disebut-sebut sebagai yang memegang sejumlah data dan jejaring terror di Indonesia justu tewas ketika terjadi operasi peenyergapan tersebut. 


...Agresifitas Polri dalam menembak mati terduga teroris justru akan menciptakan lingkaran dendam yang tidak berujung, dimana sejumlah operasi penindakan yang dilakukan oleh Polisi justru bukanya memperlemah sel-sel terorisme, namun justru militansi yang makin menguat dan terjadinya tindakan balas dendam yang dilakukan oleh para pelaku teror terhadap petugas di lapangan. 

...Sebagai anggota Komisi I (informasi, pertahanan, & luar negeri) yang juga merancang draft RUU Intelijen Negara, Hasanudin menilai bahwa apakah cukup data intelijen sebagai barang bukti yang akan dipergunakan sebagai alat bukti di pengadilan. 

...BNPT dalam usulan undang-undang no 15 bukan hanya sekedar koordinator maupun sharing informasi sensitive terkait issue terorisme belaka namun BNPT memiliki kewenangan dalam bidang penindakan, termasuk penangkapan tersangka oleh petugas BNPT di lapangan.   Selain itu, BNPT yang nantinya kedepan akan dipimpin oleh pejabat berkualifikasi jenderal bintang dua atau yang sudah purnawirawan ini berhak untuk mengatur pola operasi penindakan/penyergapan di lapangan yang mana akan melibatkan sejumlah elite pasukan khusus anti teror yang terkemuka di negeri ini seperti Satuan 81 Kopassus TNI AD, Detasemen Jala Mangkara Marinir TNI AL, Detasemen 90 Bravo Paskhas TNI AU, dan tidak kalah penting Detasemen 88 Mabes Polri.


...Misal seperti mengawasi lalu-lintas imigrasi untuk mencegah aktor-aktor pelaku terorisme masuk ke Indonesia,  selain itu juga melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap mobilisasi barang-barang yang berbahaya seperti bubuk mesiu, detonator, maupun racun sianida yang mungkin dapat dijadikan alternatif oleh pelaku teror untuk menjalankan aksinya. ...  Sedangkan untuk melakukan pendekatan preventif mungkin bisa lebih mengoptimalkan peran petugas di lapangan di luar satuan anti teror untuk melakukan pembinaan dan penggalangan di masyarakat, yang mana buat tugas seperti itu dapat saja dilakukan oleh petugas berseragam seperti Samapta untuk menjaga ketentraman di masyarakat, juga dapat lebih fokus dalam program pemolisian masyarakat (policing community) yang perannya dapat dijalankan oleh petugas dari intelijen Polri dan unit Reserse.


...Criminal justice system yang dipilih oleh Indonesia (dengan berbagai kadar dan kritik terhadap praktiknya) bagaimanapun tetap yang lebih baik dibandingkan menggunakan pendekatan milter (military approach) terhadap terorisme yang menempatkan negara sebagai arcana-imperiii (kerahasiaan negara adalah absolut; oleh karena itu proses penangkapan terhadap pelaku terorisme sangat gelap dan tidak dapat diunkap ke publik). 

...Misalnya dalam menembak mati terduga teroris, publik tidak dapat memperoleh banyak informasi mengapa harus ditembak mati (deadly shoot) karena hal tersebut masuk dalam ranah kewenangan khusus (diskresi) yang dimiliki oleh Polisi.   Yang muncul ke publik adalah, tiba-tiba terjadi oeprasi penggerebegan di sebuah tempat kemudian sejumlah terduga teroris berhasil dilumpuhkan (dimatikan) dan barang bukti sejumlah senjata atau bahan peledak yang dianggap beresiko mengancam keselamatan petugas di lapangan ditemukan. 

...Potensi ancaman terhadap hak-hak dan kebebasan dasar akibat penggunaan kekuasaan terdapat pada pasal yang menyatakan untuk kepentingan penyidikan dan penuntutan, penyidik diberikan wewenang untuk melakukan penangkapan terhadap setiap orang yang diduga keras melakukan tindak pidanan terorisme berdasarkan bukti permulaan yang cukup paling lama 7 X 24 jam. 

...Peran militer, bagaimanapun harus diatur berdasarkan undang-undang dan perintah presiden untuk kasus-kasus yang spesifik berdasarkan persetujuan DPR (Pasal 7 UU No 34 tahun 2009 tentng Operasi militer selain perang yang di-conduct oleh Tentara Nasional Indonesia).   Meski memungkinkan pemberantasan terorisme dikategorikan sebagai operasi militer selain perang, operasi tersebut harus dilakukan secara hati-hati karena dapat memperlebar pelouang ancaman terhadap hak-hak dan kebebasan sipil akibat sifat dasar TNI sebagai alat perag, bukan alat penegakan hukum.
]]></content:encoded></item><item><title>Dari Workshop Persiapan Riset Kota-kota di Sumatra</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><category>WORKSHOP</category><category>RESEARCH</category><dc:date>2011-05-21T20:12:59+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/riset_demo_citizen.php#unique-entry-id-45</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/riset_demo_citizen.php#unique-entry-id-45</guid><content:encoded><![CDATA[Penelitian ini akan dilakukan di enam kota/kabupaten di Sumatera, yaitu Sigli atau Kabupaten Pidie (Aceh), Binjai (Sumatera Utara), Bukittinggi (Sumatera Barat), Bagansiapiapi (Kabupaten Rokan Hilir, Riau), Batanghari (Jambi) dan Prabumulih (Sumatera Selatan).


...Ada tujuh poin yang harus ditemukan pada masing-masing kota yang diteliti, yaitu setting lokasi, profil sosial ekonomi masyarakat, peta relasi antar-kelompok sosial, riwayat pemilu pasca-Orde Baru, riwayat konflik dan pemecahannya, aspek-aspek kewarganegaraan khususnya pencarian cara hidup bersama, dan kebijakan negara di tingkat lokal. 

...Selain menggambarkan aspek visual kota, juga akan diteliti bagaimana akses kelompok-kelompok masyarakat pada fasilitas publik yang diselenggarakan oleh negara, peta persebaran kelompok dalam ruang kota, dan tingkat kerawanan (vulnerabilities) yang dialami oleh kelompok-kelompok non-dominan, misalnya etnis Cina atau kaum perempuan. 

...Peneliti lain seperti Kusnadi (2007) melihat problem kelas dan kemiskinan mendorong konflik nelayan di Jawa dengan kasus nelayan Pasuruan, Cilacap, Selat Madura dan Pantura Jawa, sedang Arif Satria (2009) menjelaskan tentang tipologi konflik nelayan sebagai sebuah perjuangan dalam memperebutkan sumber-sumber daya.   Dua hal dicatat oleh Hikmat, yaitu apakah penelitian ini akan mencari konteks serupa di Bagansiapiapi, dan orientasi hidup warga Bagansiapiapi tentang identitas ke-Cina-annya, bukan sekadar meneliti tentang world view atau sikap mental etnis Cina Bagansiapiapi. 

...Firdaus mengaku cukup kesulitan menemukan tinjauan pustaka mengenai Kota Binjai, hanya menemukan sejumlah hasil penelitian pada Pascasarjana USU (Universitas Sumatera Utara) Medan mengenai hukum waris bagi Muslim Karo (2001) dan penerapan hak-hak anak (2005), sebuah artikel di Jurnal Ilmiah Pendidikan Tinggi (2008) tentang pelayanan keluarga berencana (KB), dan penelitian tentang implementasi good governance yang dilakukan oleh Yayasan Mitra Publisindo (2006).   Hikmat mengkritisi kurang spesifiknya tema yang diangkat karena setiap kota pada dasarnya multikultural, tetapi bisa diperbaiki dengan memfokuskan pada aspek relasinya dengan Kabupaten Langkat dan posisi Binjai sebagai kota transit dari Aceh menuju Medan yang sedang bergerak menjadi kota metropolitan.   Menganalogikan dengan kasus pemekaran Tapanuli Utara, apakah kasus serupa terjadi di Binjai, di mana elite-elite yang kalah dalam perebutan posisi di Medan kemudian menjadikan Binjai sebagai arena pertarungan lokal, dengan menonjolkan perbedaan identitas yang tertindas selama Orde Baru?


Pada hari kedua workshop, Kristina Viri mempresentasikan rancangan penelitiannya bertema &ldquo;Dinamika Hubungan Antar-Kelompok Etnis dan Agama dalama Perolehan Hak Dasar, Politik Perbatasan serta Formalisasi ABS-SBK (Adat Basandi Syara&rsquo;, Syara&rsquo; Basandi Kitabullah) di Kota Bukittinggi&rdquo;. ...  Hikmat melihat tema yang diajukan agak sulit untuk menyambungkan antara isu ABS-SBK, konflik perbatasan antara Kota Bukittinggi yang ingin memasukkan Nagari Koto Gadang yang termasuk dalam Kabupaten Agam ke dalam wilayahnya, dan komuter warga Agam yang melakukan aktivitas ekonomi di Bukittinggi. 

...Terhadap rancangan penelitian yang disajikan oleh Sudiarto bertema &ldquo;Hubungan Antara Tradisi Merantau Orang Pidie dengan Kehidupan Ekonomi, Pelayanan Publik dan Kesadaran Berwarganegara di Kabupaten Pidie&rdquo;, Hikmat menekankan bahwa penelitian ini akan lebih bersifat kualitatif, tapi judul &ldquo;hubungan&rdquo; dan rumusan persoalan yang diajukan Sudiarto cenderung mengarah pada penggunaan metode survei untuk mencari relasi antara variabel dependen dan variabel independen. 

...Dalam diskusi mengemuka bahwa ekonomi Prabumulih ditopang oleh keberadaan pengolahan minyak Pertamina yang menempati nomor satu pendapatan asli daerah (PAD), sehingga tidak aneh bahwa industri yang padat modal itu tidak membutuhkan tenaga-tenaga kerja lokal yang dianggap kurang terampil. 

...Selain sesi rancangan penelitian, Dirmawan Hatta mempresentasikan rencana pembuatan film dokumenter tentang Bagansiapiapi, dengan menyorot keberadaan populasi etnis Cina yang signifikan di kota itu serta pamor Bagansiapiapi yang pernah menyandang sebagai pelabuhan perikanan terbesar kedua setelah Norwegia. 

...Riwanto membandingkan antara Indonesia dengan negara-negara seperti Singapura, Malaysia dan Amerika Serikat dalam memandang isu kewarganegaraan, mengapa di Indonesia isu ini tidak menjadi persoalan penting?   Jika di Malaysia banyak orang asal Indonesia yang berusaha untuk menjadi Melayu agar bisa mendapat kewarganegaraan Malaysia, di Indonesia kita otomatis menjadi warga negara Indonesia, kecuali orang-orang keturunan Cina dan India, tapi tidak dengan keturunan Arab yang menganut Islam, agama mayoritas di Indonesia. ...  Dengan tidak pentingnya isu kewarganegaraan di Indonesia, apakah ini mencerminkan sense of citizenship kita yang rendah, terkait dengan rendahnya partisipasi politik setelah era otonomi daerah yang lebih mengandalkan pada mobilisasi massa oleh elite-elite politik. ]]></content:encoded></item><item><title>Mari Mengubah Jakarta&#x21;</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>BIMONTHLY DISCUSSION</category><category>REPORT</category><dc:date>2011-05-21T20:10:16+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/mengubah_jakarta.php#unique-entry-id-44</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/mengubah_jakarta.php#unique-entry-id-44</guid><content:encoded><![CDATA[Memang ketiga masalah tersebut sepertinya selalu melekat sebagai permasalahan yang dihadapi oleh kota yang berpredikat sebagai ibukota di beberapa negara seperti Tokyo, Hongkong, Bangkok, dan Singapura.


Warga Jakarta, yang selama ini menjadi objek kebijkan Pemda DKI (Pemerintah Daerah), sudah selayaknya terbantu dengan peraturan-peraturan dan pembangunan sarana kota. 

...Pembangunan sarana seperti Jalan Layang Non Tol (JLNT), selain menambah macet ruas-ruas jalan di ibu kota, secara tidak langsung mendorong orang untuk terus membeli dan tetap menggunakan kendaraan pribadi.


...Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah seakan tidak sanggup menahan gempuran para pemodal besar yang ingin menyulap Jakarta menjadi kota megapolitan tanpa memikirkan dampak-dampak buruk hasil pembangunan tersebut.


...Korupsi juga masih menjadi penyakit akut turun-temurun serta pembangunan prasarana selalu tidak tepat waktu karena ketidakmampuan organisasional dan rendahnya kemampuan antisipasi proaktif oleh birokrasi terkait.


...Hal ini ditandai pada sepuluh tahun terakhir dimana terjadi peningkatan pengetahuan dan pewacanaan khalayak tentang apa yang baik dan seharusnya dilakukan untuk kemajuan Jakarta. 

...Melihat segala persoalan yang dihadapi Jakarta, Marco Kusumawijaya (Direktur Rujak Center for Urban Studies) yang menjadi pembicara pada diskusi menyampaikan bahwa, perlu adanya langkah-langkah konkret antara lain dengan meningkatkan Radikalisasi Do-it-Yourself, Radikalisasi Advokasi, dan Radikalisasi Demokrasi (terwujudnya Participatory/Deliberative Democracy).


Tanpa menunggu instruksi pemerintah, warga Jakarta secara mandiri dapat mengadakan perbaikan-perbaikan sikap baik yang bersifat individual maupun kolektif masyarakat dalam rangka transisi ke abad ekologis.   Partisipasi warga juga diharapkan tidak cukup hanya lima tahun sekali saat memilih pemimpin mereka dan sekadar menyampaikan aspirasi, namun juga disarankan terlibat aktif pada perumusan rencana kerja serta implementasinya.


Pada sesi tanya jawab, Selwa Kumar, menyampaikan bahwa perlunya masyarakat membuat semacam APBD tandingan sebagai alat kontrol semua pengeluaran Pemda agar berjalan efektif dan tepat sasaran sesuai dengan rancangan program yang telah disepakati bersama.   Ibu Ning Purnomo, mantan dosen pasca UI yang juga aktivis lingkungan, sekarang aktif di GBCI, mengeluhkan pencemaran logam berat timbal hasil pembakaran mesin kendaraan yang bisa merusak kesehatan  manusia, khususnya anak-anak.


...Saat ini sudah cukup banyak warga yang aware tentang kondisi lingkungannya, mereka berusaha menyampaikan aspirasi, namun seringkali aspirasi mereka tidak sampai kepada para pengambil kebijkan dan pada akhirnya hanya menjadi angin lalu.   Dalam hal ini, Direktur Yayasan Interseksi Jakarta, Hikmat Budiman, memberi tekanan pada konsep tentang warga negara yang aktif (active citizen), yang harus ikut menentukan nasib Jakarta.   Meskipun saat ini telah cukup banyak upaya warga untuk memberi tekanan kepada pemerintah Jakarta, tapi upaya-upaya tersebut cenderung masih berjalan sendiri-sendiri.   Sekian banyak kanal penyaluran aspirasi warga, dengan demikian, membutuhkan upaya lain, yakni agregasi kepentingan warga Jakarta sehingga desakannya bisa lebih kuat dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. 


Pada akhir diskusi, Marco Kusumawijaya kembali mengingatkan, bahwasannya masalah di Jakarta sudah jelas, pertanyaan yang muncul kemudian adalah &ldquo;Bukan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki Jakarta, akan tetapi bagaimana cara kita untuk mengubah Jakarta menjadi lebih baik untuk kehidupan anak cucu kita dimasa mendatang?&rdquo;
]]></content:encoded></item><item><title>Dari Workshop Latihan Penulisan Laporan</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><category>RESEARCH TRAINING</category><dc:date>2011-05-09T09:59:29+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/workshop_laporan.php#unique-entry-id-43</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/workshop_laporan.php#unique-entry-id-43</guid><content:encoded><![CDATA[Dalam sesi brainstorming, Direktur Yayasan Interseksi, Hikmat Budiman, memberi apresiasi kepada para peserta yang masih mempertahankan integritasnya, dan berani mempertanggungjawabkan secara ilmiah temuan-temuan dalam penelitian yang sudah dikerjakan. 

...Membandingkan dengan kasus-kasus pertambangan seperti di Ombilin (Sumatera Barat) dan Pati (Semen Gresik), Idris menemukan tidak adanya konflik terbuka antara masyarakat dan PT Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep (Sulawesi Selatan). ...  Tidak ada aksi protes apapun terarah pada keberadaan Semen Tonasa, sebaliknya pihak Semen Tonasa gencar mengucurkan dana pinjaman modal serta pelatihan komputer dalam kerangka CSR (corporate social responsibility), serta membangun sejumlah fasilitas publik seperti sekolah dari SD sampai SMA dan GOR (gedung olahraga). ...  Dari uraian yang disampaikan Idris, bagi Hikmat jangan-jangan apa-apa yang diberikan Semen Tonasa sedikit-banyak memberikan banyak manfaat kepada warga meskipun tidak ada upaya untuk menghapus kemiskinan, sehingga lebih besar risiko bagi warga untuk memrotes keberadaan Semen Tonasa. 


...Sekolah dasar (SD) Renokenongo 1 yang menjadi fokus penelitian kehilangan masa lalunya sebagai sekolah favorit setelah gedung sekolahnya tenggelam oleh lumpur Lapindo, hanya menyisakan enam siswa kelas VI yang kini ditampung di ruang perpustakaan SD Negeri Glagaharum. 

...Aly Taufiq dalam laporan penelitiannya berjudul &ldquo;Survival Strategy Masyarakat Cina Benteng di tengah Himpitan Ekonomi dan Diskriminasi&rdquo; menemukan kuatnya faktor budaya yang dipertahankan oleh warga Cina Benteng, khususnya yang berada di bantaran Sungai Cisadane, Kampung Tangga Asam, Kelurahan Mekarsari, Kota Tangerang. ...  Hikmat juga mempertanyakan faktor dari luar, sebab penjelasan internal tentang tidak adanya budaya merantau tidak bisa menjawab pertanyaan mengapa warga Cina Benteng merasa nyaman, seperti berada dalam comfort zone. 

...Paling unik, Basrie dari People&rsquo;s Crisis Center (PCC) Aceh, dalam laporan penelitiannya berjudul &ldquo;Distorsi Peran Panglima Uteun di Era Pemerintah Aceh setelah Dikeluarkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 1984&rdquo; tidak bisa menjawab rumusan masalahnya sendiri karena setelah dicari ke mana-mana ternyata panglima uteun sudah tidak ada lagi. 

...Peserta dari IRSAD (Institute for Religion and Sustainable Development) Padang, Mega Nofria mempresentasikan penelitiannya berjudul &ldquo;Peran Perempuan Minangkabau dalam Kehidupan Ekonomi Keluarga di tengah Budaya Matrilineal: Studi Kasus Pedagang Perempuan Pasar Raya Padang&rdquo;.   Faktor ekonomi menjadi pendorong terkuat mengapa perempuan Minangkabau berdagang di pasar, yaitu karena suami tidak bekerja, atau suami bekerja tetapi penghasilan tidak mencukupi kebutuhan keluarga, atau kondisi suami tidak memiliki pekerjaan tetap. 

...Peneliti dari Interseksi, Indriani Widiastuti atau akrab dipanggil Dindie menyajikan laporan berjudul &ldquo;Seni di Ruang Publik: Studi Kasus Aksi Toleransi terhadap Perbedaan melalui Gerakan Seni &lsquo;Berbeda dan Merdeka 100%&rsquo;&rdquo;, dengan menampilkan sejumlah foto-foto mural dan media street art lainnya di sepanjang koridor jalan tol dalam kota Gatot Soebroto, Jakarta, dari tugu Pancoran hingga Plaza Semanggi. 

...Terakhir, Firdaus dari PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Indonesia) Sumatera Barat memaparkan laporannya berjudul &ldquo;Studi Perlawanan Pedagang Korban Bencana Gempa Terhadap Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasar Raya Padang Pasca Bencana Gempa 30 September 2009&rdquo;.   Daus mencatat ada tiga faktor yang mendorong terjadinya protes para pedagang pasar, yaitu pembangunan kios darurat tanpa sosialisasi, jumlah kios darurat yang melebihi kapasitas untuk relokasi korban bencana, dan tertutupnya akses jalan ke Pasar Inpres II, III dan IV akibat pembangunan kios darurat. 

...Setelah semua peserta mempresentasikan laporannya hingga pertengahan hari kedua, acara diisi dengan materi &ldquo;Standar Bahasa Indonesia dalam Penulisan Akademik&rdquo; yang dibawakan oleh Ngarto Februana, saat ini menjabat sebagai redaktur Koran Tempo, staf ahli riset Pusat Data dan Analisis Tempo (PDAT) dan penulis Indonesian Financial Review, sisipan pada Majalah Tempo. 

...Taufiq masih harus turun kembali ke lapangan karena masih minim data yang diperlukan untuk menjawab tema penelitiannya mengenai strategi sintasan (survival) masyarakat Cina Benteng. ...  Beberapa catatan misalnya Azzah yang masih kurang menjelaskan tentang apa saja yang dikerjakan oleh LSM-LSM yang melakukan kegiatan advokasi bencana lumpur Lapindo, dan Mega yang langsung menukik pada kesimpulan dalam setiap bagian penulisan. ]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Persiapan Penelitian Kota-kota di Sumatra</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>WORKSHOP</category><category>RESEARCH</category><dc:date>2011-05-08T21:49:06+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/kota_sumatra.php#unique-entry-id-42</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/kota_sumatra.php#unique-entry-id-42</guid><content:encoded><![CDATA[<center></center>


Setelah rangkaian rapat persiapan untuk menyiapkan desain penelitian, Yayasan Interseksi akan mengadakan Workshop Penelitian tentang Kota-kota di Sumatra pada tanggal 9-10 Mei bertempat di Wisma Hijau, Cimanggsi, Depok, Jawa Barat.   Dalam workshop ini, tim peneliti akan mempresentasikan dan mendiskusikan desain penelitian mengenai praktik demokrasi dan kewarganegaraan pada level kota/kabupaten di enam provinsi di Sumatera.   Kota-kota tersebut adalah Sigli atau Kabupaten Pidie (Aceh), Binjai (Sumatera Utara), Bukittinggi (Sumatera Barat), Bagansiapiapi (Riau), Batanghari (Jambi) dan Prabumulih (Sumatera Selatan).   Selain penelitian, Interseksi juga akan melakukan produksi film dokumenter di salah satu lokasi penelitian, yakni di Bagansiapiapi (Riau).


Aspek-aspek yang akan diteliti tiap kota mencakup peta relasi antarkelompok, riwayat konflik, potensi konflik sumber daya alam dan kebijakan negara lokal dalam konteks layanan publik dalam pengelolaan cara hidup bersama antar warga negara di masing-masing wilayah.   Dimensi kewarganegaraan mencakup keterlibatan warga terhadap isu-isu publik, penghormatan terhadap hukum dan perbedaan, dan rintangan-rintangan apa yang menghambat warga negara dalam berpartisipasi. 


Sebagai pengantar, pada hari pertama akan ada materi tentang &ldquo;Demokrasi dan Demografi&rdquo; disajikan oleh Dr.   Riwanto Tirtosudarmo dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PMB-LIPI).   Ti m peneliti yang terlibat adalah Sudiarto,  Indriani Widiastuti, Muhammad Subhi (Wahid Institute), Kristina Viri (ANBTI), Firdaus (PBHI Sumatera Barat),  Radjimo Sastrowiyono, dan Hikmat Budiman.   Tim produksi film dokumenter dikoordinir oleh Dirmawan Hatta. ]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Penulisan Laporan</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>RESEARCH TRAINING</category><category>WORKSHOP</category><dc:date>2011-05-02T22:30:17+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/workshop_report.php#unique-entry-id-41</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/workshop_report.php#unique-entry-id-41</guid><content:encoded><![CDATA[Setelah mengikuti Workshop Persiapan Pelatihan (22-25 Februari 2011), Praktek Penelitian Lapangan (1-31 Maret 2011) dan Penulisan Laporan (1-26 April 2011), sebagai tahap selanjutnya dari Program Pelatihan Penelitian Demokrasi dan Diversitas Kultural Angkatan III Tahun 2011, Yayasan Interseksi akan mengadakan Workshop Penulisan Laporan Penelitian pada tanggal 3-5 Mei 2011, bertempat di GG House Happy Valley, kawasan Gadog, Bogor, Jawa Barat.   Dalam sesi-sesi Workshop, Laporan Penelitian yang disusun oleh masing-masing peserta program akan dipresentasikan untuk dibahas dan diperbaiki. 


...Peserta workshop juga akan mengikuti sesi materi Standar Bahasa Indonesia dalam Penulisan Akademik yang disampaikan oleh Ngarto Februana (Tempo Interaktif). 

...Selesai Workshop, peserta akan diberi kesempatan untuk Perbaikan Naskah Laporan Penelitian sampai tanggal 5 Juni 2011 sebelum penyuntingan untuk keperluan publikasi. 


...Sebelum mengikuti Workshop, seluruh peserta terpilih Program Pelatihan Penelitian Demokrasi dan Diversitas Kultural Angkatan III Tahun 2011 diharapkan memperhatikan hal-hal berikut: 


...<li>Pastikan bahwa Anda sudah tiba di Jakarta paling lambat 22 Februari 2011 pagi dan berkumpul di kantor Yayasan Interseksi pukul 09:00 WIB untuk berangkat bersama panitia menuju lokasi. ...  Jika Anda berangkat sendiri menuju lokasi, rute menuju lokasi Workshop bisa dilihat di peta berikut.   Sebagai catatan, agenda Workshop adalah bagian integral dari keseluruhan program yang wajib diikuti dari awal sampai akhir.


<li>Untuk memudahkan administrasi penggantian biaya, pastikan bahwa Anda membawa Invoice atau bukti pembelian tiket, dan tiket serta Boarding Pass yang sudah Anda gunakan dan menyerahkannya kepada panitia. 


...<li>Jika Anda membutuhkan obat tertentu, pastikan Anda membawanya dan, kalau mungkin, membawa salinan rujukan dokter tentang obat tersebut. 


...<li>Jika Anda mengikuti pola diet makanan tertentu, pastikan bahwa Anda telah memberitahukan kepada panitia 


...Naik Damri (Angkutan Khusus Bandara) jurusan ke Pasar Minggu (tiket Rp 20.000), turun di Pasar Minggu, ganti Metro Mini 75 (minibus warna merah) jurusan Pasar Minggu-Blok M atau angkot mikrolet 04 (warna putih-coklat) jurusan Pasar Minggu-Depok (ongkos Rp 2.000) arah ke Depok, turun di perlintasan kereta api Poltangan (seberang Kompleks AL Rawa Bambu), jalan kaki menyeberang rel &not;&dagger;kereta api ke Kompleks BATAN (ada Taman Kanak-kanak BATAN).

...Naik bajaj ke Stasiun Juanda atau Stasiun Gondangdia (ongkos Rp 5.000), naik KRL Jabotabek kelas AC Ekonomi jurusan Bogor atau Depok (tiket Rp 5.500), turun di Stasiun Tanjung Barat, naik angkot mikrolet 04 (warna putih-coklat) jurusan Pasar Minggu-Depok (ongkos Rp 2.000) arah ke Pasar Minggu, turun di depan Kompleks BATAN (ada Taman Kanak-kanak BATAN).

<li>Dari depan Kompleks BATAN masuk sekitar 200 meter ke dalam, belok kanan, sebelum Masjid / Sekretariat RT / Lapangan Voli, rumah Blok E-17. 

<li>Kalau Anda menggunakan Taxi Anda hanya tinggal meminta diantarkan ke lokasi kantor Interseksi kepada pengemudi. 

...Kompleks BATAN Blok E/17 Pasar Minggu Jakarta Selatan 12520]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi Dwi Bulanan: Active Citizenship</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>BIMONTHLY DISCUSSION</category><category>REPORT</category><dc:date>2011-04-23T19:25:14+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/active_citizenship.php#unique-entry-id-39</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/active_citizenship.php#unique-entry-id-39</guid><content:encoded><![CDATA[Dalam keadaan tak ada perlindungan dari Negara, Prita pun berpaling kepada publik, yang saat itu sedang gandrung dengan teknologi baru social media.   Didukung oleh kalangan blogger yang menentang penggunaan pasal-pasal Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) dalam kasus tersebut, aksi Koin untuk Prita mengguncang kesadaran kewarganegaraan. ...  Sebuah bentuk active citizenship mampu menerobos kebuntuan strategi klasik idealisme perjuangan HAM (hak asasi manusia) yang seringkali dikalahkan oleh prosedur hukum formal kenegaraan. 


...Memulai diskusi dengan mengungkap kebijakan Paus Pius IX pada tahun 1864 mengeluarkan Sylabus of Error, yang menganggap bid&rsquo;ah paham-paham seperti naturalisme dan rasionalisme, Andi membandingkannya dengan fatwa sesat MUI (Majelis Ulama Indonesia) terhadap paham sekularisme, liberalisme, dan pluralisme pada tahun 2005. ...  Kasus serupa juga ada pada Katolisisime yang mengklaim membawa pesan-pesan damai, tapi pada kenyataannya tidak terlepas dari muatan-muatan ekonomi dan politik. ...  Pada masa pendudukan Jepang, guna meraih dukungan dari kalangan ulama, Jepang membentuk organisasi MIAI (Majelis Islam A&rsquo;la Indonesia) yang menjadi cikal-bakal Departemen Agama sekarang ini. 

...Persoalan serupa terjadi di lapangan, di mana kalangan konservatif berhasil melakukan mainstreaming ke pemerintahan daerah, sehingga bagi pemda isu pendirian gereja selalu dikaitkan dengan Kristenisasi, dan aliran-aliran agama dicap sebagai aliran sesat.   Kristina Viri dari ANBTI (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika) lebih jauh lagi mempertanyakan apakah saat ini kita sedang memasuki masa post-secularism, atau bisa dibilang kegagalan sekularisme. 

...Mengulas tentang gerakan HAM di Indonesia, Andi yang lama bergiat di lingkungan LSM dan funding mengungkapkan tentang Rencana Aksi Nasional (RAN-HAM) yang pernah dipromosikan sebagai &ldquo;produk dan inovasi baru&rdquo; gerakan HAM.   Dalam praktiknya, RAN-HAM yang melibatkan Kementerian Hukum dan HAM serta Komnas HAM ternyata macet di tingkat birokrasi, ditambah faktor desentralisasi, di mana banyak pemerintah daerah mempunyai kebijakan yang berbeda-beda.   Memang pada 1998, demokratisasi telah menghasilkan pengakuan terhadap hak berserikat, berkumpul dan berpendapat, tapi dalam perjalanannya HAM sebagai cita-cita politik penyelesaiannya harus membentur tembok-tembok hukum. ...  Andi menawarkan konsep active citizenship sebagai strategi perjuangan HAM, seperti dalam kasus Koin untuk Prita.


...Sekarang ditambah lagi dengan faktor media massa yang lebih banyak mengumbar pepesan kosong, menghabiskan energi untuk sesuatu yang sebetulnya kosong belaka, padahal hanya menyangkut kepentingan para politisi pemilik modal media massa yang ingin menciptakan instabilitas politik saja.   Bangunan bawah masyarakat kita cenderung rumit, persis seperti cara pandang tentang Oriental Despotism yang melihat seolah-olah bangunan atas kekuasaan begitu kokoh lalu tiba-tiba diruntuhkan. 


...Dalam tulisannya di Tempo Interaktif (12/4/2011), Andi menyoroti PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang mampu membuat alat yang efektif untuk masuk ke ranah kekuasaan, terlepas dari ideologinya dan konflik yang saat ini sedang mendera partai tersebut. 

...Meskipun relasi tersebut terkesan neoliberal, kita saat ini membutuhkan pemahaman tentang konsep citizenship: kontrak sosial apa yang kita berikan untuk entitas bernama Indonesia.]]></content:encoded></item><item><title>Di Seberang Tan Malaka: </title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><category>BIMONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2011-03-03T20:13:04+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/tan_malaka.php#unique-entry-id-38</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/tan_malaka.php#unique-entry-id-38</guid><content:encoded><![CDATA[Diskusi diadakan pada hari Kamis, 18 Februari 2011 di kantor Yayasan Interseksi, Pasar Minggu, Jakarta Selatan dengan pembicara Abi Setyo Nugroho (Sekretaris Tim Identifikasi Makam Tan Malaka).   Ia menjadikan Tan Malaka sebagai tokoh sentral dalam diskusi ini, karena Tan Malaka dinilai memiliki pemikiran lima langkah ke depan mengenai konsep-konsep ekonomi yang cocok dengan Indonesia. 

...Diskusi dimulai dengan pengantar hasil beberapa penelitian sebelumnya oleh Harry A.Poeze mengenai signifikansi Tan Malaka dalam mewujudkan kemerdekaan dalam biografi &ldquo;Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1897-1945", yang menggunakan tulisan Tan Malaka sebagai sumber utamanya. ...  Kenangan dan aksi-aksi perlawanan merupakan pandangan subjektif anakronis untuk melihat manusia yang hidup pada masa lalu.   Kini, di masa informasi membanjiri kehidupan kita, Tan Malaka bisa hadir dalam bentuk interpretasi apa saja, dalam kostum abad ke-21.


...Masyarakat Indonesia perlu melakukan revolusi dalam memandang persoalan, berpikir secara rasional dan independen, tidak lagi menganut logika mistika dalam menyelesaikan persoalan politik dan ekonomi.   Logika mistika adalah logika gaib, cara berpikir yang tidak menjelaskan apa yang terjadi dalam dunia nyata dengan mencari sebab-akibatnya, melainkan dengan mengembalikannya kepada perbuatan roh-roh di alam gaib.   Bagi Tan Malaka, logika mistika adalah ilmu tertua di dunia, dari ilmu mistik lahir filsafat dan terbagi dua : ilmu pengetahuan dan dialektika-logika. 

...Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, Tan Malaka berpendapat bahwa suatu saat kelak keajaiban akan dapat dipahami, bahwa tidak ada satupun hal yang ajaib. 

...Madilog adalah cara berpikir berdasarkan materialisme, dialektika dan logika untuk mencari akibat, yang berdiri atas bukti yang cukup banyak dan cukup praktek dan pengamatan.


Peserta mulai mengernyitkan dahi ketika penjelasan mengenai Madilog berakhir, mungkin di antara mereka masih bingung dengan konsep dialektika dan hal yang dijelaskan terasa masih mengawang. ...  Abi menyinggung sedikit tentang program yang diajukan pada Kongres Persatuan Perjuangan pada 1-5 Januari 1946 di bidang ekonomi politik. 

...Pelaksanaan ekonomi sosialisitis sesudah merdeka 100% didasarkan pada persamaan keperluan antara kekuatan-kekuatan sosial yang ada untuk memakmurkan rakyat dengan mengarahkan pada industrialisasi sehingga bisa menyesuaikan antara kebutuhan dalam negeri untuk menghidupi pegawai negara. 

...Memang, terkadang pemikiran Tan Malaka untuk masa kini terkesan begitu utopis dan terlalu kiri untuk keadaan di Indonesia saat ini.   Terutama pada poin industrialisasi, yang menurut saya, justru industrialisasilah yang membuat banyak masyarakat Indonesia tidak hidup makmur saat ini. 

...Untung saja Tan Malaka tidak hidup di zaman ini, di mana semua kegelisahan datang dan pergi hanya sekedar untuk diungkapkan, bukan dicari solusinya. ]]></content:encoded></item><item><title>Dari Workshop Pelatihan Penelitian 2011 </title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>WORKSHOP</category><category>RESEARCH TRAINING</category><category>REPORT</category><dc:date>2011-02-28T13:33:53+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/report_wrkshop2011.php#unique-entry-id-37</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/report_wrkshop2011.php#unique-entry-id-37</guid><content:encoded><![CDATA[Dari Aceh, dua orang peserta yaitu Basrie dari People&rsquo;s Crisis Center mengajukan tema tentang distorsi peran panglima uteun (panglima hutan) di era pemerintahan Aceh, sedang Muhammad Syuib Hamid, akrab dipanggil Musyu, dari Aceh Institute mengajukan tentang peran ulama Aceh dalam masa transisi politik di Aceh (2005-2010).   Dari Padang, Mega Nofria dari IRSAD (Institute for Religion and Sustainable Development), peserta paling muda, bermaksud meneliti peran perempuan Minangkabau dalam kehidupan ekonomi keluarga di tengah budaya matrilineal dengan mengambil studi kasus pedagang perempuan di Pasar Raya Padang.   Peserta lain dari Padang, Firdaus dari PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia) dengan gaya jenaka mempresentasikan tema penelitian tentang perlawanan pedagang Pasar Raya korban gempa Padang pada 2009. 

...Dindie meneliti tentang ekspresi seni di ruang publik dalam bentuk kampanye &ldquo;Berbeda dan Merdeka 100%&rdquo;, sedang Taufiq mengajukan tema tentang diskriminasi yang dialami kelompok minoritas Cina Benteng di Tangerang. 

...Mengawali sebuah penelitian memang bisa saja dari common sense (akal sehat secara umum), bahwa peran panglima uteun sebagai struktur masyarakat adat semakin tergantikan oleh struktur modern, dalam hal ini keberadaan polisi hutan. ...  Tema tentang Panglima Uteun bisa dipertajam lagi, seperti usulan Dirmawan Hatta dari Interseksi, tentang pergeseran dari peraturan pra-Indonesia ke sistem hukum Indonesia, atau ada tidaknya koeksitensi antara hukum formal dengan hukum adat. 

...Mengenai tema peran ulama dalam masa transisi politik di Aceh,  Nico mengakui bahwa Musyu tampak sangat well-informed tentang konstelasi kelompok-kelompok ulama seperti HUDA (Himpunan Ulama Dayah Aceh), Inshafuddin dan RTA (Rabithah Taliban Aceh). ...  Firdaus, peserta dari PBHI Padang, mempertanyakan asumsi Musyu bahwa kelompok HUDA memainkan peran yang sangat aktif, karena dalam kenyataannya justru kalangan nasionalis-sekuler dari GAM (Gerakan Aceh Merdeka), yaitu Irwandi Yusuf, yang memenangkan pemilihan gubernur Aceh. 

...Dalam studi kasus perlawanan pedagang korban gempa di Padang, Nico mencoba membedah anatomi korban gempa: apakah ada success story (keberhasilan) katakan dari pengusaha hotel yang bangunannya roboh, atau dari sektor petani yang juga terkena dampak gempa. ...  Jika dibilang bahwa tempat penampungan sementara yang dibangun pemerintah untuk para pedagang pasar itu over-capacity, apakah sebenarnya yang terjadi adalah insecurity (ketidaknyamanan) akibat kompetisi dengan pedagang lain sebagai underlying factor, tetapi dialihkan vertikal ke Negara, karena bisa jadi pedagang lain itu mamak-nya sendiri. 

...Karena itu Hikmat menyarankan agar kajian tentang gerakan ini dibandingkan dengan gerakan seniman yang sudah ada seperti gerakan Aku Massa dari Forum Lenteng yang justru secara konseptual lebih memberi penekanan pada "kesamaan", karena subjek (aku) adalah bagian dari kerumunan (massa).  

...Dengan literature review, peneliti mengkaji studi-studi yang sudah ada (existing studies), aspek apa yang belum dikaji atau apa kelemahan yang ada pada kajian-kajian sebelumnya, sehingga apa yang akan dijadikan subjek penelitian bisa ditempatkan ke dalam konteks pembangunan pengetahuan secara lebih luas. 


...Musyu mengerucutkan tema penelitiannya pada peran kelompok ulama HUDA dalam transisi politik di Aceh, mendasarkan pada studi yang sudah dilakukan oleh Abu Panton tentang peran ulama dayah dalam resolusi konflik sebelum perundingan Helsinki.   Basrie menggunakan tiga buku sebagai tinjauan pustaka yang menjelaskan tentang panglima laot dan pengadilan adat di Aceh, tapi belum ada kajian khusus tentang panglima uteun.   Taufiq membuat review  terhadap tiga tulisan yang sudah mengulas tentang komunitas Cina Benteng dari aspek seni, budaya, dan diskriminasi yang dialami, tetapi tidak ada satu pun yang mengkaji bagaimana upaya mereka bertahan dari diskriminasi. 

...Karena itu para peserta harus dapat menggambarkan dengan jelas kondisi hutan di Aceh dalam kasus Panglima Uteun, atau Pasar Raya Padang dalam kasus penelitian tentang perempuan dan perlawanan korban gempa. 
]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Persiapan Penelitian</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>RESEARCH TRAINING</category><category>WORKSHOP</category><dc:date>2011-02-21T14:56:38+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/training_workshop.php#unique-entry-id-36</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/training_workshop.php#unique-entry-id-36</guid><content:encoded><![CDATA[Sebagai tahapan awal dari Program Pelatihan Penelitian Demokrasi dan Diversitas Kultural Angkatan III Tahun 2011, Yayasan Interseksi akan mengadakan Workshop Pelatihan Pembuatan Rencana Penelitian yang akan diadakan pada tanggal 22-25 Februari 2011, bertempat di GG House Happy Valley, kawasan Gadog, Bogor, Jawa Barat.   Dalam sesi-sesi Workshop, draft Rancangan Penelitian yang diajukan oleh masing-masing peserta program akan dipresentasikan untuk dibahas dan diperbaiki.   Pada sesi Literatur Review dan Problem Statement, peserta akan dipandu untuk membuat tinjauan pustaka dan perumusan masalah dari draft Rancangan Penelitian yang diajukan, untuk kemudian dipresentasikan kembali.   Kemudian pada sesi terakhir, peserta akan dipandu untuk latihan membuat pertanyaan serta lembar jawaban (answer sheet) yang akan menjadi acuan selama Praktek Penelitian Lapangan.


...Sebagai pengantar, Workshop akan menghadirkan narasumber Zainal Abidin Bagir, PhD dari Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Sekolah Pasca-Sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.   Sementara selama Workshop, pembahasan draft Rancangan Penelitian dan literatur review serta latihan membuat pertanyaan dan lembar jawaban akan dipandu oleh narasumber Dr. 

...Yayasan Interseksi menyediakan fasilitas kantor sebagai tempat kerja dan koleksi buku-buku di Perpustakaan Interseksi untuk kebutuhan pendalaman kajian pustaka.


...Sebelum mengikuti Workshop, seluruh peserta terpilih Program Pelatihan Penelitian Demokrasi dan Diversitas Kultural Angkatan III Tahun 2011 diharapkan memperhatikan hal-hal berikut: 


...<li>Pastikan bahwa Anda sudah tiba di Jakarta paling lambat 22 Februari 2011 pagi dan berkumpul di kantor Yayasan Interseksi pukul 09:00 WIB untuk berangkat bersama panitia menuju lokasi. ...  Jika Anda berangkat sendiri menuju lokasi, rute menuju lokasi Workshop bisa dilihat di peta berikut. 

...<li>Untuk memudahkan administrasi penggantian biaya, pastikan bahwa Anda membawa Invoice atau bukti pembelian tiket, dan tiket serta Boarding Pass yang sudah Anda gunakan dan menyerahkannya kepada panitia. 


...<li>Untuk keperluan Praktek Penelitian Lapangan setelah Workshop, peserta akan dibagikan formulir isian Asuransi Kecelakaan selama melakukan praktek penelitian</ul>


...Naik Damri (Angkutan Khusus Bandara) jurusan ke Pasar Minggu (tiket Rp 20.000), turun di Pasar Minggu, ganti Metro Mini 75 (minibus warna merah) jurusan Pasar Minggu-Blok M atau angkot mikrolet 04 (warna putih-coklat) jurusan Pasar Minggu-Depok (ongkos Rp 2.000) arah ke Depok, turun di perlintasan kereta api Poltangan (seberang Kompleks AL Rawa Bambu), jalan kaki menyeberang rel &not;&dagger;kereta api ke Kompleks BATAN (ada Taman Kanak-kanak BATAN).

...Naik bajaj ke Stasiun Juanda atau Stasiun Gondangdia (ongkos Rp 5.000), naik KRL Jabotabek kelas AC Ekonomi jurusan Bogor atau Depok (tiket Rp 5.500), turun di Stasiun Tanjung Barat, naik angkot mikrolet 04 (warna putih-coklat) jurusan Pasar Minggu-Depok (ongkos Rp 2.000) arah ke Pasar Minggu, turun di depan Kompleks BATAN (ada Taman Kanak-kanak BATAN).

<li>Dari depan Kompleks BATAN masuk sekitar 200 meter ke dalam, belok kanan, sebelum Masjid / Sekretariat RT / Lapangan Voli, rumah Blok E-17. 

<li>Kalau Anda menggunakan Taxi Anda hanya tinggal meminta diantarkan ke lokasi kantor Interseksi kepada pengemudi. ]]></content:encoded></item><item><title>Pengumuman Seleksi Peserta Training Riset 2011</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>RESEARCH TRAINING</category><dc:date>2011-02-16T13:43:28+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/hasil_seleksi.php#unique-entry-id-35</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/hasil_seleksi.php#unique-entry-id-35</guid><content:encoded><![CDATA[Karena setiap peserta tanpa kecuali wajib mengikuti seluruh tahapan kegiatan, dan workshop pelatihan merupakan aktivitas yang sangat penting dalam rangkaian program ini, maka Sdr. 

...Sejak dibukanya rekrutmen untuk peserta Program Pelatihan Penelitian Demokrasi dan Diversitas Kultural Angkatan III Tahun 2011 pada 4 Januari hingga ditutup tanggal 10 Februari 2011 lalu, Yayasan Interseksi menerima cukup banyak aplikasi dari sejumlah lembaga, tersebar mulai dari Aceh, Padang, Medan, Makassar, Kalimantan dan Pulau Jawa. 

...Ada beberapa kriteria yang kami tetapkan untuk memilih calon peserta yang akan mengikuti program pelatihan tahun ini. ...  Karena untuk tahun ini program pelatihan dititikberatkan untuk wilayah Sumatra, Jawa, dan Makassar, kami memprioritaskan peserta dari wilayah-wilayah tersebut. ...  Seleksi tahun ini diprioritaskan untuk lembaga-lembaga yang belum pernah mengirimkan wakilnya pada program pelatihan Yayasan Interseksi tahun-tahun sebelumnya.   Beberapa lembaga yang perwakilannya sudah pernah mengikuti program pelatihan kami, dengan demikian, tidak diprioritaskan. ...  Dengan pertimbangan atas kriteria-kriteria tersebut maka berikut ini adalah nama-nama peserta yang berhasil lolos seleksi penerimaan dan berhak mengikuti pelatihan penelitian tahun 2011:

<ul><li>Muhammad Syuib Hamid (Aceh Institute), dengan tema penelitian "Peran Ulama dalam Masa Transisi Politik di Aceh Selama Periode 2005-2011"

...<li>Mega Nofria (IRSAD - Padang), dengan tema penelitian "Peran Perempuan Minangkabau dalam Kehidupan Ekonomi Keluarga di tengah Budaya Matrilineal: Studi Kasus Pedagang Perempuan Pasar Raya Padang"

<li>Firdaus (PBHI Sumatra Barat), dengan tema penelitian "Perlawanan Masyarakat terhadap Dominasi Negara: Studi Perlawanan Pedagang Korban Bencana Gempa terhadap Kebijakan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasar Raya Padang Pasca-Gempa 30 September 2009"

<li>Muhammad Idris (LAPAR Makassar), dengan tema penelitian "PT Semen Tonasa dan Nasib Warga Miskin Pangkep di tengah Sumber Daya Alam yang Melimpah"

<li>Budi Laksana (Serikat Nelayan Indonesia &ndash; Cirebon), dengan tema penelitian "Gagalnya Negara dalam Memenuhi Hak-hak Nelayan: Studi Kasus Nelayan di Kabupaten Cirebon"

...<li>Muhammad Aly Taufiq (GANDI, Jakarta) dengan teman penelitian "Diskriminasi dan Problem Kesetaraan Masyarakat Marjinal: Studi Kasus Kehidupan Kelompok Minoritas Cina Benteng di Tangerang</ul>


Yayasan Interseksi mengucapkan selamat kepada peserta yang lolos seleksi, dan terima kasih kepada semua yang sudah mengirimkan aplikasi.   Peserta yang lolos akan dihubungi via telepon atau email untuk menjelaskan teknis keberangkatan mengikuti Workshop Pelatihan Penulisan yang akan diadakan pada tanggal 22-25 Februari 2011.   Peserta diwajibkan berkumpul di kantor Yayasan Interseksi pada hari Selasa, 22 Februari 2011 pukul 09.00 untuk bersama-sama berangkat ke lokasi workshop. ]]></content:encoded></item><item><title>Artikulasi Identitas &#xd;Perempuan Pasca-Reformasi&#xd;</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-02-04T18:40:15+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/identitas_perempuan.php#unique-entry-id-34</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/identitas_perempuan.php#unique-entry-id-34</guid><content:encoded><![CDATA[Bertempat di lantai lima Gedung Widya Graha LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), pada Kamis (27/1), untuk pertama kalinya Kelompok Studi Gender dan Politik P2P (Pusat Penelitian Politik) LIPI mengadakan kegiatan berupa peluncuran buku terbitan Yayasan Desantara berjudul  Identitas Perempuan Indonesia: Status, Pergeseran Relasi Gender, dan Perjuangan Ekonomi Politik.  

...Kajian tentang teori-teori perempuan pada awalnya berangkat dari pendekatan ilmu-ilmu sosial, tetapi karena tidak dianggap serius, hanya dianggap cerita lalu saja, kemudian mengalami cultural turn, lari ke sudut pandang humaniora. 

...Melintasi tiga kali gelombang teori feminisme, para perempuan Dunia Ketiga menuding teori-teori feminis yang ada mengandung bias kelas menengah, kulit putih, dan negara-negara maju, menafikan kondisi perempuan di Dunia Ketiga yang punya permasalahan sendiri. 

...Enam tulisan dalam buku ini memotret kondisi perempuan dalam konteks ekonomi yang khas Dunia Ketiga, dengan kasus buruh migran, persoalan sumber daya alam, dan perempuan nelayan sebagai masalah sosial yang saat ini mengemuka di Indonesia.   Persoalan buruh migran misalnya, selama ini hanya disorot sebagai masalah &ldquo;kelas bawah&rdquo;, padahal dalam kasus Bu Carik, yang digambarkan justru sosok dari kelas atas pedesaan. ...  Mengikuti jejak perempuan-perempuan lain di desanya, Desa Jangkaran, Kulon Progo (Daerah Istimewa Yogyakarta), Bu Carik memutuskan merantau sebagai TKW (tenaga kerja wanita) di Arab Saudi, tanpa peduli pandangan orang-orang tentang posisinya sebagai istri pamong. 

...Dalam tulisan tentang Pemetaan Partisipatif (PP), Hilma Safitri (Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif/JKPP) menemukan fakta bahwa perempuan ternyata menyumbangkan lebih banyak informasi tentang kekayaan sumber daya alam di wilayah komunitasnya, padahal awalnya diasumsikan sumber informasi adalah laki-laki. 

...Merespon arus modernisasi dan menguatnya sentimen fundamentalisme Islam pasca-Orde Baru, sejumlah kalangan di Bali yang terutama disponsori oleh kelompok Bali Post menawarkan gerakan kembali kepada keaslian Bali, sebagaimana citra yang melekat dalam benak masyarakat Bali: turistik, homogen, dan ajeg. 

...Jika membuka-buka kajian tentang perempuan pada dekade &lsquo;70-an dan &lsquo;80-an, seperti banyak dimuat di Prisma, isu perempuan selalu dihubungkan dengan fertilitas dan mortalitas, terkait dengan kebijakan pembangunan saat itu, khususnya program keluarga berencana (KB). ...  Tetapi setelah itu studi tentang perempuan mengalami kemacetan, demikian menurut Ruth Indiah Rahayu, atau biasa dipanggil Mbak Yuyud, peneliti feminis pada Institut Kajian Krisis dan Studi Pembangunan Alternatif (Inkrispena). 


...Tetapi berbeda dengan sorotan sejumlah LSM buruh migran yang menggunakan pendekatan kasus, tulisan dalam buku ini malah menyoroti tentang penerimaan buruh migran di komunitasnya dan identitas apa yang hendak ditampilkan, dari mulai fashion, mengalirnya ide-ide globalisasi yang merasuk jauh dari Arab Saudi sampai ke desa, sampai penggunaan kosmetika bermerek keluaran London Beauty Center. 

...Para suami yang dulunya nelayan kini menjadi buruh pabrik, sedangkan para istri membuka usaha dagang warung kecil-kecilan, menjadi agensi dari sistem perdagangan antara produsen (industri) dengan konsumen. 

...Setelah disaring menjadi enam tulisan dan dipertajam melalui workshop, terangkai dalam sebuah titik singgung, yang digarisbawahi oleh Mbak Yuyud dalam bagian pendahuluan sebagai  penggambaran relasi gender dengan ekonomi-politik di Indonesia pasca-reformasi. ...  Resistensi itu bisa berupa perlawanan kaum perempuan melawan hadirnya pertambangan di Luwu atau kegiatan pemetaan partisipatif, bahkan bisa bersifat reaksioner seperti Ajeg Bali. 

...Karena itu istri nelayan Muara Baru hanya menyebut dirinya sebagai &ldquo;pencari nafkah tambahan&rdquo;, sedangkan Bu Carik di Kulon Progo yang menyumbang uang cukup besar  hasil kerjanya sebagai TKW di Arab Saudi tetap memberi identitas dirinya sebagai &ldquo;Bu Carik&rdquo; yang bersifat subordinatif dari jabatan suaminya. 

...Beberapa isu tidak masuk dalam kajian, seperti soal perempuan buruh industri, sektor pertanian pangan atau perkebunan, dan aspek layanan publik, akan melengkapi kajian yang lebih kontekstual dalam lanskap demokrasi liberal dan mendalamnya penetrasi ekonomi neoliberal. ]]></content:encoded></item><item><title>Sudahkah Anda Meng-update Status Anda Hari Ini?</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-02-04T01:59:03+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/budaya_digital.php#unique-entry-id-33</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/budaya_digital.php#unique-entry-id-33</guid><content:encoded><![CDATA[Acara yang dibagi atas dua sesi ini bertempat di Caleri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan pembicara Hikmat Budiman dan moderator Nirwan Ahmad Arsuka (sesi 1), serta Hafiz dan Nuraini Juliastuti dengan moderator Gustaff Hariman (sesi 2). 

...Namun di samping itu, terdapat banyak ketakutan bahwa teknologi baru ini yang akan mengambil alih kehidupan kita, membuat kita kehilangan kemampuan untuk membuat prioritas dalam hidup, mengurangi sentuhan manusia (human touch) dan intensitas tatap muka, juga menguras kantong untuk membeli peralatan canggih. 

..."Kehadiran teknologi hanya menjadi ekstensi atau perpanjangan dari apa yang sudah biasa dilakukan masyarakat, dan tidak banyak membuat kita menjadi lebih maju," ujar Hikmat Budiman.   Banyak terjadi perubahan perilaku, dari yang kasat mata seperti menggunakan laptop dan smartphone di tempat umum, meng-update dan mengobrol lewat messenger menjadi kegiatan pengisi waktu luang ketika menunggu, hingga yang tidak kasat mata seperti pergeseran makna privasi dan rahasia bagi masing-masing pengguna.   Disadari atau tidak, begitu banyak orang memamerkan rahasia di internet, yang mungkin selama ini hal-hal tersebut tabu untuk diumumkan ke khalayak ramai atau hanya untuk konsumsi pribadi.   Jika negara menganggap penting censorship terhadap konten yang tergolong pornografi atau tidak, mengapa negara juga tidak memberikan batas-batas jelas mengenai mana hal yang sifatnya privat atau bukan?   Wilayah privat masing-masing individu tentu saja berbeda satu sama lain, oleh karena itu, sampai kapanpun akan selalu ada penilaian yang sifatnya relatif di mata hukum mengenai privasi seseorang di internet. 

...Lebih lanjut Hikmat Budiman mengatakan bahwa dalam konteks tradisi penulisan, salah satu akibat buruk dari era digital seperti sekarang adalah menurunnya kualitas editorial, pembaca dan penulis terbiasa dengan kualitas mediocre atau biasa-biasa saja. 

...Pada sesi kedua, Nuraini Juliastuti atau yang akrab dipanggil Nuning dari KUNCI Cultural Studies Centre, Yogyakarta mendapat giliran pertama mempresentasikan penelitiannya tentang ruang hibrida dan hubungan interpersonal pengguna internet. ...  Hipotesisnya adalah hubungan interpersonal yang dilakukan dengan media internet ternyata dapat murni sekedar hubungan tanpa ada maksud berketurunan (kontak fisik bukan syarat utama). ...  Ruang ini muncul ketika komunitas virtual (misalnya via chatting atau multi player online game), berpindah atau bermigrasi ke ruang fisik karena penggunaan tekonologi mobile seperti telepon genggam. ...  Perangkat mobile dan aplikasi internet di telepon genggam menciptakan hubungan yang lebih dinamis antara pengguna dengan internet, ia dapat &ldquo;mengikuti&rdquo; penggunanya beraktifitas ke mana saja, sehingga tidak ada istilah &ldquo;tidak terhubung&rdquo; atau disconnect dengan ruang digital. 

...Misalnya, responden dalam penelitian Nuning adalah seorang siswi SMA yang dilarang berpacaran, bisa asyik dengan dua pemuda sekaligus melalui Facebook, messenger dan sms. ...  Intensitas menjadi syarat untuk sebuah hubungan, misalnya ketika mereka putus cinta, artinya mereka tidak lagi saling menuliskan pesan di wall Facebook, menghapus mantan pacarnya dari daftar teman atau tidak lagi saling bertelepon dan ber-SMS.

...Kehadiran youtube untuk mengunggah dan menonton video via internet adalah salah satu alternatif untuk para pembuat film, karena teknologi berperan sebagai mediator antara seniman dengan penikmat karya.   Sang seniman tidak perlu lagi bersusah payah beriklan, cukup mengunggah karya atau trailer karyanya di youtube dan karyanya bisa disaksikan oleh banyak orang. ]]></content:encoded></item><item><title>Mengenang Daniel Bell</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>PERSONAL ESSAYS</category><dc:date>2011-01-27T21:36:34+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/daniel_bell.php#unique-entry-id-32</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/daniel_bell.php#unique-entry-id-32</guid><content:encoded><![CDATA[Nico menaut berita tadi karena dia tahu persis saya telah diselamatkan oleh almarhum Daniel Bell dari kesulitan menyelesaikan kuliah S1 di jurusan Sosiologi UGM. 

...Sekitar 18 belas tahun yang lalu, seperti mahasiswa UGM umumnya, sehabis Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya kebingungan mau nulis skripsi tentang apa.   Karena bukan mahasiswa yang tergolong pandai, dan tidak pernah tekun mengikuti perkuliahan, terus terang, saya tidak banyak paham apa yang disampaikan dosen-dosen sepanjang tiga setengah tahun masa perkuliahan sebelum KKN. ...  Selain tidak begitu paham, ada satu hal lagi yang mempersulit saya waktu itu, yakni rasa bosan membaca judul-judul skripsi tadi.


Kebetulan saja, beberapa tahun sebelumnya saya sudah pernah membaca tiga karya Daniel Bell yang cukup terkenal: The End of Ideology; The Cultural Contradictions of Capitalism, dan; The Coming of Post-Industrial Society. ...  Seperti kalau saya membaca buku-buku lain, pemahaman saya atas isi buku-buku Daniel Bell itu hanya sepotong-sepotong saja waktu itu (bahkan sampai sekarang sebenarnya). 

...Salah satu bacaan yang menautkan saya kembali kepada karya-karya Daniel Bell adalah sebuah esai J&uuml;rgen Habermas, yang aslinya merupakan naskah pidato ketika ia menerima penghargaan Adorno Prize di kota Frankfurt tahun 1980. ...  Di antara sekian banyak kawan yang hebat-hebat bacaannya tentang postmodernisme waktu itu, saya juga jarang mendengar nama Daniel Bell disebut. 


Lebih parah lagi, tulisan Daniel Bell dalam bahasa Indonesia yang bisa saya temukan waktu itu hanya kata pengantar Daniel Bell untuk buku The Coming of Post-Industrial Society yang diterjemahkan oleh almarhum Romo Mangunwijaya dan diterbitkan oleh Yayasan Obor dalam buku suntingan Romo Mangun berjudul Teknologi dan Dampak Kebudayaannya Volume II (1985).   Baru ketika dalam proses penulisan skripsi saya menemukan ternyata ada karya Daniel Bell lainnya yang sudah diterjamahkan ke dalam bahasa Indonesia. 

...Ketika nulis skripsi saya sama sekali belum mengenal internet, dan bacaan terbaru hanya mungkin didapat dari mereka yang kebetulan baru pulang studi di luar negeri. ...  Singkat cerita, skripsi saya adalah skripsi pertama yang membahas pemikiran tokoh dan bukan didasarkan penelitian empiris di lapangan,  yang dibolehkan lulus dari ujian jurusan Sosiologi UGM. ...  Beberapa tahun kemudian bahan dari skripsi tersebut diolah menjadi sebuah buku dengan judul yang juga membingungkan, Pembunuhan yang Selalu Gagal: Modernisme dan Krisis Rasionalitas Menurut Daniel Bell.   Resepsi pembaca atas buku tersebut biasa-biasa saja, tapi lumayan untuk sebuah karya pemula (saya harus bisa menghibur diri sendiri bukan?).


Di kemudian hari, banyak mahasiswa yang jauh lebih cerdas yang, anehnya, memilih jalan salah yang sama: bukan memperkuat tradisi riset empiris dalam Sosiologi tapi malah menulis studi pemikiran tokoh. 

...Maka ketika Nico menaut sebuah artikel tentang Daniel Bell tadi, saya langsung ingat pada sebuah tulisan yang saya tulis hampir 8 tahun yang lalu. ]]></content:encoded></item><item><title>DECOMPRESSION #10: </title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-01-19T19:51:29+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/decompression_10.php#unique-entry-id-31</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/decompression_10.php#unique-entry-id-31</guid><content:encoded><![CDATA["Gue pikir kalo RuangRupa bisa bertahan sampai 2 tahun aja, gue udah seneng&hellip;Jadi ke depan, kalo bisa bertahan sampe 10 tahun ya sukur aja, biar begini terus&hellip;" (Hafiz, Absolut Versus, 2002)


...Teringat akan diskusi dengan beberapa orang teman mengenai berapa lama sebuah kolektif akan bertahan, "Sepuluh tahun, setelah itu jika mereka tidak terus memperbaharui isu-isu yang berkembang di dalamnya, kolektif itu akan menjadi basi," tukasnya. ...  Sepuluh tahun untuk bersama-sama merekam masa terpenting dalam pergerakan seni kontemporer di tengah perkembangan sosial budaya, gonjang-ganjing politik di tanah air dan dunia. 


...Perhelatan akbar ini terdiri atas pameran (RURU & FRIENDS, RURU.ZIP, RURU.NET, Multimedia Arts in Indonesia, Jakarta 32&deg;C), peluncuran buku dan film dokumenter (Initiative,  Dokumenter Ruangrupa: Alternative Space and Network, Kompilasi 10 Tahun Seni Video Indonesia), pemutaran film (tergabung dalam Fringe Program), seminar, acara musik (RRREC Fest) dan acara untuk anak-anak dan remaja (RURUKIDS). 

...Sangat beruntung saya dapat mengikuti beberapa kegiatannya, antara lain: opening ceremony, RRREC Fest, seminar "Budaya dan Masyarakat Digital, "Seni Rupa dan Aktivisme", juga diskusi "Talking 'Bout My Generation".   Begitu banyak pembicaraan mengenai seni media baru di dalamnya, keterlibatan publik di dalam sebuah karya seorang seniman dan kedekatan antara seniman-pengapresiasi yang tidak lagi seperti 10 tahun silam, ketika status seniman masih begitu eksklusif. ...  Pengunjung dapat membawa pulang benda-benda yang dibagikan secara gratis (stiker, kartupos, booklet atau zine), menggambari bidang-bidang yang disediakan, menyablon, bahkan memamerkan hasil coret-coretannya di ruang pamer yang sama. ...  Saya belajar dari pengalaman dan dijadikan kebiasaan, yaitu "nonton yang nonton" atau bersosialisasi akan terasa lebih tepat, daripada menikmati karya pada saat malam pembukaan pameran. 


Decompression #10, lebih seperti perjumpaan dan nostalgia dengan teman-teman lama atau idola lama dan di saat yang sama dipertemukan dengan teman-teman dan wawasan baru. 

...	"Ruangrupa mencoba menggarap , sebagai sekelompok individu yang punya narasi kecilnya sendiri-sendiri , dalam himpitan ruang yang begini lebar namun sesak, tanpa perlu dikategorikan secara sempit sebagai ini atau itu, keinsyafan sepenuhnya bahwa cita idiil kebudayaan pada mulanya adalah angan-angan, gerak hidup seni berpangkal ingatan, yang kecil, yang personal, remeh, sahaja, kadang terabai, yang tanpanya hidup justru jadi tak punya arti"


...Kembali ke tahun 2004, saya ingat berjalan kaki di tengah teriknya matahari pukul tiga sore menuju sebuah rumah, yang saya dengar dari teman main saya 'sarangnya' Dewan Jenderal (sekumpulan seniman yang rela masuk penjara, kemudian berkarya dari sana, sampai sekarang saya tidak pernah mengecek kebenarannya) atau tempat berkumpulnya  anggota band yang sering pentas di Monday Mayhem (acara musik yang rutin diadakan setiap hari Senin di PARC cafe, Jakarta Selatan). ...  Pada kenyataannya, jarak antara rumah-ruangrupa memang dekat (ruang rupa masa itu masih di Tebet Barat), namun secara hubungan pertemanan tidak dekat sama sekali. 

...Hari itu untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan Indra Ameng dan Ade Darmawan, yang menolak proposal pendanaan saya secara halus, "Kalau publikasi mungkin kita bisa bantu sebarin di sini ya." 

...Hafiz menolaknya dengan tegas waktu itu (memangnya RuangRupa ini galeri, funding, departemen atau apaan?), dengan penjelasan bahwa RuangRupa adalah organisasi -artist initiative istilahnya-&hellip;" (Ronny Agustinus, 2002, hlm. 

...Saya semakin mengerti bahwa terdapat kemiripan tujuan antara program yang diselenggarakan oleh ruangrupa dengan Yayasan Interseksi, antara lain memungkinkan individu-individu atau kelompok untuk bertemu, bertukar pengalaman, berdebat, menimba ilmu dan menghasilkan karya. 

...Semoga ruangrupa terus memiliki ingatan akan hal-hal yang membuat ia hidup, tentang orang-orang di sekitarnya dan cerita tentang kota yang terangkum dalam tumpukan arsip yang mereka punya. ]]></content:encoded></item><item><title>Demokrasi untuk Si Miskin</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><category>ESSAYS</category><dc:date>2011-01-21T16:43:28+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/demokrasi_untuk_simiskin.php#unique-entry-id-30</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/demokrasi_untuk_simiskin.php#unique-entry-id-30</guid><content:encoded><![CDATA[justify;line-height:150%'><span lang=IN style='font-size:10.0pt;mso-bidi-font-size:


...  <td width=67 valign=top style='width:66.6pt;border:solid windowtext 1.0pt;


...  text-align:center;line-height:150%'><b><span lang=IN style='font-size:10.0pt;


...  text-align:center;line-height:150%'><b><span lang=IN style='font-size:10.0pt;


...  text-align:center;line-height:150%'><b><span lang=IN style='font-size:10.0pt;


...  text-align:center;line-height:150%'><span lang=IN style='font-size:10.0pt;


...  text-align:center;line-height:150%'><span lang=IN style='font-size:10.0pt;


...  text-align:center;line-height:150%'><span lang=IN style='font-size:10.0pt;


...  text-align:center;line-height:150%'><span lang=IN style='font-size:10.0pt;


...  text-align:center;line-height:150%'><span lang=IN style='font-size:10.0pt;


...justify;line-height:150%'><span lang=IN style='font-size:10.0pt;mso-bidi-font-size:


...justify;line-height:150%'><span lang=IN style='font-size:10.0pt;mso-bidi-font-size:


...justify;line-height:150%'><span lang=IN style='font-size:10.0pt;mso-bidi-font-size:


...justify;line-height:150%'><span lang=IN style='font-size:10.0pt;mso-bidi-font-size:


...justify;line-height:150%'><span lang=IN style='font-size:10.0pt;mso-bidi-font-size:


...justify;line-height:150%'><span lang=IN style='font-size:10.0pt;mso-bidi-font-size:
]]></content:encoded></item><item><title>Seni dan Teknologi</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2011-01-19T11:19:32+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/seni_teknologi.php#unique-entry-id-29</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/seni_teknologi.php#unique-entry-id-29</guid><content:encoded><![CDATA[Seni bukan hanya sekedar untuk hiasan dan hiburan, lebih dari itu tak jarang terdapat makna tersembunyi dan mendalam dari sekedar keindahan bentuk tampilan karya seni secara fisik atau peragaan yang,  katakanlah, hanya dapat dinikmati oleh mata telanjang. 

...Sering kita mendengar  seni musik dengan lirik-lirik keresahan dan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan penguasa, seni tari dengan pesan religiusnya, atau seni lukis yang mengkampanyekan perdamain atau menjaga keseimbangan alam, dan masih banyak seni-seni yang lain dengan segala ekspresinya.

Pada hari Kamis, 13 Januari 2011, saya mengikuti diskusi bertajuk &ldquo;Seni, Teknologi dan Aktivisme&rdquo;, acara ini merupakan rangkaian acara  satu bulan penuh yang diadakan oleh Ruangrupa untuk memperingati 10tahun eksistensinya di jagat kota metropolitan ini.

...&ldquo;Dalam adegan film, Kabayan sering bertengkar dengan mertuanya, namun saya ingin mengubah image itu, saya ingin menjadi seorang Kabayan yang care dengan lingkungan sekitar dan keseimbangan alam&rdquo; ujarnya dengan nada humor.

...Dengan citranya sebagai &ldquo;Paris Van Java&rdquo;, sebagai kota pusat mode di Indonesia, menjadikan Bandung mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas dan sering kedatangan tamu bukan hanya dari kota-kota terdekatnya,  namun juga dari ibu kota, dari luar jawa bahkan tidak sedikit turis asing  berkunjung. 

...Tak bisa lagi kita temukan persawahan, air jernih, sungai dan rindang dedaunan pohon, sekarang yang tampak hanyalah  tumpukan sampah dengan segala resiko yang akan di tanggung oleh masyarakat sekitar.

...Bersama warga sekitar dengan semangat tinggi menanami bermacam-macam pohon, membuat taman bermain anak, dan tetap berusaha untuk selalu menjaga keseimbangan alam, sehingga kelak cita-citanya dapat terwujud, yaitu mempunyai taman wisata bernama &ldquo;Pusat Kebudayaan Cigondewa&rdquo;. 

...Kemudian  dalam beberapa contoh lain, hampir sebelum  tidur dan sesaat setelah bangun tidur, terasa janggal jika kita belum membuka akun facebook atau twitter , entah sekedar  check status, melihat status teman atau mungkin kita sendiri selalu aktif memperbaharui status. 

...Tampak Jelas teknologi bukan hanya semata-mata sebagai alat yang digunakan manusia untuk kepentingannya, namun teknologi menjadi bagian yang sangatlah penting bagi manusia, seakan teknologi tak dapat dipisahkan dan sudah menyatu dengan jiwa manusia.

Jika berbicara masalah keterkaitan antara teknologi dengan aktivisme, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana teknologi ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyampaikan pesan demi terciptanya perubahan sosial? 

...Kita dapat mencari atau menemukan informasi dari media apa saja dengan cepat, namun yang menjadi PR adalah bagaimana sebisa mungkin kita dapat mengalokasikan waktu untuk mengelola informasi tersebut kemudian kita kupas, kita olah dengan analisis-analis sehingga menjadi informasi yang berbobot.

...Hal lain yang harus kita ketahui, bahwa semakin lama kita menghabiskan banyak waktu di dunia maya, semakin banyak pula waktu yang kita habiskan untuk bekerja gratis, tanpa dibayar, karena dalam hal ini, kapital digital yang semakin diuntungkan. 

...Sejauh ini gerakan sosial memandang bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk menyadarkan kelmpok sosial karena mereka menganggap kekurangan informasi adalah pangkal masalahnya, namun dalam era digital sekarang informasi begitu mudah didapatkan. ...  Produksi makna di dunia maya perlu diimbangi gerak bermakna di dunia nyata, agar kita tidak menjadi yang paling cepat tapi hanya jalan di tempat&rdquo;, aku Hilmar Farid.

Sesuai dengan uraian-uraian yang disampaikan oleh kedua pembicara, baik Tisna Sanjaya maupun Hilmar Farid menyatakan bahwa jelas antara seni dan teknologi mempunyai keterkaitan erat dengan upaya perubahan sosial. ...  Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita dapat menggunakan seni dan teknologi agar dapat secara efektif menyampaikan pesan moral demi terwujudnya perubahan sosial yang kita cita-citakan.]]></content:encoded></item><item><title>Year&#x27;s end quick note</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2010-12-25T23:24:54+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/quick_note.php#unique-entry-id-28</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/quick_note.php#unique-entry-id-28</guid><content:encoded><![CDATA[Dear colleagues and friends,


On behalf of everyone at Interseksi, I'd like to take the privilege of thanking you for all the supports we got this year.    Despite some minor glitches 2010 has been quite a year for us.    We've just been through the Crossing-Boundaries: Cross Culture Video Project for Peace program, and we have a plan to continue the cross cultural activities to further increase the mutual understanding and respect for diversity among social groups in our country.    We&rsquo;ve got lots of plans for 2011, and are looking forward to sharing them with you!


I just want to post a quick (year's end) note letting you know what&rsquo;s happening over the year's end period with our  team.   As some of you might have already known, we have moved to a new office on december 18th through until 22th december.   It's been four years since me moved to our office in Tanjung Barat, and due to the increased number of staffs and stuffs that we gathered in years we decided to rent a larger space to house our daily activities.   Not only is the new office more spacious, it also has nicer surrounding and gives us tranquility as well.   We are still arranging stuffs in the new office, and during that time we want to apologize for all the inconvenience. 


 I am not ready to spill the beans on all of our plans, but I can tell you that we are going to have more interesting activities next year.   Again we thank you for all the supports, and we hope that this year has been full of professional and personal success for you, and that next year will be even better!


We wish you a prosperous, more productive, and peaceful new year 2011.


Best,


Hikmat Budiman
]]></content:encoded></item><item><title>Ini Medan Bung&#x21;</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>CROSSING BOUNDARIES</category><category>REPORT</category><dc:date>2010-11-01T10:17:17+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/laporan_medan.php#unique-entry-id-26</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/laporan_medan.php#unique-entry-id-26</guid><content:encoded><![CDATA[Tamil, Batak, Karo, Jawa dan Cina mungkin hanya sebagian dari penyumbang keragaman budaya terbesar terbesar dari berbagai jenis makanan, bangunan, tradisi dan bahasa di Medan.   Roadshow "Crossing Boundaries" mengunjungi Medan tanggal 13-14 Oktober 2010 di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan dan FISIP Universitas Sumatera Utara.


...Acara pemutaran film dan diskusi kali ini dipadati oleh siswa SMA dan mahasiswa dari Departemen Antropologi USU. ...  Berbeda dengan Makassar, kali ini hanya beberapa hadirin yang berasal dari organisasi non pemerintah dan non akademis.   Di acara ini kami kedatangan tamu yang cukup istimewa, yakni kepala kuil di Kampung Tamil yang juga menjadi "pemeran" dalam film "Tamil" karya Ronaldiaz Hartantyo. ...  Kami cukup senang dengan hanya melihat Kampung Tamil dan kuil yang ada di film itu dalam perjalanan kami menuju lokasi-lokasi roadshow. 


Pemutaran film dan materi yang disampaikan oleh narasumber Rytha Tambunan, M.Si dan Irwansyah Harahap, M.A, membangkitkan pertanyaan hadirin mengenai bagaimana menyikapi kelompok sosial yang berbeda, juga mengenai hubungan antara agama, budaya dan konflik sebagai rantai sebab akibat dari berbagai konflik.    Narasumber kami yang juga seorang etnomusikolog, Irwansyah Harahap, berpendapat bahwa film-film ini termasuk ke dalam etnografi visual.   Rytha Tambunan -yang juga dosen di Antropologi USU- menyampaikan beberapa pengalaman orang Tamil yang ia peroleh dari hasil penelitiannya. 

...Kami juga membuat sayembara kecil berhadiah paket DVD bagi hadirin yang tidak sempat memberi komentar dalam acara hari itu, dapat mengirimkannya ke email Interseksi setelah acara berlangsung.


...Pada roadshow kedua di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Medan, Direktur The Interseksi Foundation, Hikmat Budiman, menjabarkan perbedaan kedua hal ini.   Beliau tampil menjadi pembicara karena Ben Pasaribu, yang seharusnya menjadi narasumber dalam roadshow di UNIMED ini, harus beristirahat karena kondisi kesehatannya yang kurang baik.   Istilah multikulturalisme dapat diartikan sebagai cara atau politik yang dipakai untuk mengatur kelompok sosial (misalnya melalui kebijakan pemerintah atau rumusan filsafat sosial), sedangkan multikultur adalah kondisi di mana dalam satu kota atau negara terdapat banyak agama, etnik, ras dan sebagainya. 

...Dalam materi diskusi yang dipresentasikannya, Robert Sibarani -Rektor Universitas Dharma Agung dan narasumber dalam diskusi kali ini- berpendapat bahwa dalam sebuah masyarakat yang multikultur dibutuhkan sikap kesetiakawanan yang tinggi antar anggota masyarakat. ...  Salampessy mengenai kaum Pagandeng di Makassar, karena menurutnya etos kerja keras yang dimiliki oleh generasi muda saat ini sudah sangat kurang.   Ia berharap, melalui film ini selain menyampaikan pesan perdamaian, juga dapat menggugah generasi muda untuk lebih giat dan tidak mudah menyerah dalam menjalani hidup.
]]></content:encoded></item><item><title>Cerita Roadshow dari Makassar</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>CROSSING BOUNDARIES</category><category>REPORT</category><dc:date>2010-10-20T23:50:42+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/laporan_makassar.php#unique-entry-id-25</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/laporan_makassar.php#unique-entry-id-25</guid><content:encoded><![CDATA[Ini adalah kali pertama Yayasan Interseksi mengadakan acara di luar pulau Jawa dan kami berangkat sebagai tim, tidak sendiri-sendiri seperti ketika kami melakukan penelitian. ...  Sedikit informasi tentang Rumah Nusantara, lembaga ini terbentuk dari bermacam kelompok etnis di Makassar dan bertujuan untuk menjadi jembatan komunikasi antar budaya dan kelompok sosial yang ada di sana. 


...Andi Halilintar Lathief dan Ishak Ngeljaratan, M.A (kedua tokoh yang diundang untuk menjadi pembicara di roadshow kami) menyuguhkan sebuah perbincangan yang menarik. ...  Lain di Bugis, lain lagi di Minang, ternyata ukuran sarung yang lazim dipakai sekarang sempat menjadi masalah di masyarakat Minang yang terbiasa mengenakan sarung hingga batas dada, sedangkan ukuran sarung sekarang panjangnya akan pas jika dikenakan di perut. 

...Sesampainya di sana, kami tidak melihat tanda-tanda keliaran mahasiswa seperti di salah satu film peserta Crossing Boundaries, Paul. 

...Waktu menunjukkan pukul 09.30 ketika kami mulai memutarkan film pertama, "Sutadi Sudah Tak di Sini", yang disambung dengan "Tamil" dan "Sebelum Subuh". 

...Sambil tetap memberi apresiasi pada upaya pemanfaatan medium video untuk menyebarkan pesan perdamaian, Ishak Ngeljaratan memberi kritik cukup tajam pada beberapa aspek seperti terlalu pendeknya durasi masing-masing video, kedalaman isu yang ditampilkan, dan aspek-aspek lain yang secara konvensional menjadi ukuran video dokumenter yang dikerjakan oleh kalangan profesional.   Di pihak lain, Halilintar Latief justru tidak banyak mempersoalkan aspek-aspek semacam itu, melainkan lebih pada relevansi tema-tema yang diangkat dalam video-video tersebut dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya di Makassar, dewasa ini. 

...Beberapa saat sebelum kami tiba di Makassar, telah terjadi pembekuan sementara Badan Eksekutif Mahasiswa kampus UIN karena permasalahan internal antara mereka dan pihak kampus. ...  Namun kami harus bersyukur karena tim lokal roadshow di sana sangat sigap dan cekatan, mereka membentuk tim baru lagi dan mengambil alih tugas-tugas yang seharusnya dikerjakan oleh panitia BEM. 

...Salah seorang narasumber diskusi, Wahyuddin Halim dari Universitas Islam Negeri Alauddin, Makassar, menggarisbawahi keberhasilan utama program Crossing-Boundaries 2010 ini dari sisi bagaimana melalui video-video yang telah dibuat program tersebut berusaha mengangkat sejarah orang-orang biasa atau orang kebanyakan yang justru jarang diungkap oleh film-film komersial atau media massa mainstream.   Subjek-subjek dalam video-video tersebut bukanlah orang-orang terkenal melainkan orang-orang yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari seperti tukang ojeg speda, penjual sayur di pasar, atau suasana dalam kedai tuak (lapo). 


...Setelah selesai mengadakan roadshow di kampus-kampus, Yayasan Interseksi diminta untuk mengadakan diskusi dengan topik serupa, namun dengan skala yang lebih kecil di Rumah Nusantara.   Menurut salah seorang peserta diskusi, langkah Interseksi dalam mengadakan program seperti Crossing Boundaries sudah selangkah lebih maju daripada yang telah dilakukan oleh mereka di Makassar, yang baru memulai tahap-tahap pembentukan wacana tentang pentingnya memelihara sikap saling hormat antar kelompok sosial.   Mereka sangat mendukung kegiatan ini dengan mulai bersemangat untuk meneruskan pembuatan film tentang seorang anak perempuan dari pemimpin adat komunitas adat Kajang yang sedang bergelut dengan tarik-tolak antara tradisi yang membesarkannya di dalam komunitas dan tantangan-tantangan baru yang dihadapinya di luar ketika ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Makassar.   Halilintar Latief bahkan sempat mendiskusikan pembuatan video lintas-budaya sebagai salah satu upaya melihat bagaimana masing-masing kelompok mengekspresikan dirinya.
]]></content:encoded></item><item><title>Roadshow Medan</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>CROSSING BOUNDARIES</category><category>NEWS</category><dc:date>2010-10-08T11:12:16+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/roadshow_medan.php#unique-entry-id-24</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/roadshow_medan.php#unique-entry-id-24</guid><content:encoded><![CDATA[Posted by Webmaster


Setelah sukses menyelenggarakan roadshow dan diskusi publik di kota Makassar tgl.   29-30 September 2010 yang lalu (laporan detailnya masih sedang dipersiapkan), mulai tanggal 13 sampai 14 Oktober 2010 Yayasan Interseksi akan berangkat ke Medan untuk tujuan yang sama, yakni roadshow dan diskusi publik program Crossing Boundaries: Cross Culture Video Project for Peace 2010.   Aktivitasnya meliputi pemutaran video-video yang dihasilkan oleh para peserta program Crossing Boundaries, dan dilanjutkan dengan diskusi publik tentang isu-isu relasi antar kelompok sosial yang berbeda dalam konteks penciptaan dan pemeliharaan perdamaian di Indonesia.   Di kota Medan, kami bekerjasama dengan Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatra Utara, dan Universitas Negeri Medan (Unimed). 


Sudah cukup banyak diketahui bahwa Medan adalah salah satu contoh tipikal dari setting masyarakat multikultural di Indonesia.   Penduduk kota ini tersusun dari beberapa pengelompokan sosial berdasarkan etnis bahkan ras yang berbeda.   Ras. etnis, dan agama warga yang berbeda tentu saja juga ada di kota-kota lain, tapi pengelompokan sosial yang dalam banyak kasus juga ditandai oleh pembagian teritori berdasarkan pengelompokan tersebut sehingga menyerupai kantong-kantong kultural yang terpisah tidaklah terlalu banyak jumlahnya di Indonesia.   Medan adalah salah satunya.   Dan seperti halnya Makassar, Medan juga merupakan salah satu lokasi tempat proses pengambilan gambar video program Crossing Boundaries 2010 berlangsung. 


Ada dua video dokumenter yang dibuat oleh peserta program Crossing Boundaries 2010 yang mengambil setting multikultural medan.   Yang pertama adalah Lapo oleh Andang Kelana, dan yang kedua adalah Tamil yang dikerjakan oleh Ronaldiaz Hartantyo.   Di samping video-video lainnya, dua video dokumenter tersebut tentu saja akan diputar dan didiskusikan di Medan tgl.   13-14 Oktober 2010 ini. 
]]></content:encoded></item><item><title>Fresh from the Oven</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>NEWS</category><category>CROSSING BOUNDARIES</category><dc:date>2010-09-23T00:23:05+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/fesh_from_oven.php#unique-entry-id-23</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/fesh_from_oven.php#unique-entry-id-23</guid><content:encoded><![CDATA[Posted by Webmaster


Just in case you were too engrossed with real life to notice, here's the quick background.   In April 2010 we kicked off our Cross Culture Video Making Project for Peace: Crossing Boundaries 2010.   We selected participants from Papua and Aceh to make videos in Jakarta; participant from Ambon make video in Makassar; and participants from Jakarta and Bandung in Medan and Makassar.   We had a participant from Palu (Central Sulawesi), but he withdrew his participation in the program due to a health issue.   We trained them all in a five-day pre-production workshop before dispatched them to the production sites.   Read our previous posts to see more information.


After the fieldwork, we then regroup all the participants in a 10-day workshop on post-production activities in July, and they all had come back to their respective hometown after the workshop was concluded.   The next step for us is to finalize the videos that participants has painstakingly composed during the workshop, and to compile and package them into a single DVD-video.   At the initial stage, we are going to distribute the DVD to some of our partners while we are screening the videos for public discussion in Makassar, Jakarta, and Medan.


Hundreds of hours have passed here in our office, and now the DVD is already forming a golden master ready to be duplicated.   It contains 6 (six) documentary videos with the themes range from Lapo (traditional Batakese tavern) and Indian Tamil-bloodline Medanese in North Sumatra to Spaniard Portuguese-pedigreed Betawi People in Kampung Tugu in Jakarta to the traditional Buginese vegetables street vendor in Makassar. 


If some of you were interested with the videos, the DVD will be available on a Print-on-Demand basis.   The pricing is not yet available as of this writing.
]]></content:encoded></item><item><title>Mini Roadshow</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>CROSSING BOUNDARIES</category><dc:date>2010-09-01T18:56:06+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/mini_roadshow.php#unique-entry-id-22</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/mini_roadshow.php#unique-entry-id-22</guid><content:encoded><![CDATA[<div style="width: 45%; float: left;"><h2>MAKASSAR</h2>

<b>29 Sept 2010&nbsp;:&nbsp;09.30 &ndash; 12.30</b><br />


...<h3>Video Screening:</h3><ul><li>Sutadi Sudah Tak Di Sini


...Andi Halilintar Lathief (Head of State University of Makassar Research Institute)

<li>Ishak Ngeljaratan, M.A (Lecturer, Hasanuddin University, Makassar)

<li>Moderator: Syamsurijal Adhan (Researcher, Makassar-based LAPAR)</ul>

<b>30 Sept 2010: 09.30 &ndash; 12.30</b><br />

...Andi Halilintar Lathief (Head of State University of Makassar Research Institute)

<li>Wahyudin Halim, MA (Lecturer, Faculty of Philosophy, Makassar Islamic State University)

<li>Moderator : Syamsu Rizal Adhan (Researcher, Makassar-based LAPAR)</ul>


...<b>13th October 2010 : 09.30 &ndash; 12.30</b><br />

...<ul><li>Irwansyah Harahap, M.A (Ethnomusicologist, University of North Sumatra)

<li>Rytha Tambunan, M.Si (Anthropologist, University of North Sumatra)

...(Lecturer, Law Faculty, University of North Sumatra)</ul>

<b>14th October 2010 : 09.30 &ndash; 12.30</b><br />	

...<ul><li>Ben Pasaribu, M.A (Ethnomusicologist, Medan State University)]]></content:encoded></item><item><title>Meretas Batas</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>NEWS</category><category>CROSSING BOUNDARIES</category><dc:date>2010-04-02T21:13:16+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/meretas_batas.php#unique-entry-id-21</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/meretas_batas.php#unique-entry-id-21</guid><content:encoded><![CDATA[Konkretnya, kami mencoba mendekati persoalan relasi antar kelompok sosial dalam masyarakat multikultur melalui jalan penggunaan medium film untuk mempromosikan nilai, ikut membangun dan memelihara perdamaian di negeri ini.   Seperti diketahui bersama, sudah sejak tahun 2004 kami berusaha mendalami isu-isu krusial dalam masyarakat Indonesia yang multikultur, dan sejak tahun 2008 kami mulai menggunakan medium film/video untuk menampilkan problematik kelompok-kelompok etnik/agama minoritas yang tersebar di seluruh Indonesia.


Dari hasil beberapa kajian yang pernah kami lakukan tadi, yang semuanya sudah pula kami publikasikan dalam bentuk buku serial Hak Minoritas yang terbit dalam tiga volume itu, salah satu hal penting yang kami temukan adalah kenyataan bahwa sebagian dari kita, mungkin termasuk kami sendiri, cenderung hidup dalam kurungan batas-batas yang meskipun mampu memberi rasa aman dalam hidup tapi seringkali tidak sehat dalam konteks relasi antar kelompok.    Kita seperti hidup di dalam sebuah kepompong, yang melindungi kita dari gangguan pihak lain tapi sekaligus menanamkan purbasangka yang sering membuat kita cenderung kurang hormat terhadap orang atau kelompok orang di luar kepompong kita itu. 

...Tapi jangan lupa, ada pula tafsir yang barangkali lebih cerdas tentang kepompong, seperti tampak pada penggalan bait-bait lagu yang cukup populer di kalangan remaja sekarang, berjudul "Kepompong":  "....persahabatan bagai kepompong. ...  Kita bisa menukar-tangkap kata "persahabatan" dalam bait lagu tadi dengan ikatan-ikatan atau batas-batas atau, sebut saja, kepompong kultural, sehingga kita bisa memaknai batas-batas tadi tidak hanya dengan ungkapan-ungkapan yang cenderung derogatif maknanya seperti "kuno", "ketinggalan zaman" atau ungkapan-ungkapan lain.   Artinya, batas-batas seperti etnis, agama, budaya, dan teritori itu pertama-tama harus diperlakukan sebagai kepompong: tempat kita mengasuh hidup agar bisa menjadi manusia yang lebih dewasa. 

...Semangat program ini adalah mendorong generasi muda Indonesia untuk saling mengenal lingkungan sosial dan kebudayaan yang berbeda dari tempat hidupnya, menjadi kupu-kupu yang bisa terbang meninggalkan batas-batas kultural dan geografisnya untuk saling belajar dengan sesamanya dari kelompok yang berbeda.   Seperti bunyi pepatah lama &ldquo;tak kenal maka tak sayang&rdquo;, tujuan program ini adalah agar tercipta saling pengertian dan penghormatan yang mendalam antar warga masyarakat yang hidup dalam kelompok-kelompok sosial yang berbeda.   Tentu saja terdapat banyak jenis pengelompokan sosial, tapi program ini hanya akan difokuskan pada dua jenis pengelompokan sosial yang hampir pasti bisa ditemukan dalam setiap lingkungan sosial: pengelompokan berdasarkan etnis, dan pengelompokan berdasarkan agama.   Di luar pengelompokan sosial, program ini juga dirancang untuk mendorong pesertanya memiliki pemahaman tentang wilayah lain di luar tempat domisilinya sehari-hari. 


Melalui program ini kami ingin mengajak peserta program untuk mulai meretas batas-batas yang sering mengungkung kita dalam cara pandang yang sempit tentang kelompok di luar kelompok kita sendiri.   Apa yang sering disebut stereotipe (purbasangka) tentang sebuah kelompok, pada dasarnya adalah cara kita menempatkan kelompok di luar kelompok kita pada tempat yang tidak seharusnya di dalam wilayah kesadaran hidup sehari-hari, sehingga gambaran tentang kelompok tersebut niscaya dicirikan oleh hal-hal yang inferior dibandingkan dengan apa yang diyakini sebagai ciri kelompok kita sendiri.   Tentu saja tidak ada larangan hukum bagi individu atau kelompok individu untuk memiliki gambaran stereotip tentang kelompok sosial yang lain. 

...Kalau stereotipe adalah cermin dari ketidaklengkapan informasi dan pengetahuan kita tentang kelompok di luar kelompok sendiri, maka salah satu cara terbaik untuk mengurangi akibat buruknya dalam hubungan antar kelompok adalah dengan melengkapi pengetahuan/informasi tentang masing-masing kelompok.   Program Crossing Boundaries: Cross-Culture Video Making for Peace dimaksudkan agar warga-warga masyarakat yang hidup dalam lingkungan kelompok sosial yang berbeda itu bisa saling berbagi satu sama lain, sehingga kehidupan sehari-hari kita tidak lagi hanya didasarkan pada purbasangka melainkan lebih pada pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam tentang sesamanya.
]]></content:encoded></item><item><title>Soro Bareng&#x2c; Seneng Bareng</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>SEMINAR</category><category>REPORT</category><dc:date>2010-08-26T17:13:28+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/soro_bareng.php#unique-entry-id-16</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/soro_bareng.php#unique-entry-id-16</guid><content:encoded><![CDATA[Banyak orang membicarakannya, hingga pada akhirnya muncul perdebatan seru yang bermuara ke dua pilihan: populer habis-habisan atau jatuh ke tangan polisi (seperti Luna Maya dan Ariel). ...  Selain itu, mereka mendapat anugerah setimpal berupa kerja sama profesional di bawah manajemen Charly ST-12 dan mendapatkan beasiswa penuh hingga lulus kuliah, karena dianggap menaikkan status tempat perkuliahannya (sungguh, ini alasan yang aneh). 

...Pada tanggal 5 Agustus 2010 lalu bertempat di gedung Jakarta Design Centre, Slipi, Desantara Foundation bekerja sama dengan Lafadl Initiatives mengadakan peluncuran buku kumpulan tulisan dengan tema bencana industri. ...  Padahal pembahasannya mungkin tak kalah menarik, antara lain: permasalahan bencana versus perubahan sejarah kepemilikan tanah di Tanah Toa, Sulawesi Selatan, pengelolaan sumber daya alam berupa air di Pegunungan Kendeng Utara dan gas alam di Bojonegoro. 

...Dalam tulisannya yang berjudul "Praktik Bisnis di Banjir Lumpur", ia mensinyalir praktik bisnis ini berkembang menjadi politis karena muncul dalam konteks eksplorasi industri migas oleh Bakrie (pada saat itu beliau menjabat sebagai Menko Kesra Kabinet Indonesia Bersatu I). 


...Misalnya, ketika sektor pariwisata di Maladewa mulai melirik sebuah kawasan yang padat ditinggali, para pengusaha "menumpang" peristiwa Tsunami di tahun 2004 untuk memindahkan rakyat ke "tanah yang lebih layak untuk ditempati" dengan alasan kawasan yang terkena Tsunami tidak aman untuk ditinggali lagi.   Padahal alasan para pengembang lokasi pariwisata tidak memilih 35 pulau baru itu adalah karena sebelumnya kawasan itu dinyatakan tidak aman untuk sektor pariwisata oleh pemerintah. 

...Ada dua pendapat ahli mengenai Bencana Lapindo, yaitu: pertama, berawal dari aktivitas pemboran pada sumur eksplorasi gas Banjar Panji-1 (BJP-1) milik PT. ...  Namun sepertinya para penyusun tulisan ini berkiblat pada pendapat ahli yang pertama, bahwa memang ada kecurangan dalam proyek pemboran PT. ...  Warga tak pernah tahu ada kegiatan apa di balik lokasi yang ditutup oleh seng, hingga tanggal 27 Mei 2006 bunyi sirine dan semburan lumpur pertama setinggi pohon terjadi.


Berdasarkan empat prototipe praktik bisnis yang telah disebutkan di atas, kasus lumpur ini mencakup tiga hal yang sesuai dengan prototipe tersebut dan dinilai penting secara sosiologis karena menyangkut relasi antara negara-masyarakat-korporasi. 

...	&bull;	Penarikan success fee yang dilakukan oleh para elit desa degan kedok perjuangan komunal (misalnya: Paguyuban Warga Renokenongo Korban Lapindo/Pagar Rekorlap) terhadap warga korban lumpur. 

...Masalah banjir lumpur ini juga bukan perkara uang ganti rugi saja, tapi juga tentang persoalan kejujuran pihak terkait dalam mengelola sumber daya dan penanggulangan bencana. ...  Menurut Rubi Rubiandini, metode penyuntikan cairan penyumbat melalui samping di dua Relief Well: Relief Well 1 (RW-1) masih berjarak 50 meter dari sumber lumpur lalu dihentikan, demikian pula di Relief Well 2 (RW-2) dengan jarak yang lebih jauh juga dihentikan.


Sepanjang diskusi saya hanya berpikir, begitu banyak yang telah dilakukan oleh lembaga non pemerintah dan gerakan masyarakat untuk membantu korban lumpur ini, bahkan ibu-ibu pengajian di mana ibu saya biasa mengaji pun ikut berpartisipasi. ...  Saya tidak bicara soal kompensasi, karena berjuta-juta uang kompensasi, baik yang telah dibayarkan maupun yang masih menunggak, tidak mampu menggantikan yang hilang: harta benda dan kepercayaan masyarakat terhadap negara.&nbsp;
]]></content:encoded></item><item><title>Sekolah Perempuan</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><category>SEMINAR</category><dc:date>2010-07-30T21:00:35+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/sekolah_perempuan.php#unique-entry-id-15</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/sekolah_perempuan.php#unique-entry-id-15</guid><content:encoded><![CDATA[Kemudian saya membaca kalimat selanjutnya, "Bagaimana perempuan dapat menjadi agen perubahan di komunitas yang memiliki perbedaan karakter dan latar belakang agama, budaya, suku dan sisi kehidupan ekonomi sosial lainnya, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian".  

...Seminar "Strategic Review Sekolah Perempuan untuk Perdamaian" ini ditujukan agar AMAN mendapat masukan dari pihak luar mengenai kegiatan yang sedang berlangsung hingga November 2010 ini di 4 (empat) tempat di Indonesia, yakni: Malei Lage dan Pamona (Poso), Kampung Sawah (Jakarta) dan Loji (Bogor). ...  Ternyata, forum tersebut bisa berkembang dan tidak terbatas pengajian saja, namun juga menjadi media perempuan saling bertukar pengalaman, menambah ilmu dan sarana bertukar informasi yang tidak mungkin disampaikan melalui media lain. 

...Dalam hal ini AMAN menyusun draft kurikulum yang harus diterapkan di setiap Sekolah Perempuan, untuk memastikan bahwa materi ajar yang diberikan adalah pengetahuan tentang perdamaian, bukan ekonomi atau politik. 

...Pendekatan materi pengajaran di Poso memang lebih rumit jika dibandingkan dengan SP di Jakarta atau Bogor, karena langkah pertama dalam pendidikan bukan sekedar membangkitkan rasa percaya diri.   Perempuan peserta SP di Poso jauh lebih percaya diri daripada di Jakarta dan Bogor, namun mereka terganjal oleh sekat komunikasi antar kelompok. 

...Setelah kerusuhan, ketika kaum laki-laki masih berjaga-jaga dan waspada, justru kaum perempuanlah yang berinisiatif lebih dulu membuka pasar kebutuhan sehari-hari atas desakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga masing-masing. 

...Perebutan sumber daya alam dan perlindungan lingkungan  menjadi wacana di Kampung Sawah, karena kedua wacana ini bersinggungan langsung dengan keterlibatan perempuan di wilayah domestik, seperti pola pengasuhan dan kebersihan lingkungan.   ...  Namun masih terjadi ketidakadilan gender ketika kampung ini harus mengambil keputusan dalam skala besar (misalnya pembangunan jembatan), suara perempuan tidak diperhitungkan kecuali yang memiliki status khusus saja yang bisa terlibat (seperti bu Haji). 

...Di Loji, posisi dan peran wanita di ruang publik kurang diakui, sehingga tingkat kepercayaan diri mereka rendah dan merasa tidak bisa melakukan apa-apa, semua kendali dipegang oleh suami atau laki-laki.   Wacana ini melahirkan beberapa masalah lain yang berhasil diidentifikasi oleh AMAN (lebih bersifat ekonomi dan domestik), seperti: rendahnya pendapatan keluarga, kurangnya kesadaran perempuan terhadap kesehatannya sendiri dan pola pengasuhan anak.   Kehadiran SP di sini dikonsentrasikan untuk menaikkan rasa kepercayaan diri para perempuan, karena secara kapasitas perempuan di wilayah ini memiliki kapasitas personal yang memadai dan tidak memiliki kesulitan dalam kemampuan berbicara.


...Malei Lage, Pamona, Loji dan Kampung Sawah adalah empat daerah yang memiliki karakteristik permasalahan yang berbeda, namun hampir semuanya memiliki permasalahan relasi gender dan prasangka terhadap kelompok lain. ...  Metode yang digunakan juga tampaknya sudah tepat, disesuaikan dengan karakteristik perempuan di tiap daerah, misalnya di daerah Jakarta dan Bogor lebih senang sharing dan permainan, sementara di Poso lebih tertarik dengan training yang relevan dengan kebutuhan mereka.


...Jika pendampingan hanya dilakukan terhadap satu kelompok (misalkan perempuan saja), dikhawatirkan kegiatan ini justru memicu konflik rumah tangga, karena kecenderungan perempuan yang mendapat pengetahuan baru akan merasa lebih banyak tahu dan mampu. ...  Kemudian akan seberapa efektifkah pengetahuan yang mereka dapat untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari, ketika harus kembali ke dalam otoritas suami sebagai pemimpin dalam keluarga yang tidak bisa dibantah dan harus dilayani?
]]></content:encoded></item><item><title>Makassar </title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>CROSSING BOUNDARIES</category><category>PERSONAL JOURNAL</category><dc:date>2010-07-29T16:01:43+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/tawuran.php#unique-entry-id-14</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/tawuran.php#unique-entry-id-14</guid><content:encoded><![CDATA[Mungkin hampir bisa dibilang sebuah &ldquo;kecelakaan&rdquo; ketika saya memilih tawuran mahasiswa di Makassar sebagai ide filem yang saya buat di sini. 

..."Bayangkan, para mahasiswa dan mahasiswi dicari oleh sebagian kelompok yang tak dikenal sebagai aksi balas dendam karena kematian Dodo Rifaldi.   Kelompok ini diduga masih terikat dalam hubungan kerabat keluarga dan teman satu fakultas si korban", katanya pada obrolan sore itu.


...Karena hal inilah saya mengubah tema yang sebelumnya tentang sepakbola menjadi tawuran antar mahasiswa. 

...Sepertinya, bagi masyarakat kota Makassar tawuran antara mahasiswa dengan aparat kepolisian sudah dianggap hal yang biasa dan lumrah, apalagi tawuran antar mahasiswa yg berasal dari fakultas yang berbeda. 

...Kalau sebelumnya saya berasumsi lebih banyak dari pihak masyarakat, lantas bagaimana dengan mahasiswanya sendiri yang masih aktif di kampus? ...  Karena rasa kecintaan pada fakultas dan kesetiakawanan, beberapa mahasiswa tidak mau untuk berbicara atau menyatakan pendapatnya mengenai keributan yang terjadi seminggu sebelumnya. 


Perjuangan untuk mendapatkan obrolan yang bisa menceritakan dengan baik tentang kejadian tawuran tersebut tampaknya memang membutuhkan waktu yang panjang. ...  Boleh dikatakan sedikit magic moment, tanpa di tanya mereka menceritakan kejadian demi kejadian tersebut, dan bagaimana situasi begitu mengerikan bagi mereka saat itu. 

...Setelah melewati sepuluh hari melakukan proses pengambilan gambar dan riset, tibalah waktu untuk menggabungkan kepingan bingkaian ini menjadi suatu ide film.   Selama berlangsungnya proses pengambilan gambar di Makassar tentang situasi tawuran ini, sebelumnya saya memang sudah mempunyai ide cerita tentang kemana kepingan bingkaian in akan dibawa: yakni ide tentang ingatan dan situasi.  


Karena ide itulah, dalam proses produksi pengambilan gambar saya dan kamera lebih terlihat &ldquo;menginvestigasi&rdquo;.   Beberapa pertanyaan seputar pasca kejadian dan situasi saat itu saya coba hadirkan kembali ke dalam ingatan beberapa para-mahasiswa.   Kumpulan obrolan inilah yang menjadi  ide untuk menjelaskan tentang bagaimana peristiwa dan situasi yang terjadi saat itu. 

...Entah mengapa, tetapi saya melihat obrolan itu terlihat lebih cair, seakan rasa kekhawatiran dan ketakutan muncul di diri mereka.  

...Maka, obrolan yang kurang lebih berdurasi 30 menitan saya potong-potong menjadi satu gagasan obrolan yang utuh untuk membangun cerita di film.
]]></content:encoded></item><item><title>Lapo: Ruang Bincang Masyarakat</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>PERSONAL JOURNAL</category><category>CROSSING BOUNDARIES</category><dc:date>2010-07-29T11:29:55+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/lapo.php#unique-entry-id-13</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/lapo.php#unique-entry-id-13</guid><content:encoded><![CDATA[Dengan menenggak tuak, orang-orang tak dikenal ini meninggalkan tanda-tanda yang lebih dalam dibanding kekuatan besar yang ada". <div align="right">Narasi pembuka dalam film dokumenterku, <i>Lapo</i>.</div>

...Di Medan, tuak yang menjadi minuman khas orang-orang Batak memang aslinya disadap dari pohon bagot, akan tetapi tuak minuman khas itu dapat pula disadap dari pohon kelapa. ...  Adapula yang disebut Tuak Tangkasan<a name="call1" href="#ref1">1</a>,  yaitu tuak yang selalu disertakan sebagai minuman dalam suatu prosesi adat, termasuk Tuak Na Tonggi yang pada umumnya dikhususkan untuk kaum wanita walaupun banyak pula kaum lelaki yang menggemarinya.<a name="call2" href="#ref2">2</a>  


...Namun setelah diproses, minuman itu tetap dinamai tuak dalam masyarakat Batak Toba.<a name="call3" href="#ref3">3</a> 

...Ide dokumenterku adalah tentang lapo tuak, dan penggalan kutipan di atas kudapat dari mengobrol dengan beberapa orang di lapo tuak sekitar terminal Amplas. 

...Waktu kami memesan tuak dan minum bersama, obrolan-obrolan pun mengalir, tanpa ada batas--walaupun di saat pertama mereka pasti akan bertanya, "Apa margamu?". 

...Tapi hal itu tidak terjadi, ketika aku membawa kamera dan berbincang dengan sekelompok orang pinggir terminal ini, mereka sangat terbuka.

...Sempat terpikir untuk membawa minuman ini ke Jakarta untuk oleh-oleh, tapi tak bisa karena basi kalau lebih dari 12 jam.   Tuak ini adalah minuman pembuka bagi mereka dan kami tentunya, tanpa tuak itu, berbincang anonim di lapo tampaknya sulit. 

...Seringkali ia memuat alur program/cerita, sinopsis dan situasi emosional untuk memunculkan ketertarikan.<a name="call4" href="#ref4">4</a>   Berdasar ide mentah yang didapat dari riset sederhana melalaui internet, pembicara tamu dalam praworkshop, walau masih kurang menurutku karena tidak ada riset lapangan mendalam membuat partisipan agak kesulitan dalam menjabarkan ide. 

...Tahap selanjutnya dalah membuat storyline, Sebuah alur atau sub-alur dari sebuah cerita; atau sebuah narasi dari karya, fiksi ataupun non fiksi sebagai penjabaran lanjut dari log line menjadi sebuah satuan cerita.<a name="call5" href="#ref5">5</a>   Ini juga menjadi tantangan sendiri. 

...<a name="ref1" href="#call1">1</a> Sering juga kita mendengar sebutan Tuak Tangkasan padahal tuak tersebut bukanlah Tuak Tangkasan yang sebenarnya. ...  Tuak Tangkasan sebenarnya adalah tuak yang dihasilkan dari tangkai bunga yang pertamakali disadap dari satu pohon bagot, dan biasanya memang mengandung citarasa yang lengkap sebagai tuak konsumsi.   Kalau tuak yang disadap dari tangkai bunga berikutnya tidak lagi disebut sebagai Tuak Tangkasan, dan mungkin kandungan mineral yang mempengaruhi cita rasanya sudah tidak sama lagi dengan sadapan dari tangkai yang pertama.   Keduanya, Tuak Tangkasan dan Tuak Na Tonggi, dahulu selalu disajikan dalam suatu prosesi adat, namun belakangan ini keberadaannya sudah ditukar dengan amplop yang berisi uang sejumlah tertentu sebagai media adat dan disebut pasi tuak na tonggi (pemberian sejumlah dana agar sipenerima dapat membeli sendiri dan Tuak Na Tonggi).


...<a name="ref3" href="#call3">3</a> "Tuak dalam Masyarakat Batak Toba: Laporan Singkat tentang Aspek Sosial-budaya Penggunaan Nira", IKEGAMI, Shigehiro, Annual Report of the University of Shizuoka, Hamamatsu College, No.11-3, 1997, Part 5.
]]></content:encoded></item><item><title>Kampung Tugu</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>PERSONAL JOURNAL</category><category>CROSSING BOUNDARIES</category><dc:date>2010-07-28T18:17:09+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/kampung_tugu.php#unique-entry-id-12</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/kampung_tugu.php#unique-entry-id-12</guid><content:encoded><![CDATA[Hari pertama setelah proses pengambilan gambar dimulai, yang pertama saya lakukan adalah pergi ke Tanjung Priuk, mencari Kampung Tugu, yang konon dihuni oleh orang-orang keturunan Portugis. 

...Kemudian ada dua orang penumpang yang menyahut,  sepertinya mereka pernah mendengar nama kampung itu, tapi tidak tahu persis alamatnya di mana.   Ketika bus sudah berhenti di terminal, salah seorang dari mereka mencoba membantu saya bertanya kepada orang-orang (tukang ojek) yang ada di terminal. ...  Namun saya berkilah, bahwa karena saya sedang melakukan penelitian tentang Kampung Tugu,  saya harus tahu jarak dan  jenis anggukatan untuk menuju ke sana. 

...Namun yang saya dapat hanyalah penjelasan dari pengurus gereja tentang biaya administrasi untuk pengambilan gambar di gereja mulai Rp 2 juta hingga Rp 5 juta. 

...Di sela-sela waktu menunggu, saya mencoba menggali informasi dari pengurus gereja tentang keroncong yang menjadi ikon di Kampung Tugu. &ldquo;ada keroncong,  tapi itu tidak ada urusannya dengan kami,&rdquo; jawab salah seorang pengurus gereja. 

...Saya menelepon Andri dan mengajak bertemu, namun ia sedang sibuk mempersiapkan kelompok keroncongnya, yang akan tampil di acara panggung hiburan rakyat di Stasiun Tanjung Priok dan jika saya berminat, kami bisa bertemu di sana jam 2. 

...Dari Kampung Tugu, kurang lebih jam satu siang, saya kembali keterminal Tanjung Priok untuk menunggu mereka tampil pukul empat di Stasiun Tanjung Priok. 

...Ia pun mendunkung rencana saya 102 persen, sambil mengatakan &ldquo;Kalau untuk pelestarian Kampung Tugu, saya banyak waktu untuk hal yang seperti itu.&rdquo;


...Hari-hari berikutnya, saya sudah mulai akrab dan dekat dengan komunitas musik keroncong itu, sehingga setiap saat mereka akan tampil, Arthur selalu menginformasikan saya di mana dan kapan mereka akan tampil. 


Hampir setiap hari, selama fieldwork kemarin saya mengikuti dimana kelompok Keroncong Tugu tampil, diantaranya: di sebuah acara pelucuran buku di Rumah Imam Bonjol, acara makan malam gubernur DKI di ancol dan karnaval hari ulang tahun kota Jakarta.   Namun saya masih juga kesulitan untuk melengkapi footage-footage lain yang penting dalam film pendek ini, yakni ketika harus mengambil gambar gereja dan kuburan-kuburan lama orang Portugis. 

...Setelah mendapat banyak footage-footage kuburan dan mencuri-curi sedikit gambar gereja dari samping arah kuburan, saya kembali menjumpai pihak gereja untuk minta izin untuk mengambil gambar pada hari minggu, di saat orang beribadah di gereja.   Untuk kedua kalinya saya menjelaskan lagi maksud dan tujuan kepada pihak gereja dan saya berterus terang, bahwa saya tidak bisa memenuhi ketentuan administrasi sebanyak itu. 

...Justru saya sedikit kebingungan untuk menyusun draft awal berdasarkan footage, akan tetapi setelah saya berdiskusi dengan bung Hatta (sebagai fasilitator), bahwa dengan draft awal saya itu salah, karena bukan pola flm documenter Saya kembali pesimis karena hal ini, tetapi kritik ini membuat saya tetap semangat. 

...Beberapa hari setelah terus di dampingi bang Hafiz, jadilah sebuah film dokumenter yang sebelumnya tidak pernah terbayang akan jadi seperti ini. ]]></content:encoded></item><item><title>Tamil Medan</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>CROSSING BOUNDARIES</category><category>PERSONAL JOURNAL</category><dc:date>2010-07-23T00:27:39+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/tamil_medan.php#unique-entry-id-11</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/tamil_medan.php#unique-entry-id-11</guid><content:encoded><![CDATA[Saya mengikuti program &ldquo;Crossing Boundaries: Cross Culture Video-making Project for Peace&rdquo; ini dengan kepala kosong dan pandangan yang sangat stereotipe -baik tentang konflik maupun tentang film dokumenter itu sendiri- secara definisi, maupun cara menikmatinya. ...  Di workshop ini mata saya dibuka lebar-lebar lagi, bahwa film itu mungkin adalah karya seni terbesar yang pernah dimiliki manusia (seperti kata-kata dalam film &ldquo;Janji Joni&rdquo;). 

...Dengan gambaran situasi seperti itu, pandangan awal saya terhadap orang Keling adalah satu suku bangsa yang minoritas dan termarjinalkan di Medan.  ...  Bayangan di kepala saya, tentu kampung Keling sendiri akan terlihat seperti kota kaleng alien yang ada di film &ldquo;District 9&rdquo;.


...Daerahnya lumayan rapi dan layak huni, biarpun masih ada orang-orang yang tinggal di hunian padat, namun saya pernah melihat yang lebih buruk di pulau Jawa dan itu bukan milik orang Keling. ...  Shelva berpendapat, bahwa ia tidak pernah mendengar tentang hal seperti itu, dan menurutnya kasus itu merupakan analogi bagaimana pandangan orang-orang luar melihat ke mereka. 

...Setelah berbincang dengan Shelva, saya diajak berkeliling kampung Keling malam-malam dan ditunjukkan gambaran kegiatan dan tempat-tempat penting bagi orang Keling di daerah itu. sampai tengah malam saya diajak ke sebuah jalanan sepi, wah saya sudah takut saja. 

...Keesokan paginya, saya pergi ke kuil untuk bertanya pada kepala kuil tentang orang keling yang tidur itu. 

...Kami banyak berbincang di sana dan setelah melihat banyak fakta-fakta dan disodori data-data, saya malah makin bingung apa yang hendak diangkat tentang orang keling. 

...Dengan kepala pusing kami melanjutkan perjalanan pergi ke Annai Velangkanni, sebuah gereja yang dibangun oleh orang keling yang bernama Father James., yang konon katanya penuh dengan mukjizat. 

...Mereka terbuka dalam berbincang-bincang, namun ketika saya mengeluarkan kamera video dan meminta ijin untuk merekam perbincangan, ia menolak untuk direkam.   Tidak habis akal saya mencoba cara lain yaitu masuk toko dengan langsung menggenggam kamera, seperti kata Mas Hatta,&rdquo; Lebih baik minta maaf daripada minta ijin&rdquo;. ...  Saya mencoba cara lain lagi dengan membawa dan merekam diam-diam wawancara di dalam toko, dan semua berjalan lancar (biarpun gambarnya tidak terkontrol) sampai saya KETAHUAN merekam. 

...Masih dengan trauma penuh penolakan pada saat paginya, saya jadi masih ragu-ragu dalam mengeluarkan kamera dan menodongkannya ke muka orang-orang India Tamil. 


...Apabila kita merekam dengan menggunakan handycam maka mata kita pasti menuju ke arah layar handycam, sedangkan ketika kita harus menghargai orang yang kita ajak bicara dengan melihat langsung ke arah matanya. 

...Mereka hangat pada siapa saja, bisa berbaur pada siapa saja dimana saja, bermacam-macam rasanya, agamanya, kebiasaannya, pekerjaannya, dan membuat sebuah masakan menjadi terasa enak biarpun tidak terlihat secara langsung.]]></content:encoded></item><item><title>Syurga Dunia&#x2c; Short Time&#x21;</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>CROSSING BOUNDARIES</category><category>PERSONAL JOURNAL</category><dc:date>2010-07-21T08:05:46+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/short_time.php#unique-entry-id-10</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/short_time.php#unique-entry-id-10</guid><content:encoded><![CDATA[Paradise Island, itulah sebutan lain dari tanah yang diberkati ini, karena selain keindahan  dan kemolekan burung cenderawasih (Bird of Paradise) terdapat banyak eksotisme alam lainnya, dari bawah laut di kepulauan Raja Ampat hingga ke puncak Cartenz yang hingga kini puncaknya masih tertutup es beku di Kawasan Pegunungan Jayawijaya, dari lempengan tembaga dan emas di Freeport Timika hingga berjuta-juta kubik Liquefied Natural Gas (LNG) di British Petroleum&rsquo;s (BP) Teluk Bintuni. 

...Stigmatisasi Separatis, Makar dan OPM yang akan selalu disematkan kepada para pejuang pembela rakyat di Papua layaknya penghargaan &ldquo;bintang jasa&rdquo; yang diberikan kepada para bupati dan gubernur yang senantiasa menjual dan menggadaikan nasib anak cucu dan rakyat mereka, memberi izin kepada kaum pemodal untuk mengeruk habis berkat dari tanah ini, tentunya dengan sedikit imbalan untuk sekedar bisa melakukan perjalanan happy menikmati weekend ditemani minuman dan istri-istri short time mereka di tempat-tempat yang bernama &ldquo;surga dunia&rdquo; Manado, Jakarta dll.


Dalam sebuah kesempatan untuk melakukan studi singkat di pertengahan tahun 2010, aku terpilih untuk tinggal beberapa saat di salah satu kota &ldquo;surga dunia&rdquo; bernama Jakarta.   Dalam dua pekan persinggahanku, disalah satu malamnya aku berkeliling menelusuri kehidupan Jakarta, mencoba melihat dari dekat tempat yang bernama &ldquo;surga dunia&rdquo; yang memikat para pejabat daerah itu untuk sering bertandang ke Jakarta, tepatnya di kawasan Jakarta Barat. 

...Ia rela mejalani takdir ini demi menyekolahkan anak-anak dan mejaga agar dapur istrinya tetap mengepul setiap hari, &ldquo;agar mereka tidak kelaparan karena tidak mungkin menyerahkan takdirnya kepada pemerintah sebagai wakil Tuhan yang serakah di bumi&rdquo;, katanya.   Pak Darmin inilah yang mengantarkan aku, menjelajah sisi kehidupan malam dari rel jembatan gantung hingga ke bawah jembatan royal, dari pijat alas tikar di taman hingga prostitusi ala short time di kawasan tersebut.

...Sungguh dunia lain yang baru aku kenal karena selama ini para guru disekolahku tidak pernah menceritakan bahwa ada dunia lain seperti ini, seperti malam yang pernah kulewati ini.

Malam semakin kalut, ketika ramai orang di sekelilingku sudah tidak berpikir waras, candu musik, alkohol dan barang-barang haram lainnya mungkin telah merampas alam sadar mereka. ...  Ku raih botol tersebut dan menuangkan isinya ke dalam gelas itu hingga hampir saja tumpah, sementara tanganku yang satu meraih sebungkus rokok Sampoerna dari dalam saku jaketku --sebagai penyempurna perjalananku.

...Aku hanya terpekur, seakan-akan hanyut oleh suasana musik yang semakin keras sembari menahan perasaan ingin segera menghabiskan segelas Cocacola yang baru kuminum sedikit itu, dan kembali ke rumah untuk menanti aktivitas di hari berikutnya. 

...Sementara aku menyaksikan serunya pertandingan itu, datang seorang lelaki paruh baya memintaku menunduk, mendekatkan telingaku &ldquo;mau kencan Mas, short time sejam, ada kamar di atas sudah disiapkan, putih bersih mulus dan sehat, pintar main lagi anaknya. 

...Aku segera kembali ke mejaku, tapi pria tadi terus mengikutiku, &ldquo;orang Irian kalau ke sini biasanya cari seperti ini Mas, apalagi kalau pejabat, mereka bisa minta 2-3 gadis, Mas&rdquo; katanya sambil terus membujuk aku. 

...Buru-buru aku meminta bill, membayarnya dan kemudian bergegas keluar dari kehidupan malam itu, dunia lain nan penuh dengan &ldquo;ke-asing-an&rdquo; yang akan segera lenyap tak diketahui oleh siapapun di siang harinya.   Jujur ini adalah pengalaman pertama, di mana aku berada di antara orang-orang yang dalam sadar mereka pura-pura tidak sadar, sibuk hanya dengan kebebasan dan kesenangan semata. 

...ibukota yang dibenci oleh rakyat Papua karena dianggap sebagai penyebab segala soal di Papua, tetapi tetap menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh para pejabat daerah, terutama dari Papua?   Pantas saja mereka tak betah berlama-lama tinggal di Papua untuk mengurusi rakyatnya karena lebih senang hidup di Jakarta nan menggiurkan, sembari menawarkan jualan &ldquo;kandungan tembaga, emas, nikel dan LNG di wilayah kekuasaanya&rdquo; kepada tangan-tangan &ldquo;asing&rdquo; yang berkantor di Jakarta untuk kesenangan pribadi. ]]></content:encoded></item><item><title>Sutadi Sudah Tak Di Sini</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>CROSSING BOUNDARIES</category><category>PERSONAL JOURNAL</category><dc:date>2010-07-17T09:45:36+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/sutadi.php#unique-entry-id-9</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/sutadi.php#unique-entry-id-9</guid><content:encoded><![CDATA[Jam di salah satu sudut dinding rumah itu menunjukkan pukul 08.15 ketika kupaksa mata ini terbuka, aku terpaksa harus egois untuk tak menuruti kemauannya setelah semalaman ku ajak memelototi layar kaca televisi, menyaksikan team dari berbagai belahan bumi berkompetisi menunjukkan bahwa negara mereka-lah yang paling jago soal bermain bola kaki.

Setelah beberapa saat aku bersiap, metromini 62 menjemputku, membawaku meninggalkan balai berhias patung jenderal Sudirman menuju sebuah terminal yang diambil dari salah satu nama daerah di Kepulauan Nusa Tenggara Timur, Manggarai. ...  3.500,- aku berniat untuk berdesak-desakan dengan para penumpang busway, salah satu alat transportasi umum yang terbilang megah di ibukota Jakarta. 

...Dalam perjalanan yang disesaki oleh orang-orang terasing tersebut, sempat kutunjuk seorang anak muda dengan sebuah kaki kamera (tripod) yang masih terbungkus dalam sarungnya, aku merasa jengkel ketika melihatnya berpura-pura tidur setelah seorang ibu paruh baya yang sedang hamil tua naik dari salah satu shelter (tempat pemberhentian busway) di daerah Harmoni.   Dengan terpaksa dan sejuta omelan yang tampak dari tatapan matanya, anak muda itu berdiri dan memberi kesempatan pada ibu hamil tersebut untuk duduk. 

...Sementara aku masih berpikir, busway yang kutumpangi telah tiba di terminal terakhir di daerah Jakarta Barat, tepatnya di daerah Kota Tua.   Aku bergegas menuju sebuah halte di seberang jalan (halte Museum Bank Indonesia), duduk sebentar sembari memperhatikan beberapa pengamen yang baru turun dari sebuah bus sembari menghitung hasil kerja &ldquo;halal&rdquo; mereka. 

...Aku mendekati beberapa pengamen tersebut, bertanya kepada salah seorang dari mereka tapi mereka membisu dan malah menunjuk seseorang yang sedang berdiri di samping pedagang asongan dekat halte itu. 

...Pak Sutadi yang pernah kujumpai pada tahun 2007 tersebut kiranya sepadan dengan Guruku Oemar Bakri, hanya saja ia berada disisi lain dari mata uang logam itu, sebagai ayah dari anak-anaknya yang mejadi murid Oemar Bakri.   Ia masih saja tetap harus berjuang dan kerja keras untuk bisa mengubah nasib keluarganya tapi juga nasib bangsa ini. 

...Dari pangkalan ojek sepeda hingga stasiun kereta, dari klenteng hingga gereja, dari pasar kolong jembatan hingga ke mall mewah nan megah, dari Sunda Kelapa hingga ke Tanjung Periuk, dari sungai-sungai yang beraroma &ldquo;aneh&rdquo; hingga jalan-jalan macet, bising dan beraroma gas knalpot, namun tak kutemukan juga Pak Sutadi.

...Bahkan ada diantara puluhan pengojek sepeda itu memaksakan bahwa haruslah Taji atau Muji yang aku cari&hellip;tapi itu tak mungkin kilahku.

...Namun aku tetap yakin dan percaya bahwa masih banyak Sutadi-Sutadi lain, entah itu Taji, Muji atau Supadi yang bertahan hidup di Jakarta dengan berbekal sepeda onthel, menghidupi keluarga mereka, berjuang agar dapur istri-istri mereka tetap mengepul tiap hari, mencari lebih dari itu untuk menyekolahkan anak-anak mereka walaupun sulit rasanya karena biaya sekolah semakin hari &ldquo;bukan hanya&rdquo; semakin &ldquo;mencekik leher&rdquo; mereka tetapi juga &ldquo;makin mendekati satelit palapa tingkatannya&rdquo;.

...Mereka lebih memilih menjadi &ldquo;Gajah Mada&rdquo; dengan &ldquo;sumpah Palapa gaya minimalis di era millenium&rdquo; yang terkadang rela tak makan demi menyekolahkan anak-anak dengan harapan bisa merubah takdir keluarga mereka, bisa mengenyam sekolah walaupun dengan biaya setinggi satelit palapa. 

...Walau tak menemukan sosokmu yang nyata tapi aku telah menemukan bayanganmu dari mereka yang berjuang, bekerja keras dan berniat tulus untuk masa depan mereka yang lebih baik walau kadang terpaksa tak bisa terwujud.   Aku menemukan niatmu pada mereka para pemulung, pedagang asongan, penjaga parkir, pesulap, pengamen yang terlahir bukan untuk hidup di jalanan tapi hidup telah menyeret mereka ke jalan-jalan di Ibukota Jakarta dan pada setiap mereka yang memiliki niatan sepertimu, Pak Sutadi. ]]></content:encoded></item><item><title>Sayonara Workshop</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>WORKSHOP</category><category>CROSSING BOUNDARIES</category><category>REPORT</category><dc:date>2010-07-16T00:04:12+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/sayonaraworkshop.php#unique-entry-id-8</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/sayonaraworkshop.php#unique-entry-id-8</guid><content:encoded><![CDATA[Dua hari menjelang pertandingan final Piala Dunia 2010, tepatnya tanggal 10 Juli 2010, workshop pasca produksi program pembuatan video untuk perdamaian "Crossing Boundaries" berakhir. ...  Tiga malam terakhir sejak saya terakhir menulis reportase, kami bekerja lebih keras, dibantu oleh seeorang konsultan teknis, Ari Dina Krestiawan.   Proses finalisasi tidak hanya sekedar menyempurnakan film yang telah diedit oleh peserta, menambahkan "aksesoris" seperti transisi fade-in dan fade-out atau menambahkan musik latar. 

...Tidak sedikit peserta yang mengedarkan secarik kertas untuk diisi oleh peserta lain, berharap ada ide brilian untuk judul film mereka.   Reza, peserta dari Papua yang memfilmkan ojek sepeda di Kota Tua, Jakarta, menemukan judul filmnya secara tidak sengaja. ...  Tak jarang peserta tertawa sendiri dengan judul filmnya dan usul aneh-aneh dari peserta lain, seperti film Aldi mengenai orang Keling di Medan yang hendak diberi judul "Real Madras" (judul ini terdengar seperti Real Madrid, kebetulan Aldi adalah penggemar berat sepak bola dan masih dalam suasana demam bola) atau "Pusing Tujuh Keling Keling".   Dirmawan Hatta, salah seorang fasilitator dalam workshop ini, menekankan bahwa sebaiknya pemilihan judul harus tepat menggambarkan keseluruhan film, sehingga tidak "mematikan" film yang sudah susah payah dibuat.


Selain mencari judul, peserta juga diharuskan membuat transkrip film yang berguna pada saat pembuatan subtitle pada dalam proses finalisasi nanti. ...  Umar -peserta dari Aceh yang memfilmkan masyarakat Betawi di kampung Tugu- terlihat serius mencari teks lagu Girl from Ipanema atau Garota de Ipanema dalam bahasa Portugis. ...  Lagu yang dinyanyikan oleh para pengunjung lapo di Medan dari rekaman video yang dibuat Andang (Jakarta), pun harus dicari terjemahannya. 

...Selama workshop pasca produksi, para peserta juga difilmkan oleh panitia, jadi semacam behind the scene.   Para peserta diwawancara mengenai apa saja yang menjadi halangan mereka selama proses penyuntingan dan hal-hal apa yang menarik selama proses tersebut. ...  Pemikiran peserta  bahwa film dokumenter adalah seperti dokumentasi gaya televisi, dirombak habis` oleh para fasilitator. ...  "Jangan mentang-mentang yang lain ada lagunya, lantas kalian yang nggak perlu ditambah lagu, jadi diada-adain", kata Hafiz (salah satu fasilitator). 


Pada acara penutupan sebelum peserta kembali ke Jakarta, Hikmat Budiman selaku direktur Yayasan Interseksi, berpesan bahwa melalui program ini diharapkan proses kreatif peserta tidak berakhir sampai dengan DVD film mereka diperbanyak dan dipertontonkan ke banyak orang saja, akan tetapi mereka juga diharapkan dapat membagikan ilmunya kepada komunitas mereka di daerah asal.   Setelah workshop ini film yang telah diedit akan masuk ke proses mastering dan kemudian digandakan ke dalam kepingan DVD.]]></content:encoded></item><item><title>Mendapat Durian Runtuh</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>PERSONAL JOURNAL</category><category>CROSSING BOUNDARIES</category><dc:date>2010-07-16T14:16:32+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/durian_runtuh.php#unique-entry-id-7</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/durian_runtuh.php#unique-entry-id-7</guid><content:encoded><![CDATA[Sebenarnya aku sudah dapat informasi kegiatannya seminggu sebelumnya, cuma karena sibuk dengan ujian kenaikan kelas di SMA Negeri 1 Ambon, aku tidak sempat mendaftar untuk ikut kegiatan tersebut. 

Rasa gak pede untuk mendaftar, walau didesak terus sama teman-teman di Lembaga Antar Iman Maluku dan Institute Tifa Damai Maluku, membuat aku agak ragu-ragu mendaftar. 

...Tapi ya itu tadi, kayak "dapat durian runtuh" aku kaget waktu dapat SMS dari teman-teman panitia kalau aku lolos seleksi untuk ikut kegiatan ini. 

...Aku agak sedikit ngerti tentang Makassar, dari penjelasan Pak Halilintar, salah satu narasumber yang ngasih informasi saat workshop.

...Dari informasi yang aku dapat, kalau Pagandeng (pedagang sayur dan dagangan lainnya menggunakan sepeda) yang menjadi pilihan liputanku itu, biasanya datang ke pasar sekitar jam 1 - 5 pagi. ...  Pada hari ke-4 aku ketemu dengan 2 orang pagandeng di Pasar Terong Makassar.

...Sialnya, ketika hendak mengajak pagandeng itu untuk ngobrol, eh tiba-tiba datang satu preman pasar dengan sikap yang agak kasar. ...  Ya udah lah, dari pada nanti jadi masalah macam-macam mendingan aku dan Om Jerry, kenalan Papa aku yang kebetulan orang Makassar itu, langsung pulang aja.

Besoknya aku dan Om Jerry sampai juga di rumah Daeng Tika. ...  Untunglah jalan yang dilalui cukup mulus dan lancar, sampai tiba di rumah Daeng Tika di Kampung Bayowa, Kecamatan Barombong. 

Setelah kami menjelaskan tujuan dan rencana untuk shooting yang menjadi tugasku itu, tiba-tiba banyak orang yang datang ke rumahnya Daeng Tika. ...  Tapi sampai jam 10 malam, tiba-tiba Daeng Tika bilang kalau dia gak mau di-shooting. 

...Setelah aku tanya alasan kenapa gak mau, ke salah satu iparnya yang lancar berbahasa Indonesia dan agak bersahabat, dia bilang kalau saudaranya Daeng Tika itu curiga. ...  Tapi iparnya Daeng Tika yang agak ramah dan lancar berbahasa Indonesia tadi bilang, kalau suaminya juga pagandeng. 

...Karena hujan belum reda juga dan Daeng Tika tetap ngotot tidak mau di-shooting, aku dan Om Jerry tetap pulang dengan nekat menerobos hujan. 

...Sementara lagi pusing gak dapat obyek pagandeng sebagai bahan utama shooting, tiba-tiba dapat info dari Pak Halilintar kalau ada temannya yang tingal di daerah Gowa, yang jaraknya sekitar 80 Km dari Kota makassar. ]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Hari Ketujuh</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>WORKSHOP</category><category>REPORT</category><category>CROSSING BOUNDARIES</category><dc:date>2010-07-12T09:23:23+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/hari_ketujuh.php#unique-entry-id-6</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/hari_ketujuh.php#unique-entry-id-6</guid><content:encoded><![CDATA[Menurut pengakuan petugas hotel, sistem buka-tutup jalan -yang biasanya hanya diberlakukan saat akhir pekan- selama liburan ini diberlakukan hampir tiap jam.   Setibanya di hotel, kami disambut oleh hidangan hangat yang tersaji di meja dan kami melewati malam ini dengan saling bertukar pengalaman selama proses pengambilan gambar di daerah masing-masing.  


...Sesi pertama diawali dengan logsheet review, peserta mempresentasikan hasil pengambilan gambarnya di lapangan, menceritakan temuan-temuan dan kesulitan yang mereka hadapi, dan mulai merencanakan draft editing.   Draft editing ini berfungsi sebagai panduan untuk memilih klip video yang sesuai dengan logline dan storyline (yang telah dibuat pada workshop pra-produksi sebelum peserta berangkat ke daerah). ...  Bagi peserta, yang 90% menggunakan komputer berbasis Mac, tentu hal ini bukan masalah dan ternyata peserta yang terbiasa menggunakan Windows pun juga tidak mengalami kendala. ...  Berbeda dengan workshop sebelumnya yang sarat dengan diskusi, kali ini workshop memang dirancang agar tiap peserta berkonsentrasi penuh dengan penyuntingan video hingga proses finishing dan mastering. 


...Aldi dan Umar yang cenderung mengambil "shift pagi" dalam mengedit, ataupun seperti Paul, Andang dan Reza yang lebih nyaman melakukannya di malam hari.   Tak jarang pula ketika peserta mulai mengelompokkan klip dalam satu timeline, menurut fasilitator rancangan film mereka menjadi terlalu deskriptif ataupun terlalu "cerewet" kepada penonton karena peserta terlalu banyak mengambil potongan wawancara, alih-alih mengungkapkannya melalui bahasa visual.   Hafiz, salah seorang fasilitator workshop ini, kerap kali mengingatkan kepada peserta bahwa mereka sedang membuat film yang kaya akan bahasa visual, jadi film seharusnya dapat menangkap imajinasi penonton dan kemudian mencernanya dengan akal pikiran. ...  Atau, ada kecenderungan peserta memasukkan semua stock shot yang mereka punya, sehingga mengaburkan benang merah cerita dari video yang mereka buat. 

...Tidak jarang pula peserta menjadi frustasi karena ia tidak berhasil menemukan cara untuk membuat videonya sesuai dengan storyline.   Sebagai penghilang stres, peserta memilih menonton film atau berenang, hal yang tidak dapat dilakukan di workshop pra-produksi. 

...Demam bola dan wabah "nonton bareng" juga sampai di tempat kami menginap, sehingga ketika siaran pertandingan Belanda-Brazil, kegiatan dihentikan sejenak. ...  Ada fakta menarik lainnya mengenai tamu-tamu asing itu, bahwa tidak selamanya orang Belanda akan membela kesebelasan dari negaranya sendiri, justru ada di antara mereka yang mati-matian membela Brazil.   Selain itu, sepak bola berhasil membuat para peserta bertahan hingga dini hari di depan komputer untuk mengedit, seperti yang terjadi semalam ketika pertandingan Belanda-Uruguay.


Kembali ke kegiatan kami, peserta terus menerus diingatkan bahwa waktu yang mereka miliki tidak banyak, sehingga mereka harus dapat mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. ]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Pasca-Produksi</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>NEWS</category><category>WORKSHOP</category><category>CROSSING BOUNDARIES</category><dc:date>2010-06-30T13:34:09+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/pasca_produksi.php#unique-entry-id-5</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/pasca_produksi.php#unique-entry-id-5</guid><content:encoded><![CDATA[Tgl.   30 Juni 2010, Para peserta program Cross Culture Video Making Project for Peace: Crossing Boundaries 2010 baru saja selesai melakukan pengambilan gambar di tiga lokasi secara paralel: Jakarta, Medan, dan Makassar.   Pasti ada banyak cerita yang mereka bawa pulang dari pengalaman hidup di lingkungan yang berbeda dari tempat hidupnya sehari-hari.   Lebih dari itu, akan ada banyak data audio-visual atau footage yang mereka bawa pulang sebagai bahan membuat sebuah video dokumenter tentang masing-masing subjek yang mereka pilih.   Bagaimana Tiara yang berasal dari Ambon  dan Saiful yang asli Jakarta melihat dan menafsirkan pertemuannya dengan komunitas masyarakat di Makassar, atau bagaimana Umar yang dari Aceh masuk ke dalam kehidupan orang-orang "Betawi" keturunan Portugis di kampung Tugu, Jakarta?   Bagaimana pula dengan Reza yang tumbuh dewasa di Papua melihat salah satu sisi kehidupan di Jakarta, atau Aldi yang sehari-hari tinggal di Bandung dan kuliah di jurusan arsitektur ITB menafsirkan sisi-sisi kehidupan kota Medan bersama Andang yang asal Jakarta?


Mulai tgl.   1 - 10 Juli 2010, mereka akan terlibat penuh dalam workshop pasca-produksi di tempat yang sama ketika mereka mengikuti workshop pra-produksi beberapa minggu yang lalu.   Dalam workshop kali ini, semua pengalaman dan tangkapan audio-visual para peserta akan dibahas, didiskusikan, ditataulang agar bisa disajikan menjadi sebuah video dokumenter yang bukan hanya layak ditonton melainkan juga kritis dan dapat menjadi bahan refleksi ke dalam bagi pembuatnya sendiri. 


Sebagian besar rombongan akan berangkat bersama-sama dari kantor Interseksi siang menjelang sore hari tgl.   1 Juli 2010.   Berbeda dengan workshop sebelumnya, workshop pasca-produksi hampir secara eksklusif hanya akan diikuti oleh peserta program, fasilitator, konsultan teknis, dan panitia.   Kami tidak melibatkan pihak lain di luar itu karena ingin memberi ruang dan waktu kepada peserta untuk bisa berkonsentrasi melakukan penyuntingan video.  
]]></content:encoded></item><item><title>Dari Workshop Pra-Produksi</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>REPORT</category><category>WORKSHOP</category><category>CROSSING BOUNDARIES</category><dc:date>2010-06-27T13:56:51+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/report_praproduksi.php#unique-entry-id-4</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/report_praproduksi.php#unique-entry-id-4</guid><content:encoded><![CDATA[Rombongan terdiri dari beberapa peserta yang akan mengikuti Workshop Pra-produksi dan Diskusi tentang Relasi Antar Kelompok Sosial program Cross Culture Video Making Project for Peace: Crossing Boundaries 2010. ...  Kami juga mendapat berita sangat mengejutkan: salah seorang peserta, Erwin dari Palu, mendadak membatalkan keikutsertaannya dalam program pelatihan ini karena harus dirawat di rumah sakit pada hari itu juga. 

...Karena hari pertama memang sengaja dimaksudkan untuk memberi  bagi para peserta waktu yang cukup untuk beristirahat, kami tidak mengadakan banyak acara malam itu selain makan malam bersama. ...  Laksono, langsung berangkat ke lokasi dari perjalanannya ke Kambodia, dan masih terlihat cukup segar meskipun jarak yang sudah ditempuhnya seharian itu pasti sangat melelahkan. 

...Direktur Yayasan Interseksi, Hikmat Budiman, membuka acara dengan memaparkan latar belakang pelaksanaan program, tujuan yang ingin dicapai, dan misi utama kegiatan untuk membangun dan memilihara sikap saling menghortmati antar kelompok sosial dalam masyarakat Indonesia.   Untuk dapat menumbuhkan sikap saling menghormati, individu-individu yang berasal dari kelompok yang berbeda harus berusaha saling mengenal kehidupan kelompok di luar kelompoknya sendiri.   Karena itulah program ini dirancang agar para pesertanya berani melintasi batas-batas kultural kelompoknya, dan pergi masuk ke dalam kehidupan kelompok yang berbeda. 

...Selama tiga hari pertama, workshop diisi dengan diskusi tentang problem relasi antar kelompok sosial di Indonesia, presentasi peserta program, dan apresiasi atas film-film dokumenter dari berbagai negara.   Tidak kurang dari 10 film dokumenter diputar dan didiskusikan selama workshop, baik yang berdurasi pendek (sekitar 10 menit) sampai yang sangat panjang (sekitar 2 jam).   Setiap selesai pemutara film, fasilitator akan mengajak peserta mendiskusikan aspek-aspek paling relevan dari film-film tersebut yang bisa dijadikan pelajaran bagi para peserta.


...Ia juga menggarisbawahi bahwa film atau video dapat menjadi media yang sangat baik untuk menumbuhkan saling pengertian antar sesama warga bangsa. ...  Laksono sudah sejak beberapa tahun yang lalu merintis program penelitian antar-budaya, yang langsung atau tidak, merupakan inspirasi awal dari program Cross-culture Video Project for Peace ini. ...  Laksono juga menampilkan beberapa contoh video yang dibuat oleh mahasiswanya yang berusaha menampilkan aspek-aspek paling biasa dalam kehidupan sehari-hari masyaakat Indonesia. 

...Fikarwin Zuska, antropolog senior dari Universitas Sumatra Utara, Medan, memaparkan problematik relasi antar kelompok sosial dalam konteks masyarakat kontemporer di kota Medan. ...  Zuska juga mengurai dengan sangat baik bagaimana Medan yang dikenal dengan kantong-kantong budaya berdasarkan pengelompokan etnis itu sejauh ini bisa terhindar dari konflik kekerasan dalam skala luas dan terbuka. 


...Halilintar Latief, antropolog dari Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan, mengajak peserta untuk mendiskusikan aspek-aspek kultural dari masyarakat yang hidup di wilayah Sulawesi Selatan. ]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Pra-produksi</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>NEWS</category><category>WORKSHOP</category><category>CROSSING BOUNDARIES</category><dc:date>2010-06-07T22:45:48+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/workshop_juni.php#unique-entry-id-3</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/workshop_juni.php#unique-entry-id-3</guid><content:encoded><![CDATA[9 - 16 Juni 2010, Yayasan Interseksi akan mengorganisir sebuah diskusi tentang relasi antar kelompok dan Workshop Pra-produksi Pembuatan Video Dokumenter.   Dua aktivitas tersebut merupakan bagian awal dari pelaksanaan program Crossing Boundaries: Cross Culture Video Making Project for Peace 2010.   Diadakan di GG House Happy Valley, kawasan Gadog, Bogor, Jawa Barat (lihat denah), Workshop dan Diskusi dimaksudkan untuk memberi pembekalan kepada para peserta program tentang substansi tema relasi antar kelompok dalam relasinya dengan upaya menciptakan dan memelihara perdamaian, dan pembekalan teknis pembuatan video untuk kebutuhan spesifik seperti itu. 

...Untuk pembahasan tematik, Workshop akan menghadirkan beberapa narasumber yang sudah sejak lama mendalami persoalan relasi antar kelompok di beberapa wilayah di Indonesia.   Diskusi akan membahas aspek-aspek konseptual tentang relasi antar kelompok sosial dan problem diversitas kultural masyarakat Indonesia, dan aspek-aspek aktual yang terjadi pada beberapa lokasi yang akan dijadikan wilayah pembuatan video oleh peserta program ini (Medan dan Makassar). ...  Semua peserta program diwajibkan melakukan presentasi tentang pengalaman mereka sendiri dalam kasus-kasus relasi antar kelompok di wilayahnya masing-masing.   Selain diskusi tematik, seluruh peserta workshop juga akan dilibatkan dalam proses apresiasi film dalam bentuk pemutaran dan diskusi tentang beberapa film dokumenter. 


Pembekalan teknis akan meliputi pembahasan makalah-makalah konsep yang telah dibuat oleh masing-masing peserta program, dan penerjemahan konsep-konsep tersebut ke dalam langkah-langkah kerja pembuatan video dokumenter.  

...Sebelum berangkat ke Jakarta, seluruh peserta terpilih program Crossing Boundaries: Cross Culture Video Making Project for Peace 2010 diharapkan memperhatikan hal-hal berikut:


...<li>Pastikan bahwa Anda sudah tiba di Jakarta paling lambat tgl 9 Juni 2010 pagi. 


...<li>Kalau Anda berencana berangkat bersama panitia, pastikan bahwa Anda sudah tiba di kantor Yayasan Interseksi paling lambat tgl. 

...<li>Untuk memudahkan administrasi penggantian biaya, pastikan bahwa Anda membawa Invoice atau bukti pembelian tiket, dan tiket serta Boarding Pass yang sudah Anda gunakan dan menyerahkannya kepada panitia.


<li>Pastikan bahwa Anda membawa komputer Laptop yang dilengkapi minimal dengan koneksi USB2 dan hard disk Internal berkapasitas minimal 200 GB. 


<li>Panitia akan menyediakan Hard disk eksternal berkapasitas 1 Terabytes dengan pilihan koneksi USB2, Firewire 1 dan Firewire 2. 

...<li>Seluruh keperluan tiket untuk pergi dan pulang dari lokasi pembuatan video akan disediakan oleh Yayasan Interseksi


<li>Jika Anda membutuhkan obat tertentu, pastikan Anda membawanya dan, kalau mungkin, membawa salinan rujukan dokter tentang obat tersebut.
]]></content:encoded></item><item><title>Rute ke Lokasi Workshop</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>WORKSHOP</category><category>NEWS</category><category>CROSSING BOUNDARIES</category><dc:date>2010-06-03T18:42:25+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/rute_workshop.php#unique-entry-id-2</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/rute_workshop.php#unique-entry-id-2</guid><content:encoded><![CDATA[Bagi peserta Workshop Pra-produksi program Crossing-Boundaries: Cross Culture Video Making Project for Peace yang berencana berangkat bersama panitia, Yayasan Interseksi menyediakan kendaraan angkutan dari kantor Yayasan Interseksi menuju lokasi Workshop. ...  Sementara bagi mereka yang memilih berangkat sendiri ke lokasi Workshop di GG.   House Happy Valley, Bogor, Jawa Barat, berikut adalah rute dan peta/denah menuju lokasi.


<center>klik pada masing-masing gambar untuk melihat peta/denah yang lebih besar


...Denah/peta di atas dapat pula di-download pada halaman Download.


...Bagi peserta dari luar Jawa (Papua, Ambon, Palu, dan Aceh), rute menuju lokasi Workshop adalah sebagai berikut:


Dari Bandara Sukarno Hatta Anda dapat menggunakan Bus DAMRI jurusan Bandara-Bogor. ...  Dari Baranangsiang Anda naik angkutan umum ke arah Cisarua atau Puncak. ...  Dari sana, kalau tidak ada jasa Ojeg, Anda hanya perlu waktu sekitar 20 menit berjalan kaki menuju lokasi GG. 

...Bagi peserta Workshop dari Jakarta, ada beberapa pilihan moda transportasi yang bisa digunakan.   Kalau Anda menggunakan Taxi Anda hanya tinggal menunjukkan peta/denah di atas kepada pengemudi. ...  Untuk rute ini, setelah sampai di terminal Baranangsiang Anda tinggal mengikuti rute untuk peserta dari luar Jawa di atas.   Alternatif paling murah adalah menggunakan kreta api dan berhenti di stasiun kereta api Bogor.   Dari stasiun kereta Anda harus mencari angkutan umum menuju terminal bus Baranangsiang.   Dari Baranangsiang, rute Anda sama dengan peserta dari luar Jawa di atas.</ul>


...Berikut adalah nomor-nomor kontak panita yang bisa dihubungi kalau Anda mengalami kesulitan menemukan lokasi Workshop.
]]></content:encoded></item><item><title>Agenda Pra-produksi</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>WORKSHOP</category><category>NEWS</category><category>CROSSING BOUNDARIES</category><dc:date>2010-06-03T10:10:37+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/preproduction_update.php#unique-entry-id-1</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/preproduction_update.php#unique-entry-id-1</guid><content:encoded><![CDATA[Sebagai bagian dari pelaksanaan Program Cross Culture Video Making Project for Peace: Crossing Boundaries, pada tgl.   9 -16 Juni 2010, Yayasan Interseksi akan mengadakan Diskusi tentang Relasi Antar Kelompok dan Workshop Pra-produksi di GG.   House, Gadog, Bogor, Jawa Barat.


Secara garis besar, aktivitas tersebut meliputi tiga struktur kegiatan: 


<ul><li>pembekalan materi substansi tentang relasi antar kelompok sosial dan potensi serta tantangan masyarakat multikultur dalam menciptakan dan memelihara perdamaian.


<li>pembekalan materi teknis pembuatan film/video; dan


<li>praktek pengambilan gambar dan pematangan konsep film/video yang akan dilakukan oleh masing-masing peserta pada masing-masing lokasi yang telah ditentukan.</ul>


Susunan lengkap Agenda Kegiatan dapat diperoleh pada halaman Download.  
]]></content:encoded></item><item><title>Peserta Terpilih</title><dc:creator>The Interseksi Foundation</dc:creator><category>NEWS</category><category>CROSSING BOUNDARIES</category><dc:date>2010-05-29T13:29:09+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/blog/files/peserta_terpilih.php#unique-entry-id-0</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/blog/files/peserta_terpilih.php#unique-entry-id-0</guid><content:encoded><![CDATA[Pada tanggal 28 Mei 2010, Tim Seleksi Yayasan Interseksi telah memutuskan nama-nama yang dinyatakan lolos seleksi penerimaan peserta program Crossing Boundaries: Cross-Culture Video Making Project for Peace 2010.   Penilaian dididasarkan pada beberapa kriteria berikut: 


<ul><li>kualitas makalah konsep (concept paper) yang ditulis oleh masing-masing calon peserta


<li>kualitas karya video yang pernah dibuat oleh calon peserta


...Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut di atas, mereka yang dinyatakan terpilih adalah sebagai berikut.


<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="1" 


...<th>No.</th>


<th>Nama</th> 


...Satu No.59, Palu, Sulawesi Tengah</td>


<td>JALIN(Jaringan Film Independen) Sulawesi Tengah</td>


...Situsari VII No.35 Cijagra Buahbatu, Bandung</td>


...Palapa IV No.13 RT.010/RW.02, Lenteng Agung, Jakarta Selatan</td>


...Raya Sentani No.92 Padang Bulan Jayapura, Papua</td>


...<td>marthenluther_sesa@yahoo.com</td>


...Kuwera 1 No.9 Lamprit, Banda Aceh</td>


...Kami menyampaikan selamat kepada para calon peserta yang sudah terpilih, dan berterima kasih kepada seluruh pelamar yang telah mengirimkan aplikasinya.  
]]></content:encoded></item></channel>
</rss>
